Cerpen Pendidikan

Cerpen Pendidikan – Kegiatan pendidikan adalah aspek penting dan sangat vital dalam kehidupan umat manusia baik secara individu maupun kolektif. Saking pentingnya pendidikan itu, membuat berbagai negara di dunia yang paling makmur dan maju sekalipun mengeluarkan berbagai usaha untuk memajukan sekolah dan pendidikannya dalam berbagai cara.

Untuk mengapresiasi makna dan arti pendidikan ini, kamu bisa membaca kumpulan cerita pendek bertema pendidikan yang ada dibawah. Cerpen pendidikan ini juga dapat menjadi motivasi dan inspirasi untuk kamu agar terus mengejar cita cita dan pendidikan dalam kehidupan.

Kumpulan Cerpen Pendidikan Terbaik

Cerpen Pendidikan – Rumah Buku Assyahla

Aku diam, duduk di kursi teras belakang. Hmm… Ademnya udara pagi ini. Sayangnya sih, Hari ini Abi nggak libur. Cuma Ummi libur praktek.
Namaku Shafa Shabila Maulida Assyarah, panggil saja Shafa. Kakakku, Aisyah Shabila Syahla Khairunisha, atau Aisyah. Kak Aisyah duduk di kelas 2 SMP, sementara aku kelas 5 SD. Kami tergolong keluarga yang kaya raya.
Abi adalah direktur di sebuah rumah sakit ternama di Jakarta, kalau ummi adalah dokter mata di salah satu rumah sakit. Sementara kak Aisyah, dia sudah menjadi penulis, dia sudah menghasilkan 5 buah buku. Sementara aku masuk tim Majalah The Best, yaitu majalah sekolahku. Aku masuk tim reporter dan penulis artikel. Dulu sih, aku masuk tim fotografer bagian rubrik ‘Cinta Alam’. Tentunya, ada honornya. Satu artikel aku honornya 5 ribu rupiah, dan sekali wawancara digaji 10 ribu. Jadi kami punya uang saku sendiri.

Kami memiliki hobi yang sama sekeluarga, dari ummi, abi, aku, kakak yaitu membaca buku. Semua buku kami berempat di taruh di sebuah ruangan. Ada 5 rak buku besar disana. 1 rak punya abi, 1 rak punya ummi, 1 rak punyaku, dan 2 rak punya kak Aisyah. Kak aisyah memakai kacamata, mata kanan minus tiga, mata kiri minus 4. Aku juga pakai, aku mata kanan minus 5 dan mata kiri silindris 3,75.

Aku bangga, jadi di keluarga ini. Kakak yang baik, dan ummi abi yang bisa mengatur waktu kerja. Abi kerja dari jam 10 pagi sampai 4 sore. Kalau ummi sih, biasa pulang jam 6 sore karena praktek jam 8 pagi-10 pagi, serta jam 4-6 sore. Kalau soal buku, Ummi dan Abi memang mengabulkan semuanya. Asal sekali beli maksimal 7 buku. Aku ada ide, bikin taman bacaan, di depan rumah saja. Tapi baru lima rak. 1 rak saja paling isinya sekitar 40-50-an. Mana rak ke-lima isinya kalau dihitung baru 23 buku. Aku bilang ke UMmi deh.
“Boleh gak sekarang beli buku Mi? Ya Mi?” Rajukku, setelah menceritakan ideku.
Dan ummi setuju. Kami bersiap. Aku mengenakan rok panjang hitam dan baju putih. Kami menuju toko buku ‘Awww! Sungguh keberuntungan! Aaaa…
Ada Pameran Buku dan buku-buku itu di diskon semuanya. Semua buku di diskon 30%, kecuali buku seri Why? dan ensiklopedia yang didiskon 55%. Ummi mengijinkan kami beli masing-masing 10 buku. Itu diskon memang niat sekali ya! Buku KKPK ada yang dijual 7 ribu rupiah!

Aku membeli 4 buku KKPK, judulnya The Wonder Girl, Misteri Monster Rawa, Cyber Adventure, Two of Me. Lalu aku membeli 3 buku Why. Lalu aku membeli 3 komik Miiko.

Sepulang ABi, aku menceritakan usulku dan abi sangat setuju. Seminggu kemudian, abi memesan tukang. Kami akan memembuat perputakaan. Perpustakaan itu akan di buat di halaman depan rumahku. Bentuknya rumah bacaan yang dari kaca. Ada AC-nya juga. Seperti rumah kaca gituu…

2 bulan kemudian, bulan April…
Perpustakaanku sudah jadi. Ada pintu dan kuncinya, pasti. Kacanya juga yang tak mudah pecah. AC-nya sudah dipasang. Cukup besar karena ada 7 rak buku besar-besar, dan rak buku itu diletakkan disekelilingnya. Lantainya dilapisi karpet beludru warna biru, dan diletakkan juga beberapa bantal-bantal serta boneka-boneka untuk bersandar.
Sudah kami beri nama tentunya. Papannya di pintunya besar, bertuliskan: ‘RUMAH BUKU ASSYAHLA’. Assyahla adalah paduan dari naamaku dan kakak. Dari ASSyarah (namaku) dan SYAHLA (nama kakak). Tentunya buku-bukunya disampul semua. Setiap pinjam pasti ada bayarannya, heehehehe…

“Hey, Shafa, itu apa Shaf?” sapa Tira sahabatku, menunjuk perpustakaanku.
“Aku buat perpustakaan atau hm… Mungkin bisa disebut rumah baca, tapi kecil” kataku.
“HAA? Boleh pinjem gak? Pake kipas angina tau AC? Dari kaca! Keren banget! Nekat Shaf!” Tira mengoceh, mulutnya menganga.
“Boleh dong, tapi pake bayaran, hehehe! Hahaha! Serius! Heheh… Pake AC” kataku.
“AKU MAU PANGGIL ADIVA, SYARAH, SAMA KIARA DULU YA SHAF, MAU NGASIH TAU! APALAGI SYARAH KAN KUTU BUKU!” serunya kencang, melesat dengan sepedanya.

15 menit kemudian, Adiva, Syarah, Kiara, Salsa, Dinda, Mira, dan dia sendiri sudah ada di rumahku. “Mana Shaf? Mana SHaf? Mana Shaf?” mereka bertanya-tanya. Aku menarik mereka ke perpustakaan itu, mereka menganga, mata mereka melotot.
“Aaa! Shafa, bagus banget!” seru Kiara dan mereka.
Ternyata ada 4 teman kak Aisyah juga, Kak Sher, kak Shasa, kak Dea dan kak Della. Mereka tak tanggung tanggung, “Baca disini boleh kan Shaf?” seru mereka kompak banget, dua belas-dua belasnya!
“Boleh lah” ujarku singkat.
“Minjem boleh kan? Aku suka banget ensiklopedia tentang Pesawat ini! Bayar berapa sehari?” Tanya kak Sher yang dikenal dengan tomboy dan kutu bukunya. Dia kutu buku ensiklopedia tebal-tebal sih tapi!
“Tergantung kak, buku yang mana. Kalau ensiklopedia-ensiklopedia tebel-tebel itu sih, 1000… Hehehe” kataku.
Mereka tidur-tiduran sambil baca-baca. EH ternyata, kak Neyfa dan kak Nayla teman kakaak serta Diva, Dhea, dan Haya temanku datang. Mereka ikutan sibuk baca-baca buku. 1 jam berlalu, mereka belum berlalu. 1 setengah jam kemudian, mereka akan pulang.
“Aku mau pinjam ensiklopedia tentang Mobil dan Transportasi ini ya! 2000 nih, aku pinjem dua. Buat sehari tapi, buat aku dan kakakku” kata kak Sher, menyodorkan dua ribu rupiah. “Ok. Kalo sehari besok pagi atau ntar sore balikin ya” ujarku.
“Aku pinjem buku KKPK Little Cuties sama Bentang Belia yang judulnya Ruangan Misterius! untuk 2 hari! Berapa?” ujar Kiara. “Jadi 1000” kataku.
“Aku pinjem buku KKPK dua, sama Komik Miiko seri 24 satu, sama Komik Hanalala satu, untuk 2 hari aja semuanya. Beraapa?” kata Syarah. “Jadi 2000, balikin ya ntar” kataku.
“Aku yang KKPK Perang Cokelat ini sama kumpulan Puisi ini, 1000 nih” kata Adiva.
“Aku KKPK Dunia Caca; Ibuku Chayank, Muah!; Zula’s Story ya! Jadi 1500 kan? Nih. Buat sehari doang kok” kata Dhea.
“Aku mau ensiklopedia ‘Semua Tentang Platypus ini ya! Untuk dua hari ya? Tebel banget. Jadi 2000, nih” kata Diva.
“Kak Fauzia minta minjem buku ‘Fisika, Biologi, dan Sejarah Untuk SMU’ ini ya. Katanya buat 7 hari, soalnya dia udah tau bukunya tebal. Terus kak Tasya minta dipinjemin komik Hanalala vol. 2 ini, taunya ada. Kak Nadya juga minta dipinjemin buku ‘Cara TErbaik dalam Perawatan Kucing’ ini ya! Jadi berapa?” Kata Haya panjang.
“Hm, Buku pertamanya 7 hari ya? Kudiskon deh, abis, satu minggu. Jadi… 4.700 rupiah” Aku menyerahkan kembaliannya.
“Eh, aku komik Love is Everything ini ya. Sama Icha adekku minta dipinjemin buku cerita balita seri ini dua. Jadi berapa?” kata kak Dea. “JAdi 1000, kak” kataku.
Dan yang lain juga minta pinjam.

Hmmm… Senangnya! Dapat uangnya sudah lumayan nih! Besoknya, 8 temanku dan 9 teman kak Aisyah pada datang! Uuuh… laku nih! Alhamdulillah!

Sebulan sudah…
Sudah terkumpul beberapa ratus ribu dari hasil uang sewaan buku nih! Laku banget! Yes! Alhamdulillah!


Cerpen Pendidikan – Si Buta Mencari Matahari

(1) DI PERMUKIMAN YANG TERPENCIL
Berawal dari sebuah gubug tua yang sudah reot, Kala itu hiduplah sebuah keluarga yang terdiri dari sepasang suami istri dan dua orang anak laki-laki. Kepala keluarga itu bernama pak Sumber (begitu orang menyebutnya) dan istrinya bernama simpun (begitu orang menyebutnya), serta kedua anak laki-laki mereka yang tua bernama Tabung sedangkan adiknya bernama Kumpul.

Kehidupan keluarga tersebut serba kekurangan mereka hanya mengharapkan hasil-hasil buah hutan yang liar dan berburu untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya, itupun sehari makan dan terkadang tidak makan, bahkan baju pakaian yang mereka kenakan boleh di katakan kering di badan itu semua akibat tidak ada untuk berganti, melihat kehidupan yang demikian itu, kedua anaknya tidak dapat menuntut banyak yang ia bisa lakukan hanyalah bermain dan membantu orang tuanya mencari buah-buahan dan berburu di hutan, tidak mengenal apa itu alat tulis apalagi namanya sekolah.

Seiring dengan bejalannya waktu hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan hingga tahun berganti, kedua anak pak Sumber semestinya sudah saatnya mengenal bangku sekolah, akan tetapi apa daya orang tua mereka tak dapat menyekolahkan anak-anaknya itu semua karena banyaknya masalah-masalah yang mereka hadapi, di samping masalah-masalah yang mereka hadapi kendala lain tidak ada biaya untuk menyekolahkan anak-anaknya juga disebabkan mereka tinggal di hutan yang jauh dari lokasi sekolah.

(2) DI SUATU PAGI HARI
Pada waktu pagi hari, sang surya memancarkan sinarnya yang begitu cerah, Pak Sumber tidak seperti biasanya apabila bangun dari tidur ia bergegas pergi ke hutan mencari nafkah, namun pagi itu ia termenung di beranda depan gubugnya duduk di atas bangku yang terbuat dari susunan kayu-kayu kecil, ia berpikir dan bertanya-tanya dalam hati sendiri, bagaimana nasib anak-anaknya nanti kalau tetap tinggal di hutan, bagaimana anak-anak kalau aku dan istriku sudah meninggal, bagaimana mereka dapat mencukupi kebutuhan hidupnya. Segudang pertanyaan dalam hati pak Sumber pagi itu.

Disaat pikiran Pak Sumber mengawang belum mendapat jawaban, tiba-tiba dikejutkan oleh suara istrinya yang sedari tadi sudah berada di sampingnya. “Pak.. apa yang dipikirkan tidak seperti biasanya bapak termenung?” tanya istrinya. “Oh.. ibu mengejutkan bapak saja, pak Sumber sambil menoleh ke istrinya” tak ada apa-apa kok bu, jawab Pak Sumber, “Tapi bapak tidak seperti biasanya duduk merenung,” tanya istrinya kembali, “Saya lagi memikirkan nasib anak-anak kita nantinya”, jawab pak Sumber. Bu Sumber hanya terdiam tidak sepatah katapun yang keluar dari mulutnya, hanya tetesan air mata yang keluar dari kelopak mata istri pak Sumber. “Bu… Bapak punya pikiran bagaimana kalau kita pindah rumah mendekati kota supaya anak-anak bisa sekolah seperti layaknya anak-anak lain” Kata pak Sumber “Terus kita mau kerja apa pak..? bila pindah mendekati kota” jawab bu Sumber. Sambil menarik nafas panjang pak Sumber tidak langsung menjawab apa yang di utarakan istrinya. Sesaat suasana di beranda rumah hening sepasang suami istri itu hanya saling memandang, Tak berapa lama terdengar suara dari mulut pak Sumber, ia sambil menoleh pada istrinya, “Bu… Demi anak-anak, kita kerja apa saja nanti yang penting tidak mengambil punya orang” Jawab pak Sumber. Baiklah kalau menurut bapak baik, saya sebagai istri menurut saja, demi masa depan anak-anak kita.
Tak terasa percakapan mereka lumayan lama, mataharipun sudah mulai merangkak semakin tinggi. Pak Sumber bergegas ke samping pondok mengambil peralatan seperti biasanya langsung pergi ke hutan mencari nafkah sambil berburu.

