Puisi Ibu

Puisi Ibu. Peran seorang ibu dalam kehidupan kita sangatlah besar. Mulai dari mengurus bermacam hal serta memastikan semua aktifitas anggota keluarga di rumah berjalan dengan baik merupakan tanggung jawab beliau. Memang, peran seorang ibu berbeda dari tugas seorang ayah yang selalu bekerja keras membanting tulang demi terpenuhinya kebutuhan finansial keluarga, namun peranan seorang ibu rumah-tangga juga tidak bisa kita sepelekan.

Mengingat jasa ibu yang sangat besar, maka apapun yang kita lakukan tidak dapat membayar jasa seorang ibu dalam membesarkan kita. Dan yang perlu digarisbawahi bahwa keinginan terbesar seorang ibu adalah melihat kita sebagai buah hatinya hidup dengan baik dan berbahagia.

Puisi ibu berikut ini adalah ungkapan rasa terimakasih dan apresiasi akan jasa dan kasih sayang tanpa pahrih dari seorang ibu untuk kita semua. Silahkan disimak!

Kumpulan Puisi Ibu

Puisi Ibu Tersayang

puisi ibu tersayang
puisi ibu tersayang

Kemuliaan Seorang Ibu

Terdiam sejenak dalam renungan..
Kala bayang wajahmu datang menyapa..
Waktupun berputar kebelakang
membuka memori kenangan kecilku

Tetesan keringat dan air mata
berjuang melawan maut..
Demi kehadiran sang buah hati
Mendengar tangisan pertamaku
jadi kebahagian tak ternilai bagimu

Saat ku mulai belajar berjalan
kau dengan setia menjaga ku..
Ku mulai belajar bicara
engkau dengan sabar mengenalkan ku pada kata-kata..

Hingga ku dewasa kasih sayang itu tetap sama..
Tak pernah pudar dan terkikis oleh waktu..

Bekerja tanpa mengenal kata lelah
Tidur tanpa mengenal kata lelap
Terjaga dalam gelapnya langit subuh
Demi mencari sesuap nasi untuk ku..

Tapi, balasan apa yang ku beri..
Hanya goresan luka dan air mata..
Meskipun begitu kasih sayang itu tak berkurang sedikitpun..

Slalu kau sebut namaku dalam setiap doamu..
Air mata ini jatuh berlinang dengan derasnya
Mengingat betapa mulianya engkau wahai ibu..

Pepatah berkata..
“surga dibawah telapak kaki ibu”
Izinkanlah daku mencium surga itu
ibu..

***

Ibu Malaikatku

Ibu…
Disini kutulis cerita tentangmu
Nafas yang tak pernah terjerat dusta
Tekad yang tak koyak oleh masa
Seberapapun sakitnya kau tetap penuh cinta
Ibu…
Tanpa lelah kau layani kami
Dengan segenap rasa bangga dihati
Tak terbesit sejenak fikirkan lelahmu
Kau terus berjalan diantara duri-duri
Ibu…
Tak pernah kuharap kau cepat tua dan renta
Tak pernah ku ingin kau lelah dalam usia
Selalu kuharapkan kau terus bersamaku
Dengan cinta berikan petuahmu
Ibu..
Kau lah malaikatku
Penyembuh luka dalam kepedihan
Penghapus dahaga akan kasih sayang
Sampai kapanpun itu..
Aku akan tetap mencintaimu..

Ibu, malaikatku – oleh Mosdalifah
Sepudi, Sumenep

***

Tak Terhingga

Aku menangis
Air mata ini jatuh membasahi bumi
Aku menangis
Menyadari,
Aku selalu egois

Tangisku tak mengubah segalanya
Tangisku tak dapat mengubah isi hatinya
Aku menyesal
Karena perbuatanku
Aku menyesal
Atas segala kesalahanku

Kini …
Tinggal kududuk menyendiri
Menunggu jawaban hidup ini
Akhirnya kusadari …
Dia telah pergi
Ke pelukan Illahi
Walau telah tiada …
Segala cinta …
Segala kasih sayangnya
Akan selalj membekas di hatiku …
Oh, Ibu …

Tak Terhingga – oleh Najwa Futhana Ramadhani
Bekasi

***

Memberi Kabar

Mataku. Batu yang jatuh
ke lubuk mabuk
Dipeluk dingin
hening merayap tebing

Menadah senyap dasar
dari situ aku ingin bergemuruh
berkabar
mengaliri jejak yang tertinggal

Bu, mataku boleh tak pulang
ke liangnya
tapi airnya yang leleh
jadi penyejuk hatimu
penawar luka agar tak dalam

Mataku. Kembar sepasang
direnggut arus menderas
dimabuk peluk
memecah diam

Bu, engkau ada di mataku
walau sekadar bayang di kulit air

(Raudal Tanjung Banua, Sepasang Mata yang Berkabar)

***

Dalam Cahaya

Oleh Romadona

Dia wanita bernama cahaya
Hatinya memancar
Tergurat dalam doa-doa
Tangan Kecilnya mengantar kami
di gerbang cahaya

Dia berjalan dengan cinta
Dia berjalan menerjang luka
Bahkan dia menempuh tanpa
batas rasa

Dia-lah Ibu dari segala cahaya
Ibu dari semua luka kami
Ibu dari Jejak yang terukir
dalam tinta sejarah

