Cerpen Cinta

Cerpen Cinta -Simak berikut ini kompilasi cerpen cinta pendek pilihan yang disadur dari berbagai sumber di dunia maya. Daftar cerpen cinta ini bisa dimanfaatkan sebagai bacaan ringan namun penuh arti untuk pembaca yang menyukai cerita pendek berbalut romantisme. Yuk, silahkan disimak….

Kumpulan Cerpen Cinta Terbaik

Cerpen Cinta – Saranghae

Jangan salahkan aku jika aku iri pada dunia. Pada ombak yang bergulung-gulung di luasnya samudera biru, pada gemintang yang giat memancarkan sinarnya, dan bahkan pada angin yang bersemilir lembut menjelajahi bumi bersama ribuan partikel udara lainnya.
Karena apa? Karena aku rasa, Tuhan benar-benar tidak adil.

Kini, aku sedang berada dalam perangkap kesedihan luar biasa. Hari-hariku diselimuti kegelapan, hatiku hancur berkeping-keping. Tak ada lagi kebahagiaan di kamusku. Tak ada lagi gurat senyuman di wajahku. Dan kau tahu, ini semua gara-gara lelaki brengsek itu. Lelaki bernama Fatahilah, yang tega-teganya menyakiti hatiku. Saat aku sudah menjalin hubungan dengannya selama 2 tahun, ia menjalin hubungan dengan orang lain di belakangku. Akhirnya, tepat kemarin hubungan kami kandas sudah.

Namaku Ve, lengkapnya Vreya Veronica. Dan sekarang, aku sangat benci dengan dunia.

Sudah dua minggu ini Vreya Veronica menjadi gila. Vreya yang akrab disebut Ve, merupakan selebgram terkenal dengan followersnya yang sudah 1,5 juta. Bahkan mengalahkan followers banyak artis papan atas di Indonesia.
Ve kini sedang duduk di bangku kuliah semester kedua. Ia dikaruniai paras yang cantik nan rupawan; kulitnya putih bagai mutiara berharga, hidungnya mancung layaknya puncak gunung everst, bibirnya merah merekah bak buah delima, dan matanya yang cokelat selalu menyiratkan aura kecantikan bukan main.
Ve dikenal sebagai seseorang yang ceria, humble, setia, penyayang dan supel. Siapa yang tidak kenal dengan Ve. Semua orang pasti kenal dengan sosok satu ini.
Tapi sayang, Vreya Veronica sekarang bukanlah Vreya Veronica dulu. Kini, Ve frustasi. Ia menggila, semenjak ia dan pacarnya memutuskan hubungan mereka.

Semenjak mereka berdua putus dan Ve mengetahui pacarnya selingkuh, Ve jadi merasa sedih bukan kepalang. Mulai saat itu, ia tidak tahu harus berbuat apa. Sampai-sampai, ia memberantaki semua barang di kamarnya, membakar boneka-boneka miliknya tanpa control. Bahkan ia nyaris bunuh diri dari balkon rumahnya, Untungnya, sang Ibunda berhasil menyelamatkan Ve dari aksi konyol itu. Ve pun dikurung di kamar hingga saat ini.
Dan di kamarnya, yang ia kerjakan hanyalah berdiam, mengamuk, dan menangis.
Pikirannya melayang-layang, pikirannya tak menentu. Beribu amarah membara dalam dadanya. Ia benar-benar kacau.
Atas dasar itulah, Ve jadi terpaksa harus absen kuliah. Beberapa nilai pun terlewatkan oleh dirinya. Padahal, Dulunya Ve sangat tidak mau absen kuliah walau itu adalah urusan gawat darurat sekalipun.

Hari ini, seperti biasa ketika pagi menjelang sang Ibu memberikan sarapan untuk Ve. Penuh kasih sayang, Ibunya menyuapi Ve. Setelah dibujuk beberapa kali, akhirnya Ve mau makan dengan disuapi Ibunya. Hingga saat suapan terakhir, ia kembali mengamuk. Pasalnya, pikiran tentang Fatahilah tiba-tiba berkecamuk dalam pikirannya.

“Ve, tenang nak.” Ibu buru-buru mendekap Ve. Ve meberontak. Lalu, Ibu kembali mendekap Ve kuat.
“Istighfar, Ve. Kamu harus ingat pada Allah, Tuhan yang menciptakanmu. Ini hanya masalah sepele, karena kamu putus dengan Fatahilah. Ingat, masih banyak lelaki di dunia ini.” Nasihat Ibu seraya mengelus-elus rambut Ve.
Ve diam. Walaupun ia sudah sangat hancur, tapi 10% ia masih bisa sadar dan mencerna perkataan Ibunya.

“Kamu harus tahu, jodoh sudah ada di tangan Tuhan. Dan kamu harus tahu juga, bahwa rencana Tuhan selalu baik. Jadi, walaupun kamu putus dengan Fatahilah itu berarti Fatahilah bukan lelaki yang cocok untuk menjadi tamabatan hatimu. Ibu yakin, pasti Tuhan telah menciptakan skenario terbaik untukmu. Percayalah,” Ibu mengecup kening anak keduanya, Ve. “Don’t be sad, Allah with us.” Ibu bangkit dari duduknya, kemudian berjalan meninggalkan kamar Ve sembari membawa piring yang telah habis dimakan oleh Ve. Tak lupa, Ibu mengunci pintu kamar Ve dari luar. Jika tidak, bisa-bisa Ve keluar ditemani emosi yang tidak terkontrol.

Sepeninggal Ibunya, Ve masih terdiam.
Ajaib. Seakan hatinya tiba-tiba tersihir. Biasanya, walaupun Ibunya menceramahinya, ia akan tetap mengamuk tak peduli. Tapi tadi, itu membuat Ve berdiam. Mencerna kembali kata-kata Ibu. Sampai-sampai, Ve mengantuk memikirkan kata-kata Ibu tadi lalu tidak terasa ia jatuh tertidur.

Ve membuka mata. Ia menggeliat layaknya ulat, lantas menguap lebar sekali. Selebar kali ciliwung yang airnya acap kali mengalir deras.
Ve kali ini tidak mengamuk. Tapi rasa sedih luar biasanya masih tertancap kuat. Ia akhirnya kembali mengamuk tanpa kontrol.
Ia terus mengamuk, sampai ia merasa lelah. Saat ia merasa lelah, ia pun spontan mengambil handphone yang ia letakkan di meja riasnya. Ternyata, banyak sekali notification di instagramnya. Jelas, sudah dua minggu ia tidak membuka akun instagramnya.
Setengah sadar, ia membuka menu dm (direct message) yang ada di Instagram. Dan, di atas sekali terdapat pesan masuk dari akun Instagram bernama ooh.sehun.
“S…siapa dia?” Ve merasa ia familiar dengan nama ooh.sehun iitu. Tapi, siapa? Ia lupa.

Ia pun membaca pesan dari ooh. Sehun itu. Isinya berbahasa korea dan Inggirs di bawahnya. Jika diterjemahkan menjadi Bahasa Indonesia, akan seperti ini:
Annyeong haseyo. Kenalkan, aku Sehun. Saat kemarin aku bermain Instagram, tiba-tiba saja aku menemukan akunmu. Dan aku benar-benar terpikat denganmu. Salam kenal.
Beruntung, walau dengan keadaan gila dan setengah sadar, Ve masih bisa menerjemahkan Bahasa Inggris tersebut. Terang saja, Ve memang pintar berbahasa Inggris.
“Hmmm, ini siapa? Ah, stalk aja deh.” Tingkat kesadaran Ve mulai meningkat. Walau masih ada rasa sakit dan perih di hatinya.

Ia pun memencet akun ooh.sehun tersebut. Dan.. dilihatnya foto-foto di akun ooh.sehun tersebut. Rupanya, Ve telah mengikutinya.
“Kapan aku memfollow dia?” Ve masih bingung.
Dan saat ia sudah melihat banyak foto di akun ooh.sehun, kesadarannya pun pulih. Ia ingat semuanya. Ia sudah tidak gila lagi. Ia ingat, bahwa ooh.sehun adalah seorang personel dari grup boyband ternama di Korea Selatan.
“OH MY GOD! OOH. SEHUN? INI SERIUS KAN?” Ve teriak sekencang-kencangnya, hingga membuat Ibu datang ke kamar Ve.
Ibunya khawatir, kalau anaknya semakin parah.

Krieek.. Pintu terbuka.
“Ve, kamu enggak apa-apa kan?” tanya Ibu khawatir.
Ve menggeleng lalu berjingkrang-jingkrak saking senangnya.
“Ibu, aku didm sama Sehun. Dan dia bilang, dia terpikat sama aku! Dia ngajak kenalan aku! Aaaaah senengnyaaa!”
Ibu Ve melotot. Ia bingung, bukankah Sehun adalah idola dari Ve? Tidak mungkin jika Seorang artis korea seterkenal Sehun bisa mengajak kenalan anaknya. Itu hal mustahil.
“Ini Sehun yang mana? Sehun Korea Selatan atau Sehun Ciamis?” sang Ibu bertanya kikuk.
Ve berhenti berjingkrak-jingkrak, lalu mendekati Ibunya. Ve memeluk kencang sekali Ibunya, lalu berteriak “AAAAAAH, AKU SENANG SEKALI IBU! AKU DIAJAK KENALAN SAMA SEHUN DARI KOREA SELATAN! SEHUN ASLI! AKUNNYA ADA CENTANG BERWARNA BIRU! AAAAAAH SARANGAHE SEHUN!”
Telinga Ibu mendadak budeg. Dan yang ada di pikiran Ibu sekarang adalah, takut anaknya menjadi gila.
“Apa anakku harus suntik rabies?” bisik Ibu pelan.

Lima bulan kemudian, sosial media heboh. Tidak hanya sosial media saja, bahkan media massa lainnya seperti televisi dan koran pun dipenuhi berita-berita terhangat yaitu berita tentang nikahnya seorang Sehun, anggota dari boyband EXO menikah dengan Vreya Veronica, selebgram asal Indonesia.

Hari ini, Sehun dan Ve baru sampai ke Korea. Ia baru menikah dua hari yang lalu, dan mereka berdua merencanakan honeymoon di Seoul, Korea.
“Ppali, Ve.” Sehun sudah di bawah dengan koper dan berbagai barang bawaannya. Sedangkan Ve masih berada di anak tangga pesawat. Sepersekian detik, Ve sudah berada di bawah pula.

“Aigoo, daebak! Aku sangat suka dengan pemandangan Korea ini!” pekik Ve kagum.
“Ne, kamu benar sayang. Dan ini baru di bandara. Di luar sana, masih banyak lagi pemandangan indah di Korea. Oppa akan memperlihatkan semuanya padamu, sayang.”
“Oppaaa, saranghae!” Ve memeluk Sehun. Sehun membalas pelukannya.
Sehun dan Ve pun menjadi pusat perhatian di bandara.
Sehun merangkul erat Ve. “Kajja, yeppeo!”
Mereka pun berjalan beriringan keluar bandara, menuju rumah Sehun seraya bercanda ria.

Sekarang, aku tahu. Bahwa Tuhan memang bernar-benar Maha Adil. Selalu ada skenario terbaik untuk para hamba-Nya. Jika ada cobaan berat bagiku, itu berarti akan ada kebahagiaan yang mendalam setelahnya.

Seperti saat aku putus dengan Fatahilah, Tuhan telah menggantinya dengan yang lebih baik lagi. Yaitu adalah Sehun. Ah, memang benar. Sejatinya, Tuhan memang selalu memberikan yang terbaik.

Namaku Vreya Veronica, biasa dipanggil Ve. Dan sekarang, aku tak lagi membenci dunia karena aku sudah tahu bahwa duniaku akan selalu bahagia karena Tuhan pasti ada di sampingku setiap saat.

Cerpen Cinta – Kenangan Manis

Kami sekeluarga akhirnya sampai di tempat tujuan. Dengan perjalanan memakan waktu kira-kira 4 jam itu aku lelah dan tentu saja ayahku yang menyetir juga kelelahan. Tempat ini tidak banyak berubah mungkin karena rumah kakek ini memiliki banyak kenangan yang sulit dilupakan olehku. Selagi turun dari mobil aku merentangkan kaki dan seluruh tubuhku yang pegal. “Oh lihat, itu Nenek!” Ibuku dengan senyum memeluk nenek dengan hangat karena sudah lama kami tidak mengunjungi beliau. Kira-kira 6 tahun lamanya tetapi kami sekeluarga tetap berkomunikasi dengan mereka. Memang sulit mendapatkan sinyal di sini karena tempat ini jauh dari kota dan aku harus akui mereka hebat bisa mempelajari handphone walau sudah tua.

“Doni sini! Salam dulu Nenekmu!” “Iya Mah.” Bergegas aku menanggapi Ibuku. “Wah cucuku yang ganteng, kamu sudah besar rupanya. Kata Ibumu, kamu sudah masuk SMP ya?” Tanya Nenekku dengan halus dan agak bergetar. “Iya, Nek. Doni udah SMP.”

Tempat ini memang tak banyak berubah, mulai dari pohon mangga kesayangan kakek, tangganya yang berdecit, atapnya yang tinggi, tembok gelap dimana ada senjata perang milik kakek dan foto-foto kakek dan nenek jaman mereka muda. Yang aku rindukan adalah saat kakek dan aku memanjat pohon mangga kesayangannya walau aku lah yang memanjat pohon dan kakek menjagaku agar tidak jatuh, Nenek melihat kami dengan senyum hangat selagi menyiapkan minum untuk kami. “Hati-hati Doni! Jangan sampai jatuh!” Ujar nenek memperingatkan, “Iya Nek. Tenang aja, kan ada kakek.” Balasku. Kami melakukan ini saat sore jika ada mangga yang matang dan aku menginginkan mangga dari pohon besar itu. Setelah berhasil mendapatkan mangga, aku dan kakek duduk di bangku halaman sambil mengupas mangga tadi. Minuman yang nenek sediakan menyegarkan tenggorokan yang kering karena capek memanjat.

Hal yang paling kuingat adalah ketika kakek mulai bercerita, “Kek, ceritakan lagi dong! Kisah kakek ketika melawan para penjajah!” Teriakku bersemangat dengan mata berapi-api, dengan tawa, dan keringat, serta mangga yang tinggal separuh di tangan kanan. Kakek pun dengan senyum lebar di wajahnya, “Mau cerita lagi? Baiklah dengarkan baik-baik karena cerita kakek akan membuatmu berkeringat daripada memanjat pohon mangga kakek.”

Beliau sangatlah pandai bercerita, apalagi ceritanya tentang masa penjajahan dulu, tentu saja karena sudah Ia pernah ada ditengah-tengah sejarah masa itu. Kakek bercerita banyak hal, seperti kakek yang harus melawan senjata api milik para penjajah dengan bambu runcing, para pejuang lain yang tidak bisa makan dan minum dengan pantas, taktik untuk melawan Belanda, dan bagaimana semangat perjuangan teman-teman perang dan kakek dalam melawan para penjajah keji.

