Contoh Cerpen

Contoh Cerpen – Cerita pendek adalah sebuah karya sastra fiksi yang disusun secara singkat dan padat yang menceritakan berbagai masalah kehidupan seperti cinta, persahabatan, religi, pendidikan dan suasana sekolah. Pada umumnya cerpen itu disusun dalam satu halaman saja sehingga penokohan tidak sedalam dan sedetail cerita fiksi panjang seperti novel.

Pada kesempatan kali ini mypurohith.com akan memberikan berbagai contoh cerpen atau cerita pendek sebagai materi bacaan dan pembelajaran Anda. Tema cerita pendek berikut ini sangat beragam sehingga bisa membuka wawasan dan kreatifitas kamu dalam membut cerpen sendiri. Silahkan disimak!

Kumpulan Contoh Cerpen Singkat Terbaik

***

Contoh Cerpen Singkat dan Unsur Intrinsiknya

KENANGAN AYAH DAN KUMIS LEBATNYA

Waktu bagaikan penentu perjalanan manusia yang terjadi dimasa lalu,sekarang hingga masa depan.Waktu dapat dikatakan sebagai perekam yang merekam perjalanan hidup dan proses yang dialami oleh setiap umat manusia yang dapat teringat kembali dimasa yang akan datang. Berbagai waktu senang,waktu sedih, hingga waktu susahpun terselip di antara waktu yang menceritakan perjalanan seseorang yang kemudian terangkai menjadi sebuah kisah yang disebut dengan kenangan .

Hal inipun tak luput terjadi pada diriku sendiri, kenangan itu kujadikan sebagai salah satu pelajaran hidup yang berarti maupun candaan yang tak akan terulang kembali dalam perjalanan hidupku. Banyak kenangan masa kecil yang selalu telintas dalam ingatanku seperti salah satunya kenangan ketika aku masih duduk ditaman kanak-kanak, masih teringat dengan jelas bagaimana banyak kenangan yang terjadi pada masa itu padahal sekarang aku telah duduk dibangku sekolah menengah atas ,entah mengapa kenangan ini tak dapat lepas dari ingatanku . Kini kenangan itu kuceritakan kembali untuk mengenangnya.

Inilah salah satu pengalamanku. Ketika aku masih duduk disalah satu taman kanak-kanak di daerah tempat tinggalku, aku selalu dijemput oleh ayahku. Ayahku adalah orang yang sangat baik dan penyayang. Ayahku memiliki badan yang cukup tinggi dan besar serta berkumis lebat. Ayahku bekerja sebagai seorang pegawai negeri yang mengabdi didaerah tempat tinggalku.

Setiap aku pulang sekolah dari taman kanak-kanak ,ayahku selalu menjemputku dengan mobil dinasnya dan aku selalu menunggunya didepan kelasku. Seperti biasa yang kulakukan ketika lonceng sekolahku berbunyi disiang hari, aku menunggu ayahku untuk menjemputku.

Namun hari itu tampak berbeda dengan hari-hari biasanya karena aku tak melihat ayahku sehingga membuatku gelisah bukan main .Oleh karena itu kuputuskan untuk berjalan menuju pintu gerbang sekolahku, ketika kuberjalan aku berpapasan dengan sesosok laki-laki yang menyerupai ayahku berbadan besar dan tinggi namun tak berkumis lebat.

Lalu orang tersebut berkata “ Ayo, Hana mari pulang!” langkahku terhenti sejenak sambil memerhatikan wajah orang itu, namun tak kukenal sama sekali siapa orang itu .Sehingga membuat begitu banyak pertanyaan yang muncul dalam kepalaku, “ siapakah dia? Apakah ia adalah orang utusan ayahku untuk menjeputku?”. Tak ada satupun jawaban yang terlintas untuk menjawab pertanyaan –pertanyaan itu. Tetapi aku masih merasa bahwa aku mengenalnya ,lalu kucoba memperhatikan wajahnya kembali. Betapa terkejutnya dan malunya aku waktu itu.

Orang tersebut adalah ayahku namun ayahku tanpa kumis lebatnya. Lalu ayahku merangkul bahuku mengajakku jalan bersamanya menuju mobil dan pulang kerumah. Dalam rangkulannya aku tak berani melihat mukanya karena perasaan sangat malu yang bercampur dengan rasa tawa. Selama perjalanan aku masih terheran-heran terhadap diriku sendiri karena aku tak bisa mengenali ayahku ketika ia tidak memiliki kumis, apalagi jika ia botak mungkin aku benar-benar tak mengenalinya sama sekali dalam benakku .

Oleh karena itu,jika kuteringat kejadian ini kembali aku ingin tertawa yang bercampur malu,namun itu adalah salah satu kenangan yang mungkin tak akan kulupakan hingga sekarang dan aku tahu sekarang alasan ayahku tak pernah mencukur habis kumis lebatnya itu,ia takut aku tak mengenalinya lagi hingga sekarang sehingga ia memilih untuk memeliharanya. Itu merupakan salah satu kenangan yang kualami ketika kumasih kecil,mudah-mudahan pengalaman ini dapat menghibur kalian yang membacanya.Salam kenal…

Unsur Intrinstik Cerpen antara lain:

Tema: mengenai pegalaman masa kecil yang tidak dapat dilupakan

Tokoh dan penokohan.

  • Tokoh : Aku dan ayahku.
  • penokohan : Aku :pelupa.
  • Ayahku : sangat baik dan penyayang.

Alur: merupakan alur gabungan ( alur yang merupakan gabungan dari alur maju dan alur mundur) .

Latar

  • Latar tempat : Lingkungan sekolah taman kanak-kanak(depan kelas,pintu gerbang sekolah).
  • Latar waktu : Siang hari.
  • Latar suasana : bingung,menghibur,gelisa.

Sudut pandang

  • Sudut pandang orang pertama ( I ).
  • Sudut pandang orang ketiga (III) .

Gaya bahasa: Menggunakan bahasa yang efektif sehingga isi cerita dapat dimengerti oleh pembaca.

Amanat

Semua orang mempunyai masa lalu yang berkesan maupun yang mengecewakan namun semua pengalaman tersebut selalu memiliki makna tersendiri yang dapat kita ambil dan dikenang kembali dimasa hidup kita kemudian . Selain dikenang pengalaman dapat juga menjadi obat rindu kita terhadap masa lalu kita. Oleh karena itu apa yang kita lakukan sekarang akan menentukan pengalaman yang akan dikenang kembali dikemudian hari.


contoh cerpen persahabatan
liputan6.com

Contoh Cerpen Persahabatan – Persahabatan

Mentari begitu terang menyinari bumi ini memberikan efek terbakar saat menembus permukaan baju dan mengenai kulit. Pelajaran olahraga kali ini adalah permainan bola besar. Pasti tak asing lagi di telinga kalian ketika mendengar nama permainan ini.

Bola yang sekelingnya ada empat garis berwarna hitam serta dengan warna dasar oranye. Sekilas saat sedang haus melihat bola ini sama seperti melihat sebuah jeruk.

Setelah melakukan pegambilan nilai praktek, kami diberikan waktu istirahat.
Dengan cepat aku melesat pergi ke kantin, aroma sejuk dan dingin dari dalam kulkas langsung menyentuh kulit. Kuambil sebotol air mineral dan langsung meminumnya, rasanya begitu nikmat saat segerombolan air yang lewat melalui tenggorakkanku ini memberikan sensasi yang begitu dingin.

Dengan mengeluarkan uang sepuluh ribu, aku pergi keluar kantin.
“Kania, main basket tuh.”
“Iya,”
Aku berjalan melalui koridor kelas yang mengarah langsung ke lapangan basket.

Mataku tertuju kepada orang yang ada di depanku, ia sedang menonton permainan basket yang ada di depannya.
“Eh, Dek. Bisa tolong kasihin minum ke orang itu. Jangan bilang dari saya, tapi bilang aja dari kamu ya,” mintaku padanya.
“Oke kak,” balasnya.

Aku melanjutkan langkah kaki ini menuju kelasku. Lelah. Itulah yang kurasakan kini. Aku merebahkan badanku ke kursi setidaknya rasa lelah ini bisa berkurang sedikit.

Langit begitu biru namun setelah beberapa saat semuanya berubah. Tiba-tiba saja angin bertiup dengan sangat kencang, menerbangkan daun-daun dari pohon dan langit begitu gelap sehingga membuat aroma mistis yang terasa begitu kental.

Aku langsung menambah kecepatan untuk berlari, tetes demi tetesan mulai berjatuhan. Semakin lama tetesan itu semakin cepat dan sebuah kilatan tajam melintas di depan mataku.

Langkahku terhenti sesaat memandang lurus ke depan. Air mata sudah memenuhi kelopak mata membuat penglihatan mataku sedikit kabur. Saat aku memejamkan mata secara perlahan, saat itu juga bulir ini mengalir melintasi wajahku bersamaan dengan tetesan hujan.

Tak ada yang spesial dalam diriku. Aku sama seperti yang lain, seorang remaja yang mulai mengerti akan kata suka. Jika boleh memilih aku tak ingin memliki rasa suka tapi sayang semua itu sudah takdir.

“KANIA!!”
Aku langsung menoleh kepadanya, “Enggak usah teriak juga manggilnya, bisa?”
Dia menatap tajam ke arahku dan tiba-tiba tersenyum yang menimbulkan sejuta tanya dalam hati.
“Aku udah panggil kamu lebih dari 10 kali, makanya aku teriak,” balasnya. Aku hanya terdiam karena, memang aku tidak mendengar apapun kecuali yang dibagian dia teriak.
“Kamu mikirin apa?” tanyanya. Aku menggerakkan kepala ke kiri dan ke kanan tandanya tidak. Ia menghelah nafas dengan berat, “Apapun itu saya cuma bisa doa yang terbaik,” ucapnya.

