Puisi Senja

Puisi Senja. Situasi penuh makna saat senja adalah waktu yang sangat kita nantikan. Entah kanapa ketika senja datang, hati kita dipenuhi berbagai rasa seperti optimisme, romantisme, harapan, rasa rindu dan juga ingatan akan kenangan indah di masa lalu yang kembali datang. Waktu senja adalah saat yang tepat untuk mengeluarkan isi hati kita lewat kata kata indah dalam bentuk puisi dan syair.

Berikut ini adalah kumpulan puisi senja yang indah romantis dan penuh arti sebagai gambar perasaan kita kala senja datang. Silahkan disimak!

Puisi Senja Paling Indah

puisi senja romantis
puisi senja

Senja Romantis

Puisi senja karya EM NurunNasrie

Aku berjalan
Di tengah padang
Sendiri..

Angin meliuk-liuk
Meniup ilalang
Pasir, bebatuan
Bermain tanpa batas

Di langit indah
Sekawanan burung pulang
Kembali ke sarang
Tempat menanti pasangan
Aku mengaduh

Duhai,
Aku di sini
Berkawan sepi
Langkah kaki
Semakin lelah bernyanyi

Aku masih di sini
Sendiri..
Menanti senja romantis
Mengisi hati…

***

Senja Dalam Luka

Puisi Senja Karangan Fie Asyura

Ini sudah senja yang keseribu sayang
Begitu usang kutanggung sebuah penantian
Diam di sela angin yang bungkam
Alam mematung menadah hujan

Luka ini takkan sembuh sayang
Terlalu dalam kau goreskan di hati kelam
Membisu menatap hari semakin temaram
Jingga bergeser memeluk malam

Aku hanya bisa menuliskan beberapa aksara
Menggumpal dalam kalimat menyapa
Tentang rindu, cinta, dan airmata
Di seberang malam kau akan merasa

Entahlah, hingga kapan saya masih bertahan
Bayanganmu tak pernah hilang
Menyapaku dalam tenang malam
Lembut, hangat menyatu dalam perasaan

Aku ingin menutup senja di depan jendela
Harapanku pudar dalam penantian sia-sia
Bersama malam yang tiba dalam kerudung hitam
Akhir penantian kuucapkan selamat malam

***

Ikrar Senja

Karangan Ikmal Wong Gendeng-i Rahmateallah

Say …
senja tiba lagi
lihatlah, masih ibarat seribu senja yang berlalu
kusektsakan ronamu di antara siluet jingga
lalu, dengan sisa-sisa tinta semalam
sebelum engkau tenggelam
kubaitkan selarik puisi hati
biarkan itu menjadi mantra penenang
semoga malammu tiada mengerang

Say …
masih ingatkah pada ikrar senja
ketika seutas mimpi mengikat kita
menyatukan sukma dalam belanga rasa
sampai kita tiada
tanpa rupa
tanpa warna
selain serat-serat asa yang merenda
pada jelujur siang juga malam

Say
bukankah telah seribu kali bibirku merapal
ayat-ayat cinta tanpa mahkota
seribu kali telah kauamini pula
sematkanlah keyakinan
kita hanya mengarungi samudera Tuhan
kita hanya sepasang musafir cinta
menekuri jalan
seakan tanpa tujuan tapi membekal impian

say
saya mencintaimu
alasannya yakni engkau pendar Sang Maha Cinta
merupa dalam paras perʌwan rupawan
saya mencintaimu
bukan pada rupa-rupa penggoda
tapi alasannya yakni engkau
hakikat cinta yang berkilau

***

Kita Akan Bertemu Lagi

Tepat di luar matahari terbenam
Seseorang menungguku
Tepat di luar matahari terbenam
Itu adalah takdirku.

