Cerpen Sedih

Cerpen Sedih – Berikut ini adalah kumpulan cerita pendek penuh arti yang paling sedih tentang cinta, kehidupan dan persahabatan. Bacaan cerpen ini bisa menjadi sumber inspirasi dan hiburan untuk kamu yang menyukai cerita pendek dalam berbagai tema. Silahkan disimak!

Cerpen Sedih – Akhirnya Aku Bisa Merasakan

Adit, itulah nama panggilanku. Aku memiliki saudara kembar yaitu adib. Dia sangat cerdas dan tanggap dalam menyelesaikan masalah. Sedangkan aku, aku adalah kebalikan dari adib. Sering kali aku disbanding-bandingkan dengan kelebihan adib.

Segalanya serba adib, aku sendiri serasa tidak ada keunggulan sedikitpun selain menyusahkan orang di sekitarku. Adib selalu berucap demi memberikan semangat bagi kehidupanku, “Kak, lakukanlah semua itu dengan tanpa memandang orang lain bicara apa, asalkan yang kau lakukan benar”. Tidak ada sifat kesombongan dan kecongkaan yang tertanam dalam jiwa adib, adikku.

Mama yang telah melahirkanku pun lebih mencintai adib, ayah yang selalu member nafkah pada keluarga kami pun member oleh-oleh yang lebih istimewa kepada adib. Ini merupakan deskriminasi yang berlebihan menurutku. Ya sudahlah, biar tak kepanjangan pikirku, aku positif saja dengan kehidupanku.

Tetangga yang biasanya tenteram dengan urusan mereka, kala ini merasa terundang untuk selalu membicarakan dan membandingkan aku dengan adib. Setiap aku lewat, pastilah lirikan yang tidak menyenagkan didapati olehku. Akan tetapi seketika adib lewat, sapaan demi sapaan selalu tercurahkan. Aku hanya bisa mengelus dada saja melihat fenomena ini.

Suatu ketika, kejadian yang tidak diinginkan ditimpa oleh adib. Cairan bahan kimia mengenai kedua matanya ketika praktik di sekolah. Akhirnya adib dilarikan ke rumah sakit terdekat, guru-guru yang bersangkutan serta aku pun ikut ke rumah sakit tersebut.

Setiba di rumah, ternyata telah ada guru perwakilan dari sekolah yang melaporkan kejadian tersebut pada orang tua kami. Belum sempat mencium tangan kedua orang tuaku, mereka berdua langsung menuju ke rumah sakit tersebut. Sedangkan aku menjaga rumah demi keselamatan bersama.

Akan tetapi, seketika aku menyapu halamna rumah malah gunjingan dari tetangga yang ku dapat. Mereka bilang “sudah adik sendiri terkena musibah, malah tidak kasihan dan tidak dijaga”. Aku lagi-lagi hanya bisa mengelus dada mendengar celotehan para tetangga.

Aku sangat sayang pada orang tua dan adikku. Tugasku untuk menjaga adik telah aku selesaikan walau hanya sebentar, sedangkan tugas rumah yang selalu dibebankan padaku belum aku laksanakan, oleh karenanya aku pulang demi melaksanakan kewajibanku.

Setelah mengerjakan urusan rumah, aku pun langsung mengunci seluruh isi rumah dan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk serta menjaga adib. Tapi seketika aku sampai di rumah sakit tepatnya di depan pintu kamar adib dirawat, aku mendengar diskusi antara dokter dengan kedua orang tuaku.

Aku tak mengira hal ini akan terjadi, keputusan yang membuat aku berat hati ini menjadikan aku lebih tegang dan bahkan mengharukan dalam hidupku. Dokter memutuskan bahwa mata adib tidak bisa siselamatkan kembali, tapi dapat diganti dengan bola mata lain baru dia bisa pulih seperti sedia kala, itu pun jika operasi berhasil.

Orang tuaku siap mengganti berapa pun biaya demi keselamatan adib, bahkan dengan mengganti bola mata yang baru. Aku mengira bahwa orang tuaku akan menulis iklan dalam media masa bahwa mereka butuh donor mata dengan nilai rupiah yang cukup tinggi. Ternyata hal itu hanya mimpi belaka, keputusan orang tua yang dicurahkan terhadap dokter adalah mengambil bola mataku untuk adib, sang juara keluarga.

Mengapa nasibku sungguh malang. Aku mempunyai mimpi yang besar, akan tetapi hal ini apakah tidak menghalangi mimpiku? Mata adalah salah satu organ yang sangat penting adanya dan kegunaannya. Aku hanya bisa menangis sejenak melihat hal yang tak terduga ini. Lagi-lagi aku hanya bisa bergumam dan meronta dalam hati serta mengelus dada.

Tanpa basa-basi, aku kembali ke rumah dan merenung di kamar. Tuhan sangat sayang padaku, dan aku pun yakin atas hal tersebut. Aku berpikir, jika aku tak punya mata lagi apakah aku bisa menangis? Biarlah, aku habiskan air mataku untuk adib, kebanggaan semua orang. Mungkin dengan cara ini aku bisa mendapat pujian dari semua orang yang kagum atas adib.

Keesokan harinya pun operasi akan dilaksanakan, tanpa basa-basi malam sebelum operasi dilakukan aku telah siap dan berbicara pada orang tuaku sebelum mereka bicara padaku. Aku bisa merasakan ada air mata dari ayahku, tapi aku tidak bisa merasakan air mata yang ada dalam mata mamaku, padahal yang akan aku sumbangkan untuk adib adalah salah satu organ tubuh yang sangat ku sayangi.

Hari yang ditunggu-tunggu pun datang. Ibu sangat senang dengan datangnya hari ini, sedangkan aku sempat melihat di belakang sana ada ayahku yang dari sorotan matanya ingin mengucapkan sesuatu padaku. Namun apa boleh buat, kini waktuku untuk memberikan barang berhargaku untuk adikku.

Tinggal beberapa menit lagi operasi akan dimulai, aku memanfaatkannya dengan memanggil ayah dan ibuku. Aku hanya ingin memandang mereka dengan peka, karena mungkin ini akhir aku melihat mereka yang telah berjasa dalam hidupku.

Aku sadar, aku tak berarti apa-apa dalam keluarga ini. Tetapi setidaknya aku telah berbuat baik kepada kedua orang tua dan selalu berpikiran positif dalam perjalanan hidupku serta meyakini ada rahasia tuhan yang tersembunyi di balik peristiwa ini semua.

Tepat pukul 10.00 operasi dimulai, aku siap menghadapi alat-alat tajam yang akan mengambil mataku. Aku tak sadarkan diri pada waktu itu, akan tetapi kala ini aku sadar namun terasa ada yang hilang. Ya, kemewahan dan keindahan alam telah hilang menurutku. Semua di dunia ini telah musnah pikirku. Tetapi aku salah, yang telah hilang dari keindahan bukanlah dunia dan seisinya, melainkan kedua mataku telah hinggap pada tempat bola mata adib berada dulu.

Kini mimpi-mimpiku terasa telah terhapus, aku tak bisa melakukan aktivitas seperti biasanya. Yang aku bisa kerjakan aku kerjakan, namun yang tak bisa ya aku tinggalkan. Dengan kecacatan yang aku derita ini, aku memutuskan untuk tinggal di kejauhan sana agar tidak membuat malu keluarga. Ayahku tidak setuju dengan pikiranku, namun yang membuat aku tambah mengelus dada adalah kerelaan ibu yang begitu memancarkan ketidaksayangannya dalam menyetujui keputusanku.

Ini adalah jalanku, sebelum aku pergi jauh dan tinggal bersama orang-orang yang asing pintaku hanya satu. Aku hanya ingin berbincang-bincang dengan keluarga sampai larut malam.

Pagi harinya, sebelum aku pergi. Aku memberikan secarik kertas untuk adib, yang sempat aku tulis ketika malam terakhir aku memiliki mata yang sempurna. Aku tidak menulis panjang lebar untuk adib, namun aku hanya menulis “Dik, Akhirnya aku bisa merasakan. Akhirnya aku bisa merasakan sepertimu, selalu dipuji, dipandang baik dan sempurna oleh seluruh orang. Akhirnya aku bisa merasakan sepertimu, walau hanya sekedar kedua bola mataku”

Cerpen Sedih – Jujur

Brengsek… kau memang brengsek. Baru kusadari malam ini. Betapa bodohnya aku selama ini percaya dan menelan mentah-mentah seluruh bualan dan rayuan menjijikkanmu. Akh,kupegang kening yang tak panas ini, tapi kacau memikirkan tingkah lakumu padaku sejauh ini. Bodohnya aku baru sadari semua khilafku. Biasanya aku sangat, bahkan terlalu hati-hati dalam mengambil tindakan, ntah kau perdayai aku dengan apa sehingga semua terlanjur menyakitkan dan perih bagiku. Hingga malam ini, tak henti-hentinya otakku berputar mencari jawaban atas apa yang telah terjadi dan menimpaku, kau datang dan pergi sesuka hatimu mempermainkan perasaaanku. Awalnya aku menyalahkan diri sendiri yang tak merespon cintamu, tapi pada akhirnya, tepatnya malam ini, aku yakin semua adalah permainanmu. Dasar wanita bodoh diriku ini

Semua berawal 6 bulan lalu, kita bertemu. Sikap dan perilaku yang kau tunjukkan wajar dan terkesan dalam, kau terlalu hati-hati dalam menanggapi pertanyaan yang terlontar dari mulutku. Kau cukup dewasa, menyenangkan dan membuat aku sedikit greget terhadapmu.

Tapi itu semua masa lalu, dan kini, disini, tepat detik ini akan kubuka semua kebohonganmu agar tak ada lagi wanita yang tersakiti sepertiku saat ini.

Pertama, kau datang dengan mulut manis mengisahkan kisah tragis keluargamu dan menunjukkan betapa tegar dan mandirinya dirimu menopang kehidupan keluargamu untuk membuat aku terkesan. Walau tak ada unsur melebih-lebihkan, kau juga menjual jaminan penghidupan yang baik dari pekerjaanmu dan tingkat pendidikanmu. Bagiku semua hanya alat untuk mempengaruhi seseorang, dan saat itu aku.

Kedua, kau ingin aku beri perhatian lebih pada salah satu adikmu yang bersekolah asrama, dengan alasan kesibukanmu. Dengan pandainya mulutmu itu, meminta dengan tersirat apapun keperluan adikmu perlu pertolongan diriku untuk mengurusnya. Dasar tengik kamu. Pada akhirnya, ketika tidak ada komunikasi yang kau berikan, adikmu datang padaku dengan meminta beberapa barang keperluannya, karena kau tidak bisa. Tidak sempat alasanmu, mau tidak mau adikmu yang…ntah polos betulan atau tidak datang padaku. Dan untungnya, kau tau aku bukan tipe wanita penolak permintaan untuk orang yang sedang tidak punya.
Ketiga, teramat aneh ketika suatu hari engkau memintaku untuk menjemputmu di suatu tempat dan kemudian meminjam kendaraanku untuk melakukan sesuatu. Harusnya di situ aku telah sadar, bahwa kau sedang memanfaatkanku,ya kau memang begitu. Hah,jebakanmu hebat kawan. Namun sayang, saat itu aku sedang tidak enak badan, dengan buru-buru kamu mengatakan tidak apa-apa dan tidak perlu. Aneh…
Keempat, suatu malam yang dingin, smsmu masuk, tak ada angin, lama jua tak ada kabar darimu, tiba-tiba kau bercerita tentang kesulitan ekonomi. Kamu tidak memiliki uang yang cukup untuk membayar suatu biaya, dan anehnya kau sebutkan nominal dari biaya tersebut, seakan-akan memintaku untuk menyumbang sebagian dari biaya tersebut. Kemudian kau bilang, taka pa kalau tidak bisa membantu. Waw,aneh sekali,dan aku masih belum menyadari penipuan berkedok perasaan ini.

Kelima, kau suka membawa nama-nama orang penting yang suka nangkring di Koran sebagai kerabat atau kolegamu, seolah-olah ingin menarik perhatianku bahwa kau adalah orang yang cukup mengesankan dan bisa di jadikan bahan pameran kalau-kalau bertemu teman atau keluargaku. Bahkan kau selalu membiarkan berkomunikasi dengan saudaramu yang biasa keluar negeri untuk sekedar jalan-jalan. Munafiknya dirimu
Keenam, tak ada angin, tak ada denting apapun. Disaat hari paling penting, paling berharga untukku. Ntah sengaja atau tidak, kau memberi kabar pernikahanmu, dan mengatakan hal-hal yang tidak penting. Seakan-akan semua kata-katamu padaku sejauh ini tak pernah kau berikan. Kau pikir aku ada untuk siapa, kau kira sejauh ini ku datang untuk siapa. Dan kau sengaja memberitahuku untuk menghancurkan hariku saat itu, tapi kau memang payah, aku bukan batu yang bisa kau hancurkan dengan palu, tapi aku adalah pohon yang memiliki akar yang kuat dan telah menjalar kemana-mana.

Ketujuh, tepat 2 minggu sebelum pernikahanmu, kau datang kerumahku dan meminjam sejumlah uang, dengan alasan kau kehabisan uang dijalan sambil memperlihatkan isi dompetmu. Kemudian dengan pongahnya kau berkata kau dari rumah calon istrimu. Sialan, kau coba sakiti ku tuk sekian ribu kalinya. Berandal tua. Kemudian kau malah menawarkan bantuan untukku yang saat itu kebingungan mencari salah satu pelengkap acara ultah keponakanku.

Kedelapan, aku sedang kesal. Suasana hatiku kacau, aku benar-benar mepet tak punya uang untuk mengirimkan barang salah satu tetanggamu. Kemudian kau menelpon, saat itu kacau dan dengan berat aku minta dengan sangat pertolonganmu, dengan enteng kau bilang, tidak bisa. Aghhh,rasanya, kalau saja handphoneku itu tidak mahal, ingin saja rasanya melemparnya kecermin tepat didepan kasurku.

Kesembilan, setiap kau menelpon, kau selalu bilang, “aku sayang kamu”, “aku kangen kamu”, kemudian, plashhhhhhhh, hilang. Saat aku minta kamu untuk menjemput aku dari sebuah lokasi yang berjarak 2 jam dari tempatmu, kau hanya bilang, jauh ah, malas.