Jam pelajaran dilanjutkan kembali, penjelasan dari guruku dengar dengan baik. Tiba-tiba lonceng berbunyi, membuat guru mengakhiri pelajaran dan semua siswa berhamburan keluar.

“Fif, dia itu beneran?” tanyaku.
“Sepertinya iya, tapi aku kurang tau. Kamu masih?” balasnya menatapku. Aku menganggukkan kepala tanda iya.

Kami berjalan keluar menuju gerbang sekolah, sudah tak ada siapapun di sini hanya ada aku dan Afifah yang ada di sebelahku. Mataku menerang ke segala penjuru. Sudah pulang.

Saat hampir tiba di gerbang sekolah, titik fokus lensa mataku tiba-tiba saja berhenti dan tidak mau bergerak. Aku mencoba memfokuskan penglihatanku. Aku benar, tidak salah lihat.

Aku mencoba menahan semuanya, hingga seorang menepuk pundak ku. Aku hampir melupakannya dari tadi aku masih bersama Afifah. “Aku cuma ingin kamu tau yang sebenarnya kalau yang aku bilang itu benar Kania,” ucapnya berat.

  Contoh Kalimat Definisi

Dengan satu tarikan nafas, “Makasih atas semuanya Fif, kamu memang sahabat aku.”
Aku langsung pergi meninggalkan Afifah yang masih ada di sana. Aku berjalan dengan cepat dan menambah volume lagi hingga bisa berlari. Langit yang tadinya biru dalam sekejap berubah menjadi hitam.

Angin meniup semua yang menghalangi jalannya termasuk daun yang sekarang berterbangan. Dingin. Itu kesan pertama yang kurasakan saat angin menyentuh kulitku. Aku merasakan aroma mistis yang begitu kental.

Seharusnya aku sudah mengerti tentang ini. Kenapa aku yang harus merasa tersakiti. Batinku yang berbicara.

Setetes, dua tetes, tiga tetes sampai berlanjut dengan tetesan. Ternyata saat ini langit lagi bersedih, bersamaan dengan itu sebuah kilat tajam melintas di depan mataku.

Kaki ini sudah tak sanggup lagi melangkah, pandangan ini sudah kabur tergenang oleh air mata. Perlahan mataku sedikit terpejam menahan perih dan sakit.

Samar-samar aku mendengar rintihan seorang, pandangan ku kabur sekali seperti ada halangan untuk melihat dengan jelas. Aku merasa diatas kepalaku ada beban yang berat sehingga sulit untuk digerakkan.

“A-Fifah” ucapku susah payah menyebut namanya. Dia langsung menoleh ke arahku, “Kania, kamu udah sadar. Sebentar aku panggil dokter dulu,” balasnya sambil menuju kearah dinding dekat pintu.

Tak lama seorang berseragam putih memasuki ruangan. Hanya satu hal yang kupikirkan saat ini. Aku kenapa. Itulah yang kupikirkan.

Setelah cukup lama, ia keluar dari ruanganku berganti dengan Afifah. Aku menatap Afifah bingung. “Aku kenapa Fif?” tanyaku. Bukannya menjawab, dia malah menangis sambil menatapku.

“Maafin aku, enggak bisa bantu kamu waktu itu. Waktu aku datang kamu udah jatuh di jalan karena ditabrak oleh mobil, aku minta maaf Kania,” balasnya dengan air mata yang sangat deras.
Aku mengerti berarti aku di sini karena kecelakaan. Tak masalah yang penting aku masih hidup walaupun beberapa anggota tubuhku luka-luka.
Aku tersenyum padanya, “Enggak apa-apa. Saat takdir datang tidak ada yang bisa menolak. Ini bukan salah kamu,” jawabku.
“Makasih Kania,” balasnya menahan air mata yang berikutnya akan jatuh. Aku menganggukkan kepala, lalu ia pergi dari ruangan ini karena aku sendiri ingin beristirahat.

Terasa begitu menyebalkan sekali, aku tidak diizinkan sekolah hari ini. Hanya dengan satu alasan ‘Kamu lagi sakit, lebih baik istirahat.’ Aku menjadi tidak nyaman kalau sendirian di rumah, rumah ini terlalu besar atau aku yang terlalu kecil. Aku yakin pernyataan kedua yang benar.

Dengan langkah seperti seorang maling, aku berjalan melewati ruangtamu yang nampak kosong. Masih sama aku berjalan dengan sangat hati-hati, sedikit kepala ini kuarahkan ke kiri dan kanan untuk melihat apakah ada yang tau aksi yang kulakukan ini.

“Mas, tadi tuan pesan. Kita harus memantau non Kania jangan sampai keluar rumah,” ucapnya seorang wanita. “Siap, kalau gitu saya mau jaga gerbang,” balas seorang laki-laki.

Aku langsung melangkah jauh dari mereka. Sungguh menyebalkan, semua orang jadi khawatir denganku. Sudah dapat dipastikan aku tidak akan bisa keluar dari gerbang depan. Aku berlari ke arah gudang belakang.

Mataku menelusur ke segala penjuru hingga terhenti pada sebuah tangga. Aku berusaha mengangkat tangga itu tapi tidak bisa, tanganku masih sakit. Tanpa sengaja aku melihat gerbang belakang rumah belum ada orang. Secepat kilat aku keluar dari gerbang.

Aku melihat jam yang ada ditanganku, sudah pukul 14.00 artinya sekolah telah pulang. Aku memberhentikan taksi lalu pergi menuju rumah Afifah.

Setelah sampai di sana aku melihat sebuah motor terparkir. ‘Wahh.. kak Arga pasti udah pulang nih’ batinku senang. Namun, langkahku terhenti ketika melihat seorang di sana. Dia bukan kak Arga.

“Gara-gara rencana kamu, Kania jadi celaka,” ucap Afifah pada orang itu.
Aku yang penasaran akhirnya memberanikan diri untuk menguping pembicaraan mereka.

“Yah harus gimana lagi. Kita udah pacaran tapi kamu enggak mau sahabat kamu itu tau. Itu satu-satunya cara biar dia berhenti suka sama aku,” balasnya.
Kania kenal suara itu bahkan sangat hafal. Itu suara Dito, sosok laki-laki yang ia sukai sejak dua tahun terakhir.

“Tapi aku enggak enak sama Kania,” jawab Afifah.
“Dengerin aku, terkadang cinta itu butuh yang namanya keegoisan. Kamu suka aku, aku juga suka kamu,” jelas Dito yang meyakinkan Afifah.

“Kalian enggak perlu cemas, aku ikhlas kamu sama Dito. Semoga bahagia dan langgeng. Aku juga enggak suka kamu lagi,” ucap Kania yang tiba-tiba ada di depan gerbang rumah Afifah.
“A-aku min-ta maaf Kan, aku enggak ada maksud-”
“Diam Fif. Cukup penjelasannya, lo udah terlalu baik sama gue dan mungkin saatnya lo bersikap jahat sama gue. Gue ngerti tapi gue mohon setelah ini lo jangan pernah temuin gue lagi. Anggap kita enggak saling kenal.”
Setelah mengucapkan kata tersebut, Kania langsung pergi dari rumah Afifah. Dia tidak peduli dengan Afifah yang meneriaki namanya.

4 bulan berlalu…
Hubungan persahabatan Kania dan Afifah tidak seperti dulu. Kania tidak ingin membahas masa lalunya itu. Dia ingin melupakan semuanya.

“Kan, udah tau kalo Afifah putus sama Dito?” Ucap Rinda yang menjadi teman sebangku Kania.
“Enggak tau. Emang benar?” Tanya Kania balik.
Rinda menganggukkan kepalanya. “Katanya Dito pacaran sama Afifah, karena dia dapat tantangan dari temannya aja.”
Kania mengangguk paham. Ia melihat ke arah meja Afifah, wajar saja Afifah tidak masuk hari ini. Tak lama bel pulang berbunyi.

Kania mengetuk pintu sambil mengucapkan salam. “Eh Kania. Sudah lama enggak mampir ke sini,” sapa perempuan itu ramah.
“Hehe.. sibuk sekolah tan, Afifahnya ada tan?” Tanya Kania.
Perempuan itu menampakkan wajah sedihnya. “Dia enggak mau keluar kamar, dia juga enggak mau makan. Kamu bujuk dia yah?” Mohonnya.

Kania berdiri di depan kamar Afifah. Dia mencoba membuka pintu kamar Afifah. Tapi dikunci.
“Fif buka,” ucap Kania.

Pintu itu langsung terbuka menampakkan wajah gadis yang terlihat sembab. “Kania, aku minta maaf karena udah buat kamu luka. Ternyata dia jahat Kan,” ucap Afifah sambil menangis.
“Kamu enggak salah. Itu masalah yang kemarin enggak usah dibahas. Kamu makan dulu,” ucap Kania.
Afifah langsung memakan makanan yang dibawa Kania. Setelah selesai dia langsung menangis kembali sambil menatap Kania.

“Aku salah udah berbuat jahat sama kamu, Kania. Aku siap kalo kamu mau marah sama aku.” Afifah menangis tersedu-sedu.
“Kita terlalu bodoh Fif. Persahabatan hancur hanya karena satu cowok. Aku enggak mau itu terjadi lagi. Aku pengen kita tetap sahabatan seperti dulu,” tutur Kania lembut.
“Setelah hal jahat yang aku lakuin, kamu masih nganggep aku sahabat kamu?” Tanya Afifah seakan tak percaya.
Kania mengangguk. “Aku maafin kamu. Aku pengen kita jadi sahabat selamanya.” Alya mengarahkan jari kelingking yang dibalas oleh Afifah.