(3) PERGI KE KOTA
Pada suatu hari pak Sumber pergi ke kota bersama anaknya yang pertama, dengan bejalan kaki mereka pagi-pagi sekali sudah berangkat, di perjalanan bapak dan anak tersebut sambil bercakap-cakap.
“Masih lama lagikah kita sampai ke kota pak..?” tanya Tabung, “Iya nak, kira-kira dua jam berjalan lagi kita sampai”, jawab pak Sumber. “Wah sangat jauh ya, pak” tanya Tabung lagi. “Bener, karena kita tempuh dengan jalan kaki”,jawab pak Sumber. “Pak… Seandainya kita pergi naik sepeda tentu agak cepat sampainya ya pak?” “Tentu cepat sampainya nak” jawab Pak Sumber. “Tapi sayang kita tidak punya sepeda” kata Tabung “Sabar ya nak, suatu saat nanti kita pasti dapat membeli sepeda.” Jawab pak Sumber (sambil menghibur hati anaknya).
Tiba-tiba terdengar suara deru-menderu dan hiruk pikuknya lalu lintas, tersentaklah hati dan perasaan Tabung, ah suara apa itu tanyaku dalam hati, dan tidak lama kusaksikan dan aku lihat hiruk pikuknya kendaraan bermotor dan hilir mudik orang-orang. Wah ramai sekali, banyak banget mobil, motor dan becak ada juga.
Nak.. ayo kita masuk pasar, ajak pak Sumber dengan anaknya, Kita mau beli apa pak?, tanya Tabung, Kita membeli keperluan seadanya sesuai uang yang ada.

  Cerpen Persahabatan

Melihat hari sudah mulai siang dan keperluan yang dibeli sudah cukup pak Sumber dan anaknya segera keluar dari dalam pasar dan langsung pulang. Di tengah perjalanan pulang pak Sumber dan anaknya berpapasan dengan anak-anak yang pulang sekolah. Dengan seketika Tabung bertanya, “Pak itu anak-anak banyak sekali dan bajunya sama warnanya bagus lagi” “Oh itu anak-anak yang pulang sekolah” jawab pak Sumber. “Wah Tabung ingin seperti mereka bisa gak pak?” tanya anaknya lagi “Ya.. suatu saat nanti kamu dan adikmu pasti bisa seperti mereka” jawab pak Sumber. “Benar pak..?” tanyanya lagi, “Ya.. pasti kalian bisa”

Tak terasa perjalanan mereka sampai rumah, Bu.. bu.. kami datang, suara tabung memanggil ibunya dengan bergegas bu Sumber membuka pintu.

(4) DI SUATU MALAM HARI
Seperti biasanya keluarga pak Sumber sebelum tidur mereka berkumpul di ruang depan gubugnya, meneruskan pembicaraan kemarin pagi pak Sumber memulai berbicara kepada istri dan ke dua anaknya, Anak-anak kita berencana pindah rumah…! Bagaimana menurut pendapat kalian…? Kedua anak pak Sumber terdiam sejenak saling memandang tanpa ada suara yang keluar dari mulut mereka, namun tiba-tiba Bu Sumber berucap dengan pelan dengan matanya tertuju pada kedua anaknya. “Bagaimana anak-anakku kalian setuju kita pindah rumah..?” Eh.. eh memangnya kita mau pindah ke mana bu?, Tanya Tabung kepada ibunya..? Iya mau pindah ke mana kita sang adik juga ikut bertanya…? Kita mau pindah di desa yang dekat dengan sekolah, jawab bu Sumber dan diangguki kepala pak Sumber tanda mengiyakan. Hore.. hore kita bisa sekolah kak, kata Kumpul sembari menatap wajah kakaknya yang tersenyum tanda rasa senang atas rencana kepindahan mereka. Anak-anakku, itulah maksud bapak dan ibu kalian rencana pindah ini supaya kalian bisa bersekolah untuk menuntut ilmu demi masa depan kalian nantinya.

Tak terasa waktu semakin beranjak malam dan kedua anak pak Sumber juaga terlihat mulai sayu pertanda mengantuk. “Anak-anak hari sudah malam, sekarang kalian tidurlah karena besok pagi berkemas-kemas persiapan kita pindah”. Iya pak.. Sambil beranjak dari tempat duduk Tabung dan Kumpul menuju ke tempat tidur.
Tinggallah Pak Sumber dan Istrinya yang masih duduk melanjutkan rencana kepindahan mereka demi masa depan ke dua anaknya. Bagaimana bu ada yang perlu kita bicarakan lagi?, tanya pak Sumber kepada istrinya. Kiranya kita sudah matang atas rencana kita pak, jadi kita istirahat dulu, Bapak kan capek seharian kerja!, Ya.. ya.. ya mari kita istirahat.

(5) AWAL YANG CERAH BAGAI SINAR MATAHARI
Di pagi yang cerah matahari menyinari desa Argo Mukti yaitu desa di pinggiran kota kecamatan, di mana terdapat bangunan Sekolah Dasar yang kondisinya kurang begitu baik namun itulah satu-satunya sekolah yang menjadi tumpuhan untuk menuntut ilmu anak-anak di desa tersebut. SDN Argo Mukti nama sekolah tersebut.
Teng… teng… teng… bunyi lonceng tanda masuk kelas, murid-murid dengan tertib memasuki kelasnya masing-masing, tak ketinggalan juga Tabung dan Kumpul juga ikut masuk kelas yang di dampingi oleh orang tuanya, maklum mereka berdua murid baru yang belum terbiasa dengan suasana seramai ia lihat selama mereka masih tinggal di daerah terpencil yang jauh dari keramaian sekolah.

Layaknya sekolah lain SDN Argo Mukti melakukan proses pembelajaran dengan tertib dan menyenangkan, murid-murid juga dengan antusias mengikuti pembelajaran di kelas masing-masing.

Tepat pukul 11.30 WIB Teng… teng… teng… lonceng berbunyi tanda pulang sekolah, dalam perjalanan pulang Tabung dan Adiknya saling bercerita dan bercanda, terlihat raut wajah mereka merasa senang karena bisa sekolah seperti anak-anak yang lainnya.
“Dik.. bagaimana perasaanmu senang gak bisa sekolah?” Tanya Tabung kepada adiknya. Dengan semangat adiknya menjawab, “ya tentu senang sekali kak” jawab adiknya. “Terus bagaimana perasaan kakak senang juga kan?”, tanya adiknya. ”Ya.. kakak juga sangat senang sekali, akhirnya kita bisa bersekolah”, jawab Tabung.


Cerpen Pendidikan – Disana Aku Berada

Suara dentuman keras benda itu begitu menggelegar, alunan melodinya sangat dahsyat ternyata itu adalah suara lonceng alat peringatan di setiap melakukan aktifitas agar lebih teratur dan gak ngawur kalau lagi nganggur. Sekejap membuyarkan seluruh mimpi tidurku, aku tersadar dan duduk terdiam mengamati seluruh bagian di sekelilingku, kebingungan, kegelisahan, kaget, sedih semua bergelut dalam benakku, kudapati sederetan lemari pakaian tersusun rapi dan jumlahnya pun tidak sedikit, sekumpulan manusia berjejer seperti ikan pepes, otakku terus berputar, berpikir dan akhirnya aku kejatuhan sisir, tersentak saja aku kaget dari lamunan panjangku.

Aw, sakit! Kupegangi kepalaku sembari menggaruknya, ternyata Kejatuhan sisir yang ukurannya kecil saja serasa saat kejatuhan duren, hufttt. Maaf, aku tidak sengaja! suara itu terdengar begitu lembut di telingaku, kupalingkan wajahku kearah suara itu, maaf ya aku tidak sengaja, sepertinya kamu sedang melamun, siapa namamu? namaku hamida amami panggil saja aku amie hee (sedikit aneh sih baru kenal saja dia sudah cengengesan mungkin karena dia terlalu terpana berkenalan denganku).

kuberanikan diriku tuk menjabat tangannya “aku nanik sundari, ayo kita bergegas saatnya sholat subuh jangan sampai kita terlambat nanti kita bisa kena hukuman. Aneh rasanya saat aku mendengar kata HUKUMAN? apa itu “hukuman”? amie dengan santai dan luwesny menjelaskan padaku (hukuman ini adalah sebuah peringatan saat kita melakukan pelanggaran kedisiplinan kecil maupun berat yaitu dengan cara di pukul menggunakan tali besar dan keras ke arah tangan si pelanggar). oooooo… berusaha memahami penjelasannya dengan sedikit rasa ketakutan kalau saja itu semua terjadi padaku.

Aku gak ngerti kenapa bapak dan ibuku memasukkan aku ke pesantren ini tapi aku yakin ini semua akan berbuah manis seperti buah manggis. Kusiapkan diriku untuk segera bergegas ke masjid semua penghuni kamar sibuk dengan atributnya masing-masing. Kulangkahkan kakiku ku ambil sandal dari rak penyimpanan sepatu, perlahan kuamati apa yang ada di sekelilingku semua terasa berbeda saat alunan merdu syair abunawas dilantunkan dari sebuah masjid, bangunan ini ukurannya tidak terlalu besar dan tidak pula terlalu kecil tapi ia mampu menampung 500 jamaah.

Kuletakkan atributku (sajadah dan Al-Qur’an) untuk mengambil air wudhu. Brrrrrrr airnya dingin banget kayak air es, konon katanya para santri sekitar yang sudah lama berada di pesantren ini air aliran dari masjid ini bisa di minum dan dapat mencegah penyakit diantaranya adalah penyakit haus he he he he

Pengalaman pertama saat aku bisa melaksanakan sholat berjama’ah di masjid ini yang tidak pernah aku lakukan seumur hidupku. suasananya hening, udaranya sejuk, lukisan-lukisan bertuliskan kalimat allah begitu terlihat jelas di setiap dinding serta pilar-pilar bangunan ini. Sungguh besar karunia serta nikmatmu ya rob, tiba-tiba kekhusyukanku mencair seketika saat kudengar suara teriakan dari halaman masjid, teriakannya begitu lantang dan menggema seperti suara pemanggilan pembagian sembako di kantor kelurahan, ternyata itu adalah teriakan para pengurus keamanan masjid untuk memberikan sanksi kepada para santri yang terlambat berangkat ke masjid. Mereka berbaris rapi untuk menanti sebuah pukulan lembut yang rasanya lebih dari sekedar di gigit semut. Suasana begitu hening saat pukulan itu satu persatu mengenai sasaran. Andai saja aku tidak cepat bangun dan berangkat mungkin nasibku saat ini akan bernasib sama seperti mereka.

Keherananku semakin bertambah saat aku harus mengantri antrian panjang di kamar mandi hanya untuk sekedar mandi. Kesabaran, keikhlasan serta ketulusan hati dipertaruhkan di sini. berbagai macam suku budaya ada di sini dari sabang sampai merauke bahkan dari luar negeri saja banyak. Keberanian adalah modal utama untuk bisa bersosialisasi dengan mereka. Semua gerak gerik tingkah laku di atur oleh waktu karena waktu adalah uang “(Time is Money)”. Makan, mandi, sekolah, ibadah bahkan tidur skalipun sudah di atur. Smakin tidak bisa menghargai dan menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya maka semakin banyak pula pelanggaran serta hukuman menanti. Ini terbukti saat aku terlambat melakukan aktifitas tidak sesuai waktu yang ditentukan al hasil semua kegiatanku jadi terbengkalai. Ini untuk yang kesekian kalinya aku terlambat berangkat ke sekolah gara-gara terlambat mandi, bukan hanya aku tapi banyak di antara santriwati yang lainnya mengalami hal yang sama. Hingga akhirnya kita harus membersihkan bangunan masjid al-marzuqoh tanpa ada kotoran sedikipun. sudah 3 kali aku kena hukuman dari bagian pengajaran gara-gara telat kesekolah! hufttt bener-bener gak betah aku pengen pulang saja ke rumah mama di kampung, bosan di hukum terus benar-benar gak berprikemanusiaan, dia adalah qiqi teman sekamarku yang kebetulan juga sama nasibnya sama aku, anaknya sdikit tomboy, kalau ngomong ceplas-ceplos, anak orang kaya keliatan dari semua barang-barang serta penampilannya tapi ia sangat baik walau kadang sangat menyebalkan. Jam sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB saatnya aku bergegas mandi persiapan sholat maghrib berjama’ah.