“Dulu ketika melawan Belanda Kakek memakai bambu runcing yang telah dilumuri tai kerbau supaya jika musuh terluka karena senjata kakek, luka musuh itu akan infeksi…” Aku mendengarkan dengan seksama dan aku membayangkan diriku ada di medan perang bersama Kakek. Terus kulahap potongan mangga demi potongan sambil mendengarkan tanpa mengalihkan perhatian tak memedulikan sekitar ala bocah. “Hahaha…” Tawa terpotong-potong milik Kakek khas dengan suara seraknya, “Pelan-pelan makannya Doni. Kakek tidak mau kamu tersedak mangga gara-gara dengarkan cerita Kakek.” Aku tersenyum dan menelan potongan mangga yang ada di dalam mulutku dengan pelan. Kakek sangatlah baik hati dan ramah, jika Ia tertawa bisa terlihat bekas luka di dekat bibirnya.

Dari semua cerita, yang paling kusukai adalah cerita tentang bagaimana usaha kakek menyelamatkan temannya yang sekarat tertembak Walanda. “Disaat itu Kakek dan teman kakek sudah dalam keadaan terkepung!” Aku pun tertegun, “Kaki Kakek dalam keadaan tertembak dan teman Kakek mendapat 3 tembakan di badan!” “Lalu?!?” Ucapku. “Kakek mencoba mengeluarkan peluru dari kaki kakek dengan pisau milik teman kakek. Selagi itu kakek membawa teman kakek tadi dan mencoba melindungi diri di parit.” Sangatlah menegangkan untuk mendengarkan ceritanya dan benar, Kakek benar tentang aku akan berkeringat karena cerita-cerita ini. “Teman kakek tak sadarkan diri dan Kakek berdo’a agar diberikan perlindungan Yang Maha Kuasa.” “Lalu lalu!?!” Buruku, “Kakek terus bertahan dari serangan-serangan mereka. Ketika Kakek sudah akan menyerah, Kakek juga hampir tak sadarkan diri. Ketika itu Kakek mulai tak bisa fokus pada apa yang ada di sekitar Kakek namun beberapa saat kemudian terdengar suara “SERANG!!!” dan kemudian tentara Belanda pun mundur. Terlihat mereka itu merupakan pasukan pejuang bantuan. Kakek bersyukur tertolong karena mereka datang.” “Wah, lalu bagaimana dengan teman Kakek?” Dengan penasaran aku bertanya, namun Kakek hanya menggelengkan kepala. Nampaknya teman Kakek terlambat tertolong.

“Mereka yang di garis depan telah berkorban demi Bangsa dan Negara. Kamu sebagai generasi penerus harus bisa meneruskan semangat perjuangan seperti Kakek dan teman Kakek Ya, Doni.” Elusan tangan Kakek sangat halus dan tak terlupakan, kata-kata terakhir dan senyumannya sebelum aku meninggalkannya sangat mengelukan. “Aku rindu Kakek.” Bisik hatiku. Tak terasa air mataku menetes di lantai.

“Doni.” Aku kaget dan segera melihat siapa yang memanggilku itu sambil mengelap air mataku, “Ayo sekarang kita berangkat mengunjungi makam Kakekmu.” Aku pun tersadar, “Tunggu sebentar Mah. Doni mau cuci muka dulu”

Sekarang Kakek berada bersama dengan teman-teman seperjuangannya dulu. Mereka melihat apa yang diperjuangkan mereka sampai sekarang. Dan aku bangga sebagai cucu Kakek dan penerus bangsa akan terus memperjuangkan semangat perjuangan mereka.

Keluar dari kamar mandi, ketika itu aku melihat melalui jendela bisa terlihat pohon kesayangan Beliau, kemudian aku pun tersenyum “Kakek, buah mangganya sudah matang.”

Cerpen Cinta – Bunga yang Layu Sore Itu

Matahari menunjukkan senyumannya, awan-awan putih seakan menjadi perhiasan langit biru yang membentang bagai gulungan kertas polos. Benar-benar hari yang cerah. Cocok untuk menghabiskan waktu Minggu di luar bersama keluarga, teman, kerabat, dan sejenisnya.

Sayangnya, hatiku tak seirama. Sayangnya juga, aku tidak bisa menikmati hari ini. Hari ini bukanlah hari yang cerah bagiku. Hari ini adalah …

Aku menatap sendu tubuh ibu yang terbujur kaku. Memori-memori tentangnya bermunculan tanpa bisa kucegah. Aku ingat semuanya. Aku ingat betul wajah cantiknya ketika tersenyum. Aku ingat suaranya yang lembut ketika menasihatiku. Aku ingat, aku ingat, aku i—

“HUWAAA!!!” Isakan yang dari tadi kutahan kini meluncur bebas. Mengingat kenangan bahagia bersama ibu membuatku menyesal. Seharusnya aku tidak memikirkan hal yang membuat diriku semakin terpukul.

Para penggali kuburan mulai mempersiapkan cangkulnya. Perlahan tetapi pasti, mereka mengembalikan tanah galian ke liang lahad. Aku berjalan menjauhi area pemakaman karena tidak kuat melihat prosesnya. Mungkin terkesan berlebihan, tetapi sungguh, aku tidak melebih-lebihkan.

“Eh!” Aku hampir saja terjatuh karena tersandung kerikil berukuran sedang. Kejadian ini membuat diriku menghentikan tangis, namun satu detik kemudian aku melanjutkannya.

Aku berjalan menuju tempat mobil kakak di parkirkan. Ketika aku melewati gang, orang-orang yang ingin berziarah menatapku beberapa saat, dan aku malu karenanya! Pasti wajahku sekarang sangat kacau! Lantas aku duduk di sebuah batu besar, berniat menghapus air mata dan merapikan kerudung.

“Woi!” Sebuah suara yang tidak asing tertangkap indra pendengaranku. Acara merapikan kerudungku belum selesai, jadi aku memutuskan mengabaikannya.
“Kamu, lho! Ayo kesana!” Masih dengan suara yang sama, tetapi bedanya suara itu terdengar semakin dekat.

Aku berdiri. “Kak,” panggilku.
“Apa?”
“Mengapa … harus ada kematian?”
Kakak tidak langsung menjawab. Ia tampak berpikir.
“Mengapa harus ada perpisahan di setiap pertemuan?”

Kakak menatapku lekat. “Kamu tahu,” katanya, “di dunia fana ini tak ada yang abadi. Di tiap momen yang terjadi, bisa jadi momen yang terakhir bagi kita.
“Kamu tak akan pernah lebih muda dari sekarang. Kita tak akan pernah mengalami masa ini lagi. Semua momen yang memiliki akhir itu patut kita syukuri …

“Karena …,” -kakak menggenggam tanganku- “setiap momen yang memiliki akhir itu … lebih bermakna …”

Aku terbengong. Ucapan kakak barusan … ada benarnya -eh tidak, memang benar.

“Ayo!” Kakak menarik lengan bajuku.
Aku tersenyum kecut. Aku harus mengikhlaskan kematian ibu.
Merasa risih dengan tarikannya, aku berkata, “Kak, udah ah, lepas!”

Barangkali itulah mengapa kematian ada, aku menduga. Barangkali juga itulah mengapa kita mengenal konsep berpisah dan bersua.

Ibu, meskipun kau sangat menyebalkan, aku tetap menyayangimu. Semoga kau tenang di sisi Tuhan. Amin.

  Cerpen Pendidikan

Cerpen cinta – Terlambat

Seorang gadis berlari menghindar dari kejaran seseorang di belakangnya di koridor kampusnya.
“Ulfa berhenti?” perintahnya, tapi tidak digubris sama gadis ini yang terus berlari.

Karena kelelahan, dia berhenti sejenak dan berjongkok mengatur nafasnya. Ulfa kembali menegakkan tubuhnya, tapi dia terpaku pada sosok di depannya.
“kak. David” gumamnya. Dan dilanjutkan kekagetannya dengan panggilan seseorang di belakangnya.
“Ulfa?”
Ulfa berbalik dan melihat Reza yang datang menyusulnya.

“kakak kenapa masih mengejarku sih? aku kan sudah bilang, aku udah punya pacar, dan juga aku sudah bilang untuk cari cewek cantik dari aku. Lah ini? Kakak masih aja ngejar cewek gak jelas kayak aku. Aku heran ya, sama kakak, siapa sih yang meletin kakak sampai kak Reza kek gitu, aku rasa yang melakukannya orang buta, apa gak bisa melihat mana yang cantik mana yang enggak sih?” tanya Ulfa pada Reza yang malanjutkan ngerutu pada dirinya.
“aku gak bisa?’ jawab Reza.
“hah, kenapa? Karena aku gak nunjukin pacar aku sama kak Reza gitu?”
“ya” disertai anggukan.
“yakin ingin mengenal pacarku?”
“ya”

Tanpa mengalihkan pandangannya dari Reza, Ulfa menarik tangan David, sosok yang berdiri di belakang Ulfa memperhatikan perdebatan kedua makhluk di depannya. David yang di tarik tiba-tiba menjadi kaget karena dia yang semula menjadi penonton berubah jadi aktor.
“nah ini pacarku, kak David, kenalkan? Gak mungkin gak kenal, orang kalian seangkatankan? dia juga ketua BEM kan?”

Yang ditanya hanya diam melihat ke arah David, seakan menuntut penjelasan dari David.
“ah, iya, jadi kamu orangnya, yang kata pacarku sering mengejarnya?” tanya David merangkul bahu Ulfa, hingga membuatnya menegang.
“maaf telah mengganggu pacarmu, aku tidak akan pernah menemuinya lagi” kecewa.
“tidak masalah jika berteman, aku tidak melarangnya untuk menambah teman, asalkan tidak membuatnya risih, ya kan sayang” tanya pada Ulfa.
“i-iya”
“hm, ya, terima kasih, aku permisi” ucap Reza melangkah pergi.

Setelah kepergian Reza, Ulfa baru bisa menarik nafas lega.
“hm, kak David, makasih bangat udah mau bantu aku tadi, permisi kak” berbalik untuk pergi, tapi tidak jadi dan kembali menghadap David.
“satu lagi kak, akting kakak sangat bagus, sekali lagi makasih ya kak?” melangkah pergi.
“siapa nama kamu?” tanya David yang membuat Ulfa kembali menghadapnya.
“untuk apa namaku?”
“kenapa? Apa aku gak boleh mengenalmu?”
“hari ini kita bertemu tidak sengaja, mungkin besok kita udah saling tidak mengenal lagi jika bertemu, jadi namaku gak penting” terseyum dan berbalik pergi.
“jangan datang dan pergi sesuka hatimu, itu tidak baik” ucap David yang membuat langkah Ulfa terhenti.

Tutttttt… tutttttt… tutttttt…
Ulfa meraih ponselnya yang ada di atas nakas, dengan mata masih terpejam.
“hallo, siapa ya” tanyanya yang tidak melihat siapa yang menelepon.
“siapa-siapa? kamu masih tidur?” tanya seseorang di seberang sana dengan nada tinggi.
“hah?” terduduk dengan mata terbuka lebar melihat siapa yang menelepon.
“hehe, ada apa kak?” tanya Ulfa polos.
“ada apa kamu tanya? Kamu mau masuk kuliah jam berapa hah?”
“hah kak, gak usah pake teriak-teriak kan bisa, lagian kan baru jam 09.00” melihat jam weker di nakasnya.
“ya jam 9, trus kamu ngebut dijalankan, ngejar waktu?” sindir di seberang sana.
“aku tunggu sebelum 30 menit terakhir pukul 9.00, kamu sudah ada di kampus” tambahnya.
“ya, ya baik daddy” memutuskan sambungan.

Ulfa menatap layar ponselnya yang sejenak menampilkan nama “My David”, si ketua BEM yang terkenal menghormati waktu ini sudah tiga bulan mengisi hari-harinya. Ulfa tersenyum mengingat perkenalan pertama mereka dulu.
“jangan datang dan pergi sesuka hatimu, itu tidak baik” ucap David yang membuat langkah Ulfa terhenti.

Flash back
Dengan melipat tangannya, berhadapan dengan David, Ulfa berkata.
“aku rasa tadi kita tidak sengaja bertemu”
“hm, apa pengakuan aku pacarmu juga tidak disengaja?” sindir David.
“kalau itu terpaksa”
“berarti kau harus membayar akibat keterpaksaan itu”
“apa yang harus kulakukan?”
“siapa namamu?”
“Ulfa, selesai kan?” jengkel.
“Nomor kamu”
“hah?” bengong.
“telingamu gak bermasalah kan?”
“heh kak, aku harap kak David tidak terkenal pelet juga, kak David lihat aku, udah item manis lagi, terus pendek, mungil lagi, kak David serius ingin Nomor ku?” cerocos Ulfa gak jelas yang membuat David tersenyum kecil.
“ya”
“hah, ya? Kurasa mata kakak harus benar-benar mendapat perawatan deh” saran Ulfa seraya mengambil ponsel di tangan David dan memasukkan Nomornya.
“itu Nomorku” mengembalikannya.

Ulfa tak sengaja melihat jam tangannya David. Tanpa diperintah ditariknya tangan David untuk melihat sudah jam berapa.
“hey”
“mampus gue” memukul jidatnya pelan, tanpa pamitan Ulfa langsung meluncur ruangan MK sekarang.

Flash on

Di kampus, di depan ruangan Ulfa, David mondar mandir menunggu Ulfa yang tak datang. Padahal waktu sudah satu jam lewat. Pak Bima juga akan masuk sepuluh menit lagi. Saat David mencoba menghubunginya tapi tak ada jawaban dari Ulfa.
“hei david, lo pergi ke acara pameran seni kan?” tanya seorang temannya.
“oh, ya tentu” jawab David normal menyembunyikan kekhawatirannya.

Setelah beberapa kali menghubungi Ulfa tapi tidak diangkat, akhirnya Ulfa balas menelepon.
“halo, kamu dimana? Kenapa gak di angkat aku telepon?” tanya David dengan notasi marah, tapi omelannya terhenti saat mendengar sahutan dari seberang sana bukan Ulfa.
“maaf, ini siapa?”
“…”
“apa? Kecelakaan?”
“…”
“di mana?”
“…”
“baik saya akan segera ke sana” menutup sambungan dan berlari ke parkiran.

Dua puluh menit, David sudah sampai di rumah sakit. David langsung berlari ke ruang ICU tempat Ulfa berada setelah menanyakan pada suster di situ. Sampai di ruang ICU, langkah David melambat melihat tubuh mungil Ulfa yang dipasangkan alat-alat penunjang kehidupan. Suara monitor yang menyakitkan bagi David saat mendengarnya, ditambah saat melihat wajah pucat Ulfa yang tak sadarkan diri.