#Bunda Dalam Cahaya
#Untuk Bunda-ku dan Bunda-Bunda Terhebat yang kalian miliki

***

Ibu Adalah Cinta

Oleh Yani Utarin

Ketika cinta dipertanyakan
Ketika cinta dicari
Mengapakah mata hatiku buta
Mengapa sulit terlihat
Sedang cinta di depan mata
Selalu mengiringku, menemaniku, menggenggamku, memeluku

Puisi Persahabatan

Cinta itu ada pada air susu yang kuhisap kala ku sebagai makhluk bayi
Cinta itu ada pada gendongan tangan kuat ketika ku menangis dan tertidur pun tertawa
Cinta itu ada pada gandengan tangan dan pelukanya
Cinta itu ada pada sereal yang hangat setiap pagi

Dalam kegagalanku
Ada senyum dan aliran kata sejuk
Dalam gembiraku
Ada tawa dan tangan mengacak rambutku
Dalam keputusan salahku
Ada pembelaku
Yang setelahnya berib nasihat mengalir deras

Semua itu ada padamu ibu
Engkau adalah cinta utuh dalam diriku
Saat aq mengecewakanmu
Tak pernah kau pergi dariku
Engkau membawaku di hati dan pikiranmu
Kemanapun kau berada
Hingga kau berada dalam kekekalan kau tetap menaruhku dihatimu
Dan berdoa untuku
Hingga aku merasa tak sendiri
Sekalipun kau dalam keabadian
Dan aku di dunia fana
Hingga kita bersama lagi selamanya
Aku rindu padamu bu..
Nantikan aku sampai saatnya tiba

Ibu
Engkaulah cinta itu..

***

Bait Sajak Untuk Ibu

Oleh Kusnan

Tetes-tetes darah…keringat dan air matamu
Cukup sudah menorehkan
Prasasti-prasasti indah di hidupku-
Menggenapi di setiap celah ruang dan waktu

Gumam doa tulus nan sederhanamu
Jua ….keriput di kening ‘tuk menata asa
Demi anak-anakmu
‘tlah menjadi saksi –
Pada hamparan permadani indah beranda syurga

Akhirnya…..
Maafkan bila belum sempurna baktiku padamu
Saat renta usia menjemputmu….ibu, Maafkan kami anak-anakmu
Selamat jalan…..ibu
Merengkuh jalan panjang menuju haribaan-Nya
…… Tuhan Semesta Jagad Raya

Yakinlah suatu saat bersama takdir , nanti
Kita ‘kan tersenyum bersama semerbak harum surga
Amien……

###

Jiwa Terindah

Oleh Dudy

Terlihat senyum tulusmu
Terasa doamu yang tak pernah henti
Tercipta kasih sayang tulusmu
Tak akan tergantikan

Wahai kau wanita terhebat
Kaulah segalanya untukku
Di saat ku bahagia
Air mata kebahagiaan terpancar bersinar
Di saat ku sedih

Air mata doamu tiada pernah berhenti
Tiada pernah mengeluh
Tiada pernah kecewa
Tiada pernah lelah

Jiwamu sungguh indah
Akan selalu ku ingat
Cerita ini akan selalu ku kenang
Engkau selalu ku doakan sepanjang hidupku
wahai kau wanita terhebat, IBU

***

Mata Air Cinta

Oleh Boby Julianto Siallagan

Ibu…
Memelukmu adalah kenyamananku
Melukis senyummu adalah keinginanku
Mencintaimu sudah tentu kewajibanku

Namun terkadang
Melawanmu menjadi kebiasaanku
Bahkan ku menyiakanmu dan
Melupakanmu sebagai seorang ibu
Tanpa kusadari begitu teririsnya hatimu

Harusnya aku menjadi pelindung
Bukan menjadi anak yang tak tahu untung
Harusnya aku menjadi anak yang penurut
Bukan menjadi anak yang banyak nuntut

Aku masih sangat ingat
Ketika itu tak ada biaya untuk berangkat
Dari kampung menuju perkotaan yang padat
Waktu itu hujan begitu lebat
Kakimu kau paksa menapak
Hanya bermodal payung rusak
Ibu menjelajah rumah ke rumah dengan hati terisak

Tak peduli petir menyambar
Ibu tetap berjalan dengan sabar
Meski tubuhmu sudah gemetar
Ibu masih mengetuk pintu warga sekitar

Terimakasih sang pencipta
Kau beri aku seorang wanita tangguh
Yang selalu mengusap air mata
Ketika ku dilanda derita
Yang punya hati sebening permata
Dan yang menjadi mata air cinta

***

Tahan Derita

Ibunda
Di mana pun sama
Tahan derita lebih
ketimbang ayahanda

Gua garbanya
tempat tapa
Janin bayi
yang kelak dilahirkan

Bagaikan Maria
di Pengadilan
Ia pun pasrah
Jesus disalibkan

Tidak berontak
dan murka
Tapi sabar dan nrimo
Lego lilo

Pasrah bongkokan
awal kebangkitan
Dalam proses
penjadian kasih sayang

***

Puisi Ibu Singkat

puisi ibu pendek
puisi ibu pendek

Rumah Ini Begitu Indah

Rumah ini seakan bercerita,
Tentang hangatnya kasih sayangmu.
Rumah ini dipenuhi dengan cinta,
Yang kau curahkan tanpa jemu.