Kesepuluh, kau hanya berani bilang sayang, cinta dan kangen lewat sebuah sms atau kaang-kadang lewat telepon. Kemudian, saat bertemu untuk menatap mataku saja kau tidak berani, harusnya dari awal aku sudah tahu kebohonganmu, kepalsuanmu serta tipuan jadulmu.

Semua yang terjadi dan yang lainnya yang tak mampu kuurai lagi dalam ingatan dan benakku seharusnya sudah cukup untuk membuatku melupakan dan membencimu. Teganya kau permainkan hatiku dan semuanya, kau perdaya disekitar kita hanya untuk memenuhi kepentingan ambisimu. Mungkin kau sedang taruhan pada teman-temanmu, yang mengenalku sebagai hati baja. Harusnya kau tahu, aku kasihan padamu hingga tak mampu menolak mentah-mentah dirimu, yang selama ini suka kulakukan pada kaummu.

Satu hal hey.. ladies yang harus kalian ingat, kalau seorang pria suka mengulang kata atau kalimat tidak, enggak, gak mungkin, maka waspada pada lampu kuning tanda peringatan bahaya. Bahwa tak selamanya mulut dan rayuannya adalah benar, kita kira jujur, padahal palsu.
Tak ada yang kuingin lagi darimu, setidaknya aku tahu kamu brengsek, kamu, brengsek, dan ya, kamu brengsek.

Cerpen Sedih – Impian Kecilku

‘Dimana ada Dina, disitu ada Amel’, itulah yang selalu dikatakan teman-teman kami. Ya, aku dan Amel memang sudah berteman sejak TK sampai sekarang, kelas 8 SMP. Kami sudah seperti saudara kandung sendiri. Terkadang teman-teman kami heran, bagaimana bisa Amel yang tomboy dan cerewet itu bersahabat dengan aku yang pendiam ini? Tetapi aku dan Amel tidak pernah mempermasalahkannya. Menurut kami, perbedaan ini justru membuat kami merasa dapat saling melengkapi satu sama lain.

***

“Din, pulang yuk!” seru Amel dari depan kelas. “Iyaiya, bentar Mel”, jawabku sambil mengobrak-abrik laci meja. “Kamu lagi nyari apasih, Din? Kok kayaknya sibuk banget?” tanya Amel sambil berjalan mendekatiku. “Nyari kertas Mel, warnanya biru, ada tulisannya”. “Yaelah Din, cuma kertas doang? Udah tinggalin aja, kamu masi punya banyak kertas kayak gitu di bindermu kan?”. “Masalahnya bukan di kertasnya Mel, tapi isi tulisannya”, jelasku sambil terus mencarinya di tas. Amel tidak berkomentar lagi. Kurasa dia sudah sangat bête hari ini, wajar saja, hari ini dia dua kali dimarahi pak guru gara-gara tidak bisa mengerjakan soal. Dan sekarang, bukannya pulang, aku malah menyuruhnya membantuku mencari kertas yang pasti dianggapnya tidak penting itu. “Oh! Ini bukan kertasnya, Din?” teriak Amel sambil memungut secarik kertas berwarna biru dari lantai. Kertas itu terlipat dua sehingga tulisannya tidak terlihat. Aku mengambilnya dan membuka lipatannya. “Yap ini kertasnya Mel, makasi ya”, kataku sambil tersenyum. “Yes, sekarang kita bisa pulaang!” serunya.
“Din, hari ini ke tempat biasa yok. Lagi badmood nih”, kata Amel yang sedang mengayuh sepeda. “Ke fantastic blue? Boleh, pasti kamu lagi bête gara-gara dimarahi pak guru tadi kan? Hehehe”, kataku sambil tertawa kecil. “Iya bener banget. Tahapa kali pak botak itu!” omel Amel. Amel mengayuh sepedanya lebih cepat sambil terus mengomel. Angin sepoi-sepoi menerbangkan rambut cokelat pendeknya sehingga mengenai wajahku. Jalan kecil yang kami lalui sepi dan kosong. Di kanan-kiri jalan hanya terdapat hamparan sawah hijau yang membentang. Hanya suara kami berdua yang terdengar di sepanjang perjalanan itu.

***

Langit biru, awan putih. Deru ombak dan kicau burung mengisi kesunyian di tempat ini. Matahari memantulkan sinarnya ke laut dan membuatnya nampak berkilauan. Ditambah dengan hamparan pasir putih berhiaskan kerang beraneka warna. Inilah fantastic blue, tempat rahasia aku dan Amel. Tempat ini terpencil dan hanya diketahui oleh kami berdua. Kami selalu pergi kesini untuk menenangkan diri ataupun hanya untuk sekedar bercerita. Tempat ini dipenuhi oleh warna biru yang sangat indah dan menenangkan, biru langit dan biru laut, karena itulah kami menamainya ‘fantastic blue’.
Kami langsung menghempaskan diri ke hamparan pasir putih yang bening. Kami berdiam diri sejenak dan menatap langit yang biru, hingga kemudian Amel memulai pembicaraan. “Eh, Din, kertas yang kamu cari tadi itu isinya apa sih? Kok kayaknya penting banget?” tanyanya sambil melirik ke arahku yang sedang berbaring di sampingnya.
“Oh yang tadi? Bukan apa-apa kok hehe..” jawabku. “Ayolaah, aku bisa jaga rahasia kok, Din. Kita kan udah sahabatan dari kecil, masa kamu gak mau ngasitau?” balasnya lagi sambil bangkit dan duduk. Aku pun ikut duduk. Setelah berpikir sejenak aku mengeluarkan secarik kertas dari kantong rokku.
“Iyadeh aku kasitau, tapi kamu jangan ketawa ya,” kataku pelan kepada Amel. “Iya, Din. Suer deh aku gak akan ketawa”. Aku lalu memberikan kertas itu kepada Amel. Ia membuka lipatannya dan membacanya dengan seksama.
“Ini lirik lagu ya, Din?” tanyanya tak lama kemudian. “Iya.. itu aku sendiri yang buat” jawabku ragu-ragu. “Oh, bagus loh liriknya. Kurasa kamu berbakat jadi penulis lagu hehe,” kata amel sambil tersenyum jahil. “Beneran bagus, Mel?” tanyaku tak percaya. “Jangan bilang siapa-siapa ya, sebenarnya aku memang bercita-cita jadi penyanyi atau penulis lagu,” bisikku pelan.
“Hah? Beneran, Din? Waah aku ngedukung bangeet!” “Makasi mel hehe. Oiya, aku juga punya satu impian kecil lagi,” lanjutku. “Impian kecil apa?” “Aku ingin membuat lagu tentang persahabatan kita berdua. Pasti bagus banget kalau dijadiin lagu”. Amel langsung berdiri dan berteriak dengan semangat, “WAH! Ide bagus itu, Din! Jadi kita bisa mengabadikan persahabatan kita di lagu buatanmu itu. Kamu memang cerdas!”
“Kalau begitu, mulai besok kita latian nyanyi dan membuat lagu disini ya. Kamu harus banyak latihan Din, kan calon penyanyi masa depan,” lanjutnya sambil tertawa. Kami pun terus membicarakan tentang impian kecilku itu hingga matahari terbenam.

***

Sejak hari itu, Amel selalu menemaniku latihan bernyanyi di fantastic blue. Aku memang masih malu untuk bernyanyi di depan banyak orang. Bahkan bernyanyi di depan sahabatku sendiri pun aku masih grogi. Tetapi Amel terus menyemangatiku dan mendukungku dengan semangat. Ia bahkan mengusulkan agar aku bernyanyi menggunakan gitar, tentu saja aku menerima usulnya itu. Tapi sayang, harga gitar terlalu mahal dan aku tidak mungkin bisa membelinya.
Hari berganti hari, kami semakin sering latihan di tempat rahasia kami itu. Tetapi entah kenapa, aku melihat keadaan Amel dari hari ke hari semakin lemas. Wajahnya terlihat lesu dan matanya berkantung, seperti kurang tidur. Di kelas dia juga jadi sering menguap, bahkan sampai tertidur saat pelajaran. Aku tidak tahu apa yang dilakukannya sampai kurang tidur seperti itu, karena setiap aku menanyakannya Amel selalu berkata ia baik-baik saja. Tetapi hal itu justru membuatku semakin penasaran dan khawatir akan keadaannya.

***

“Din, hari ini kamu bawa sepeda kan? Aku tunggu di tempat biasa ya,” kata Amel sepulang sekolah. Kebetulan hari itu aku memang piket, jadi tidak bisa pulang cepat. Tetapi biasanya Amel akan menungguku hingga selesai piket dan kami pergi bersama ke fantastic blue, tetapi entah kenapa hari ini Amel malah pergi duluan meninggalkanku. Aku merasa ada yang aneh. “Ah, mungkin itu hanya perasaanku saja,” batinku.
Sehabis piket aku segera bergegas pergi ke tempat istimewa kami berdua itu. Jalanan terlihat lebih sepi dari biasanya tanpa kehadiran Amel. Tak lama kemudian aku sampai di fantastic blue. Aku dapat melihat sepeda Amel dari kejauhan, tetapi sepeda siapa yang satunya? Kenapa ada dua sepeda? Aku lalu melihat dua orang berjalan berdampingan di hamparan pasir putih itu. Itu Amel.. dan Fitri! Kenapa Fitri anak kelas sebelah itu ada disini? Padahal tempat ini adalah tempat rahasia yang hanya diketahui aku dan Amel, apakah Amel membocorkannya ke Fitri? Ataukah kini Amel sudah mempunyai sahabat baru dan akan meninggalkanku? Pikiranku mulai tidak karuan dan aku tidak bisa berpikir jernih.
Aku berjalan pelan mendekati mereka. “Oh, hai Dina! Lama sekali datangnya?” sapa Amel sambil melambaikan tangan. Fitri hanya tersenyum simpul kepadaku. Aku diam dan tidak membalas senyumnya. Kutarik tangan Amel dan kubawa ia menjauhi Fitri. “Mel, kenapa Fitri ada disini?” tanyaku setelah membawanya agak jauh dari tempat Fitri. “Oh, Si Fitri? Dia hanya…” “Kenapa kamu membawanya kesini?” timpaku lagi. Entah kenapa aku tidak ingin mendengar penjelasan Amel, aku terlalu takut untuk mendengarnya.
“Bukankah ini tempat rahasia kita berdua? Atau kamu sudah tidak menganggapku sahabatmu lagi?” tanyaku bertubi-tubi tanpa memberi kesempatan kepada Amel untuk berbicara. Suaraku mulai serak dan mataku mulai berlinang air mata. Aku menghapus air mataku dan bergegas berjalan menuju sepedaku.

***

Aku segera menaiki sepedaku dan mengayuhnya dengan cepat meninggalkan tempat itu. Tanpa kusangka, ternyata Amel juga segera menaiki sepedanya dan mengikutiku dari belakang. Ia terus meneriakkan namaku tetapi aku tidak mempedulikanya dan terus mengayuh.
Kami berkejar-kejaran di sepanjang jalan kecil yang biasa kami lalui itu, jalan kecil yang hanya bisa dilewati oleh satu mobil. Tak lama kemudian, Amel sudah berhasil menyusulku dan kini berada di depanku. Tak heran karena Amel merupakan atlit olahraga kebanggaan sekolah, yang tidak pantas bersahabat denganku yang biasa saja ini.
“Dina, dengarkan penjelasanku dulu..” ucap Amel sambil melihat ke arahku. Ia mengayuh tanpa melihat ke arah depan hingga tiba-tiba.. BRAAAK!! Sebuah mobil sedan berwarna hitam menabrak Amel. Tubuh kecil itu terlempar ke pinggir jalan. Aku refleks mengerem sepedaku dan terjatuh. Aku melihat darah mengalir di jalan kecil itu. Jalan yang berwarna abu-abu itu kini berubah menjadi warna merah darah. Aku segera bangkit dan mendekati Amel, yang kemudian disusul oleh pengendara mobil yang menabraknya itu. Aku memandang tubuh Amel yang terbaring lemah di pinggir jalan. Wajahnya pucat, bajunya koyak, dan kepalanya bersimbah darah. Aku hanya bisa terpaku diam melihat keadaannya yang memprihatinkan itu.
“Din..” aku tersentak mendengar suara itu. Amel masih hidup! Ia masih bisa berbicara. “Iya.. aku disini, Mel”, jawabku pelan. “Sebentar lagi ambulance datang kok Mel, sabar ya.. kamu pasti selamat kok..” kataku lagi sambil menggenggam tangannya dengan gemetar. “Din..” bisiknya lagi. “Maaf ya Din, aku sudah membuat kamu menangis.. dan happy birthday ya..” ucapnya lemah sambil tersenyum. Kemudian Amel menutup matanya dan aku tidak dapat merasakan tanda-tanda kehidupan darinya lagi. Tangan mungil yang kugenggam dari tadi itu kini menjadi sangat dingin, sedingin es. Itulah kata-kata dan senyum terakhir yang diberikannya kepadaku, ‘Maaf dan happy birthday’. Padahal aku sendiri lupa bahwa hari ini adalah hari ulang tahunku, tetapi Amel justru mengingatnya sampai akhir hayatnya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku ingin berteriak, tetapi tenggorokanku seperti tercekat dan tidak bisa mengeluarkan suara. Air mataku mengalir deras membasahi wajahku hingga ambulance datang dan membawa Amel ke rumah sakit.

