Cerpen Romantis

Cerpen Romantis – Cinta adalah hal universal yang bisa diungkapkan dan digambarkan dimana saja. Seperti pada kumpulan cerpen romantis berikut ini yang berusaha mengungkapkan adanya cinta dalam sebuah hubungan yang mempersatukan dua insan namun juga tidak menindas insan itu dalam kebersamaannya. Yuk, simak contoh cerpen romantis berikut ini yang bisa menjadi sumber bacaan menarik untuk dibaca di waktu senggang.

***

Kumpulan Cerpen Romantis Cinta Terbaik


Cerpen Romantis – Indah Pada Waktunya

“Ka… Karen…” Mama menggoyang-goyangkan tubuh Karen.

Karen tetap bergeming.

“Karen, ini udah siang, loh! Kamu ga takut telat ke sekolah, Nak?” Mama masih berusaha membangunkan putri semata wayangnya itu dengan menepuk-nepuk pahanya.

Karen langsung berbalik ke arah Mamanya dengan mata yang cuma terbuka setengah. “Hmmm…” gumamnya pelan sambil melirik jam weker yang bertengger di samping tempat tidurnya. Sudah jam setengah tujuh pagi.

Tapi bukannya bangun, dia malah memeluk gulingnya. Matanya pun ikut terpejam lagi.

“Loh, Karen.. Bangun, dong!” Mama kembali mengguncang-guncangkan tubuh mungil milik Karen. Kali ini lebih kuat.

“Mama nih gimana, sih? Semalem kan aku udah bilang kalo anak kelas sepuluh tuh lagi ujian. Jadi aku libur..” gerutu Karen sambil membelakangi Mamanya.

“Oh, ya udah kalo gitu. Kamu lanjutin aja tidurnya,” Mama pun bangkit dari tempat tidur dan melangkah ke luar kamar.

Karen langsung menarik selimut dari kakinya seraya menggerutu tidak jelas. Ia memang paling benci kalo tidurnya diganggu. Apalagi pas hari libur kayak sekarang.

Belum puas menggerutu, sekarang ia malah berguling-guling di atas tempat tidurnya. Mencari posisi yang nyaman untuk bisa melanjutkan tidur. Tapi tidak berhasil.

Akhirnya, ia memilih meraba-raba meja di samping tempat tidurnya. Mencari hape yang dari semalam dibiarkan dalam silent mode. Setelah mendapatkan benda berwarna putih itu, ia pun menatap layarnya. Ada tulisan ‘1 new message’.

Karen segera membacanya.

Udah tidur ya, Ren?
Rico.

Mata Karen yang tadinya sangat berat untuk terbuka, spontan melotot. WHAT? KAK RICO? Semalem Kak Rico nge-sms aku?

Baru berniat mengetik balasannya, jempol Karen kontan berhenti. Menyadari pulsanya yang sudah tidak “mencukupi”. Akhirnya, ia pun pasrah dengan kembali meletakkan hapenya ke meja. Lalu tidur lagi.

***

“Itu Kak Rico, kan?” seru Lani. Membuat Karen langsung menoleh. Kemudian mendapati sosok cowok yang dimaksud Lani itu di tengah-tengah beberapa anak kelas dua belas yang lain.

“Ga usah pake ngiler gitu, kali! Hahaha…” sambung Lani sambil mengusap bibir Karen yang sebenarnya ga ada apa-apa.

Karen sontak menatapnya. Sewot. Lalu kembali mengamati sekumpulan cowok yang lagi asik ngobrol di parkiran sekolah mereka itu.

Rico adalah senior Karen. Dia kelas XII IPS 1. Gak cakep sih, tapi manisnya minta ampun! Keren, cool, dan rada cuek. Bikin Karen tergila-gila sama cowok itu dari setahun yang lalu, waktu dia masih kelas sepuluh.

Pas lagi jalan ke gerbang, tiba-tiba…

“Hai, Karen..” sapa sebuah suara tepat di sebelah cewek imut itu.

Karen kontan menoleh. Lalu mendapati Rico di sampingnya. Sedangkan Lani sudah menghilang. Gak tau kemana dan sejak kapan.

Karen pun memamerkan senyum manisnya.

“Pulang sendirian aja?” tanya Rico dari atas motor hitam miliknya.

Karen cuma mengangguk.

“Pulang bareng aku aja, yuk! Mau, gak?” tawar Rico. Ia menyodorkan sebuah helm besar ke depan wajah Karen.

Karen menatap helm itu sejenak. Kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Rico. “Nggak udah, Kak. Makasih. Aku ga mau ngerepotin..”

“Ga pa-pa, kok. Nih…” balas Rico sambil menggerak-gerakkan helm yang sedari tadi ada di genggamannya itu.

Karen pun meraih helm tersebut.

“Oh, iya,” cowok itu melepaskan jaket abu-abu yang melekat di tubuhnya. “Kayaknya mau hujan, deh. Kamu pake ini, ya!” lanjutnya seraya menyerahkan jaket tersebut pada Karen.

“Loh, kok aku? Kalo ntar Kakak yang basah, gimana?” heran Karen.

“Ga pa-pa. Udah biasa. Ayo, naik..” ujar Rico sambil menstater motornya.

Karen cuma mengangguk. Ia memakai jaket pemberian Rico. Lalu naik ke atas motor cowok itu.

“Udah?” tanya Rico.

“Udah,” balas Karen.

Rico pun melajukan motornya.

Karen mengulum senyum di belakang. Kemudian memejamkan matanya dan menghela nafas panjang. Hmmm… Jaketnya Kak Rico wangi banget, deh! batinnya.

Dan saat membuka mata, bukan pemandangan jalan raya yang dilihatnya. Jaket abu-abu milik Rico juga sudah tidak melekat di tubuhnya. Berganti menjadi piama berwarna pink yang dipakainya dari semalam.

Sial, ternyata cuma mimpi, kesal Karen dalam hati.

***

“Ngapain sih lo? Daritadi mondar-mandir mulu. Kayak setrikaan aja, deh. Pusing gue!” cerocos Rati.

Karen menoleh dan menatap kedua temannya yang lagi asik ngobrol di teras rumah Lani. Mereka baru saja selesai belajar bareng beberapa menit yang lalu.

“Lagi nunggu jemputan,” balas Karen singkat. Kemudian kembali celingak-celinguk di depan rumah Lani.
“Emangnya lo dijemput sama siapa, sih?” tanya Rati.

“Ada, deh.. Ntar juga lo tau, kok,” jawab Karen. Sok misterius.

Beberapa saat kemudian, sebuah motor hitam berhenti tepat di depan pagar rumah Lani. Di atasnya, seorang cowok berjaket merah dengan helm besar yang juga berwarna merah terlihat menoleh dan melongok ke dalam rumah Lani.

“Itu dia!” seru Karen spontan.

Lani dan Rati pun sontak berdiri dan berjalan mendekati Karen. Lalu makin mencondongkan kepalanya ke arah pagar rumah Lani itu.

“Itu… Kok kayak Kak Rico, ya?” tanya Rati. Mencoba menebak.

“Iya, gue yakin banget. Itu pasti Kak Rico, kan? Liat aja gayanya! Kak Rico banget deh pokoknya,” Lani yang menjawab. Semangat.

Karen cuma tersenyum membalasnya. “Gue balik dulu, ya! Kasian dia kalo kelamaan nunggu. Byeee!”

“Dadah, Karen…” sorak Rati.

“Hati-hati di jalan, ya!” teriak Lani.

Karen mengangguk dan melambaikan tangannya sambil berjalan menjauhi kediaman Lani. Menghampiri Rico yang sudah menunggunya di luar sana.

Rico menyerahkan sebuah helm ke genggaman Karen saat cewek itu sudah berdiri di depannya. Karen meraihnya sambil tersenyum. Salah tingkah.

Setelah memakai helm tersebut, Karen lalu naik ke atas motor Rico.

“Udah?” tanya Rico.

“Udah,” balas Karen. Kayak dejavu, deh! lanjutnya dalam hati.

Rico kemudian melajukan motornya meninggalkan rumah Lani.
Di belakang Rico, Karen menepuk-nepuk pipinya. Duh, sakit! Ternyata ini bukan mimpi lagi. Ya ampuuun, mimpiku tadi pagi jadi kenyataan. Makasih, ya Allah… Ia lalu membekap mulutnya sendiri. Berusaha sekuat tenaga agar ia tidak berteriak histeris saking gembiranya.

Tiba-tiba, mata Karen menangkap pandangan Rico yang lagi mengamatinya dari spion kiri motor cowok tersebut. Oh, my God! Kak Rico ngapain, nih? Jangan-jangan daritadi dia ngeliatin aku, lagi! Grrr… Sial! Tadi aku ngapain aja, sih? Kayaknya aku geregetan banget, ya? Wuaaahhhhh… Malunya!!! cerocos Karen dalam hati.

“Kamu kenapa, sih? Nervous gara-gara deketan sama aku, yaaa?” goda Rico.

Karen cuma bisa buang muka. Pura-pura ga peduli. Saking saltingnya.

***

Karen melangkah memasuki kelasnya di XI IPA 1 sambil menebar senyum kemana-mana. Dari guru-guru, anak kelas sepuluh, sebelas, dua belas, satpam, sampe penjaga sekolah sudah kebagian senyum manisnya daritadi.

Baru menaruh tasnya di meja, Lani sudah langsung menduduki kursi miliknya. Membuat Karen pasrah berdiri di samping mejanya seraya mengamati Lani.

Gak lama kemudian, muncul lagi sosok Rati yang segera duduk di sebelah Lani.

“Kenapa semalem lo ga ngebales sms gue?” tanya Lani langsung.

“Iya! Gue juga!” sambung Rati.

Karen menghela nafas panjang. Udah aku duga bakal diinterogasi… “Pas nyampe di rumah, gue ngerjain PR kimia. Trus tidur, deh. Ngantuk banget soalnya,” balas cewek itu.

“Tapi kok lo tega banget sih ngebiarin kita penasaran semaleman?” gerutu Rati.

“Iya, gue nungguin sms lo sampe jam satu pagi, tau gak!” kesal Lani sambil mengacungkan jari telunjuknya ke depan wajah Karen.

“Sorry, deh..” ucap Karen akhirnya. “Minggir, dong! Gue capek berdiri, nih..” lanjutnya sembari menarik tangan Lani untuk menyingkir dari bangkunya.

Lani menurut. Ia pun berdiri dan pindah ke bangkunya sendiri yang terletak tepat di depan meja Karen. Lalu duduk menghadap ke belakang. Masih menanti cerita sahabatnya itu.

“Oke. Sekarang jawab pertanyaan gue semalem. Lo ngapain aja sama Kak Rico, hah?” tanya Lani. Mulai menginterogasi.

“Ngobrol,” jawab Karen singkat, padat, dan jelas.

“Ngobrol dimana?” Rati ikut bertanya.

“Ya di atas motor, laaah..”

“Di motor doang? Emangnya lo ga mampir kemana-mana dulu?” seru Lani.

Karen menggeleng. “Enggak.”

“Kok enggak?” Rati keliatan ga puas sama jawaban-jawaban Karen sedari tadi.

“Lo pikir gue sama Kak Rico mau kemana? Udah jam sepuluh malem, tau! Nyokap gue aja udah nelfon mulu.”

“Ih, ga romantis banget..” cibir Rati.

“Yeee, gue malah salut, tau! Itu artinya dia cowok yang baik. Karna udah malem, jadi dia langsung nganterin Cinderella-nya ini pulang ke rumah, deh. Iya, kan?” cerita Karen. Bangga.

Lani dan Rati manggut-manggut. “Iya juga, sih..”

“Trus, kalian ngobrolin apa aja?” tanya Lani lagi.

“Banyak deh pokoknya. Gue nyeritainnya pas istirahat aja, ya! Udah mau bel, tuh..” jawab Karen sambil menunjuk jam dinding di kelas mereka.

“Hmmm iya, deh..” balas Rati. Pasrah. “Eh, tapi dia udah nembak lo, belum?” lanjutnya antusias.

Karen memandangi kedua sahabatnya itu bergantian. Lalu tersenyum. “Belum..”

Dahi Lani dan Rati sontak berkerut. “BELUM?” tanya mereka. Kompak.

Karen mengangguk kuat-kuat. “Iya, belum!”

“Kok belum? Kalian kan udah deket lamaaaa banget. Kirain semalem dia mau ngejemput lo karna mau ngomongin masalah itu,” cerocos Lani.

Rati manggut-manggut menyetujui ucapan Lani barusan.

Karen kembali tersenyum. “Sabar aja, deh. Dulu juga gue mulai deket sama dia dari telfonan. Trus saling sapa di sekolah, sampe akhirnya bisa jalan bareng kayak semalem, kan? Semuanya butuh proses sih menurut gue.”

Ia berhenti sejenak. Lalu menghela nafas panjang. Kemudian tersenyum lebih lebar dari sebelumnya. Dan melanjutkan, “Semuanya juga butuh waktu. Dan gue yakin, kalo semua itu pasti bakal indah pada waktunya…”


Cerpen Romantis – About Love In Bamboo Forest

“Aduh!” Aku meringis kesakitan sambil berusaha mengangkat sepeda yang menimpa tubuhku. Sudah ditimpa sepeda, aku pun harus menikmati ‘manisnya’ lutut kaki kiriku tergores di jalanan depan Togaden ini.
“Dasar bodoh!” teriak keras seseorang di belakangku.

Aku menatap wajahnya, wajah laki-laki yang mengatakan aku bodoh. BODOH! Aaargh! Aku tidak terima.
Setelah bisa berdiri dengan sempurna, aku merapikan pita di rambut gelombangku. Ternyata rok rimpel-rimpel yang kukenakan sedikit sobek tergores aspal. Pantas saja lututku ikut tergores. Lantas kutatap dalam-dalam wajah si laki-laki yang dingin itu. “Hei! Kamu bilang apa tadi?!” ujarku menahan emosi.
“Aku bilang kamu bodoh! Masih kurang jelas? Dasar cewek ceroboh!” ujarnya sengit sambil membuang muka dan tanpa berdosa dia mengayuh sepedanya meninggalkanku.

“Hei, kamu! Dasar cowok pengecut!” teriakku keras dengan emosi yang menggebu. Lantas kukayuh sepedaku mengejarnya. Enak saja dia kabur setelah sengaja menyenggol sepedaku tanpa meminta maaf terlebih dahulu. Huh!
Ternyata laki-laki menyebalkan tadi mengayuh sepedanya dengan amat kencang. Ah, sepertinya aku akan ketinggalan jejaknya. Ya, sekarang tak lagi kulihat punggung laki-laki tersebut. Dan aku menarik napas, kecewa. Semoga di lain waktu aku bisa bertemu dengannya lagi dan memaksa dia untuk minta maaf padaku.

Pelan-pelan kutelusuri jalanan wilayah Sanjo siang ini. Orang-orang terlihat berlalu lalang dengan kesibukannya masing-masing. Wajah mereka masih secerah mentari pagi dengan senyum yang menghiasinya. Inilah yang kubanggakan dari penduduk Kyoto. Semangat dan wajah cerah mereka. Apalagi saat ini Kyoto sedang haru. Jadinya lengkap dan makin indah saja Kyoto-ku tercinta.
Sambil tetap mengayuh sepeda, kuganti lagu di walkman dan membenarkan posisi earphone di telingaku. Dan kini terdengarlah suara merdu Yui, penyanyi favoritku. Lagu yang berjudul ‘Stay with Me’, mampu membuatku melupakan kejadian yang menyebalkan tadi sekaligus melupakan rasa perih di lututku.