Di mana gunung nampak ragu
Berbaringlah dalam ketenangan yang dalam
Di sana saya akan menemukan harta karun itu
Cinta selamanya, kekal abadi didalam hati

Tepat di luar matahari terbenam
Menunggu seseorang dalam rindu
Tepat di luar matahari terbenam
Sendirian mereka menunggu di sana

Puisi Cinta

Tepat di luar matahari terbenam
Itu rumah bagi saya
Di mana dunia ini damai
Seperti surga seharusnya
Tepat di luar matahari terbenam
Suatu hari nanti,
Kita pasti akan segera bertemu lagi

***

Kesaksian

puisi senja kesaksian
puisi senja

Puisi Senja Agus Safrudinnur

Senja di atap langit mengerling mesra
menyatakan kerinduannya kepada malam
semoga segera tiba

Ranting dan dedaunan melambai-lambai
memanggilku segera menuju hening

Hening mempertemukan saya
dengan kesaksian perihal segala hal
yang hari ini telah saya lakukan

Lalu
diam-diam apa yang sanggup kusembunyikan
kepada malam
Esok sehabis dini hari
matahari kembali akan memberiku peran
atau mungkin saya malah telah pergi
dengan seluruh kesaksian selama hidupku

Senja di atap langit
masihkah akan mengerling mesra
menatap seluruh kesaksianku

Setiap hari menjelang malam
senja selalu mempertemukan saya
dengan seluruh kesaksian

Aku tak bisa berpaling
semua arah seolah menampakkan
cemas wajahku

***

Lenteraku

Puisi Senja Karya Indah Putri Lestari

Piringan matahari hampir lenyap di tepi langit
Berganti malam yang dingin merasuk kulit
Kau bagaikan senja
Yang datang sekejap membawa luka

Katanya kau hadir bagai lentera
Penyambung hidupku yang dirundung duka
Melambunkanku di atas mega
Lalu jatuh bersama rintik air mata

Tak sempat aku goreskan tinta
Tuk menuliskan kisah hidupku yang gelita
Kau yang datang lalu hilang entah kemana
Jauh di dasar sukma aku cinta

Cinta yang menenggelamkanku
Menghancurkanku
Di saat detik-detuik berbahagiaku
Kau meningalkanku

Bodohnya aku yang dibutakan oleh rasa
Merelakanmu pergi bersama dia
Aku sendiri…
Di penghujung September ini

Aku rela melepasmu
Mengikhlaskan kepergianmu
Daripada cintaku dimadu.

***

Sendu merindu

Pagi ini enggan rasa untuk bangun
Ku buka jendela, masih banyak rintik hujan menetes di tepi teras ku

Aku berharap matahari datang lebih awal
Menyinari genangan hujan yang masih tersisah
Merindu sungguh aku rindu

Hatiku terasa sendu, pilu yang melengggu
Kian memicu aroma tubuh mu di pikiranku
Namun, aku tau itu telah berlalu

Berlalu menyisakan kisah dan luka
Membuat cerita di goresan luka nya dengan imajenasi di kisah nya
Aku rela

***

Senjaku

puisi senja karya darma susila

Ketika proses mulai menjadi angka
Dan senja pergi meninggalkan mentari
Tak satupun terlihat terang
Begitupula di kejauhan
Keheningan terbias dan menunggumu

Namun senja tak pernah mengingkari
kesepakatan pergi dan selalu kembali esok hari
Tak pernah lari
Selalu tiba sempurna waktu
Menunggu mentari dan pergi bersamannya

Tak kau sadari betapa indah hari itu
Batapa indah ombak berderu
Menyerbu bibir pantai
Seakan membawa rindu yang hanyut bersamamu

***

Puisi Senja Menyentuh Hati

puisi senja menyentuh hati
puisi senja

Menjingga Bersamamu

Puisi Senja karya Siti Nurlaela Sari

Ada kata yang sulit terucap
Ada bibir yang enggan bicara
Ada rasa yang enggan tuk diam
Ada rindu yang terus menguar

Semua itu karena kamu
Karena kamu yang kurindu
Karena kamu yang kucinta
Karena kamu rasa itu ada

Kau tahu,
Senja itu seperti kamu
Tak pernah bisa tergapai dengan jemariku
Tak bisa teraih oleh jutaan rindu

Terkadang,
Aku ingin seperti angin
Yang membawa puing kenangan
Yang membawa sejuta asa.