Matahari mulai mengurangi tingkat volume sinarnya yang perlahan mulai redup dan tenggelam meninggalkan posisi kedudukannya di siang hari, awan pun seketika berubah menjadi kemerahan, keabu-abuan, lalu kehitaman. Suara adzan maghrib mulai berkumandang sayup-sayup kudengarkan suara lembut sang qoriah dari balik dinding masjid mulai menghilang. Kusiapkan diriku untuk menghadap kehadiratmu ya robb, setiap selesai sholat fardhu rutinitas yang di lakukan adalah membaca al-Qur’an, ayat-ayat allah begitu indah saat kita bisa meresapi, menghayati serta tau arti dari makna yang terkandung di dalamnya. Waktu yang dinantikan telah tiba yaitu saat pengumuman pelanggaran bahasa (suatu pelanggaran disiplin tentang penggunaan bahasa dalam komunikasi sehari-hari yaitu bahasa arab dan inggris) suasana begitu mencekam lalu berubah menjadi hening, sunyi seperti tak berpenghuni. semua telinga bersiap mendengarkan dari setiap nama yang disebutkan. Sujud syukur aku panjatkan ternyata namaku lolos dari eksekusi pelanggaran bahasa, lega rasanya, alhamdulillah ya allah.

Kulangkahkan kakiku mengambil sandal dari tumpukan rak lalu keluar masjid, kuperhatikan setiap sudut bangunan tempat ini semua begitu rapi, tertib dan bersih. Tiap kamar di huni oleh 35 orang dan swmuanya perempuan, uniknya lagi tidak ada satupun laki-laki di tempat ini kecuali tukang listrik dan bagian kebersihan. Kalaupun ada seorang laki-laki di sini diharuskan yang sudah berumah tangga. Tak ada seorangpun yang bersantai ria layaknya para remaja yang asik berkumpul dengan teman sebayanya menghabiskan waktu meraka sia-sia bersenda gurau dengan tertawa, makan bahkan sampai lupa waktu.

Di sini aku gak pernah menyaksikan kebiasan budaya luar yang tanpa batas tapi malah sebuah aktifitas dan rutinitas yang sangat luar biasa semua sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ada yang ngantri makan, belanja ke koprasi, ngantri di wartel, ngantri di administrasi (tempat pengambilan paket, wesel, tabungan, bahkan tempat pembayaran spp sekolah). Semua serba antri demi melatih diri dan pribadi.

Hari-hari kulalui dengan penuh harapan untuk bisa jadi yang terbaik dan kebanggaan untuk kedua orang tua serta keluargaku, tak terasa 7 tahun bukan waktu yang singkat untuk tetap kuat dan menghabiskan masa muda di tempat yang penuh dengan keberkahan ini, terima kasih untuk semua para guru engkaulah pahlawan tanpa tanda jasa, penyemangat saat tekad ini mulai lemah, untuk kedua orang tuaku yang dengan ikhlas merelakanku untuk menimba ilmu di pesantren ini. Tak ada kata yang terucap kecuali rasa syukur atas smua anugrah dan karunia yang aku dapatkan di sini semoga bermanfaat dunia akhirat, diri sendiri dan orang lain, aminnn…

Ketika sang surya mulai sirna, Tak ada kata selain berkaca
Tumbuh dan besar dalam ikatan penuh dengan aturan
Keihklasan, kekuatan, kesederhanaan serta kemandirian diagungkan di sini
Hanya hati dan pikiran yang berbuat untuk berusaha tegar
Jauh dari orang tua dan sanak saudara
Menimba ilmu ke negeri orang demi masa depan
Masa depan gemilang yang cemerlang selalu terngiang
Berjanji pada diri sendiri untuk menjadi yang terbaik untuk siapapun
Keabadian ilmu itu adalah buku
Kemurnian hati itu adalah budi pekerti, dan
Kesempurnaan pekerjaan itu adalah pikiran
Menjadikan kekurangan untuk menjadi kelebihan
Melengkapi kelebihan untuk sebuah kesempurnaan
Karena kesempurnaan hanya milik tuhan,
Start do the best where ever and what ever for

  Cerpen Romantis

Cerpen Pendidikan – Anak Kerbau

“Kasian juga aku liatnya, Mak.” ujarku.
Isteriku tak menyahut, ia asik mengaduk nasi dalam periuk. Aku menghisap rokokku dan mengepulkannya ke atas. Daguku terangkat tinggi, kepalaku bersandar ke daun pintu yang terbuka. Aku duduk di lantai semen kasar rumahku sambil menerawang ke langit-langit, seakan menembus seng-seng berkarat yang langsung terlihat karena tanpa plafon.

Beberapa menit kami hanya terdiam, sebelum akhirnya isteriku bicara, “Apalah yang mau kita buat, Pak?” Ia sekarang sibuk mondar-mandir – entah apa yang dikerjakannya – di dapur, kamar mandi dan sesekali keluar rumah lalu masuk lagi.
“Aku pun kasian juganya.” katanya lagi. “Itulah hidup ini… Tak seindah rencana kita.”
“Enggak kau tengok, Mak? Macam orang stres kutengok dia sekarang.” kataku di sela-sela hisapan rokok kretek buatan lokal langgananku.
“Macam orang stres pula kau bilang. Yah, memang udah streslah dia itu.” tukas isteriku.
“Iya, maksudku stres kaya orang gila.” Aku mengoreksi ucapanku.
“Siapa yang nggak stres, bapaknya ninggal, gak ada uang, trus putus sekolah pula.” sambar isteriku.

Aku tak menyambung pembicaraan lagi. Pikiranku melayang-layang. Sebentar membayangkan perasaan yang sedang dialami si Maston, terkadang mengenang bapaknya yang merupakan teman baikku. Bayangan yang terakhir itu diselingi cuplikan-cuplikan masa lalu kami. Aku bisa mereka perasaan bangga dan penuh angan-angannya Si Maston – sanak sulung Eben – ketika pertama kali menginjakkan kaki di perguruan tinggi negeri di Medan, kota besar tak jauh dari kampung kami. Bapaknya pun bangga sekali saat itu. Harapannya semakin besar digantungkan di bahu Maston yang disiapkan menjadi tulang punggung keluarga itu kelak.

Namun hidup tak dapat di tebak, bapaknya meninggal di tabrak bis tiga bulan lalu di jalan lintas antar kota. Keluarga itu pun segera tergoncang. Baik dari sisi mental maupun ekonomi. Semua penghasilan keluarga selama ini hanya berasal dari Sang Bapak semata.

Memasuki bulan ketiga, persediaan uang dari sumbangan belasungkawa kerabat dan tetangga menyusut dengan cepat. Mamaknya masih bingung harus mencari uang bagaimana. Tanpa uang kiriman, Maston pun harus pulang kampung dan mengubur dalam-dalam impiannya menjadi sarjana. Melepas ritme kehidupan kota yang mulai diakrabinya selama setahun. Meninggalkan semua teman-teman di kampus birunya tercinta. Tampaknya ia belum siap menerima itu semua.

Dua minggu setelah kepulangannya ke kampung aku terus di rundung gundah. Aku juga tak terima kenyataan pahit itu harus ditelannya di usia yang masih labil, apalagi anak seorang teman lama. Setiap hari pikiranku terganggu melihat keluarga – yang tinggal hanya beberapa rumah dari gubuk kami – itu murung dan mendung. Aku rasa aku harus berbuat sesuatu, tetapi sesungguhnya aku tidak tahu bagaimana.

Satu malam sehabis makan, aku dan isteriku duduk-duduk di ruang makan sekaligus ruang tamu kami. Saat-saat terakhir sebelum listrik dusun kami di putus untuk kemudian menyala lagi pada keesokan paginya. Isteriku sedang sibuk menyiapkan tiga lampu semprong ketika aku berbicara padanya.
“Mak… Kalo kuingat dulu baiknya Si Eben sama aku…” Kalimatku terputus, seperti tak mampu kuceritakan semua kebaikan Si Eben, bapaknya Si Maston kepadaku. Setelah beberapa saat aku berkata lagi, “Kurasa, kalo gak ada dia kita nggak bisa kayak gini sekarang.” sambungku.
Isteriku diam saja sambil membersihkan semprong dan mengisi minyaknya.
“Dia dari dulu sering menolongku.” kataku lagi. “Mulai dari tugas sekolah, hingga mengerjakan sawah. Kau tau kan? Aku dulu gak ada apa-apa. Sekolah enggak jelas, mau bertani pun sawah nggak punya, ternak juga nggak ada.” Aku berdiri untuk mengambil bungkus rokok yang terletak di bufet – sebutan kami untuk lemari atau rak pendek – kemudian kembali ke tempat duduk.

“Kalau enggak dikasinya aku anak kerbau waktu kita kawin dulu, enggak punya ternak kita seperti sekarang.”
Isteriku yang sekarang sudah sibuk menyulam menyahut, “Kasian ya Pak, orang baik itu sering kali cepat mati. Padahal kalo si Maston itu berhasil, kan bisa membantu adek-adeknya.”
“Enggak kau liat Si Maston itu kayak apa sekarang?” tanyaku. “Ooh, amang… Kayak linglung-linglung dia. Kasian, bah… Kasian. Lewat pun orang di depannya nggak peduli lagi dia.” kataku dengan penuh iba.
“Iya, ya… Udah lain memang kuliat dia sekarang.” Isteriku mengamini. “Nggak seperti yang dulu, ya?”
“Enggak siap dia kuliat menerima kenyataan.” Jelasku, kemudian mulai menyalakan rokok. “Kasian juga mamaknya, siapa lagi yang mau diharapkannya?”
Isteriku mendecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tanda susah hati karena prihatin.

Kami kembali tenggelam dalam kebisuan. Sibuk dengan pikiran masing-masing yang terbang entah ke mana. Beberapa menit berlalu, aku berujar pelan, “Nggak bisa, Mak… Nggak bisa.”
Isteriku menghentikan sulamannya, sejenak ia berpaling ke arahku dengan rasa heran dan ingin tahu apa maksudku, lalu melanjutkan lagi menyulam.
“Nggak bisa kita biarkan keluarga itu hancur lebur, Mak.” sambungku lirih.
“Jadi… Kek mana kita membantunya?” tanyanya. Aku terdiam. Tak berani mengucapkan rencanaku yang sudah kutimbang-timbang dari pagi. Aku tau reaksinya kemungkinan besar akan kecewa dan menolak rencana itu.
Kutarik napas dalam-dalam, lalu kataku singkat dengan suara rendah, “Kita harus bantu…”
“Iya, pake apa, Pak?” tanya isteriku sambil terus melanjutkan sulamannya.
“Hasil penjualan kerbau kita yang dua ekor itu…”
Spontan isteriku terlihat menahan napasnya karena syok.
“Hah, apa? Apa maksudmu?”
Aku diam saja tak memandangnya. Aku tahu rencana ini mengejutkan dan sedikit tak relistis.

“Kau kan tau uang penjualan kerbau itu untuk apa, Pak!” kata isteriku dengan nada meninggi karena panik. “Udah lama kita memelihara kerbau-kerbau itu supaya bisa di jual, supaya kita bisa beli mesin traktor, sisanya untuk persiapan Si Rolan masuk sekolah. Kalau itu nggak ada, dari mana Pak…?” Raut wajah isteriku penuh dengan kekhawatiran.
“Iya, Mak… Taunya aku itu… Yang kuingatnya jasa-jasa bapaknya sama aku dulu.” Aku membetulkan posisi dudukku di sofa satu-satunya milik kami, lalu kutatap dia,
“Dengar, Mak. Kau pun taunya kan, kalo aku itu dulu terlunta-lunta di Medan. Kalo enggak Si Eben yang nasihati aku dan kasi pinjaman supaya kembali ke sini, entah jadi apa aku di sana. Jadi gelandangan kurasa aku, ato jadi pencopet di terminal.”

Isteriku tertunduk berusaha meneruskan sulamannya, tapi aku tahu gerakan jarinya sudah tak karuan lagi di ganggu emosi yang berkecamuk.
“Kalo enggak sekarang kita membalas kebaikan bapaknya, kapan lagi…?” sambungku dengan pelan-pelan. “Kalo anak itu bisa sekolah… tak lama dia jadi sarjana. Bisa kerja apa kek… Udah bisa dia membantu keluarganya. Kalo tidak, ancurlah keluarga itu, Mak…” kataku dengan nada membujuk.
“Iya, trus keluarga kita yang hancur…” ucapnya ketus.

“Gini aja… Mak, dengar…” isteriku menoleh dengan muka cemberut.
“Biarlah kita menunda dulu membeli traktor itu. Anak kerbau kita kan masih ada satu lagi. Tiga-empat tahun lagi udah besar, bisa dikawinkan. Setelah ada anaknya, bisa kita jual. Untuk sementara ini, masih bisanya kita menyewa traktor orang.”

Isteriku meletakkan sulamannya di meja. Matanya memandang lantai dengan tatapan kosong. Ku tahu dia sebenarnya orang yang baik dan penuh kasih. Tapi kekhawatirannya akan masa depan keluarga membuatnya takut. Dan rencanaku ini pasti membuatnya sangat kecewa.

“Jadi kekmanalah sekolah si Rolan…?” tanyanya dengan nada yang lebih terdengar mengeluh dari pada bertanya.