Setelah lima belas menit perjalanan, aku sudah sampai di depan rumah.
“Tadaima!” seruku sambil membuka pintu dan langsung berjalan cepat menaiki tangga menuju kamarku di lantai dua. Aku tergesa-gesa menuju kamar karena ingin membersihkan luka di sekitar lutut kaki kiriku. Saat luka lecet itu bertemu obat cair yang kuteteskan, rasanya pedih sekali. Aduh, aku jadi mengingat kembali wajah laki-laki yang menyenggolku saat mengendarai sepeda tadi. Awas saja kalau aku bertemu dengan dia lagi!

***

“Ohayou gozaimasu, Miyuki!”
“Ohayou gozaimasu!” jawabku membalas sapaan Yayoi, teman satu kelasku. Lalu aku tersenyum dan Yayoi pun membalas senyumanku dengan manisnya.
Selesai aku mengganti sepatu dengan uwabaki6, kukunci kembali lokerku lalu menoleh ke arah Yayoi yang terlihat kebingungan sambil mengacak-acak isi tasnya.
“Ada apa, Yayoi?” tanyaku bingung.
“Miyuki, aku kehilangan kunci loker. Aduh!” jawabnya gusar sembari membongkar tasnya yang berwarna merah muda.
“Mungkin terselip saja,” kataku berkomentar sambil membuka lembaran buku di dalam tas Yayoi. Kunci loker sekolah kami memang berukuran kecil. Jadi kupikir mungkin kunci itu terselip di antara lembaran buku. Apalagi kunci loker Yayoi tidak diberinya gantungan kunci, sehingga sulit untuk menemukannya di dalam tas yang penuh.

“Setibanya di sekolah tadi aku sempat membuka tas untuk mengeluarkan komik. Mungkinkah kunci itu terjatuh ya?” Yayoi berucap dengan nada khawatir.
Aku mengerti kenapa ia jadi khawatir. Lima menit lagi pelajaran akan dimulai. Jika Yayoi belum menemukan kunci lokernya, itu berarti ia tidak bisa membuka lokernya dan mengganti sepatunya dengan uwabaki. Kalau tidak segera mengganti uwabaki, Sensei Terumasa tidak akan mengizinkan muridnya mengikuti pelajaran.
“Emm… mungkin juga kunci itu terselip di komik kamu, Yayoi. Sekarang komik itu ada di mana?” Aku bertanya setelah tak kutemukan kunci loker di antara buku-buku dalam tas Yayoi.

“Miyuki, komik itu sudah dibawa Satoru. Aku meminjamkannya karena dia mau mengantarku pergi ke sekolah hari ini,” kata Yayoi menjawab pertanyaanku. Kini Yayoi hanya terduduk di depan lokernya dengan wajah menyerah.
“Satoru?” ujarku mengulang nama yang disebutkan Yayoi.
“Dia tetangga baruku, Miyuki. Pindahan dari Osaka. Dia seusia dengan kita tapi sayangnya tidak bersekolah di sini,” kata Yayoi menjelaskan.
Aku mengangguk lalu tersenyum.

Tiba-tiba lantunan nada Fur Elise terdengar nyaring sebagai tanda waktu belajar akan dimulai. Beberapa anak terlihat sedang memakai uwabaki dan setelah itu mereka beranjak menuju kelasnya masing-masing untuk belajar. Aku masih terpaku di depan Yayoi yang menunduk. Beberapa detik kemudian dia mengangkat wajahnya.
“Miyuki masuk saja ke kelas. Aku akan mencoba menghubungi Satoru dan menanyakan apakah kunci itu terselip di komik yang dipinjamnya,”
Aku menggeleng. “Aku mau tunggu Yayoi saja,”

Yayoi tersenyum. Baru saja ia hendak menekan tombol di handphone-nya, nama Satoru sudah tertera duluan di layar. “Iya, Satoru. Arigatou gozaimasu! Tunggu ya!” kata Yayoi gembira saat ia berbicara dengan si penelepon. Setelah menutup handphone-nya, Yayoi menarik lenganku.
“Satoru ada di depan gerbang, Miyuki. Ayo temani aku! Nanti aku kenalkan kamu dengan dia.”
Aku mangangguk dan berjalan mengikuti Yayoi.

Sesampainya di depan gerbang sekolah, kulihat sosok yang sudah tak asing bagiku. Dia tersenyum manis pada Yayoi tanpa melihatku. Ah, rasanya ingin kutelan bulat-bulat orang itu!

“Ohayou gozaimasu, Satoru! Arigatou gozaimasu. Aku sudah khawatir tidak bisa ikut pelajaran hari ini kalau kunci lokerku sampai tidak diketemukan,” ucap Yayoi lembut pada Satoru.

“Ohayou gozaimasu. Do itashimashite, Yayoi!” ujar Satoru masih dengan senyuman manis yang menghiasi wajahnya. Kuakui Satoru memang manis dan tampan, namun wajah itu menyebalkan bagiku.

Dan aku cukup terpesona dengan senyuman Satoru hari ini. Akan tetapi yang aku herankan ia bersikap manis pada Yayoi tapi tidak denganku. Apa karena kejadian kemarin? Eh, yang seharusnya marah itu ‘kan aku!
“Satoru, kenalkan ini Miyuki! Dia teman satu kelas yang paling dekat denganku, hehehe!” kata Yayoi mengenalkanku pada Satoru sambil mengerlingkan mata jenaka padaku.

Aku memasang senyum terpaksa. Tapi, Satoru sama sekali tidak membalas senyumanku. Ia hanya memandangiku dari ujung rambut sampai ujung kakiku. Bagus deh! Jadi dia bisa melihat lutut kiriku yang di perban tipis gara-gara kelakuannya yang tidak bertanggung jawab kemarin di depan Togaden.
“Eh, aku harus kenalan sama cewek ceroboh ini? Kok bisa kau berteman akrab dengan dia, Yayoi? Lihat itu lututnya akibat dari kecerobohannya sendiri!” ujar Satoru pada Yayoi sambil membuang wajah padaku. Lalu ia melihat ke arah pohon sakura yang berbunga indah di depan kolam sekolah.
Aku hanya terdiam. Rasanya ingin kubalas kata-kata ejekan dari Satoru. Tapi aku masih ingat bahwa Yayoi ada di sampingku dan lagi pula ini masih di lingkungan sekolah.

“Kalian sudah saling mengenal ya, Satoru? Eh, Miyuki kenapa tidak cerita padaku kalau sudah mengenal Satoru? Kalian kenal di mana?” tanya Yayoi keheranan sambil menatap kami berdua bergantian.

“Emmh, aku pergi dulu ya! Yayoi, jangan sampai hilang lagi kunci lokernya! Sampai ketemu nanti,” pamit Satoru pada Yayoi dengan tiba-tiba. Lalu ia segera mengayuh sepedanya menjauh dan lama-lama tak terlihat lagi oleh pandangan mata kami.

Yayoi memandangiku dengan wajah penasaran. Aku pun berlari meninggalkannya sebab aku yakin ia akan memaksaku bercerita kenapa Satoru bisa berkata seperti tadi padaku.

“Miyuki… tunggu!” teriak Yayoi padaku. Tapi tak kuhiraukan dan aku terus berlari sambil tertawa karena berhasil membuat penasaran teman akrabku.

***

Saat haru seperti ini, matahari akan terbenam cukup lama dan setelah itu langit mulai berubah warna. Lewat jendela kamar, aku duduk santai sambil membaca komik. Walau sedang membaca, mataku bisa saja mengedarkan pandangan ke arah lain termasuk ke atas langit. Kututup komikku dan meletakkannya kembali ke lemari buku. Kini aku lebih tertarik mengamati keindahan langit saat senja. Di tambah lagi saat ini bunga-bunga masih bermekaran dengan indahnya.
“Tok tok tok…” Pintu kamarku diketuk seseorang. Pasti itu haha.

Aku beranjak dari dudukku dan membuka pintu kamar. Haha tersenyum padaku dan berkata, “Sayang, tolong belikan tofu karaagedon set di Togaden ya!”
“Oke, Haha sayang.”
Setelah haha menyerahkan uang sejumlah 800 yen, aku langsung mengambil pita bermotif polkadot dan menyematkannya di sebelah kanan rambutku.
“Ittekimasu!” kataku pamit seraya menuruni tangga.
“Iterasshai, Miyuki!” pesan haha. Aku menoleh sejenak pada haha lalu mengangguk tersenyum.

Kukayuh sepeda menembus jalanan. Sengaja kukendarai sepelan mungkin karena aku sangat suka suasana Kyoto di kala senja menjelang malam seperti ini. Di sepanjang perjalanan, kulihat pohon-pohon sakura berbunga dengan lebatnya. Cantik! Aku melebarkan senyumku sambil berdendang kecil
Tak terasa aku sudah sampai di depan Togaden. Restoran ini memang baru dibuka pukul lima sore. Jadi sekarang lagi ramai-ramainya pelanggan yang berdatangan.
Selesai membeli tofu karaagedon set dan keluar dari area Togaden, angin bertiup cukup kencang hingga menerbangkan rambut panjangku yang bergelombang dan berombak. Pita polkadotku bergeser dari posisinya semula. Sejenak aku berhenti mengayuh sepeda dan membetulkan letak pita rambutku.
Bruuk!

Untuk ke dua kalinya, aku terjatuh karena ada yang menabrak dari belakang. Namun aku bersyukur kali ini sepedaku tidak menimpa tubuhku. Baru saja ingin memarahi orang yang seenaknya menabrakku, mulutku tak bisa berucap apa-apa.
Dia lagi! Tapi kali ini dia ikut terjatuh dan sepedanya menimpa tubuhnya sendiri. Syukurin! Ucapku dalam hati. Dia berusaha berdiri, tapi sepertinya kesulitan menyingkirkan sepeda sport-nya.

Aku jadi tak tega karena melihat wajah Satoru yang meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya. Aku segera menghampiri Satoru dan membantunya berdiri. “Kepala kamu berdarah, Satoru!” kataku hampir berteriak saat tak sengaja melirik ke arah kanan kening Satoru.
“Biasa saja kali! Dasar cewek aneh!” cetus Satoru memasang wajah kesal. Lantas tangannya diusapkan ke keningnya untuk memastikan kata-kataku.

Satoru mencari sesuatu dari dalam saku celana jinsnya. Tapi dia menelan ludah karena tidak menemukan apa yang ia cari. Aku mengambil sapu tangan dari dalam tas kecil di keranjang sepedaku dan menyerahkannya pada Satoru. Dia hanya menatapku lalu mengacuhkan uluran tanganku yang memberinya selembar saputangan berwarna biru muda.

Entah keberanian dari mana, dengan cepat kuusapkan saputangan ke arah kening Satoru untuk membersihkan darahnya yang pelan-pelan mulai mengalir.
“Hei, siapa yang suruh kau membersihkan lukaku?!” ujar Satoru dengan suara tertahan namun terkesan kesal dan membentak.
Aku hanya diam saja dan terus membersihkan darah di kening Satoru.

“Pelan-pelan! Sakit tahu!” bentak Satoru. Meski mulutnya berkata-kata membentakku, tapi tubuhnya berdiri kaku.
“Ada yang sakit lagi tidak, Satoru? Darah di keningmu sudah tidak keluar lagi. Sampai di rumah nanti langsung diobati ya,” kataku yang tiba-tiba berubah lembut. Padahal aku ingin membalas bentakannya padaku. Juga ingin menyuruhnya meminta maaf atas kejadian beberapa hari yang lalu. Tapi nyatanya aku tak bisa marah pada laki-laki yang berada di hadapanku kini.

Satoru memandangku dalam-dalam. Matanya yang indah seketika terlihat lebih teduh dari biasanya. Poninya yang berkeringat terlihat basah dan diusapkannya ke sebelah kiri. Lalu ia menunduk. Aku merasa dia salah tingkah. Entah apa penyebabnya.
“Arigatou gozaimasu, Miyuki! Kamu kok jadi baik begini… ada apa?” Suaranya terdengar parau.
“Aku selalu baik pada semua orang termasuk pada orang yang menyebalkan seperti kamu,” jawabku jujur dan spontan.
“Gomen nasai! Mungkin aku memang menyebalkan. Aku menyesali atas kejadian beberapa hari yang lalu. Lutut kaki kirimu sudah sembuh, kan?”
“Eh?”

“Dimaafkan tidak?”
Aku mengangguk lalu tersenyum. Dan Satoru pun tersenyum padaku. Ah, senyumannya terlihat sangat manis. Hatiku berdesir bahagia dan seperti ada kupu-kupu yang mengelitik perutku saat memandangi senyuman Satoru.
Tiba-tiba aku baru tersadar jika kami sedang berada di jalanan depan Togaden dan telah menjadi pusat perhatian beberapa orang. Sepertinya Satoru pun baru tersadar. Beberapa detik kami saling berpandangan lalu tertawa bersama.

***

Di sabtu sore, udara terasa cukup gerah. Mungkin karena haru akan berakhir dua hari lagi dan akan digantikan natsu. Berarti dengan segera pendingin ruangan harus disiapkan di rumah untuk menghalau udara panas yang akan datang berkunjung selama kurang lebih tiga bulan ke depan.
Namun aku bukan memikirkan natsu yang akan segera datang, tapi pikiranku terfokus pada pakaian dan penampilanku sore ini. Pukul lima, aku dan Satoru janjian untuk bertemu. Satoru mengajakku ke daerah Arashiyama. Tentu saja dengan senang hati aku terima ajakannya. Siapa yang bisa menolak jika diajak pergi oleh orang yang telah berhasil menarik hati kita?

Baju terusan yang anggun berwarna hijau dan putih. Kaus kaki putih dengan sepatu hitam. Rambut dikepang dua di samping, lalu diikat menjadi satu ke belakang dengan pita berwarna hijau. Begitulah penampilanku dan saat ini aku sedang berdiri di depan rumah menunggu kedatangan Satoru.

“Hai!” Satoru telah berdiri di hadapanku dan menyapaku. Matanya memperhatikanku lalu bibirnya membentuk sebuah senyuman.
Aku membalas senyuman Satoru. “Kenapa, Satoru?” tanyaku bingung karena Satoru masih terus memandangiku.
“Emmh… kau manis sekali,” puji Satoru yang membuatku jadi salah tingkah. Aduh, jantungku kenapa berdetak cepat seperti ini sih.
“Eh, Satoru juga manis kok.” kataku memuji Satoru. Ia mengenakan jins hitam dan kemeja biru langit. Rambutnya yang tebal dan poninya yang menjuntai menutupi sebagian keningnya, makin terlihat manis dan aku tak bosan-bosannya mengagumi manusia di hadapanku ini.
“Aku sih sudah manis dari lahir. Kau baru tahu ya?” candanya sambil mengedipkan mata jenaka padaku.
Aku hanya tertawa.

Sesampainya di daerah Arashiyama, Satoru mengajakku memasuki The Sagano Bamboo Forest, sebuah taman bambu yang sangat indah dan menarik karena membentuk seperti tirai yang unik. Taman bambu seluas 16 kilometer persegi ini tidak hanya indah tapi suara anginnya dapat terdengar melalui rumpun bambu yang tebal. Sore ini banyak yang datang berkunjung dan menikmati lingkungan alam yang paling indah di Jepang ini.
Tiba-tiba Satoru memegang tanganku. Perlahan jemarinya mengisi sela-sela jemariku ketika kami mulai menelusuri area taman bambu yang sejuk, sesejuk hatiku saat ini. Aku yakin wajahku sudah bersemu merah. Apalagi jemari Satoru meremas lembut jemariku. Aku tidak memiliki cukup keberanian untuk menoleh ke arah Satoru di samping kananku. Jadi yang kulakukan hanya diam dan terus melangkah.