“hai” sapa David berat, tapi tidak ada jawaban dari Ulfa. David terus menatap wajah Ulfa, wajah yang biasanya selalu ceria, wajah yang membuatnya tenang, tapi sekarang diam tak berkata. Ulfa perlahan membuka matanya, melihat sosok David di sampingnya membuatnya tersenyum kecil.
“kak David?” panggilnya lirih.
“ulfa, kamu udah sadar?”
“kak?”
“ya, kamu ingin apa? Aku pangil doktor dulu”
“tidak kak, aku, minta maaf kak?”
“udah jangan pikirkan itu-“
“aku, sayang, kak David” ucap Ulfa kembali memejamkan matanya.

Hancur sudah pertahanan David, air matanya mengalir begitu saja saat mendengar kata-kata lirih Ulfa. Perlahan dikecupnya kening Ulfa, kecupan yang lama hingga membuat Ulfa tersenyum kecil. Tidak lama keluarga Ulfa pun datang, diperhatikannya satu persatu wajah keluarganya dan yang terakhir David orang yang baru beberapa bulan mengisi hidupnya. Perlahan mata Ulfa kembali tertutup yang diiringi suara nyaring dari monitor yang menunjukkan garis lurus.

David menatap kotak kecil persegi empat yang berisi sebuah cincin. Cincin yang akan digunakannya untuk melamarnya di acara pembukaan pameran seni yang diadakan oleh universitas mereka.

Perlahan David melangkah ke tempat pemakaman yang sudah dhadiri oleh banyak orang dan juga kawan Ulfa sendiri. Dengan air mata yang mengalir, dan tatapan lurus pada orang-orang di depannya, memorinya kembali berputar pada pertemuan pertama dengan Ulfa.

Ulfa tak sengaja melihat jam tangannya David. Tanpa di perintah di tariknya tangan David untuk melihat sudah jam berapa.
“hey”
“mampus gue” memegang dahinya, tanpa pamitan Ulfa langsung meluncur ruangan MK sekarang.

Saat Ulfa mengerjainya yang katanya baru bangun tidur.
“Ulfa kamu dimana?” tanya David marah.
“ha siapa?” ala orang tidur.
“kamu masih tidur”
“kak David? Oh tidak kak, aku sudah bangun”
“aku tunggu tiga puluh menit sudah ada di kampus” mematikan telepon tanpa menunggu balasan.

Baru beberapa menit mematikan telepon, seseorang datang dari belakangnya dan memberi kode pada teman-teman David untuk diam dan menutup mata David.
“hayo siapa?”
“Ulfa?” menggeram kesal karena dikerjai dengan menarik tangan Ulfa yang menutup matanya.
Ulfa memasang wajah cemberut dan langsung meninggalkan David untuk bergabung dengan teman David. Tanpa ulfa sadari David tersenyum dengan tingkah Ulfa.

Dan saat Ulfa berjanji akan datang ke acara pameran seni.
“Ulfa?”
“hm?”
“besok kamu datang kan ke acara pamerannya?”
“tentu, buat kak David apa yang enggak sih”
“lebay kamu ini” ucap David mendengar tawaan kawannya karena kata-kata Ulfa.

David sampai di depan makamnya Ulfa. Air matanya kembali meluruh melihat batu nisan yang bertuliskan nama Ulfa Alviena.
“kenapa? Kenapa saat aku ingin melakukannya, kamu pergi? Aku ingin kita selalu bersama” batin David memilukan.

David terus menatap batu nisan ulfa, sampai satu persatu langkah pergi meninggalkan pemakaman. Dihapusnya air mata di pipinya, David berlutut di samping Ulfa dan berkata.
“terima kasih, Ulfa”
“a-aku, mencintaimu” menahan tangisannya. Kemudian David berdiri dan melangkah meninggalkan pemakaman dangan hatinya yang hancur.

The End

Cerpen Cinta – Kau tahu segalanya

Sore ini aku masih disibukkan dengan kegiatan rutinku yaitu menatap layar komputer dari matahari belum terkembang sempurna sampai hampir menghilang di ufuk. Tetapi syukurlah ini hari Sabtu jadinya kantorku akan tutup pukul 3 sore. Kulirik arlojiku sekarang jam dua lebih empat puluh menit. Wah tidak lama lagi pulang pikirku.

Dering ponsel menghentikan keasyikanku. Sebuah pesan kuketahui itu dari nadanya. Dengan malas aku meraih ponselku kudapati nama Reno di sana. Rasanya mata yang sudah lowbat ini seperti terisi penuh hanya dengan melihat namanya saja dan tanpa kuperintah sebuah lengkungan dari telinga ke telinga terukir di wajahku. Entah sejak kapan aku begitu bahagia saat Reno menelepon ataupun sekedar mengsmsku. Entahlah mungkin sejak kuliah. Tidak penting! Baiklah akan kuceritakan sedikit tentang Reno, begini ceritanya.

Flashback on
Aku sudah hampir terlambat masuk kuliah, apalagi dosen hari ini adalah Ibu Getha yang sangat cerewet dan pemarah. Tanpa memperhatikan sekeliling aku berjalan dengan cepat setengah berlari tepatnya.

“BUKK…” ups aku menabrak seseorang. “Maaf,” ujarku dengan cepat sembari membereskan buku-bukuku yang berserakan di lantai.
“Iya, gak apa-apa kok,” ucap pria itu dengan ramah dan membantuku merapikan buku-bukuku. “Lagian ini salahku juga, gak perhatikan jalan asyik liatin hp terus,”
“Maaf ya. Maaf banget,”
“Udahlah kenalin aku Reno,” ucapnya sambil menjabat tanganku.
“Nova,” kemudian aku langsung meninggalkan reno karena tak lama lagi dosen itu akan datang.
Flashback off

Iya, sejak itulah kami menjadi teman akrab walaupun kami beda jurusan kuliah. Aku bisa membagi semua hal pada Reno dan diapun seperti itu. Bisa dibilang Reno hampir tahu segala hal tentangku, hampir semuanya. Kecuali siapa diriku di sisi yang lain. Lupakan semua itu, aku bahkan belum membaca sms darinya.

“Sayang, nanti kita ketemu di Cafe Chocolate sepulang kerja. Aku gak terima jawaban tidak,” gumamku membaca pesan itu sambil terus tersenyum. Secara otomatis tanganku mengetikkan kata “Oke,” di layar ponselku dengan senyum yang terus mengembang.
Tunggu dulu, sayang? Sejak kapan Reno menyebutku sayang? Apa mungkin dia salah kirim?
“Sip Nova, aku tunggu yah,” itu yang tertulis di ponseku sekarang sebagai balasan pesanku tadi.
“Berarti Reno gak salah kirim. Ah biasa aja kali Reni memang begitu dari dulu susuah ditebak,” batinku sambil melangkahkan kaki keluar dari ruang tempatku bekerja karena jam pulang sudah datang.

Aku sudah berdiri di depan tempat itu. Halaman depannya sepi, aku jadi apa cafe ini buka atau tidak. Kulangkahkan saja kaiku ke dalam cafe dengan dekorasi bernuansa cokelat sesuai dengan namanya. Baru kali ini aku mampir kemari, maklum bagiku berkumpul-kumpul tanpa tujuan yang jelas itu tidak berguna. Mataku menyapu setiap jengkal ruangan cafe. Tidak ada pengunjung lain selain aku dan Reno yang sedang duduk dengan manis di meja yang terletak di sudut ruangan.

“Hai Nov,” katanya begitu ramah diiringi senyumannya yang khas.
“Hai,” kataku sambil menjabat tangannya yang kekar seperti kepribadiannya yang kuat dan cara berdirinya yang tegap.
“Udah lama Ren nunggunya?”
“Lama pake banget,”
Aku jadi manyun mendengar hal itu
“Gak juga kok. Duduk Nov jangan berdiri mulu,”
Aku duduk tepat di hadapannya yang terus menatapku dengan tatapan yang tak bisa kuartikan dengan tepat.

Tak lama datanglah seorang pramusaji.
“Kopi hitam,” ucapku tanpa berbasa-basi lebih dulu.
“kopi hitam?” Reno menatapku tak percaya. “Jangan seperti ini Nova Diandra, kamu gak suka kopi hitam ngapain pesan kopi hitam?”
“Gak apa-apa kali, aku lagi mau nyoba siapa tahu aku sekarang suka,”
“Gak gak, Mas esspressonya 2,” pramusaji itu pun pergi setelah mencatat pesanan kami.
Tak lama pramusaji itu kembali dengan dua cagkir esspresso.

“Sudah lama ya kita gak ketemu Nov,”
“Iya juga ya. Aku aja sampe lupa kapan kita terkhir ketemu,”
Kami terus mengobrol dengan obrolan ringan layaknya teman lama yang saling merindukan kabar masing-masing.

“Mana pacarmu? Kamu gak mau kenalin aku sama dia?” pertanyaan Reno ini membuatku tercekat. “Apa kamu gak mengenalku dengan baik Reno?” batinku.
Aku terdiam sesaat. Kututupi kebungkamanku dengan tawa terbahak yang kubuat-buat.
“Kok kamu malah ketawa sih?”
“Mana ada sih cowok yang mau sama aku. Perempuan sederhana dan tradisional,” kataku setelah tawa palsuku terhenti.
“Gimana kalo ada,”
“iya berarti orang itu harus pergi ke psikiater deh,”
“berarti aku harus pergi ke psikiater dong?” ia terdiam sesaat. “Aku suka kamu Nov,”
Aku tertawa mendengar pernyataan Reno barusan lelucon yang tidak lucu sama sekali. “Jangan becanda seperti ini Reno”.

Reno pindah tempat duduk ke kursi di sebelahku dan kemudian menggenggam tangan kananku.
“Aku gak becanda Nov,” kulihat sebah kejujuran di matanya.
“Kamu gak tahu segalanya tentang aku. Dan kamu itu cowok paling keren di kampus selama kita kuliah dan bahkan sampe sekarang. Kamu gak sepantasnya denganku dalam artian yang lebih dari sahabat,”
“Jangan bilang begitu Allyssa Han,”
Aku terbelalak. Ia tadi menyebutku dengan nama itu. Identitas yang selama ini aku tutupi dengan sempurna.
“Aku tahu kamu itu Allyssa Han. Model yang kalo diliat namnya keturunan Tionghoa tapi sebenarnya orang Indonesia tulen,”
Aku terkekeh mendengar kalimat yang meluncur dari mulutnya. “Jangan ngaco kamu Reno,”
“Allyssa Han, model yang semua akun sosmednya punya bejibun followers yang selalu diupdate olehnya. Kamu pasti tahu Allyssa Han ngaku kalo dia kuliah di kampus kita, tapi kita bahkan gak pernah tahu prodi dan angkatan mana dia itu sebenarnya ‘kan? Ditambah lagi setiap ada berita tentang Allyssa Han di mading kamu selalu kabur dan terlihat malu-malu,”
“Itu semua gak membuktikan apapun Ren. Aku ini hanya seorang Novanda Diandra seorang akuntan yang sangat sibuk dengan sederetan angka. Perempuan yang angat tradisional dengan bentuk tubuh yang sama sekali tidak mirip dengan Allyssa Han,”
“Aku tahu segalanya tentang kamu Nov. Kamu jadi model itu kalo hari Sabtu sama Minggu atau waktu libur kuliah dan sampe sekarangpun kamu masih jadi model. Semua orang bisa mengira kalo Allyssa Han itu cewek tinggi semampai dengan rambut cokelat dan wajah Chinese. Tapi sebenarnya gak seperti itu, itu kan cuma foto. Kamu gak sesederhana itu Nov,”
“Jadi kamu suka aku karena aku Allyssa Han? Dan kamu juga selalu memata-matai aku tanpa aku ketahui seperti paparazzi,”
“tentu aja gak Nov, aku suka kamu siapapun kamu. Untuk soal mata-mata mungkin kamu gak sepenuhnya salah,” kata Reno yang diakhiri dengan cengiran darinya.

Aku memutar bola mataku dengan malas. “tapi tetap aja Ren, aku gak ada hubungannya sam Allyssa si model itu,”
Reno bangkit dari tempat duduknya dan dengan tiba-tiba ia menrik paksa rambut hitamku sampai wig itu terlepas dari tempatnya.
“Kamu itu Allyssa Han, inilah buktinya. Rambutmu kamu warnain cokelat terang sama seperti Allyssa Han,” ia kembali duduk di sampingku sambil mengelus rambutku dengan lembut. “mata dan wajahmu memang oriental seperti Chinese. Tapi bagiku kamu tetap Novaku,” Reno merangkulku dan merebahkan kepalanya di bahuku.

Aku hanya bisa terdiam dengan reaksi Reno yang seperti ini. Aku juga tidak mengerti dengan semua yang terjadi hari ini. “Baik, kuakui aku ini Allyssa Han si model keturunan Tionghoa. Tapi sekarang gimana?”
“apa maksudmu yang gimana? Ya kamu tinggal tunggu aku datang ke rumahmu sama orangtuaku buat ngelamar kamu. Gampang ‘kan?” katanya masih asyik menggenggam tanganku. Tampak sekali ia belum mengerti dengan arah pembicaraanku. Ia masih seperti dulu, tidak pernah memperhatikan keadaan sekitar.

“Lihat sekitar kita. Sekarang cafe ini sudah penuh dan mereka semua memandangi kita dengan tatapan aneh,” aku menggoyangkan bahunya sampai-sampai minumannya hampir tumpah karena ulahku.
“Memangnya kenapa?” Reno masi santai dan justru asyik dengan essprssonya.
“aku ini Allyssa Han tahu! Ayo kita pulang,” kataku sambil menarik tangannya untuk segera keluar dari cafe itu sebelum kami tidak bisa kemanapun karena orang-orang yang melihatku seperti ini semakin banyak.

The end

  Cerpen Persahabatan

Cerpen Cinta – Senja Terindah

Iron itulah nama panggilanku di sekolah, aku sendiri merasa tidak terlalu pintar dan tidak bodoh juga, aku bersekolah di Smk negeri di jogja.
Pertemuanku dengan dia memang saat pendaftaran murid baru di sekolah kami, dan mulai saat itu aku tak bisa melihat cewek lain yang secantik dia, saat itu aku berharap dia dan aku bisa satu kelas nantinya saat sudah diterima menjadi murid baru, oh tuhan kau mengabulkan permintaanku untuk sekelas dengan dia.

Setelah kita mulai tahun ajaran baru saat yang kutunggu yaitu saat perkenalan, benar juga ibu guru menyuruh kita untuk maju dan berkenalan, satu persatu murid pun maju untuk mengenalkan dirinya, dan pada saat giliran dia aku tak berhenti untuk memandang wajah yang dihiasi senyum malu-malunya sangat manis dan membuatku seperti melayang saja, dan setelah dia berkenalan dan ternyata namanya Erin Pramesti nama itu susunannya hampir seperti namaku aku pun berkhayal mungkin aku bisa jodoh dengan Erin.