Aku lantas berusaha meyakinkannya, “Kalo kita berbuat baik, jangan takut, Mak. Ada aja nanti jalan di kasi Tuhan itu…” aku berdiri lalu mendekati isteriku yang duduk di kursi makan. “Tengok…” kataku. Kuturunkan suara hingga setengah berbisik, “Kalo enggak nyambung lagi kuliahnya Si Maston itu, bisa gila dia nanti. Kutengok udah mulai aneh-aneh dia. Tengoklah, Mak. Takutku, dua bulan lagi udah lari otaknya itu. Kalo udah kek gitu, makin hancurlah keluarga itu. Apa lagi…?” Kutatap mata isteriku. Sorotan matanya melemah. Kurasa dia menyerah tanpa kata-kata. Entah dia setuju dengan pendapatku atau dia sudah putus asa, aku tak tahu.

Dua hari setelah itu, kerbau-kerbau kami pun terjual. Uangnya kami berikan kepada mamak Maston. Ia menangis meraung-raung di depan kami. Ia menangisi mendiang suaminya dan terharu dengan keputusan kami.
“Ooh Tuhan… Cemanalah aku membalas kebaikan kalian ini, Ito… Eda…” ujarnya sambil terisak-isak.

Kami pun pulang setelah Maston – yang tak mampu berkata-kata lain selain ucapan terima kasih – menyalami kami. Kebahagiaan yang tak terkira kami rasakan keesokan-harinya, saat Maston berpamitan untuk kembali ke Medan mengurus kuliahnya yang terbengkalai itu. Wajahnya bersinar-sinar. Senyum penuh harapan dan cita-cita terpancar terang menyinari wajah kami yang bangga bisa meneruskan mimpi dan perjuangannya, mimpi dan perjuangan bapaknya – Si Eben – sahabatku. Kesumringahan Maston menghapus jejak-jejak kesedihan dan keputusasaan yang sempat menggayutinya selama beberapa minggu ini. Dia pun pergi.

Bayangan memiliki traktor akhirnya kubuang jauh-jauh dari pikiran. Fokusku sekarang bagaimana mencari penghasilan ekstra untuk di tabung guna persiapan sekolah anak kami satu-satunya. Masih ada waktu enam bulan lagi menjelang tahun ajaran baru. Kalau tidak cukup, kami berencana cari pinjaman yang bisa di bayar setelah lima tahun. Seekor anak kerbau yang tertinggal pun menjadi tumpuan harapan kami.

Sebulan setelah kepergian Maston, seorang kerabat di kota lain mendapat kemalangan. Aku pun pergi untuk melayat. Perjalanan jauh membuatku harus berangkat subuh dan acara adat sepanjang hari membuatku baru tiba di rumah larut malam. Karena keletihan aku rupanya tertidur sangat pulas hingga pagi menjelang. Tiba-tiba isteriku masuk ke dalam kamar dengan berteriak-teriak.

“Aduh, Bapak… Aduh, Bapak! Mati kita, Pak… Matilah kita!” Ia mengguncang-guncang tubuhku.
Tersentak aku bangun dengan mata yang berat. “Apa? Apa? Mak? Apa itu?!” Aku terkejut.
“Bapak… Tengok dulu di luar…!” Isteriku menangis menjerit-jerit setengah menyeretku dari tempat tidur. “Tengok dulu, Pak…! Anak kerbau kita… Oooh, sudah hilang di curi oraaang…!”

Keterangan:
Amang = bapak/sebuah pelengkap ekspresi dalam bahasa Batak Toba;
Ito = panggilan saudara untuk lawan jenis dalam bahasa Batak Toba;
Eda = panggilan sesama wanita yang dianggap setara ipar dalam bahasa Batak Toba


Cerpen Pendidikan – Impian Angsa Kecil

Di sekolah harapan bangsa ada seorang siswi yang bernamana Hilda, Jurusan Ilmu pengetahuan Alam. sekarang dia sudah kelas Tiga SMA. Pada hari senin, tepatnya pada jam istirahat di sekolah SMA Harapan Bangsa, Hilda, maya, mawar, Dimas dan teman-teman yang lainnya belajar. Pada jam istirahat tiba, hilda dan teman-temanya keluar dari kelas untuk sekedar membeli jajanan setelah penat belajar. Mereka duduk di bangku di bawah pohon besar yang sejuk tempat mereka biasa membeli jajanan dan mengobrol.
“Engga terasa yah sekarang kita sudah kelas tiga dan sebentar lagi kita lulus.” ucap Dimas.
“Iya, nanti kita akan berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing”. Jawab Hilda.
“o ya, kalian mau melanjutkan kemana? Tanya maya.
Mereka pun menjawab secara bergiliran
“kalau saya mau kembali pulang ke kampung halaman saya, dan mencoba membantu orangtua saya disana untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari” jawab dimas
“ciyee Dimas, tumben pinter, ha ha.. (mawar yang sengaja menggoda dimas) saya juga sependapat dengan kamu, saya ingin kerja dulu, jika uang nya sudah mencukupi saya ingin melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi lagi” jawab mawar
“kalian hebat, bagus sekali cita-cita kalian. Saya sangat mendukung kalian. Jika di Tanya saya mau melanjutkan kemana, saya ingin melanjutkan kuliah ke universitas yang saya inginkan. Dan kamu may, mau kemana?” saut Hilda
“saya ingin melanjutkan ke perguruan tinggi karena itu keinginan saya dan harapan orangtua saya.” Jawab maya.
Merekapun asyik berbincang-bincang tentang kelanjutan mereka setelah lulus nanti. Bel istirahat pun berbunyi, sudah saatnya untuk masuk kelas dan memulai belajar kembali.

Bel pun berbunyi kembali yang menandakan waktunya mereka harus pulang.
“Hilda, ayo siapkan teman-temanmu.” Ucap guru Hilda di kelas.
“baik pak” jawab Hilda.
Hilda pun menyiapkan teman-temanya dan memberi salam kapada guru ada di kelas itu.

Waktupun terus berlalu, Kelulusan pun telah tiba, hilda sangat sedih berpisah dengan sahabat-sahabatnya. Mulai hari itu hilda sudah bukan anak SMA yang berseragam putih abu-abu. Hilda pun seperti angsa kecil yang mulai mengepakan sayapnya, berusaha menjadi lebih baik dan mencari jati dirinya.
Sesampainya hilda di rumah dan beristirahat, bunda Hilda pun mendekatinya untuk sekedar berbincang-bincang tentang kelanjutan Hilda untuk ke perguruan tinggi.
“nak, kamu mau melanjutkan ke universitas mana setelah lulus nanti? Tanya bunda hilda
“saya mau ke universitas negeri yang dekat dari tempat tinggal” jawab Hilda
“ayah, bunda, dan om kamu yang di Bandung menginginkan kamu kuliah universitas Pelita (universitas yang berada di Bandung).”
“saya engga mau kuliah jauh bunda, saya ingin kuliah di sekitar kota ini saja. Agar tidak jauh dari bunda dan ayah,”
Maklumlah, Hilda yang saat itu baru berusia delapan belas tahun, tidak ingin jauh dari orangtua nya. Walau pun Hilda pernah di undang untuk mengikuti tes beasiswa masuk perguruan tinggi di Jakarta. Kemudian Hilda pun melakukannya hanya untuk membahagiakan hati orang tuanya dan mencoba memberanikan diri untuk berpisah dengan orang tuanya. Namun kenyataan nya lain, hilda hanya mendapatkan 75% beasiswa dari tes tersebut. Perasaannya pun bercampur antara senang dan sedih. Senang karena dia tidak jadi kuliah di luar kota dan sedih karena tidak mendapatkan beasiswa penuh, sedangkan orang tuanya menginginkanya.”

  Cerpen Cinta

Setelah kelulusan, Hilda rajin mencari informasi tentang perguruan tinggi yang dia inginkan. Mulai dari browsing, menanyakan ke teman-teman yang ingin melanjutkan kuliah, menanyakan ke saudara-saudaranya yang sedang kuliah maupun yang sudah lulus.
Pilihanan pun sudah ada di tangan Hilda, dia ingin melanjutkan di universitas negeri Nusantara karena bertempat tidak terlalu jauh dari rumahnya. Hilda pun mengatakan kepada orangtuanya tentang keinginan nya dan meyakinkan orangtuanya bahwa pilihannya itu terbaik dan bisa merubah keadaan lebih baik. Orangtuanya pun menyutujuinya. Perasaan nya bagaikan kupu-kupu terbang melayang-layang di taman bunga yang warnanya bermacam-macam sehingga menambah keindahan bunga di taman tersebut.

Hilda pun memulai daftar Seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri dengan sepupunya dan di temani teman sepupunya yang sudah kuliah di universitas yang hilda inginkan tersebut secara on line. Hilda berusaha sekuat tenaga supaya berhasil dalam seleksi tersebut, dia mulai mengurangi waktu main bersama teman-temannya untuk menggantikannya dengan waktu belajar. walaupun banyak yang mengatakan kapada Hilda bahwa yang mengikuti seleksi tersebut kemungkinan kecil untuk mendapatkannya. Di karenakan banyak yang berminat untuk masuk perguruan tinggi negeri.

Setelah satu bulan berlalu sudah saatnya Hilda untuk mengikuti mengikuti tes seleksi nasional masuk perguruan tingi tersebut. Keluarganya sangat mendukungnya. Kakak perempuan nya pun selalu ada di sampingnya, mulai dari melengkapi berkas-berkas untuk seleksi dan menghantarkan hilda ke tempat tujuan untuk tes. Tes berjalan dua hari, pagi buta hilda harus sudah berangkat supaya tidak terlambat, bagaimanapun tes tersebut sangat menentukan masa depannya.

Waktu berjalan dengan sendirinya dua bulan berlalu, tiba saat nya pengumuman test seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri. Orang tua nya pun mengetahui bahwa hari itu pengumumannya.
“hilda, hari ini pengumumannya yah, ayo bunda antarkan kamu untuk melihat pengumuman” ucap bunda hilda
“hmm.. iyah bunda, tapi nanti kalau aku tidak di terima, bunda jangan marah yah, he hee” (sambil senyum) jawab hilda
“iyah.. kalau pun kamu tidak di terima bunda tidak akan marah ko”

Sebenarnya hilda sudah punya rencana jika dia tidak di terima dalam tes tersebut, dia akan menunda kuliahnya dan akan mengikuti test lagi tahun depan. Walaupun orang tua nya tidak menyutujuinya, hilda yakin jikalau gagal itu biasa dan terus berusaha itu baru luar biasa.

Ketika hilda dan bundanya sudah sampai untuk melihat pengumuman tersebut, hati hilda seperti genderang yang terus di pukul mengeluarkan bunyi yang sangat keras, perasaannya bercampur aduk, gelisah, penasaran, takut, dan sebagainya. Begitu hilda dan bundanya melihat pengumuman tersebut ternyata hilda di terima sebagai mahasiswi di perguruan tinggi yang dia impikan. Hilda pun sangat bersyukur kepada Allah yang telah mengabulkan doanya. Berterima kasih kepada keluarga yang selalu mendukungnya setiap saat untuk menggapai impiannya.

Nb: kita harus yakin bahwa sukses itu mimpi besar yang harus di wujudkan dan harapan itu seperti sebuah masa depan, apa yang Kita kerjakan sekarang adalah hasil dari apa yang ingin kita raih untuk masa depan kita.


Cerpen Pendidikan – Kotak Impian

Kampung bahagia, tempat Ryan melewati hari-hari bersama ibu dan adiknya. Hidup tanpa kehadiran seorang ayah tak membuatnya kehilangan semangat, meskipun dalam kondisi ekonomi yang kurang memadai. Ryan yang masih berusia 10 tahun, terbilang cukup belia untuk menghadapi kehidupan yang begitu keras.

Sejak ayahnya meninggal 2 tahun silam, kondisi Ryan dan keluarga memang sudah sangat jauh berubah. Ibunya mulai sakit-sakitan dan diapun harus putus sekolah. Menjadi tulang punggung keluarga mungkin berat baginya mengingat usianya yang masih sangat belia, namun semangat yang dimilikinya untuk membahagiakan ibu dan adiknya tak membuatnya menjadi seorang pecundang. Ada mimpi yang harus ia wujudkan meskipun tidak dengan ia sekolah.