Ruang ini disemarakan rindu,
Yang lahir di dalam kalbu.
Mengalir pula rasa sayang,
Membuatku ingin selalu pulang.

***

Telah Tiada, Aku Terlambat

Ketika aku kecil,
Aku masih di pangkuanmu
Aku tak paham saat itu
Apa saja yang kau tuturkan
Apa saja yang kau lakukan padaku

Aku tak paham saat itu
Bagaimana pengorbananmu
Kau selalu mengajariku kebenaran
Hingga aku dewasa kini

Dan kini aku sadar,
Tapi sayangnya, kau sudah tak ada
Aku merindukanmu Bu,

***

Dalam Sunyi Suaramu Menggelegar

Dalam kesunyian malam
Seringkali aku mendengar
Sayu-sayu engkau lantunkan ayat-ayat suci.

Dalam kesunyian malam
Seringkali aku melihat
Dalam khusu’ engkau berdoa kepada-Nya.

Di dalam sunyi
Suaramu menggelegar
Di langit luas sana,
Menggetarkan.

Itulah doa dari seorang Ibu.

***

Tak Pernah Beristirahat

Di atas tempat tidurku
Kau mengasihi
Di dapur,
Kau koki terbaik
Di mana-mana
Kau dokter terhebat
Tak pernah beristirahat

Di luar,
Kau melatihku
Di taman,
Kau pelindungku
Di sekolah,
Kau penjagaku
Tak pernah beristirahat

Aku tak pernah menyadari
Semua yang kau lakukan
Banyak sekali,
Kini izinkan aku,
Mengatakan cinta padamu
Cinta yang sangat tulus

Terimakasih atas semuanya, Bu
Kerja keringatmu di setiap waktu
Merawat dan menjagaku
Tak pernah lelah

***

Jauh Jarak Tetap Kau Tempuh

Jarak ini terlalu jauh,
Antara kenyataan dengan impian.

Tetapi
Engkau tetap menempuhnya.
Tak peduli berapapun jauhnya;
Tak peduli berapapun sulitnya.

Engkau tetap percaya,
Bahwa suatu hari nanti
Perjuangan ini akan bertemu dengan kenyataan.

***

Aku Mengerti

Ketika aku kecil,
Ketika aku muda,
Aku tak pernah mengerti
Dengan semua yang kau tuturkan

Aku tak pernah mengerti
Atas semua pengorbananmu
Kau memberikan pelajaran hidup
Hingga aku tumbuh dewasa

Tapi aku mengerti
Sejak awal cintamu tak berujung
Dari dalam lubuk hatimu

Puisi Senja

Aku ingin meyakinkan
Bahwa aku menghargaimu
Atas semua yang kau beri
Aku sayang Ibu

***

Engkaulah Peneduh Hatiku

Kadang hidup ini
Seperti padang pasir. Panas dan gersang.

Kadang perjalanan ini
Meletihkan dan melelahkan.

Tetapi di sanalah
Aku selalu menemukan peneduh jiwa.
Itulah engkau Ibu!

***

Kau Menguatkanku

Aku tak bisa berkata
Rasa syukur ini
Setiap hari setiap waktu
Kau habiskan bersamaku

Peluk dan cintamu menuntunku
Bijaksanamu membangunkanku

Cintamu tak pernah surut
Ketika aku lemah,
Kau selalu menggenggam tanganku
Agar aku kuat menjalani hidup

Terimakasih bu,
Kau selalu menataku
Mengarungi waktu demi waktu
Kau selalu terjaga
Hingga sampai kini

Kau selalu membenarkan kesalahanku
Kau selalu mengembalikanku menuju kebeneranan
Maafku selalu kau terima
Hingga aku tak bersedih
Terimakasih Bu

***

Masih Kuingat

Masih kuingat pelukan hangatmu,
Seolah baru saja kemarin.

Engkau mengantarku ke sekolah,
Dan menyeka air mataku,
Saat aku menangis.

Ibu,
Masih kuingat semua itu,
Seolah baru saja kemarin.

Kini aku rindu,
Rindu pada pelukan,
Kehangatan, dan kasih sayangmu.

***

Doaku Menyertaimu

Ibu,
Kau adalah cerminku
Kata-katamu menggema di telingaku
Kau bagai sinar rindu
Tak pernah terganti
Kau hanya satu Bu

Aku tak pernah berpikir
Bagaimana caraku berjalan
Bagaimana caraku tersenyum
Aku adalah kau Ibu

Impianku terwujud karenamu
Harapanku kau lukis dan kau ikat
dengan simpul kasih
Aku begitu kuat karenamu

Ibu,
Kau memberiku jalan
Kini kuberikan jalan untukmu
Menuju surga
Karena semua ajaranmu
Karena semua cintamu

***

Puisi Untuk Bunda

puisi untuk bunda
puisi ibu

Cinta Ibu

Kau ajarkan aku tentang cinta
Cinta pertama dalam hidupku
Sejak aku di alam kandunganmu

Sejuta kasih kau suap di mulutku
Kau adalah sosok sahabat tiada tara
Pengorbananmu tak mampu kuucap
Dengan kata-kata

Pahlawan pertamaku dalam nafasku
Nyawaku terlindung berbalut cintamu
Tiada tara Tiada kata

Itulah pengorbananmu
Tak bisa menceritakan tentang kisahmu
Ibuku

Kaulah sahabat Cintaku
Mengalir kasih pertamaku
Doaku menyertaimu

***

Bagaikan Cahaya Bulan

Ibu

Cintamu bagaikan cahaya bulan
mengubah sesuatu yang sangat kasar menjadi keindahan,
sehingga jiwa-jiwa kecil yang masam
saling mencerminkan satu sama lain dengan samar
seperti cermin yang retak

Melihat rohmu yang bercahaya
refleksi dari diri mereka
Dimuliakan seperti di dalam sungai kecil yang bersinar,
dan mencintaimu apa adanya.