***

Amel sudah tiada, itulah fakta menyakitkan yang harus kuhadapi saat ini. Kini aku harus menjalani hari-hariku tanpa kehadirannya. Tak ada lagi senyum dan tawanya yang ceria itu. Tak ada lagi orang yang akan menemaniku latihan menyanyi di fantastic blue. Kini semuanya harus kujalani sendiri, tanpa sahabatku.
Hari ini untuk pertama kalinya aku berada di fantastic blue sendirian. Tempat ini terasa begitu sepi dan sunyi. Tak ada lagi canda dan tawa yang biasanya mengisi kesunyian di tempat ini. Tiba-tiba aku mendengar suara yang memanggil namaku. Aku pun segera membalikkan badan. Terlihat Fitri sedang berdiri dan membawa sebuah gitar di punggungnya. Ya, tidak mungkin itu Amel. Bodoh sekali aku mengira suara yang memanggilku itu adalah suara Amel.
“Din, ini hadiah dari Amel,” katanya tiba-tiba sambil menyerahkan gitar di punggungnya kepadaku. Aku hanya terdiam tidak mengerti. “Akhir-akhir ini Amel selalu membantu keluargaku mengerjakan sawah dan mengurus rumah untuk mendapatkan gitar abangku ini. Ia sangat rajin, bahkan kadang ia bekerja sampai larut malam. Hari itu, di hari ulang tahunmu dan hari terjadinya kecelakaan itu, sebenarnya Amel ingin memberikan gitar ini sebagai kado untukmu. Tetapi aku lupa membawanya ke sekolah, jadi sepulang sekolah aku segera pulang mengambil gitar ini dan mengikutinya dari belakang. Gitar ini memang sudah lama, tapi suaranya masih bening kok,” jelasnya. Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Jadi, sebenarnya Amel tidak membocorkan tempat ini kepada Fitri, tapi Fitri yang mengikutinya dari belakang? Kalau begitu untuk apa kami bertengkar? Untuk apa Amel meninggal? Kalau saja hari itu aku tidak berprasangka buruk padanya dan mau mendengarkan penjelasannya, mungkin kecelakaan itu tidak akan terjadi dan aku masih bisa tertawa bersamanya saat ini.

***

Aku pulang dengan membawa gitar dan surat kecil yang diberikan Fitri kepadaku. Aku membuka surat itu dan membacanya.
“Dear Dina, sahabatku..
Happy birthday yaa, Din! Gitar ini kuberikan sebagai kado ulang tahunmu, dengan harapan kamu bisa lebih dekat untuk mencapai mimpimu menjadi seorang penyanyi dan penulis lagu. Maaf aku Cuma bisa memberikan gitar lama ini hehe. Aku yakin suatu saat nanti impianmu pasti akan terkabul. Keep spirit!
With love, Amel”
Aku menitikkan air mata membaca surat itu. Amel begitu memikirkan impian dan cita-citaku itu. Ia bahkan rela mengorbankan waktu dan tenaganya untuk mendapatkan sebuah gitar untukku.
Aku kemudian teringat dengan impian kecilku untuk membuat sebuah lagu persahabatan tentang aku dan Amel. Aku mengambil secarik kertas dan pulpen, lalu perlahan memetik gitar dan mencari nada yang tepat untuk lagu kami. Aku mulai menorehkan pupenku ke kertas putih itu, ‘Sahabat Sejati’, itulah kata pertama yang kutulis. Inilah sebuah lagu yang kuciptakan untuk Amel, sebuah lagu yang kuciptakan dengan gitar pemberian Amel, dan merupakan sebuah lagu yang berisi luapan kasih sayangku kepada Amel. Aku berharap suatu saat aku bisa mewujudkan impianku untuk menjadi seorang penyanyi dan penulis lagu, untuk diriku sendiri dan untuk sahabat sejatiku, Amel.

  Cerpen Pendidikan

Cerpen Sedih – Surat Terakhir

Poooss…!

Teriakan tukang pos membangunkanku dari tidur siangku, aku yakin sekali surat kali ini untukku.
Ini pasti dari sahabatku,Dini. Aku dengan Dini sudah hampir setahun saling bertukar surat, awalnya kami berkenalan dengan tdak sengaja, pada awalnya aku mendapat surat tidak dikenal, saat aku cek ke kantor pos, ternyata surat itu memang nyasar.
Surat itu dari Dini yang bermaksud mengirimnya kerumah neneknya, kebetulan alamatnya hampir sama dengan alamat rumahku.
Semenjak saat itu kami menjadi teman pena, Dini dan aku mempunyai hobi yang sama yaitu menulis.

Yup, ternyata benar surat itu dari Dini, segera saja aku membuka amplop yang berwarna biru. Aku dan Dini sepakat jika memakai amlop yang berwarna biru jika saling berkirim surat.

23 November 2009
Anna, tak terasa hampir setahun kita saling berkirim surat. Aku sangat senang sekali kejadian yang kebetulan setahun yang lalu, menjadi kebetulan yang sangat indah bagiku

Oh ya, bulan depan aku berencana mengunjungi kotamu,aku ingin menghabiskan liburan di rumah neneku, dan aku juga berencana mengunjungimu, aku sangat ingin beremu kamu secara langsung
Sekian dulu yaa, aku menunggu balasanmu
Salam hangat,
Dini..
Waaah, aku senang sekali membacanya, ternyata Dini akan mengunjungi bulan depan.
Segera saja aku bilang kepada ibuku tentang rencana Dini yang akan berkunjung kesini, setelah itu aku langsung menulis surat balasan kepada Dini.

27 November 2009

Diiiniiii, wah aku senang sekali kamu mau mengunjungiku, tentu aku bersedia, aku juga telah bilang kepada ibuku, ibuku juga senang, aku harap nanti kamu akan menginap dirumahku selama beberapa hari, aku mempunya segudang rencana menarik untuk kita lakukan bersama.

Kamu akan kesini bulan depan kan? Itu berarti beberapa hari lagi.
Hati hati di jalan ya Dini. Salam hangat
Anna.
Tidak terasa hari ini hari terakhir sekolah sebelum liburan, berarti Dini akan kerumahku beberapa hari lagi, aku segera mandi dan berpakaian untukpergi kesekolah, sebelum itu aku sarapan sebentar lalu berpamitan ke orangtuaku untuk pergi kesekolah.
Kebetulan jemputanku juga sudah datang.

Akhirnya pengumuman dari sekolah yang aku tunggu tunggu datang juga, sekolah akan libur akhir tahun, teman-teman disekolahku sangat ramai, tidak salah lagi, mereka bercerita rencana mereka saat liburan nanti.

Tak terasa bel tanda akhir sekolah sudah dibunyikan, keadaan kelas makin ramai saja. Setelah mengucapkan selamat liburan, kamipun naik mobil jemputan masing masing.
Di tengah perjalanan aku teringat mimpiku tadi malam, di mimpiku aku melihat Dini memakai gaun putih yang indah dan tersenyum padaku, tapi makin lama sosok Dini makin jauh, aku mencoba mengejarnya tetapi tidak bisa .

Mengapa ya, aku bermimpi seperti itu tadi malam.
“ah, mungkin aku terlalu senang Dini akan mengunjungiku” pikirku.

“aku pulaaang…” teriaku.
“Tidak seperti biasanya, biasanya ibuku selalu menyambutku saat aku pulang sekolah”. Ternyata ibuku ada diruang keluarga. Disitu aku melihat ibuku menangis sedih.
“ada apa bu??” desakku.
Ibuku menatapku, lalu berkata “anna, ibu harap kau tabah”.
“ada apa bu, ada apa??” tanyaku setengah berteriak, karena aku bingung apa yang sebenarnya terjadi.
“temanmu,Dini, telah mengalami kecelakaan pesawat” kata ibuku terisak-isak.
“apa?” kataku heran.
Lalu aku segera mengambil remote tv yang tergeletak disitu dan segera menyalakan tv. Di TV ditayangkan gambar yang sangat mengerikan, sebuah serpihan pesawat yang terombang-ambing di laut lepas. Reporter di TV mengatakan pesawat itu telah meledak di udara, dugaan sementara tidak ada satupun korban selamat.

“tapi kan bu, belum tentu Dini ada di dalam penerbangan itu”tanyaku cemas.
“tidak, anna. Nenek Dini tadi menelpon ibu, dan menyampaikan berita ini” jawab ibuku sedih.

Tidak terasa, air mata telah membasahi pipiku, aku tidak bisa mengatakan apa-apa, disekelilingku terasa berputar, dan tiba-tiba gelap. Aku pingsan.

Tidak terasa sudah genap sebulan setelah kecelakaan pesawat itu, jasad Dini belum juga diketemukan, diliburanku kali ini, aku merasa tidak bersemangat karena kejadian tersebut, keluargaku mencoba untuk menghiburku, tapi itu sama sekali tidak bisa membantu.

Poooss…!!!
Teriakan tukang pos membuyarkan lamunanku.
“aku malas untuk keluar, biar ibu saja yang mengambil suratnya” pikirku.

Pooooss…!!!
“Urgghhh, mana sih ibu?” gerutuku.
Aku ingat, aku sedang sendirian dirumah,ibu sedang arisan RT.
Segera saja aku berlari keluar untuk mengambil surat itu.
Ternyata pak pos mengantarkan sebuah kotak yang ditujukan kepadaku.
Setelah mengucapkan terimakasih kepada tukang pos, aku masuk dan membuka isi dari kotak itu.
Isi kotak itu adalah bungkusan plastik yang didalamnya ada kertas-kertas yang dijilid rapi dan sebuah amplop yang berwarna… HIJAU.

Aku membuka isi dari surat itu dan membacannya.

7 Desember 2009

sahabatku Anna, saat kamu membaca surat ini, mungkin ini menjadi surat terakhir dariku, maaf Anna, aku tidak bisa menepati janjiku untuk liburan bersama denganmu.

Anna, aku ada satu permintaan, semoga kamu menyanggupinya.
Kamu ingat kan, aku pernah bercerita kalau sedang menyelesaikan menulis novel,,
Aku ingin kamu menyelesaikannya.
Nah anna, meskipun kita belum pernah bertemu langsung, tapi kamu adalah sahabatku terbaiku.
Dan aku minta maaf karena tidak bisa menepati janji, terima kasih ya Anna, kamu telah menjadi sahabatku.
Salam persahabatan
DINI

Air mata kembali membasahi pipiku setelah membaca surat itu, dan aku mengambil kertas-kertas yang dijilid itu, itu adalah naskah novel yang belum
sempat diselesaikan oleh Dini.
“tentu Dini, aku bersedia dengan senang hati menyelesaika novelmu, aku akan mengerjakannya sebaik mungkin, semoga kamu tenang di alam sana” kataku dalam hati.

Yah, memang, didunia ini memang banyak kejadian yang tak terduga.
Persahabatanku dan Dini diawali dengan kejadian yang terduga, dan diakhiri dengan kejadian yang tak terduga juga.
Dan juga, di dunia ini tak ada yang abadi.
Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, entah cepat atau lambat.

  Cerpen Persahabatan

Cerpen Sedih – Rumah Tak Berdinding

Malam minggu itu, bulan bersinar terang, cahaya di bawah pohon rimbun tampak remang-remang. Suara jangkrik seakan ikut bernyanyi menikmati suasana malam itu. Di atas bale-bale depan rumah, aku, ayah, ibu dan kedua adikku berkumpul. Ditemani secangkir teh hangat dan kue buatan ibu, kami bersenda gurau menikmati indahnya malam.

“kalau kalian besar, mau jadi apa?” Tanya ayah kepada kami bersaudara. “aku mau jadi tentara, Yah !!” jawab adikku yang pertama. “aku mau jadi dokter!” sambung adikku yang paling bungsu sambil memasukkan kue ke dalam mulutnya yang belepotan. “hahaha iya amin.. kamu indah?” Tanya ayah mengarah padaku. “aku mau bahagiain ayah sama ibu” jawabku dengan senyuman. “iya sayang..kami sayang padamu, nak” ujar ibu sambil mengelus rambutku. Malam itu benar-benar aku merasakan kebahagiaan yang begitu hangat dari keluarga. Dingin malam semakin menusuk kulit kami, ibu langsung mengajak kami masuk ke dalam rumah. Aku melihat ayah dan ibu membereskan bale-bale¬ di teras rumah. Melihat mereka sepertinya akan terasa seperti itu selamanya.

Keesokan harinya..
Seperti biasanya, hari senin sampai sabtu aku dan adikku bersekolah, ayah dan ibu bekerja di kantor. Aku kelas 6 SD sekarang. Adikku kelas 5 dan 4. Ayah yang mengantar kami ke sekolah. Setiap hari dan setiap pagi.
“nak, ayo cepat berangkat!” terdengar suara ayah memanggil dari luar.
“iya ayah!!” serentak kami bertiga.

Di luar, ayah berdiri dengan baju polisi di samping motor vespa berwarna biru gelap miliknya. Ayah tersenyum kepada kami. Lalu kami berlari ke motor ayah.
“Ayah! Ayo cepat, nanti terlambat loh” ucap adik bungsuku yang sudah berada di bagian depan.
“Siap komandan!!” ledek ayah kepada adikku itu. Aku dan adikku yang satu, tertawa mendengar ocehan ayah. Kami pun berangkat ke sekolah. Setibanya di sekolah, tak lupa kami mencium tangan ayah sebagai tanda pamit untuk sekolah.

Ayah berkata “belajar yang rajin yah, Nak!” lalu memasang helm di kepalanya.
“iya ayah, pasti!” ucapku pada ayah sambil memasang wajah polos.
“ayah pergi dulu. Assalamualaikum..” lalu ayah berlalu dari kami.

Kami lalu bergegas masuk ke sekolah melewati gerbang merah tua itu. Hingga pukul 12.30 siang kami belajar di sekolah. Hari itu benar-benar cuaca sangat panas. Hampir seluruh tubuhku diguyur keringat. Rasanya ingin cepat-cepat pulang dan makan makanan buatan ibu.
“Indah! Pulang bareng yuk ?” ajak temanku.
“iya deh.” Ucapku dengan nada rendah. Di perjalanan menuju pulang ke rumah, kepalaku terasa sangat sakit. Gerah rasanya tubuhku disiram panasnya matahari yang begitu menyengat. Setelah berada di depan rumah temanku, ia lalu mengajakku untuk mampir sebentar, tapi aku menolak. Karena perutku sudah sangat lapar, aku lalu pulang ke rumah. Setibanya di rumah, ternyata adik-adikku sudah tiba duluan. Ibu melihatku dengan wajah cemas dan bertanya

“Kamu kenapa, nak? Sakit? Minum obat yah sayang..” dengan nada lembut ibu membukakan bajuku yang sudah basah penuh keringat. Lalu membawakanku makanan. Segera aku santap makanan itu sampai ludes tidak tersisa. Ibu memang wanita yang sangat penyayang. Aku tersanjung jika melihat ibu mengurus keluarga. Tiba-tiba terdengar suara dari luar…

“Assalamualaikum…!!” itu adalah suara ayah yang baru pulang dari kantor. Nampak ayah sangat kelelahan. Aku langsung menghampirinya dan bertanya
“ayah kenapa?” tanyaku sambil melihati wajah ayah.
Ayah berkata “ngga apa-apa, nak” sambil tersenyum padaku.