Aku ingin menjadi sejuta cahaya
Yang bisa membiaskan keindahanmu
Yang menjingga di langit sore
Yang bersinar layaknya senja

Tentu saja tak bisa
Aku hanyalah aku
Yang hanya punya kenangan biasa
Yang kebetulan ada kamu di dalamnya.

***

Senjakala

Puisi Senja Oleh WR

Satu dua kata yang kuganti
Tuk memanggil kembali
Bait-bait kenang dalam simfoni langgam hati
Bukan puisi,
Tetapi rangkaian ujar berima sunyi

Puisi Rindu

Senandung elegi
Satu dua ingatan pergi
Bersama pupus ribuan denah mimpi
Bukan puisi,
Hanya dongeng angan yang begitu teringini
Tak mungkin kembali

Lantunan soliteri
Dari bayang pantul bias asa
Kupincing di antara sela,
Celah cahaya di kiasan rona selaksa jingga

Lembayung senja
Puisi yang hasilnya pun merindu kata
Dalam satu dua senyawa warna
Di bait-bait cinta

Lirik syahdu
Memutik sendu
Dalam ramainya sepi,
Yang kurindu….

Tertiup bayu…
Sayup-sayup hidup,
Di memori kelu

Ingatan lalu
Yang kupaksa berlalu
Hilang dalam memori berdebu
Hening mendayu di ritme waktu

Saat hitung laju tuju
Dalam langkah seribu deru
Bertajuk renung di relung qalbu

Satu dua kekata…
Menjelas perihal betapa,
Berartinya makna…

***

Senja Yang Selalu Kunanti

Benar kata orang
Ternyata pesonamu begitu melekat
Benar kata orang
Indahmu menyejukkan mata

Benar kata orang
Warnamu menenangkan hati
Bahkan benar pula kata orang
Ternyata hadirmu hanya sesaat

Berulang kali kiranya aku selalu menantimu
Sepulang dari kantorku
Sepulang dari letihku

Ku sempatkan untuk menjumpaimu
Melihatmu membuat letih ini berkurang
Memandangmu membuat mata ini berbinar

Andai kau dapat ku simpan untuk waktu yang lebih lama
Akan ku buatkan untuk mu tempat terindah di ruangku
Agar tak terasa beban yang ku pangku
Agak tak terasa resah yang menggebu

Kau senjaku, yang selalu ku nanti

***

Bingkai Senja

puisi bingkai senja
puisi senja

Puisi senja karya Zunainatul Khoiriyah

Mengusung denyut waktu
Pada senja kesumba kelam
Di bawa barekasa alam
Tertepi oleh gulungan obak

Hanyut tenang bersama kenangan asa
Mengangkasa pada bumantara
Menyeruak mengukir kisah asmaraloka
Atma terlampau bahagia hingga lupa pada sarayu menguliti daksa.

Keselarasan bermatrik rajutan kesemuan
Keindahan buana membabat segala adorasi
Hingga tertnggal bayang tengah bersusah hati
Sungguh anitya lukisan keseimbangan

Sedang nabastala tetap yang jadi saksi
Hirap bagaskara sebab berganti petang
Senja meramu anindya
Mega kemerahan tawarkan dayahu candu

Sekejap
Tabir tak dapat abadi
Mencipta pedar bakal lestari
Berat otak sebabkan limbung

Teriring beranjak pergi
Sebab belukur luka yang sama
Sebab senja yang kian memudar
Kan tergantikan oleh shyam.

***

Menunggumu Dalam Senja

Puisi Senja Oleh Liontin sepi

Tertembak amunisi waktu
Menembus otak
Iblisku!
Jarahilah jarak yang menjarak

Semakin meradang kaku
Beku membiru
Iblisku!
Cepatlah hancurkan pemisah itu

Cepatlah tiba bangsat
Kusedang sekarat
Berat!
Mencintaimu haruskah melara hebat

Sungguh merindumu laknat
Melarilah cepat
Merapat!
Mendo’a dalam empat roka’at

***

Ingatan Kamu

Puisi Senja Karya Rara Dianda

Ku tatap senja dengan lekat sambil
Menahan perih yang mendenyut di dada
Bolehkan aku menyesal
Telah mengenalnya?