Sejak saat itu aku mencoba untuk selalu dekat dengan dirinya mulai sekedar bertanya tentang pelajaran ataupun tentang dirinya, aku rasa dia juga merasakan kalau aku ingin selalu dekat dengan dirinya, setelah aku merasa kalau aku sudah bisa mendekati dirinya dia pun sudah menganggapku seperti teman perempuannya sendiri.

Setelah lama berlalu aku mulai menunjukkan perasaanku yang sebenarnya terhadap Erin, untuk awalnya aku sedikit ragu untuk mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya kepada dirinya.
Tapi aku masih takut untuk mengungkapkan perasaanku, aku khawatir kalau Erin malah bisa menjauhiku, padahal aku sudah nyaman dengan seperti ini, walaupun tidak ada hubungan kasih tapi aku sudah cukup merasa nyaman bila ada didekatnya, dan aku takut hal ini hilang karena aku mengungkapkan perasaan yang sebenarnya.

Hari hari di sekolah akhir akhir ini aku lebih memilih untuk menyendiri dulu, sampai sampai teman sebangku bilang, “lu kesambet ya ron, apa lagi patah hati?”, katanya sambil tertawa puas mengejekku, untuk saat ini aku masih menyendiri memikirkan perasaan yang ingin kusampaikan ini, di satu sisi aku sudah nyaman bisa selalu ada di dekat Erin, di sisi lain aku tak sanggup melihat bila Erin menjalin hubungan pacaran dengan orang lain.

Sampai akhirnya Erin menghampiriku saat aku berada di dalam kelas dan dia mengatakan “kamu ngapain ron diem aja di kelas?, sendirian lagi” aku menjawab dengan agak gugup “gak papa rin aku lagi ga enak badan aja” Erin pun mencetus “gak enak badan apa galau?, ayo temenin aku makan di kantin” aku pun hanya bisa mengiyakan saja.

Perjalanan di kantin Erin pun malah ngerjain aku “eh ngapain sih kamu diem aja ron?, galau mikirin cewek ya, emang siapa ceweknya?” Aku pun menjawab “engga kok, aku lagi gak enak badan aja”, walaupun dalam hati aku menjawab aku sedang memikirkan dirinya.

Setelah sampai di kantin dia langsung pesan makanan yang memang dia sudah tau makanan kesukaanku di kantin.
Erin pun menayakan “yang biasanya kan ron?” aku menjawab “iya rin kamu kan dah sering makan sama aku di sini!” Erin hanya membalas “Oke iron yang jelek”, sambil melet ke arahku.

Setelah selesai makan aku mengobrol sebentar dengan Erin, niatku ingin mengajaknya menikmati senja di dermaga. “Rin nanti sore kamu ada acara gak?”, “Engga, emangnya kenapa ron?”, “nanti sore aku mau ke dermaga, kamu aku ajak mau gak?”, “mau lah ron, udah lama kita gak menikmati senja di dermaga itu”, oke kalau begitu nanti sore jemput kamu di rumah ya?” Erin pun menjawab “Siap Iron!” dengan sikapnya yang manja itu yang membuatku semakin jatuh hati kepadanya.
Setelah kita selesai makan, Aku dan Erin kembali ke kelas.

Jam pun sudah menunjukkan pukul 2 Siang, di dalam hati aku bergumam “kok belum bunyi juga bell pulangnnya?”.
Akhirnya bel berbunyi pukul 2 lebih 10 menit, semua murid segera berkemas. Sebelum pulang aku menghampiri Erin dan mengingatkannya “Nanti sore jangan lupa ya Rin!”, dia hanya menjawab “Heem Iron, aku inget kok” dengan wajah dihiasi senyum manisnya.

Dan tiba-tiba dari belakang ada yang bicara “ayo Ron cepetan dah laper nih perut gua”. Oh ternyata dia Haekal, Haekal adalah temenku dari kecil, jadi kalau kami berangkat dan pulang sekolah selalu barengan. Aku pun menjawab “Oh iya kal sampe lupa aku, aku pun say goodbay sam Erin “aku pulang duluan ya Rin, jangan lupa nanti sore!”, “iya ron ati-ati ya!”.

Sesampainya di rumah aku masih bingung, apakah aku nanti berani mengungkapkan perasaanku ini, namun setelah aku pikir-pikir lagi aku harus berani mengungkapkan perasaanku ke Erin.
Kemudian aku segera mandi dan bersiap-siap untuk menjemput Erin di rumahnya.

Perjalan ke rumah Erin tidak terlalu jauh jika naik motor 10-15 menit sudah sampai, setelah sampai di rumah Erin langsung mengetuk pintu rumah “dok.. dok.. dokk… Asallamualaikkum” “Waallaikumsallam” sahut dari dalam dan segera membukakan pintu, ternyata itu kak Arline, kak Arline adalah kakak kandung dari Erin yang sudah kuanggap seperti kakakku sendiri, “Eh Iron, cari Erin ya?”, “iya kak” “masuk dulu gih tak panggilin Erin dulu”, “iya kak, Iron tunggu di luar aja”, “oh ya udah tak panggilin dulu ya”.

Tidak sampai sepuluh menit Erin sudah keluar dan berkata “lama ya ron yang nunggu?, maaf ya”, “gapapa kok Rin kalau nunggu kamu sampe besok juga gapapa”, celotehku sambil tertawa. Erin hanya menatapku dengan senyuman manisnya, “oh iya pamit dulu sama kakakmu”, erin pun berteriak “kak aku sama Iron pamit dulu ya”, “iya, ati-ati ya Erin, Iron”.

Dan aku pun segera menghidupkan sepeda motorku dan langsung tancap gas menuju ke dermaga.
Perjalanan ke dermaga memang cukup jauh mungkin butuh waktu 1 jam jika menggunakan sepeda motor.
Saat di tengah perjalanan Erin mengajak untuk mampir sebentar ke sebuah minimarket.
“Ron di depan ada minimarket nanti mampir dulu ya, mau beli minum sama camilan” aku jawab “Siap Boss”.
Setelah selesai membeli minum dan camilan kita langsung meneruskan perjalanan.

Tak terasa kita sudah hampir sampai di dermaga. “Rin kita dah mau nyampe nih” erin hanya menjawab “oke”.
Setelah sampai di dermaga kita langsung menuju tempat biasa untuk menikmati jingganya langit di kala matahari akan berganti dengan bulan. Dan saat itu aku mulai membuka pembicaraan, “Rin, udah lama ya kita gak liat sunset bareng di dermaga”, “Iya Ron aku juga udah kangen banget sama momen momen ini”, “Oh iya Rin aku mau curhat boleh ga?”, “boleh aja, emang curhat masalah apaaan?, masalah cewek ya?”, “kamu tau aja Rin”, “iyalah memang masalah apalagi, dari kemaren aja aku liat kamu galau terus”.

“Gini rin aku kan suka sama cewek tapi aku takut untuk mengungkapkannya”, “emang takut kenapa, takut ditolak ya?”, dia malah menggodaku terus, “engga lah, aku takut kalo dia malah jauhin aku, aku udah nyaman bisa selalu dekat dengan dia walaupun hanya sebatas sahabat saja”, “memang orangnya gimana ron?”, “dia itu cantik, baik dan bagiku dia adalah cewek yang aku sukai sejak kita masuk ke smk, aku selalu teringat dengan senyum manisnya dan sikapnya yang manja”, “kenapa engga coba kamu ungkapin aja perassaan itu”, “tadi kan aku dah bilang aku takut kalo dia malah ngejauhin aku”, “kalo gak dicoba mana bisa tahu Ron”. “Tapi”, ” jangan tapi-tapian ron nanti dia keburu sama orang lain”, “iya juga ya, aku sudah nyaman ada di dekatnya tapi kalau dia sama orang lain nanti aku juga sakit hati”, “nah gitu dong, emangnya orangnya siapa ron?”, “orangnya itu cantik, baik, dan senyumannya itu selalu ada dalam pikiranku, orangnya sejarang juga sedang menikmati sunset dan memandangi langit yang mulai gelap, orang itu sekarang ada di dekatku, di sisiku, dan sedang”, tiba-tiba erin memutus perkataanku “Iron!!”, dia menyebut namaku dengan pandangan yang agak malu malu, dan akupun meneruskan perkataanku “Iya Rin Sebenarnya aku sudah memendam rasaku ini sejak pertama kita bertemu, aku mau mengungkapkannya tapi aku takut kalau kamu malah menjauhiku, aku sudah nyaman bisa selalu ada di dekatku, dan aku juga selalu bisa melindungimu, sekarang aku tinggal menunggu jawabanmu saja Rin, apakah kamu mau menerima perasaanku ini, tapi jika tidak aku mohon kamu jangan menjauhiku”.

Dan Erin menjawab dengan wajah yang malu malu, “Iya ron sebenarnya aku juga sudah suka sama kamu sejak kita pertama bertemu, aku kira kamu malah tidak menyimpan perasaan kepadaku, tadinya aku berharap aku bisa menjadi orang yang selalu ada di belakangmu yang selalu menyemangatimu dalam susah dan senang”, Aku memotong obrolan “Tapi Kenapa kamu tadi?”, belum selesai bertanya erin pun malah langsung menjawab “Iya ron tadi aku bicara seperti itu untuk menutupi rasa cemburuku ini, saat kau bilang kamu lagi deket sama perempuan lain itu, hatiku seperti dihujani duri, walaupun begitu aku tidak akan pernah lupa akan saat saat ini, berarti kamu juga sudah tahu jawaban dariku kan ron?”, dengan tatapan teduhnya yang tertetes sedikit air mata yang membuatku langsung menggenggam tangannya, tangan yang lebih lembut dari desir pasir yang kupijak dan aku berkata “kita akan selalu seperti ini, selalu bersama, percayalah aku tidak akan pernah melukai perasaanmu yang selembut benang sutra, aku berjanji aku akan selalu bersamamu, untuk melindungimu di dalam kebahagiaaan ataupun dalam jurang kesedihan, karena tawamu itu senangku dan sedihmu itu tangisku, jadi kamu tidak perlu khawatir kalau aku akan meninggalkanmu.
Dan Erin hanya bisa menangis tapi aku yakin itu adalah air mata kebahagiaan, aku pun langsung memeluk erat tubuhnya dan seakan akan aku tidak ingin melepaskannya.

Dan saat saat itulah menjadi Senja terindah yang pernah aku alami dalam sepanjang hidupku.

SELESAI

Cerpen Cinta – Tak Terlihat

“Halo, namaku Tony, saat ini aku berumur 29 tahun, dan aku bekerja di salah satu Perusahaan swasta, aku menghabiskan keseharian waktuku dengan bekerja, bekerja dan bekerja, oh iya dan aku tidak terlihat”

Hari ini, sama seperti hari sebelumnya, dan hari-hari sebelumnya. Matahari tetap terbit dari mana dia biasa terbit. Burung-burung berkicau ribut seolah ingin memberi tahu pada dunia jika hari ini sudah pagi. Para kawanan tupai pun tak mau kalah, mereka berlari dengan sangat kencang dari satu pohon ke pohon lainnya. Mulai terdengar suara kendaraan orang lalu-lalang dan para tetangga sibuk melakukan kegiatannya.

Seketika aku terjaga dari tidurku, tidur yang tidak begitu nyenyak sebenarnya. Aku merasa seperti di atas awan, mengambang dan tak tahu arah. Aku duduk sebentar di pinggiran kasur, termenung melihat ke lantai. Lalu aku berjalan ke arah cermin. Seketika aku melihat sosok orang dengan rambut yang kusut, kantung mata yang hitam dengan mata yang masih memerah.
“Ya tuhan, siapa orang menyedihkan ini?”

Aku memandang sekeliling kamarku. Berantakan seperti medan perang seolah ada dua negara yang sedang merebutkan sebuah pulau. Banyak barang yang tidak pada tempatnya. Botol minuman soda yang berserakan di lantai, padahal tempat sampah hanya berjarak selangkah kaki darinya. Meja kerja yang dipenuhi kertas-kertas, dengan lampu meja yang masih menyala. Baju kotor tertimbun seperti gunung.
“Kenapa masih kotor? Bukannya kemarin aku sudah mencucinya?”
Sepatu yang tidak pada raknya dan kaus kaki yang tercecer di bawah meja kerjaku. Baju yang kemarin hanya kupakai sekali lalu kugantung dan tidak pernah kupakai lagi. Kamarku benar-benar seperti gudang. Atau gudang yang seperti kamar? Oh! Aku tidak bisa membedakannya.

Aku membuka tirai jendela dan melihat ke arah luar. Benar saja, hari sudah sangat pagi. Matahari sudah tinggi. Burung-burung tak lagi berkicau, karena mereka sudah terbang ke segala penjuru arah mencari makan. Dan tupai yang awalnya berlari, sekarang duduk rapi menikmati pepaya yang tadi mereka curi dari kebun tetangga sebagai sarapan paginya. Aku terpaku ke arah jalan. Masih banyak orang yang lewat, berjalan cepat seolah dikejar sesuatu yang tak kasat mata.
“Apa yang mereka lakukan? Bukannya sekarang hari Minggu? Seharusnya mereka berada di rumah, menghabiskan waktunya dengan keluarga, bukan malah berkeliaran tidak jelas seperti itu”

Sepertinya nyawaku sudah kembali ke badan. Aku memutuskan untuk merapikan ruangan ini. Tidak ada salahnya, karena sekarang hari libur kerjaku dan aku tidak punya kegiatan lain. Tapi seketika aku bingung dari mana aku harus memulai.
Setelah berpikir panjang, aku pun mulai dengan merapikan meja kerjaku. Aku menyusun kertas yang awalnya berserakan menjadi satu tumpuk dan meletakkannya ke dalam laci. Lampu meja yang awalnya menyala kini sudah mati. Lalu aku berpindah ke rak sepatu, dan mulai menyusunnya. Kaus kaki yang berceceran tadi kini sudah berada pada tempatnya. Kaleng minuman soda juga sudah berada di tempat harusnya dia berada. Tersisa gunungan baju kotorku. Aku bingung apa yang harus aku lakukan padanya. Aku malas jika harus mencucinya, karena sudah terlalu banyak. Aku lalu memasukkanya ke dalam tas dan memutuskan untuk membawanya ke tempat laundry.

Aku mengayuh sepedaku dengan tas penuh baju kotor yang kusandang. Aku termaksud orang yang cinta lingkungan, maka dari itu aku memakai sepeda kemanapun selagi tempatnya dekat. Kebetulan tempat laundry juga tidak terlalu jauh.
Satu tugas telah selesai. Baru aku keluar dari tempat loundry dan memutuskan untuk menghabiskan sisa akhir pekanku dengan menonton film yang semalam aku download menggunakan wifi di kantor, tapi tiba-tiba handphoneku berbunyi. Ah! Pesan dari seseorang dan layar hp menunjukkan nama Bapak Susano.
“Tolong segera ke kantor, ada kerjaan yang harus diselesaikan”
Pesan yang begitu singkat, padat dan memerintah. Seolah itu adalah vonis mati yang tidak bisa dilawan lagi. Seolah kata “tolong” adalah pemanis belaka.
“Lembur kah? Perasaan semua laporan sudah kukerjakan kemarin.”
Kerjaan apa lagi? Hatiku menggerutu. Semua laporan sudah kukerjakan. Karena aku tidak mau akhir pekanku terganggu dengan kerjaan yang masih menumpuk. Tapi sepertinya kerjaanku belum cukup banyak.