Engkau tak lebih banyak tergambar di pikiranku
daripada kilauan
Aku melihatmu dalam sinar
pucat seperti cahaya bintang di dinding abu-abu
lenyap bagai cerminan angsa putih
berkilauan di air yang beriak

(Lola Ridge, Ibu)

***

Perempuan Itu

Perempuan yang bernama kesabaran
‘pabila malam menutup pintu-pintu rumah
masih saja ia duduk menjaga
anak-anak yang sedang gelisah dalam tidurnya

Perempuan itu adalah ibuku…

Perempuan yang menangguhkan segalanya
bagi impian-impian yang mendatang
Telah memaafkan setiap dosa dan kenakalan
anak-anak sepanjang zaman.

Perempuan itu adalah ibuku…

Bagi siapa Tuhan menerbitkan matahari surga
Bagi siapa Tuhan memberikan singgasana-Nya
Dan dengan segala ketulusan
ia membasuh setiap niat busuk anak-anaknya

Dia adalah ibu…

(Arifin C. Noer, Perempuan Itu Adalah Ibuku)

***

Surat Kecil untuk Ibu

Jikalau waktu ku tak dapat bahagiakan mu
tak perlu resah dan gelisah

Anak-anakmu selalu mendoakan mu
waktu ku yang tak lagi panjang

Akan sirna ditelan lapuknya usia
tubuhmu yang renta masih sanggup menopang ku

Kan ku genggam erat jari-jemari mu
sampai jantung ku berhenti berdetak

Maafkan ku yang pergi lebih dulu
diriku tak lagi sanggup menopang berat tubuh ku

Hingga detik- detik kepergianku
nafas yang telah berhenti

Jangan menangis ibu..
ku tak sanggup melihat tetesan air matamu

Terjatuh membanjiri jasadku
ku tunggu ibu di surga-Nya

Kan ku pinta agar ibu mendampingiku
disertakan kebahagiakan tiada tara

Cinta kasih dan doa mu selalu menyertaiku

Surat Kecil untuk Ibu – oleh Diyan Fitrianti
Jakarta

***

Muara Kasih

Kaulah muara kasihku..
Tempat ku berkeluh kesah, mencurahkan isi hatiku

Kau tempatku mengadu tatkala aku ketakutan
Kau bak sutra yang indah nan lembut
Membelaiku penuh cinta dan kasih

Kaulah pahlawan ku..
Menjagaku tanpa letih hingga ku terlelap
Lindungi aku tanpa henti entah siang ataupun malam

Bersamamu aku merasa damai
Kau dekap aku dengan ketulusan
Memelukku dengan sinar kasihmu
Membalut luka dan ketakutanku
Tak ada tempat sebaikmu..

Tiada makhluk semulia hatimu
Kau takkan terganti meski waktu berhenti berputar
Takkan pula luntur meski waktu dimakan zaman
Kaulah muara kasih terindah..

Cinta kasihmu takkan lekang oleh waktu
Meski bibir ku tak mampu beruncap

Percayalah Bunda..

Sarangheo, aku menyayangimu selalu
Sekarang, esok dan selamanya

Happy Mothers Day:-)
Muara Kasih – oleh Ida Ayu Sri Widiyartini

***

Puisi ibu – Dia

Cahaya bersinar selalu terlihat diwajahnya
Kesabarannya bagaikan lautan yang luas
Pengertiannya bagaikan sosok sahabat
Ketulusannya tanpa pamrih

Dia, orang yang selalu membuatku nyaman
Dia, orang yang selalu menemaniku
Dia, orang yang takkan pernah mengeluh karena kenakalanku
Dia, orang yang tak pernah letih merawatku

Tuhan, aku sangat menyayangi dia
Tuhan, aku sangat mencintai dia
Kekuatan cinta kasihnya begitu besar
Hingga di saat ku jatuh hanya dia yang bisa menguatkanku

Dia sudah banyak berkorban
Dia begitu kuat dan tegar
Dia yang telah meneteskan banyak darah untuk hidupku
Dia menuntunku hingga saat ini dengan cahaya kasihnya

Puisi Pahlawan

Tuhan, aku menyesal membuatnya selalu bersedih
Tuhan, aku salah untuk saat ini membuatnya menangis
Tuhan, aku selalu berdoa untuk dia
Tuhan, maafkan aku selalu membuat dia kecewa

Ya Tuhan, dia adalah ibuku
Berikanlah kesehatan selalu untuk ibuku
Berikanlah waktu untuk ibuku, aku ingin dia selalu berada di sampingku
Biarkanlah aku tumbuh, aku ingin membahagiakan ibuku