“oh..” ujarku. Saat ingin kembali ke kamar, aku melihat ayah dan ibu sedang serius membicarakan sesuatu. Aku langsung mengintip di balik tirai.
“Bulan depan, ayah harus pindah tugas ke pulau. Ayah mungkin akan cukup lama disana…”ucap ayah kepada Ibu.
“jadi ayah akan meninggalkan kami ?” Tanya ibu dengan wajah cemas.

Sambil memegang tangan ibu, ayah lalu berkata “ayah tidak mungkin meninggalkan ibu dan anak-anak, tapi ayah harus menjalankan tugas ini. Ayah janji akan pulang segera setelah tugas ayah selesai.”

“baiklah kalau memang sudah tanggung jawab ayah begitu” lalu mereka tersenyum. Aku yang melihat di balik tirai hijau itu lalu terkejut mendengar bahwa ayah akan segera dipindah tugaskan dari kantornya ke pulau. Tiba-tiba adikku mengagetkan dari belakang.

“duarrrrr!!!” seru adik-adikku. Aku yang tengah serius memperhatikan ayah dan ibu tiba-tiba terkejut. Rasanya jantungku mau copot. Aku spontan saja memarahi mereka berdua.

“Kalian !!” mendengar kami rebut, ayah dan ibu memanggil kami bertiga, tapi bukannya menemui mereka, malah kami lari terbirit-birit ke kamar masing-masing.

Mereka tertawa melihat tingkah kami.

Besoknya, kami sekeluarga berkumpul di ruang tengah. Entah karena apa tiba-tiba saja ayah menyuruh kami untuk berkumpul. Mungkin soal kepindahan ayah yang ingin ayah beliau bahas, pikirku. “Ayah akan pindah tugas ke pulau, ayah harap kalian mau mengerti..”ucap ayah membuka pembicaraan. Sambil mengunyah apel yang disiapkan ibu tadi, aku langsung bertanya

“kenapa ayah mau pindah?”
“ini tugas yang diberikan kantor ayah. Jadi ayah harus memenuhi tugas ayah, Nak” ucap ayah yang duduk di depan kami.
“kapan ayah pulang?” Tanya adikku yang duduk disamping kananku.
“ayah belum tau, nanti ayah pasti akan terus kabari keadaan ayah disana, ok?” sambil mengacungkan jempol ayah tersenyum.
“SIAP PAK!! Hahaha…” kami tertawa lepas saat itu. Kamipun merasa tidak cemas karena ayah akan terus memberi kabar kepada kami. Jadi, sejauh apapun ayah, kami akan selalu bersikap untuk tetap tenang.

6 bulan berlalu… ayah masih berada di pulau. Sudah sebulan ayah tidak pernah memberi kabar lagi. Bukan hanya ibu yang cemas, tapi kami bersaudara pun ikut khawatir akan keadaan ayah. Sekarang ayah sulit untuk dihubungi. Nomor ponselnya tidak pernah aktif. Sampai seminggu kemudian, Ayah pulang….
“Ayah !!!” seru adikku yang bungsu. Aku yang sedang mengerjakan tugas sekolah langsung melompat dari atas tempat tidur dan berlari menuju ruang tamu.
“ayah sudah pulang?” tanyaku dengan wajah yang merona bahagia.

“iya sayang..” jawab ayah lalu memelukku dengan rasa penuh kerinduan. Dari atas lantai dua rumah muncul adikku yang pertama dengan raut wajah penuh gembira menyambut kedatangan ayah siang itu. Ayah lalu memeluk kami bertiga.
“Ayah, makan yuk ! ibu sudah masak makanan kesukaan ayah loh” seru adikku yang pertama.
“ayo !” ajak ayah dengan menggendong kami bertiga. Kalau berada di dekat ayah, kami memang di manjakan seperti anak kecil. Itulah yang membuat kami selalu rindu akan kasih sayangnya. Di meja makan, sudah tersaji ayam bakar lengkap dengan sambal gorengnya, dan ikan bakar kesukaan ayah.

“Waahh.. mantap ini !! happ !!” seru adikku yang bungsu sambil menyodorkan potongan paha ayam masuk ke mulutnya yang dari tadi terbuka lebar. Ayah yang duduk pas di depan kami lalu mengambil ikan bakar dan diletakkan di piringnya. Aku yang melihat ayah dan adikku asyik dengan piringnya masing-masing, tidak ingin kalah. Aku lalu menyambar ikan dan ayam yang tinggal tersisa satu di piringnya. Sambil tertawa, aku langsung menyantap makanan yang ada di piringku. Ibu yang sedari tadi memandang kami berempat hanya tertawa kecil sambil meneguk sedikit demi sedikit air es di gelasnya.

Makan siang di hari itu sangat berharga untukku, karena sudah sekian lama aku menantikan saat-saat kebersamaan itu lagi. Kebersamaan yang mungkin tak akan pernah terulang kembali lagi, siapa yang menyangka bahwa kebahagiaan itu bisa bertahan lama. Tidak lama ayah meninggalkan kami lagi untuk kembali bertugas di pulau, sudah terdengar kabar yang begitu membuat perasaan ibu terkoyak.

Kulihat ibu sedang menangis di dalam kamar. Karena aku khawatir, aku langsung menghampirinya.
“Ibu kenapa menangis?” tanyaku dengan wajah yang penuh tanda Tanya
“tidak apa-apa sayang…” jawab ibu lalu mengusap air matanya

Tiba-tiba ibu memelukku, aku tidak bisa melakukan apa-apa selain menangis tanpa sebab. Apakah aku juga merasakan apa yang dirasakannya sekarang ?. tatapanku hanya tertuju di jendela berkusen hijau itu. Memandang keluar menembus batas kaca bening yang terselip. Tak ada yang mampu kulakukan saat itu.
Keesokan harinya aku terbangun dengan mata yang bengkak mungkin itu karena air mataku yang tak pernah berhenti untuk mengalir semalaman. Aku bergegas membasuh muka. Di dalam kamar mandi, aku mendengar ibu sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon. Karena penasaran, aku mendengar di balik pintu kamar mandi.

“saya tidak tau mau apa lagi, kalau memang itu yang dia inginkan, baik, kami akan cerai..” ucap ibu dengan nada lirih di bibirnya. Aku yang menguping sedari tadi di balik pintu hijau itu terkejut bukan main..

“APA?? Cerai ?? apa maksud perkataan Ibu?” tanyaku heran dalam hati. Aku lalu tersungkur lemas di atas sofa yang ada di depan kamar ibu. Pikiranku saat itu hanya tentang ucapan ibu tadi. Cerai ? cerai ? apakah ayah dan ibu akan bercerai ? Kenapa? Tanyaku. Sambil terbaring di atas sofa, aku menatap langit-langit rumah yang dipinggirnya diselimuti sarang laba-laba yang tipis.
“Apa maksud kamu ?!!” teriak ayah dari balik pintu kamar

“Kamu selingkuh !! Jadi selama ini kamu pindah tugas itu karena perempuan lain ???!!” sentak ibu hampir menangis
“itu bukan urusanmu !!” jawab ayah dengan nada yang tinggi.
Aku yang mendengar mereka berkelahi, terkejut. Tidak bisa berkata apa-apa. Aku lari masuk ke kamar dan mehempaskan tubuhku ke atas tempat tidur. Aku menangis, apa yang terjadi? Kenapa ayah dan ibu bertengkar seperti itu. Selingkuh? Ayah selingkuh.. aku tidak menyangka hal itu bisa terjadi padahal ayah yang seperti aku bayangkan sebelumnya, dia bukan orang seperti itu. Begitu kejamnya ayah sampai menduakan ibu, dan melupakan kami terlintas di pikiranku saat itu.
Kudengar ayah dan ibu masih bertengkar. Aku tidak tau harus melakukan apa. Yang ada di pikiranku saat itu hanya pertanyaan siapa wanita yang telah merusak keluarga kami.

Gdebukkkk !! terdengar duara pintu yang dihempas keras. Aku berlari keluar kamar. Ayah membawa koper besar berwarna hitam. Ibu yang menangis di dalam kamar hanya bisa duduk dalam kepasrahan. Adikku berusaha mencegah ayah untuk pergo, tapi ayah hanya memberikan pelukan dan cium untuk mereka lalu ayah pergi. Aku tidak sanggup melihat ini semua, aku ingin berlari tapi rasanya kaki ini membatu. Aku ingin menangis sekeras-kerasnya tapi air mata ini kering.
Aku menghampiri ibu dan memeluknya sambil berkata

“Sudahlah Ibu, semua ada hikmahnya…” ucapku dengan nada lirih.
“Tapi, ibu sudah menahan sakit ini selama bertahun-tahun sayang.. ayahmu sering seperti ini saat kamu masih dalam kandungan. Ibu sakit.. ibu tidak bisa lagi bertahan dengan ayahmu..” ujar ibu terisak dalam tangisannya.

Aku hanya bisa memeluk ibu, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan. Seolah membungkam bibirku ini untuk berkata.
“Semoga ayahmu mendapatkan karma dari semua ini !” ucap ibu. Aku tahu, ibu sangat marah atas apa yang telah ayah lakukan. Seharusnya aku menyadari dari awal. Ayah sangat berubah ketika dipindah tugaskan ke daerah pulau. Ayah semakin jarang berada di rumah, ayah semakin jauh dengan ibu, aku dan saudaraku. Itu pertanda bahwa telah ada wanita lain yang merebut hati ayah, sampai ayah seperti itu.
Tiga tahun berlalu…

Sudah setahun ayah pergi. Entah dimana ia sekarang, apakah dia telah bersama dengan wanita sialan itu?. Mungkinkah ayah sudah lebih bahagia dengan wanita jalang itu? Pertanyaan ini masih terus membayangiku. Tak pernah terbesit dalam benakku bahwa sekarang aku layaknya seorang anak yatim. Tanpa kasih sayang seorang ayah di sampingku.

Betul-betul kurasakan kerinduan yang mendalam sekarang, di masa remajaku ini, aku sangat membutuhkan figur seorang ayah. Aku ingin ada kasih sayang seorang ayah yang membantuku dalam meraih semua impianku. Tiga tahun tidak hidup dengan ayah merupakan hal terburuk yang pernah aku rasakan. Melihat teman-temanku yang bahagia dengan keluarganya yang lengkap, rasany ingin seperti mereka juga. Tapi semua itu kini hanya tinggal harapan yang menjadi kenangan.
“Jangan pernah pergi menemui ayahmu lagi !” ucap ibu padaku suatu hari. Aku tahu bagaimana perasaan ibu yang terkhianati oleh wanita lain yang menggantikan dirinya di hati ayah.

“Tapi Ibu, biar bagaimanapun dia tetap ayahku..” ujarku dengan nada melas.
“Tidak ! Dia bukan ayahmu lagi ! biarkan saja dia mati. Itu semua adalah balasan bagi dosa yang telah dia perbuat.” Sentak ibu.
Anak mana yang tidak merindukan ayahnya jika telah bertahun-tahun tidak bertemu dan bersama lagi ? anak mana yang tidak ingin disayangi dan dikasihi oleh ayahnya? Sungguh kepedihan hati ini tidak pernah berakhir.

Kehidupan keluargaku bagai rumah tak berdinding, tanpa seorang figur pemimpin yang menjaga kokohnya kebahagiaan dalam sebuah keluarga. Rumah ini seakan mau roboh diterjang angin yang tak henti-hentinya datang merombak atap. Tapi bukankah ini adalah sebuah cobaan dari Tuhan? Inilah perjalanan kehidupan yang harus kami lalui bersama. Meskipun dalam hasrat, kerinduan semakin membara dan hati kian meronta-ronta.

Aku duduk di atas tembikar tua ini sambil memutar memori tentang masa lalu yang begitu indah, namun telah sirna ditelan waktu dan tak bisa terulang lagi. Kemana semua kebahagiaan itu pergi? Mengapa tak pernah kembali lagi? Apakah rumah ini hanya akan menjadi saksi bisu kisah sedih dan bahagia yang pernah kami lewati? Sebuah tape berwarna perak tua di sudut kamar yang berbunyi, terdengar sebuah lagu kenangan yang tak asing terdengar di telingaku.. Yah… lagu itu adalah lagu kesukaanku dan ayah.. sebuah lagu tahun 90-an dari Broery Marantika..Dalam hati, ku ikut bernyanyi…

Untuk.. ayah tercinta.. aku ingin bernyanyi
Walau air mata di pipiku..
Ayah.. dengarkanlah.. aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam mimpi…
Kumenatap setiap sudut rumah ini. Catnya sudah pudar. Atapnya sudah bocor, jendelanya sudah usang. Tak nampak lagi dindingya yang kokoh seperti 16 tahun yang lalu…

  Cerpen Cinta

Cerpen Sedih – Ayah dan Burung-burung di Sawah

Seorang petani tinggal di rumah kecil di sebuah desa bersama seorang anak laki-lakinya bernama Jaka. Meski hidup serba kekurangan Jaka tidak pernah mengeluh. Ia selalu ceria membantu ayah merawat sawah dan senang bermain dengan teman-temannya. Jaka pun giat belajar dan rajin bekerja membantu ayahnya di sawah.
Kehidupan mereka bergantung pada hasil panen padi dari sawah setiap enam bulan. Dua petak sawah yang mereka miliki akan panen sebulan lagi. Mereka sangat senang dan tidak sabar menunggu datangnya waktu panen.

”Yah, kalau panen nanti, uang hasil penjualan panen untuk beli apa? Aku ingin beli tas baru ya,” pinta Jaka kepada ayahnya.
”Tasku sudah sobek dan berulang kali kujahit, tetapi sobek lagi, Yah!” sambung Jaka.

”Iya, nanti Ayah belikan tas yang awet dan bagus, tapi kamu harus lebih rajin belajar di sekolah!” ayah Jaka menjawab dengan ramah. Jaka hanya mengangguk sambil tersenyum.

Sambil menyantap jagung rebus di saung, mereka menghayal tentang hasil panen. Mata mereka tertuju pada padi-padi yang mulai menguning dan merunduk. Senyum riang tergambar cerah di wajah mereka.