Aku bergegas pulang ke rumah, mandi dan mengganti pakaian lalu berangkat ke kantor. Aku mengayuh sepedaku dengan sangat pelan, berharap membutuhkan waktu seharian untuk sampai ke kantor. Aku bahkan tidak peduli dengan kata “segera” yang tertera pada pesan si tukang memerintah tadi. Aku terus mengayuh pelan sebagai tindakan pemberontakan. Tapi memang jarak antara rumah dan kantorku begitu dekat. Tidak membutuhkan waktu 10 menit, aku pun tiba di kantor.
Sepertinya bukan cuma aku saja yang akhir pekannya diganggu. Banyak orang yang lembur, dengan berbagai mimik muka yang mengungkapkan kekesalan karena waktu mereka yang berharga diganggu oleh si tukang memerintah tadi.

Aku bergegas ke arah mejaku. Melewati sekumpulan orang yang sedang asik mengobrol tentang pertandingan sepak bola semalam. Mereka tidak memperhatikanku. Tak ada orang yang melihat kedatanganku, sebagian sibuk dengan komputer masing-masing. Aku melihat mas surya, orang yang berada di sebelah mejaku. Seorang pria dengan baju kaos rapi, rambut yang klimis, celana jeans dan sepatu sneakers. Dengan ekspresi muka kusut, alis yang saling bertautan, lidah yang digigit, mengungkapkan kekesalan. Pastilah dia sedang berada di pusat perbelanjaan dengan keluarganya saat si tukang memerintah tadi memanggilnya.

Aku melihat secangkir kopi di mejaku. Aku terpaku sekian detik, karena sebelumnya ini tidak pernah terjadi, tidak ada orang yang pernah memberikan kopi padaku, karena memang kantor kami tidak mempunyai office boy. Jika kau ingin kopi? Maka kau harus membuatnya sendiri.
Apa ada orang yang iseng atau sengaja? Atau mungkin dia salah meletakkan? Dia mungkin mengira jika meja ini adalah mejanya. Aku melihat sekeliling, tidak ada yang aneh. Tidak ada juga orang yang merasa kehilangan kopinya. Aku melihat ke arah kopi ini dengan pandangan menilai, seolah-olah kopi ini melakukan suatu kejahatan yang tidak bisa diampuni.
“Apa ini beracun?”
Hatiku membatin, aku tidak tahu harus ku apakan kopi ini, aku tidak menyangka perihal secangkir kopi bisa membuat hatiku tak karuan.

“Tony, apa yang kau lakukan?”
Seseorang dengan nada memerintah tiba-tiba saja sudah berada di sampingku.
“Eh, anu pak, ini… tidak apa-apa, apa yang bisa saya lakukan pak?” Ucapku tanpa sadar
“Kau harus menyelesaikan laporan ini sekarang, besok saya harus meeting dengan para direksi, apa kau bisa melakukannya?” Sambil memberikanku kertas dengan judul “laporan akhir bulan”
“Tentu saja pak, saya akan menyelesaikannya sebelum sore ini” kataku dengan nada yang dimanis-maniskan.
“Baiklah, aku percaya padamu, jika sudah selesai kau letakkan saja di mejaku, aku harus pergi, ada undangan yang harus kuhadiri.” Dia berkata sambil berlalu.
Dasar tua bangka egois. Dia menggangu waktu berhargaku untuk mengerjakan laporan sampah ini, sedangkan dia pergi bersenang-senang.

“Pak, anu… hm, kopi ini? Apa bapak yang membuatnya? Atau bagaimana? Tanpa kusadari kata itu terucap begitu saja tanpa peringatan.
“Kopi? Kopi apa? Saya tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Sudah dulu, saya harus bergegas, istri dan anak saya sudah menunggu.”
Aku menanyakannya mungkin bisa saja dia membuatkan kopi untukku, karena merasa bersalah sudah mengganggu waktuku, tapi aku juga sadar kalau pertanyaan itu tidak berguna, karena tidak ada meja dengan kopi di sekitarku, hanya mejaku saja, apa yang membuatku istimewa, sehingga harus mendapatkan secangkir kopi misterius ini?

Seketika aku sudah disibukkan dengan laporan ini, aku terus mengetik di keyboard komputerku dan sesekali pandanganku tertuju pada kopi misterius ini. Saat aku melihatnya.
Seketika pandanganku tertuju ke arah lain. Sesuatu yang lebih menarik perhatianku dari pada kopi misterius di sampingku. Bahkan pemandangan kali ini lebih misterius dari pada kopi itu sendiri. Dia berjalan ke arahku tapi aku tahu tujuannya pasti bukan ke mejaku. Dia terus berjalan dengan anggun, seolah ada yang menekan tombol slow motion, dia berjalan dengan gerakan santai, lamban tapi tetap berkelas. Tiba-tiba dia berhenti tepat di depanku, hatiku mencelos, aku seperti berubah menjadi patung, tak bergerak dan kaku. Ternyata ke mejaku.

Wanita ini, namanya Ana Sulastri. wanita paling cantik dan berkharisma yang ada di kantor kecil yang pengap ini. Dia bagaikan kipas angin di tempat yang panas ini, juga bagaikan bunga di gurun tandus, aku sudah lama mengaguminya, dia pintar dan berwibawa, dia adalah alasan mengapa aku betah berlama-lama di kantor dan sekarang dia berada di sini, di depanku.
‘Apa dia buta? Mengapa dia harus berhenti di mejaku?’ Pikirku bingung.
“Maaf mas tony, barusan pak Susano meneleponku, jika laporannya sudah selesai, dia meminta agar mas meng emailkan langsung padanya.”
Tunggu! Apa ini mimpi atau memang benar-benar terjadi? Dia bicara denganku? Sebelumnya tidak pernah. Bahkan menyapa pun jarang. Yah, tapi sepertinya dia memang bicara denganku, soalnya tadi dia menyebut “mas tony.” Bukankah yang disebutnya tadi namaku? Dia bahkan tahu namaku.

“Maaf mas, halo, kenapa malah bengong? Saya bicara dengan mas.”
Nah, lihat. Dia bicara denganku! Dia menegaskan jika dia bicara denganku.
“Eh, iya mbak maaf, tadi mbak bilang apa?”
“Barusan pak susano nelepon saya, kalau laporannya udah selesai, dia ingin mas kirim laporannya ke email dia.”
“Oh! Begitu, iya mbak, makasih infonya.”
“Sama-sama mas”
Dia lalu pergi sambil sedikit tersenyum. Aku yakin dia tersenyum. Yah sangat yakin.

“Maaf mas, apa saya boleh meminjam pulpennya?”
“Iya mbak Ana silahkan.”
Lalu aku melihat ke samping dan betapa kagetnya aku karena orang yang meminjam pulpen tadi bukan mbak ana melainkan mas surya.
“Eh, maaf mas surya. Ini pulpennya”
Untungnya mas surya tidak peduli, dia langsung mengambil pulpen yang kuberi, dan langsung tenggelam di belakang mejanya.
“Idiot, tony idiot.” Aku mengumpat dalam hati.

Aku merasa haus dan teringat kembali pada kopi misterius yang saat ini atasnya sudah kututup dengan kertas. Aku masih belum berani meminumnya.
“Aku tidak akan meminummu, aku bahkan tidak tahu siapa yang membuatmu. Kau bisa saja beracun.” Pikirku.

Aku berjalan ke arah dapur. mengambil gelas, dan menuangkan air ke dalamnya. Lalu meneguknya. Dari kejahuan aku melihat mbak ana sedang memperhatikan ke arahku. Apa memang dia melihat ke arahku? Aku ragu. Sepertinya tidak.

“Hei, kau. Apa kau bisa membawakanku segelas air?”
Aku melihat orang yang memanggilku dengan nada sok itu. Mas Reno ternyata.
“Baik mas, sebentar.”

Aku lalu berjalan ke mejanya dan memberikan air yang dia minta.
“Makasih. hm, siapa namamu? Kau baru di sini? Aku tidak pernah melihatmu.”
Pertanyaan klasik yang tidak lagi aneh kudengar.
“Tony mas, nama saya tony, yah sepertinya saya anak baru di kantor ini.”
Tanpa memperpanjang kata, aku lalu meninggalkan pria paruh baya ini di mejanya.

Sebenarnya aku bukan anak baru. Aku sudah 2 tahun bekerja di tempat ini. Tapi memang tidak ada yang begitu mengenalku, atau mereka malas mengenalku? Bagiku sama saja. Aku tidak begitu diperhatikan di sini, dan aku juga tidak suka menjadi pusat perhatian. Tidak akan ada orang yang menyapaku di koridor, atau orang yang mengajakku jalan setelah pulang kerja. Hal seperti itu tidak pernah terjadi. Jujur, aku bukan tipe orang yang pintar bergaul. Bukan juga tipe orang yang suka basa-basi. Aku tidak suka menghabiskan waktuku di tempat-tempat yang tidak jelas, nongkrong di cafe, dan sebagainya. Itu membuang waktu. Dan waktuku sangat berharga dari pada aku harus menghabiskannya di tempat seperti itu. Aku lebih suka menghabiskan waktuku sendiri dengan menonton film di laptop, bermain games, membaca novel dan menulis di blog pribadiku. Menurutku itu lebih mengasyikkan. Terdengar anti sosial? Tidak juga. Aku juga memiliki teman akrab. Tapi dia tinggal berbeda kota denganku. Kami sangat jarang bertemu, dan aku tidak menemukan teman lain di kantor ini. Bahkan aku ragu jika mereka mengingat namaku, yah kecuali pak Susano, bosku. Dia mengingatnya juga karena dia sering menyuruhku kerja lembur. Aku yakin 100% jika mas surya yang duduk di sebelah mejaku itu juga tidak mengingat namaku. Dia memanggil mas bukan untuk bersopan santun padaku, tapi memang dia tidak mengingat namaku. Di tempat ini, aku seperti mengenakan jubah gaib milik Harry Potter atau seperti memiliki kekuatan Susan Strom di film Fantastic 4. Tak terlihat. Ada tapi seperti tak ada. Invisible.

Aku lalu kembali ke mejaku. Melanjutkan kembali kerjaanku. Berpacu dengan waktu, karena aku harus menyelesaikan laporan ini sebelum jam 2 siang. Bukan karena ingin mencari muka, tapi banyak film yang menantiku di rumah.

Aku menyelesaikan laporanku pukul 02:10 WIB, telat 10 menit pikirku. Tapi tak mengapa. Masih banyak waktu yang tersisa untukku menonton film di rumah.
Setelah aku meng emailkan laporanku pada pak Susano. Lalu aku bergegas untuk pulang, dan kulihat mas surya juga sudah tidak berada di mejanya. Aku mengambil pulpenku yang tadi dipinjamnya.
“Sungguh tidak tahu etika meminjam.” Pikirku. Dia bahkan tidak mengembalikannya ke mejaku.

Aku berjalan ke luar kantor. Mencari sepedaku yang tadi kuparkir dekat dengan pohon jati tempat biasa aku parkir, karena kantorku tidak menyediakan parkir untuk sepeda. Ketika aku sadar seseorang memanggilku dari kejahuan.
“Mas tony” teriaknya.
Aku menoleh ke belakang, dan melihat mbak Ana? Aku bingung, ada apa lagi? Aku sudah mengemailkan laporanku sesuai yang diinstruksikannya tadi.

Dia berjalan mendekat. Lagi lagi seperti ada yang menekan tombol Slow Motion. Dia berjalan terus dan berhenti di depanku.
“Ada apa mbak? Apa ada masalah? Saya sudah email laporan tadi ama pak Susano!”
“Oh! Bukan itu mas. Hm saya cuma mau ngomong sama mas sebentar. Boleh?”
Boleh? Tentu saja boleh! Jangankan cuma sebentar, berjam-jam pun aku akan sanggup meladeninya. Aku tertawa senang dalam hati.
“Tentu saja mbak, ada apaya?” Aku mencoba menyembunyikan kesenanganku, agar tidak terlihat jelas.
“Eh, anu.. kop.. kopi tadi, saya lihat mas Tony gak meminumnya ya? Mas ga suka kopi?”
Baru kali ini aku melihat mbak Ana tersipu malu. Ya tuhan!
“Kopi? Kopi yang di meja saya tadi? It.. itu mbak yang ngebuatnya?”
Hatiku mencelos sakin kagetnya. Seolah ada yang bergerak dari dalam perutku, menuntut untuk segera dikelurkan. Seolah semua teka-teki di lukisan Monalisa terjawab sudah. Seakan semua teori konspirasi yang kubaca di Internet, benar adanya.
“Iya mas! Tadi saya mendengar pak Susano akan memanggil mas untuk kerja lembur, dan menyelesaikan laporan bulanan. Jadi saya ingin ngebuatin mas kopi. Hm, sebagai penyemangat, karena saya tahu pasti mas sangat kesal dipanggil untuk kerja lembur.”

Akhirnya, semua pertanyaan terjawab sudah. Ternyata wanita ini, wanita yang dari awal aku masuk kerja sudah kukagumi, wanita pintar nan berkelas ini, ternyata dialah dalang dari pembuat kopi misterius tadi. Seolah Scobydoo baru saja menyelesaikan kasus misteri. Aku senang bukan kepalang.

“Wah, anu mbak, sebenarnya saya suka kopi, tapi tadi saya ga berani minumnya, saya pikir itu…
“…beracun?” Timpalnya sambil tersenyum.
“Hehe, sebenarnya bukan seperti itu -seolah dia membaca pikiranku- Saya cuma kaget aja, sebelumnya ga pernah kan, ada yang ngebuatin kopi di kantor, tapi kok tiba-tiba hari ini ada”
“Hehe, iya sih, sebenarnya saya mau bilang ke mas kalau kopi itu dari saya, cuma saya malu”
“Wah, kalau aja tadi saya tahu kopi itu dari mbak, pasti sudah saya minum, maaf ya mbak.” Sekarang sangat susah untuk menyembunyikan kesenangaku, apa yang tadi bergejolak di dalam perutku, kini sudah melompat keluar.
“Iya. Gak apa-apa mas tony, lain kali diminum ya hhe.” Perasaanku saja atau memang wajah wanita ini memerah.
“Emang mbak masih mau buatin saya kopi?” Kataku sambil sedikit menggoda
“Why not?” Kata-katanya mantap dan tajam.

