Sejarah Bahasa Indonesia

Sejarah Bahasa Indonesia – Sumpah Pemuda adalah momentum besar dalam sejarah bahasa Indonesia. Tak singkat memang perjalanan suatu bahasa dijadikan bahasa pemersatu. Kali ini, kita akan mengulik bagaimana Bahasa Indonesia menjadi bahasa persatuan.

Pengenalan Pertama Bahasa Nusantara

Indonesia memiliki beragam suku, budaya, serta bahasa daerah. Ada yang berbahasa Jawa, Sunda, Madura, Dayak dan sebagainya. Penggunaannya pun hanya dipahami wilayah tertentu. Penelitian menyebutkan bahwa sejarah bahasa Indonesia bermula dari maraknya penggunaan bahasa melayu. Namun, bagaimana bahasa melayu menjadi dasar bahasa kita sekarang?

  • Kerajaan Sriwijaya

Bermula pada penggunaan bahasa melayu kuno oleh Kerajaan Sriwijaya sebagai bahasa kenegaraan di abad ke-7. Bahasa ini digunakan dalam beberapa buku dan aturan kala itu. Penemuan prasasti di pulau Sumatra bagian selatan, yaitu Palembang (2 prasasti), Bangka Barat, dan Jambi semakin memperkuat landasan tersebut. Keempat prasasti ini menggunakan perpaduan bahasa melayu dan sansekerta.

Tidak hanya ditemukan di bagian pulau Sumatra, prasasti berbahasa Melayu juga ditemukan di pulau Jawa bahkan hingga ke Pulau Luzon, Manila. Berdasarkan tulisan pada prasasti, pembuatan prasasti diperkirakan pada abad ke-9 atau ke-10. Jika melihat peta sebaran prasasti, daerah tersebut masih berada di bawah Kerajaan Sriwijaya.

Banyak peneliti mengemukakan bahwa penyebaran bahasa melayu efektif karena daerah tersebut pada masanya merupakan pusat perdagangan. Pedagang yang berlabuh menyebarkan penggunaan bahasa ke pesisir pantai seluruh Indonesia. Meskipun penuturannya tidak sempurna, bahasa ini mudah dipahami karena memiliki struktur yang tidak rumit.

Peneliti menyebutkan bahasa ini sebagai melayu pasar. Pada suatu penelitian terdapat penjelasan bahwa bahasa Melayu yang dijadikan dasaran adalah bahasa Melayu Barat yang digunakan oleh penduduk Riau kala itu.

  • Kesultanan Malaka

Setelah beberapa abad berselang, tepatnya di abad ke-15, Kesultanan Malaka menggunakan kembali bahasa melayu sebagai bahasa resmi dengan sebutan bahasa Melayu Tinggi. Jika abad ke-7 pedagang menjadi penutur utama, di masa ini bahasa yang dituturkan digunakan oleh keluarga kerajaan yang tersebar di Sumatra, Jawa, serta Semenanjung Malaya.

  Sejarah Komputer

Oleh para nelayan yang berdagang di Malaka, bahasa ini disesuaikan dengan menggunakan beberapa kosa kata terbaik dari bahasa daerah terdekat. Bahasa Melayu pun bermetamorfosis menjadi bahasa sopan pada abad tersebut. Sejarah bahasa Indonesia pertama kali menemukan susunan resmi ejaan melayu pada Kitab Logat Melajoe: woordenlijst voor de spelling der Maleische taal met Latijnsche karakters. Kitab tersebut dibuat pada awal abad ke-20 oleh Ch. A. van Ophuijsen bersama Moh. Taib Soetan Ibrahim serta Nawawi Soetan Ma’moer.

  • Kedatangan Sekutu

Minimnya penutur asli tidak menghambat sebaran bahasa Melayu. Tidak hanya terjadi di bagian barat Indonesia, namun persebaran juga sampai ke timur Indonesia. Hal tersebut ditemukan pertama kali oleh bangsa Eropa ketika singgah di Indonesia pada perempatan abad ke-16 silam, di pelabuhan Tidore. Masyarakat sekitar pantai menggunakan bahasa melayu yang khas. Hal yang sama terjadi setelah Belanda berlabuh. Bahkan, Jan Huygen Loschoten mengatakan bahwa bahasa Melayu menjadi bahasa terhomat dari kawasan negara Timur kala itu.

Proses Perumusan Bahasa Indonesia

Pada masa kedudukan Belanda di Indonesia, kendala bahasa dirasa cukup menyulitkan komunikasi antara sekutu dan pribumi karena kuatnya bahasa melayu dan sedikitnya yang memahami bahasa Belanda. Belanda pun mulai mendalami bahasa melayu tinggi melalui beberapa referensi untuk memudahkan komunikasi.