Dua minggu sebelum waktu panen tiba, Jaka dan ayahnya semakin giat mengirigasi, memupuk, dan menyemprot pestisida pada sawah mereka. Gabah-gabah yang mulai gemuk berisi menjadi pemandangan yang sangat menyejukkan hati mereka. Ketika asyik bekerja sambil bermain-main, seekor ular berbisa menggigit kaki Jaka. Spontan, ayah Jaka pun membawanya pulang ke rumah.

Jaka dirawat oleh seorang mantri terkenal di desa yang akan dibayar setelah panen nanti. Ayah Jaka merasa sangat geram terhadap ular-ular di sawahnya yang telah menyakiti anak semata wayangnya itu. Ia mengajak warga beramai-ramai memburu ular di sawah. Hingga pada akhirnya, ular-ular di sawah dapat diberantas. Warga desa, terutama ayah Jaka pun merasa lega.

Seminggu istirahat, kaki dan tubuh Jaka berangsur-angsur membaik. Ia kini dapat kembali bersekolah dan bermain dengan teman-temannya kembali. Jaka juga ingin kembali membantu ayahnya bekerja di sawah. Ia merindukan pemandangan sawah yang baginya seperti ladang emas. Namun, ayahnya tidak mengizinkannya. Ayah Jaka takut apabila masih ada ular yang dapat mengancam keselamatan Jaka.

”Ayah, aku ingin membantu Ayah mengairi sawah,” rengek Jaka kepada ayahnya.
”Jangan, Jaka! Kamu masih belum sembuh benar. Ayah juga khawatir masih ada ular di sawah ini!” kata Ayah Jaka dengan agak cemas.
”Tapi aku ingin membantu Ayah,” Jaka kembali merengek.
”Baiklah, Ayah beri kamu tugas berat. Kamu harus menjaga jagung rebus kita di saung. Jangan sampai Si Kancil mencurinya!” kata ayah Jaka lembut.
”Ayah, kancil itu makan ketimun, bukan jagung!”

Canda Ayah membuat Jaka tertawa. Kemudian mereka beranjak ke saung di tengah sawah dengan senyum lebar. Sambil membaca buku pelajaran yang dibawanya, Jaka duduk di saung berhadapan dengan sepiring jagung rebus yang masih hangat. Sesekali matanya melirik ke arah ayahnya yang bermandi peluh. Ia kasihan kepada ayahnya yang bekerja sendirian.

Empat hari lagi waktu panen tiba! Sebentar lagi mereka pun dapat melunasi hutang-hutang mereka. Selain itu, Jaka juga dapat membeli buku-buku pelajaran untuk menghadapi semester baru. Genting yang bocor akan diperbaiki, dan angan-angan untuk membeli sepeda akan terwujud. Waktu panen adalah saat yang paling membahagiakan bagi mereka.

Menyambut waktu panen, Jaka semakin riang dan Ayah bekerja lebih semangat. Mereka pergi ke sawah dengan ceria. Selama dua hari mereka tidak ke sawah karena hujan. Hari ini mereka pasti akan tersenyum melihat gabah yang gemuk-gemuk di sawah. Jaka membawa satu sak pupuk dan Ayah menjinjing semprotan pestisida. Setiap langkah mereka jalani dengan lagu riang gembira.

Sawah mulai terlihat membentang di hadapan mereka. Langkah mereka pun dipercepat. Tidak sabar mereka untuk bermain-main di tengah sawah yang coklat keemasan.

Semakin dekat mata mereka memandang ke sawah, semakin cepat langkah mereka. Namun, senyum di wajah mereka berganti menjadi ekspresi kekecewaan. Air mata menetes di atas tumpukan padi yang telah rusak.

Gabah-gabah kosong menganga di pucuk tanaman padi yang mereka rawat sejak lama. Barisan padi-padi tidak teratur lagi. Patah, hancur, sehancur hati mereka. Keceriaan pun sirna dari raut muka mereka. Hanya terlihat orang-orangan sawah yang berdiri dengan wajah galak, bodoh! Tidak ada burung-burung yang menghinggapi sawah. Biji-bijian yang selalu menarik mereka itu kini telah lenyap.

Beceknya lahan yang mengotori pakaian tidak mereka hiraukan. Mereka berjalan terseok-seok menuju saung. Saung yang biasanya ramai dipenuhi canda dan tawa seakan turut berduka. Tubuh ayah dan anak itu terhuyung-huyung diterpa angin, seperti batang-batang padi rusak yang mereka saksikan. Jaka celingukan memandangi sekeliling saung. Hanya padi-padi yang mulai menghitam dan mengering yang dapat ia pandang. Harapan-harapan mereka kini terkubur dalam.

”Ayah, kenapa sawah kita rusak? Apa karena ular-ular dibunuh?” tanya Jaka pelan. Ayah Jaka hanya terdiam. Mulutnya tak sanggup berucap lagi. Penyesalan yang begitu besar tak terbendung. Lama-kelamaan air mata semakin deras menitik di pipinya. Pria paruh baya itu hanya berkata ”Maafkan Ayah, Nak. Maafkan Ayah”. Sambil mendekap Jaka, Ayah mengucapkan kalimat itu terus menerus.

Petang mulai menjelang. Kelelawar mulai beterbangan di atas sawah. Warnanya yang hitam senada dengan kondisi sawah dan hati mereka yang duduk terpaku di kolong jerami atap saung. Mentari terbenam di celah antara dua gunung yang terbentang di ujung lahan persawahan. Langit mulai gelap seiring dengan pilu yang mereda. Kantuk dan lapar pun mulai mendera.

”Ayah, ayo kita pulang!” ajak Jaka kepada ayahnya.

”Iya, Nak. Kamu pulang duluan, ya. Ayah akan menyusul. Makanlah di warung Bu Ijah! Katakan kepada Bu Ijah, nanti akan ayah bayar!” Jaka pun pulang, sementara ayahnya masih duduk bersandar di saung. Tatapannya kosong, lesu, rambutnya berantakan. Namun rupanya tertutup oleh gelapnya malam.

Sudah larut malam, ayah belum pulang. Jaka mengkhawatirkan ayahnya. ”Sudah malam, tapi kenapa Ayah belum pulang?” gumamnya dalam hati. Jaka tidak bisa tidur. Ia menunggu ayahnya pulang sampai pukul 2 malam. Ia sempat berpikir untuk mencari ayahnya ke sawah, namun di luar sangat gelap. Ia takut tersesat di jalan.

Perjalanan dari rumah ke sawah menghabiskan kira-kira 1 jam dengan melewati jalan desa, perkebunan, dan sungai yang arusnya deras. Penerangan di desa sangat minim. Jaka terus mempertimbangkan rencananya pergi ke sawah. Hingga akhirnya mata Jaka tak kuasa menahan kantuk. Perlahan mata Jaka menutup dalam posisi duduk di kursi.

Pagi harinya, kokok ayam membangunkan Jaka. Seketika setelah matanya terbuka, yang terbesit dalam benak Jaka hanyalah ayahnya. Dicari ayahnya di setiap sudut rumah, hingga sepanjang jalan menuju sawah.

Di ujung jalan desa, terhampar sawah dengan padi yang layu. Di pusatnya terdapat saung kecil yang didalamnya seseorang tidur dengan tubuh melingkar. Jaka panik mendapati ayahnya yang pucat tergeletak lemas di pembaringannya tanpa alas dan selimut. Belum lagi ayahnya itu kemarin tidak makan selama sehari penuh. Jaka pun berlari sambil menangis ke dalam desa mencari pertolongan.

Dengan digotong warga setempat, ayah Jaka dibawa ke rumah. Pak Mantri datang memeriksa kondisi ayah Jaka. Jaka berlari ke dapur mengambil baskom berisi air dan kain untuk mengompres ayahnya. Tak lupa air dan bubur ayam dibelinya untuk ayahnya yang lemah tak berdaya di ranjang. Ranjang yang digelar di lantai itu dirapihkan supaya ayahnya nyaman. Diselimuti ayahnya dengan kain sarung dan disuapi dengan penuh kasih sayang. Meski telah siuman, ayah Jaka belum beucap sepatah kata pun. Jaka hanya menebar senyum menutupi hatinya yang menangis. Setiap tetes air mata disekanya segera. Jaka tahu, ayahnya ingin anaknya selalu tersenyum.

Pak Mantri kebingungan menyelidiki penyakit ayah. Satu-satunya tabib yang selalu diandalkan di desa ini hanya menggeleng kepala saat Jaka bertanya mengenai keadaan ayah. Akhirnya, Pak Mantri menyerah. Dengan gugup, ia menyimpulkan bahwa ayah Jaka baik-baik saja.

”Ayahmu ti..ti..tidak apa-apa. Ia hanya butuh istirahat.”

Kebohongan terbaca jelas oleh Jaka dari mata Sang Tabib. Keringat Pak Mantri mengucur ketika matanya diperhatikan oleh Jaka. Pak Mantri buru-buru keluar menyudahi situasi tak enak ini. Warga yang berkumpul di rumah Jaka pun keluar setelah mendoakan ayah Jaka.

Tersisa satu orang yang masih bersila di ujung kasur. Dia adalah Ratno, teman sekolah Jaka.
”Kamu percaya apa yang dikatakan Pak Mantri, No?” tanya Jaka mengawali perbincangan.
”Tidak, aku tidak pernah percaya pada Pak Mantri,” jawab Ratno singkat. ”Aku lebih percaya dokter.” sambung Ratno.
”Tapi mana ada dokter di sini?” tanya Jaka sambil menyuapi ayahnya.
”Aku pernah dibawa ibuku ke dokter di kota. Kurasa aku bisa membawamu ke sana. Tidak terlalu jauh dari perbatasan.”
”Benarkah? Apa nanti siang kamu bisa mengantarku?” pinta Jaka penuh harap. Semangat Jaka mulai timbul. Ia bertekad untuk menyembuhkan ayahnya.
”Mmmmm…” Ratno bergumam sambil berpikir.
”Iya, iya. Setelah itu aku buatkan jagung rebus,” Jaka menawarkan makanan kesukaan Ratno setelah mengantarnya ke dokter.
”Padahal aku tidak meminta imbalan lho, tapi kalau kamu menawariku, aku mau.”.
”Hahaha… Kamu ini!” Jaka dan Ratno tertawa pelan.

Tiba-tiba, keceriaan itu terinterupsi saat seseorang menggedor pintu dengan keras. Serentak Jaka dan Ratno bangkit menuju pintu. Berdiri tegap sesosok lelaki kekar memasang tampang garang.

”Hoooi!” tak tahu sopan santun, dia berteriak di rumah orang seenaknya. ”Ada apa ya, Bang?” tanya Jaka.
”Mana utang Bapak kau? Bayar sekarang!” Pria itu berkata dengan kasar sambil menjulurkan tangan minta uang.
”Maaf, Bang. Ayah saya sedang sakit dan kami belum punya uang. Sawah kami gagal panen.”

”Masa bodo! Saya cuma mau uang yang dipinjam Bapak kau, lima puluh ribu!” Jaka bingung bagaimana mendapatkan uang sebanyak itu. Kemudian Ratno memberikan selembar uang lima puluh ribu kepada pria galak itu.

”Lho, No. Kenapa kamu beri uangmu ke Abang ini?” tanya Jaka merasa tidak enak.
”Sudahlah, anggap saja ini bayaran karena kamu sering beri aku jagung rebus.” jawab Ratno sambil memasukkan kembali dompetnya ke dalam saku.

“Terimakasih ya, No. Aku akan berusaha kembalikan uangmu itu.” Pria yang menagih utang itu pun pergi tanpa permisi dan salam. Memang, biasanya orang yang berhutang kurang dihormati. Orang yang terbelit utang seperti ayah Jaka sering dimaki-maki orang dan dilecehkan, namun Ayah Jaka tetap sabar.

”Sementara kita ke dokter, biar Si Mbok yang merawat ayahmu ya, Jak!” Satu lagi kebaikan Ratno yang membuat Jaka merasa semakin berutang budi. Jaka memang kebingungan mencari orang yang bersedia merawat ayahnya ketika ia pergi ke kota. Untungnya Ratno memiliki pembantu yang baik kepada keluarga Jaka. Mbok Inem sering memberi makanan kepada Jaka dan ayahnya saat mereka kelaparan.

”Ayah, aku dan Ratno akan ke kota mencarikan dokter untuk mengobati ayah. Ayah akan dirawat Mbok Inem sampai aku pulang,” Dengan lembut Jaka memberi pesan kepada ayahnya. Ia mecium dahi ayahnya. Tanpa sadah air mata Jaka menetes di dahi ayahnya. Setelah salim kepada ayahnya, Jaka pun berjalan keluar.

”Jaka,” terdengar suara ayah, Jaka berbalik menghampiri ayahnya.

”Hati-hati, Nak!” suara ayah Jaka yang tersengal-sengal sangat memilukan hati Jaka. Ia tak kuasa membendung air matanya. Segera ia berbalik dan keluar. Air matanya pun tumpah saat melangkahkan kakinya keluar rumah.

Jaka dan Ratno pergi dengan sepeda. Bergantian mereka mengayuh sepeda itu. Apabila lelah mulai mendera, mereka beristirahat dan makan jagung rebus yang dibawa Jaka. Dalam perjalanan, mereka mengobrol sambil bersenda gurau. Terik mentari yang menyengat tak menyurutkan semangat mereka. Meski peluh membanjiri tubuh, kaki mereka tetap kuat mengayuh sepeda cepat.

Empat jam mengayuh, mereka sampai di kota tujuan. Mereka berhenti sejenak memarkir sepeda. Jaka pergi ke warung hendak membeli minum untuk bekal di jalan, sedangkan Ratno menunggu di sepeda. Ratno melihat seorang fakir bersimpuh lesu di pinggir jalan. Ia menghampirinya dan menaruh uang dua ribu rupiah di tangan pengemis yang menengadah sejak tadi. Tiba-tiba wajah yang memelas berganti menjadi tampang bengis. Tangan Ratno ditarik pengemis itu dengan kuat hingga jatuh di dekapan pengemis kotor itu. Diseretnya Ratno ke gang sempit dan dipukuli.