Dia – oleh Fransisca Melani

***

Puisi Untuk Mama

puisi untuk mama
puisi ibu

Kurasa Hatimu

Menangis
Jangan ditahan
Luapkan rasa hatimu
Tapi kau tetap tersenyum

Tersenyum
Lembutkan garisnya
Ikhlas kau tunjuk
Pada tegar menghadapi hidup

Tenang
Kau bersembunyi
Dari rasa sesak
Kau tampil begitu lembut

Ibu
Doa terpanjat
Dalam telapak tangan
Kau menengadah pinta indah

Ibu
Senyummu terlintas
Pada getar rasamu
Hingga tenang hati kami

***

Bait Sajak Untuk Mama

Tetes-tetes darah…keringat dan air matamu
Cukup sudah menorehkan
Prasasti-prasasti indah di hidupku
Menggenapi di setiap celah ruang dan waktu

Gumam doa tulus nan sederhanamu
Jua ….keriput di kening tuk menata asa
Demi anak-anakmu
telah menjadi saksi
Pada hamparan permadani indah beranda syurga

Akhirnya…..
Maafkan bila belum sempurna baktiku padamu
Saat renta usia menjemputmu….mama, Maafkan kami anak-anakmu
Selamat jalan…..ma
Merengkuh jalan panjang menuju haribaan-Nya
…… Tuhan Semesta Jagad Raya

Yakinlah suatu saat bersama takdir, nanti
Kita kan tersenyum bersama semerbak harum surga
Amien……

***

Bagai Malaikat Tanpa Sayap

Ibu..
Engkau inspirasiku..
Aku berkelena ke ujung dunia
Bayangmu selalu ada disampingku
Secerca harapan darimu
Ku jadikan pedoman di setiap langkahku
Dalam doamu selalu tersebut namaku
Kau tameng dalam hidupku
Kau penyemangat terbaik dalam hidupku
Kau bagai malaikat tanpa sayap untukku
Engkau segalanya untukku
Aku tanpamu bagai angin tanpa arah
Engkau bagai lautan samudera
Tempat mencurahkan segala kegundahan hati

Ibu…
Terimakasih atas kasih sayangmu
Terimakasih atas perjuanganmu
Terimakasih atas perhatianmu
Terimakasih atas setiap tetesan keringat yang tercurah untuk anakmu
Terimakasih atas pengorbananmu

Ibu..
Maafkan amarahku
Maafkan keegoisanku
Maafkan kenakalanku
Maafkan aku atas airmatamu
Ibu.. engkau cahaya penerang dalam hidupku
Jika orang bertanya padaku siapa pahlawanku? Pastilah engkau Ibu jawabanku..

***

Ibu Yang Tak Terganti

Ketika kupandang lekat pada sudut matamu
Tersimpan derita yang begitu mendalam
Aku tahu disana banyak tersimpan air mata untuk kami anakmu

Air mata yang telah kami lakukan
Ibu
Engkau selalu berharap kami anakmu yang kan jadi nomor satu
Namun sering kali kami melawan dan melalaikan perintahmu

Kami selalu membuatmu bersedih
Mulai sekarang aku bertekad untuk menghapus air matamu…
dan menggantinya dengan canda dan tawa

Terima kasih Ibu
Kau takkan pernah tergantikan di dalam hati kami anakmu

***

Bidadari Dunia

Dia…

Adalah insan yang diidamkan kaum lawan
Adalah insan yang dihormati kaum alim
Adalah insan yang dirindui kaum bercahaya
Tanpanya…
Kau takkan mudah meraih yang kau pinta
Kau takkan mudah tangguh dalam berjuang
Kau kan mudah merasa lelah

Ingin sekali ku indahkan namanya
Ingin sekali u indahkan derajatnya
Ingin sekali ku persembahkan hadiah untuknya
Namun apa daya, aku hanya seorang lemah

Cintanya menghapus semua duka
Cintanya menghapus semua lelah
Cintanya membunuh semua kalah
Cintanya membuat diriku perkasa

Dia…
Akankah kucapai apa yang diimpikan?
Akankah kubahagiakan dengan hatinya?

Apakah aku akan terdiam dengan lemah?
Tidak! sekali lagi tidak! karena ku yakin
Ku dapat menaikkan derajatnya
Ku dapat menarik kedua tepi bibirnya dengan hati lapang
Ku dapat membawanya ke Surga

Namun, siapakah dia?
Mengapa dia sungguh digila-gilakan?

Biarku perindah
Biaarku camkan
Biarlah kuucapkan
Daialah… Bidadari Dunia

Bidadari Dunia – oleh Faris DN

***

Puisi Rindu Ibu

puisi rindu ibu
puisi ibu

Hanya Rindu

Ibu,
Andai aku bisa memelukmu
Akan ku tumpahkan semua tangis ini,
Bahumu membuatku merasa aman,

Ibu,
Wajahmu menyejukkan hati,
Senyummu bisa menghilangkan bebanku,

Ibu,
Air mata ini terus mengalir karna merindukanmu..
Rindu akan tawamu,
Rindu canda mu,

Ibu…
Aku hanya rindu…

Hanya rindu – oleh Rani Ramadhini

***

Kerinduan

Gerimis bertaut membasahi tubuh
Rinainya jatuh menjadi tangisan dimataku
Rasa ini membeku¡­
Membatu mengingat kisah lalu
Saatku lincah nan lugu, Waktu kecilku..