Lalu saya berimprovisasi, karena sudah terlanjur basah, saya lalu mengatakan sesuatu yang agak berani.
“Hm, abis dari sini, mbak mau ke mana lagi?”
“Ga tau sih, ga ada rencana.”
“Gimana kalau mbak ikut saya? Kita nonton? Ada film baru. Tadi saya lihat di internet, itu pun kalau mbak mau.” Kataku sambil sedikit berharap.
“Hm, boleh. Tapi ada syaratnya.”
“Apa?” Aku sedikit bingun dan juga senang
“Jangan manggil mbak donk. Kita kan seumuran.” Timpalnya sambil tersenyum
“Kalau gitu, jangan manggil mas juga donk, hehe.” Sekarang ekspresi kebahagianku tergambar dengan jelas.

Ibarat mendapat durian runtuh dan di atas pohon durian itu terdapat emas yang tidak tahu dari mana asalnya. Mujur.
Yang awalnya aku ingin menghabiskan sisa akhir pekanku degan menonton film di rumah, kini berubah menjadi menonton film di bioskop, dengan wanita berkelas ini di sampingku.

Aku tidak tahu apa yang membuatnya tertarik padaku. Yang aku tahu orang-orang di kantor selama ini tidak pernah menganggap keberadaanku, tapi wanita ini, dia bahkan mengingat namaku, dan membuatkanku kopi.
Apapun alasannya, hanya dia dan tuhan yang tahu. Yang jelas, aku sangat senang dan aku harusnya bersujud berterima kasih pada pak Susano, bosku, karena sudah memanggilku untuk kerja lembur, dan mempertemukan kami. Pak Susano yang awalnya kuanggap sebagai tukang memerintah, setan egois, kini berubah menjadi cupid indah sebagai penyatu aku dan Ana. Yah! Ana, karena sekarang aku tidak lagi memanggilnya mbak, dan sesuai janji, dia juga tidak lagi memanggilku Mas, melainkan Tony.

  Cerpen Sedih

Cerpen Cinta – Siapa Pemiliknya

Aku terbawa suasana sendu mengikuti lagu yang kudengar dari sebuah earphone di telingaku. Suara gerimis dari atap toko yang aku singgahi untuk berteduh seperti mengiringi alunan lagu penyanyi idolaku yang kuputar. Sudah lebih dari dua puluh menit kurasa, tak juga reda. Aku harus segera sampai rumah sebelum petang, keluargaku telah menunggu untuk makan malam bersama, tak pantas membuat perut mereka keroncongan.

“Aduh mengapa dingin sekali, harusnya aku tadi tidak meninggalkannya tergantung di balik pintu”

Seseorang tak menyadari langkahnya menyipratkan air dari genangan di depanku. Dia berlari seolah tak melakukan kesalahan apapun. Sialnya hari ini aku berangkat mengenakan kemeja putih, dan terlihat jelas noda kecokelatan di bajuku. Awas saja jika lain kali aku bertemu dengan orang itu, akan kubalas.

Perhatianku teralihkan dengan sebuah jaket, tidak, lebih tepatnya sebuah sweater terjatuh di bawah bangku. Untungnya jatuhnya bukan di tanah, melainkan di lantai, jadi tidaklah terlihat kotor. Rasanya ingin sekali mengenakannya, lumayan untuk melindungi tubuhku dari dinginnya angin malam di selama perjalanan pulang. Tapi siapa yang meninggalkan sweater sebagus ini di jalan.

Di tengah perjalanan pulang tiba-tiba aku teringat orang tinggi berkulit putih itu dan sepertinya dia tampan. Oh mengapa aku harus mengingatnya, bahkan menyebutnya tampan pula. Seharusnya aku membencinya karena telah membuat bajuku kotor hari ini.

“Sofi, sambal goreng telur puyuhnya sudah siap di meja, cepatlah ganti baju dan turun!”
“Siap bu..”

“Kriiing… kringggg”
Bel di bimbel mulai berpihak kepadaku dan teman-teman. Kami sangat kelaparan setelah dipaksa memutar otak menyelesaikan soal matematika dari Bu Elza. Kami di sini berjuang untuk bisa memperebutkan kursi di suatu universitas unggulan. Walau kami sangat akrab, tapi sudah jadi prinsip kami untuk tidak membocorkan informasi apapun yang berkaitan dengan universitas yang akan kami masuki nanti. Bukan pelit, tapi memang itulah salah satu triknya untuk bersaing masuk bangku kuliah.

Ohya aku akan mampir ke meja sekretariat dulu sebelum makan di warung belakang. Awalnya aku akan menitipkan sweater pink ini, siapa tahu ada yang mencari dan mengambilnya. Tapi kuurungkan niatku, aku sangat penasaran siapa pemiliknya. Aku harus melihat wajahnya, mengobrol dengannya, ada urusan yang harus kubicarakan dengannya.

“Haloo”
“Halloo, maaf apa bisa saya mengambil sweater yang kau temukan?”
“Oke, temui saja aku di parkiran, lebih tepatnya samping warung. Aku di situ memakai kemeja kotak-kotak”

Akhirnya kami bertemu, amarahku tertahan saat begitu melihat paras wajahnya, oh dia begitu tampan, tinggi, badannya terlihat ramping, dan kulitnya putih, seperti aktor korea-lah kurang lebih penampilannya. Kami mengobrol cukup lama, alih-alih sekedar basa-basi, aku memanfaatkannya untuk mengarahkan obrolan lebih dalam. Dia terlihat terlihat terburu-buru pergi. Jadi pertanyaan bagiku, apakah laki-laki sekeren dia menyukai warna pink?

Dari semalam hingga pagi ini sungguh aku terus terbayangkan wajahnya yang indah. Aku jadi malas belajar, tidak bisa tidur hingga tengah malam, dan kurasa aku banyak tersenyum sendiri. Apa aku mengangumi dia, atau bahkan perasaanku mengatakan suka?

Hari demi hari terlewati seperti tanpa beban, walau sebenarnya aku selalui dimarahi tentorku saat tidak menyelesaikan tugas rumah. Sudah tiga hari ini aku seperti tak lagi menyentuh buku pelajaran. Aku hanya sibuk mencari akun media sosialnya yang sampai hari ini masih belum juga kutemukan. Bahkan setelah pulang dari bimbel, aku selalu mengetikkan kata sapaan, ya sekedar “hai” atau “apa kabar” lewat aplikasi chatting “whattsap”. Hanya dibaca, tanpa membalas satu huruf pun. Menunggu balasannuya seperti sudah pekerjaanku tiap sampai di rumah. Sudah pantas aku kecewa karena seminggu ini dia tidak terlihat lagi di bimbel.

Pagi itu aku sangat kesal, karena seseorang dari kelas lain memalangkan kakinya di hadapanku yang membuatku tersandung. Aku menabrak kursi di pojok ruang dekat toilet, bahkan gaya jatuhku pun bisa dibilang menarik perhatian. Aku memakinya, yang malah balik ditertawakan teman-temannya. Dia seolah menyangkal kakinya menyandungku, malah menuduhku cari perhatian. Memangnya aku bisa begitu saja dia permalukan, lagipula tampan tidak, tinggi tidak, hanya penampilannya saja yang bisa kubilang trendi. Kalau Bu Elza tidak terburu masuk kelas, bisa saja kuhajar anak ini, belum tahu saja dia aku dulu jago karate.

Satu minggu tersisa sebelum ujian tertulis masuk perguruan tinggi, tapi aku masih belum mengerti apa yang diajarkan di bimbel, setiap try out yang diadakan tiap minggu hanya menghasilkan angka rendah untuk hasil belajarku. Aku selalu tidak bisa mengerjakannya. Bahkan anak itu, ya Sandy namanya selalu mengejekku tiap kali kami berpapasan melihat papan nilai di dinding depan kelas. Siang ini barusan dia berulah, semangkuk mi rebus terakhir yang disediakan di warung tiba-tiba saja disambarnya dari meja.

“Apa-apaan ini, yang pesan duluan yang boleh mengambil”
“Sorry, yang bayar duluan yang berhak makan”

Dari saat itu aku benar-benar membencinya, uangku hanya cukup untuk membeli mi rebus dan sebotol air mineral saja, terpaksanya aku menahan lapar sampai jam bimbingan selesai. Lagi, aku harus melihat tampangnya saat berteduh sore itu. Hanya ada aku dan dia di sana. Tiap kali kami saling berpandangan, selalu saja kami berpaling. Pada saat yang tak kuduga, petir bergemuruh cukup keras. Badan kami bertubrukan, kami hampir saja kehilangan keseimbangan, tapi tangan kami saling menahan untuk tak jatuh. Sepersekian detik hening, kemudian berbalik ke posisi awal berdiri masing-masing. Kami berdua sama-sama takut petir.

Menghirup udara segar di Minggu pagi memang menyenangkan, seperti bebas dari rutinitas, tentunya dari dia si pengacau, tapi tidak untuk si tinggi tampan. Langkah santaiku terhenti melihat seseorang sedang duduk bersimpuh di samping sebuah nisan. Aku terkejut, sweater pink yang dikenakan sangat mirip dengan yang kutemukan di bawah banku toko itu. Sepertinya dia terlihat sangat sedih, sungguh bisa dilihat dari gerakan tubuhnya. Saat kutengok, kurasa dia mengetahui kedatanganku. Anehnya seperti ketakutan, dia beranjak kemudin lari hingga jejaknya tak bisa kuikuti lagi. Si tinggi tampan itu menghindar dariku. Kenapa, dan apa aku membuat salah dengannya. Hati ini semakin gelisah, dia menghilang sekian lama tapi tiba-tiba saja muncul, dan hanya sekilas kemudian menghilang lagi. Apasih maksudnya membuatku terus bertanya mengenai sikapnya. Sayang sekali kcamata hitamnya menghalangi ketampanannya. Tapi seperti ada keajaiban, pesanku dibalas, isinya kurang lebih seperti ucapan terimakasih karena telah menemukan sweaternya dan memintaku untuk tak usuh mengiriminya pesan lagi. Apa dia marah sekarang?

Hari-hariku makin sulit, tiap hari bertemu dengan si pengacau itu lagi, dan menghadapi kenyataan bahwa aku adalah siswa paling tak paham dengan pelajaran yang disampaikan para tentor. Kondisi ini jelas semakin menjadikanku pemalas. alhasil sesuai dengan kerjaanku tiap hari, aku tidak bisa mengerjakan soal ujian tulis seleksi masuk perguruan tinggi. Aku murung seharian di kamar, tak mau keluar, hanya terus menyeka pipiku dengan tisu. Penyesalanku menghantui berhari-hari, hingga akhirnya terbesit keinginan keluar rumah, jalan-jalan pagi sambil mendengar lagu dari “5 Second of Summer”, band asal Australia favoritku.

Pagiku yang masih saja sial, earphoneku terinjak seseorang. Ini artinya aku tak bisa mendengarkan lagu lagi, kecuali jika beli baru. Satu-satunya benda yang jadi favoritku, harus kurelakan. Menunggu permohonan maaf, tapi tidak juga kudengar. Apa boleh buat, aku inisiatif lantang berdiri.
“Hei, bisakah kau minta maaf, ini benda kesayanganku, harganya mahal, dan sudah tidak keluar lagi merk ini!”
Orang itu berbalik, “yang salah siapa, kamu yang menabrakku dari belakang, kamu lari tak lihat-lihat, lalu haruskah aku minta maaf?”
Oh tidak, dia, oh apa yang harus kulakukan. Rasanya ingin lari menjauh. Ternyata si pengacau itu lagi yang memulai pertengkaran. Sudah berapa kali tiap berpapasan selalu beradu mulut. Tuhan, haruskah selalu dengan dia orangnya tiap aku berjumpa seseorang di jalan. Aku mulai muak melihat tampangnya, sungguh sinis muka orang ini.

“Bagaimana ujiannya gadis manis hem?”
Dia menanyakan sesuatu yang membuatku rasanya ingin memukulnya. Tunggu, dia mengucaapkan “manis”.
“Lebih baik kamu belajar lagi untuk tahun berikutnya, aku tak mau jadi penghalang seseorang berhasil masuk perguruan tinggi pilihannya”
“Enak saja, penghalangku bukan kamu si pengacau nan sombong, tapi dia laki-laki tinggi putih berparas tampan, yang menjatuhkan sweater pink miliknya untuk kutemukan”. Oh astaga, aku keceplosan.
Anehnya dia setengah tersenyum geli, mungkin suatu isyarat dia menertawakan khayalanku. Dia melihatku sesaat kemudian menarikku ke suatu tempat. Menyuruhku duduk di sana sambil menunggunya memparbaiki earphone-ku yang rusak.

Sesekali dia memandangku kemudian balik mengotak-atik perkakas di tangannya. Di sela waktu ia memulai perbincangaan, dengan memamerkan keahliannya dalam memperbaiki barang elektronik, meretas suatu program komputer, bahkan memamerkan berapa banyak piala olimpiade matematika yang diraihnya.
Tak berapa lama earphoneku jadi, suaranya kembali terdengar jernih seperti awalnya.

Hujan lebat turun, kami mencari tempat berteduh, dan sampailah di suatu bekas kios yang sudah tak ditempati. Satu jam kami meneduh, namn anehnya kali ini udara tidak terasa dingin. Perbincangan kami begitu hangat, bahkan tak sadar kami tertawa. Perbincangan kami semakin dalam, semakin merasa nyaman dan santai menikmati tiap kisah yang kami ceritakan. Sampai tepatnya pukut enam, kami menyudahinya. Biasanya aku berjalan pulang di belakangnya, tapi entah mengapa kini kami berjalan berdekatan, bahkan tak sengaja ketika berayun tangan kami saling bersentuhan. Aku sungguh tak mengerti betul apa yang tengah terjadi, apa aku sedang bermimpi?

Mataku sulit untuk terpejam, sambil membayangkannya aku tersenyum sendiri, menatap langit-langit kamarku sambil menyanding ponsel menunggu ada notifikasi darinya. Si tinggi tampan itu saling berbalas pesan whattsap denganku. Sampai aku terbangun di pagi harinya, dan ternyata dia telah melakukan sembilan panggilan yang kuabaikan saat aku tak sengaja tertidur. Mulai hari ini hariku terasa menyenangkan. Seseorang yang kusuka menanggapi niatanku dekat dengannya. Terus saja berlalu kurang lebih satu bulan, hingga satu hari dalam hidupku mengubah segalanya.

Hari itu, hari pengumuman hasil ujian tulis seleksi masuk Perguruan Tinggi dipublikasikan. Dari website milik suatu universitas yang aku pilih hingga halaman pada surat kabar tidak ada yang mencantumkan namaku. Hingga aku begitu merasa terpukul dengan kenyataan aku tak lolos seleksi masuk Perguruan Tinggi negeri. Hasil buruk ini berimbas di berbagai jenis ujian lain yang kuikuti. Tetap sama saja, aku tidak bisa jadi mahasiswi tahun ini. Keputusasaanku membuat kedua orangtuaku cukup sedih, aku harus merelakan untuk dirawat di Rumah Sakit karena penyakit Tifus. Diagnosa dokter mengatakan karena disebabkan kelelahan dan stress.