Kitab Logat Melajoe menjadi rujukan oleh Cendekiawan Belanda dalam membuat standarisasi bahasa Melayu. Tak cukup membuat standarisasi, penyebarannya pun dilakukan dengan membentuk lembaga khusus pada 14 September 1908. Lembaga ini menjadi lembaga resmi pertama yang menyebarkan bahasa dan tercatat dalam sejarah bahasa Indonesia. Lembaga ini dikenal sebagai Komite Bacaan Rakyat dan Pendidikan Pribumi.

Setelah 9 tahun berlalu, lembaga ini mengganti namanya menjadi Balai Poestaka. Karya yang begitu mahsyur hingga kini adalah novel karya Marah Rusli yang berjudul Siti Nurbaya serta novel karangan Abdoel Moeis, Salah Asuhan. Selain itu, terdapat beberapa novel, buku bertani, pemeliharaan kesehatan.

  Kerajaan Singasari

Penggunaan secara resmi dalam pemerintahan digunakan pada Rapat Dewan Rakyat pada 1927 Oleh Datoek Kajo. Sebaran yang begitu besar membuat bahasa melayu menjadi bahasa sehari-hari Nusantara. 28 Oktober 1928 menjadi kali pertama Bahasa Indonesia diakui melalui Kongres Sumpah Pemuda. Pada ikrar Sumpah Pemuda disebutkan bahwa Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan.

Penggunaan bahasa Melayu pun mengalami beberapa kali penyesuaian sampai akhirnya disebut sebagai bahasa Indonesia. Pada 1933 misalnya, berdiri kelompok sastrawan muda yang menamai diri mereka sebagai Pujangga Baru. Dalam 3 tahun, Sutan Takdir A. selaku pemimpin Pujangga Baru, membuat draft Tata Bahasa Baru Indonesia.

Kongres Bahasa Indonesia pertama kali diadakan pada 1938 dan menyimpulkan bahwa cendekiawan serta budayawan Indonesia melakukan pengembangan dan pembinaan bahasa secara sadar. Setelah beberapa tahun bersilang, dalam perumusan landasan konstitusi Indonesia dinyatakan secara resmi bahwa Indonesia adalah bahasa nasional. Hal tersebut tertulis jelas pada UUD’45 dalam pasal 36 yang berbunyi “Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia”.

Setelah hampir setengah abad menggunakan Kitab Logat Melajoe, tepat pada 19 Maret 1947 sejarah bahasa Indonesia mengubah dasaran pengejaannya pertama kali menjadi Ejaan Republik. Setelahnya, dalam perjalanan terjadi beberapa kongres bahasa Indonesia serta pembaruan ejaan. Yang terakhir adalah pada 26 November 2015 silam, pembaruan ejaan bahasa Indonesia yang digunakan adalah Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).

Kongres Bahasa Indonesia

Selama perjalanannya, dalam menentukan beberapa perubahan ejaan, Indonesia melakukan beberapa kali Kongres Bahasa Indonesia. Dalam catatan sejarah bahasa Indonesia tercatat sudah sebelas kali Indonesia menjalankan kongres tersebut yang merupakan agenda rutin lima tahunan setelah kongres ketiga. Berikut adalah penjelasan singkat mengenai pelaksanaan serta hasil kongres, antara lain:

  • Kongres Bahasa Indonesia 1
  Sejarah Sumpah Pemuda

Kongres pertama dilaksanakan pada 25 – 28 Juni 1938 di Surakarta, Jawa Tengah. Simpulan dari hasil kongres adalah upaya nyata pembinaan serta pengembangan yang dilakukan oleh cendekiawan serta budayawan Indonesia pada bahasa Indonesia.

  • Kongres Bahasa Indonesia 2

Kongres dilaksanakan pada 28 Oktober hingga 1 November 1954 di Medan, Sumatra Utara. Hasil dari kongres ini adalah upaya penyempurnaan bahasa Indonesia yang dilakukan secara berkelanjutan.

  • Kongres Bahasa Indonesia 3

Kongres ketiga dilaksanakan pada 28 Oktober hingga 2 November 1978 di Jakarta. Hasil dari kongres ini adalah meninjau pertumbuhan dan perkembangan serta kemajuan bahasa Indonesia sedari Sumpah Pemuda hingga 50 tahun setelahnya. Selain itu, hasil kongres juga menyimpulkan bahwa bahasa Indonesia harus selalu digemakan baik secara kedudukan ataupun fungsi.

  • Kongres Bahasa Indonesia 4

Setelah lima tahun berselang, kongres Bahasa Indonesia kembali diadakan pada 21 – 26 November 1983. Hasil kongres kelima ini adalah penggunaan bahasa Indonesia wajib digunakan seluruh warga negara secara baik dan benar sesuai kaidah yang berlaku sesuai dengan amanat pada Garis Besar Haluan Negara (GBHN).