Sesampainya di belokan yang cukup sepi, Satoru menghentikan langkahnya. Ia menarik napas lalu dengan perlahan mengembuskannya. Kemudian aku memberanikan diri untuk menatap wajah Satoru. Ia terlihat gugup dan melepaskan jemarinya dari jemariku.
“Kenapa dilepas, Satoru?”

Satoru tersenyum dan ia berkata dengan wajah yang serius, “Apa aku boleh terus memegang tanganmu?”
Aku mengangguk dan kini mata Satoru menatap dalam-dalam ke mataku. Rasanya sinar mata teduh itu menembus sampai ke dalam aliran darah di tubuhku. Kembali kurasakan jemari Satoru memenuhi sela-sela jemariku.

“Miyuki, kau dan dia begitu mirip. Terutama sikap dan rambut gelombang kalian. Oleh sebab itu, saat pertama kali aku melihat dirimu, dengan sengaja kusenggol sepedamu dan tidak menolong kau yang terjatuh akibat ulahku. Itu karena aku membenci dia yang telah berkhianat,”
Kudengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Satoru dengan penasaran. Suara angin saat ini tak terdengar. Mungkinkah sang angin pun sedang mendengarkan kata-kata Satoru?

“Namun aku sadar, kalau kamu bukan dia. Sejak kau terjatuh saat itu, aku selalu memikirkanmu. Mungkin semua ini memang sudah menjadi takdir untuk kita, Miyuki. Aishiteru!

Aku memandangi mata Satoru seolah bertanya apakah kata-katanya itu sungguh-sungguh benar. Satoru mengangguk dan ia membawa tubuhku ke dalam dekapan hangatnya. Tanpa sadar aku menitikkan bulir bening dari kedua pelupuk mataku. “Aku juga mencintaimu, Satoru!” bisikku lirih di dekat telinga Satoru.
Tiba-tiba suara angin kembali terdengar. Namun kali ini lebih lembut dan merdu. Seolah menembangkan kidung cinta nan indah yang mengiringi kisah kasih kami berdua.

Index:
__________________________________________________________________
1. Togaden: Restoran yang terletak di Wilayah Sanjo ini menyajikan menu dengan berbahan dasar tofu (tahu) dan sayuran, tanpa ada daging.
2. Sanjo: Wilayah Sanjo adalah “Shinjuku”-nya Kyoto, di mana daerah ini menjadi pusat perbelanjaan dan fashion di kota Kyoto.
3. Haru: Musim semi.
4. Tadaima: Aku pulang!
5. Ohayoo gozaimasu: Selamat pagi
6. Uwabaki: Sepatu khusus untuk di sekolah. Uwabaki adalah sebuah tradisi Jepang untuk Membedakan orang luar dan orang dalam. Dengan Uwabaki, kelas gedung sekolah jadi tidak terlalu kotor.
7. Sensei: Panggilan hormat untuk guru.
8. Arigatou gozaimasu: Terima kasih!
9. Do itashimashite: Sama-sama.
10. Haha: Ibu
11. Tofu karaagedon set: Salah satu menu yang berbahan dasar tahu di Restoran Togaden. Harganya 800 yen.
12. Ittekimasu: Aku pergi!
13. Iterasshai: Hati-hati!
14. Gomen nasai: Maafkan aku!
15. Natsu: Musim panas
16. Arashiyama: Salah satu tempat menarik di Kyoto dengan pemandangan yang indah dan terletak di kaki gunung.
17. Aishiteru: Aku cinta kamu!


Cerpen Romantis – Pangeran 15 Menit

“Tidak ku sangka 15 menit yang cukup singkat menjadi detik – detik terakhir orang itu. orang yang ku tempatkan di tempat khusus di hatiku. Dialah Pangeran 15 Menit…”

  Cerpen Sedih

Namaku Lista Anggraini…
Aku seorang gadis 17 tahun yang bekerja disebuah warnet dengan gaji yang cukup untuk membayar sedikit uang kuliah dan membantu orang tuaku. Aku memiliki keluarga sederhana tetapi rumit. Ayahku memiliki dua istri. Setelah isti pertamanya meninggal, ayahku menikahi ibuku dan melahirkan aku dan adik perempuanku. Aku berharap anak – anak dari istri pertama ayahku menyadari bahwa ayahnya tidaklah seorang yang kaya dan aku berharap mereka dapat berbakti pada ayahnya. Ibuku bisa dibilang seorang wonder woman yang canggih, ayahku yang tidak bekerja membuatnya harus
bekerja keras untuk membayai sekolah kedua putrinya. Aku senang sekarang sudah bekerja walau sebagai penjaga warnet. Setiap pagi hingga sore aku harus menjaga warnet dan malamnya aku kuliah dengan mengmbil jurusan system informatika, seperti hobiku yaitu ga bisa jauh dari komputer.

Seperti setiap harinya, aku menjaga warnet . biasanya jam siang begiini, warnet sepi apalagi jam makan siang. Seorang pria menatap melalui kaca tembus pandang kedalam warnet. Matanya selalu mengarah padaku. Aku tidak berpikir apapun atau curiga terhadap pria yang gelagatnya selalu lasak.

Dirinya kemudian masuk kedalam warnet dan menyalamiku secara tiba.
“hai aku Johan, aku yakin kamu itu princess sejati sampai matiku. Aku ingin kita tunangan…” ucap pria tersebut dengan mimik yang cukup serius. Aku menatap bingung dan berdiri dari tempat duduk.
“maaf ya, kamu yang sopan..” ucapku pelan.
“aku adalah kamu dan kamu adalah aku” ucap pria yang menyebutkan namanya Johan tadi.
Johan langsung menarik tanganku keluar dari warnet. Aku terdiam dan membiarkannya menarikku ikut bersamanya. Apapun tak pernah kupikirkan atas keinginan jahat pria ini. Yang aku pikirkan hanyalah kata dan ucapan dari pria ini. Seperti ada maksud yang tidak kuketahui.

  Cerpen Cinta

Tiba – tiba saja turun hujan yang cukup deras, anehnya Johan mengeluarkan payung kecil dari dalam jaketnya. Selain paying, jas hujan juga berada dibalik jaket hitam miliknya tersebut. Ku pikir Johan adalah pria super yang melebihi ibuku.

Dirinya membantuku memakai jas hujan yang terlalu besar ukurannya untukku. Sementara dirinya sendiri memakai payung yang kekecilan buat dirinya. Semua orang berlalu lalang menghindari hujan yang turun mendadak. Mata Johan menatap seorang nenek yang kehujanan dan kesulitan menyebrang jalan.

“Princess, kamu tunggu bentar ya.. kasihan nenek itu…” Ucap Johan sembari mengecup keningku dan kemudian pergi ke nenek tersebut. Ingin saja aku memakinya karena sembarang mengecup keningku, gadis yang baru ditemuinya. Tetapi melihat ketulusan dan kebaikan Johan, hatiku meleleh bagaikan es krim yang mencair. Johan membantu nenek tersebut menyebrang jalan dan meneduhkan payung kecil miliknya. Johan juga memberikan payung tersebut untuk nenek tua itu. Karena terharunya, nenek tersebut menangis dan memeluk Johan. Johan hanya tersenyum kemudian berbicara kecil dengan nenek tersebut sembari menunjuk ke arahku. Entah apa yang dibicarakan yang jelas adalah hal yang tidak aku ketahui. Dengan raut wajah bahagia Johan berlari menyebrang jalan diterpa hujan yag cukup deras. Aku melontarkan senyum salut kepadanya.

Tak terbayang olehku…
Ketika Johan, pria yang baru 15 menit aku kenal…. Pria yang baru pertama kali membuat aku merasa tak berdaya mengalami kejadian tragis didepanku. Sebuah mobil tanpa plat nomor polisi melaju kencang dan menabraknya. Saat itu juga Johan pria yang mampu menghipnotisku beberapa menit lalu, terhempas cukup jauh dan terbaring tak berdaya. Air mata mengalir dari mataku secara alami dan membawaku berlari menembus hujan untuk menghampiri Johan.

Wajahnya berlumuran darah menatapku sejenak. Lalu menghapus air mataku dengan senyum.
“benar.. ternyata kamu memang princess sejati sampai matiku…” ucapnya lemah tak berdaya.
Johan menyerahkan dompetnya dibalik jaket yang ia kenakan padaku. Dan matanya terpejam perlahan membawa detik dan nafas terakhirnya. Tak ada seorang pun yang mencoba menolong Johan hanya karena hujan deras.
“TOLONG!! Apa ngga ada yang berhati nurani baik untuk menolongnya!!!” jeritku kepada orang – orang yang hanya melihat ditempat yang teduh dari hujan. Seseorang menyentuh bahuku. Orang itu adalah nenek yang ditolong oleh Johan tadi. Nenek tersebut meneduhkan kepala Johan dengan payung yang diberikan Johan padanya.
“Anak muda ini sungguh mulia. Dia bilang, kamu adalah gadis yang dicintainya seumur hidupnya…” ucap nenek tersebut menangis sedih. Aku hanya terpaku membisu. Pria yang baru kukenal bisa mengucapkan kata cinta untukku. Terpintas dipikiranku ‘belum tentu juga aku cinta padanya’ karena diriku sesungguhnya belum mengerti apa itu cinta.
Dengan sebuah dompet berkulit hitam yang diserahkan johan padaku, dengan berdiri dibawah payung milik Johan, dengan jas hujan yang baru beberapa menit lalu dipakaikan untukku dan berdiri didepan sosok jenazah berlumuran darah yang belum ku kenal disertai terpaan hujan membuat aku bingung, bingung dan semakin bingung.

Yang aku tau, ternyata waktu itu sangat berharga. Waktu mampun merubah segalanya. Bahkan dalam waktu 15 menit, aku berhasil memiliki sebuah dompet. Kenangan dari orang yang amat menyayangiku ‘Katanya sebelum dia meninggal’. Tidak ku sangka 15 menit yang cukup singkat menjadi detik – detik terakhir orang itu. orang yang ku tempatkan di tempat khusus di hatiku. Dialah Pangeran 15 Menit…


Cerpen Romantis – Alunan Piano Dave

Di siang hari yang panas, Momo baru pulang kuliah. Sampai di rumah, dia langsung merebahkan diri di sofa ruang tengah. Sofa warna cokelat kesayangannya. Di situ tempat favoritnya untuk menghilangkan penat. Jendela yang berada tepat di samping sofa itu selalu menghembuskan semilir angin, hingga Momo betah berlama-lama duduk di sana.

Beberapa menit Momo duduk di sofa, dia mendengar alunan suara piano. Momo menengok ke jendela. Dari jendela itu bisa terlihat jendela rumah sebelah. Rumah Momo dengan rumah sebelahnya dibatasi oleh taman kecil. Dari jendela rumah sebelah itu, Momo melihat seseorang memainkan piano.

Seorang laki-laki muda berkacamata sedang serius memainkan piano. Dia menunduk tanpa menoleh sedikitpun. Tampaknya dia sangat menikmati sentuhan jemarinya dengan tuts piano. Momo terus memperhatikan, meski dia tak mengerti lagu apa yang sedang dimainkan.

“Momo, kamu lagi lihat apa?” tanya Mama.
“Eh, Mama…. Itu, ada cowok lagi main piano di rumah sebelah. Siapa sih, Ma??”
“Oh, iya… Mama belum cerita. Itu tetangga baru kita. Cowok itu namanya Dave, nama ayahnya Pak Ronny. Mereka baru pindah kemarin. Nanti kalo ada waktu, kamu main ke rumah Dave yaa…”
“Ouw…. Besok-besok aja deh, Ma… Ntar sore Adel mau kesini ngerjakan tugas kuliah.”
“Eh, Mo… Dave itu cakep lho. Sopan, keren, jago main piano lagi. Buruan kenalan.. Siapa tau kalian cocok?”
“Iiiihhh.. Apaan sih, Ma??” Momo segera beranjak menuju kamar. Mama tersenyum melihat tingkah putrinya itu.

Malam hari, Adel mengerjakan tugas kuliah di rumah Momo. Mereka berdua duduk di sofa ruang tengah. Suara alunan piano kembali terdengar. Adel melongok ke jendela. Terlihat Dave memainkan piano dari balik jendela rumahnya.
“Haaahhh, siapa tuh main piano di rumah sebelah?? Wow, keren banget tuh cowok…,” Adel memandang Dave dengan kagum.
“”Ah, lebay kamu Del..! Belum kenal juga, udah muji-muji,” sanggah Momo.
“Emangnya dia siapa, Mo??”
“Namanya Dave. Dia tetangga baru.”
“Dave….. Wah, namanya sekeren orangnya. Hehe…”
“Apaan sih, Del..! Cowok aneh gitu. Seharian kerjaannya main piano melulu..”
“Ya, mungkin profesinya emang pianis. Asyik banget permainan pianonya. Coba dengerin deh..”
“Halah, kita mahasiswi Kimia tau apa soal piano? Udah, lanjutin ngerjakan aja..” Momo dan Adel kembali mengerjakan tugas.

Keesokan paginya, Momo akan berangkat kuliah. Karena takut terlambat, dia tergesa-gesa keluar dari kamar. Dengan membawa setumpuk buku, dia berjalan keluar rumah. Baru sampai di depan pagar rumah, tiba-tiba BRAAKKK…!!!!! Momo menabrak seseorang.
“Aduuuhhh…..,” Momo memegangi lengannya. Dia melihat sosok yang menabraknya, ternyata Dave!
“Ehm, maaf….,” Dave seperti kebingungan. Dia menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya. Momo segera mengambil buku-bukunya yang jatuh berantakan. Dave terlihat canggung dan tidak berani menatap Momo.
“Hey! Kalo jalan hati-hati dong!!” Momo melihat ke arah Dave. Tapi orang yang menabraknya itu sudah pergi entah kemana. Momo melihat sekeliling untuk mencari-cari Dave, tapi tidak ada. Kemana dia?? Momo merasa sangat kesal.
Sampai di kampus…..
“Hay… Pagi-pagi udah cemberut aja neng?” tanya Adel heran melihat sikap Momo.
“Huuuuhhhhh…… Nyebelin banget tuh cowok!! Udah pakai kacamata, masih aja nabrak! Buku aku jadi berantakan! Gak mau bantuin juga!”
“Hah.. Siapa yang nabrak kamu, Mo?”
“Tuh, si tetangga baru, Dave!!”
“Wah, kamu ditabrak sama Dave?? Duh, aku pengen juga dong…”
“Yang bener aja??!! Aku kesel banget, tau! Udah ku bilang, tuh cowok emang aneh!”
“Hhmmm… Marah-marah melulu ama si Dave. Dia tuh cakep, tau! Kalo gitu, Dave buat aku aja ya? Hehe…”
“Silakan! Ambil aja sono si Dave!”
“Oke… Ntar sore aku mau ke rumahnya,” Adel tersenyum genit. Momo semakin kesal pada Dave.