Selama satu minggu hanya bisa berbaring, kini aku dapat menghirup udara segar di depan rumah. Sambil jalan pagi diiringi alunan lagu di telingaku. Kaget saja aku mendadak seseorang merangkulku dari samping, dan mengatakan pelan di telingaku.

“Sudah sehat sekarang?”
“Sa Sa Sandy? Kau bertanya kepadaku barusan?”
“Iya siapa lagi, yang di selahku kan kamu, atau ada makhluk lain di sini selain kamu?”
“Eh iya, ee ada apa ya kok kamu tiba-tiba di sini?”
“Mau bersantai sejenak di kursi itu?”, belum sempat kubalas, aku ditariknya berjalan ke arah kursi di selatan air mancur taman. Karena tahu aku kedinginan dan memang pagi itu baru saja terguyur hujan lebat. Sandy mengulurkan sesuatu yang membuatku tercengang.
“Sweater ini, dia memberikannya padamu?”
“Ini memang milikku, sejak dulu aku yang memakainya”
“Tidak. Si tinggi tampan itu yang memakainya”
“Orang ini maksudmu?”. Dia menunjukkan sebuah foto di ponselnya, foto si tinggi tampan yang selama ini kusuka.
“Siapa orang ini, mengapa kamu bisa kenal?”
“Alfin. Dia saudaraku yang kini adalah seorang model di suatu agensi terkenal di ibukota. Orang ini yang selama ini kamu suka, yang selalu berbalas pesan whattsap denganmu sebelum kamu sakit, mengirimimu bunga tiap pagi di rumah sakit, dan …”
“Stop. Orang yang kulihat di makam itu, orang yang kutemui di parkiran bimbel, dan pemilik sweater pink itu, dia kan?”
“Alfin-lah yang kamu temui saat itu”
“Lantas kamu?”
“Sudah dulu yaa, aku ada panggilan mendadak dari ibuku, nanti suatu saat kamu pasti akan tahu siapa aku”

Perasaanku mulai tak karuan. Sambil memandangi bunga yanng diberi saat aku sakit, aku sejenak menyadari dari kelima yang kudapat, tiap vas nya selalu ada satu huruf bertinta merah muda. Betapa terkejutnya aku, tiap vas yang jika disejajarkan bertuliskan “S-A-N-D-Y”. Tak cukup, aku penasaran dengan pemilik akun itu. Foto profil akun whattsap si tinggi tampan berganti menjadi gambar wajah Sandy. Kuambil jaket dan segera lari ke taman menemui Sandy. Aku tak bisa menemuinya di taman itu. Di mana dia?

“Hallo Sandy, aku tahu kamu, bisa kau menjelaskannya kepadaku?”
“Aku disini Sof, balikkan badanmu!”
“Katakan siapa aku?” tanyanya setelahku berbalik.
“Kamu adalah seseorang yang dekat denganku?”
“Tak salah lagi, manis. Akan kujelaskan, jadi kamu selama ini mengira aku itu Alfin, dan aku memintanya menemuimu waktu itu lalu mengembalikannya padaku. Awalnya aku merasa risih dengan pesanmu yang setiap saat menanyakan kabar dan menyapaku. Tapi setelah tabrakan tak sengaja kita saat takut petir dan obrolan hangat kita sore itu. Entah membuatku bahagia dan ingin membalas perhatianmu kepadaku. Maaf jika aku banyak berbuat salah, tapi jujur aku mulai tertarik sama kamu sof. Sekali lagi maaf jika ini mengagetkan perasaanmu”.

Sekejap aku tertegun dengan penjelasannya, ditambah lagi dengan angin berhembus cukup membuat udara menjadi dingin, dia dengan sigap memberikanku kehangatan.
“Ini pakai saja sweaterku sementara, agar kau pulang tidak kedinginan (mengulurkannya di depanku)”. Baru pertama ini aku mematung. Sandy adalah pemilik sweater berwarna pink itu.
“Aku mendapatkannya dari kakak perempuanku yang sudah lama meninggal, benda berharga ini yang selama ini kubawa kemana-mana. Dengan begitu aku merasa kakakku selalu bersamaku’.

Selesai

  Cerpen Romantis

Cerpen Cinta – Kisah Abu Abu

Cinta monyetku ini terjadi selagi aku duduk dimasa smk, atau bisa dibilang juga masa abu abu. Ini bukan cinta pertamaku tapi layaknya cinta pertama. Gimana sih rasanya cinta pertama? Pasti terkesan indah bukan? Hehe ..

Awal kenal kami dulu sewaktu duduk di kelas 1 SMK. Saat itu kami juga sama sama mengikuti suatu kegiatan yang sama yaitu; Pemuda Panca Marga

Semakin kemari kami semakin dekat sampai akhirnya timbul rasa dari masing masing diri. Sampai akhirnya hubungan kita tak sembarang hubungan tanpa status yang jelas. Hubungan kami jelas. Bisa dibilang sih ya ga digantung, haha

Hari demi hari berlalu.
Hari berganti minggu,
Minggu berganti bulan,
Bulan, berganti tahun. Tapi, sayangnya hanya bulannya yang kita lewati.
Walau hanya bulan demi bulan yang kita lewati tapi terkesan sangat indah, mungkin memang singkat tapi kenangan yang kau beri tak sesingkat awal jumpa kita..

Mungkin kisah kita takkan berakhir jika kalau tak ada hadirnya dia, susah payah kukuatkan kamu dengan sepenuh kepercayaan tapi teryata kata kata pihak ke-3 lah yang lebih mendengung di telingamu. Lalu apa daya aku? Kepercayaan yang telah kuberikan semua pupus begitu saja. Layaknya ucapanku ini seperti ucapan orang yang baru kau kenal sehingga sulit untuk kamu percayai.

Akhirnya usai juga kisah kita, ini adalah kabar yang ditunggu tunggu oleh orang orang di luar sana.

Tapi, terimakasih telah memberikan momentum terbaik setelah usainya kisah kita. 21 April yang sangat berkesan bagi hidup ini. Saat itu setelah usai kisah ini komunikasi kami masih membaik sampai akhirnya diri ini memberanikan diri tuk memberikan hadiah dihari spesialmu. Semoga ini juga berkesan untukmu, agar tak aku saja yang menggap hari itu spesial.

Harapku, semoga kamu menjadi teman hidupku. Ingatkah candaan dirimu “banyak anak bangak stik ps” sampai sekarang masih terekam jelas di memori otakku. Ingatkah? Jika lupa ya sudahlah, aku tak mekmasamu mengingatnya.

Bulan berganti tahun.
Itu kita lewati semasa kita usai. Kita sama sama menjalani hidup masing masing .. sampai akhirnya kita sama sama sudah duduk di bangku 3 SMK dan saat itu juga aku menemukan penggantiku. Sedang aku? Masih setia menunggumu.. apa kamu tau isi hatiku? Ya sudahlah, biarkan saja aku menyimpan rasa ini di ruang hatiku. Entah kapan kau kan pulang ke diri ini, atau mungkin engkau takkan pulang ke diri ini. Aku tak tau. Hanya waktu yang dapat menjawab

Lama melama kita benar benar berjarak. Rasa rinduku ini? Tak bisa terobti karena jarak membentang hebat. Sejujurnya hati ini terlalu rindu kepada dirimu. Jika bisa kumeminta sesuatu kepadamu aku ingin lepaskan rinduku ini, walau hanya sekedar bercakap dan menikmati secangkir kopi hangat. Setidaknya rindu ini bisa terobati.

Tapi, tampaknya entah masih teringatkah engaku pada diri ini atau tidak, aku tak tahu. Aku terlalu hanyut oleh candamu sampai sulit mengendalikannya sampai saat ini, “jangan panggil aku Rido” ingatkah engkau masalalu yang masih kutunggu tunggu?

Hari ini, Detik ini. Aku masih benar benar menunggu kehadiranmu kembali walau tak pasti aku siap duduk dengan sedihku menahan rindu ini yang semakin tak terkendali. Apa kabar kamu? Apa kabar hati dan fisikmu? Apa masih teringatkah aku di benakmu? Aku rindu. Pahamlah dengan rasaku ini. Sudah mulai kerja kah dirimu? Jangan lupa jaga kesehatanmu. Kalau bawa motor jangan kenceng kenceng yaa, nanti bisa jatuh lagi kaya waktu sama aku, hehe.. teringatkah kamu? Ahh, sudahlah tak perlu diingat ingat kembali. Harapku, hanya menunggumu pulang membawa hati yang tak dapat dibagi oleh siapapun. Semoga kamu tak lupa jalan pulang ke diri ini.

  Cerpen Pendidikan

Cerpen Cinta – Old Memory

Alex Vergie. Dia laki-laki pertama yang kusukai. Bukan masalah sekalipun dia jauh dari kriteria yang kuidamkan sebagai lelaki pilihan. Tak ada yang aneh meski telingaku sejajar dengan telinganya. Bahkan aku tak mempermasalahkan betapa gaji lima tahunnya tak akan cukup untuk membeli sebuah mobil pun. Mata hijaunya adalah intrik utama yang selalu sukses menghipnotisku untuk selalu menatapnya.

Awal pertemuan kami adalah saat aku mengambil studi di Jepang. Dia berperan sebagai tetangga baik dengan menawarkan masakan Hamo di musim panas. Dia menemaniku menelusuri Nishiki Market demi menjajal masakan khas Jepang yang sayang dilewatkan. Masakan berat seperti Sashimi hingga makanan-makanan kecil seperti Taiyaki sudah pernah kucicipi. Waktu empat tahun bersama Alex terlalu singkat meskipun aku nyaris menghafal setiap jengkal jalanan Kyoto karenanya.

Kulemparkan pandangan ke arah Kuil Shimogamo-Jinja. Masih terasa sekali ingatan ketika aku dan teman-teman berkunjung ke bangunan merah itu untuk menyaksikan perayaan Yabusame Shinji. Awalnya aku serius dan takjub melihat peserta dengan pakaian bangsawan zaman dulu yang menunggang kuda dengan kencang sambil memanah ke arah sasaran sejauh tiga puluh lima meter. Seumur hidup, baru sekali aku melihat pertunjukan menakjubkan seperti itu. Jangankan festival Yabusame dengan pertunjukan memanah yang heroik, busur panah saja tak pernah kulihat sebelumnya. Aku tak tahu jika memanah adalah hal yang paling mengesankan sejauh yang kuamati.

Namun, ada yang lebih menarik perhatianku selain pertunjukan panah yang membeliakkan mata. Aku melihat Alex di kejauhan dan dia sedang menatapku seolah akulah pertunjukan yang menarik di matanya. Sadar telah terpergok, dia tersenyum malu dan menghampiriku. Aku menyukai ekspresi wajahnya saat itu. Apalagi saat lelaki berdarah Belanda itu berkata dengan intonasi lembut.
“Kau cantik. Membuatku tak bisa berhenti menatapmu saja. Aku ingin kau tetap di sampingku. Mengurungmu dalam retina mataku.”

Aku pikir, kami resmi berpacaran kala itu, di sela-sela festival Yabusame dan di bawah hiruk pikuk keramaian mengelu-elukan pemanah tangguh di atas kuda yang melesat cepat. Kukira, salah satu anak panah memang terlepas menembus hatiku. Peri cinta yang melakukannya hingga aku mencintai laki-laki bermata hijau itu.

Aku mendesah sambil tersenyum. Kuraba dadaku sendiri mencoba merasai hati yang menghangat. Merindukannya saja begitu indah, sama sekali tidak ada rasa menyakitkan. Jika aku tidak kembali ke Indonesia setelah studiku selesai, mungkin kami sudah berada di Osaka dan menetap di kota berlogat Kansai itu bersama-sama. Itu keinginan yang diutarakannya padaku dua bulan sebelum kepulanganku ke Indonesia.

Kini sudah enam tahun sejak festival Yabusame. Masihkah ia menungguku? Jika aku melanjutkan S2 di Kyoto University—bukannya pulang demi mencari beasiswa di Prancis— mungkin saat ini kami sedang bergandengan tangan sembari menyelaraskan langkah kaki di Nakanoshima Park, Osaka. Terlalu banyak angan-angan dan impian yang kurajut bersamanya. Aku masih ingin bertemu dengannya dan menagih janji menjadi pengantinku suatu hari nanti. Namun, aku tidak yakin itu akan benar terjadi. Semua kalimat manisnya kerap kali juga disertai keraguan.

Kulirik jam yang melingkar di pergelangan tangan. Jika ia tetap bekerja di Bank of Kyoto, seharusnya ia akan pulang sebentar lagi. Kedatanganku di Jepang mungkin tak akan lama. Aku hanya bermaksud berlibur mendinginkan isi otak yang penat setelah perjalanan panjang mengejar beasiswa dan lulus dari ENS Paris. Aku juga butuh bertemu dengannya. Ada sesuatu yang ingin kusampaikan padanya. Dia harus tahu.

Kupastikan aku memiliki satu jam menyusuri jalan setapak Motoyama. Seandainya Alex benar-benar datang menghampiriku di tepi sungai ini seperti dulu, mungkin aku tak akan keberatan menunggu satu jam lagi hingga ia benar-benar keluar dari kantornya. Kupastikan bahwa bingkisan yang kusiapkan untuknya ada di dalam tas. Saat di hotel, benda pertama yang aku masukkan ke dalam tas adalah bingkisan itu.

“Erina! Kau mau kemana?”
Gerakanku mengobrak-abrik isi tas sembari berjalan seketika terhenti. Aku menoleh ke belakang dan mendapati Roy melangkah terburu menyusulku.
“Kau hendak kemana?” ulang Roy setelah berada di sampingku.
“Berjalan-jalan sedikit,” jawabku pendek.
“Biar kutemani. Aku tak ingin kau tersesat di kota ini.”
“Roy, aku pernah berada di Kyoto selama 4 tahun, apa kau lupa?” tanyaku dengan nada merajuk.
Laki-laki berambut sedikit gondrong itu tertawa lebar sambil menjentik hidungku.

Kami melanjutkan langkah menyusuri jalanan. Aku menyibukkan diri mengambil gambar kuil Shimogamo-Jinja dan Kamigamo-Jinja. Aku punya banyak foto kedua kuil tua ini namun aku tak pernah bosan. Semua yang ada di Kyoto adalah kenangan. Sama seperti ingatan tentang kebersamaan bersama Alex kala mengikuti berbagai festival budaya Jepang yang tak akan pernah pudar dari benakku. Bagiku, dia adalah ingatan terbaik. Satu hal yang belum pernah kami lalui bersama hanya menyaksikan perayaan Hanami—perayaan mekarnya bunga sakura—musim semi di Osaka.

Aku tersenyum sambil membidik beberapa orang yang berjalan hilir mudik dengan cepat. Kebanyakan orang-orang di Jepang memang selalu berjalan cepat seolah diburu waktu. Baru saja kamera tepat mengarah pada seorang anak kecil yang menyeret anjing kecilnya, kamera mati tiba-tiba. Aku bersungut kesal menyadarinya sementara Roy tertawa geli.