  • Kongres Bahasa Indonesia 5

Pada 28 Oktober – 3 November 1988, kongres Bahasa Indonesia dilaksanakan cukup berbeda. Kongres dihadiri pakar bahasa dari Sabang – Merauke (kurang lebih 700 pakar). Selain itu, beberapa perwakilan negara tetangga serta Belanda dan Jerman juga turut memeriahkan kongres saat itu. Pada kongres kelima, KBBI dan Tata Bahasa Baku Indonesia diterbitkan.

  • Kongres Bahasa Indonesia 6

Kongres yang terlaksana pada 28 Oktober – 2 November 1993 di Jakarta ini semakin ramai dengan hadirnya 770 perwakilan Indonesia serta 53 perwakilan luar negeri. Kongres kali ini menghasilkan usulan peningkatan status pusat pembinaan menjadi lembaga khusus serta membuat landasan konstitusi khusus Bahasa Indonesia.

  • Kongres Bahasa Indonesia 7

Kongres ketujuh dilaksanakan kembali di Jakarta dari 26 hingga 30 Oktober 1998 menghasilkan usulan berupa pembentukan Badan Pertimbangan Bahasa Indonesia.

  • Kongres Bahasa Indonesia 8

Kongres yang dilaksanakan pada 14 – 17 Oktober 2003 di Jakarta kala itu adalah penetapan bulan Oktober sebagai bulan bahasa dengan agenda berupa pelaksanaan seminar Bahasa Indonesia oleh lembaga pemerhati bahasa di seluruh Indonesia.

  • Kongres Bahasa Indonesia 9
  Sejarah Kemerdekaan Indonesia

Kongres ini kembali diadakan di Jakarta pada 28 Oktober – 1 November 2008. Terdapat beberapa pembahasan utama yang kala itu dilakukan, antara lain: 1) Bahasa Indonesia; 2)Bahasa Daerah; 3)Bahasa Asing; 4)Bahasa dan Sastra; 5)Bahasa Media Masa. Kongres kali ini tidak hanya menggunakan pembicara dalam negeri, melainkan juga luar negeri.

  • Kongres Bahasa Indonesia 10

Kongres ini diadakan di Jakarta pada 28 hingga 31 Oktober 2013. Hasil kongres menyimpulkan bahwa 32 dari 33 rekomendasi telah dijalankan oleh pihak yang berkepentingan. Sedangkan rekomendasi mengenai tata cara penyuntingan dan penerjemahan belum terlaksana secara optimal.

  • Kongres Bahasa Indonesia 11

Kongres ini merupakan kongres terbaru dalam catatan sejarah bahasa Indonesia. Kongres kesebelas dilaksanakan di Jakarta pada 28 hingga 30 Oktober 2018. Hasil kongres kali ini berupa kesepakatan terhadap 22 rekomendasi yang diajukan. Satu diantaranya adalah menjadikan bahasa Indonesia menjadi salah satu bahasa Internasional di 2045.

Perbedaan Ejaan dari Masa ke Masa

Ejaan berdasarkan KBBI merupakan cara menggambarkan bunyi, baik kata atau kalimat dalam bentuk tulisan (penggunaan huruf) atau tanda baca. Sejak diresmikan pada 1928, bahasa Indonesia mengalami beberapa kali pembaharuan ejaan. Berdasarkan sejarah bahasa Indonesia, terdapat 6 kali perubahan baik yang diresmikan atau berupa rancangan, diantaranya:

Ejaan Republik

Catatan sejarah bahasa Indonesia pertama kali terdapat perubahan di era Mr. Suwandi yang memegang jabatan sebagai Menteri Pendidikan kala itu. Oleh karena itu, Ejaan Republik disebut juga Ejaan Suwandi. Beberapa perubahan yang terjadi diantaranya adalah pergantian ejaan “oe” menjadi “u”, tanda (‘) menjadi “k”, pengulangan kata dilambangkan dengan angka “2”, penggunaan huruf “e” pada e taling dan e pepet, serta menghilangkan tanda (‘) dalam tulisan.

Ejaan Pembaharuan

Ejaan Pembaharuan merupakan ejaan yang direncanakan menggantikan Ejaan Republik. Pembaharuan ejaan ini dilakukan oleh dua tokoh besar kala itu memegang jabatan kepala rancangan penyusunan ejaan, yaitu E. Katoppo serta Profesor Prijono. Rancangan ejaan berhasil dirumuskan pada 1957 dan tidak diumumkan secara resmi. Beberapa perubahan yang dilakukan diantaranya adalah pergantian “dj” menjadi “j”, “tj” menjadi “ts”, “ng” menjadi “ŋ”, “nj” menjadi “ń”, “sj” menjadi “š” serta “ai”, “au”, dan “oi” menjadi “ay”, “aw”, dan “oy”.