Satu minggu kemudian…..
Dua hari ini, tidak terdengar suara piano Dave. Momo merasa heran. Rumah tetangganya itu sepi. Tidak pernah terlihat Dave memainkan piano. Adel pun sudah tak pernah bercerita tentang cowok aneh itu. ‘Gak ada urusannya ma aku,’ begitu pikir Momo. Hingga kemudian Mama bercerita bahwa Dave sedang sakit tifus. Dia sedang dirawat di rumah sakit. Mama mengajak Momo menjenguk Dave. Tapi Momo ingin mengajak Adel juga. Momo pun menelepon Adel.
“Halo, Momo.. Ada apa?” suara Adel setelah mengangkat panggilan Momo.
“Adel, Si Dave lagi sakit tuh! Dia di rumah sakit. Kamu gak jenguk dia?”
“Hahh? Dave sakit apa?”
“Kata mamaku, dia sakit tifus. Ntar Mama mau jenguk dia. Kamu mau ikut juga?”
“Ehmm… Nggak, Mo.. Kamu aja yang jenguk dia ya…”
“Lho, kenapa? Tumben banget, Del.. Bukannya kamu nge-fans ama si Dave?”
“Ehmm… Sorry.. Nggak kok, Mo…,” Adel menutup telepon. Momo heran dengan sikap sahabatnya itu.

Sejak Dave sakit, Momo merasa bersalah. Selama Dave menjadi tetangganya, Momo selalu kesal dan benci. Dia belum pernah berkunjung, bahkan Dave sakit pun dia belum menjenguk. Momo segan jika datang sendiri tanpa Adel. Beberapa hari kemudian, Dave sudah pulang dari rumah sakit. Kebetulan juga, Adel akhirnya mengajak Momo menjenguk Dave. Di suatu sore yang cerah, Momo dan Adel pergi ke rumah Dave.
Di rumah Dave….
“Hay, Dave…. Sorry, aku gak bilang sebelumnya ke kamu kalo aku ngajak Momo,” ucap Adel.
“Oh, it’s okey,” jawab Dave, ”silakan duduk.”
“Hay, Dave…. Udah sembuh kah?” Momo memberanikan diri bertanya.
“Ya, udah baikan. Tapi belum sembuh total,” ucap Dave, “terlalu rajin latihan piano, sampai telat makan.” Dave, Adel, dan Momo mulai bercakap-cakap. Ini pertama kalinya Momo memperhatikan Dave dari dekat. Dave masih terlihat pucat.
“Oh ya, Dave dan Momo… Sebenarnya aku punya satu maksud ngajak Momo kesini,” ucap Adel.
“Apa maksudmu, Del?” tanya Momo.
“Aku mau bilang… Sebenarnya, Dave suka sama kamu, Mo.. Dia punya foto-foto kamu,” Adel menghampiri sebuah laci di ruang tamu Dave. Dia mengeluarkan beberapa lembar foto dan meletakkannya di meja. Dave dan Momo sangat terkejut.
“Adel, kamu apa-apaan sih?” bentak Momo. Dave hanya membisu dengan wajah pucat pasi.
“Lihat foto-foto ini, Mo..! Ini bukti kalo Dave suka kamu. Sebagai sahabat, aku dukung hubungan kalian berdua. Silakan kalian mengenal lebih dekat. Aku pamit dulu. Bye…,” Adel tersenyum lalu pergi meninggalkan rumah Dave.
“Tunggu, tunggu!! Aku gak ngerti, apa maksud semua ini? Tolong jelasin, Dave!” pinta Momo.
“Maaf, Momo… Aku suka memotret kamu secara diam-diam,” kata Dave sambil menunduk.
Momo memperhatikan foto-foto itu. Semua objek foto itu adalah dirinya. Gambar-gambar Momo saat di teras rumah, di taman sebelah rumah, dan di depan pagar rumah. Semua foto itu indah dan alami. Momo terdiam sejenak. Tak percaya Dave bisa mengambil foto sebagus itu.
“Apa maumu, Dave? Buat apa kamu ngelakuin semua ini?” Momo tak mengerti.
“Aku cuma ingin dekat denganmu, Mo… Rasanya senang bisa memperhatikan kamu.”
“Tapi bukan begini caranya, Dave! Kamu tu aneh! Aku gak mau kamu menguntitku lagi dengan foto-foto seperti ini. Oke..! Aku pamit dulu!” Momo beranjak pergi. Dave hanya terdiam.

Beberapa hari kemudian…
Adel telah bercerita pada Momo. Saat Adel berkunjung ke rumah Dave, dia menemukan foto-foto Momo di meja. Bahkan Dave pun mengatakan, dia menyukai Momo. Namun Dave tipe orang yang tak pandai bergaul sehingga sulit mendekati Momo. Itulah yang menjadi alasan Adel untuk mengajak Momo ke rumah Dave. Adel pun mengatakan semuanya agar Momo tahu perasaan Dave.
Sejak kejadian di rumah Dave, Momo semakin merasa bersalah. Apalagi dia mengatakan Dave itu aneh. Momo semakin khawatir karena tak mendengar suara piano Dave lagi. Apa sakitnya semakin parah? Momo gelisah tak menentu.
Hingga pada suatu sore, Momo mendengar alunan piano Dave. Momo melihat ke jendela rumah sebelah. Ada Dave sedang bermain piano! Momo segera berlari menuju rumah Dave. Momo memasuki ruang tamu dan melihat Dave duduk di depan piano.
“Dave…!!” Momo memanggil Dave. Cowok berkacamata itu menghentikan permainan pianonya. Dia menoleh pada Momo.
“Momo?? Hay…. Ada apa?” Dave terkejut sekaligus senang.
“Dave, kamu kemana aja? Kemarin gak kedengeran main piano. Kamu masih sakit?”
“Oh, tenang.. Aku udah sehat kok. Kemarin aku ke tempat grup orchestra. Aku baru gabung jadi pianis di sana. Jadi, akan mulai sibuk dengan jadwal tampil,” Dave menjelaskan dengan semangat.
“Oh… Syukurlah..,” ucap Momo lega, “Dave, kamu jangan telat-telat makan lagi. Udah mulai kerja, harus jaga kesehatan.”
“Iya… Thank you perhatian kamu, Momo…” Dave mengagguk.
“Dave, maaf… Selama ini aku terlalu cuek ama kamu. Harusnya, aku lebih ramah ama tetangga baruku dan bisa mengerti sifatmu, Dave…,” Momo menyesal.
“Hehe… No problem, Mo… Aku seneng kita bisa kenal dekat,” ucap Dave sambil tersenyum. Baru kali ini Momo melihat Dave tersenyum manis. Begitu tulus dan hangat. Momo terpesona.
“Ehm… Dave, silakan dilanjut main pianonya,” Momo tersadar dan salah tingkah.
“Eh, gimana kalo kamu ikut temenin aku main piano?” Dave mempersilakan Momo duduk bersamanya. Momo pun duduk dengan malu-malu.
“Harus kuakui, Dave… Kamu emang jago main piano. Sejak kamu pindah kesini, aku kagum dengan permainan piano kamu. Tiap hari, aku terbiasa dengar suara pianomu. Tanpa alunan piano kamu, sepi banget rasanya…,” Momo memberanikan jujur.
“Aku gak pandai bicara atau berkata-kata. Hanya dengan piano, aku ungkapkan isi hatiku,” ucap Dave lalu mulai memainkan pianonya. Suara lembut piano mengisi relung hati Momo.
“Dave, aku ingin temani kamu main piano. Selalu….,” Momo bergumam dalam hati. Dave dan Momo tersenyum bersama. Bersemilah cinta diantara mereka berdua melalui dentingan piano.


Cerpen Romantis – Malam Pergantian Tahun

“iseng banget sich lo, gx ada kerjaan yach, gangguin orang.” Umpatku kepada seorang pria yang berdiri tepat dibelakangku. Yang ternyata didengar reika sahabatku dari tadi.

“ada apa sich sil ngedumel aja?” kata reika padaku.

“gx tau nich gw, ni cowok iseng banget dari tadi ganggu mulu, yang nyolekin gw, pas gw liat dianya malah pura-pura cool kayak yang gx bersalah gitu, truzz ngedorong2 gw, pas ditanyain malah nuduh orang yang dibelakang.” Jawabku sambil ngasih unjuk pada reika orangnya, yang belum beranjak berdiri tepat dibelakangku, tapi cowok itu hanya senyum-senyum aja bareng teman-temannya. Sebenarnya sich aku seneng digangguin dia, yaiyalah siapa sich yang nolak digodain cowok ganteng, tinggi, putih, cowok idaman aku banget.

  Cerpen Pendidikan

“malez ach gw, kebelakang yuk rei nyari tempat duduk sekalian cari minuman, capek gw, lagian malez banget ma cowok-cowok iseng ini”, sambil menarik reika yang lagi asyik ngedengerin lagu-lagu kesukaannya yang kebetulan diputar pada acara penyambutan malam pergantian tahun ini yang diadakan di alun-alun kota.

Tahun ini memang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, aku memilih merayakan penyambutan tahun baru diluar bersama sahabatku, sembari cuci mata cowok ganteng, mana tau ntar ada yang nyangkut,hehe. kami memilih alun-alun kota yang memang untuk setiap tahunnya dipadati penduduk yang ingin menikmati malam pergantian tahun, entah itu mereka pribumi maupun tidak, apakah mereka berdomisili dikota ini atau mereka yang hanya ingin sekedar singgah ke kota ini bercampur aduk meramaikan suasana malam ini.

“lo pesen minum anget buat gw ya rin, gw tunggu disini”, setelah mendapati tempat duduk beberapa meter dari panggung megah itu.
“hai,.” kudengar suara cowok menegurku

Saat ku menoleh kearah suara itu berasal “ternyata lo cowok iseng, ngapain lo ngikutin gw? Belum puas ngisengin gw tadi, mpe harus ngikutin gw mpe sini”jawabku dengan sinis.

“jangan marah-marah terus nona manis”sahutnya sambil tersenyum. ”aku indra” katanya sambil menyodorkan tangan perkenalan padaku “kamu??” serunya
“sisil”jawabku singkat.

“tara, minuman anget buat tuan putri datang”, tiba-tiba sisil datang dengan membawa dua gelas jeruk panas ditangannya beserta donat isi coklat kesukaannku. “lah, bukannya ini cowok yang tadi ngisengin lo?”, tanya reika dengan mengernyitkan dahinya.

“hai, kenalin gw indra”, “gw reika” sambil berjabat tangan

“o ya maaf tadi udah isengin kamu, tapi serius itu ualah temanku karena merasa terhalang badanmu yang tinggi sehingga gx bisa ngeliat panggung dengan jelas”.

“yaudah gx papa”, jawabku

Obrolanpun berlanjut, kami berbincang, tertawa, mencoba untuk lebih tau satu dan lainnya. Dan ternyata dia juga sama seperti ku yang ternyata lulusan sekolah menengah tahun ini yang juga sama seperti ku lagi bingung ngelanjutin kuliah atau melanjutkan usaha keluarga.
“boleh minta nomer hp lo gx” kata indra sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
“gx punya hp”, kataku, yang kebetulan malam itu aku memang lagi gx bawa ponselku karena lagi diservice beberapa hari yang lalu, so,. aku gx bohong donk ya.
“hari gini gx punya hp”, balas indra padaku
“masalah ya kalo gx punya hp?”

“gx juga sich,. By the way lo tinggal dimana??”tanya indra padaku
“komplek cempaka putik blok k3 No.25”, jawab reika
“paan sich lo rei.”, jawabku sambil mencubit sahabatku itu. “aww,sakit tau sil,”
“udah larut malam nich, kalian pulang gih, gx takut apa cewek-cewek masih diluar tengah malam gini, aku anter kalian kerumah yuk.,” kata indra
“plis deh ndra dimana-mana yang namanya ngerayain malam pergantian tahun itu yah tengah malam, lagian kami udah ada yang jemput nanti papaku.” sahutku
“tapi kalian kan cewek berdua aja, bahaya tau”,tegas indra. Perhatian banget ni cowok kataku dalam hati.
“tanggung ndra, beberapa menit lagi jam nol nol, rugi donk udah keluar dingin-dingin nungguin mpe jam segini trus pulang aja sebelum ikut tiup terompet menandakan bahwa tahun telah berganti, gw janji akan pulang secepatnya”, kujelaskan pada indra yang daritadi sibuk memperhatikan orang-orang yang sibuk lalu-lalang di depan kami.

“Horeeeee… sekarang sudah tahun 2012, rei berarti kita sudah tahun tahun diluar rumah yach, karena kita berangkat dari rumah tahun 2011 dan kembali lagi di tahun 2012, hehehe” teriakku semangat menyambut tahun baru.
“gw berharap ditahun ini aku menjadi orang yang lebih baik lagi, aamiin”, tambahku
“gw mau berubah jadi lebih baik lagi ditahun ini”, sambung reika
“gw mau lebih dekat lagi sama kalian”, indra ikut berucap.
“Telpon dari papa gw bukan rei”, tanyaku. ”he-eh sil, dia udah nungguin tuch diparkiran depan gerbang, udah yuk, takut kelamaan nunggu, kasian bokap lo”, sambil menarik pergelanganku.

“ndra gw pulang dulu yach, mpe ketemu dilain waktu”, kataku
“gw anter mpe gerbang yach”, indra memberikan tawaran
“sil, si indra kemana? Ngomongnya mo nganter tapi mana dia”, tanya reika padaku
“tau tuh, takut kali ketemu ma papa, hehehe”,jawabku sambil tertawa
Laper nich perutku, yaiyalah sekarang tuch udah jam dua siang, aku baru terbangun tidur setelah melewati malam pergantian tahun yang mengesankan. tapi gx ada apa-apa dirumah yang bisa dimakan, kubuka pintu berharap ada tukang makanan yang akan lewat jam segini. Lalu keluar dan berdiri sambil melakukan gerakan-gerakan kecil untuk meregangkan otot-otoku. Mobil siapa tuch yang parkir depan rumah gw, jangan-jangan ada tamu yach dirumah, koq gw gx tw yach, kataku dalam hati.

“sil”, kudengar ada yang manggil dari arah mobil tadi.
“hei, lo ndra, ngapain lo disitu”, tanyaku sambil mendekati indra yang ternyata pemilik mobil yang tadi aku curigai punya siapa
“yaa nungguin lo lah, memang ngapain lagi gw kesini”, jawabnya “keluar yuk nyari makan”, ajak indra yang aku tau dari nadanya terdengar gugup mengucapkan kata-kata itu, tapi,hmmzz kebetulan aku memang lagi lapar.

“yuk,kebetulan gw juga lagi laper banget nih, dari acara semalam belum makan, lo tunggu bentar yach gw mandi dulu,”usulku
“gx usah pake mandi-mandi segala sil, kelamaan, lagian lo tetep cantik koq walaw belum mandi”,eits indra mulai mengeluarkan jurus lelakinya padaku,.
“yaudah gw ganti baju kalau gitu”sahutku

Semenjak hari itu kami mulai lebih dekat, hampir setiap hari berkunjung walau hanya mpe pagar rumah aja, gx tau kenapa dia paling gx mau kalau diajak masuk kerumah. Mpe keluargaku juga heran ngeliatnya. Setelah dapat no handphoneku, dia lebih sering meneleponku, atau sekadar mengirim pesan singkat berisikan kata-kata romantis kepadaku. Kita juga sering chat lewat akun facebook.
Tak terasa ternyata sudah 3 bulan ja aku mengenal indra lamunku di depan televisi yang sedari tadi kunyalakan tapi aku gx pernah tau apa mengenai siaran yang kuputar.

“kak, mobil cowok lo masuk got depan rumah tuch, papa sama warga lagi bantuin”,kata adik kesayanganku, ups tunggu dulu kapan juga gw jadian ama cowok yang bikin aku kesal di malam pergantian tahun itu.