Biarlah nafasku bercerita tentangmu
Bersajak indah memanggil namamu Ibu..
Aku teramat merindukanmu
Aku rindu.. Rindu masa itu..
Rindu saat ibu menimangku..
Berbisik doa merajut sanubariku..

Semoga ibu disana tersenyum bahagia selalu..
Doa anakmu yang selalu menyertaimu..

***

Ketulusan Seorang Ibu

Ibu…
Engkau bagaikan pelita dalam hidupku
Di waktu ku gelisah, tertatih
Kini engkau selalu ada dan menemani
Menjagaku di saat ku kehilangan arah
Membuatku lebih kuat akan segalanya
Yang mengajariku arti kedewasaan dan kerendahan hati
Engkau bagaikan embun di pagi hari..yang selalu menyejukkan jiwa ini

Tuhan..
Sayangilah dan jagalah ia, seperti kasih sayangnya yang tak pernah pudar kepadaku
Inginku melihatnya tersenyum bahagia dengan keberhasilanku
Aku bagaikan debu di dunia ini.
Tanpa ada seorang IBU yang selalu menghiasi hari-hariku
seperti tak berguna jiwa dan raga ini tanpa kasih sayangnya
Ku tak akan mengerti arti kehidupan tanpanya
Ku bahagia dengan keberadaannya di sisiku

***

Puisi Untuk Ibu

Meskipun dirimu manusia biasa
bagiku engkaulah malaikatku
yang tak pernah lelah
membimbingku

ibu, maafkanlah aku
yang dulu sering tidak memahamimu
yang kadang meremehkanmu

ibu engkaulah surga itu
tak pernah terlambat memberi kedamaian
semoga kau bahagia selalu
semoga aku dapat membahagiakanmu

Puisi Alam

ibu, hari ini kami memperingatimu
ibu, “selamat hari ibu”
terimalah salamku
dari anakmu

***

Keikhlasanmu Begitu Tulus

Tak pernah ada kata letih
Walau panas menerpa
Perih mendera
kau selalu tabah

Saat mendung dukacita
Ku tau rasamu..tapi bisa apakah aku?
Saat hujan air mata
Tanganku masih terlalu kecil untuk menyekanya

Sekarang ku mengerti
Jalanmu dulu kini kulalui
Perihmu dulu kini kurasai
Kisahmu dulu kini kujalani

Ibu
Kadang aku tak percaya
Tapi ini nyata
Yaahh, ini nyata
Kini kujalani..

Ibu
Kerelaanmu begitu mulia
Keikhlasanmu begitu tulus
Keanggunanmu begitu nyata
Kelembutanmu begitu sempurna

***

Bunda, Ku Rindu Kau

Waktu itu,
Aku melihat senyummu di kala Dhuha
Burung burung menyambut langkahku
Berkicau kicau mendesah sebuah nada yang elok nan indah
Oh bunda, kau cantik sekali di pagi ini

Teringat kenangan manis melambai lambai
Tak pernah kabur dari simpanan memoriku
Untaian kata lembut terngiang ngiang di udara pikiranku
Oh bunda, Kau yang terindah

Terpeleset pikiranku lama tak berjumpa
Sekian lama tak tersentuh kabarmu
Maafkan bila tak menyapa lebih dekat
Jauh nian diriku tak melihatmu
Wajahmu di awan selalu menghantuiku
Oh tuhan, lindungilah dia

Maafkan daku,
Belum bisa terbang kesana..
Oh Bunda, Ku Rindu Kau

***

Mengingat Ibu

Dengan berselimut kesendirian
Kuterbangun menatap langit langit kamarku
Terlintas di benak sosok engkau
Yang selalu menemaniku menjemput pagi
Yang selalu menemaniku menikmati panasnya sinar matahari
Yang selalu menemaniku menyaksikan bulan dan bintang
Dan kembali mengantarku ke dalam tidur yang panjang

Semua itu kini tak dapat lagi kurasakan
Karena saat ini ku jauh darimu
Mekipun sebenarnya ku tak bisa
Namun ku yakin semua itu akan berakhir

Ibu…
Aku rindu dengan senyummu
Aku rindu dengan kasih sayangmu
Aku rindu dengan belai lembutmu
Aku rindu akan pelukmu
Ku ingin kau tahu itu

Ibu….
Kau selalu ada
Di setiap hembusan nafasku
Di setiap langkah kakiku
Di setiap apa yang ku gapai
Karena kau begitu berarti dalam hidupku

***

Untuk Ibuku tercinta

Ku ingin,
Menghirup udara yang kau hirup.
Melangkah,
Di tempatmu melangkah.
Berteduh,
Di tempatmu berteduh.
Dan terlelap di atas pangkuanmu.

Ibu…
Ku hanya ingin selalu bersamamu.
sepanjang waktuku…

***

Puisi Ibu Penuh Arti

puisi ibu penuh arti
puisi ibu

Saatku Menutup Mata

Oleh Fahmi Mohd

Saat ku menutup mata bunda…
Aku tak ingin mata itu melihat ku dengan penuh air…..
Saat ku menutup mata bunda…
Aku tak ingin hati itu seakan tergores…..
Saat ku menutup mata bunda…
Aku ingin bibir itu terseyum…..
Aku tidak ingin engkau terluka…..
Bunda…
Mungkin ini adalah lihatan yang sangat bagimu…….
Tapi aku tak ingin melihat dengan seakan tak sanggub melepaskanku….
Bunda….
Aku hanya ingin engkau merelakan ku…..
Dan mengantar kan aku pulang ke rumah ku dengan senyum mu…
Saat ku menutup mata bunda….
Aku ingin kau tau bahwa ku…
Menyayangimu….
Bahwa ku …
Mencintai mu….
Aku bahagia bisa jadi anak mu….