Mereka bercerita bersama sambil tertawa. Mereka melupakan kejadian pahit waktu itu. Karena, tidak ada gunanya kita mengingat hal pahit.

Jangan pernah khianatin persahabatan kalian apalagi hanya untuk satu orang yang enggak guna bagi hidup. Terkadang kalian harus menelan hal pahit dengan jalan memaafkan. Tapi, percayalah itu akan membuat kamu menjadi manusia kuat.


contoh cerpen pendidikan
kompasiana.com

Contoh Cerpen Pendidikan – Sebelum Awal Kesuksesan

Saat itu masa masuk sekolah, semua sibuk menanti pengumuman. Sedangkan adi si idiot itu duduk di depan sebuah ruang kosong yang lama tidak digunakan, dia duduk dan membaca sebuah buku yang tebal.

Dia memang sangat terkenal dengan sifatnya yang pendiam dan cenderung menyendiri, dia selalu membawa satu buah buku di tangannya. Saat ujian penentuan kelulusan kemarin dia mendapat nilai tertinggi di kelas, waktu itu ada seorang anak yang datang terlambat mengikuti ujian, andre begitulah semua memanggilnya, dia memang suka berangkat terlambat.

“Tok… tok… tok…!. Assalamualaikum… boleh saya masuk pak?” suara pintu kelas terketuk di lanjutkan dengan suara di balik pintu itu.
“Walaikumsalam… siapa ya?”. Tanya guru pengawas yang tengah duduk di mejanya.
“Saya pak, Andre!”. jawabnya dengan lantang.
“Ya, silahkan masuk”. Jawab pak guru, dan mempersilahkannya masuk.

Dengan cepat andre masuk dan segera mengambil selembar kertas ujian, dengan cepat ia duduk dan mengerjakan, karena waktu hampir habis.
“lima menit lagi anak anak!”. Suara itu memberikan tanda bahwa waktu hampir habis.

Dari sudut tempat aku duduk terlihat andre yang tegang dan buru buru karena waktunya akan habis, banyak keringat yang menetes di mejanya, sedang si idiot itu terlihat tenang dan santai.
Dan benar setelah lima menit bel berbunyi.
“Kring… kring… kring…”. Bel petanda selesainya ujian kini benar benar berbunyi, semua peserta ujian menyerukan suaranya.
“Hore…, akhirnya ujian selesai”. Sementara anak itu masih mengerjakan ujian dengan terburu buru.

“Waktunya selesai anak anak. Semua kumpulkan kertas ujiannya di depan!”. Perintah pak guru.
“Baik pak…”. Sahut semua peserta ujian. Kecuali si idiot itu ia tidak berkata apa apa dari tadi. Semua segera mengumpulkan kertas ujiannya di meja guru pengawas.

  Contoh Dialog Interaktif

Setelah ujian waktu itu, semua siswa sibuk mennggu hasil ujian yang akan diumumkan besok.
“Mungkinkah aku lulus?”. Tanyaku di dalam hati. Akhirnya waktu yang ditunggu datang juga, hari itu tiba semua siswa datang ke sekolah dan tertuju pada sebuah ruangan tempat pengumuman kelulusan. Tiba di sana semua rasa tercampur jadi satu.

“Duk… duk… duk…”. Suara langkah kaki terdengar mendekati ruangan ini, semakin lama semakin keras.
“Ya alloh…, semoga lulus”. Suara harapan itu terus terdengar, semua menunggu hasilnya sementara si idiot itu tampak duduk menyendiri, dan tidak menghiraukan semua yang ada di ruangan itu.

Langkah kaki itu terhenti, tampak salah guruku di depan.
“Selamat pagi anak anak!”. Sapanya kepada semua siswa.
“Selamat pagi pak!”. Sahut semua siswa dengan lantang.
Tanpa banyak bicara lagi pak guru langsung membuka secarik kertas hasil ujian kemarin. Akhirnya, semua perjuangan selama ini akan ditentukan hari ini.

“Semua peserta ujian dinyatakan lulus semua”. Ujar pak guru, setelah membaca hasil ujian.
“Alhamdulillah…”. Semua menyerukan kata yang sama diruangan itu.
“Baiklah anak anak. Untuk juara III diraih oleh… stevan!. Juara I dan juara ke II diraih oleh adi dan andre!. Untuk peraih juara I, II dan III selamat untuk kalian”.

Semua siswa terdiam dan tampak heran, bagaimana tidak pasalnya stevan anaknya cupu, andre dia suka terlambat berangkat sekolah, dan adi si idiot itu dia tidak pernah bersosialisasi dengan teman temannya. Sedangkan aku berada pada peringkat ke IV dibawah anak cupu itu.

Setelah pengumuman semua kembali pulang ke rumah masing masing, aku yang masih merasa aneh dengan hasil ujian yang disampaikan pak guru terus memikirkannya sampai di rumah. Mungkin itulah hasil kerja keras mereka selama ini, yang semua orang tidak tahu. Dan dari pengalaman yang aku alami aku bisa belajar untuk lebih menghargai orang dan tidak menggapnya sebelah mata.


contoh cerpen
fastwork.id

Contoh Cerpen Cinta – Being Mine

Suasana siang itu cukup panas, cukup panas memang untuk membuat orang nyaman berada di atas sebuah sepeda motor dengan nyamannya. Tapi berbeda dengan Saki, ia cukup bahagia dengan terpaan matahari panas dengan debu yang berterbangan sepanjang jalanan karena hilir mudik kendaraan alat berat sesekali melewati mereka. Tapi Saki sama sekali tidak menghiraukan hal itu sama sekali. Ia masih tersenyum bahagia di atas sepeda motor yang dikendarai pria berdarah jawa itu. Dadanya berdegup kencang setelah sekian lamanya. Aroma parfum pria itu masih sama dengan tiga tahun yang lalu, dan degup jantungnya pun ikut sama. Masih sama persis seperti 7 tahun yang lalu.

Sesekali pria di depannya melirik ke kaca spion untuk mengecek keadaan Saki yang sedari tadi mereka memang belum membuka percakapan. Sepertinya Saki menyadari bahwa Ranu sedang memperhatikannya, dan itu membuat pipinya terlihat memerah seketika.

“Lama ga jumpa, banyak yang berubah ya” Ranu membuka percakapan tatkala mereka sudah berada di lapangan engku putri,
“Gada yang berubah Ranu, semuanya masih sama. Semuanya sama sejak saat pertama kali kita bertemu” Saki menelan ludah ternyata itu hanya berkecamuk di dalam hatinya saja tanpa sanggup ia utarakan
“Gimana sekarang dek? Mas maulah dengar semua ceritamu” Ranu masih sama hangat seperti yang dulu. Iya dia masih sama sedikitpun tidak pernah berubah. Ranu pacar pertama Saki yang kemudian bertransformasi menjadi sahabat lama Saki. Aneh ya kebanyakan dari sahabat berubah menjadi cinta tapi Saki dan Ranu kebalikan dari semua itu, ya itu keputusan yang diambil sepasang kekasih SMA waktu itu, apa boleh buat semua telah terjadi bertahun-tahun yang lalu. Kalau sekarang kejadiannya mungkin akan berbeda. Saki tidak akan menyetujui keputusan bodoh seperti ini.

“Dek, Mas akan melanjutkan karir mas di Batam, dan kita akan terpisah untuk waktu yang sangat lama. Mas ga tau apa yang akan mas temui di sana dan siapa yang akan adek jumpai di sini, bisa jadi setelah mas pergi semuanya tidak akan sama lagi. Mas sayang sama adek, mas ga mau kehilangan adek kalau seandainya… Mas ga bermaksud menyakiti adek.. Tapi memang sebaiknya kita temenan aja. Mas harap adek ngerti”
Hati Saki berontak mendengar semua perkataan Ranu, tapi bagaimana lagi ia teramat menyayangi Ranu
“Iya mas, adek ngerti. Bagi adek siapapun status kita yang terpenting ialah mas ga akan ninggalin adek, mas selalu ada buat adek. Mas janji kan mas ga akan ninggalin adek?” rengek Saki yang sudah berada di dekapan Ranu berusaha menahan tangisnya
“Mas janji” ujar Ranu sambil mengecup lembut kening perempuan yang kini bukan lagi kekasihnya.
Hari itu hari terakhir Ranu dan Saki bertemu. Mereka tidak pernah bertemu lagi setelahnya

Ranu seperti yang ia katakan ia akan meniti kariernya sebagai atlet voli, benar saja Ranu sekarang memang menjadi seperti impiannya, yaitu spiker salah satu tim ternama di kota Batam. Sedangkan Saki sendiri, ia baru saja menyelesaikan pascasarjananya dengan nilai yang cukup memuaskan, Ia memang cukup pintar sedari sekolah. Ranu memang menepati janjinya ia tidak pernah pergi, ia selalu ada buat Saki. Bagi Ranu, perasaannya terhadap Saki, memang telah berubah menjadi kasih sayang terhadap sahabat. Namun tidak bagi Saki baginya Ranu tetaplah Ranu, iya Ranu kekasih pertamanya, bukan Ranu kekasih pertama dan terakhir.