Suasana malam yang begitu sendu, tatkala Ryan memulai percakapan dengan ibunya terkait pengalaman bahagia mereka dengan sang ayah
Ryan
Ibu… Andaikan ayah masih bersama kita, mungkin gak yah hidup kita seperti ini (Sambil tidur dipangkuan ibu)
Ibu
Sayang, itu semua sudah menjadi garis tangan-Nya. Apapun keadaannya kita harus terima. Ibu yakin ada rencana Tuhan di balik semua ini, yang terpenting sekarang Ryan menjadi anak yang baik, soleh, dan jangan lupa doakan ayahmu nak. Biar Tuhan tempatkan ayahmu di sisiNya yang terbaik. (Sambil mengelus kepala anak sulungnya)
Ryan
Amin… Ryan sayang ibu, Ryan gak mau ibu pergi (Mengeluarkan air mata bahagia, karena masih di beri kesempatan bersama ibu yang dicintainya)
Ibu
Ibu juga sayang sama Ryan, sama adik juga. Ibu akan selalu jaga kalian berdua. Bagi ibu Ryan dan Tasya lah harta ibu yang paling berharga. Sekarang Ryan tidur yah, biar Ryan bangunnya gak telat jadi Ryan bisa shalat subuh (Mengeluarkan air mata dengan memberikan senyuman kepada anaknya)

Ryan yang memiliki sifat penurut, segera mengikuti seruan ibunya. Meskipun dengan beralaskan tikar yang cukup untuk mereka bertiga. Malam semakin larut, namun mata Ryan tak kunjung tertutup jua. Sebagai anak tertua dengan usia yang masih belia ia mencoba mencari cara bagaimana membahagiakan ibu dan adiknya. Ia tak sanggup jika harus melihat ibu dan adiknya hidup dengan keadaan seperti ini. Dalam hati Ryan berbisik “Tuhan, Ryan ingin lihat ibu dan adik Ryan bahagia, Ryan gak mau ibu dan adik Ryan menjalani hidup seperti ini. Ryan mau ngelakuin apa saja, yang penting ibu dan adik Ryan bahagia, kabulkan permintaan Ryan yah Tuhan.” Sembari meneteskan air mata.

Mentari telah menyapa, senyum manis dari adik yang paling Ryan sayang pun menebarkan bahagia. Sungguh anugerah terindah yang Ryan miliki, memiliki ibu dan adik yang begitu Ryan sayang dan juga menyayangi Ryan.
Senyum manis Tasya, menambah semangat Ryan untuk segera lepas landas mencari rezeki untuk ibu dan adiknya
Ryan
Doakan kakak agar dapat uang banyak biar bulan depan Tasya sudah bisa masuk sekolah (Penuh semangat sembari mengacak-acak rambut halus Tasya)
Tasya
Iya kak Ryan. Tasya mau belajar yang rajin, biar nanti jadi orang sukses (Sembari tersenyum manis kepada kakaknya)
Ibu
Amin… Anak-anak ibu kan anak yang rajin, tekun. Ibu yakin anak-anak ibu akan menjadi orang sukses (Memberi semangat kepada kedua anaknya sembari tersenyum)
Doa yang sang ibu berikan kepada Ryan membuatnya yakin, bahwa Tuhan punya rencana baik di balik semua ini. Kerja keras meskipun tidak bermodalkan ijazah apapun tak membuatnya patah semangat, ia yakin dengan kejujuran, kepolosan, serta kerja kerasnya ia mampu membawa perubahan bagi ibu dan adiknya.

Sebulan kemudian, tepat masuknya tahun ajaran baru, hal ini berarti Tasyapun akan segera masuk sekolah dasar, mengingat umurnya sudah menginjak 7 tahun. Kerja keras yang dilakukan Ryan di bulan kemarin seakan terbayar sudah ketika melihat adiknya mengenakan seragam merah-putih

Scene III – EXT – Sekolah – Pagi – Cast : Ryan, Ibu, & Tasya
Suasana sekolah baru Tasya yang begitu ramai dipadati siswa tahun ajaran baru
Ryan
Ini baru adik kakak. Belajar yang rajin yah dek (Dengan perasaan bangga, sambil memegang topi adiknya)
Ibu
Jadilah kebanggaan keluarga (Tersenyum & menangis)
Tasya
Pasti… Akan Tasya buktikan bahwa Tasyalah yang terbaik. Makasih ibu, makasih kak Ryan. Tasya sayang kalian (Memeluk kak Ryan dan ibu)

Dengan sekolahnya Tasya, Ryan janji akan bekerja lebih giat lagi. Ryan gak mau jadi orang yang gagal, mimpi Ryan ada di tangan Tasya. Sejak sekolah, yang menjadi semangat Tasya belajar adalah ibu dan kak Ryan, baginya Tasyalah harapan keluarga satu-satunya. Tasya harus lanjutkan mimpi kak Ryan.

Semangat belajar yang dimiliki Tasya membuatnya selalu menjadi juara kelas hingga ia lulus SD. Kini ia telah duduk di bangku SMP, prestasi yang ia tunjukkan membuat beban kakak dan ibunya sedikit berkurang, karena sebagai siswa teladan ia mendapatkan beasiswa sampai ia lulus sekolah. 3 tahun mendapat julukan sebagai juara kelas di SMP, kini Tasya lulus dengan nilai terbaik di sekolahnya, hingga ia dapat masuk di sekolah unggulan manapun yang ia mau tanpa memikirkan besarnya biaya yang harus ia dan kakaknya keluarkan. Dan ia memilih SMA N 17 Makassar, salah satu SMA unggulan sesulsel dan bertaraf Internasional. Kini ia yakin mimpinya, mimpi kak Ryan, dan mimpi keluarganya ada di depan mata, di tangan Tasya.

Mungkin benar, Tuhan punya rencana baik di balik ini semua. Tasya yang kini sudah mampu membiayai sekolahnya dengan prestasi yang didapatkannya, Ryan yang kini mendapat pekerjaan layak berkat kejujuran, kepolosan, dan kerja kerasnya, dan sang ibu yang tak perlu lagi banting tulang membantu Ryan mencari nafkah.


Cerpen Pendidikan – Arti Sebuah Kehidupan

Tarakan kota tercinta, dimana limpahan semua kekayaaan alam ada disana. Ikan, minyak bumi, dan masih banyak lagi kekayaan alam yang berlimpah di kota Tarakan yang kucinta. Ya, walaupun masih banyak orang yang tidak bertanggung jawab dan salah memanfaatkan kekayaan alam di kota Tarakan.

Aku dilahirkan di keluarga sederhana, ayahku seorang nelayan yang sebulan beberapa kali pergi melaut. Ayahku selalu meninggalkanku dan keluargaku untuk mencari nafkah di laut sana. Sekali melaut hampir satu minggu ayahku tidak pulang. Hasil tangkapannya pun selalu menjadi masalah, kalau ikan yang di dapat sedikit, sedikit pula rupiah yang di dapat Ayahku. Tapi kalau laut bersahabat Ayahku bisa membawa rupiah yang banyak untuk kelangsungan hidup keluargaku. Sedangkan Ibuku seorang ibu rumah tangga, walaupun seorang ibu rumah tangga, beliau adalah seorang penyemangat bagiku untuk lebih baik dan ayahku untuk lebih semangat dalam mencari nafkah.

Di masa perpisahan SMP Negeri 1 Tarakan sangat mengharukan. Aku dan teman-temanku harus berpisah setelah ini. Masuk di sekolah yang kami dambakan merupakan hal yang paling kami tunggu…
Dan hari ini adalah dimana pendaftaran di SMK Negeri 1 dimulai…

Semua orang dari semua SMP datang kesini untuk mengambil satu tempat duduk di setiap kelas salah satunya adalah Aku…
Di hari pendaftaran tujuan pertama ku adalah jurusan Akuntansi, di jurusan ini banyak diminati. Ya termasuk Aku yang kepingin masuk di jurusan ini…
Tapi sepertinya Tuhan berkehendak lain, aku tergusur dari daftar nama di jurusan tersebut. Hatiku sangat kacau dan gelisah. Aku harus menarik kembali berkasku dan berpikir jurusan mana yang bisa kumasuki. Lalu terlintaslah…
“Hotel.” Ucap Aku sambil melihat tempat pendaftaran tersebut.
Aku berpikir tentang hotel dan membuka wawasanku tentang hotel. Aku melihat orang-orang hotel mempunyai performance yang sangat bagus dan etika serta bahasa yang mereka gunakan sangat sopan. Akhirnya kaki Aku terlangkah di jurusan hotel…
Tapi mungkin Aku harus bersaing bobot dengan orang-orang yang mendaftar di jurusan Hotel…

Beberapa hari kemudian, hari dimana penutupan pendaftaran…
Gugup, gelisah, dan takut di gusur itulah perasaan yang kurasa saat ini. Bukan hanya aku yang memiliki perasaan seperti itu tapi semua orang yang mendaftar disana…
Beberapa menit sebelum penutupan pendaftaran…
“3…2…1. Yeah!!!” sorak semua orang disana dengan gembira maupun orang tua dan anaknya yang mendaftar. Termasuk aku dan orang tuaku.
Aku masih tidak percaya bisa masuk ke SMK Negeri 1 Tarakan walaupun bukan jurusan yang kuinginkan tapi jurusan Hotel akan membantuku dalam menimba ilmu selama di SMK Negeri 1 dan mencapai cita-citaku…

  Cerpen Sedih

Hari pertama masuk sekolah…
Hari pertama memakai baju putih abu-abu, semua orang yang sebaya denganku sangat bangga memakai seragam itu. Aku juga bangga memakai seragam ini dan bisa bersekolah disini.
Aku memasuki kelasku yang berada di lantai dua, disana aku melihat beragam gambar tentang jurusanku. Dan mulai saat itu aku menyukai jurusan ini…
Aku juga bertemu dengan teman-teman baru, mereka merupakan keluarga besar anak Perhotelan dari yang teman sekelasku sampai kakak kelas duabelasnya. Aku senang disini berteman dan bertemu dengan banyak karakter orang di SMK Negeri 1 Tarakan. Merekalah yang menghiasi kehidupanku dengan berbagai macam warna…

Perjalanan sebagai siswa di SMK ini pun di mulai, tugas ulangan harian, ulangan tengah semester dan pelajaran tentang jurusanku pun dimulai sampai akhirnya…
“aduh capek.” Ucap salah satu temanku dengan lesu.
“Capek kenapa?” tanyaku dengan heran.
“Capeklah dengar guru itu mengomel terus, capek dengarnya.” Jelas dengan lesu.
“Kirain apa? Ternyata…” ucapku mengerti.
“Kau enak, Gafur. Kamu pintar enak kamu.” Sahutnya.
“Nggak juga.” Sahutku.
Terkadang ada guru, ada teman-temanku yang membuatku dan teman-teman merasa terganggu, termasuk aku. Tapi aku nggak mau mempunyai musuh atau orang yang memusuhiku, jadi sejelek apapun orang itu, sejahat apapun orang itu, kalau kita baik kepada dia untuk apa dia memusuhi kita? Itulah prinsip yang selalu aku pegang selama berada di SMK ini…

Pada saat pembagian raport kenaikan kelas…
“Aku deg-degan, Dorang.” Ucap salah satu temanku dengan tangan yang dingin.
Tak terasa waktu berjalan dengan cepat, pembagian raport yang di ambil oleh orang tua dan untuk menentukan naik atau tidaknya siswa SMK ke kelas yang lebih tinggi…
Aku juga gelisah menunggu hasil belajarku selama kelas sepuluh ini, aku ingin memperlihatkan hasil belajarku dengan kedua orang tua. Aku ingin membanggakan mereka dengan hasil yang memuaskan, itulah harapanku saat ini.
Aku menunggu di luar kelas dan tak lama orang tuaku di panggil oleh wali kelasku. Mereka bercakap-cakap sebentar lalu memberikan raport kepada orang tuaku. Beliau berjalan keluar sambil melihat raport…
“Coba lihat raport.” Ucap Ibuku sambil memberikan raport kepadaku.
Aku mengambil raport itu dan membukanya. Lalu…
“Alhamdullillah.” Ucapku dengan senang.
Aku senang, bisa masuk tiga besar dalam ranking kelas. Tak lupa aku bersyukur kepada Tuhan karena dialah yang membuatku mendapat berkah seperti ini. Aku senang, gembira, dan berhasil membanggakan kedua orang tuaku.
Aku tahu Tuhan selalu mendengar doa hambanya yang mau berusaha sekaligus berdoa, sekarang aku bakal masuk kekelas sebelas dimana aku akan prakerin di semester dua. Semakin tinggi jenjang semakin tinggi pelajaran dan tantangan yang ku dapat nantinya

Waktu liburan kuisi dengan keseharianku di rumah, membantu ibu, dan kakak saya. Tak lupa aku sesekali membantu ayahku ketika dia pulang ke rumah. Liburanku bagaikan hari minggu cuma harinya sangat panjang…
Dua minggu kemudian…
Embun pagi, di pagi buta. Menyelimuti lingkungan sekitar rumahku. Sekarang harus bangun lebih awal, karena hari ini adalah hari pertama masuk sekolah di tahun ajaran baru. Menginjak kelas sebelas, berarti aku akan semakin banyak menerima tugas, ulangan dengan materi yang yang lebih tinggi lagi…

Sesampai di sekolah…
Aku berjalan menuju kelasku yang baru, setelah sampai…
“Keren.” Ucapku dengan kagum.
Banyak gambar, slogan, dan pokoknya kelasku yang baru keren banget. Perasaan itu bukan hanya aku yang merasakannya tapi semua teman-teman sekelasku…
Tak lupa kami membagi pengalaman sewaktu liburan kami, ada pengalaman yang seru, menyenangkan, keren, sedih dan bermacam-macam cerita yang di ungkapkan oleh teman-temanku.

Melihat keakraban kami, aku semakin mencintai kelasku, dan di umurku yang semakin bertambah aku ingin mempunyai banyak teman dan ingin banyak mengenal berbagai karakter.