”Serahkan semua uangmu! Kalau tidak, akan kurebut secara paksa!” ancam Si Pengemis sambil mengepalkan tangannya. Jaka yang melihat kejadian itu langsung berlari mengitari blok meninggalkan Ratno yang ditendangi berkali-kali, dicekik, hingga tak berdaya.
Jaka mengendap-endap di belakang pengemis yang sedang mencekik Ratno di depan tembok. Dengan keras Jaka memukul kepala pengemis kejam itu dengan batu.

Ratno terbebas namun masih kesulitan bernapas.

”No, cepat lari ke sepeda!” teriak Jaka.
Ratno berjalan sempoyongan mengambil sepeda. Jaka masih menghadapi pengemis yang tengah kesakitan. Dua pukulan dihujamkan ke kepalanya hingga jatuh.

Kemudian Ratno datang dengan sepedanya.
”Ayo, Jak! Cepat naik!” Jaka berlari menuju Ratno yang mulai mengayuh sepedanya. Ia melompat ke sepeda dan mereka melaju cepat.
Si pengemis belum menyerah. Ia bangkit dan mengejar dua anak itu.
“Hei! Anak itu pencuri!” Teriakan pengemis membuat warga ikut mengejar Ratno dan Jaka. Bahkan banyak yang mengejar mereka dengan sepeda motor.
“Apa rencanamu, Jak?” tanya Ratno sambil tergopoh-gopoh.
“Kalau kita berhenti untuk menjelaskan yang sebenarnya, tentu kita akan babak belur sebelum mengatakannya. Jadi lebih baik kita kabur!” kata Jaka sambil meminum air yang dibelinya tadi.

“Ini, minum dulu, No!” Jaka menyodorkan botol minumnya kepada Ratno. “Kamu baik-baik saja kan?” tanya jaka.
“Sudahlah, yang terpenting kita lolos dari amuk massa!” jawab Ratno sambil mengembalikan botol.

Ratno memacu sepedanya. Berkelok-kelok keluar masuk gang-gang sempit, kebun, dan akhirnya mereka berhasil lolos dari kejaran masyarakat. Ratno kembali ke jalan raya dan mencari rumah Pak Dokter. Sekitar setengah jam berputar-putar, mereka menemukannya. Mereka masuk dan duduk setelah dipersilahkan Pak Dokter.

“Adik sakit apa?” tanya dokter kepada Jaka yang duduk di seberang meja.
“Ayah saya yang sakit, Pak” ujar Jaka.
“Ayah kamu mana?” tanya Pak Dokter penasaran.
“Di rumah. Apa bapak bisa ke rumah saya? Ayah saya sakit parah, Pak!” pinta Jaka dengan nada khawatir.
”Tidak bisa, Dik. Saya hanya praktik di sini. Kalau ayahmu mau berobat, bawalah dia kemari!”
”Tolonglah, Pak. Ayahnya tidak mampu pergi kesini!” bela Ratno.
”Maaf ya, Dik. Saya hanya mau dipanggil ke rumah jika ada bayaran tinggi.”

Jaka sangat kecewa, namun ia hanya menyembunyikan wajah kesalnya. Ratno terus membujuk Pak Dokter, namun selalu gagal.
”Huh! Zaman sekarang banyak terjadi kapitalisasi di dunia kedokteran. Jasanya bukan lagi untuk kemanusiaan, tetapi untuk materi semata.” celetuk Ratno.

Dokter pun naik darah. Raut kesal mulai tergambar di wajahnya. Kekesalan pun merambat ke tangannya. Jaka dan Ratno diseret ke pintu keluar. Mereka pun keluar diiringi kata-kata dingin dari Dokter.

”Dasar orang miskin! Kalau berobat cari saja dukun di kampung kalian!”
Benar-benar kalimat yang menusuk telinga. Tetapi kata-kata setajam itu tak lantas mengoyak kesabaran mereka. Mereka masih dapat mencari dokter lain atau mengunjungi apotik.

Dua sekawan itu keluar dari pintu dengan penuh penyesalan. Sesampainya di luar, mereka dikejutkan dengan berpuluh pasang mata memandang mereka tajam. Mereka dikepung kerumunan massa yang tadi mengejar mereka. Di barisan terdepan ada beberapa polisi. Untunglah, mereka terhindar dari hajaran massa yang marah itu. Polisi membawa mereka ke kantor polisi setempat. Sepeda Ratno diangkut dengan truk yang mereka tumpangi.

Di kantor polisi, mereka dimintai keterangan. Lama benar mereka duduk dan ditanyai ini-itu. Akhirnya keduanya dilepaskan karena tidak terbukti bersalah. Mereka lega karena dapat melanjutkan misi mereka. Hari mulai gelap, perut mereka mulai keroncongan. Sejak pagi hanya sepotong jagung rebus yang masuk ke perut mereka. Mereka pun mencari rumah makan di daerah itu. Beruntung, mereka menemukan rumah makan dan apotek yang bersebelahan. Pertama, mereka pergi ke apotek mencari obat untuk ayahnya.

”Ada yang bisa saya bantu?” tanya apoteker menyambut kedatangan Jaka dan Ratno.
Apoteker ini berbeda dengan dokter yang mereka temui sebelumnya. Dia ramah dan sopan. Jaka pun menjawab, ”Saya mencari obat untuk ayah saya yang sedang sakit.”
”Ayah adik sakit apa?” tanyanya kembali.
”Saya tidak tahu, Mas. Tapi kelihatannya parah!” ujar Jaka tegas.

”Bisa Adik jelaskan gejala yang timbul pada ayah Adik?” tanya apoteker penasaran. Jaka berpikir sebentar untuk mengingat gejala penyakit yang timbul pada ayahnya kemudian menjawab dengan lantang, ”Badannya panas, selain itu timbul bintik-bintik merah di tubuhnya.”
”Wah, itu gejala demam berdarah, Dik. Sebentar, saya ambilkan obatnya,” Apoteker itu memasukkan beberapa bungkus tablet dan kapsul obat ke dalam kantung plastik. Kemudian kantung itu diserahkan kepada Jaka.

”Ini, Dik. Semoga ayahmu cepat sembuh!” kata apoteker saat memberikan obat kepada Jaka.
”Terimakasih, Mas. Berapa biayanya?” tanya Jaka.

”Lima belas ribu, Dik.” Jaka memberikan lima belas lembar uang pecahan seribu rupiah yang ditabungnya dari uang saku yang setiap hari ayahnya berikan. Setelah mendapatkan yang mereka cari, mereka pun keluar apotek dengan riang.
”Ayah, aku sudah mendapatkan obat untuk Ayah. Semoga Ayah sembuh dan kita dapat bekerja lagi” gumam Jaka sambil tersenyum. Jaka begitu senang. Ia tidak sabar melihat kesembuhan ayahnya.

Jaka dan Ratno memasuki sebuah rumah makan yang di dalamnya ramai sekali. Mereka duduk berdampingan di sebuah kursi panjang dari kayu.
”Mau makan apa, Dik?” tanya ibu pemilik warung.
”Minta dua porsi nasi dengan lauk telur dadar dan tempe goreng ya, Bu.” Jaka dan Ratno sepakat untuk memilih menu tersebut karena sesuai dengan sisa uang mereka sekarang. Mereka pun makan dengan lahap.

Hari sudah malam. Mereka tidak dapat melanjutkan perjalanan karena perjalanan menuju desa tidak memungkinkan tanpa penerangan di jalan desa. Akhirnya mereka pun meminta izin untuk beristirahat di kursi panjang yang ada di depan rumah makan. Hingga warung tutup, mereka baru boleh tidur di situ.
Berbeda dengan di desa, yang membangunkan mereka di pagi hari bukanlah kokok ayam dan cicit burung, melainkan kebisingan kendaraan bermotor. Mereka pun lekas-lekas pergi meninggalkan kota menuju kampung halaman mereka. Kali ini Jaka yang mengayuh sepeda. Ia mengayuh dengan semangat. Waktu tempuh pun begitu cepat. Tidak sampai tiga jam, mereka berhasil melampaui berbagai medan seperti sawah, kebun, bukit, dan sungai hingga sampai ke desa mereka. Rumah Jaka mulai terlihat. Meski kecil dan kusam, Jaka melihatnya sebagai surga dimana seorang malaikat beristirahat di dalamnya. Jaka berlari menuju rumah sambil mengucap salam. Ia akan melepas rindu setelah satu hari tidak bertemu ayahnya. Ratno mengikutinya dengan berjalan. Senyumnya merekah melihat Jaka yang sangat bahagia. Dengan kasih sayang yang selalu ditebarkannya, Ratno merasa dunia di sekitar Jaka terasa begitu indah, sehingga ia merasa nyaman saat berada di dekatnya.

Ratno menapaki teras rumah Jaka dengan perlahan. Daun pintu yang ia pegang menjadi puncak kebahagiaan melihat temannya sebelum terjadi antiklimaks yang begitu terjal. Bukanlah kasih sayang ayah dan anak yang ia lihat, melainkan dua kepala yang tertunduk lesu dan suara isak tangis mereka. Ratno mendekati Jaka dan Mbok Inem yang duduk berhadap-hadapan. Ia melihat kasur ayah Jaka yang telah kosong. Tanpa perlu penjelasan, ia bersimpuh di samping Jaka melakukan hal yang sama dengannya. Obat dari apotek diremas kuat oleh Jaka. Melihat tetes-tetes air mata yang jatuh dengan deras membuat Ratno tak kuasa menahan haru. Jaka pun semakin meluapkan kesedihannya. Tiga orang yang duduk di ruangan itu menangis sejadi-jadinya.

Seminggu kemudian, Jaka mulai ikhlas menerima kepergian ayahnya. Mbok Inem pun mengajaknya berziarah ke makam ayahnya Ratno dan kedua orangtuanya pun ikut bersama mereka. Keharuan kembali pecah di atas batu nisan ayah Jaka. Ditengah tangis mereka, Mbok Inem memberikan sepucuk surat kepada Jaka dari Ayahnya. Tak lupa satu pesan terakhir dari ayahnya, yaitu: ”Jangan Berubah Meski Ayah telah Pergi!”

Sepuluh hari menumpang di rumah Ratno, Jaka hendak kembali ke rumahnya. Ia tak mau lagi merepotkan keluarga Ratno. Karena utang-utang ayahnya telah dilunasi keluarga Ratno, ia merasa terbantu dan akan berusaha bekerja kembali di sawah. Namun Jaka tidak diizinkan pergi. Orangtua Ratno yang telah mengenal baik tabiat Jaka bersedia menuruti permintaan Ratno, yaitu menjadikan Jaka saudaranya. Jaka dan Ratno pun menjadi dua bersaudara yang hidup bahagia.

  Cerpen Romantis

Cerpen Sedih – Aku, Hidup dan Dina

Suara sirene itu membangunkanku, aku harus segera pergi dari sini. Petugas penertiban sebentar lagi akan datang dan menjerat kami, menjerat aku dan puluhan gelandangan lain yang sedang terlelap. Aku berlari menjauhi suara sirene, dan berusaha lari secepat mungkin. Aku takut petugas akan menemukan botol minuman keras yan kupunya atau jarum suntik yang kugunakan. Namun, wajah anak itu menggangguku, dia berdiri di hadapanku, wajahnya ketakutan dan kesepian. Aku memandanginya pelan, anak gelandangan yang mana ini, dan kemana ibunya, pikirku kesal. Suara sirene yang mengaum-ngaum mengganggu telingaku dan membuatku bergerak reflek, menggendong anak itu, berlari menjauh, dan bersembunyi.

Anak itu masih ketakutan dan berdiri diam di sampingku. Dia sangat kesepian dan kehilangan sepertinya. Aku berusaha ramah padanya, kuusap kepalanya, dan kukenalkan namaku padanya. “Vito,”kataku pelan sambil menjulurkan tanganku padanya. “Panggil saja bang Vito, nama kamu siapa, kenapa kamu tadi sendirian,”tanyaku pada anak itu. Anak itu masih saja diam dan ketakutan, tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Mungkin ia takut melihat rambut gondrongku, dan baju rombengku. Aku berusaha tersenyum kaku dan agak sedikit resah, akan kuapakan anak ini.

Setelah tiga hari ikut bersamaku, anak itu baru mau buka suara. Tadinya kupikir dia bisu, ternyata dia hanya penakut saja. Dina, namanya. Dia berumur enam tahun, ditinggalkan oleh ibunya di pingir jalan saat sedang jalan-jalan sore, dan sejak itu ia jadi menggelandang dan tak punya rumah. Dia juga sempat mengira aku adalah penculik yang berusaha menculiknya dan akan menjualnya ke orang jahat. Karena selama ia sendirian di jalanan, ia sudah hampir tiga kali diculik untuk dijual. Hatiku sangat sedih mendengar cerita malangnya. Ternyata ada ibu sejahat itu di dunia ini, entah apa yang dipikirkan ibu itu saat meninggalkan anaknya sendirian di jalan ramai. Entah mengapa, aku memutuskan untuk mengajak Dina ikut bersamaku sampai dia menemukan keluarganya kembali.

Aku sudah kehabisan uang, dan tak ada cukup uang untuk memenuhi kebutuhan makanku dan Dina. Biasanya sebelum bertemu Dina, bila sudah kehabisan uang, aku akan mencopet, memalak orang, atau mengemis di pinggir jalan, meminta belas kasih orang-orang yang lewat. Dan sekarang itu menjadi hal terakhir yang akan kulakukan. Namun saat aku hendak melakukan itu kali ini, aku ditahan oleh tangan mungil Dina. “Jangan Bang, jangan mengemis, kata ibu, kita harus bekerja bila hendak mendapat uang. Jangan hanya menadahkan tangan seperti orang lumpuh. Kita harus punya harga diri, Bang,”katanya polos, namun begitu meusuk ke hatiku. Harga diri, kata yang hampir tak pernah ada dalam sejarah dua puluh lima tahun aku hidup di dunia ini.

Sejak kecil, aku sudah menjadi anak jalanan , yang tak jelas dimana rumahku, atau siapa orang tuaku. Tak ada yang kuingat pernah menjadi orang tuaku, kecuali Bang Andi yang ‘mengasuhku’ untuk menjadi copet yang nantinya akan diberi makan olehnya. Bang Andi tentu tidak dapat dikategorikan sebagai orang tua yang sesungguhnya. Masa kecilku diisi oleh belajar mencuri, mengemis, mencopet, ataupun memalak anak sekolahan yang lewat. Sungguh aku tak punya harga diri sejak kecil. Namun aku tak peduli. Untuk apa harga diri, kalau tak bisa dapat uang, keluhku sambil menatap kesal Dina yang masih saja mengingat pesan ibunya padahal ibunya telah meninggalkannya sendirian.