Bolehkan rasa cinta di hati ini tidak seharusnya ada?
Atau bolehkan aku
Memberontak marah pada Tuhan
Karena telah menciptakan fatamorgana ini?

Jeritan perih sedari tadi menusuk hati
Entah sudah berapa lama aku menatap langit
Yang berawarna oranye ini
Apapun yang kulakukan kuingin lupakan

Tetapi sakit
Yang menyayat hati
Masih saja
Tak bosan bersemayan di sana

Langit yang berwarna kemerah-merahan ini
Mungkin sudah bosan melihat guratan pilu
Andai kau tahu bahwa melupakanmu
Tak secepat langit indah ini menggelap

***

Aksara Senja

Bias jingga di ujung cakrawala
Terukir indah dalam remang
Lembayung menata warna
Di garis lurus sang surya senja

Embusan bayu
Membelai pucuk riak
Berkejaran menuju pantai
Menghempas di tepian karang
Pecah berderai menciprak pasir

Camar kepakkan sayap
Terbang edari tiang sampan
Memekik di antara desiran angin
Lalu pergi tinggalkan jejak

Redup lentera bahtera nelayan
Datang menghampiri gelap
Meninggalkan pesisir pantai
Berharap anugrah akan datang

***

Senja… Bersamanya

Puisi Senja Karya Yunita Malistiani

Senja… dia apa kabar?
Akhir kita bersua
Dia memberiku tuba
Menamparkan angin begitu kerasnya

Puisi Ibu

Senja… tahukah dia?
Tentang rasaku padanya?
Tenang indah kala menatapnya?
Aku mohon beritahu padanya

Aku tak tahu cara mengungkapkannya
Senja… bantulah aku
Semilirkan pesanku ini bersama angin
Hembuskan rasaku tepat di relungnya

Senja… masihkan sama?
Ada hanya sekejap
Hadir antara dua kubu
Lalu hilang bersama kabut

Di akhir gelap september ini
Masih pada rasa yang sama
Tertampar gigil angin
Teronggok senyapnya hitam

Senja… beritahu padanya
Ada pagi yang menyongsong malam
Ada cahaya yang menjemput gelap
Dan ada aku yang masih mencinta.

***

Puisi Senja Penuh Makna

puisi senja penuh makna
puisi senja

Renungan Senja

Segurat tanda tanya yang tak kutemukan jawabannya
Entah apa dan mengapa tak bisa kumengejanya
Hanya rasa percaya dan positif yang sekarang kupunya
Walau jujur ada rasa sedih tapi tak mau kumenduga-duga

Tentang sesuatu yang tak bisa kuterka
Apalagi hasrat untuk menebaknya
Karena kubukan orang yang harus tau segalanya

Disepenggal senja yang berarakan gulungan mega
Kucoba menelusuri dan mengejanya
Tapi…Tak jua sanggup tereja
Pandanganku luruh dan tertahan sebab adanya

Kopi yang sudah siap tersedia
Tak jua sempat tereguk untuk menikmatinya
Hingga hingga diujung saatnya senja tiba
Masih tak tereja juga oleh pandangan netra

Tentang saya yang mungkin tiada guna
Yang hanya bisa sebagai manusia yang setia
Saat gerbang malam mulai menjemputnya
Lantas, setelahnya terabaikan juga
Dan hanya renungan senja yang bisa kumaknai dengan nyata

***

Senja Rindu

Terus mencoba..
Membidik senja..
Dicelah Siang dan malam..
Menukil Indah karya Pencipta..

Siapa yang bisa melarang..
Aku Hanya merasa..
Bukan merampas indahnya..
Semua untuk dinikmatkan..

Lepaskan diri dimakna..
Benamkan Sekat cemas jikalau melanda..
Yang terlihat..
Yang Terasa..
Hanya rahmat bermakna..