Pasti tahukan di masa SMA adalah masa yang menyenangkan, masa itu telah menyentuh hatiku. Ada seorang perempuan yang ku suka. Dia cantik, pintar dan pengertian, walaupun dia berlainan keyakinan denganku . Aku sering melihat dia bersama teman-temannya. Aku ingin menyatakan perasaanku tapi bagaimana caranya?
Pada waktu itu, adalah hari yang tidak akan pernah aku lupakan, aku berhasil menyatakan perasaanku kepada orang yang ku suka, dan tahu apa? Dia juga menyukaiku, jadi kami sama suka dan terjalinlah kisah cinta pertamaku. Dia adalah wanita pertama dan cinta pertamaku, semoga kisah cinta kami bisa bertahan lama seiring berjalannya masa SMA ini…

Tak terasa masa prakerin hampir tiba, aku sibuk dalam hal jurusanku. Bagaimana tidak aku akan terjun ke industry untuk mengasah kemampuanku dan pengetahuanku sebagai Hotelier selama empat bulan kurang lebih.
Pada waktu itu…
“Wah selamat ya kamu ditempatkan di hotel swiss.” Salam temanku dengan gembira.
Aku masih tidak percaya, aku ditempatkan di sebuah hotel berbintang, namanya Swiss-Belhotel Tarakan. Aku sangat bangga bisa prakerin disana. Aku akan melakukan yang terbaik disana, aku akan bekerja sebaik mungkin…

Satu hari sebelum bekerja disana, aku bersama teman-temanku yang bekerja di hotel swiss didampingi oleh seorang guru, pergi ke tempat kami akan berkerja. Disana kami di sambut oleh atasan kami, dia ramah, dan murah senyum. Aku suka dengan orang seperti dia. Dia mengajak kami keliling hotel tersebut. Hotel yang sangat mewah, aku bersyukur bisa prakerin disana…

Hari pertamaku di Swiss-Belhotel…
Hari pertamaku di hotel Swiss, aku ditempatkan di bagian Housekeeping Department selama kurang lebih satu bulan limabelas hari. Disana aku bertemu dengan pekerja tetap, mereka ramah dan memberitahuku pekerjaan apa yang akan kulakukan disana. Aku mudah akrab dengan mereka…
Tapi setelah satu bulan aku bekerja disana atasanku memindahkanku di Front Office Department selama kurang lebih satu bulan lima belas hari lagi. Sebelum pindah ke departemen Front Office, aku harus melaksanakan evaluasi, untuk melihat sejauh mana kemampuanku di bidang Houskeeping Department. Ini dilakukan untuk aku supaya dapat banyak pengalaman selama di hotel Swiss.

Ada beberapa hari aku dipindahkan di Food dan Beverage Department. Ya, namanya juga prakerin di pindah dimana aja, kita harus terima dan percaya apapun yang diputuskan oleh atasan kami adalah keputusan yang terbaik…
Senangnya, bisa di hotel swiss, aku disana melewati suka dan duka juga. Sukanya ada teman-teman baru dan rekan kerja baru, sedangakan dukanya ya kalau ada kesalahan yang perbuat disana, dan tugas yang sangat banyak.

Ada perjumpaan, ada perpisahan…
Masa prakerinku akan berakhir besok, aku harus meninggalkan teman-temanku yang ku dapat di hotel swiss. Tapi karena zaman makin maju aku bisa berhubungan dengan mereka kapan saja dan dimana.

Keesokkan harinya aku pun kembali ke sekolah dan bertemu lagi teman-temanku. Kami membagi banyak cerita, terutama aku yang bercerita dengan teman-temanku. Kelasku mempunyai julukan yaitu HOTERU (Hotel Terus Bersatu). Kami selalu membagi cerita, mereka adalah teman-teman yang menyenangkan, selalu menerima aku apa adanya…
Tidak lupa aku mengunjungi pacarku dan kami saling berbagi cerita selama masa prakerin kami. Kami melepas rindu, sambil membagi cerita. Hampir setiap hari aku terus bersama dia, menjalani suka dan duka bersamanya, tapi waktu itu adalah hari yang menyakitkan olehku dan dirinya…
“PUTUS, PISAH.”
Itulah kata-kata yang terus terbayang olehku, hubungan yang singkat namun penuh arti membuatku sangat terpukul. Bagaimana tidak orang tuanya tidak menyetujui hubungan kami. Aku sempat ingin pacaran diam-diam, tapi kami menghormati orang tua kami. Akhirnya kami berpisah dan berjalan sendiri. Tapi aku nggak boleh terus dihantui oleh rasa sedihku, aku harus move on.

Aku memulai semuanya dari awal, tapi aku ingin melupakan dia. Tapi dia cinta pertamaku, aku ingin menaruh memori kami berdua di dalam hati yang paling dalam. Aku melakukan kesibukanku yang bakal nantinya kelas duabelas. Aku harus giat belajar dengan begitu aku bisa mempertahankan peringkatku dan melupakan cinta pertamaku ini…

Berbagai rintangan…
Suka duka…
Cinta…
Adalah warna yang diberikan tuhan untuk di masa SMK ini, menginjak kelas dua belas aku sadar banyak hal yang telah kulewati. Mulai dari perjuanganku untuk masuk disini, bertemu dengan teman baru, pekerjaan yang menyenangkan dan cinta pertama yang harus pisah karena faktor keyakinan. Tapi aku nggak mau terus bersedih, mau orang bicara apa tentang aku, aku tidak peduli. Selama aku baik terhadap orang lain, aku yakin mereka bisa menjadi temanku walaupun kawan maupun lawan.

Aku akan menghadapi ujian praktek, ujian sekolah dan akhirnya yang menentukanku lulus tidaknya di sekolah ini adalah ujian nasional. Aku harus bisa, karena selepas ini aku ingin bekerja dan tidak mau menyusahkan orang tua ku lagi serta membahagiakan mereka. Tapi, di kelas 3 ini aku mendapatakan banyak info tentang snmptn dan bidikmisi (beasiswa untuk siswa yang berprestasi dan tidak mampu) semoga aku bisa mendapatkannya. Semua berkas sudah kupersiapkan dan tinggal ku serahkan ke sekolah.

Arti kehidupan menurutku adalah sebuah perjalanan menuju kehidupan yang kekal. Karena semua apa yang ku dapat disini semata-mata hanyalah sebuah ilusi yang bakal pudar lalu hilang dan kembali kepada-Nya.
Aku punya kata-kata mutiara untuk mereka yang melihatnya…
“Kamu bisa melakukan segalanya, saya bisa melakukan yang terbaik.”
Artinya kamu bisa melakukan apapun, tapi aku lebih bisa melakukan yang terbaik karena usaha, kerja keras, do’a & tawakal.

TAMAT


Cerpen Pendidikan – Juwari

Juwari menatap beberapa anak berpakaian putih abu-abu bertengger di warung kopi terminal, berlomba mengepulkan asap pembakar jantung di mulutnya. Sesekali tawa lebar terdengar. Cerita tentang modifikasi motor masa kini terlihat menjadi topik hangat. Juwari melirik pada jam tangan yang melingkar di tangannya, masih pukul 11.00, mereka seharusnya duduk di deretan kursi gedung sebelah. Mendengarkan guru yang sedang berpetuah atau merampungkan rumus trigonometri yang membuat gerah. Tapi lihat, mereka yang masih dengan almamater sekolah justru melakukan hal-hal yang tidak berfaedah.

Juwari menerawang ke masa lalu. Dulu dia bahkan tak sempat saling memamerkan barisan gigi dengan teman-temannya.
“Anak-anak sekarang,” batinnya.
Puluhan tahun yang lalu, jam-jam seperti saat ini adalah saat untuk berperang. Tanpa senjata, tanpa janji bayaran.

“Juwari. Pulau kamu sudah jadi, ayo bangun,” gertak Bu Rinai dengan penggaris panjang di tangan. Yang dibangunkan hanya mengelap lelehan panjang di sudut bibirnya, menguap lalu sedetik kemudian kepalanya tersungkur lagi ke meja.
Tak ada alasan baginya untuk tidak tertidur saat pelajaran, ketika matahari belum ingin menggeliat dari tempat tidurnya, bahkan belum bersiap mengerjap-ngerjapkan sinarnya di ufuk timur, ketika itu pula tubuh Juwari yang tak berbobot sudah harus mengakhiri dengkurannya.
“Juwari. Kerbau-kerbau sudah bangun. Kau masih belum bangun?”
Suara khas Pak Ruslam keras menggetarkan dinding kamar Juwari.
“Iya Pak,” jawabnya malas. Hanya itu yang keluar dari bibirnya. Setelah itu Juwari masih nyenyak, belum bisa menghilangakan perekat pada matanya.
“Juwari, kalau kamu telat lagi cari rumputnya, sebagai gantinya kamu harus membersihkan kandang kerbau, tidak usah berangkat sekolah,”
Kalimat sakti itu akhirnya terucap, membuat Juwari segera berjingkat. Pancuran air di belakang rumah yang separuh untuk mengairi sawah, cukup untuk dipercikkan ke beberapa bagian tubuh Juwari sebelum sembahyang. Sama seperti seorang pencopet yang terhuyung-huyung dalam pelarian, juga Juwari. Kolonjono, itulah yang dia cari. Rumput hijau memanjang mirip daun jagung itulah makanan segar bagi kerbau-kerbau di peternakan samping rumah Pak Ruslam.

“Nah, ini uangnya 5 ribu ya, besok kalau bisa lebih pagi lagi ya,” ujar Pak Saleh, tetangganya.
“Ya Pak,” jawab Juwari ketus, tak bertenaga.
Uang ini seharusnya bisa untuk membeli baju baru, pengganti baju sekolah Juwari yang tak pernah terkena jejak setrika, lusuh. Tapi, Juwari masih ingat beberapa waktu lalu ketika dia memberanikan diri meminta ijin untuk menggunakan uang dari Pak Soleh.
“Pak, uang ini boleh saya buat beli baju?,” tanya Juwari.
“Boleh. Tapi biaya sekolah kamu bayar sendiri ya.” jawab pak Ruslam enteng.
“Tapi Pak, baju saya sudah ..”
“Juwari, kamu ini seharusnya bersyukur sudah tak biayai sekolah. Biaya sekolah itu mahal, anak saya masih kecil-kecil juga butuh biaya nantinya. Kalau kamu keberatan, ya sudah kamu pulang saja ke rumah Bapakmu. Toh kamu sendiri yang rugi.”
Itulah argumen Pak Ruslam. Memekik seperti burung gagak yang kelaparan.

  Cerpen Persahabatan

Kini Juwari melayangkan pandangan pada gadis berpakaian putih abu-abu dengan make up tebal di wajahnya. Mengaitkan tangan di paha lelaki yang juga berpakaian sama. Mencubit mesra, tertawa bersama.
“Ah, aku dulu bahkan tidak pernah melihat perempuan cantik kecuali Bu Rinai. Teman sekelasku 17 orang, 5 perempuan. Kelimanya, aku bahkan hanya sempat mengenal namanya.” kenang Juwari sembari tersenyum kecut.
“Anak-anak sekarang,” ucapnya lirih.

Juwari ingat betul, dahulu 2 kali dalam sehari dia hanya bisa menyedekahi perutnya dengan nasi thiwul, krupuk dan sambel korek. Setiap hari tubuhnya berteriak, aku butuh gizi, tapi siapa mau dengar. Tak ada. Istri Pak Ruslam sengaja memisahkan nasi beras dan nasi thiwul dalam almari yang berbeda. Untuk melihat rupa nasi beras pun Juwari tidak bisa, karena gembok selalu rapat menjaga. Kejamnya hidup, batinnya.

Lonceng tanda jam pelajaran sekolah pun berakhir, tapi Juwari masih malas berjingkat dari tempat duduknya. Kembali dari sekolah, tidak ada sapaan lembut dari orang tua, bagaimana sekolahmu Nak, ibu sudah siapkan makan siangnya, segera istirahat Nak, tidak ada. Yang santer terdengar di telinganya hanyalah ocehan istri Pak Ruslam.
“Cuciannya sudah saya taruh di samping sumur, yang benar nguceknya, jangan sampai robek lagi baju Bapak,” ujarnya dengan nada tinggi.
Juwari mengangguk lesu.

Adzan ashar sebentar lagi akan terdengar di sela matahari yang mulai lengser dari singgasananya. Sebuah komando untuk sembahyang dan juga untuk segera ikut Pak Ruslam memikul beberapa kebutuhan untuk membuka warung sate. Menyaksikan pelanggan menyantap sate dengan lahap yang satu dua diantaranya adalah kawan Juwari di sekolah, sungguh sangat menyiksanya. Hingga arloji menunjukkan jarum ke angka 11, Juwari baru bisa berjalan-jalan ke alam mimpi.

Hampir 2,5 tahun Juwari hidup nelangsa. Kadang air mata kerinduan pada orangtua tak mampu dia bendung. Memakai putih abu-abu memang bukan hal yang mudah. Dia kembali pada cuciannya yang segunung. Hingga Andi, anak 11 tahun Putra sulung Pak Ruslam mengencingi semua pakaian yang sudah siap jemur.
“Andi, kemarin tanah, kotoran sapi, sekarang kamu kencingi. Kamu jadi anak jangan nakal abang sudah capek,” bentak Juwari dengan notasi yang meninggi.
“Andi nggak nakal kok. Kata Bapak, bang Juwari itu cuma pembantu, jadi ya terserah Andi mau ngapain iya kan? Week…” jawab Andi sambil menjulurkan lidahnya.
Wajah Juwari terasa mendidih. Hatinya terbakar. Sedetik kemudian ia mendaratkan gayung dengan amarah di kepala Andi. Suara tangis kemudian pecah.
Pulang. Tak ada pilihan lain. Tanpa bentakan dari Pak Ruslam pun tentu dia sudah berniat untuk kembali. Juwari pulang tanpa selembar ijazah, tak seperti dalam angannya.