***

Perjuangan Tanpa Banding

Bermula dari kasih sayang tulus
Lukis semua rasa yang halus

kini ku mulai cerita
Saat merintih menahan dera
Tiada banding hantamannya
Bagai terbakar larpa
Tak perna ia peduli jiwa kan tinggalkan raga

Tak ada lukisan betapa menakutkan itu
Layaknya petir bergemuruh
Samua daya dan harap tumpah
meruah semua gelisah

Tiada sedetikpun yang mau
Mau sejenak beri ruang untuk mengeluh
Raungnya menyayat kalbu
Tak terhitung butir-butir peluh
Tapi badai belum berlalu

Ia masih dan belum berhenti berperang
Genggaman tangannya bagai remukkan tulang
Hanya dia sendiri yang tau
Jurang yang akan dia lalu

Kini Rintih pergi
Dan air sebening salju pun mulai berlinang¡
Tak kala rengek meraung lantang¡
Cemas melayang hilang
Karena seonggak daging dan gumpalan darah telah datang¡
Datang bagai bintang¡

Kumandang asma illahi terdengar memenuhi setiap sisi ruang¡
Lahir la buah cinta yang beri terang¡

***

Pantaskah Aku

Ku duduk berdiam diri
Wanita yang mulai renta ku pandangi
Wanita yang selama ini mengasihi
Serta merawatku sepenuh hati

Seorang wanita yang tak kenal mengeluh
Yang tak peduli dipelipisnya berjuta peluh
Yang bekerja keras tak kenal waktu
Hanya demi kesuksesanku

Tapi pantaskah aku ?
Masih dicintainya
Masih disayanginya
Masih menjadi kebanggaannya

Aku hanyalah anak tak tau diri
Yang hanya tidur dan pergi setiap hari
Yang membentaknya kala dinasihati
Yang manja dan mementingkan diri sendiri

Pantaskah aku, ibu ?
Mendapat kasih sayangmu
Mendapat cinta tulusmu
Memanggilmu seorang ibu

Aku marah,
Aku benci,
Pada diri sendiri

Mengapa baru ku sadari ?
Aku mengecewakannya
Aku beban hidupnya
Aku berdosa padanya

Pantaskah aku,
Mendapat surgamu ibu ?

***

Citra Keagungan Lambang Kasih Suci

Ibu oh Ibu, engkaulah
Citra keagungan dan ketulusan hati
Dalam mengasihi dan menyayangi
Maka bersama doa restumu, kami melangkah
Menempuh perjalanan, menyibak rintangan,
Menembus badai topan
Menyongsong matahari harapan
Menjadi manusia melia yang keberadaanya
Membawa manfaat dan untaian makna

Ibu oh Ibu, lambang kasih suci
Di keteduhanmu kami menikmati nuansa firdausi
Bersama ayah, adik, dan kaka yang saling menyayangi
Mewujudkan keluarga bahagia, dan dari sinilah
Kami berangkat menuju medan juang dan berkiprah
Dalam studi, berkarya, beribadah
Merajut jati diri beradab berbudaya

Puisi Lingkungan

Ibu oh Ibu, engkau jualah
Nurani kemanusiaan penuh pengabdian
Teladan dalam keikhlasan dan perjuangan
Menjadi insan bermartabat

Ibu mengambil peran dalam kancah di masyarakat
Setia membersamai suami dan kami
Menyemangati dalam meraih prestasi
Penuh sikap peduli dan rasa simpati

Ibu oh Ibu,
Kepadamu kami berbakti
Bersamamu saling menyayang dan mengasihi
Saling memuliakan dan menghormati
Menerjemahkan ajaran Illahi.

***

Samudra Kasih Bunda

Ibu selalu memberi, memberi, memberi
Sedari kita kecil hingga dewasa
sampai dia pun tutup usia

Kasih sayangnya pancaran kasih sayang Tuhan
Tulis ikhlasnya pancaran tulus ikhlas Tuhan
Dia samudra amat dalam dan langit luas kehidupan

Dia seindah kerajaan burung-burung dan terumbu karang istana ikan
Yang menjajikan kedamaian dan hidup bahagia
Dia benteng pelindung atas bencana menimpa
Meski tubuhnya sendiri renta

Ibulah cahaya-cahaya di kegelapan
Pandu penunjuk jalan lurus
Karena hati dan cintanya yang tulus
Pengorbananmu, Buda, iklas sumbangsihmu
Teladan bagi banyak hal yang bernama baik
Dengan akhlak dan cantik

Dari rahimu kan lahir anak-anak salih-salihah
Di telapak kakimu tergelar surga
Karena selalu kau jaga langkahnya

Di hadapan ibu yang mulia
Terkaparlah anak-anak durhaka
Ialah mereka yang mengingkari dan mengkhianati
Tulus mendalam kasih sayangmu

Yang lalai dan lupa karena tipu daya dunia
Maka samudra ampunmu, Buda, kumohonkan sepenuh kalbu
Jika kami pernah bersalah, berdosa
Seringnya mengecewakan dan menyesakkan nafasmu

Adapun doa restumu, Bunda, panjatkan dan limpahkanlah
Untuk putra-putri yang mendambakanmu
Sebelum kami berangkat mengayun langkah
Membuka lahan-lahan kehidupan.