“Tapi kita butuh makan, bukan butuh harga diri, Dina. Lagian menadahkan tangan kan juga kerja namanya. Sudah biar aku cari uang, kau duduk saja disana,”kataku dengan nada bicara yang agak keras pada Dina, gadis kecil yang malang itu. Setelah mendapatkan cukup uang hasil mengemis, aku menghampiri Dina yang duduk melamun di bawah pohon rindang. Aku membawa dua bungkus nasi uduk dan dua gelas air mineral. Satu untukku, dan satu untuknya. Kusodorkan bagiannnya, namun Dina menggeleng. “Aku tidak lapar, Bang. Terima kasih,”katanya pelan sambil menolak pemberianku. Aku sangat bingung. Dina tak mungkin tak lapar, dia sudah dari semalam tidak makan dan minum, sama sepertiku. Aku saja yang orang dewasa begini sudah lapar setengah mati . Namun aku hanya diam, tak bertanya apapun lagi pada Dina.

Sore itu, airmata Dina mengalir deras. Bukan karena ia lapar, atau karena tempat kami tidur sekarang hanyalah trotoar sepi, tidak seperti kemarin di lantai gedung lama itu. Aku berusaha menenangkannya, perlahan tangisnya mereda dan dia bercerita sambil sesenggukan. Ternyata Dina merindukan ibunya, yang telah lebih dari tiga bulan meninggalkan dirinya. Aku menenangkan Dina, walaupun aku tak pernah merasakan kasih sayang ibu, namun aku juga merasakan pedihnya tak punya ibu. Ah, ibu, entah siapa dan dimana engkau sekarang. Tiba-tiba saja Dina memelukku dan berkata, “Aku berharap Bang Vito akan menjadi abangku selama tak ada ibu disisiku”. Tanpa sadar, air mataku menetes.

Malam itu, aku meninggalkan Dina yang sedang terlelap di masjid itu. Aku menuju rumah seorang teman lamaku , seorang teman yang menawarkanku untuk bekerja. Pekerjaan yang katanya akan menghasilkan banyak uang, namun membutuhkan keberanian dan pengorbanan. Aku berpikir cukup lama untuk menerima pekerjaan ini, namun aku mengingat Dina, yang kelaparan, yang bajunya kumal, dan setiap malam kedinginan karena kami tak punya tempat tinggal. Akhirnya aku memutuskan untuk bekerja dengan temanku itu.

Aku bekerja sebagai pembalap, alias joki malam yang dijadikan taruhan bagi para pecinta judi dan balap. Aku dibekali sepeda motor yang sangat kencang jalannya. Aku memang suka ngebut di jalanan, tapi aku tak pernah menjadi joki malam sebelumnya. Pada awalnya, aku takut pada polisi dan kematian yang bisa datang iba-tiba merenggut nyawaku. Namun, semakin sering aku memutar gas, maka semakin tenang aku dalam berlomba. Tentu saja aku harus balapan pada malam hari, karena jalanan kota baru akan sepi diatas pukul dua belas malam. Aku seringkali khawatir pada Dina tiap kali aku meninggalkannya. Namun, ini semua pun kukerjakan untuk Dina, dan bila aku menjadi pemenang dalam tiap balapan, aku akan dapat uang hasil taruhan.

Kehidupanku semakin membaik, begitu juga Dina. Ia tak lagi merasa sedih dan mulai melupakan kerinduan pada ibunya. Aku berhasil mengontrak sebuah kamar kecil dengan uang hasil menjoki selama lima malam. Sekarang aku tak khawatir meninggalkan Dina sendirian, karena kami sudah punya tempat tinggal. Kenapa tidak sejak dulu saja aku bekerja seperti ini, sesalku. Kalau saja aku sudah menjadi joki malam sejak dulu, mungkin aku sekarang sudah kaya.

“Bang, sebenarnya kerja apa sih? Aku kok tak boleh tahu,”keluh Dina padaku. Ia sudah berulang kali mendesak ingin tahu apa pekerjaanku. Namun aku tetap diam, tidak menjawab pertanyaannya. Memang aku tidak mengemis lagi, atau mencuri, namun aku takut Dina akan sedih bila tahu pekerjaanku apa. Namun Dina terus mendesak, akhirnya kukatakan yang sebenarnya.

Seperti dugaanku, Dina sangat takut dan sedih sekali, dia menangis sejadinya. Dia khawatir bila aku kecelakaan ataupun ditangkap polisi karena ngebut di jalan raya. Namun aku menenangkannya, dan berusaha meyakinkannya kalau aku ini adalah seorang pembalap handal yang tak mungkin kecelakaan. “Abang kan hebat, jadi Dina nggak usah cemas deh,” kataku dengan nada santai. Dina hanya mengangguk sambil mengusap air matanya.

Malam itu, saat aku akan berangkat kerja, Dina menarik tanganku dan berkata, “ Aku ingin Bang Vito tinggal di rumah malam ini, jangan pergi balapan ya,”pintanya pilu. Sangat menyedihkan bila kulihat wajahnya, yang sampai sekarang masih terlihat kesepian. Namun aku terlanjur janji untuk menjoki dengan baik malam ini, karena taruhan malam ini sangat besar menurut temanku. Tatapan mata Dina memintaku untuk tinggal, namun hatiku berkeras ingin pergi dan mendapatkan uang. Anak ini kan makan juga dari uang menjoki ini, pikirku singkat. Kutepis tangan Dina, dan kuhilangkan tatapan matanya dari pandanganku, aku melarikan motorku kencang menembus angin malam yang dingin. Entah bagaimana dengan Dina, mungkinkah dia menangis sekarang?

Balapan liar siap dimulai. Para penonton telah sibuk memasang taruhan dan membunyikan mesin sepeda motor mereka kencang-kencang untuk pamer satu sama lain. Keadaan malam ini, adalah sisi lain dari kehidupan jalanan yang telah kukenal sejak kecil. Seorang temanku menepuk pundakku dan berseru, “Menanglah, uangnya sangat besar”. Aku hanya mengangguk senang, aku membayangkan uang yang akan kuterima bila aku menang nanti.Aku bertekad membelikan Dina boneka dengan uang itu nanti. Semua pembalap jalanan sudah siap di posisi awal, begitu juga aku. Saat tanda pertadinan dimulai, aku langsung menancap gas dengan kencang dan jalanan malam itu begitu sepi dan dingin.

Aku berada di posisi paling depan, sangat jauh dari pembalap yang ada di posisi kedua. Telah kurasakan aura kemenangan mulai menghampiriku. Sampai ketika kulihat wajah anak itu. Wajah yang sepertinya sangat kukenal. Wajah yang ketakutan dan kesepian. Ya, itu wajah Dina. Persis di hadapanku, aku berusaha sekuat tenaga menginjak rem di kakiku dan menarik rem tanganku sekuat mungkin. Ya Tuhan, aku harus berhenti sekarang. Aku tidak boleh menabrak Dina, satu-satunya orang yang dapat kuanggap keluarga dan menganggapku keluarga. AKu tidak mungkin mencelakakan adikku sendiri, tolong aku.

Bragh..Brug..Krekk..krekkk..krekkk..

Aku dapat merasakan bagian depan motorku telah menabraknya dan aku melihat tubuhnya tergilas perlahan oleh ban motorku yang baru akan melambat. Aku merasakan cipratan darah ke sekujur kaki dan wajahku. Aku dapat mencium aroma darahnya, darah yang ketakutan dan kesepian, darah Dina. Aku menelantarkan motorku ke tengah jalan raya. Dan kutatap tubuhnya yang berlumur darah dan sudah setengah hancur. Aku tak dapat menahan air mataku sedikit pun. Aku telah menabraknya, aku telah membunuhnya, padahal aku menyayanginya.

Dan tiba-tiba suara sirene menyadarkanku. Ini persis, persis seperti pertama kali aku melihat wajahnya yang ketakutan dan kesepian. Namun kali ini, aku tak akan lari, aku akan tetap diam disini, mempertanggungjawabkan apa yang telah kulakukan. Aku rela dipenjara sampai mati pun tak apa. Hari ini aku telah membunuh seorang anak yang ditinggal ibunya, yang menginginkanku menjadi abangnya, dan yang melarangku pergi untuk balapan. Tak ada lagi kebahagiaan antara aku dan Dina. Mungkin Tuhan membalasku sekarang, setelah sejak lama aku berlaku jahat dan melupakan-Nya. Ya, selama dua puluh lima tahun, baru kali ini aku menyebut nama Tuhan. Sekarang aku sadar, inilah akibatnya. Tuhan, masihkah kau sudi memaafkanku?

  Cerpen Cinta

Cerpen Sedih – The Forbidden Love

“Kan ku sayangi kau… sampai akhir dunia, dan kan kujadikan kamu wanita… paling bahagia diseluruh dunia, karna kamulah satu-satunya”

* by. Armada Band

Lagu yang berjudul “Wanita Paling Bahagia” ini dipopulerkan oleh band Armada dan lagu ini sangat berkesan untukku. Lagu ini adalah lagu kenangan antara aku dan Naka. Seperti hari ini, Naka selalu menyanyikan lagu ini untukku. Hari ini adalah hari ke-100 kami resmi berpacaran dan bertepatan dengan acara diesnatalis yang diadakan oleh kampusku. Band Naka adalah salah satu band yang tampil di acara itu. Entah kenapa lagu ini selalu membuatku percaya pada cinta seorang Naka, seorang vokalis band. Tatapanku tidak henti-hentinya menatap kagum Naka yang berada diatas panggung. Sahabat-sahabatku sangat iri dan sesekali mengejekku karena Naka menyanyikan lagu itu untukku.
“Cie… cie… yang baru ngrayain hari ke-100!!romantis abis… ” ucap Lea sambil sedikit nyengir.
“Hee… ” balasku singkat.

Entah apa yang membuatku jatuh cinta pada seorang Naka. Sebab aku adalah seorang antist anak-anak band terutama pada vokalis. Aku menganggap anak band adalah playboy, cowok yang memandang seorang cewek tidak lebih berharga dari peralatan band mereka. Tetapi mungkin aku termakan oleh kata-kataku sendiri. Hal ini terjadi ketika aku ikut kegiatan Bakti sosial yang diadakan oleh kampusku sekitar 4 bulan yang lalu. Karena tempat yang sangat jauh dan terpencil kami diharuskan menginap selama kegiatan itu. Disana kami menginap di satu rumah milik penduduk bersama 15 orang lainnya. Sehingga selama kami tinggal di sana, kami jadi lebih mengenal satu sama lain. Di sana aku sadar bahwa Naka adalah cowok yang lucu, sangat perhatian, tetapi terkadang kesepian dan itulah yang membuatku jatuh hati pada cowok tinggi itu. Lamunanku segera terpecah ketika lagu “wanita paling bahagia” telah berakhir. Lalu Naka segera turun dari panggung dan dengan senyum manis kutunggu Naka di bawah panggung. Tiba-tiba seorang cewek putih manis dan seumuran denganku datang menghampiri Naka yang baru turun dari panggung. Tanpa basa basi cewek itu segera memeluk Naka dengan mesra.

“Sayang… aku kangen banget sama kamu..” ucap cewek itu dengan manja.
“Nidy??? Kapan datang???” ucap Naka yang terlihat kaget.
“Kemarin. Aku pingin buat kejutan buat kamu, sayang… tapi aku terharu mendengar lagu tadi. Pasti lagu itu buat aku ya… kamu tahu ya kalau aku bakal datang,” ucapnya yang masih bergelayut dipelukan Naka.
“tapi… ” balas Naka sembari melepaskan pelukan cewek manja itu dan sedikit melirik kearahku yang masih berdiri kaku memandang kemesraan seorang cowok yang semenit yang lalu kusebut pacarku.

“Aku kangen banget sama kamu Naka… ” kata cewek bernama Nidy sembari menggandeng erat tangan Naka yang lalu menyadari keberadaanku didekat mereka.
“Sayang… cewek ini siapa?? Temen kamu ya?… Hi, kenalin aku pacarnya Naka” ucapnya sembari mengulurkan tangannya kearahku.
“Nama..namaku Densha” jawabku sembari berusaha untuk tersenyum

“Tapi aku harus pinjam Naka dulu, ga’ apa-apa kan, sha??” tanyanya basa basi, tanpa perlu jawaban dariku dia langsung menarik tangan Naka menjauh dariku.
Tanpa kusadari air mataku menetes membasahi pipiku. Tiba-tiba, Rena sahabatku menghampiriku.

“Ya alloh, kamu ngga’ apa-apakan, sha??” tanya Rena
“Tidak apa-apa kox, ren… aku ngga’ apa-apa” balasku segera menghapus air mataku

“Sha… kamu jangan sok kuat kayak gitu, kalau kamu pingin nangis..menangislah jangan kamu tahan, biar perasaanmu lebih enakan… semua orang pasti bakal merasa sakit ketika pacarnya berada dipelukan cewek lain, itu perasaan yang wajar dan syah-syah aja kox” ucap Rena.
“Benarkah??? Tidak apa-apa? Apa aku tetap boleh menangis, ketika pacarku pergi dengan pacar sebenarnya??? Apakah aku boleh marah ketika aku sadar kalau aku hanyalah seorang selingkuhan cowok itu?? Apakah masih wajar perasaanku ini,ren???”

Air mataku jatuh tidak bisa kutahan lagi. Hatiku sangat sakit… inginnya aku menampar cewek itu, menarik rambutnya hingga tercabut dari kulit kepalanya, tapi aku sadar, aku berada diposisi yang salah. Aku yang berada diantara mereka, akulah pengganggu di hubungan mereka. Dan sudah seharusnya aku yang mundur dari cinta bercabang ini. Aku tidak pernah tahu kalau aku akan melanggar batas itu. Tetapi aku tidak bisa menahan rasa cinta ini, ketika Naka juga mempunyai perasaan yang sama. Aku selalu menghindar untuk berpikir tentang apa yang akan dirasakan oleh cewek itu ketika tahu bahwa pacarnya mempunyai hubungan yang lain. Aku tidak ingin memikirkan hal itu. Karena aku tahu bahwa akulah yang bersalah, tetapi keegoisanku mengalahkan segalanya. Dan hal yang aku takutkan telah terjadi tepat didepanku. Dan ternyata itu lebih sakit dari ketika aku menahan rasa cintaku untuk Naka.