“serius lo yan, wah koq bisa tuch anak nyungsep di got, parah”, sahutku sambil berjalan menuju TKP (hehehe)
“koq bisa ndra?”, tanyaku pada indra yang dari tadi sibuk bersihin badannya yang penuh lumpur habis nyelamatin mobilnya yang nyungsep ke got.
“tau nich, tiba-tiba aja gw hilang kendali, dengan nada gugup”. Jawabnya dengan gugup.
“kamu mau gx jadi pacar aku”, eng ing eng kata-kata yang keluar dari mulut indra membuatku kaget, berikut dengan panggilan aku kamu yang diucapkannya membuatku terdiam gx bisa berkata, berat rasanya lidahku untuk berucap satu katapun.
“hei,.jawab donk sil, koq malah diam”, pertanyaannya membuat aku makin bingung.
“yaa, yaa mau lah,” jawabku pelan saking malunya mpe mukaku merah.

“horeee,” indra bersorak gembira yang sontak mengagetkanku. Yang dari tadi masih membeku walau sudah memberi jawaban yang memuaskan indra dan aku pastinya, yaa, aku memang menyukai indra dari awal kita bertemu sejak dia menggangguku malam itu.
“tau gx sil aku suka ma kamu sejak malam pergantian tahun itu, aku sengaja membiarkan teman-temanku mengganggumu supaya aku bisa kenalan ma kamu, hari ini aku merasa bahagia banget, tadi pas kamu kasih jawabannya, ingin rasanya kupeluk dirimu, saking bahagianya diriku,” isi pesan singkat dari indra yang baru saja kuterima barusan.

Hari ini aku juga merasa bahagia ndra, bahkan mungkin lebih bahagia dari kamu, kataku pelan sambil memeluk ponselku yang dilayarnya masih tertera pesan singkat dari indra.

Sejak saat itu hampir setiap hari aku menerima kata-kata, ucapan-ucapan romantis dari indra, yang membuat hidupku berbunga-bunga. Bahkan indra sering memanggilku dengan sebutan sayang, yang pasti membuatku makin mengagumi sosok indra.

Semakin lama hubungan kami semakin dekat, bahkan sekarang indra sudah akrab dengan keluargaku, hampir setiap hari mampir kerumahku bercanda bersama keluargaku, indra memang gx malu lagi masuk kerumahku.

Aku berharap hubunganku sama indra akan berlangsung lama bahkan mpe ke jenjang pernikahan, yaa walaupun aku tau hubungan pacaran itu akan banyak rintangannya, tapi aku yakin kalau kami bisa melewatinya bersama.


Cerpen Romantis – Tekanan Cinta Bowo

Hari senin itu, setelah upacara bendera yang amat sangat melelahkan karena terik matahari yang sangat menyengat, Bowo duduk-duduk di kebun belakang sekolah bersama-sama dengan semua teman sekelasnya. Ketika itu Bowo, yang sudah kelas 5 tingkat SD itu menjadi salah satu petugas upacara. Tidak tanggung-tanggung, dia adalah seorang pemimpin upacara. Dia dipilih sebagai pemimpin upacara karena ia memang seorang yang sangat tegas dan nampak sangat berwibawa dengan perawakan postur tubuh yang kekar dan agak sedikit besar. Tak sebatas itu saja, Dia juga cerdas pikirannya, tanggap, pemberani, dan juga menjadi panutan teman-teman lainnya. Bila Dia bilang A maka teman sekelasnya mengikuti A, bilang B teman sekelasnya ikut B. Ia pun mendapat julukan maskot sekolah. Selain sering jadi pemimpin kegiatan baik itu upacara, pramuka dan lainnya, Ia pun juga ditunjuk sebagai ketua kelas di kelas 5 A dengan alasan yang sama. Oleh karena ketegasannya itulah Bowo disukai dan disenangi banyak orang. Terutana para gadis. Taka hanya gadis di kelas 5 A saja yang menyukai dia. Bahkan dari kelas 4 sampai dengan kelas 6 pun banyak yang suka padanya. Maka dari itu ia ibarat “bunga sekolah”, bayangan dirinya selalu bergelayut-gelayut indah diatas pikiran para wanita yang “tidak berdosa”.

Kisah cinta Bowo pun tidak kalah menariknya. Tidak diduga-duga ia pernah ganti pasangan. Era adalah wanita pertama yang dicintai oleh Bowo. Suatu ketika setelah upacara 17 Agustus-an mereka berencana untuk bertemu bersama-sama dikebun belakang sekolah. Perencanaan itu dilakuakan hari sebelum upacara 17 Agustusa-an. Ketika bowo sedang asyik membaca buku IPA, Era memberanikan diri untuk mendekat kepada Bowo.
“Eh, Bowo kamu tahu gak apa yang aku rasakan saat ini”, tanya Era pada Bowo.
“Emang apa yang kamu rasakan?”, Jawab Bowo.

“Kamu tahukan anak yang tercantik di sini siapa?”, balas Era lagi.
Memang anak yang paling cantik adalah Era. Dengan uraian rampbutnya yang panjang, bibirnya yang tipis mempesona, dan juga kulit tubuhnya yang putih, tak heran kalau ia dijuluki sebagai anak tercantik di sekolah tersebut. Perempuan yang sudah beranjak kelas 6 memang sedari dulu sudah sangat terpesona dengan Bowo. Di kamarnya banyak terpampang foto-foto Bowo. Ia mendapat foto-foto itu dari hasil motret secara sembunyi-sembunyi. Sampai pada saat ini ia memberanikan diri untuk melakukan pendekatan kepada Bowo.

“Ehm siapa ya?” Krang tahu sorry ya aku kurang up date.” Kata Bowo balik bertanya.
“Ah, itu tidak penting. Eh besok setelah upacara kita bisa ketemuan gak di kebun belakang sekolah tempat biasanya kamu dengan temen-temenmu?”, Pinta Era.
“Ada apa?”, tanya bowo bingung.
“Ada deh. Ada yang spesial untuk kamu besok. Da….”, Sambil berlari meninggalkan Bowo.
Era tidak memperdulikannya karena Era memang sengaja langsung meninggalkan Bowo untuk mengantisipasi penolakan Bowo terhadap dirinya atas permintaan tadi. Padahal bowo sudah pasti dirinya tdak akan menolak karena sasaran cintanya saat itu memang hanya tertuju pada Era yang gadis tercantik di sekolah.

Sampailah pada saat yang dinanti-nanti oleh Era. Sebenarnya Era ingin menyatakan cintanya pada Bowo. Bowo yang memang juga telah lama menaruh cinta pada Era sangat bersemangat untuk mendatangi kebun belakang sekolah itu. Di sana Bowo melihat Era sedang menantinya sedang duduk di bawah pohon besar disamping jalan setapak menuju arah sawah dan sekolah. Terlihat Era sedang membawa sesuatu di tangan kanan dan kirinya. Setelah mereka saling berhadap-hadapan, si Era membuka pembicaraan.
“Ahh, Kamu telat, walau pun gak lama”, kata Era.
“Sorry, aku tadi harus mengembalikan alat-alat yang digunakan untuk upacara.” Jelas Bowo.
Memang selain menjadi petugas upacara, Ia juga membantu para panitia yang menyiapkan upacara baik itu menyiapkan peralatan upacara maupun pengemasan alat-alat yang digunakan untuk upacara.
“Ok ok….. aku tahu kok kalau kamu sibuk, tapi mbok ya kamu itu peduli sedikit dengan janjimu. Sudahlah kalau begitu ada yang mau akau sapaikan ke kamu.” Jelas Era.
Sambil sedikit gemetar, Bowo yang sudah sedari dulu memendam rasa cinta yang amat sangat kepada Era balik bertanya, “ada apa sih Er? Kalau ada yang harus kamu ungkapkan langsung saja deh.”
“Sabar dong. Ini lihat ditangan kananku aku membawa roti dan permen, sedang di tangan kiriku aku membawa cabai.” Jelas Era.
“Trus?” Jawab Bowo.
Era menjelaskan masing-masing hal yang berkenaan dengan barang yang ada di tangannya. “Gini, kalau kamu memilih roti dan permen di tangan kanan ku ini, maka kamu aku anggap kamu telah memberi aku yang enak-enak dan manis-manis seperti roti dan permen ini, kamu sama saja dengan membawa hatiku ini kepada yang aku senangi, tapi bila kamu memilih cabai ini maka kamu saja telah melukai hatiku, seperti perihnya luka yang terkena cabai ini. Intinya apabila kamu menerima cintaku kamu harus memilih apa-apa yang ada di tangan kananku ini, sedangkan kalau kamu menolak cintaku maka kamu akan memilih cabai ini.”
Dengan begitu Era melakukan “penembakan” kepada Bowo.

Dengan hati yang berdegup-degup sebenarnya ia akan menentukan pilihannya, namun Era memotong lagi.
“Oh ya lupa, ada beberapa hal yang harus kamu penuhi sebelumnya. Aku mau kamu meninggalkan apa-apa yang telah kamu punya. Seperti meninggalkan jabatan sebagai ketua kelas, meningglakan jabatan sebagai pemimpin upacara dan sebagainya, karena aku hanya ingin waktu kamu hanya untuk aku.” Jelas Era yang sedikit egois.
Dengan seketika Bowo langsung menyambar barang yang ada di tangan kiri Era seraya mengucapkan, “maaf-maaf saja kalau aku harus meninggalkan apa yang sudah menjadi tanggung jawabku. Aku memang mencintaimu sudah sedari dulu, tapi rasa itu baru saja hilang karena kata-kata egoismu yang hanya mementingkan dirimu sendiri.”
Setelah itu Bowo berbalik badan dan langsung meninggalkan Era seketika itu. Ia tidak mau melepaskan tanggung jawabnya sebagai seorang pemimpin. Ya seperti itulah sosok Bowo yang berwibawa.

Hancur sudah perasaan Era yang sedari dulu menaruh cinta pada Bowo. Ia menyesal telah mencintainya dan berjanji akan mambuat perhitungan dengan si Bowo. Karena hal inilah terjadi perselisihan antara kelas 5 A, kelas milik Bowo terhadap kelas 6, yakni kelas milik Era. Bahkan mereka pernah saling lempar-lemparan batu kearah satu sama lain. Hingga membawa korban yang terkena batu sampai kepalanya bocor, dia adalah Udin teman sekelas dari Bowo. Para guru pun tidak tahu akan perseteruan ini, karena mereka melakukan “perang dingin” antara kelas satu sama lain.
Seiring berjalannya waktu tak ada yang menghentikan dan tak ada yang merelai perseteruan itu berakhir dengan sendirinya. Hubungan kembali seperti semula, tak ada perselisihan sama sekali.

Kembali ke Bowo. Karena kejadian itu ia sama sekali tak menaruh rasa lagi dengan Era walaupun ia dulunya adalah cinta pertamanya atau bisa juga disebut cinta pada pandangan pertama. Dia sekarang menaruh hati pada wanita lain. Dia adalah Kiki, seorang anak sederhana memakai kerudung, pandai dan baik hati. Dia sama dengan Bowo kelasnya, yaitu kelas 5 namun ia yang kelas B. Bowo mengetahui seluk beluk dari gadis sederhana itu ketika gadis itu menjadi petugas upacara, yaitu sebagai pembaca do’a yang baru menggantikan pembaca do’a yang lama. Ia mulai merasakan hal itu ketika ia merasakan dalam hatinya suara Kiki yang membawakan do’a yang dibacakan ketika upacara bendera. Sampai suatu ketika Bowo memiliki suatu rencana yang akan dan harus ia laksanakan agar tak menjadi beban yang akan membebaninya. Tak salah lagi, ia akan menyampaikan perasaannya pada Kiki. Diterima atau tidak cintanya ia tidak perduli asalkan gadis itu tidak membatasi kegiatannya.

Karena perasaan Bowo yang tidak menentu ia memutuskan untuk tidak secara langsung mendatangi Kiki untuk janjian seperti halnya yang dilakukan Era terhadapnya. Tapi ia mengajak ketemuan melalui surat yang ia titipkan pada seorang lelaki teman baiknya yang berada di kelas B yang bernama Jaelani. Jaelani tidak tahu kalau itu adalah surat undangan untuk Kiki bahwa Bowo akan merencanakan sesuatu pada Kiki. Soalnya Bowo bilang bahwa surat itu surat untuk izin sesuatu yang berhubungan dengan upacara bendera. Jaelani pun tanpa rasa curiga menyampaikan surat itu kepada Kiki. Isi dari srat itu adalah sebagai berikut ini.

“Aduhai Dinda, kau bagaikan bunga yang bermekaran diantara bunga lain yang sedang layu. Harummu sampai merusak pencumanku, keindahanmu pun bagaikan hiasan-hiasan bunga yang amat sangat indah. Perkenankan aku untuk menemuimu ya nanti siang seusai sekolah di kebun belakang sekolah, di bawah pohon rindang samping jalan setapak.”
Salam hangat dari pemuja rahasiamu
Bowo

Begitulah isi dari surat yang dilayangkan oleh Bowo kepada Kiki yang dititipkan kepada teman sekelas Kiki.
Membaca surat yang berisi undangan itu Kiki kaget dan pikirannya langsung melayang.
Dalam benaknya bergumam, “apakah ini nyata ya? Masak ada anak gagah perkasa kayak Bowo, penuh tanggung jawab tertarik pada diriku yang banyak kurangnya ini. Tapi tidak apalah inikan undangan.”

Seusai sekolah siang itu, Kiki langsung menuju ke tempat yang ditulis sesuai dengan yang ada di surat itu. Di sana ia melihat ada seorang anak yang bertubuh tegap sedang duduk di bawah pohon besar di samping jalan setapak. Kiki datang dan menghampiri anak itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Bowo yang dengan ikhlas menunggu kehadiran dari Kiki ini. Tak panjang lebar Bowo langsung membuka pembicaraan.

“Kamu sudah terima surat dari si Jaelani ya?” Tanya Bowo.
“Oh itu ya. Sudah kok Bang” Jawab Kiki lugu.
“Lho kok dipanggil bang, panggil saja Bowo, kita kan sama-sama kelas 5 nya. Kalau kamu panggil bang nanti aku kelihatan tua dong.” Jelas Bowo dengan nada yang naik turun.
“Iya Bang, Ehh Bowo.” Balas Kiki.
“Kiki kamu tahu nggak mengapa kamu aku undang kemari?” Tanya Bowo lagi.
“Enggak.” Jawab Kiki singkat.
Bowo melanjutkan lagi pembicaraannya, “Gini Ki, Kamu tahukan kalau aku amat sangat suka pada orang yang mempunyai sura yang indah. Seperti kamu ini yang ketika berdo’a mampu membawaku seperti sampai ke Rabb ku. Langsung saja ya. Maukah kamu menjadi kekasih ku Ki? Aku sangat berharap kamu mau menerima aku sebagai orang yang istimewa bagi kamu. Tapi mungkin ada yang harus kamu tahu sebelumnya, aku tidak bisa melepas tanggung jawab ku di sekolah baik itu sebagai ketua kelas maupun sebagai pemimpin upacara. Gimana? Apa pun jawabanmu aku terima kok, kamu jangan memaksakan kalau kamu memang benar-benar tidak suka padaku, mungkin kita bisa hanya menjadi teman saja”

Kiki nampaknya tidak bisa berkata-kata, lidahnya kelu dan bibirnya pun membisu seribu bahasa. Hanya anggukan saja yang menjadi sinyal untuk Bowo bahwa ia benar-bnar menerima cintanya.
“Kalau begitu mari kita rajut dan kumpulkan butiran-butiran asmara yang telah jatuh dan berserakan diantara kita. Kita susun bersama-sama agar nantinya bisa sampai kekal abadi selamanya.” Terang Bowo sambil memegang tangan Kiki serta mengelus-elusnya.

Hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit untuk melakukan pembicaraan itu. Akhirnya mereka pulang kerumah bersama-sama karena arah rumah mereka sama, namun lebih dekat rumah Bowo. Jadi, Bowo lebih pulang dahulu meninggalkan Kiki.

Bowo pamit ke Kiki sambil mengucap, “Do’ku menyertai kamu dan hatiku akan selalu bedekatan dengan hatimu. Sampai jumpa besok di sekolah ya adinda.”
Kiki hany tersenyum manis sambil mengangguk. Sebenarnya perasaan Kiki juga gembira akan hal itu. Ia ingin merasakan hubungan yang istimewa dengan seseorang yang sangat bertanggung jawab seperti Bowo. Ia tidak menolak ungkapan cinta dari Bowo karena ia tahu bahwa Bowolah orang yang ditunggu-tunggu oleh Kiki karena tanggung jawabnya.


Cerpen Romantis – Coklat Misterius

Namaku Rachell Victoria, aku punya seorang sahabat yang bernama Bryan Elmi Chandra. Dia baik, hari hariku selalu indah bersamanya.

  Cerpen Persahabatan

Saat kami berdua ingin masuk kelas, tiba tiba di atas mejaku ada coklat dan surat.
“Hell, di atas meja kamu kok ada coklat sama surat? dari siapa tuh?” tanya Bryan
“aku juga enggak tau siapa yang naru” jawabku dengan perasaan bingung
“coba kamu baca suratnya deh, siapa tau ada nama pengirim nya!” seru Bryan
Akupun langsung membuka surat itu :
“coklat ini ku persembahkan untukmu,semoga kamu suka. Kamu tau kan manis nya coklat? semanis itulah senyummu yang selalu ku tunggu”
Begitulah isi suratnya. Tanpa nama dan sangat misterius.
“Hell gimana, siapa pengirim nya?” tanya Bryan
“entahlah, aku enggak tau” jawabku dengan nada rendah
“ya udah lain kali kita cari tau ya!” kata Bryan

Kami berdua pun duduk, untuk mengikuti pelajaran, Bryan duduk di samping aku. Selama dua jam pelajaran aku bener bener enggak serius, aku masih kepikiran siapa pengirim nya.
Tiba tiba Bryan mengagetkan ku.
“hayo lagi mikirin apa sih?” tanya Bryan
“Aaa… Emm.. eehh… enggak kok” jawabku gugup
“Bohong. Ah males aku sama kamu, sekarang main rahasiaan ya. Ok kalau begitu” Kata Bryan sambil meninggalkan ku
“eh Bryan tunggu, mau kemana? kitakan sahabat masa marah sih?” kataku membujuk Bryan
“habis kamu sekarang main rahasiaan sih” jawab Bryan
“iya deh maaf maaf aku enggak akan begitu lagi” jawabku
Kamipun baikan lagi.

Bell pulang sekolah pun berbunyi, aku pulang berdua sama Bryan karna rumah kami tidak terlalu jauh.

Esok pagi akupun sekolah. Ku lihat di atas meja ku ada coklat dan surat.
“siapa sih yang ngasih seperti ini untuk ku?” tanyaku dalam hati
Tiba tiba Bryan datang.
“hey Hell, dapat coklat lagi?” tanya Bryan
“iya nih, aku bingung siapa yang ngirim!” jawabku
“mungkin pengirim nya itu naksir sama kamu kali” ledek Bryan
“hahaha lucu kamu ya” tawaku

Seminggu, dua minggu, tiga minggu telah berlalu. tetapi pengirim coklat misterius itu masih belum di ketahui. Karna penasaran aku pun sengaja pergi sekolah lebih awal.

Saat sampai di sekolah.
“lho kok pintunya sudah kebuka? lampunya juga sudah nyala? bukannya jam 05.30 ya pintu ini mulai di buka? kan belum ada murid yang datang” tanyaku dalam hati
“ya sudahlah aku masuk aja barang kali di dalam ad petunjuknya” pikirku

Saat didalam aku melihat laki laki sebayaku sedang menaru coklat dan surat di atas mejaku.
“siapa kamu?” tanyaku dengan nada tinggi
Laki laki itu tidak berani menoleh ke arahku, akhirnya akupun menghampirinya.
“Bryan…??” jadi pengirim coklat itu kamu?” tanyaku yang tak menyangka.
“Rachell maaf aku sudah bohongin kamu, aku enggak punya maksud apa apa kok. Aku cuma…” perkataan Bryan terputus
“cuma apa?” tanyaku
“aku suka sama kamu…” kata Bryan sedikit berteriak
Suasana hening sejenak.
“maaf kalau sudah buat kamu merasa enggak nyaman. Anggap saja tadi hanya lelucon” kata Bryan sambil pergi meninggalkanku
“tunggu Bryan. Aku juga suka sama kamu” teriak ku kepada Bryan. Bryan menoleh ke arahku sambil memberi ku seyuman.


Cerpen Romantis – Yang Pertama Dan Yang Sejati

Semua orang pasti pernah merasakan suatu hal abstrak yang disebut cinta. Cinta membuat seseorang menjalani suatu hal yang biasa maupun tak biasa dalam kehidupannya. Aku bisa merasakannya, ya… aku mencintainya secara diam-diam. Sungguh aku tak berani untuk mengungkapkannya. Walaupun aku merasa sesak di dada setiap kali melihatnya bersama orang lain, aku tetap melakukannya. Dia cinta pertamaku, dialah yang membuatku menggunakan cinta pada hal yang benar. Tapi sampai saat ini aku tak berani mengungkapkannya. Dia adalah kakak kelasku di sekolah. Mungkin juga dia tak pernah mengenalku. Setahuku, dia tak pernah tahu namaku. Aku binggung dengan yang kurasakan sekarang. Sejauh apapun aku mencoba berlari meninggalkan perasaan itu, perasaan itu akan tetap datang kembali. Bagaimanapun aku pernah melupakan perasaan itu, perasaan itu akan tetap muncul kembali. Haruskah aku merasakan penderitaan ini Tuhan?

Namanya adalah Joe, dia kelas XII IPA 5. Dia pintar, dan satu hal yang pasti.. aku melihat dia berbeda dengan yang lain. Saat semua orang sibuk dengan hal-hal yang penting, dia tetap santai menjalaninya. Dia sangat cool, itu yang membuat aku begitu tertarik padanya. Aku selalu ingin tau tentang dia.

“CHEL.. tungguin aku dong!”. Dengan sedikit berteriak aku memanggil sahabatku yang baik plus pintar plus cantik. “ga ada pe-er kan?” tanyaku padanya. Dia tersenyum padaku lalu berkata “ya, kali ini kamu selamat!”. Dengan perasaan lega aku menggandengnya berjalan ke kelas. Aku sangat menyayangi dia dan fany, karena aku yakin ada ketulusan di hati kedua sahabatku ini.
“ko bengong neng?” tanya fany pada michel yang dari tadi memang seperti mengkhayal. Sedangkan aku sibuk dengan cerpen yang kubaca lewat handphone. “eeenggg.. aku boleh cerita sesuatu gak?” jawab michel. Aku yang sedikit kepo langsung mengambil tempat tepat di depan michel. “apaan ni?” aku heran mengapa aku selalu bertanya tepat bersamaan dengan fany. “aku menyukai seseorang, tapi rahasia yah!”. “siapa ?” ya barengan lagi. “tahu kakak kelas yang namanya Joe gak?”. “tau!” serempak juga jawabannya. “kayanya aku jatuh cinta sama dia”. “duh.. harus diusahain tuh chel”. Lidahku keluh, aku tak dapat berkata apa-apa lagi. Hanya senyum kecil yang tulus yang kutunjukan padanya. Aku tak tau lagi harus berbuat apa, mungkinkah aku harus berhenti menyimpan perasaan ini demi sahabatku. Aku memang tak berani menceritakan ini pada yang lain, michel tak salah.

Berbulan-bulan sejak michel menceritakan hal itu padaku dan fany, dia tak juga mengungkapkan perasaannya. Tapi bedanya denganku adalah banyak yang mengetahui tentang perasaannya pada Joe. Sampai akhirnya terdengar kabar bahwa Joe telah berpacaran dengan vero, teman sekelasnya yang populer di sekolah. Aku dan teman-teman heran mengapa Joe mau jadian dengan vero. Vero punya pacar lain yang bernama fariz, dia sudah kuliah di ITB jurusan bisnis. Aku sakit hati saat itu, aku mencoba kuat tapi sebenarnya tidak. Buktinya setelah tiba dirumah aku selalu menangis di kamar. Sama halnya dengan michel, ia sangat terpukul. Terlihat dari wajahnya yang murung. Tapi michel memang selalu berpikir positif, dia berpikir mungkin belum saatnya.

Treet.. tereet… treeet.. treeet… suara itu membangunkanku dari tidurku. Kulirik sedikit jam weker diatas meja. “mamaaaaaaaaaa” aku berteriak dengan segenap tenaga yang kukumpulkan setelah bangun pagi ini. “kenapa sih non ribut-ribut?”. “mama koh gak bangunin seryl sih bi?” aku marah saat itu. “mamanya udah berangkat ke singapura tadi subuh jam 3”. “singapur?” aku heran dengan kata-kata bi mayang barusan. Tapi aku hentikan pertanyaanku disitu dan bergegas ke kamar mandi. Hari ini aku sial. Aku tak biasa bangun sendiri, biasanya mama selalu mambangunkanku.

Aku keluar rumah untuk mencari taksi yang akan kutumpangi untuk kesekolah. Aku sangat kaget melihat kakakku yang sudah siap dengan motor kawasaki ninja birunya. Entah ingin ngapel kemana dia pagi-pagi begini. Aku melewatinya, karena kali ini aku tak ada waktu untuk berdebat. “Hey mau kemana kamu? Kak Rey yang anterin ke sekolah!” . aku tak berpikir yang lain-lain lagi, mungkin arah ngapelnya sama arahnya dengan sekolahku kali. “iya deh!”.

Sialnya diriku, Aku telat sendirian. Pasti kerjanya berat kali ini. Kenapa juga hanya aku yang lambat bangun kali ini. Tunggu.. tunggu.. liat siapa yang telat? Joe? Wowww… kesempatan yang tak terduga dibalik kata sial hari ini. “ternyata yang telat hari ini janjian yah! Bersiin toilet guru bareng-bareng..”. entah mengapa aku langsung malu dengan kata-kata pak hasno. Aku membersihkan toilet bersama Joe, dia tak sedikitpun melihatku saat bekerja. Aku merasa seperti bayangan, setidaknya masih ada orang yang tertarik untuk melihat bayangan. Ketika selesai membersihkan toilet, kami kembali ke kelas masing-masing. Kelas kami berlawanan arah, aku melihat ke belakang. Dan saat itu juga pertama kalinya kulihat dia melihatku juga.

Setelah sekolah berakhir aku langsung pulang ke rumah, biasanya aku jalan-jalan dulu bersama dua sahabatku. Tapi pengecualian hari ini, karena aku telah menyimpan berjuta-juta pertanyaan pada bi mayang. “slamat siang!” sapaku setelah sampai didepan pintu. “siang ser…” suara kak rey yang menjawab. Dia duduk di sofa tempat menonton, aku juga ikut duduk disampingnya. Dia langsung memelukku dan mencium keningku, aku hanya diam terpaku saat itu. Aku merasakan pundakku basah, dia menangis. Karena menyadari aku akan mengetahui dia menangis, dia segera menghapus air matanya dan berkata “adeku udah besar yah, entar kalo udah punya pacar gak bisa cium-cium lagi dong”. “kak rey apaan sih? Koh tumben jam segini ada dirumah? Biasanya ketemu kakak cuman pas makan malam aja!”. “mulai sekarang kan mau jagain ade aku, biar gak sembarangan nyari cowo”. Aku terharu mendengar kata-katanya, ternyata dia masih kakaku 10 tahun yang lalu. “mama ngapain ke singapura? Mau balikan sama papa ya disana?”. “sembarangan kamu! Urusan bisnis katanya”. “lama gak?”. “mungkin bertahun-tahun”. “yang serius dong kalo ngomong!”. aku mulai kesal lagi padanya. “kakak serius koh, emangnya kenapa? Takut gak ada yang bangunin? Gak ada yang ceritain dongeng? Tenang aja, kakak bakalan gantiin semua yang mama lakuin buat kamu”. Aku hanya diam, perasaanku tak enak. Aku menelepon mama, dan benar yang dibilang kak rey tadi siang. Dan terakhir mama bilang “baik-baik sama kak rey yah, mom love you”. Sesuai juga dengan janjinya, kak rey menggantikan mama untukku. Aku sangat bahagia. Setiap hari aku di antar ke sekolah naik motornya, walaupun kadang dia ingin naik mobil aku tetap memaksanya naik motor. Hal ini membuat teman-temanku iri, karena dia adalah kakak yang sangat-sangat tampan dengan gaya yang modis dan bisa mengalahkan kecool-an cowok manapun di dunia ini.

Kemping sekolah tiba, aku berusaha keras agar bisa mendapat izin dari kak rey kali ini. Dia tak memberikan isin padaku. Aku memohon-mohon padanya, dan akhirnya dia mengisinkanku dengan catatan :1. Handphone harus aktif setiap saat ; 2. Wajib laporan sebelum bobo ; 3. Jangan dekat-dekat cowok (dia punya detektif yaitu michel dan fany) ; 4. Jangan marah kalo tiba-tiba kak rey muncul ditempat kemping (ini sangat memalukan).

Saat kemping, ternyata joe dan vero sudah putus. Aku bahagia, michel juga. Aku sudah menganggap biasa jika michel bercerita tentang joe. Joe sudah mengetahui perasaan michel padanya. Dia menanggapi positif yang berarti tamat bagiku. Jika dia berpacaran dengan orang lain tak apa, tapi tidak dengan sahabatku. Dan mimpi buruk itu menjadi nyata, akhirnya mereka jadian. Badanku lemas, sepertinya aku akan sakit. Tapi hal ini tidak lebih sakit dari yang kurasakan sebelumnya. Kemping belum selesai aku sudah pulang duluan karena rupanya michel dan fany menelepon kak rey dan mengatakan bahwa aku sakit. Aku benci semua orang yang ada saat ini. Duniku hancur, bersama hatiku. Setelah aku agak baikan, aku memohon-mohon pada kak rey untuk memindahkan sekolahku kembali ke jakarta. Kita memang punya rumah lain di jakarta. Tapi dia berkata tak bisa meninggalkan aku sendiri di jakarta. Aku terus memohon padanya sampai menangis-nangis dihadapannya. “oke.. tapi cerita dulu kenapa pengen pindah”. Karena aku begitu dekat dengannya, aku menceritakan semuanya. “jadi mau ninggalin first love yang gak kesampean nih?”.

Akhirnya aku bisa pindah ke jakarta, walaupun berat rasanya meninggalkan bandung. Aku meninggalkan cinta pertamaku di bandung. Aku berpisah dengan michel dan fany. Tapi aku tetap berkomunikasi dengan mereka. kak rey mengalah untukku. Dia mengambil kuliah yang satu minggu hanya tatap muka sekali. Aku yakin kalau dia benar-benar menyayangiku.