“Dek…” Ranu membuyarkan lamunan Saki
“Emm ya Mas,” Saki menghapus bulir yang tak sengaja menetes dari kelopaknya
“Adek kenapa nangis?” Ranu menyadarinya
“Adek kangen mas…” tangis Saki pecah seketika dan Ranu segera memeluk sang gadis yang sudah terisak-isak di pelukannya. Ranu mengelus-elus rambut Saki seperti 7 tahun yang lalu saat mereka masih berstatus pacaran.
“Mas di sini, mas ga akan pergi,” Ucap pri bermata teduh itu semakin membuat tangis Saki menjadi-jadi sepertinya ia lupa bahwa sekarang ia sudah bergelar Dra. Tingkahnya tak ubah seperti anak SMA saja, sehingga Ranu menjadi semakin bingung

“Saki sayang Mas Ranu” Ujarnya ditengah-tengah tangisannya
“Iya mas tau, Mas juga sayang adek. Adek jangan nangis lagi tapi. Masa selama 7 tahun ga jumpa adek ga mau ngasih mas senyuman nangis mulu dari tadi” Ranu mencoba membujuk Saki
“Tapi sayang Saki sama mas Ranu beda, dengan apa yang Mas Ranu rasakan ke Saki, Saki sayang mas Ranu sama seperti 7 tahun yang lalu. Perasaan Saki ke Mas Ranu sedikit pun belum berubah mas, 7 tahun perpisahan kita sudah cukup membuat Saki menderita dalam penantian. Saki udah ga sanggup kehilangan mas Ranu untuk kedua kalinya. Tolong mas jangan pergi, untuk alasan apapun tolong mas jangan pergi. Tetap di sini, temani adek. Adek sayang banget sama mas” Bathin Saki berteriak berharap terdengar hingga mampir ke telinga Ranu.
Tapi tidak, Ranu tidak boleh tau tentang hal ini. Ranu bisa saja memandang jijik pada Saki yang tidak bisa profesional dan tidak bisa terima kenyataan..

“Tidak, biar aku pendam sendiri perasaan ini, aku ga mau kehilangan mas Ranu untuk kedua kalinya hanya karena sikap bodohku ini”

End


Contoh Cerpen Remaja – Kebetulan Bareng

Minerva melemparkan tasnya keluar jendela dapur sekolah. Setelah memastikan tidak ada orang, ia meloncat keluar. Tubuhnya yang ramping seketika sudah berada di kebun belakang sekolah. Bolos adalah kegiatan rutin Minerva jika ada jam kosong. Daripada diam di kelas mending pulang, kan?

Sekarang tidak terjadi apa-apa, Minerva memungut tasnya lalu berjalan santai menyusuri kebun. Anehnya, walaupun sering bolos, gadis SMK jurusan Administrasi Perkantoran itu tidak pernah mendapat nilai jelek. Nilai akademiknya selalu diatas rata-rata dan kemampuannya juga cukup baik. Sehingga para guru tidak pernah mempedulikan absennya di kelas. Toh, nilainya malah justru meningkat. Entah hal apa yang membuat Minerva tidak betah berada di sekolah.

“Heran, ya, selalu aja bisa bolos.” SMS dari Hera, teman sebangkunya, hanya bisa ia abaikan. Ia hanya ingin pergi dari sekolah dan menuju tempat yang sepi atau jalan-jalan.

Tiba-tiba, lensa cokelat Minerva menangkap sosok pemuda sedang merokok di bawah pohon yang tidak jauh dari tempat Minerva berdiri. Ia buru-buru mendatangi pemuda itu dan merebut rokoknya.

“Berani banget ya ngerorok di area sekolah!”, Cibir Minerva sambil menginjak rokok itu. Si pemuda terkejut mendapati seorang gadis merebut rokoknya.
“Eh, apa-apaan nih?” Pemuda itu melotot.
“Udah bolos, eh ngerokok di area sekolah lagi!” Minerva berkata tanpa berpikir.
“Heh! Ngaca dong! Situ juga ngapain di sini kalo bukan bolos? Lagian ini kan udah di luar area sekolah!” Pemuda itu membalas sengit.

“Woi!” Sebuah teriakan mengagetkan Minerva dan si pemuda. Pak Firma, penjaga sekolah, berdiri tak jauh dari mereka.
“Mampus!” Geram si pemuda. Penjaga sekolah berumur 40-an itu gemar sekali mengadu. Jelas ini adalah masalah baginya.
“Saya tahu kalian Minerva dan Alvaro!” Pak Firman melangkah mendekat. Minerva memikirkan cara untuk melarikan diri. Ia pun mencolek Alvaro—si pemuda, yang tampak sama paniknya. Alvaro menoleh.
“Oke, kita lari bareng. Lu ke kanan, gue ke kiri! Satu, dua, tiga!” Minerva mulai berlari ke arah samping kiri pak Firman. Alvaro juga berlari ke arah sebaliknya.
Pak Firman terkejut melihat ‘tangkapannya’ malah berlari dan ia pun berusaha menangkap salah satu dari mereka. Namun pak Firman kalah gesit.

  Contoh Biografi

Minerva yang lebih dulu sampai di pinggir jalan raya segera menghentikan angkot lalu buru-buru masuk ke dalamnya. Alvaro yang berada di belakang juga meloncat ke dalam angkot. Angkot pun segera tancap gas. Pak Firman memaki-maki sementara Minerva dan Alvaro tertawa puas.

Ketika Alvaro turun dari angkot, Minerva juga ikut-ikutan turun.
“Ngapain ikut turun?” Alvaro bertanya ketus.
“Nggak boleh ya? Mau jalan-jalan sih, tapi males kalo sendirian. Mau nemenin?” Minerva tersenyum centil.
“Biar ada temen gitu. Kan gak enak kalo jalan-jalan sendirian.” Kata Minerva ngeles. Alvaro terdiam sebentar.
“Oke, mumpung jadwal gue lagi longgar”, ucap Alvaro. Minerva tersenyum lagi. Ia mengulurkan tangannya, “Gue Minerva.”
“Alvaro”. Alvaro menjawab sambil menjabat tangan Minerva dengan sedikit kaku.

Setelah berdebat sedikit kemana tujuan mereka, Alvaro setuju menemani Minerva ke mall. Seperti Gadis pada umumnya, Minerva suka sekali belanja. Ada barang bagus, Minerva langsung membelinya. Alvaro hanya mengikuti Minerva yang keluar masuk toko. Kalo dilihat-lihat, pikir Alvaro, Minerva mirip seperti mantannya, Camellia. Alvaro hanya senyum-senyum sendiri melihat Minerva yang kadang heboh dan histeris sendiri.

Setelah puas melihat-lihat dan membeli beberapa barang, mereka mampir ke food court. Mereka duduk berhadapan sambil mengobrol santai. Rasa kesal diantara keduanya sudah menghilang. Alvaro sudah tidak menggunakan kata “Lo-Gue” saat mengobrol dengan Minerva. Mereka berdua membicarakan banyak hal. Alvaro juga menemukan banyak kemiripan antara Minerva dengan mantannya.

“Pas bolos jam pelajaran biasanya aku ke sini. Tapi kalau enggak ya di rumah. Gimana denganmu?” Tanya Minerva.
“Biasanya sih, ke warnet. Atau ngegame di rumah.” Alvaro menyeruput jus alpukat nya.
“Gamer ya?”
“Ngegame itu cuma hobi, sih. Cuma sekarang lagi coba-coba bikin game. Jadi sering bolos buat ngerjainnya.” Jelas Alvaro.
“Keren!” Puji Minerva. Mereka mengobrol lagi. Sesekali mereka tertawa hingga lupa bahwa mereka sedang bolos sekolah.

Tanpa mereka sadari, sesuatu terjadi pada hati mereka. Mereka tahu bila esok mereka mungkin akan menerima hukuman dari pengaduan pak Firman. Tapi mereka tidak peduli. Mereka sama-sama menginginkan satu hal; menghabiskan waktu bersama.


Contoh Cerpen Islami – Ada Tuhan

Aku tak bisa mengerti dari mana dan bagaimana semua ini berawal. Bagaimana rasa takut tak wajarku yang semakin membesar hingga meruntuhkan optimismeku.

Aku hanya gadis biasa, aku bahkan tidak tau apa yang bisa kusombongkan dari diriku. Aku bukanlah murid terpintar atau anak dari keluarga yang berpengaruh. Tapi, bukan berarti aku orang yang suka menggantungkan diriku pada orang lain. Tidak! Bahkan setiap punya masalahpun, aku memendamnya sendiri.

Pertanyaanku, apakah orang seperti ini bisa dikatakan sombong? Apakah orang seperti ini bisa dikatakan pengganggu? Apakah orang seperti ini. Bisa dikatakan penghina? Katakan ya dan dunia akan runtuh (ups!!). Tapi, aku akan percaya hampir seratus persen kalau kau bilang aku lemah dan penakut. Kenapa? Karena sudah kukatakan dari awal kalau semakin lama, ketakutanku semakin membesar. Dan aku tidak tau bagaimana semua ini berawal. Karena aku tak tahu bagaimana semua ini berawal, aku akan memulai darimana saja. Sebisaku.

Apa yang kau pikirkan tentang orang yang memilih melamunkan kebersamaannya dengan keluarga yang dicintainya atau dengan teman-teman yang selalu menemaninya dengan canda tawa, dibanding melakukannya saat itu juga. Kebersamaan, canda tawa, senyum yang merekah, semua itu hanya ada dalam bayangannya. Kenyataannya, dia hanya diam dengan mata yang menerawang jauh. Padahal dia tahu, teman-temannya ada di sekitarnya. Ada di sampingnya. Keluarganya juga bersamanya, sedang berusaha meramaikan suasana dengan celotehan dan sahut menyahut yang seakan tanpa akhir, sekaligus diiringi senyum-senyum yang mulai mengembang. Apa yang kau pikirkan tentang orang yang seperti itu? Jawablah dan akan kutebak kau pasti bilang bodoh. Jika tidak, kuharap aku bisa bertemu denganmu dan mengobrol lebih jauh. Lalu, kutanya lagi, apa yang kau pikirkan jika orang itu adalah aku? Jawab saja dalam hati dan tak perlu diungkapkan. Aku belum siap mendengar jawabannya.