“Sepertinya aku harus mengakhiri ini semua, Ren… ” ucapku yakin.
“Apa kamu yakin???”

“Aku tidak punya pilihan, aku merasa bersalah pada wanita itu dan aku juga tidak punya keberanian untuk menuntut Naka memilih antara aku dengan cewek itu” balasku

**********

“Maaf’in aku, Sha… Bukannya aku mau meninggalkan kamu sendiri tadi. Tapi… ” ucap Naka terputus olehku.
“Aku ngerti kox, Ka… kamu ga’ usah merasa bersalah seperti itu” balasku sembari tersenyum.
“Kamu yakin??? Aku benar-benar khawatir sama kamu, Sha. Aku..”
“Aku ingin… aku ingin kita putus, ka.” Ucapku tiba-tiba
“apa maksudmu, sha… aku tahu tadi seharusnya aku tidak pergi begitu saja… ”
“ Kamu sudah melakukan hal yang benar, Ka. Kalau kamu tidak lakuin itu, aku juga ga’ bakal sadar dimana posisi aku”
“Sha… kamu kox ngomong kayak gitu, aku kan sudah janji sama kamu kalau aku akan… aku akan… ”
“Putus?!? Kamu bilang kamu mau mutusin cewek itu kan?”
“Tentu, aku akan putusin dia… ”

“Setelah aku pikir, aku tidak bisa sejahat itu, ka. Aku tidak bisa bertahan dengan hal itu. Aku minta ma’af… aku tidak bisa” ucapku menahan tangisku
“Densha… apa kamu sudah tidak cinta lagi sama aku?? Atau jangan-jangan kamu hanya mau mainin aku saja.”
“Aku tidak pernah main-main dengan ‘cinta’ Naka, tapi di sini aku tidak berhak mendapatkan cinta itu. Aku tidak bisa egois lagi… ”
“Bohong… !?! jawab pertanyaanku apa kamu cinta sama aku????”
“Aku… aku tidak cinta sama kamu… bohong jika aku mengatakan itu, ka. Kamu tau kan betapa besarnya cintaku padamu??tapi, aku tidak bisa… aku tidak bisa membiarkanmu memilih salah satu diantara aku dan cewek itu.”
“Kenapa kamu membuatku bingung, sha… apa maumu sebenarnya??kamu buatku jatuh cinta, membuatku punya hubungan rahasia dan sekarang ketika aku yakin untuk memilihmu kamu membuangku”
“Aku tidak pernah membuangmu, aku hanya membuatmu tidak memilih lagi… ”
“Tapi kamu membuatku tidak punya pilihan… kamu memaksaku,”

“Tolong, Naka… aku benar-benar tidak bisa… rasanya terlalu sakit! Biarlah semua jadi mimpi nyata diantara kita. Kalau memang cintamu sebesar itu padaku biarkan waktu dan Alloh yang menyatukan kita. Jalani hubunganmu dengannya sama sebelum kamu mengenalku… aku mohon! Wujudkan janjimu padaku untuk membuatku jadi wanita yang paling bahagia dengan terlepas dari cinta terlarang ini”
Walaupun aku mengatakan hal itu, dalam hatiku… aku masih percaya janjimu Naka. Janjimu untuk mencintaiku hingga akhir dunia dan menjadikan aku satu-satunya di hatimu. Mungkin suatu saat nanti itu akan terjadi tetapi dengan keadaan yang tidak seperti ini… aku percaya pada kekuatan takdir.

***

  Cerpen Pendidikan

Cerpen Sedih – Pelangi Abu-abu

Hujan…..

adalah satu satunya hal yang membuat diri saya dapat merasa relaks dan tenang
entah kenapa setiap kali awan mendung menyelimuti bumi yang diiringi dengan angin dingin yang berhembus, saya menjadi sangat senang
mungkin karena banyak memori indah yang terukir saat hujan datang
disaat orang orang menghindari agar tidak basah karena hujan, saya malah berdiri ditengah derasnya hujan untuk menikmati butiran butiran hujan turun dari langit.

merasakan butiran butiran hujan membasahi tubuh, merasakan hembusah angin dingin yang menghantam tubuh, kupandang langit yang luas dimana butiran butiran hujan turun dari langit yang tak terukur luasnya. Membayangkan sampai berapa lama saya dapat merasakan kesenangan ini ? Tak lupa sebuah lagu kenangan ku nyanyikan dibawah derasnya hujan
membuat jiwa ini bergetar dan seakan tak ingin hujan berhenti. . . .

Dari sinilah kisah saya berawal, hujan yang mempersatukan ….
karena hujan saya dapat mengenal seorang gadis yang sangat mengagumi hujan.

karena menurutnya hujan itu suci, dapat membuat hati tenang, dapat menghilangkan semua penat didada, dan dapat menghapus air mata.
ku coba tuk lebih jauh mengenalnya, sosok gadis misterius pecinta hujan,
sungguh besar kuasa Tuhan, tanpa saya sadari sepertinya saya mulai merasakan rasa yang aneh didada, setiap kali tidak melihatnya saya merasa sepi, seperti halnya hujan tanpa pelangi.

kuberanikan diri untuk mengungkapkan rasa, namun Tuhan berkehendak lain, perhatian yang selama ini ia beri ternyata tidak lebih dari sekedar perhatian ke teman, kucoba tuk tetap tegar, seperti halnya pohon besar yang bertahan diterpa hujan deras.

Ku putuskan untuk mengenalnya lebih jauh, dengan tetap merahasiakan perasaan yang terpendam, seperti halnya pelangi yang tersembunyi dibalik awan hitam.

Berhari hari kita lewati sebagai seorang teman, sampai suatu saat gadis hujan bercerita tentang orang lain yang menarik perhatiannya, hati ini bergetar tak mampu menahan emosi jiwa, seperti halnya gemuruh petir yang telah menghantam permukaan bumi, ku coba tuk tetap bertahan dan tetap disisinya, namun apa daya, gadis hujan ini pun menjalin kasih dengan orang tersebut, hati ini tidak bisa berbuat banyak, disatu sisi hati ini ingin membuat gadis hujan tersebut senang, namun disatu sisi hati ini ingin memisahkan sang gadis dengan kekasihnya tersebut, berhari hari telah terlewati, sampai akhirnya sang gadis pun becerita bahwa ia sering tersakiti dengan hubungan ini, gadis hujan pun meneteskan air mata, seperti halnya butiran hujan yang suci yang terjatuh dari langit, bergetar hati ini terjebak diantara perasaan sedih dan bingung, jika hati ini bisa berkata mungkin hati ini akan berkata

“kenapa kau lebih memilih cinta yang rumit? sementara disampingmu selalu ada orang yang menyayangimu dengan tulus?”
Lagi lagi kutegaskan bahwa hati ini harus sekali lagi tersakiti, ku coba tuk menghibur sang gadis hujan tersebut, memotivasinya untuk bertahan dan meneruskan hubungannya dengan orang tersebut, biarlah hati ini saja yang tersakiti, aku tidak ingin melihat air matanya menetes lagi, biarah ku pendam rasa ini,
hatinya bagaikan pelangi berwarna abu-abu, yang tidak bisa menyadari bahwa disampingnya ada orang yang rela berkorban dan tersakiti demi dirinya, namun biarlah akan ku tunggu saat dimana hati mu dapat memahami perasaan ini, seperti halnya pelangi yang muncul setelah badai berlalu, akan ku tunggu saat dimana pelangi yang berwarna abu-abu berubah warna menjadi warna warni . . .

Cerpen Sedih – Tulang Rusuk Yang Hilang

Sore itu aku merasakan ada yang sakit di dadaku, entah apa aku tak tau, apa yang membuat perasaanku gelisah. Semakin ku hindari dan tak ku rasakan sakit itu, semakin terasa dan semakin menjadi-jadi. Ada apa? Apa yang terjadi? Hatiku selalu bertanya-tanya dalam kesendirian ku ini.

Hari semakin malam, aku duduk di teras depan rumahku, tubuhku ku sandarkan ke dinding dengan kepala mendongak ke langit memandangi bintang yang bertaburan seperti membentuk sebuah simbol senyuman. Terlena aku ketika memandang bintang-bintang tersebut. Sampai-sampai tidak merasakan sakit di dadaku. Kupandangi dan terus kupandang hingga mendung datang menutupinya, mengagetkanku dan aku kembali merasakan sakit itu.

“ Roy.. “
Terdengar suara memanggilku. Aku menoleh kebelakang, dikejauhan nampak seorang wanita memakai baju berwarna hijau, ia melambaikan tangannya, seolah memanggilku untuk segera kesana.
“ Kamu tau kan hari ini tanggal berapa? “ tanya welsa, wanita yang akan menjadi istriku.
“ Tau dong, hari ini kita mau fitting baju pengantin kan? “
“ Kita bisa berangkat sekarang kan? “
“ Tentu “ jawabku singkat.
Aku dan welsa bergegas menuju Boutique tempat kita fitting baju pengantin untuk pernikahan kita besok. Sesampai disana welsa memilih-milih gaun yang menurutnya cocok untuk pernikahan kita nanti. Aku bahagia melihat welsa sangat antusias dan terkesan tidak sabar untuk menjajal gaun tersebut. Ketika welsa keluar dari kamar pas aku hanya bisa diam mematung, menikmati keindahan yang ada didepanku saat ini. Ia begitu cantik mengenakan gaun itu. Dalam hatiku berkata aku tidak salah menemukan tulang rusuk seperti dia. Bukan hanya cantik wajah, hati dan sikapnya sopan yang bisa membuat laki-laki mampu terhipnotis olehnya.
“ Sayang, kamu cantik sekali memakai gaun itu. “ kataku sambil membelai rambutnyang terurai lurus itu. Ia hanya membalasnya dengan senyuman manja.
“ Aku tidak salah menemukan tulang rusuk sepertimu. “
Ada tertulis. Tuhan melihat Adam kesepian, saat Adam tidur Tuhan mengambil rusuk dari Adam dan menciptakan hawa. Karena itu semua pria mencari tulang rusuknya yang hilang dan saat menemukan wanita untuknya ia tidak lagi merasakan sakit dihatinya.

Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Hari ini adalah hari pernikahanku dengan welsa, tidak ada yang tidak berbahagia pada hari itu. Semuanya para undangan sangat berbahagia menyaksikan kebahagiaan dua insan yang disatukan dalam ikatan suci sebuah pernikahan.
Hari terus berlalu usia pernikahan kami sudah memasuki angka 3 tahun. Selama 2 tahun kami sangat bahagia walaupun kami belum dikaruniai anak. Tapi menginjak 3 tahun rumah tangga kami mulai tidak seharmonis dulu. Karena aku sibuk bekerja dan jarang pulang welsa selalu marah-marah padaku.
Suatu ketika, waktu aku baru pulang bekerja welsa memarahiku karena selama 1 minggu tidak memberi kabar. Disitulah mulai terjadi pertengkaran hebat, disitu jugalah aku kelepasan mengatakan yang seharusnya tidak ku katakan.
“ Kalau kamu tetap menyalahkan aku, kamu tidak suka dengan
Pekerjaanku, silahkan kamu keluar dari rumahku. Dan aku akan
Mengurus surat cerai untukmu.! “
“ Baiklah , lebih baik aku pergi dari sini, aku sudah tidak betah
Hidup seperti ini. “ jawab welsa sambil mengemasi barang-barangnya ke dalam koper. Akhirnya welsa meninggalkan rumahku.
Hatiku masih panas terbakar amarah. Setelah 10 menit kepergian welsa, entah mengapa tiba-tiba hatiku sakit, dadku sakit. Aku menyesal dengan apa yang telah aku lakukan. Sekarang kemana aku harus mencari welsa. Sedangkan handphonenya sulit dihubungi, dirumah orang tuanya pun juga tidak ada.

5 tahun sudah aku berpisah dengan welsa. Semenjak itu kami sama sekali tidak pernah bertemu. Yang aku dengar welsa sekarang ada diluar negeri. Dan sampai saat ini juga aku belum menemukan pengganti welsa.
Ketika aku mengantar temanku ke bandara. Sekilas aku melihat sosok wanita yang aku kenal. Ya,, dia welsa. Seseorang yang selama 3 tahun hidup dengan ku. Aku kangen sama dia, ingin rasanya aku memeluknya. Aku mencoba memberanikan diri untuk menyapanya, tapi dalam hati masih ragu, aku takut welsa masih marah atas perlakuanku 5 tahun silam. Jantung ini berdebar hebat ketika aku berjalan hampir di depannya. Karena aku takut, aku mengurungkan niatku untuk menyapanya. Tapi setelah aku dua langkah kakiku melintas didepannya, welsa memanggilku.
“ Roy, itu kamu? “
Sontak aku kaget dan menoleh padanya. Aku malu, malu pada diriku sendiri. Dengan terbata-bata aku menjawab sapaan welsa
“ i.. iya.. kamu apa kabra? “
“ Aku baik-baik saja, kamu bagaimana? “ jawabnya sambil tersenyum padaku.
Dari situ kami mulai akrab kembali. Ternyata welsa sudah melupakan kejadian 5 tahun silam. Aku bahagia karena welsa juga sudah memaafkanku.
“ Kabari aku kalau kamu sempat. Kamu tau nomer telepon kita?
Belum ada yang berubah. “
“ Tidak akan ada yang berubah. “ kata welsa dengan tersenyum manis.
Akhirnya welsa meninggalkan tempatnya berdiri, karena pesawat sebentar lagi akan berangkat.

Seminggu semenjak kepergian welsa. Aku mendapat kabar bahwa welsa kecelakaan, ia meninggal. Malam itu aku kembali merasakn sakit di dadaku. Kini aku sadar, sakit itu karena welsa, tulang rusuk ku sendiri yang dengan bodohnya aku patahkan.

***

Demikianlah kumpulan cerpen sedih terbaik tentang cinta kehidupan dan persahabatan yang bisa dibagikan kali ini. Jangan lupa datang kembali untuk melihat kompilasi cerpen dan cerita terbaik lainnya di blog ini yang paling seru dan menarik.