***

Puisi Ibu Sedih

puisi ibu sedih
puisi ibu

Tangisan Air Mata Bunda

Oleh Monika Sebentina

Dalam senyummu kau sembunyikan lelahmu
Derita siang dan malam menimpamu
tak sedetik pun menghentikan caramu
Untuk bisa memberi harapan baru bagiku

Seonggok cacian selalu menghampirimu
secerah hinaan tak perduli bagimu
selalu kau teruskan cara untuk masa depanku
mencari harapan baru kembali bagi anakmu

Bukan setumpuk Emas yang kau menginginkan di dalam kesuksesanku
bukan gulungan duit yang kau minta di dalam kesuksesanku
bukan juga sebatang perunggu di dalam kemenanganku
tapi permohonan hatimu membahagiakan aku

Dan yang selalu kau berkata terhadapku
Aku menyayangimu saat ini dan pas aku tak kembali bersama denganmu
aku menyayangimu anakku bersama dengan ketulusan hati ku.

***

Maafkan Anakmu, Ibu

Hingga hari ini
Belum bisa membalas jasamu.

Engkau yang bersusah payah
Berjuang demi anakmu ini.

Engkau rela berletih-letih,
Bekerja di setiap hari,
Demi melihat diriku tak kekurangan apapun.

Ibu,
Maafkan diriku
Yang bisa memberimu.

***

Pergimu Tiada Kembali

Bila sepi malam seperti ini,
Rinduku padamu mengusik jiwa.

Teringat akan senyumanmu,
Yang meneduhkan, mendamaikan, dan menenangkan jiwaku.

Ibu,
Sedih ini kan terobati
Seandainya engkau ada di sini.

Galau ini akan terhapus,
Jika engkau masih bersama kami.

Kini hanya doa
Yang bisa kupanjatkan.

Moga engkau bahagia di alam sana.

***

Jerit Batinku, Bu

Kesalku, marahku, tangisku
Seakan tak terdengar
Tak terjamah.
Seolah – olah itu bukan hal penting dan patut dipahami
Pendapatku ?

Jangan tanya bahkan sama saja tak terdengarnya.
Tak akan dimengerti oleh ibuku.
Aku selalu bertanya kepada semesta
Mengapa aku memiliki ibu seperti ini ?
Apakah benar dia ibu yang terbaik bagiku ?

Bagiku dia sangat menyebalkan.
Tidak mau introspeksi diri.
Tidak suka dikritik, bahkan selalu merasa benar.
Seakan-akan semua anak remaja di dunia ini itu selalu salah.
Selalu tidak pintar.
Kau kerap kali bandingkan ku dengan anak tetangga, yang jauh lebih pintar
Jauh lebih – lebih diatasku.

Darahku kerap kali mendidih ketika aku dibandingkan dan tidak pernah dipuji.
Kau anggap anakmu ini tak punya hati apa ?
Kau pikir hati anakmu ini terbuat dari batu akik apa ?
Sakit bu. Sakit.

Terus saja kau goreskan lara dalam batinku ini.
Tak lelahkah mulutmu berucap demikian ?
Aku lelah bu. Aku lelah mendengar hujatanmu.
Aku lelah mendengar semua perkataan pedas tanpa perasaanmu padaku.
Lebih baik aku tuli.

Daripada aku selalu saja mendengar omelan dan akan menggoreskan lara yang sama pedihnya.

Salahkah aku berpikir demikian ?
Jahatkah aku ?
Dosakah semua perasaan lara ini ?
Lagi – lagi aku tak tahu apa jawaban pastinya.
Saat ini aku hanya percaya semesta.
Karena semesta hanya diam dan menyaksikan
Tanpa pernah memihak para manusia-manusia malang.

Jerit Batinku, Bu.. – oleh Siti Junewati

***

Setetes Air Mata

Setetes air mata seorang ibu
gejola hati yang seakan akan ingin menjerit
air mata terus mengair
membasahi kedua pipinya
yang sangat lembut

Dimalam yang sunyi gelap gurita
kedinginan yang merada ditubuhnya
hati yang terluka terhanyut dalam kesedihan
seorang ibu terus
meneteskan air mata
dan ia mulai bertanya

kepada seorang anak
ia mulai mengucapkan
kata kata dengan lisan
mulutnya seakan akan ingin marah
penderitaan yang dirasakan

Ia mulai berbaring
dan meneskan air mata
apa yang ia rasakan
dan mulai merenung dan diam
tanpa kata kata

Setetes air mata – oleh Hanim Fatmawati
Madiun

***

Demikianlah kumpulan puisi ibu yang bisa dibagikan pada postingan kali ini. Semoga bait puisi ibu yang dibagikan dapat memberikan gambaran jasa seorang ibu yang tidak akan terbayar sehingga kita akan selalu bersyukur telah memiliki sosok seorang ibu dalam kehidupan kita.