  Sejarah Internet

Ejaan Melayu Indonesia

Ejaan ini merupakan tindak lanjut dari Kongres Bahasa Indonesia kedua yang dilaksanakan pada 1945, di Medan. Sama halnya seperti Ejaan Pembaharuan, ejaan yang disusun pada 1959 ini tidak pernah diumumkan dan dipergunakan. Hal ini lantaran pada tahun tersebut terjadi beberapa pertentangan antara Malaysia dan Indonesia. Perubahan yang terjadi pada ejaan Melindo (akronim dari Melayu – Indonesia) pertama diantaranya adalah “tj” menjadi “c”, “nj” menjadi “nc”. Pada perubahan kedua adalah penggabungan “ts” dan “n”.

Ejaan Baru

Setelah beberapa konfrontasi yang terjadi antara Malaysia dan Indonesia, Ejaan Baru dibuat sebagai tindak lanjut pada Ejaan Melindo. Ejaan ini dirumuskan oleh pihak Indonesia (panitia ejaan LBK) dan Malaysia. Ejaan ini resmi digunakan sejak 19 September 1967. Beberapa penyempurnaan yang dilakukan diantaranya adalah pergantian “dj” menjadi “j”, “tj” menjadi “c”, “nj” menjadi “ny”, “sj” menjadi “sy”, serta “ch” menjadi “kh”.

Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)

Penggunaan ejaan baru tidak berlangsung lama, dalam jangka lima tahun, ejaan tersebut digantikan oleh EYD. Hal tersebut diumumkan pada Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-28, yaitu 17 Agustus 1972. EYD merupakan rumusan yang dibuat oleh panitia khusus. Panitia yang terbentuk sejak 1966 bertujuan untuk menyederhanakan, mengembangkan, serta menyempurnakan Ejaan Republik yang disahkan pada Maret 1947 silam.

Beberapa perubahan yang dilakukan diantaranya “dj” menjadi “j”, “tj” menjadi “c”, “nj” menjadi “ny”, “sj” menjadi “sy”, “ch” menjadi “kh”, serta “j’ menjadi “y”. Selain terjadi perubahan penggunaan huruf, penggunaan beberapa huruf yang tak lazim digunakan juga disahkan dalam EYD, diantaranya penggunaan “f, v, dan z” pada serapan bahasa asing, “q dan x” pada istilah dalam ilmu pengetahuan.

  Sejarah PBB

Sejarah bahasa Indonesia untuk pertama kalinya mengatur penggunaan kata awalan serta kata depan “di-”, seperti penggunaan “di-” awalan yang ditujukan pada kata kerja dan “di-” pada kata depan untuk menunjukkan suatu tempat. Jika pada Ejaan Republik penggunaan angka “2” pada pengulangan kalimat, EYD secara resmi menunjukkan pengulangan dengan menuliskan penuh keseluruhan tulisan.

EYD merupakan salah satu perubahan besar yang terjadi pada sejarah bahasa Indonesia. Selain beberapa hal yang disebutkan sebelumnya, EYD juga memberikan paduan penggunaan huruf (termasuk kapital dan miring), tanda baca, angka, lambang bilangan, singkatan, akronim, serta kata serapan (baik bahasa daerah atau asing).

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI)

Setelah 43 tahun menggunakan EYD, rupanya Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa masih terus mengembangkan ejaan baru. Hal tersebut sejalan dengan berbagai perubahan zaman. PUEBI mulai diresmikan pada 2015 sesuai dengan Peraturan Menteri dan Kebudayaan RI No.50 Tahun 2015.

Pada dasarnya, PUEBI hampir menyerupai EYD dengan beberapa tambahan aturan. Salah satu diantaranya adalah penambahan diftong “ei” yang semula hanya “ai”, “au”, dan “oi”. PUEBI juga menambahkan aturan penggunaan kapital pada julukan. Selain itu, penebalan huruf pada beberapa ketentuan tidak dipergunakan lagi pada PUEBI.

*******

Perjalanan Bahasa Indonesia sangat panjang bukan? Sejak diakui pada 1928 hingga 2020 sudah terdapat beberapa kali perombakan hingga sekarang menggunakan PUEBI. Selain itu, acara lima tahunan berupa Kongres sejarah Bahasa Indonesia juga memberi warna sendiri pada sejarah bahasa Indonesia. Oleh karena itu, kita selaku warna negara Indonesia yang baik sudah sepatutnya bangga terhadap bahasa kita, Bahasa Indonesia.