Lima tahun kemudian baru aku mau menginjakan kakiku di bandung, itupun karena mendegar ibuku akan kembali ke bandung. Aku dan kak rey sampai di rumah dan bertemu bi mayang yang masih menjaga rumah ini. Aku memeluknya saking rindunya. Ia sudah terlalu tua untuk merawat rumah sebesar ini. Kak rey sudah selesai kuliah dan bekerja diperusahaan mama di jakarta. Dia mulai bekerja dari nol, karena merasa tak adil jika langsung berada diposisinya seperti sekarang. Dia sekarang adalah wakil direktur. Sedangkan aku seorang mahasiswi kedokteran UI. Apa kabarnya michel dan fany ya? Yang terakhir kudengar michel sekolah di UGM jurusan Bisnis manajemen dan fany sekolah di Harvard University jurusan hukum. Dan satu yang ingin kutanyakan, apa kabarnya cinta pertamaku? Tak ada yang memberitahuku kabarnya. Dia putus dengan michel setahun setelah aku di jakarta. Dan setelah mereka putus aku baru berani menceritakan tentang perasaanku pada michel dan fany.

“ser.. mamanya nyampe nih”. Kak rey memanggilku dari depan, sepertinya kali ini dia tak bohong. “mamaaaaaaaa”. Aku memeluk mama sangat kencang dan tak menyadari kalau mama berada diatas kursi roda. “jangan kencang-kencang dong meluk mamanya” kak rey menegorku. “mama kok gak ngomong?” mama hanya tersenyum. Setelah mendengar cerita dari kak rey aku tahu bahwa mama ke singapura untuk berobat karena tumor di kepalanya, mama juga belum boleh bicara. Dan faktanya adalah mama gak akan bisa hidup lebih dari satu bulan ini. Aku merasa ingin mati saat ini, untuk yang kesekian kalinya aku akan kehilangan orang yang kusayangi. “jadi selama ini mama menderita? Trus Cuma aku satu-satunya yang gak tau? Kak rey jahat? Semua jahat!” kak rey hanya diam dan memelukku sekencang-kencangnya.

Karena menyadari mama gak akan lama lagi bakal pergi, aku dan kak rey selalu menyempatkan diri untuk bersama-sama dengan mama. Mama sudah bisa bicara kembali. Kami sering pergi berjalan-jalan ke tempat-tempat kenangan kita dulu. sesering itu pula aku meneteskan air mata. Aku duduk berdua dengan mama di teras rumah, aku mengupaskannya peer. “sayaang.. mama boleh minta sesuatu sama kamu gak?”. Aku heran melihat mama menatapku serius. “apaan ma?”.”kamu janji akan mengabulkan permintaan mama?”. Aku jadi takut mendengar kata-kata mama lalu jawab dengan anggukan kecil. “jagalah kak rey”. “bukannya kak rey yang harusnya jagain aku ya?”. Mama tersenyum “maksud mama kamu menikah dengan kak rey ya?”. Saat itu juga kak rey sampai dirumah. “kok nama aku disebut-sebut sih??”. “kamu udah nyampe? Duduk ya, mama mau menjelaskan semuanya”. Aku bingung harus menuruti keinginan mama atau tidak, aku takut tak bisa mengabulkannya.

Dari cerita mama aku tau bahwa aku dan kak rey bukan saudara kandung. Dia adalah anak sahabat mama yang meninggal karena papa menabrak mobilnya. Itu juga penyebab mama dan papa bercerai, papa tak bertanggung jawab. Saat itu kak rey baru berumur 4 tahun. Ternyata kak rey tau semua itu. Ternyata dia juga tidak masuk pada daftar keluarga. Aku sayang padanya tapi aku bukan mencintainya. Dia adalah kakakku, apapun yang terjadi dia adalah kakakku. Aku masih menunggu seseorang, jika aku tak menemukan orang itu aku berjanji akan menikah dengan kak rey.

Malam ini aku tak bisa tidur. Aku memikirkan perkataan mama. Mama memang serius dengan perkataannya tadi sore. Dan aku terlanjur berjanji dan kak rey tak bisa mengatakan apa-apa. Mama sangat percaya pada kak rey, ia ingin aku selalu dekat dengan orang yang benar-benar menyayangiku. Aku memang merasakan kak rey bukan menyayangiku sebagai adik. Karena sejak mama ke singapura dia tak pernah punya pacar lagi, berbeda dengan tipenya yang playboy. Aku keluar dari kamar berniat untuk mencari camilan dan menonton TV. Dan siapa yang kutemukan disana, kak rey menatap TV dengan tatapan kosong sampai aku duduk didekatnya. Ada perasaan canggung meliputiku dan dia. Aku berinisiatif merampas remote ditangannya, dia menatapku sambil tersenyum. Senyumannya teduh, membuat hatiku luluh. Menyadari dia bukan kakak kandungku membuatku berpikir aku bisa jatuh cinta padanya. Karena aku selalu menyukai senyumannya. Tanpa kusadari aku mencium pipinya. Dia hanya menatapku lalu menonton kembali. Aku kembali ke kamar sebelum dia menahanku lalu mencium keningku dan berkata “aku mencintaimu. Nice dream my little angel”.

Ya, aku bisa merasakannya. Aku mencintainya sekarang dan nanti. Mungkin joe adalah cinta pertamaku tapi rey adalah cinta sejatiku. Aku mencintainya bukan karena mama yang memintanya, tapi karena, aku menyadari perasaan itu sendiri. Dia pernah menjadi cintaku saat aku masih kecil. Aku ingat kata-kataku padanya 15 tahun yang lalu. “aku cinta kak rey. Kak rey harus menikah denganku”. “kita kan saudara kandung”. “tapi kak rey kan harus sama-sama aku terus”. “kan gak harus menikah”. “tapi aku nonton di TV, katanya kalo mau sama-sama harus menikah! Menikah sama seryl ya, kakak ya!”… aku tertawa mengingat itu.

Dua tahun berlalu, dan aku tak perna menemukan cinta pertamaku. Akhirnya aku memutuskan untuk segera menikah dengan cinta sejatiku.
Hari ini adalah hari pernikahanku dengan rey, aku tak memanggilnya kakak karena dia tak mau menoleh kalau kupanggil kak rey. Aku bahagia… aku mencintainya… michel dan fany bersama-sama denganku, tapi mama hanya melihat dari alam yang lain. “Aku merindukanmu mama, kau bahagiakan? Sama, aku juga bahagia…”. sementara aku dirias dikamar, bibi datang membawakan aku sepucuk surat berwarna merah dan kertas di dalamnya warna hitam. Aku mulai membacanya…

Dear seryl,
Saat kau membaca surat ini, aku sudah bahagia disisi Tuhan. Aku sadar aku salah, aku tak pernah berani menyatakan perasaanku padamu sampai aku pergi. Aku sangat terpukul ketika kau pindah ke jakarta. Aku selalu yakin kalau cinta tak perlu pertanyaan dan pernyataan. Karena itu aku selalu menyimpan perasaanku padamu jauh di dalam hatiku. Apakah kau ingat waktu kita terlambat bersama lalu di hukum menbersihkan toilet guru? Aku sangat bahagia saat itu. Aku tak berani menatapmu karena takut salah tingkah. Aku yakin kau akan mendapatkan seseorang yang baik nantinya. Atau mungkin sekarang kau sudah berencana untuk menikah? Aku mengatakan pada ibuku agar mengirim surat ini 4 tahun setelah aku pergi… aku putus dengan sahabatmu karena takut menyakitinya lebih dalam lagi, tapi dia menerimanya. Mungkin aku terlalu banyak bercerita ya, aku pergi membawa rasaku padamu.
Love,
RADITYA JOE

Aku menatap sedih surat itu. Ternyata cinta pertamaku terbalas. Aku saja yang tak pernah menyadarinya, karena cinta butuh kesadaran untuk menemukannya. Aku tak akan membiarkan cintaku pergi untuk yang kedua kalinya. Cinta yang benar pasti akan menemukan jalannya untuk tiba ditempat tujuannya. Selesai


Cerpen Romantis – Valentine

Pada saat menjelang valentine sivia dengan julukan via menyiapkan acara valentine dengan sahabatnya chicco mereka adalah anggota OSIS d sekolahnya, Chicco ketua OSISnya dan Via wakilnya.

  Cerpen Persahabatan

Mereka bertukar fikiran dengan anggota OSIS lainnya untuk menyiapkan acara valentine di sekolahnya, dan mereka menyepakati bagi yang ingin ikut acara valentine untuk membawa kado masing-masing satu dan bagi siswa atau para guru yang ingin mendatangi acara valentine menyumbangkan uang min 20.000-100.000.

Setelah itu keesokan harinya tidak di sangka-Sangka banyak para guru dan siswa mendaftar untuk menghadiri acara itu.

Pada tanggal 12 februari para anggota OSIS menyiapkan kado mereka masing-masing termasuk Chicco dan Via.. Jam Setengah 8 Chicco menggunakan selulernya menghubungi via dan meminta via untuk pergi ke mall mencari hadiah untuk semua yang datang di acara valentine. Mereka lalu pergi dan menyiapkan semua.

Besok harinya di sekolah para anggota OSIS menghias tempat yang akan di pakai dengan pita warna pink, putih, biru. Dan saat malam harinya, banyak orang yang berdatangan.

Acara pun di mulai, Chicco dan Via sebagai OSIS menyumbangkan sebuah lagu, Chicco menatap Via dengan perasaan lembut, tetapi Via tidak mengerti. Setelah bernyanyi di pasangkan sebuah lagu romantis untuk berdansa, Chicco dan Via berdansa.

Dan acara yang di tunggu-tunggu memberikan kado bagi yang mempunyai pasangan memberikan kado kepada pasangannya, bagi yang ingin mengungkapkannya maju kedepan panggung dan memberikan kadonya, dan Chicco tiba-tiba maju dan memanggil Via untuk maju pula, dan Chicco mengungkapkan persaannya “Vi, aku suka kamu, malam ini hati ku cuma untuk kamu, vi, kamu sayang juga ga sama aku?” Chicco bertanya, dan via tersipu malu dan via menjawab “Emm.. Ya aku sayang kamu juga” Lalu Chicco memeluk via dan memberikan kadonya, dan memberikan arti dari kadonya itu” Aku kasih uang palsu karena uang palsu ga pernah mati, kaya cinta aku ke kamu” ujar chicco dan via terharu semua orang hari itu bahagia.


Cerpen Romantis – Under The Osaka Sky

“Klik, Cekeeetttt, Jeblog…” pintu kamarku terbuka. Spontan aku terbangun dari ranjang, padahal mataku baru saja mau memasuki alam mimpi. Dan lagi-lagi itu Yuuna, dia kembali mengganggu malam indahku.

“Bisakah kau lebih sopan ketika masuk kekamarku, aku baru saja mau tidur,” cerocosku padanya.

“Pintu kamarmu juga jarang di kunci, jadi tak masalahkan aku masuk,” jawabnya enteng.

“Kau selalu saja begitu Yuu. Ya sudah kamu mau cerita apa lagi sekarang, waktumu lima belas menit!” kataku sambil memeluk guling.

“Tidak! aku cuman ingin kau menemaniku belanja keperluan besok. Bisa kan Ren?” ajaknya sedikit memelas.

“Sebenarnya bisa sih, lagi pula besok sekolahku lagi libur. Tapi, kenapa tidak bersama pacarmu saja sih?” dengan ringan kulepaskan pertanyaan itu.

“Dia lagi sibuk. Lagi pula aku lebih nyaman denganmu kalau belanja,” jawabnya tersenyum.

“Apa?” tanyaku sedikit heran.

“Tidak apa-apa. Ya sudah aku tidur dulu ya,” jawabnya dan langsung berlalu setelah pintu itu dia buka, dan menutupnya dari luar.

Sikapnya memang sedikit menyebalkan. Hampir setiap malam dia datang kekamarku dan terkadang lebih lama. Ya sekedar untuk mencurahkan hatinya, perasaannya, bahkan kegundahannya juga dia bagikan padaku.

Cerpen Under The Osaka Sky

Sejujurnya aku tidak pernah mempermasalahkan itu. Terlebih kamar yang kutiduri setiap malam ini adalah miliknya. Aku hanya jadi penumpang di sini, bersyukur aku diizinkan tinggal di rumah ini dengan percuma. Setidaknya waktu itu aku yang menemukan barang berharganya, bukan orang lain.

Sebelum kembali berbaring dikasur. Aku buka jendela, kemudian meloncat dan diam di atas genting rumah. Menatap kelangit Osaka, dan memastikan langit tidak berawan malam ini. Aku tidak peduli dengan bintang dan bulan, aku hanya peduli dengan matahari besok pagi.

*

“Hoam,” aku bangun pagi sekali. Segera saja kuberanjak dan menuju kekamar mandi. Aku bersiap-siap untuk pergi menemani Yuuna belanja, sesuai ajakannya semalam. Dan sekarang aku sudah benar-benar rapi. Tinggal menunggunya mengetuk pintu kamarku. Tidak! Dia pasti langsung nyelonong masuk. Ugh!

Jam 9 pun tiba. Tapi masih belum ada Yuuna memanggilku. Apa dia lupa dengan rencananya hari ini? Ingin sekali aku mengetuk pintu kamarnya, kalau berani. Tapi sampai saat ini aku selalu merasa kalau itu tidak sopan. Walaupun dia selalu berkata jangan sungkan kalau mau masuk kekamarnya.

Sekarang aku sudah melihat langit cerah di musim semi ini. Kecerahannya menunjukan kalau sekarang sudah pada posisi tengah hari. Tapi kok belum ada tanda-tanda dari Yuuna? Apa dia masih tidur? Ah, lebih baik aku juga tidur kalau begitu.

“Hei bangun-bangun. Ren bangun,” dalam samar saat mataku mencoba kubuka, kulihat Yuuna sedang teriak. Apa? Ternyata aku benar-benar tertidur dari tadi.

“Kenapa Yuu? Apa kau membatalkan rencanamu untuk belanja,” tanyaku sedikit pusing karena bangun tiba-tiba.

“Tidak sama sekali. Ayo sekarang kita berangkat. Malas sekali kamu, jam segini sudah tidur,” jawabnya tanpa beban.

“Apa? Kau ini aneh. Aku menunggumu dari tadi pagi. Sekarang sudah mau malam gini, kamu malah mau mengajaku pergi,” kataku sedikit cemberut dan menggesek-gesek mataku.

“Memangnya siapa yang bilang aku akan belanja pagi-pagi? Ya sudah buang dulu wajah kusutmu sana ke kamar mandi. Ayo, nanti pulangnya aku akan masak Sashimi untukmu,” dari senyumnya terlihat kalau dia sedang membujuk.

“Baiklah. Tapi janji ya Sashimi nya,” jawabku sambil beranjak dari kamar.

“Iya-iya. Kamarmu juga aku beresin deh.”

Malam itu aku hanya membuntuti Yuuna dari belakang, mengikutinya mencari barang yang ia perlukan. Jarang sekali aku bisa jalan berdua dengannya, ini seolah moment yang spesial bagiku. Terlebih wajah cantiknya, bukan hanya membuatku dan pacarnya saja yang terpesona. Tapi seluruh laki-laki di sekolah juga sepertinya begitu.

“Seandainya saja kau bisa jadi miliku Yuu,” hatiku berkata.