***

Yang Telah Usai

Hai jingga yang selalu kusebut senja
Hari ini aku datang kembali
Tetapi sangat berbeda
Dengan penghujung september tahun lalu

Jika tahun lalu aku bersamanya
Memegang dan mengikat janji
Sebagai senja saksinya
Kali ini aku bersama rasa rindu yang menyayat pilu

Harapan bersama sampai mati
Terbengkalai begitu saja
Bersama kenangan yang terombang ambing
Menghanyutkan rasa

Sayup-sayup kurasa batinku
Berteriak lirih menentang yang telah terjadi
Aku masih tak mengerti
Mengapa kehilangan selalu menyambut di ujung jalan

Senja, bolehkan aku menatapmu lebih lama lagi?
Sambil menikmati patah hati yang ia tawarkan?
Tak apa, luka ini sudah terlanjur
Terlukis aku terima resiko dari jatuh cinta

Aku berharap jika tahun lalu aku bersamanya menikmati indahnya cinta
Dan tahun ini luka menyayat, perih kudapat
Semoga senja September tahun depan aku bisa mengikhlaskan
Tanpa harus membencinya.

***

Rintihan di Ambang Senja

puisi senja
puisi senja

Masih ingin kulukiskan
Beberapa hal yang bisa terkenang
Kala kesepahaman kugenggam
Seakan kebahagiaan kan selalu bertandang

Kini cahaya tak bisa terlihat lagi
Perjalanan pagi hilang telah selesai
Senja pun pergi; usai
Waktu berganti untuk kembali

Bersama awan putih terbawa angin
Luka lara, merintih ibarat kemarin
Menghunus dada tersiksa lahir batin
Akankah cintanya kembali terjalin

Bila diri ini tak berarti lagi
Biarkan! Dan relakan saya pergi
Kepada Sang Pemilik Hati kukembali
Kepada Sang Illahi Robbi kuberserah diri

***

Senja Menitipkan Rindu

Dikala jingganya senja selalu tertitip rindu pada perjamuan sepasang mata kita dimusim kemarin.
Akankah terulang?
Tentang lirikan matamu yang indah, perihal canda tawa mu yang selalu berdendang diragaku yang tabah.

Kini, semua tingallah kenangan dibatasan senja.
Kau telah hilang dan takkembali.
Sajak-sajakku pun mulai rindu pada prosa hati yang merana.

Kapan?
Rinduku akan berlayar dinadihku.
Sedangkan kau yakni belakang layar rinduku dengan sebuah cinta.

Puisi Pahlawan

Entah kapan?
Akupun takmampu menapsirkan senja dan kesendirianku.
Mungkin, ini yakni setingan darimu.
Akupun taktahu menahu perihal itu.

***

Swastamita

Puisi Senja Karangan Syayidah Maulidatul Ulya

Sekeping nurani mengacak diksi
Mengais aksara merakit gatra
Perihal aku terlalu keluh
Tuk terucap sepatah kata

September merakit temu
Menyudahi pilu di penghujung kelu
Jingga merangkak
Swastamita meramu

Resah merompak dentingan
Nestapa hampiri insan
Pada penghujung pengabdian
Senja menjadi kelam

Ketaksaan riuh menggoyahkan
Baskara berangsur madam
Terpatri senja bagai saksi padam
Akan aku perihal ditinggalkan

Terlalu sukar kupatri rasa
Sedang hati merosok tak sadar
Berkeping pada arunika
Sebab menapakmu perlu berlacak sabar

Karam tak punya pijakan
Aku tak mengerti seruan
Sebab candala senja
Mengoyakku menetap pada penghujungnya.

***

Hujan dan Senja

Tabahnya rintik hujan yang turun
Membasahi bumi yang penuh debu
Meluapkan kegelisahan yang terpendam pada senja yng menggelut jiwa.

Angin berbisik perihal rindu dan lirih
Mencoba meluluhkan hati seorang yang dituju, senjapun takmau kalah pada permainan rindu yang dimainkan.

Partikel-partikel yang merajut kehangatan
Dengan gemerut jinggahnya senja yang menenangkan sepasang mata
Ada kenangan yang tersimpan dibalik jeruji hujan dan senja.

Senyum itu,
Tawa itu,
Selalu tergiang dalam bayangan
Entah mengapa menemani kesendirianku dikala senja.