Sungguh, aku ingin bersenang-senang dengan mereka. Aku ingin bercanda tawa, aku ingin berceloteh ria dan menampakkan senyum merekah yang tulus. Aku juga ingin melontarkan lelucon yang membuat mereka semua tertawa terbahak-bahak, hingga melupakan bahwa mereka punya sejagat masalah. Aku ingin melakukan itu semua. Aku ingin sekali.

Lalu, kenapa aku hanya bisa diam saja? Kenapa aku malah merasa cemas saat berada diantara mereka? Aku bahkan berharap bisa meminjam jubah ghaib Potter agar membuat tubuhku transparan. Tak terlihat namun ada dan bernapas.

Tapi, bukankah aku sudah seperti itu?

Lalu, sebuah pertanyaan kembali muncul. Pertanyaan yang sepertinya lebih tepat kutujukan untuk Tuhan dan diriku sendiri.

“Apakah aku akan selamanya seperti itu?”

Dan sayangnya, aku tak bisa menjawab pertanyaan itu. Karena aku tak pernah yakin bahwa aku bisa, meskipun seribu motivasi sudah kulahap habis.

Tapi, aku yakin seratus persen bahwa Tuhan pasti menjawabku lewat waktu dan semestanya milikNya. Lalu, aku berpikir lagi, bukankah Tuhanku senantiasa memberikan petunjuk? Bukankah Tuhanku sudah memberikan pedoman berabad-abad yang lalu? Dan kenapa aku tak pernah benar-benar menyadarinya? Bahkan aku semakin menjauh. Betapa buruknya diriku.

Jadi, aku mencoba mengingat. Aku mencoba mencari. Dan.. aku menemukannya. Beberapa ayat, yang membuatku tersadar. Meskipun aku sudah tahu ayat itu sejak dulu, entah mengapa aku memilih tak memikirkannya lebih jauh. Dan sungguh! Penyesalan tak pernah disiplin. Dia selalu datang terlambat. Aku sangat-sangat menyesal.

Akan kuberitahu beberapa firman-Nya kepadamu. Baca baik-baik dan renungkan!

“Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Surah Al-Baqarah
“Maka, sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan.” Surah Al Insyirah Ayat 5.
“Sesungguhnya, Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka.” Syrah al rad ayat 11.

Dari 3 ayat itu, aku menyadari ketika aku menjauh dari Tuhan, aku hanya akan berputus asa dan malah bersahabat dengan rasa takutku.
Tuhan selalu mengingatkanku lewat firman-Nya dan semesta milikNya. Tapi, ketika aku memilih menutup mata hatiku, aku akan semakin terpuruk. Dan dimana aku akan diterima, ketika alam semesta ini hanyalah milikNya? Ketika aku mengabaikan peringatan-Nya, semesta juga akan mengabaikanku.

Setiap Aku ingin mernyarah, Aku berkata pada diriku, “Tuhan memberitahuku bahwa aku sanggup menyelesaikan masalahku. Tuhan tahu sampai dimana batas kemampuanku. Tuhan memberitahuku, selalu ada kemudahan yang mengiringi kesulitan. Jadi, ketika aku menyerah, aku kehilangan kemudahan. Tuhan menyuruhku berusaha untuk meraih kemudahan yang ada dibalik kesulitan. Jadi, segera lawan dan bunuh kesulitan itu. Agar aku bisa segera bertemu dengan kemudahan.”

Untuk kamu yang seagama denganku, baca dan renungkanlah lagi. Kuharap kamu semakin sadar dan semakin teguh keimananmu. Dan jika kamu menemukan ayat yang membuatmu lebih bersemangat lagi, tunjukkanlah padaku dan aku akan sangat berterimakasih.

Untuk kamu yang berbeda keyakinan: Ingat, pikirkan, dan renungkanlah agama dan Tuhan yang kamu yakini dan percayai! Aku percaya dan yakin kalau setiap orang percaya bahwa agama yang mereka pilih adalah yang terbaik dan mengajarkan kebaikan. Mari mengingat Tuhan dan tersenyum!

Semenjak saat itu, aku berusaha melakukan sebisaku. Berusaha menyelesaikan tanggungjawabku. Dan perlahan-lahan, aku mulai merasakan perubahan dalam hidupku. Aku merasa bahwa aku mulai dianggap ada. Aku merasa, aku mulai mendapat perhatian, dan aku mulai jarang merasa kesepian. Meskipun aku masih sering menangis. Tapi, setiap Aku menangis, Aku berusaha Untuk selalu mengingat Tuhanku, Dan kubiarkan tangisku semakin pecah.

Tuhan yang paling mengerti apa yang kurasakan. Tuhan selalu tahu apa yang kusembunyikan. Jadi, kubiarkan air mataku mengalir. Aku menangis kepada Tuhan. Bukan, bukan karena Aku Marah. Aku hanya berpasrah, menyerahkan seluruh Beban Dan rasa takutku. Berharap Dan berdoa. Mengikhlaskan apa yang terjadi padaku. Karena hanya Dia yang Maha Mengerti. Hanya Dia Yang Maha Mengetahui apa yang tersembunyi. Jadi, Aku tak perlu menyembunyikan rasa takutku. Aku tak perlu berusaha menampakkkan senyum palsuku. Aku akan menjadi apa adanya di depan Tuhan. Menjadi hamba yang memohon pertolonganNya. Menjadi hamba yang meminta petunjuk dariNya. Karena, meskipun tak ada finding Untuk bersandar, masih ada lantai Untuk bersujud.

“Jadi, seberapapun besarnya masalah Kita, seberapapun besarnya Bevan di pundak Kita, percayalah pada Tuhan sebesar itulah kemampuan yang Kita miliki. Jangan menyerah Dan tetap bersemangat!!! Tuhan selalu bersamamu.”


Contoh Cerpen Horor – Bus Desa Jangdul

Aku Lin ji. Hal yang terindah bagiku adalah hari pertama di sekolah baru. Penyebab kepindahanku ke desa ini karena suatu pekerjaan orangtuaku.

  Contoh Proposal Kegiatan

Aku duduk di sebuah halte yang tampak tua. Aku menunggu bus itulah kebiasaanku ketika di kotaku sebelumnya. Aku selalu pergi ke sekolah dengan transportasi bus. Bagiku itu terasa menyenangkan. Walaupun orang-orang menganggapnya itu adalah hal yang paling biasa. Bahkan ada yang merasa bosan. Tetapi aku tidak.

Aku belum tahu apa-apa tentang Desa ini. Dan bahkan aku belum mempunyai teman seorang pun. “Kuharap aku mendapatkannya nanti!”, batinku dalam hati.

Aku melihat arlojiku sekilas. “Kenapa Desa ini begitu hening ya?” aku bertanya kepada diriku sendiri. Aku mendesah pelan.

Di kejauhan, aku melihat asap mengepul. Asap itu terlihat dari asap kendaraan. Apakah itu bus? Aku menerka-nerka warna bus yang tampak dimataku. Yap! Rupanya bus berwarna hijau. Aku lekas-lekas bangkit dari kursiku, dan mendanti-dantinya. Bus pun datang. Lin ji tersenyum cerah melihat bus yang ia terka-terka.

Buru-buru aku menaikinya. Di dalam bus, terlihat kursi-kursi kosong. Tanpa satupun penumpang yang didapati oleh matanya. Tanpa pikir panjang, aku pun memilih kursi, dan sempat ketika mobil hendak berjalan. Dan itu membuatku berhasil sedikit terhuyung dibuatnya.

Sempat terpikir olehku, bus ini kelihatan berbeda dengan bus-bus pada umumnya. Sudah kosong, berkarat, lapuk, per kursinya sudah mencuat, kain kursinya robek-robek, baunya menyengat hidung lagi! Apa ada bangkai tikus ya di belakang? Mungkin karena ini ya, semua penumpang pada tidak mau menaiki bus lagi..

Di tengah lamunanku, aku mendapati seorang gadis yang kelihatannya sebaya denganku. Begitupula dengan seragam sekolahnya. Jelas sekali dia juga berada di sekolah yang sama denganku. Seraya mengatur posisi dudukku. Aku bangkit dan memilih duduk di sebelah gadis itu.

Aku mendapati gadis itu yang tengah menatap keluar jendela. Sontak gadis itu terkejut. Ia menatap mataku. Lalu aku mengedarkan senyuman hangatku kepadanya. Ia malah lebih terkejut dan wajahnya seakan tidak percaya bahwa aku ada di sini.

“Hai, namaku Park Lin Ji, aku anak baru dari kelas 5-3. Senang bertemu denganmu!” ucap Lin ji, seraya mengulurkan tangannya kepada gadis itu untuk bersalaman. Dengan ragu, Gadis itu membalas uluran tangank. Aku menggerak-gerakkan tanganku ke atas dan ke bawah. Aku merasakan tangannya begitu dingin. Ia pun tersenyum kepadaku dan aku membalasnya dengan senyuman pula.

“Itu kelasku..” jawabnya pelan. “yah, kelas 5-3!”
Sontak mataku membelalak, aku benar-benar terkejut bercampur gembira.
“wah, syukurlah kalau begitu! Tadinya kuharap begitu, dab ternyata benar..” teriakku antusias. “Oh ya, bangku di sebelahmu kosong apa tidak?”
“Kosong? Kursikulah yang kosong,” gumamnya pelan. Hampir-hampir tidak bisa kucerna kata-katanya.
“Heh?” tanyaku bingung.
“Apa kau tahu?” tanya gadis itu.
“Tahu apa?” tanyaku lagi.
“Desa ini.”
“Desa?” aku bertanya sekali lagi. Aku mengangkat alis.
“Ah! Lupakan saja!” serunya sambil tersenyum memperhatikan rok kotak-kotaknya. Aku pun tersenyum bingung.

Bus pun mulai melambat gerakan jalannya, dan berhenti di halte dekat sekolah. Pertanda saatnya turun bagi kami berdua. Aku pun buru-buru turun dan memasuki gerbang sekolah. Tanpa sadar gadis tadi sedari tadi tidak ada di sampingku. Apa aku meninggalkannya?