Juwari, dengan uban yang kini mengintip di sela rambutnya, tengah mendengarkan dengan seksama seorang pengajar yang usianya jauh di bawahnya. Juwari tak malu, walau tingkatnya kini sama dengan putri sulungnya. Ya, Juwari melanjutkan pendidikannya. Walau 20 tahun telah berlalu.

Kembali dia membaca berita di sebuah koran harian, seorang pelajar SMK meninggal akibat aborsi.
Dia hanya bergumam.
“Anak-anak sekarang,”.


Cerpen Pendidikan – Sang Bintang Terdengar Hingga Ke Jepang

Perjalanan kisah hidupnya baru di mulai ketika merasakan apa yang dinamakan merantau, pengalaman yang mengenakan, menyedihkan bahkan yang berbuah penyesalan sudah dirasakan secara “kenyang” olehnya. Niat tulus untuk melanjutkan pendidikan di sebuah perguruan tinggi di luar kotanya membuat hasrat untuk lebih sukses menggema dalam relung jiwanya, walaupun sebagian tetangganya berbisik dan terdengar oleh telinga panasnya.
“anaku saja yang pintar melanjutkan kuliah disini kok, ngapain keluar kota segala, sudah tau di kota kita mempunyai universitas yang sudah terakreditasi” sahut tetangga berisik.

Memang, di kota asalnya sudah memiliki beberapa universitas dan semuanya sudah terakreditasi, tetapi hati kecil berkata, bukan hanya mencari intisari pendidikan semata dan title sarjana saja, dirinya ingin mencari pengalaman berharga dan ingin hidup mandiri, jauh dari orang tua dan sanak keluarga.

Bintang, kini aku melanjutkan kuliah di universitas matahari, ini adalah universitas yang akan ditempuhnya selama dia berkuliah. Aku sangat berterimakasih kepada tetangganya yang pernah mengatakan “ngapain keluar kota segala, sudah tau di kota kita mempunyai universitas yang sudah terakreditasi” karena hal itu menambah semangatnya untuk berprestasi, kini prinsip hidup baru yang dijalani Bintang adalah, bagaimana dia sukses dalam pendidikan dan memperoleh wujud nyata akan impian yang ingin dia raihnya, dan mampu membahagiakan kedua orangtuanya, karena sukses bukan tolak ukur dari sebuah akreditasi semata, tetapi hasil kerja keras kristalisasi keringat yang mengalir tiada henti.

Himpitan drama kehidupan yang dialami sangatlah berarti baginya, kebimbangan akan hidupnya kelak terasa menyesakan dadanya. Sejak di bangku SMA bintang sudah tidak dibiayai oleh orangtuanya, sang Ayah mengatakan kepada kakak pertama
“Ayah sekarang sudah tua, dan Ayah mungkin akan berhenti kerja, kini Ayah titipkan biaya hidup Bintang kepadamu nak” ujar sang Ayah sembari batuk

kakak pertama bintang adalah seorang perawat sebuah rumah sakit negeri di kota Pelangi, kota asal Bintang, sang kakak pun sudah mempunyai kesadaran, walaupun sang ayah tidak bilang seperti itu, dirinya tetap akan membiayai Bintang, setinggi-tingginya karena kakaknya ingin membalas budi kepada ayahnya, yang sudah membiayainya dengan keringat senjanya.

Bintang selalu berfikir, dan menyadari bahwa dirinya mampu untuk melanjutkan dan mengenyam bangku perkuliahan dengan hasil kerja keras kakaknya ataupun dengan prestasinya, jika tidak ada sosok kakak, mungkin sekarang bintang akan bekerja, entah bekerja apa, karena bintang hanyalah lulusan SMA, yaah.. persaingan ketat pencari kerja di era ini sangatlah sulit, ketersediaan lapangan kerja dengan pelamar pekerjaan sangatlah timpang, apalagi bintang hanya berijasah SMA, yang tidak melatih skill, melainkan hanya melatih kecerdasan pengetahuan saja, sedangkan yang dibutuhkan oleh dunia kerja adalah skill.

Bunda bintang pun pernah berujar ketika bintang lulus SMP “nak, nampaknya Bapakmu sudah mulai sakit-sakitan dan kemungkinan bapakmu akan pensiun ketika kamu masuk SMA nanti, lebih baik kamu masuk SMK karena ketika kamu lulus nanti, kamu bisa langsung kerja nak, kalau SMA kamu itu harus melanjutkan kuliah, dan itu darimana.
namun perkataan ibunda Bintang di tentang oleh kakaknya “Bunda, biarlah Bintang melanjutkan kuliah dengan apa yang dia inginkan, kelak dia sarjana nanti, dia pun akan bekerja dan mampu membahagiakan kita dan membalas jasa Bunda dan Ayah, untuk biaya, Bunda doakan saja aku, agar selalu diberi rezeki dan kesehatan” sembari berkata dan memeluk sang bunda.
Jika kuingat akan hal itu, aku ingin sekali untuk sukses dan membahagiakan keluargaku. Di tempat inilah aku meniti kesuksesan, kuliah secara serius dan berprestasi harus aku tunjukan, aku tidak ingin menjadi mahasiswa biasa yang diberi kesempatan untuk merantau, namun digunakan untuk bertamasya atau melakukan hal, yang sekiranya tidak penting, ataupun ajang untuk mencari cewek, hal itu tidak ada dalam kamus hidupku, aku ingin fokus kuliah dan perkuliahan yang menjadi tujuan utama dari merantau, seorang teman dekat Bintang pernah mengatakan
“aah kamu ini jauh-jauh dari kotamu, hanya untuk kuliah? Hahaha jadul kamu ini, aku dong baru 1 minggu di kampus ini, udah dapet dua no. hp cewek, cantik-cantik juga loh hahahaa”
sahut riki sahabatnya sejak dia SMA, dirinya memang terkenal akan keplayboyannya dan sifatnya yang SKSD (Sok Kenal Sok Dekat).

Cinta, ya satu kata yang penuh dilema bagi Bintang, jangankan untuk mencintai, dicintai pun dirinya akan berpikir seribu kali, untuk bisa bertahan hidup di kota ini, uang bulananku untuk makan dan keperluan penyambung hidupku disini sudah pas-pasan, apalagi jika aku mempunyai seorang kekasih dan tradisi berpacaran itu adalah nonton, makan, dan bertamasyaan mencari tempat baru, bagaimana dengan uang makan ku nanti, apa aku rela tidak makan dan membeli perlengkapan mandi, demi yang namanya cinta, bintang berucap lirih.

Walaupun sejak SMA Bintang sudah terlatih memanage pengeluaran kebutuhannya sendiri, namun kini, hal itu akan menjadi tantangan lebih baginya, karena Bintang harus mampu benar-benar mengatur pengeluarannya, jika tidak mau, ingin minta kepada siapa?, jika meminjam pun, sudah barang tentu harus dikembalikan, dan itu entah dari mana.
Bekerja, inilah yang kini ada di otaku, “aku tidak akan selalu mengandalkan penerimaan secara Cuma-Cuma dari kakaku, jika aku bisa mendapatkan lebih, kenapa tidak, tapi aku ini bisa apa? Aku hanyalah manusia yang berambisi tinggi, namun entah kemana akan aku lampiaskan.

Dalam perkuliahan, Bintang selalu serius untuk mendapatkan hasil yang terbaik bagi dirinya, dan tentunya membuat bangga orangtua dan kakaknya, hal yang tidak di sangka Bintang ialah ketika selesai jam perkuliahan komunikasi, dimana berkomunisasi dan keterampilan berbicara di tonjolkan dalam mata kuliah ini, Bintang merupakan mahasiswa yang aktif dalam mata kuliah ini, dan ketika mata kuliah ini berakhir dosen komunikasi mengatakan
“jangan sia-siakan suara emasmu, suaramu bisa menghasilkan uang, Bintang” kemudian ibu dosen pun pergi
Perjalanan keluar dari ruang mata kuliah komunikasi, membuat risau Bintang, apalagi kata-kata ibu dosen yang mengatakan “suaraku bisa menghasilkan uang” maksudnya apa? Ujar Bintang yang terus berfikir, dalam perjalanan pulang menuju kos nya, Bintang selalu berfikir dan terus berfikir, dan keputusan nya untuk mencari jawabannya adalah dari ibu dosen itu sendiri, dan setelah langkah kakinya terhenti pada pagar kos tempat Bintang berekspresi, dirinya langsung masuk kamar dan seketika tertidur diselimuti dinginnya malam.

Pagi pun datang, suara radio terdengar keras menyambut bangun tidur indahnya, bintang lupa mematikan radio ketika malam, sebelum dirinya tertidur, sembari menanti terbitnya mentari semakin ke atas, bintang terus mendengarkan radio, sejak kecil dirinya memang penggemar radio, dirinya menggap seorang penyiar radio mampu membawa suasana ceria, entah di pagi hari, siang hari ataupun malam hari, dan sang penyiar sangatlah ramah kepada pendengarnya yang sebenarnya tidak dikenalnya.

Ketertertarikan ini semakin mengerucut ketika penyiar radio di kota barunya kini sangatlah muda, dan dia selalu memberi salam kepada teman-teman nya di kampus, berarti penyiar ini adalah seorang mahasiswa yang merangkap bekerja.
Hari ini adalah hari sabtu, mata kuliah komunikasi yang dijadwalkan hari jumat kembali ada, karena untuk jumat ibu dosen tidak masuk karena ada disertasi study s3 nya, seperti biasa Bintang tetaplah aktif dalam diskusi dalam perkuliahan itu

ketika jam perkuliahan berakhir, dan ibu dosen sedang memasukan laptop dalam tasnya, Bintang mendekati ibu dosen dan mengatakan
“bu, maaf menggangu aku hanya ingin menanyakan tentang penyataan ibu kemarin, yang….”
“owalah mas, yang suaramu bisa menghasilkan uang itu toh?” sembari tersenyum dosen menjawabnya
“hehe iya bu, maksudnya itu bagaimana ya bu?” zian bertanya
“maksud ibu, kamu mempunyai potensi dalam bidang komunikasi, kamu bisa bekerja dan menghasilkan uang dari suaramu itu” jawab dosen
“contohnya bu, aku jadi presenter gitu ya bu?” Bintang masih penasaran
“iya bisa jadi, ataupun kamu bisa menjadi penyiar radio, nanti ibu kenalkan ke teman ibu yang di radio mau?” dosen memberi saran kepada bintang
“penyiar radio bu? Memang aku tertarik bu, tetapi aku takut niat utamaku kuliah disini terpecah ketika aku kerja nanti” bintang tampang murung
“asalkan kamu mampu membagi waktu gak masalah toh” jawab dosen sembari menepuk pundak Bintang
“iya ibu terimakasih atas sarannya, maaf menyita waktu ibu” Bintang tampak semangat
“iya bintang, sama-sama” jawab dosen

Ketika mengambil sepatu yang berada dalam rak, ada satu cewek yang ternyata masih duduk di bangku depan ruangan matakuliah komunikasi, dia adalah Cindy cewek tecantik dalam kelasnya bahkan se-antero mahasiswi baru, versi majalah kampus matahari.
“hey Bintang, kayaknya serius banget kamu di dalam ruangan bersama ibu dosen? ada apa hayo” tanya Cindy dengan tersenyum
“gak ko Cindy, aku hanya disarankan untuk bekerja, untuk ya.. nambah-nambah pendapatan untuk kehidupan dirantau” jawab bintang dengan senyum
“wah hebat ya kamu, aku doain deh kamu sukses, oiya kerjanya itu apa?” Cindy masih penasaran
“aku disarankan jadi penyiar radio Cin” jawab bintang yang lama kelamaan gugup ditanyai oleh Cindy
“wah aku pendengar setia radio loh, kalo kamu udah mengudara aku pasti jadi pendengar setia, kamu juga kok, eits tapi kalau sudah mendapat gaji pertama, makan-makan dong yaa.. hehe” jawab Cindy sembari mencubit tangan bintang
Bintang sontak kaget dan sedikit melamun, tangannya di cubit oleh Cindy
“Bintang, kenapa diam, sakit yaah? Maaf ya aku gak sengaja, maaf dong” Cindy memohon
“eh gapapa kok, aku tadi mikirin cucian di kosku hehe, iya deh sip sip” jawab Bintang yang semakin gugup
“oke deh aku pulang duluan, mau bareng gak?” Cindy menawarkan
“gak cin, kosku dekat kok” jawab Bintang dengan tersenyum
“kamu jalan kaki kan? Aku antar deh, aku bawa motor kok” Cindy menawarkan sekali lagi
“terimakasih Cin, aku jalan aja, kamu hati-hati ya di jalan, asalamualaikum” sahut Bintang
“walaikum salam Bintang, kamu juga hati–hati yaa” jawab Cindy sembari melambaikan tangannya

  Cerpen Cinta

Seperti biasa Bintang pulang kuliah dan berjalan kaki untuk menuju kosnya, dirinya merasa sosok Cindy mampu menyemangati dirinya, tetapi prinsip awal, bahwa dirinya berkuliah untuk berprestasi bukan untuk mencari cewek tetap di pegang teguh olehnya.
“tok tok tok tang, Bintang” irul sahabat dekatnya ternyata datang ke kosnya
“iya, sembari membuka pintu kamar kos, Bintang menyalami Irul, wah kamu rul, ayo sini masuk” jawab Bintang
“kamu lagi sibuk nih bro?” tanya Irul santai
“gak ko, aku lagi nyantai aja nih, pas banget kamu kesini hehe” jawab Bintang ceria
“eh aku ada lowongan penyiar nih di radio kampusku, aku mau daftar tapi aku gak punya basic di bidang itu hahaha” Irul tertawa
“serius kamu rul? Wah pas banget dosen komunikasiku menyarankan aku untuk mencoba menjadi penyiar radio” Bintang semakin penasaran
“iya serius masa iya aku bohong, ya sudah nanti kamu ke kampusku, aku antar ke radio kampusku” Irul menyarankan kepada Bintang
“oke deh makasih ya rul” Bintang menepuk pundak Irul
“sip deh nyantai aja, eh aku pulang ya buru-buru nih udah malem takut pintu pagar tempat kosku di tutup hehehe” Irul pun menyela motornya dan kemudian pergi.