Aku mulai melamunkan yang tidak-tidak. Padahal bagiku, tinggal serumah dengannya saja, sudah sangat cukup membuatku bahagia. Apalagi tinggalnya hanya berdua. Ya kedua orang tuanya sengaja membuatnya bisa hidup mandiri, dengan membelikan rumah itu. Dan saat itu dia mengajaku untuk tinggal bersamanya, saat di mana aku mencintainya pada pandangan pertama. Dan biarkanlah hanya aku dan Tuhan yang tahu. Yuuna gak perlu tau!

“Hei Ren! Malah melamun kamu. Ayo pulang.”

“Hah. Apa? Iya baiklah,” Aku tersadar dari lamunanku.

“Ngelamunin apa sih? Aku kan?” dengan pede dia berkata.

“Bisa aja kamu. Nggak Aku lagi melamunkan Sashimi yang akan kau masak.”

“Ahaha… Ya sudah kalau gitu kita cepat-cepat pulangnya,” tawanya membuatku tersenyum. Manis sekali kamu Yuu!

Kami berdua masih berjalan di sekitar Kota. Malam yang ramai untuk sebuah Kota sebesar Osaka. Yuuna membelikanku Ice Cream, baik juga dia. Huft… Aku salah! Karena baru pas gigitan ketiga, dia mengambil Ice Cream ku dan Kemudian dia jilat dan lahap sendiri. Aku mencibir dan dia tertawa terpingkal. Menyebalkan!

“Osaka membosankan yah! Padahal kenapa kamu tak sekolah di Tokyo saja? Mengapa kau malah pindah kesini?” dalam sunyi tiba-tiba dia bertanya.

“Mmm… Kalau aku tidak pindah ke Osaka, mungkin aku tidak bisa numpang gratis dirumahmu, Ahaha” aku tertawa saat menjawabnya. “Lagian orang tuaku juga menganjurkanku untuk sekolah di sini. Ngomong-ngomong kenapa kamu menanyakan itu?”

“Tidak! Aku cuman ingin merasakan tinggal di Tokyo saja.”

“Oh… seperti itu ya.”

Setelah itu suasana jadi hening tak ada obrolan diantara kita. Yang terdengar hanya suara langkah kaki, dan beberapa kendaraan yang berlalu lalang. Sampai aku beranikan diri untuk menanyakan hal itu.

“Yuuna… Boleh kutanyakan sesuatu padamu?”

“Ya mau nanya apa Ren?” tanya dia dengan eskpresi heran.

“Tapi sebelumnya maaf ya! Apa pacarmu tau kalau kita tinggal serumah?” tanyaku terbata-bata.

“Tidak! Tidak boleh. Kalau tau, dia pasti mutusin aku” jawabnya sedikit tersenyum.

“Tau seperti itu. Aku jadi gak enak Yuu.”

“Ahaha, santai saja Ren. Dia tidak akan tau kok, aku sudah bilang padanya, kalau aku tinggal sama orang tuaku,” jawabnya ringan.

Saat itu masih ada yang ingin kutanyakan, tapi sepertinya dia bertemu dengan teman lamanya. Tepat saat kita mau berjalan pulang.

“Hai… Kamu Yuuna… Yuuna Yamaguchi kan?” sapa temannya itu.

Yuuna sedikit kaget dan mereka langsung berbincang. Karena kupikir akan lama, aku pulang duluan. Dan Yuuna juga memberi isyarat kalau sepertinya dia memang akan lama berbincang dengannya. Sepertinya malam ini aku tidak akan jadi makan Sashimi. Ugh!

Pintu rumah itu sudah kugenggam dengan tangan kanan. Sementara tangan kiriku merayap kesaku mengambil kuncinya. Astaga! Aku kaget saat terdengar suara berisik di dalam. Dan Ya ampun! Pintunya juga tidak terkunci. Tanganku mengambil perkakas dan berjalan pelahan. Suara-suara itu terdengar jelas di dapur.

“Jangan-jangan maling nih,” pikirku.

Tangan kananku perlahan membuka pintu dapur. Tangan kiriku bersiap dengan perkakasnya. Tanpa pikir panjang, langsung saja kubuka dan masuk kedalam… Hah! Yuuna!

“Untuk apa perkakas itu kau bawa kesini ren?” tanyanya heran.

“Bagaimana kau bisa..” aku menarik napas. “Cepat sekali kau sampai Yuu. Kukira kau maling.”

“Sembarangan! Aku tadi dianterin sama teman. Lagi pula mana ada maling yang sudi masak Sashimi buat kamu Ren,” katanya menyunggingkan senyum.

“Hah Sashimi! Boleh aku makan sekarang?” aku sudah siap sedia di meja makan.

“Langsung makan aja. Itu untukmu kan?”

Indah sekali malam ini. Sashimi buatan Yuuna begitu enak. Aku juga tak mengerti dengan hubunganku dan Yuuna. Tinggal serumah berdua, tapi bukan sepasang Suami Istri. Mungkin saja pacarnya juga belum pernah merasakan masakannya. Beruntung sekali aku…

“Ren?” tiba-tiba Yuuna bertanya.

“Kenapa Yuu?” mulutku masih mengunyah Sashimi.

“Memangnya kamu tidak bosan. Single terus,” tanyanya.

“Bosen sih! Tapi ya mau gimana lagi. Belum laku aku nih, Ahaha.”

“Ah gak mungkin! Sebenarnya kamu malas ngedeketin perempuan aja kan?” tebaknya.

“Mungkin!” jawabku singkat.

“Ya sudah! Akhir pekan nanti, kamu aku ajak ke Osaka Castle. Aku ada janji sama teman disana. Nanti aku kenalin, mungkin aja cocok denganmu,” pintanya.

“Serius Yuu?” tanyaku tidak percaya.

“Iya serius. Tapi syaratnya kamu harus merubah penampilan dulu,” lanjutnya.

Pagi yang indah, disaat langit Osaka cerah. Aku bersiap berangkat sekolah lagi. Sesuai tips yang diberikan Yuuna semalam, aku sedikit merubah penampilanku. Seperti memakai gel rambut dan mengangkat poniku keatas. Memakai Hazeline yang Yuuna beri. Dan menggunakan jam tangan, serta perangkat pria keren lainnya. Tampan juga ternyata aku. Percaya diri tingkat tinggi…

Sampailah di sekolah. Beberapa orang melihatku kagum dengan wajah baruku. Beberapa lainnya seperti tertawa, menatapku aneh. Huft.. Biarkanlah!
Selanjutnya ada beberapa perempuan yang tersenyum diatasku. Aku hanya menunduk, tak mengartikan apa maksudnya.

Sial! Tiba-tiba saja salah satu dari perempuan itu ada yang jatuh dari atas. Reflek aku langsung loncat dan menangkapnya. Punggungku benar-benar terasa sakit. Dan kami berdua dilarikan ke UKS saat itu.

“Makasih yah. Sudah menangkapku tadi,” dia terbangun.

“Iya tidak masalah,” jawabku dengan wajah masih kesakitan.

“Oya… Aku Nori Kichida kelas 11 C,” tangannya sudah berada didepanku.

“Aku Ren Kobayashi kelas 12 A,” langsung kujabat tangannya yang halus.

Setelah perkenalan itu, aku langsung banyak mengobrol dengannya. Ternyata dia mudah akrab dan ramah, kebanyakan topik obrolan berasal darinya. Beberapa kali aku mencuri pandang dengannya. Ya ampun manisnya!

Keesokan hari dan di hari-hari berikutnya. Aku jadi banyak menghabiskan waktu di sekolah dengannya. Sekarang aku seperti mulai tertarik padanya, berharap dia juga sama. Dan sekarang kupikir, tak perlu pergi ke Osaka Castle dengan Yuuna. Karena aku sudah punya target pendobrak single’ku, karena Nori kabarnya single juga, dan sebenarnya dia juga pemalu sepertiku.

***

Tibalah malam di akhir pekan. Sudah kubilang aku menolak keras untuk pergi ke Osaka Castle pada Yuuna, tapi tetap saja dia bersikeras mengajaku. Ya sudahlah. Akhirnya tiba juga aku di sana, kemudian seperti janjinya. Dia memanggil perempuan yang akan dia kenalkan padaku. Dari kegelapan taman, perempuan itu menghampiri. Ya ampun Nori!

Aku kaget, sepertinya Nori tidak. Dia sudah tau ini semua, dan Yuuna yang merencanakan ini. Pantas saja dia sekeras itu membujuku pergi. Tapi hatiku begitu bahagia malam ini, dan Yuuna sengaja meninggalkan kami berdua di taman itu. Dia juga punya janji dengan pacarnya.

Kupikir inilah saatnya aku mengungkapkan perasaan pada Nori, rasanya momentnya begitu tepat. Di bawah langit Osaka, dengan saksi bintang dan seperempat bulan, aku ucapkan kata-kata itu. Dan hasilnya…

Aku sudah kembali di kamar, membuka jendela dan duduk keluar diatas genting, dan menatap langit. Bahagia sekali aku malam ini, tak kusangka Nori akan punya perasaan yang sama padaku. Akhirnya, setelah sekian lama, status singleku berubah juga. Seharusnya aku banyak berterimakasih ke Yuuna, kutau dia yang merencanakan ini. Termasuk insiden Nori jatuh, sebenarnya dialah yang mendorongnya dari atas waktu itu. Gila juga ya! Haha.

Sayangnya Yuuna belum juga pulang. Tapi sekian menit setelah itu, dia masuk kekamarku dan menghampiriku lewat jendela. Dia menangis dan langsung memeluku saat itu. Apa-apaan nih anak?

“Ren… Aku putus sama pacarku,” dia terisak saat mengatakan itu.

“Hah… Kok bisa Yuu. Apa karena dia tau kita tinggal serumah,” aku mencoba menebak dengan perasaan khawatir.

“Iya bener Ren,” jawabnya.

“Maafkan aku Yuu, ini salahku. Mungkin aku harus segera pindah dari rumah ini,” kataku dengan penyesalan.

“Hatiku akan lebih hancur kalau kau pindah. Kamu tinggal saja terus di sini gapapa. Lagi pula ini bukan salahmu!” dia berusaha mengusap air matanya.

Sekali lagi tak kusangka akan berakhir seperti ini. Kenapa kejadiannya harus bersamaan saat aku baru saja bahagia memiliki Nori? Kenapa harus malam ini kamu jadi single Yuuna? Apalagi besok aku akan pulang ke Tokyo dan akan lama di sana. Aku akan bertemu keluargaku, menunggu kelulusan sekolah. Dan kamu juga bagian keluargaku sekarang Yuu, yang harus kutinggalkan. Tapi tenang saja, cuman sementara kok…

***

Begitu bosannya aku di Tokyo, apalagi sudah hampir sebulan aku disini. Jujur sekali aku merindukan kehidupan di bawah langit Osaka. Aku rindu pada setiap hal di Osaka. Aku rindu teman-temanku, aku rindu pada sayangku Nori. Dan aku juga merindukanmu Yuu. Sedang apa kamu di rumah itu sekarang?

Aku dan Yuuna hampir-hampir Lost Contact. Jarang sekali aku mengirim pesan padanya. Karena biasanya kita memang jarang SMSan, ya memangnya perlu SMSan sama orang yang serumah? Aku tersenyum membayangkannya.

“Tuuttt,” SMS masuk ke Handphoneku. Hah Yuuna? Bukan itu pesan dari Nori. Hmm… aku kembali meletakan Handphone itu, setelah membalas pesannya. Mungkin aku harus mengirim pesan ke Yuuna sekarang. Aku langsung mengambil kembali Handphone, tapi kubatalkan pesan ke Yuuna. Karena dia telah mengirim pesan dahulu, yang berisi;

“Aku merindukanmu Ren.”

Jariku langsung menari, mengetik balasan, “Aku juga Yuu! Hei Gimana Kabarmu?”

Masih belum ada balasan dari Yuuna. Handphoneku terus berbunyi, tapi lagi-lagi itu dari Nori. Ya sudahlah. Atau apa aku harus pergi ke Osaka sekarang. Gila! Tapi kenapa tidak?

Langsung saja aku berangkat malam itu, menunggu beberapa kendaraan umum. Dan 1 jam itu tak terasa lama, aku sudah sampai. Hanya tinggal berjalan kerumah Yuuna.

“Teneeettt,” bell rumah itu kutekan.

Tak harus menunggu lama. Yuuna membukakan pintu dan langsung memeluku. Pelukannya hampir-hampir membuat keseimbangan tubuhku kacau.

“Lama sekali sih sampainya” ejeknya.

“Kamu tau ini jam berapa Yuu?” tanyaku mencibir.

“Ahaha… Ya sudah makasih Ren, udah mau repot-repot datang,” jawabnya terpingkal.

“Hei… kamu tidak akan menyuruhku masuk ke dalam Ren?” sindirku.

“Tidak! Aku sudah menyiapkan semuanya di Taman belakang. Jadi kita langsung kesitu saja,” dia tersenyum seperti biasanya.

Aku di bawa Yuuna ke taman belakang. Tempat yang paling jarang kita kunjungi. Dan sekarang. Wow, romantis sekali di sini. Ada tikar untuk duduk. Dengan lampu pijar yang indah. Dan sudah ada teh panas di sana.

“Silahkan duduk Ren.”

Kita banyak mengobrol malam itu, Yuuna yang banyak cerita sebenarnya. Dia juga bilang sudah bisa melupakan pacarnya sekarang. Sementara dia bercerita, aku masih sibuk meniup-niup teh yang panas dicangkirnya. Sedikit mencobanya, dan langsung memuntahkannya saat dia mengatakan hal itu.

“Ren. Aku menyukaimu.” singkat tapi menusuk yang dia katakan.

“Jangan becanda Yuu,” timpalku.

“Beneran Ren. Kamu juga suka kan padaku, aku tau kamu gak perlu bilang,” lanjutnya.

Aku hanya diam, menyimpan secangkir teh itu ke meja.

“Aku sudah tidak single lagi Yuu. Kamu tau itu kan, aku milik Nori sekarang,” aku memberanikan diri mengatakan itu.

“Aku tak ingin jadi pacarmu Ren. Kita cukup berteman seperti ini saja. Tapi kamu boleh menganggapku lebih. Kencan denganku juga boleh Ren. Ya, tolong Ren aku mungkin akan lebih kesepian di hari-hari berikutnya,” terangnya tulus.

Aku menarik napas. Dan mencoba mencari jawaban yang tepat dari itu semua, sampai aku bilang padanya.

“Aku juga menyukaimu Yuu! Dari sejak pertama sudah Menyukaimu,” kataku tanpa memikirkan resiko berkata seperti itu.

Yuuna langsung memeluku, dan membuatku jatuh terkapar. Dia berbisik ditelingaku.

“Kamu tak perlu mengatakannya Ren. Aku sudah tau, makasih ya,” kudengar dia terisak saat mengatakan itu.

Sejujurnya aku bingung dengan semua ini. Aku benar-benar tak tau harus seperti apa menghadapi situasi ini. Mungkinkah aku harus mendua? Tapi biarkanlah mengalir. Walau aku yakin ini akan semakin sulit kedepannya. Tapi sementara aku bahagia, dan kembali menatap langit Osaka. Dan bersama lagi dengan perempuan yang kucintai selama ini.

Tuhan tolong bantu aku, dan jangan pernah kau cabut kebahagian ini…

***

  Cerpen Cinta

Demikianlah kumpulan cerpen romantis cinta penuh rasa yang bisa menjadi bahan bacaan singkat dan menarik yang bisa dibagikan kali ini. Jangan lupa datang kembali untuk melihat kumpulan cerpen terbaik yang akan diposkan pada masa yang akan datang.