Teng.. teng.. teng..
Lonceng sekolah berbunyi, aku buru-buru masuk ke ruang guru dan menemui Wali kelasku. Di sana aku diajak masuk ke kelas 5-3. Aku mengekori Wali kelasku dari belakang, layaknya anak baru biasanya. Sesampai di kelas 5-3, Bu guru atau bisa juga disebut Wali kelasku, menyuruhku untuk masuk dan memperkenalkan diri.

Aku pun memperkenalkan diri, walau sedikit canggung. Dan usai itu aku pun dipersilahkan duduk oleh wali kelasku di tempat kursi yang kosong, tepatnya di sebelah Ha jin. Tak lama kemudian, suara riuh di kelas pun terdengar. Sapa menyapa menghujan Lin ji.

Sepulang sekolah, aku selalu pulang lebih awal. Aku tidak ingin membuang-buang waktuku di sekolah setelah jam pelajaran sekolah berakhir. Seperti biasa aku selalu menunggu bus dan menaiki bus. Orangtuaku sibuk dan tidak bisa mengantarkan dan menjemputku sepulang sekolah, layaknya orangtua para murid biasanya.

Bus pun datang. Seperti biasanya kosong, dan hanya ada aku. Bahkan tidak ada gadis itu.

Keesokan harinya, seperti biasa aku menunggu bus di halte yang tampak lebih tua dari biasanya. Tanaman rambat menjalar ke tiang halte. Aku mendengus pelan. Lagi-lagi halte kali ini kosong, sunyi dan sepi. Jalanan basah habis hujan semalam menambah keheningan dan dingin.

“Apakah desa memang seperti ini? Sangat begitu sepi dan hening? Aku serasa di kota mati tanpa kegiatan orang-orang,” gumamku risau. Aku termenung cukup lama. Sampai-sampai bus sudah sampai di hadapanku. Aku pun naik setelah di klaksonkan oleh pak sopir.

Seperti biasa, aku menemukan gadis itu dan berbincang-bincang akur.

“Apa aku meninggalkanmu kemarin? Sehabis turun dari bus?” tanyaku khawatir.
“Ah, tidak! Kau tidak meninggalkanku kok! Tenang saja,” ucapnya menenangkan.
“Lalu, Kenapa aku tidak menemukanmu di sekolah kemarin, dan juga aku tidak menemuimu di kelas!” ucapku bingung. Dan dipikir-pikir juga mengherankan.
“Tenang, aku gak bolos kok!” tangkasnya cepat. Takut aku mengira yang tidak-tidak.

Bus pun berhenti dan menurunkan kami. Juga, bahkan aku tidak mendapati gadis itu lagi. Dia menghilang lagi.

Akhirnya waktu pulang sekolah pun datang. Itulah dimana seisi kelas mengatakan surga bagi mereka.

Hari ini aku mengantarkan jurnal kelasku dulu kepada wali kelasku. Akibatnya agak telat pulang dari yang lain.

“Boleh kutemani?” tawar Ha jin teman sebangkuku.
“Tentu!” ucapku dengan senang hati. Kami pun bejalan beriringan menuju ruang guru.
“Sehabis ini kita pulang bersama ya? Soalnya jauh selalu pulang duluan sih, kita kan searah!” kata Ha jin sedikit memohon.
“Boleh! Kita naik bus ya!” kata Lin ji.
“Naik bus?” tanya Ha jin sedikit gemetar.
“Yah, tentu saja!” ucap Lin ji sedikit ragu-ragu. “Memang kenapa?”
“Kau perlu tahu, bahwa desa ini, punya tragedi beberapa bulan yang lalu.” ucap Ha jin lirih.
“Hah? Yang benar saja!” ucapku tidak percaya. “Terus? Bagaimana?”
“Nantilah, kuceritakan! Kita serahkan ini dulu ke wali kelas!” timpal Ha jin.
Jurnal pun sudah diberikan kepada wali kelas kami.

“Begini, sebenarnya terjadi kecelakaan 3 bulan yang lalu. Kecelakaan itu mengakibatkan salah satu dari murid kelas kita yang meninggal dunia. Dan katanya, arwahnya masih bergentayangan di dalam bus itu. Juga, pembawa sopir yang sebenarnya ayah dari anak yang meninggal dunia itu. Kau tahu, semua bus tidak lagi diberlakukan si desa ini. Hanya saja ayahnya masih tidak rela akan kematian anaknya. Begitu ceritanya.”
“Omong-omong nama anak itu siapa ya?” tanya Lin ji.
“Bentar, aku lupa. Besok akan kukabari namanya. Rasanya ada di catatan harianku” kata Ha jin.
Akhirnya mereka pulang bersama dengan jalan kaki. Mereka pun sempat membeli es krim di persimpangan jalan.

Keesokan harinya, Li jin sedikit terlambat dan harus buru-buru secepat mungkin agar tidak terlambat ke sekolah. Pada awalnya ia tidak berminat untuk naik bus lagi karena cerita Ha jin kemarin.

Karena tak punya waktu lagi, Li jin pun nenaiki bus itu kembali. Tanpa sadar gadis itu kembali berada di dalam bus dan kursi yang sama. Dengan was-was, aku pun menberanikan diri untuk bertanya siapa nama gadis itu sebenarnya. Dan tanpa disadari sedari awal ia tidak pernah mengetahui siapa nama gadis itu sebenarnya.

“Hmm, oh ya nama kamu siapa ya?” tanyaku berusaha untuk setenang-tenang mungkin.

Tiba-tiba ponselku berdering dari dalam sakuku. Aku merogohnya dan mendapati yang meneleponku adalah Ha jin!

“Ha jin!! Aku sudah tahu nama gadis itu, namanya Min ra!” teriak Ha jin dari seberang telepon.

“Namaku MIN RA!!” kata gadis bus itu.

Sekelebat pikiranku kacau, aku benar-benar terjejut dan tidak bisa menguasai hatiku yang kinu sudah ingin meloncat. Aku serasa berada di film horor. Aku sudah terlanjur tegang sedari tadi. Dan kakiku sudah kelu untuk membebaskan diri. Aku mendobrak-dobrak pintu bus dan nihil. Pintu tidak terbuka.

Tiba-tiba aku merasa pundakku dipegang oleh tangan yang dingin.

“Jadi sekarang kau tahu siapa aku?” ucap suara itu.

“AAAAAAA!!!!!”


Contoh Cerpen Motivasi – Pelangi Hitam Putih

Setiap pasang mata mengawasi langkah Alvany dengan bisik-bisik tak nyaman yang sampai ke telinga Alvany. Beberapa bahkan menghentikan aktivitas untuk menatap Alvany. Dengan kepala yang terus ditundukkan dan langkah cepat Alvany hanya bisa berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh sambil menaiki tangga yang berada di samping halaman sekolah.

Betapa menyebalkan sore ini dan hari-hari sebalumnya bagi Alvany, mendapat tatapan tak menyenangkan dari temannya ditambah lagi harus mengikuti latihan bersama guru melukisnya yang menyebalkan.

Alvany sampai di anak tangga paling atas, ia melangkah ke kiri. Suara langkahnya menggema di sepanjang koridor yang sepi. Di ujung koridor itu tersusun beberapa kursi dan meja kecil. Tempat itu cukup luas, dengan dinding yang hanya setinggi pinggang sehingga pemandangan sekolah dapat terlihat dengan jelas. Terlihat seorang wanita tua berbaju merah marun duduk di salah satu kursi, wanita itu terlihat kesal.

  Contoh Paper

“Terlambat lagi Alvany?” seru wanita itu tegas.
Alvany tak menjawab. Percuma. Karena tak akan ada alasan yang mampu melunkkan hati wanita itu.

Alvany segera menarik kursi terdekat, mengambil kuas lalu menuangkan cat dengan tulisan biru disisinya. Wanita itu mendengus, tapi Alvany masih tidak peduli. Angin sesukanya meniup wajah Alvany, membuat rambut yang sejak tadi menutupi wajahnya tersibak. Langit terlihat cerah tak sama dengan wajah Alvany.

Dan seperti inilah latihan dimulai. Selanjutnya hanya ada cerita yang sama terulang dari sang guru melukis. Tentang karya terbaik muridnya tahun lalu yang menjuarai perlombaan nasional. Dan sang guru bercerita dengan sombongnya, terkadang begitu merendahkan Alvany. Alvany tahu tidak semua orang bisa menerima kekurangannya. Tapi ia masih dapat bertahan karena dukungan sahabatnya.

Latihan berakhir dua jam kemudian dengan nilai “lumayan” dari gurunya. Ini adalah latihan terakhirnya untuk mengikuti lomba melukis tingkat nasional besok. Alvany meninggalkan galeri melukis dengan berlari. Baru saja ia melihat wajah yang tak asing baginya.

“Feli,” Alvany memenggilnya saat sudah berjarak tak jauh dari sahabatnya itu.
Feli yang mendengar panggilan itu segera berlari tanpa menoleh. Alvany bingung mendapatkan perlakuan itu dari sahabatnya. Sekencang mungkin ia berlari menyusul sahabatnya. Akhirnya Feli berhenti saat Alvany berhasil meraih tangannya.
“Lepaskan aku Al, jangan ganggu aku lagi!”
Seketika Alvany merasa beku mendengar bentakkan itu.
“Apakah belum cukup kamu membuatku malu di depan samua orang?”
Alvany tidak mengerti apa yang dibicarakan Feli. Tangannya masih memegang lengan Feli dengan kuat. Apakah pendengarannya sudah mulai kacau? Apa yang membuat Feli, sahabat terbaiknya yang selama ini selalu mendukung dan menghiburnya berkata seperti itu?