***

Hanya Angin Lalu

Puisi Senja Karya Siti Nurlaela Sari

Semburat jingga terbias di langit barat
Matahari seolah melambai sebelum tenggelam
Malam tiba tanpa perlu sepucuk surat
Tanpa harus berteriak jua ke seluruh alam.

Angin betiup menerpa rambutku
Dedaunan lunglai terbawa angin
Menerbangkan puing-puing asa
Berharap kenangan ikut terbang jua

Namun,
Sia-sia saja
Tak ada yang kuat menerbangkan rasa ini
Tak ada yang bisa hilangkan kenangan ini

Mata cokelatmu yang terbias mentari
Bibir tipismu melengkung tanpa henti
Harum tubuhmu berbaur lembabnya bumi
Kehangatan yang kukenang hingga kini.

Sayang,
Senja tak lagi indah tanpa hadirnya kamu
Sore tak lagi hangat tanpa pelukmu
Yang ada hanyalah rasa tuk menyendu

Kini, hanya sepi yang kunikmati
Waktu senja untuk menyendiri
Dan kenangan akan hadirnya kamu
Kuanggap hanya angin lalu Sukabumi.

***

Puisi Tentang Senja Terbaik

puisi tentang senja terbaik
puisi senja

Surat Rindu

Puisi Senja Karya Indah Putri Lestari

Senja…
Satu kata yang indah
Satu kata sarat akan makna
memandangmu aku terpesona

Memori tentangmu berputar di kepalaku
Tersimpan apik mewarnai hariku
Apa kabar kamu?
Kekasihku…

Jauh di lubuk hati aku merindu
Rindu akan kehadiranmu
Senyuman yang menghiasi bibirmu
Selalu berhasil membuatku terpaku

Hitam lengam sehitam suraimu
Manik matamu seolah menghipnotisku
Memanggilku tuk menyentuhmu
Apakah aku tertawan cintamu?

Bulan September hampir berlalu
Sepucuk surat mengunjungiku
Adakah tanda kita kan bertemu?
Aku sudah terlanjur rindu

Surat balasan kukirim padamu
Surat yang membawa serta hatiku
Padamu sang penawan sanubari
Aku menunggumu di sini.

***

Senja Membelai Jiwa

Puisi Senja Oleh Angalai Juani

Mentari tersenyum indah menembusi bilik istana..
Berkilau tajam silaukan tatapan mata..
Menjilati mesrah sekujur raga lelah terbaring ..
Mengajak jiwa bercanda riang nikmati senja menutup siang….

Perlahan raga menggeliat hempaskan lelah…
Netra samar menyapa senja tersenyum mesrah…
Kaki melatah mencium aroma tanah buana..
Dendang kebanggaan dan syukur pada sang pencipta…

Sungguh Agung dan mulia anugerahMU oh khaliku…
Zejuk jiwaku dibelai tenang alam buanaku..
Tak ada emas atau yg pantas kuberikan padaMU..
Hanya Percaya dan Taqwaku bersinar cemerlang dalam jiwaku…

***

Aku dan Senja

Puisi Senja Oleh Yunita Malistiani

Aku adalah senja
Bagai memberi bahagia
Selalu memberi cinta
Dan seolah memupuk asa

Pun senja adalah aku
Hadir antara perbedaan
Seolah memberi peringatan
Tiba waktu pergantian

Puisi Alam

Di penghujung September kering ini
Senja selalu cerah
Senja memberi cinta
Tapi tak bisa memupuk asa

Semburatnya nan jingga
Berkelumat dengan hitam
Membaur dengan gelap
Lenyap bersama kapas

Hadir dengan tangisan langit
Bersua dengan ribut
Bertanya pada senja
Engkau kenapa?

Jingga yang menua
Pada titik temu pergantian
Memberi satu suara
Aku sudah lengah.