Keesokan harinya Bintang menemui Irul dikampusnya, dan akhirnya mereka bertemu
“ayo Bintang, sini ikut aku” sembari berjalan irul mengantarkan ke radio kampusnya
“wah aku gak percaya diri nih, aku kan bukan mahasiswa sini kok rul” Bintang tampak gugup
“sudahlah tidak apa-apa nyantai aja” sahut Irul

“mas ada temanku namanya Bintang, dari universitas matahari ingin sekiranya belajar dan jika diizinkan menjadi salah satu penyiar di radio ini, apakah bisa mas?” tanya Irul kepada manager radio kampus milik zian
Radio kampus milik zian adalah radio kampus yang sudah sangat terkenal bukan hanya di kawasan kampus saja
“tentu saja boleh, kalau perlu kita tes temanmu ini untuk tes mic dan seolah-olah sedang on air siaran sekarang” tantangan dari manager radio tersebut
“Bintang kamu siap tidak, jika kamu di test untuk siaran sekarang? itu disuruh langsung pak managernya langsung loh” tanya Irul
“apa? Oke deh aku siap, doakan aku ya kawan” dan Bintangpun memasuki ruang siaran
“mas ini yang namanya Bintang ya? Perkenalkan saya manager radio suarakampus, silahkan mas siaran seolah-olah sedang siaran sesungguhnya” jawab manager secara ramah
“siap pak” jawab bintang sembari memanjatkan doa

Dan akhirnya lampu on air pun menyala
“selamat siang kaula muda suarakampus 86.7 fm radio, kembali lagi bersama gue Bintang yang akan menemani makan siang kaula muda semua, selama 60 menit kedepan, bagi yang mau request lagu-lagu silahkan sms ke 09878678678 atau follow @suarakampus867…” dan secara lancar bintang membawakan test siaran itu

Dari depan kaca tempat Bintang melakukan test, pak manager mengobrol dengan Irul
“boleh juga temanmu itu, sebelumnya sudah pernah siaran ya?” tanya manager
“setahuku belum pak, dia hanya bakat alam alias alami” jawab Irul sembari tersenyum melihat kawan nya sedang siaran

“oke, berhenti dan lampu on air dimatikan” pak manager mengintruksikan kepada pegawainya
“selamat-selamat kamu ini berbakat, apakah kamu pernah siaran sebelumnya?” tanya manager dengan serius
“owalah pak, untuk makan aja pas-pasan apalagi untuk pelatihan penyiaran, aku ini otodidak pak, aku senang dan aku belajar melalui mendengarkan radio juga” jawab Bintang dengan tersenyum
“kamu aku terima untuk bekerja disini, kita atur jadwal kuliah mu dengan jam siaranmu nanti” jawab manager dengan menyalami Bintang
“Ini serius pak? Terimakasih pak, terimakasih semoga aku tidak mengecewakan bapak” sahut bintang kesenangan
“selamet ya Bintang” ujar Irul
“terimakasih rul, karena kamu yang udah ngasih jalan buat karir aku” sahut Bintang yang kemudian mereka berdua berpelukan

Setelah mendapatkan pemberitahuan akan jadwal siaran dan perkuliahan akhirnya Bintang menekuni keduanya dengan serius, dan setelah lama dirinya mengudara ternyata Cindy menjadi pendengar setia bintang ketika dirinya on air, Setelah selesai siaran pada hari itu, Bintang langsung menuju kampusnya, dan berpapasan dengan Cindy.
“cie yang udah jadi penyiar suarakampus, mana nih makan-makannya heheh” sahut cindy dengan senyum manisnya
“eh bisa aja nih hehe, iya aku udah siaran di suara kampus, kok kamu tahu ya aku siaran disitu?” tanya bintang kepada cindy sembari tertunduk karena masih malu melihat matanya
“aku kan pendengar setiamu mas bintang wuu” jawab cindy dengan menjulurkan lidahnya
“benarkah? Wah terimakasih ya hehe” bintang merasa senang bahwa suara siarannya nya terdengar oleh cindy
“iya bintang, semangat ya kamu, jangan lupa dengan perkuliahan mu” cindy menasehati bintang

Ketika semester demi semester dilalu sembari bekerja, tetapi prestasi indeks prestasti bintang sangatlah memuaskan dirinya selalu mendapatkan IP 3.50 keatas, inilah yang ingin dirinya tunjukan kepada kedua orangtuanya dan kakaknya yang membiayainya bahwa dirinya bisa dan mampu berdiri sendiri dengan hati yang tegar dan penuh semangat
Karena hal itulah dan beberapa prestasi yang diraihknya antara lain debate comunication english, public speaking se-nasional, dan prestasi di luar akademik yakni pihak kampus melihat dirinya mampu membantu membayai perkuliahannya sendiri dengan menjadi penyiar radio, akhirnya bintang pung berkesempatan untuk pertukaran pelajaran dan mendapatkan beasiswa untuk study ke negeri jepang tepatnya di osaka university dengan jurusan comunication dan menyelesaikan skripsinya di sana.

Sebelum keberangkatan dirinya menuju jepang, bintang diberi kesempatan untuk berpamitan dengan keluarga di desa pelangi, tangis kebanggan dari kedua orangtuanya dan kakanya membuat bintang semangat untuk kuliahnya di jepang.
Dan bintang pun meminta Restu untuk selalu diberikan doa agar dirinya diberikan kesehatan ketika di negeri orang, dan bintang pun mendoakan kedua orangtuanya, kakak dan seluruh keluarganya diberi kesehatan juga.

Hari yang dinanti pun tiba, sore hari yang cerah dengan lambaian kebanggaan, bintang pergi ke bandara dan take off menuju negeri jepang, dalam berjalanan menuju bandara dirinya berujar “ini salah satu mimpiku yang sudah terwujud, aku mampu membuat orang tua dan kakaku bangga dan bahagia karena diriku, dan kini mimpi keduaku aku ingin sukses di negeri jepang, dan ini pun untuk kalian, aku cinta kalian, aku cinta ayah, bunda, kakaku, dan selamat jalan semua semoga kita bertemu kembali di hari esok yang semakin cerah dari hari ini.


Cerpen Pendidikan – Dunia Dalam Kertas Lipat

Di sini aku berusaha menuliskan beberapa kata dari secarik kertas pelangi yang berisi dengan penuh pengharapan. Harapan yang tak akan tinggal sebagai bulatan kertas yang terobek secara percuma, yeah aku akan berusaha wujudkan dengan cita cita.

“Mama minta kelak kamu menjadi orang yang berhasil nanti,” mencoba menahan air mata yang akan keluar dari pelupuk mata.
Aku tercenung, seakan kata itu menelusuri lubuk hati dan mengikat prinsip bahwa aku selayaknya menjadi seseorang yang lebih baik, namun aku bingung harus memulai dari mana.

Saat di Kampus,
“Hey, nglamun mulu?! Pikiran lu jangan kamu kosongin, bahaya ntar say!”
“Aaaahhh, apaan sih, orang lagi merancang cita-cita juga, ganggu aja!”
Temanku hanya menggeleng gelengkan kepalanya.

Aku bersekolah di institusi kesehatan yang cukup bagus. Memang tak pernah tersirat untuk berpikir bahwa aku dilahirkan untuk menjadi seorang yang bisa merawat pasien apapun kondisinya yang entah membuat aku terasa mual atau tidak, layaknya perawat harus membutuhkan hati yang tulus untuk merawatnya.

Awalnya, aku hanya menjadi seorang mahasiswa pemalas yang berusaha hanya untuk menyenangi duniaku sendiri terlebih mengingat saat dosenku sibuk mengajar kepada mahasiswa tentang bahasa latin. Aku menyebutnya Mother Alien.
“Saccaromyces adalah salah satu bakteri yang menguntungkan bagi manusia, salah satunya adalah Saccaromyces cerevisiae blab la bla”,
“Orang ini lancar amat ya bicaranya?”, gumamku pada teman-teman.
“Haha, diem lu! Namanya juga dosen, wajar kale, paling nggak dia udah latihan lah, sebelum dia dipermalukan di depan kelas,”
“Ups, hehe iya,”,

Hmm, lagi-lagi otakku serasa berputar dan lagaknya hemisphere otak kanan-kiriku sudah mulai tak berfungsi lagi. Pusing, karena selalu ada kata terminologi baru yang harusnya aku membawa kamus keperawatan untuk tahu maksud istilah tersebut. Bosan, karena menyita waktu hingga beberapa jam mulai aku duduk tenang hingga pantat yang terasa panas karena lamanya frekuensi aku duduk manis ketimbang beraktivitas sesuka hati.

“Mendingan ngelipet ngelipet kertas aja ding!” sambil aku peragakan ke teman dekatku, Eby.
“Nina, Nina, seketika ekspresi Eby mulai mendatar.

Pulangnya, aku kembali ke asrama. Karena memang disitulah rumah yang kedua setelah my home sweet home ku. Berbagai perasaan tumpah ruah disisni, ada tawa, canda, senang, dan sedih.

“Kamu tahu gak yang temennya, Jeny itu sekarang kalau ke kampus gak pake kerudung, norak banget tuh anak!”

“Ah, masa’ sih, padahal kalau diliat, anaknya lumayan diem, ih kok gitu ya?” berbagai desas desus layaknya percakapan orang rumah susun

Namun di semester yang baru ini, ada kecenderungan aku untuk bangkit dari keterpurukan, seperti menemukan titik terang.

Aku ingin menjadi seseorang yang besar dalam hidup. Anganku seakan menggelayut di atas kepalaku persis dan aku tinggal mengambil dengan tangan untuk menggapai cita cita tersebut. Lewat sekolah keperawatan inilah kelak aku akan menjadi pengajar yang profesional, disiplin dan berdedikasi tinggi. Sejenak aku pun keluar dari asrama dan menikmati tempat duduk yang asri ditempa angin. Sambil menikmati udara malam di luar, tak terasa aku pun tertidur.

“Baik semuanya, saya Ibu Nina kali ini saya akan mengajarkan mata kuliah Keperawatan Anak, kali ini saya akan menjelaskan anak-anak dengan kasus demam thypoid. Thypoid adalah yang penyakit yang menyerang saluran pencernaan yang disebabkan oleh bakteri Slmonella Thyposa, blab la bla..” , aku menjelaskannya dengan penuh arti.

“Apakah kita dapat mengidentifikasi tanda penyakit tersebut secara spesifik bu?,” tandas salah satu Mahasiswa.

“Bisa, kita bisa mengetahuinya lewat demam enteric, yaitu pagi hari suhu menurun dan seperti orang yang sehat dan normal saja, namun di malam hari suhunya akan menaik secara progresif dalam waktu 7-14 hari,”

“Mahasiswa pun manggut-manggut seaakan paham. Sementara, aku pun tersenyum puas.

Tak terasa aku pun merasakan udara malam yang semakin dingin menembus pagar yang melingkupi rumah asramaku. Aku pun bangun dan segera masuk untuk menyelamatkan tubuhku dari hypotermi. Aku segera mengambil wudu dan mulailah untuk segera solat. Di dalam doa, aku memanjatkan penuh harap semoga cita-cita ku bisa terwujud dengan lancar tanpa terhalang oleh rintangan satupun. Aku menangis, karena aku sudah menemukan kelegaan hati dan petunjuk jalan.
Dimulai dari awal, aku harus membangunnya satu persatu untuk mewujudkan anganku yang masih terbang bebas di atas sana. Belum sempat aku memancingnya hingga mewujudkan anganku, hatiku tergetak untuk menggapai cita yang impikan selama ini. Semoga aku menjadi orang yang lebih baik lagi. Amiiin.
“Buatlah orang tuamu bangga nak…”

Dan aku hanya tersenyum simpul, menandakan jawaban iya.

***

Demikianlah beberapa kumpulan cerpen pendidikan yang bisa dibagikan kali ini. Semoga bisa menjadi bahan bacaan menarik dan makna yang terkandung dalam cerita pendek ini bisa menjadi refleksi untuk kita semua.