“Kamu tidak pernah memikirkan perasaanku. Salama ini kamu tidak sadar kan. Aku lelah mendapat ejekan dari semua orang karena membelamu, karena kekuranganmu. Seharusnya kamu tidak menerima tawaran untuk mengikuti lomba itu sehingga tidak menambah ejekan atau sindiran dari orang-orang. Benar kata mereka kamu tidak akan menang karena kekuranganmu. Tidak akan menang Al, menyerahlah dan akui bahwa kamu memang tidak bisa.” Feli menarik tangannya dan berlari meninggalkanku.

Sekolah sudah sepi, hanya Alvany yang tersisa bersama gema langkah Feli yang mengiringi turunnya air matanya. Dengan langkah gontai Alvany kembali ke galeri melukis, memikirkan kata-kata Feli. Sekejam itukah ia. Langit sore disiram sinar mentari memberikan kesedihan tersendiri bagi Alvany saat ini. Siapa lagi orang yang akan menyemangatinya setelah Feli pergi.

Saat Alvany memutuskan untuk mengundurkan diri dan memeinta maaf pada Feli suara petikan gitar mulai terdengar bersama gemerisik daun, terus mengalun indah. Setiap petikan senarnya menghantarkan getaran ke hati Alvany, seperti mencoba untuk menguatkan hatinya. Lalu sebuah lagu mulai dinyanyikan. Suara itu lembut membisikkan semangat di telinga Alvany. Angin bertiup lebih kencang menjatuhkan dau kering dari pohonnya, dan lagu itu berakhir.

Alvany masih berada di posisi awal, matanya kosong menatap daun-daun yang berguguran. Alvany mamutar badannya tapi tidak mendapati siapapun di sana. Siapa orang itu?. Lalu Alvany kembali menatap langit dalam hati ia berkata “Mungkin itu hanya khayalanku saja”.

Alvany gugup melihat kanvas dan cat minyak di hadapannya. Tapi ia tidak akan takut lagi. Ia memjamkan matanya dan menarik napas panjang, mencari ketenangan. Mengingat petikan senar dan nyanyian merdu di galeri melukis. Sehelai warna muncul diantara kegelapan, lalu muncul lagi warna lain bagai seribu pelangi. Pelangi itu penuh warna, mengagumkan.

Alvany membuka matanya tapi tidak menemukan warna pelangi itu lagi, tapi ia melihat sebuah harapan yang semakin berkilau. Dengan senyum di wajahnya ia menggenggam kuas erat dan mulai terjun ke imajinasinya. Ia tak peduli lagi pada latihannya. Ia membiarkan tangannya menari di atas kanvas.

Alvany menaiki tangga menuju ujung koridor lantai dua sekolahnya. Galeri melukis. Ia menatap langit senja hari itu. Ia telah berhasil membuktikan bahwa anggapan semua orang padanya selama ini salah. Kekurangannya bukanlah halangan untuk berkarya. Alvany melukis pelangi di hidupnya saat mengikuti perlombaan itu dan ia mendapat juara terbaik. Ia ingin menunjukkan bahwa kehidupannya juga terlihat indah walaupun hanya ada tiga warna, yaitu hitam, putih, dan abu-abu. Ya, itulah warna yang dapat Alvany lihat karena ia memiliki penyakit buta warna.

Daun bergerak ditiup angin, burung terbang tinggi di langit. Disinilah Alvany mendapatkan harapan baru yang mengubah hidupnya. Ia tidak pernah tahu dari mana asal lagu itu. Dan ia mulai bernyanyi sendiri.

Meski dalam masa yang sulit
Dengam senyum maka tersadar
Dunia ini akan hidup kembali
Waktu yang kita habiskan bersama
Serta keajaiban yang tercipta
Yang ingin kulihat hanyalah senyummu
Dan memiliki corak warna indahmu di dalam duniaku
Yang terus menghias dan mengalir dalam kenangan
Yang ingin kudengar hanyalah suaramu
Dan merasakan getarannya dalam ragaku

Dan seseorang yang berdiri di belakangnya terseyum manis.


Contoh Cerpen Lucu – Kepala Dingin

Di sebuah sekolah menengah pertama (SMP) terdapat seorang siswa lelaki, namanya Gilang. Gilang merupakan siswa lelaki yang manja juga pemalas, dia tak mau berpikir untuk mengerjakan tugas. Setiap ada tugas, dia pasti menyontek pada teman sebangkunya yaitu Resta. Resta merupakan salah satu siswi terpintar di kelas 9A.

Pagi ini guru matematika mengumumkan bahwa akan diadakan ulangan harian, tentunya semua murid merasa gelisah dan takut tidak bisa mengerjakan soal ulangan yang diberikan oleh guru matematika.

“Pagi anak anak!”, sapa bu Eni yang merupakan guru matematika.
“pagi bu!”, sahut siswa dan siswi di kelas 9A.
“Hari ini kita ulangan harian”, kata bu Eni.
Semua murid terbelalak mendengar hal itu.
“Untuk mengerjakan soal matematika ini, ibu sengaja memberi waktu 2 jam. agar kalian bisa berpikir dengan kepala dingin. baiklah ibu akan bagikan soalnya sekarang”, jelas bu Eni seraya berkeliling membagikan soal matematika.
Seusai itu hp bu Eni berdering tanda ada telepon masuk.
“Aduh, ada telepon”, gumam bu Eni.
“anak anak, tunggu sebentar ya! ibu ada keperluan dulu”, kata bu Eni yang langsung pergi ke luar kelas sembari berbicara dengan seseorang yang meneleponnya.

“Res!”, bisik Gilang.
“apa?”, sahut Resta.
“No 1 apa jawabannya?”, tanya Gilang.
“Ya ampun Gilang, soal ini mah gampang”, kata Resta.
“Ya terus?”, kata Gilang.
“Makanya kamu kerjakan soal ini dengan kepala dingin”, Jelas Resta.
Gilang menghela nafas, lalu dia beranjak dan pergi k eluar kelas.

7 menit kemudian, Gilang kembali dengan membawa sebuah kantung keresek berwarna putih. Gilang pun duduk di bangkunya. Lalu dia mengeluarkan sesuatu yang ada dalam keresek putih itu. Tampak sebuah es batu di tangan Gilang. Tangan kirinya memegang es batu kemudian meletakan es batu itu tepat di atas kepalanya. Sementara tangan kanannya sibuk menulis jawaban soal matematika. Resta yang tak sengaja melihatnyapun dibuat heran.

“Kamu sedang apa?”, tanya Resta.
“Aku sedang mengerjakan soal”, jawab Gilang.
“Lantas, untuk apa es batu kamu letakan di kepala kamu?”, tanya Resta.
“Katanya aku harus mengerjakan soal matematika dengan kepala dingin. Es batu kan dingin. Ya sudah, kuturuti saja apa katamu”, jelas Gilang yang membuat Resta naik darah.
“Oh my god, Gilang! maksud aku itu bukan seperti itu. Maksud kepala dingin itu adalah pikiran di kepala kamu itu harus tenang. Bukannya dingin pakai es batu”, gerutu Resta.
Sementara itu Gilang hanya tersenyum menunjukkan semua giginya.
“hehehehe…”, tawa Gilang.

“Capek dehh!”, tanggap Resta seraya menepuk keningnya.

TAMAT


Contoh Cerpen Lingkungan – Bumi Tak Seindah Dulu

Sangat memprihatinkan keadaan bumi saat ini, bencana seolah olah tak kunjung hilang dari muka bumi. Berbagai macam bencana yang sering melanda bumi, dikarenakan ulah manusia yang tidak bertanggung jawab, memelihara lingkungan alam. Bahkan makhluk yang lain turut menjadi korbannya, hingga angka keberadaannya diambang kepunahan dan nyaris, ada juga yang benar benar tidak ada lagi, di muka bumi. Apakah manusia termasuk makhluk yang serakah dan mementingkan dirinya sendiri? jawabannya kembalikan pada diri sendiri, dan renungilah kejadian ini.

Layar laptop memperlihatkan betapa parahnya kondisi lingkungan alam, sangat jelas terpampang di hadapanku, manusia yang melakukan ilegal logging, pencurian hewan langka secara ilegal, perdagangan hewan ilegal, itu semua beberapa contoh dari kerusakan lingkungan alam. Perlahan lahan air mataku mulai menetes, aku tak kuasa melihat sekelompok orang, yang melakukan tindakan itu. Tiba tiba, ibu datang sambil membawa secangkir teh hangat “Minum dulu tehnya, nak” kata ibuku. “Iya bu” beliau juga, turut melihat deretan videonya “Entah sampai kapan, manusia melakukan semua itu, secepatnya kita harus melakukan pencegahan” lanjut ibu yang kebetulan seorang aktivis lingkungan. “Iya bu, kalau tidak segera ditangani akibatnya sangat fatal” jawabku khawatir.

  Contoh Kata Pengantar Makalah

Setelah melihat video tersebut, ibu bercerita tentang kondisi lingkungan alam desaku, pada saat ibu masih muda “Kalau kamu tau sya, lingkungan desa kita, sekarang jauh berbeda dengan dahulu, dulu itu setiap warga di sini sangat antusias menanam berbagai jenis tumbuhan di depan rumahnya, sehingga desa kita menjadi sangat rindang dan sejuk, hutan desa dulunya, menjadi habitat banyak rusa, tetapi sekarang warga justru memburunya dan akhirnya punah, dulu ibu sering bermain dengan rusa rusa itu, semua warga sangat menyadari pentingnya menjaga lingkungan alam, tetapi, seiring dengan kemajuan teknologi, warga justru berbuat seenaknya pada lingkungan” jelas ibu.