***

Semburat Senja yang Syahdu

Layaknya lintang yang tersebar di galaksi belantara
Lihatlah, nabastala terpampang nyata di depan netra
Sekelilingnya, ada jumantara yang mengudara
Seakan menunggu sang bangaskara yang ingin terbenam segera

Tatapan netra beralih ke langit barat
Menilik matahari seakan ingin mengucapkan perpisahan yang berat
“Selamat tinggal?”
Ataukah “Selamat menunggu untuk senja berikutnya?”

Oh tuan, aku lengah
Sungguh, retisalya kembali menganga
Meluluhlantakkan secercah yang terpinga-pinga
Pada semburat senja di penghujung September yang menelinga.

Lihatlah, pesona tuan layaknya senja
Yang gata meninggalkan sang nabastala
Kemudian datang saat dini hari
Menjelma menjadi sang fajar yang menyinari

Hei tuan, apakah ini terlihat antagonistis?
Saya ingin bersikap apatis
Perihal retisalya yang begitu traumatis
Sebab, nostalgia tunjukkan asmaralika yang begitu anarkistis

Mungkin, sudah saatnya untuk berdamai dengan senja
Sebab, tak elok rupanya bermuram durja
Cukuplah nostalgia ini bersahaja.

***

Senja Menjelang Malam

puisi senja menjelang malam
puisi senja

Puisi Senja Karangan Arang

Menjelang malam
Kunang-kunang bersinar
Pancaran rindu

Fajar menyingsing
Malampun telah khatam
Rembulan pulang

Senja temaram
Bergegas-lekas pulang
Kumpul bersama

Malam nan indah
Langit berbintang terang
Bulan merajuk

Siang berawan
Berwarna lazuardi
Berarak-arak

***

Senja Yang Sepi

Di ujung senja
Rintik hujan basahi
Jalan terggenang

Semesta sunyi
Langkah langkah terhenti
Tapak menepi

Jiwaku sunyi
Tanpa kau di sisi
Bagaikan mati
Hidupku tak berarti
Tak bisa ku berdiri

***

Kita Akan Menjadi Hujan

Puisi Karangan Windu Setyaningsih

tak kukira senja telah padam
gelap tiba mendahului malam
alasannya gerimis kehendak langit
mendung yang memberat di angkasa pun keniscayaan

tak perlu angin ditiupkan
ketika ingatan jatuh bersama hujan
biarkan titiktitik air merendam sisa kenangan
dan membilas dalam derai derasnya

di langit juga kulihat kilat menegas di balik awan
menyerupai sosok ular yang mengancam
dan catatancatatan samar antara doa, dendam dan kerinduan
yakni mimpi jelek yang ditasbihkan

saya kehilangan sebuah animo semi
menghalau bayangbayang janjkematian menjelang, “haruskah kita berpisah dikala bunga hati berbuah, bukankah kau ingin kita menjadi hujan?”
bersama menyiram kasih sayang

***

Berkah Dalam Sehari

puisi berkah senja
puisi senja

Setiap malam
Cakrawala menyala
Berputar merah muda di angkasa
Memudar menjadi biru dan ungu
Sedikit repot untuk melihat lagi
Berkah Itu hanya datang sekali sehari

Setiap matahari terbenam,
Suasana alam terasa berbeda
Tidak ada dua yang persis sama
Perbedaan mengalir sepanjang hari
Untuk kita menemukan sosok jati diri

Di atas lautan
Atau melalui pencakar langit

Keluar di padang rumput
Atau di apartemen
Kita masih bisa melihat sesuatu,
Sesuatu yang tidak pernah kembali,
Yaitu indahnya matahari terbenam

Untuk warnanya berkilauan
Sejenak mereka tinggal
Hanya untuk menghilang menjadi perubahan
Berubah menjadi indah yang terakhir.

Ini sebabnya
Ke mana pun kita pergi
Satu hal tetap sama,
Matahari selalu terbenan dikala senja
Tanda alam akan mengalami perubahan
Menuju gelap yang kelak akan berganti terang
Nikmati senja dimana pun kita berada
Karena berkah hanya datang sekali dalam sehari

***

Demikianlah kumpulan puisi senja terbaik yang bisa menjadi bacaan kali ini. Semoga senja dalam kehidupan kita selalu indah dan menarik. Terimakasih!