“Ibu, berikan dukungan pada nasya dan generasi nasya, agar bisa terus menjaga lingkungan” ucapku bersemangat “Mudah mudahan itu bisa tercapai, dan usaha ibu untuk mensosialisasikan peduli lingkungan, bisa membuahkan hasil yang baik” kata ibu berharap “Aamiin bu..”

Suatu hari, desaku kedatangan banyak orang orang berseragam proyek dan berbagai macam alat berat, seketika aku kaget melihatnya, semua warga tampak antusias dan senang atas kedatangan mereka, hal itu yang membuatku merasa bingung dan heran. Lalu, tanpa berpikir panjang, aku segera menemui ibu di ruang kerjanya.
“Permisi, bu” ibu langsung menghentikan kegiatan menulisnya “Iya, nak ada apa?” tanya ibu. “Ada hal, yang sangat penting bu” jawabku cemas. “Penting? memangnya ada apa, nak?” tanya ibu penasaran “Ada sekelompok orang proyek, datang ke desa, mereka menuju ke hutan, kelihatannya mereka ingin melakukan pembebasan lahan” jelasku. Ibu terdiam, lalu dia segera meninggalkanku dan menelepon seseorang.

Selesai menelpon, ekspresi ibu terlihat marah dan kecewa sekali, tiba tiba ibu menggebrak meja. Aku pun, langsung kaget dan penasaran “Ada apa bu? kok ibu terlihat marah dan kecewa?” tanyaku “Ternyata, pak kades benar benar menyetujui pembangunan perusahaan pengelola kayu jati, apakah beliau tidak sadar tindakannya yang gegabah itu, dia seenaknya saja mengambil keputusan, tanpa meminta pendapat ibu” ucap ibu dengan emosi memuncak “Ibu, lebih baik kita segera ke hutan dan menanyakan langsung hal ini pada pak kades” saranku pada ibu. Emosi ibu kembali mereda, ibu pun menyetujuinya aku dan ibu bergegas, menuju hutan.

Ternyata di hutan desa, sangat ramai warga, para warga melihat proses pembebasan lahan, bahkan, ada juga yang berjualan di sekitarnya, demi mendapatkan uang. Hal itu terjadi, karena ada proyek besar di desa. Ibu langsung menemui pak kades, yang sedang berbincang bincang dengan ajudannya. Emosi ibu tidak dapat tertahan lagi “Pak, apa yang anda lakukan semua ini?” tanya ibu dengan lantang. Sampai samapai warga memperhatikan ibu. “Lho, anda kok tiba tiba marah? saya tidak mengerti maksud anda” jawab pak kades yang terlihat tenang. “Anda menyetujui proyek yang akan merugikan warga, dalam jangka waktu yang panjang, apakah bapak tidak berpikir bahaya apa saja yang akan ditimbulkan?” ucap ibu kecewa. Pak kades langsung membalas perkataan ibu “Saya kepala desa di sini, saya mengerti kebutuhan warga saya, anda tidak bisa menentang kebijakan saya” jawab pak kades.

“Oh, begitu, saya tau semua, ini sebuah pencitraan kah? baiklah, saya tidak akan berbicara panjang lebar, saya peringatkan, proyek ini tidak akan bisa berjalan lama! anda yang menghancurkan, dan anda juga yang menanggung akibatnya, anda akan menyesal suatu saat nanti” jelas ibu dengan tegas. Pak kades tersenyum sinis “Lihat! warga mendukung kebijakan saya, dengan hadir di proyek ini, hahahaha..” jawab pak kades dengan angkuhnya. Ibu langsung pergi, tanpa menghiraukannya.

Akhirnya, ibu mengambil tindakan dengan usulan penghentian proyek besar di desaku. Melalui instansi terkait lingkungan hidup. Tetapi apa daya, usaha yang dilakukan ibu gagal. Ternyata alasannya adalah ingin ‘mensejahterakan’ rakyat melalui proyek besar di desaku. Tak kenal lelah, demi memperjuangkan kelestarian alam, ibuku mencari bantuan kesana kemari untuk menghentikan proyek itu, tetapi tetap saja tidak ada hasilnya karena perbedaan pendapat. Ibuku pun, menyerah pada keadaan ini “Mengapa? karena alasan ingin sejahtera, apakah mereka tidak sadar? bahwa lingkungannya akan hancur dan pasti, mereka akan menjadi korbannya, alam akan menjadi musuh jika kita tidak memeliharanya dan alam akan bersahabat, jika kita memeliharanya” kata ibuku hampir meneteskan air mata kesedihan karena usahanya gagal. Aku, sebagai anaknya menenangkan ibuku.

“Ibu, nasya mohon, ibu jangan bersedih, mungkin kita tidak dapat menghentikan, tapi kita bisa mendoakan mereka supaya diberi kesadaran bu” jawabku sambil menghapus air matanya “Terima kasih nak, ternyata anak ibu mulai tumbuh menjadi dewasa, dan bijak” mendengarnya aku tersenyum malu “Ah, ibu bisa saja, memuji nasya”

Seiring berjalannya waktu, desaku semakin tak terkendali, desaku tertimpa bencana akibat proyek besar pembangunan perusahaan kayu jati itu. Warga desa, banyak yang mengeluhkan, kebijakan dari pak kepala desa. Dan akhirnya, pak kepala desa diberhentikan dari jabatannya, karena kebijakannya yang merugikan kehidupan rakyat.

Meskipun pak kepala desa, tidak lagi menjabat, tidak akan bisa mengubah keadaan desaku, yang semakin lama akan mencapai puncak kehancuran. Pada suatu hari, hujan yang sangat deras menerjang desaku, pohon pohon di desaku, tidak bisa menyerap air hujan lagi, waduk desa juga sudah tidak dapat membendung, banyaknya air hujan. Sungai di desaku akhirnya meluap, karena alirannya yang tersumbat oleh banyaknya sampah.

Air bah sungai desa, menghancurkan desaku. Aku dan ibu hanya bisa berpasrah, mengahadapi ujian kehidupan ini, atas izin allah, aku dan ibu bisa selamat. Kami takut kehilangan satu sama lain “Inilah, yang akan diterima bagi setiap orang, yang tidak peduli dengan lingkungannya, ibu telah gagal memelihara lingkungan” ucap ibu dalam keadaan lemas. Lalu aku dan ibu berpelukan, berharap akan ada kehidupan yang lebih indah, dengan lingkungan alam yang masih terjaga keasriannya.


Contoh Cerpen Kehidupan – Hujan Pasti Berlalu

Awan hitam seakan mengurung dinginnya pagi
Burungpun enggan keluar
Masih bertahan di sarangnya
Ayam ayampun enggan berkokok

Kamis 31 agustus 2017
Tak terasa sudah 3 bulan lulus dari sekolah menengah atas
Banyak kenangan teringat di sana, teman teman adik kelas dan para guru yang selalu bertemu setiap hari flashback itu seakan kembali di kepalaku, ingin rasanya aku tersenyum tapi kurasa apalah arti senyuman jika itu menyakitkan.

Aku ingat semua cita-cita temanku, bahkan para gadis yang selalu membuatku malu di hadapannya, mereka pasti bahagia sekarang, ada yang mulai bekerja, dan bnyak meneruskan ke universitas di kota yang katanya bulan september akan diadakan ospek, terlintas di pikiranku bagaimana keadaan mereka sekarang bertemu teman teman baru di sana? Canda tawa dan pastinya pengalaman baru, ingin ku tersenyum tapi yang kurasa itu terasa pahit

Kutengok jam dinding di kamarku jam menunjukkan pukul 6.00, kuhela nafasku terasa sakit teramat sakit di dadaku

Ingin rasanya air mataku menetes, tapi pantaskah aku menangis untuk ini, seakan air mataku ingin jatuh bersama turunnya hujan pagi ini, ingin rasanya seperti mereka bisa melanjutkan cita cita, tapi apalah daya perekonomian tak mencukupi untuk biayaku meneruskan ke perguruan tinggi bahkan untuk makan sehari hari pun kadang kami bertiga aku bersama kedua adikku meminjam dari tetangga, ingin rasanya aku menangis sekencang kencangnya meratapi hidup seperti ini, kenapa ayah dan ibu harus pergi secepat ini, kanker yang diderita ibu 4 bulan lalu sesudah ayah meninggal akibat kecelakaan saat sedang bekerja membuat kami bertiga menjadi yatim piatu, ingin rasanya berhenti berharap, hanya rumah ini satu satunya warisan peninggalan kedua orangtuaku selain sepeda ontel dan satu buah televisi yang sekarang pun sudah kujual untuk membayar sppku waktu sekolah…

“Kak kok murung” adik bungsuku mira bertanya kepadaku
“Gak papa kok dek kakak cuma negelihatin hujan loh kamu kenapa belum siap-siap?”
“Itu kak lagi nungguin kak rian mandi, mandinya lama banget” Sambil manyun bibirnya
Aku pun hanya tersenyum melihat kelakuan adikku

Ya mereka berdua lah yang menjadi alasanku untuk bertahan, si mira adik bungsuku sekarang sudah kelas 6 SD dan rian sudah kelas 2 SMP, mereka berdualah alasanku untuk bekerja, merekalah yang akan kupertahankan walau diriku tak berhasil, ku ingin mereka berdua melebihiku, seperti bulan ada yang lebih tinggi dari pada bulan yaitu bintang, ku ingin mereka berdua seperti bintang.

Tak ada kata berhenti karena inilah hidup seperti hujan, musibah itu datang silih berganti akan tetapi setiap musibah akan berhasil ditaklukan oleh orang yang tidak pernah henti hentinya bersabar dan berjuang.

****

Demikianlah kumpulan contoh cerpen singkat yang bisa dibagikan kali ini. Semoga bisa menjadi acuan dan referensi untuk membuat cerpen sendiri. Terimakasih!