“Sepertinya akan lebih tepat dikatakan bahwa kekasihmu adalah kamera itu,” ucap Roy ketika aku beringsut kembali dalam rengkuhannya.
“Seharusnya kau membawa kameramu juga,” gerutuku dengan manja.
“Memorinya sudah penuh.”
“Kita bisa membelinya,” sahutku cepat.
Roy tertawa sambil mengacak rambutku. Aku tahu ia ingin meledek permintaan konyol itu namun tak sampai hati melontarkannya. Laki-laki sebayaku itu tahu betapa aku menyukai Jepang hingga ia menyiapkan dua kartu memori sekaligus untuk kamera canggihnya yang kini sudah penuh terisi.

Tak sengaja, pandanganku terantuk ke dalam sebuah toko pakaian. Ada seorang pria berwajah Eropa di antara orang-orang bermata sipit. Tak perlu menyuruh laki-laki itu berbalik karena aku sudah sangat mengenalnya. Alex Vergie. Dia benar-benar pria yang kutinggalkan beberapa tahun lalu. Dia laki-laki yang memanggilku Ms. Vergie sekalipun aku tahu dia tak pernah serius. Aku tahu dia tidak seserius itu denganku tapi aku tak pernah peduli. Bagiku, aku mencintainya. Itu saja.

“Kau ingin membeli baju?” tegur Roy melihatku hanya termangu di depan etalase toko.
Aku tak kuasa menjawab. Seharusnya aku masuk ke dalam toko untuk menyapanya dan memberikan bingkisan di dalam tas. Sayangnya tidak bisa. Seperti ini saja lututku terasa lemas. Aku tak akan kuat bersitatap dengan mata hijaunya. Terlebih lagi saat melihatnya berciuman dengan seorang gadis Jepang yang sangat cantik. Gadis itu … Fumizhu Ayane.

“Erina,” tegur Roy dengan intonasi lebih rendah dari sebelumnya.
“Roy, aku ingin melihat bunga sakura. Bisakah kita ke Osaka sekarang?” pintaku berbalik menghadap Roy.
“Ya. Ya. Tentu saja. Kau tak perlu menangis seperti ini hanya agar aku membawamu ke Osaka,” ucap Roy lembut sambil menghapus air mata di pipiku.
“Aku tahu,” sahutku sambil meraih tangan Roy dan menariknya pergi.

“Kau tidak ingin melihat bunga sakura di Kuil Daigo-ji saja? Letaknya tidak jauh, ada di Distrik Fushimi,” saran Roy.
“Aku ingin melupakan Kyoto. Aku terlalu lama di kota ini. Seharusnya aku menghapus memori kota ini dari ingatanku. Aku juga harus menghapus semua foto dari kameramu,” sahutku tanpa mengangkat kepala.
“Hei, Erina, berhentilah,” pinta Roy pelan menahan tanganku. Kuikuti permintaannya untuk menghentikan langkah. Ia membungkukkan sedikit badannya dan merangkum wajahku. “Lihatlah aku. Apa kau juga ingin menghapus kebersamaan kita di kota ini?”
“Kau tetap teman sekelasku yang paling menjengkelkan,” sahutku.
“Ya. Dan teman sekelasmu yang menjengkelkan ini telah menjadi tunanganmu saat ini. Jangan pernah menghapus memori tentang kita atau aku akan menghujani memori baru hingga membuatmu hanya mengingatku saja,” kata Roy lalu mengecup keningku sepintas. “Masa lalu tetap menjadi bagian dari dirimu. Kau tidak perlu menghapus memori lama hanya karena membencinya. Dendam yang ada dalam hatimu akan terus membayangi dirimu, dan berpengaruh pada kepribadianmu.”
Aku mengangguk. Mataku tertunduk menatap sepatu Roy. Rasanya menyedihkan, padahal keputusan sudah kuambil. Aku pernah memergoki Alex dan Ayane berpelukan di rumah Alex. Kala itu hanya amarah yang kurasa hingga memutuskan Alex begitu saja tanpa mendengar alasannya. Aku membuka hati untuk Roy, sahabat sesama mahasiswa dari Indonesia selama studi di Jepang dan Prancis.

“Kau memang pandai sekali membuatku terpikat denganmu,” cetusku.
“Bagus. Aku membutuhkan itu untuk menggenggam tanganmu seperti ini. Kau tahu apa artinya?” tanya Roy menunjukkan tangan kananku yang sudah ada dalam genggamannya.
“Aku harus menyelaraskan langkah bersamamu,” ucapku yang segera disambut oleh Roy.
“Sepanjang perjalanan hidup kita,” kata kami bersamaan.
Roy mengecup tanganku. Kubuat seulas senyum favorit Roy sembari menghapus air mata di pipi. Tunanganku itu balas tersenyum sambil memberi kode untuk menoleh. Alex berdiri empat meter dari kami. Mata hijaunya tepat terarah padaku.
“Kau boleh memberikan bingkisanmu sekarang jika kau mau,” ucap Roy menunjuk tasku yang terbuka. “Aku mengerti kedekatan kalian dulunya. Aku tak keberatan kau memberikan benda itu untuknya. Ingat, kau hanya bisa memberikan bingkisan itu saja, tidak termasuk ciuman di pipi,” bisik Roy membuatku menahan senyum geli. Laki-laki ini lucu sekali saat sedang cemburu.
“Aku memang tak boleh membenci masa lalu, bukan?” sahutku sambil mengeluarkan bingkisan dari tas dan kuberikan pada Roy berikut selembar kartu undangan. “Aku tahu kau ingin mengatakan sesuatu padanya.”
“Oh! Memang!” sahut Roy tangkas menerima keduanya dari tanganku. “Akan lebih mengesankan saat aku yang mengundangnya di pesta pernikahan kita. Lagipula, bingkisan ini adalah untuk perayaan pertunangan kita. Tak ada bedanya jika aku atau kau yang memberikannya,” lanjutnya membuatku tersenyum.

Kubiarkan Roy menggantikan tugasku menghampiri Alex. Aku memang tak akan tahan berdiri di depan laki-laki berdarah Belanda itu. Aku tak ingin terperangkap dalam mata hijaunya yang memukau. Roy lebih tahu apa yang harus dikatakannya pada Alex. Dia tahu jika aku tak akan punya nyali mengatakan pada Alex bahwa aku mengundangnya di pesta pernikahan kami.

Roy bukan hanya sabar melihatku terperangkap dalam ketidakpastian dengan laki-laki yang kusukai. Ia mengejarku bahkan hingga Prancis. Dia tak ingin melewatkan sedetik pun kedipan mataku. Dia menahanku terus ada dalam retina matanya. Dia memilihku tanpa taburan janji manis atau syarat. Aku tahu aku tidak salah memilih Roy. Aku mencintainya. Alex dan Kota Kyoto biarlah tetap menjadi memori favoritku.

The End

  Cerpen Persahabatan

Cerpen Cinta – Aku, Kau dan Hujan

Orang bilang, hujan itu membawa lagu yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang sedang rindu. Ada juga yang beranggapan kalau hujan adalah waktu yang pas untuk mengenang masa lalu.

Hingga sekarang, aku tidak tahu siapa yang pertama kali menyimpulkan hal tersebut. Sebagian besar memang benar sih. Mungkin karena situasi mendukung; udara yang sedikit lembab, harum petrichor yang menyeruak ditambah tetesan air hujan yang jatuh bagai keping kenangan yang berhamburan dan menghipnotis pikiran.

Apapun alasannya, aku tetap suka hujan. Aku suka aromanya, mataku tak bisa lepas menatap butiran-butiran air yang menyentak dedaunan, menimbulkan suara gemericik yang indah saat beradu dengan tanah dan atap rumah.

Hujan mengajarkanku banyak hal:
Tentang kenangan.
Harapan.
Dan tentang? seseorang.

Ketika itu, aku sedang duduk di dekat jendela kelas, memperhatikan teman-teman yang asik main hujan. Saat itulah kau datang menghampiri.
“Hei, Gunung Es.” Sapamu santai.
Aku yang tak ingin diganggu langsung menatapmu jengkel.
‘Just leave me alone!’ Usirku dalam hati.
Tapi kau malah terkikik geli. Tanganmu sigap menarik kursi lalu duduk di hadapanku.

“Enggak terasa masa SMA kita akan berakhir.” Raut wajahmu mendadak berubah sendu, manik cokelat muda yang biasa bersinar itu meredup seakan kehilangan energi.
“Ya,” jawabku singkat melempar pandangan ke arahmu.
Nih orang kenapa sih?

Kau membalas lewat senyum yang dipaksakan, “itu artinya kamu akan bebas karna aku nggak akan mengusik lagi.”
Kedua sudut bibirku tertarik ke samping, “baguslah kalo gitu.”

Hari-hari akan kulalui dengan nyaman.
Tidak ada panggilan “Gunung Es” lagi,
Tidak ada ocehan menyebalkan
Tidak ada yang akan menggeser posisiku di peringkat kelas.
Tidak ada lagi? dirimu.

Harusnya aku lega, tapi entah mengapa justru setitik kesedihan yang malah merambat di hati. Semakin banyak seiring lebatnya hujan di luar sana.
Kau tertawa hambar lalu diam beberapa detik untuk mempertemukan pandangan denganku.

Mulutmu mulai berceloteh lagi, “tau nggak kenapa aku selalu gangguin kamu?”
Aneh, nada bicaramu terdengar sangat serius dan tatapanmu seperti tak sabar menunggu jawaban.
“Karena aku aneh.” Jawabku asal.
Kepalamu menggeleng mantap, jari telunjuk dan tengah menaikkan frame kacamata yang menghiasi wajah tampanmu. “Karena aku ingin melihat ekspresimu. Tiap hari, kamu selalu memasang wajah datar. Jujur saja, aku lebih suka kamu marah atau tersenyum dan tertawa lepas karena ulahku. Itu membuatmu terlihat jauh lebih ‘hidup’… asik bukan menjalani hidup tanpa topeng? Jadilah diri sendiri, karena ada seseorang yang selalu menganggapmu berharga,” kau berkata panjang lebar dengan gaya khas.

Aku tak tahu apakah harus senang atau marah mendengarnya.
Namun ada sesuatu yang tak kumengerti, perkataanmu tetiba membuat dadaku sedikit menghangat. Dan kehangatan itu akhirnya menular ke kedua pipi tanpa bisa dicegah.
Dapat kulihat wajahmu juga bereaksi sama.

“Mungkin ini terdengar konyol, tapi … boleh aku minta satu hal?” Tanyamu sedikit kikuk.
Sebelah alisku terangkat, “apa itu?” kataku sedikit penasaran sambil terus menekan perasaan yang tak mampu dijelaskan lewat apapun.

Menyaksikan semburat merah di wajah seorang pemuda adalah pemandangan langka bagiku. Begitu menenangkan sekaligus mendebarkan seperti halnya aroma hujan.

“Tolong jangan lupakan aku. Dan … bisakah kamu menunggu hingga waktunya tiba?” kau mengucapkannya tanpa ragu dan sialnya aku tak mendeteksi sinyal kebohongan di bola matamu.
Aku tersedak napas sendiri. Oke, ini membingungkan. Tidak. Tidak. Ini sangat sangat membingungkan!
Tapi, kenapa?! Kenapa aku malah mengangguk?!
Sh*t! Sh*t! Sh*t!!!! Apa yang kulakukan?!!!!
Aku menggeleng pelan setelah itu menunduk dalam. Berusaha rileks dan berharap semoga degup jantungku yang makin menggila ini tidak tertangkap indera pendengaranmu.
Aira, sadar! Dia itu musuhmu!
Ya. Musuh yang tak akan pernah bisa kubenci.

Kau tersenyum samar lalu manikmu melirik keluar, “udah reda. Ayo pulang!” katamu seraya mengambil tas kemudian berjalan pergi.
“Bagas! T-terima kasih banyak,” akhirnya aku angkat bicara setelah mengumpulkan keberanian, mengabaikan debaran hebat yang kutahan setengah mati.

Langkahmu terhenti tepat di depan pintu. Bayang tubuh jangkung itu begitu kontras kala diterpa sinar mentari senja.
Kau tidak berbalik, tapi aku tahu kau sedang tesenyum lebar sekarang. Tangan kananmu terangkat dan membentuk isyarat ‘OK’
Kemudian, suara langkahmu perlahan menjauh. Aku hanya terkekeh sembari meraba pipi.
Panas.

Cerpen – Cinta Dalam Rindu

Aku menatap tempat yang ada di hadapanku lekat. Sebuah tempat yang mengingatkanku pada sepotong episode masa laluku. Tempat sederhana untuk melepas penatku. Sebuah warung yang tepat berada di samping SMA ku dulu. Semua nampak sama, namun keadaan dan waktu yang kini berbeda. Jika dulu aku adalah seorang anak SMA, kini akulah yang akan menjadi panutan sekolah ini. Kembali ke SMA ini sebagai mahasiswa magang.

Aku teringat kembali akan masa itu. Tepat di seberang bangku yang kududuki dia berdiri dan tersenyum padaku.
“Kakak gak makan?”
Aku menatap ke arah suara itu, namun penglihatanku tidak salah kali ini, dialah yang menyapaku, anak laki-laki berseragam SMP itu. Ya. Awal pertemuanku dengan seorang Taufik Akbari. Anak kelas VII SMP yang berada satu yayasan dengan sekolahku.
Aku masih mengiingatnya, pertanyaan yang tidak biasa ditanyakan oleh orang yang belum dikenal.

Dari pertemuan awal itu, aku tak pernah menyangka kita akan berteman. Aku tak pernah menyangka kau menganggapku sebagai seorang kakak. dia sangat peduli dan perhatian layaknya seorang adik. Tapi aku merasakannya dengan hal ya berbeda, hingga saat itu sampai sekarang aku tak sekedar mengaguminya, namun aku telah jatuh hati terhadapnya.

Beberapa bulan terakhir ini aku sering memimpikanya. Aku merindukannya. Segenap hatiku ingin menemui dirinya dan menyampaikan perasaan ini kepadanya. Namun nyatanya aku hanya diam, masih memandangnya di kejauhan sebagai anak SMA.

“Dek, aku merindukanmu,” tanpa sadar saat mengatakaannya.

Ketika aku tau dia melanjutkan sekolah di SMA ini, aku mulai kembali mengenangnya. Aku memang berpapasan dengannya. Penampilannya tidak jauh berbeda dari yang dulun, hanya saja tubuhnya jauh lebih tinggi dari yang kubayangkan.
Dia tidak mengenalku. Tentu saja karena aku mengubah drastis penampilanku. Maksudku aku berhijrah untuk lebih baik, dan dia alasan mengapa aku berhijrah. Untuk melupakan perasaanku dan tentu saja untuk mengharap ridha-Nya.

“Kakak!” lamunanku buyar seketika saat mendengar suara seseorang memanggilku. “apa kabar?” tanyanya sambil mengulurkan tangannya di hadapanku. Aku hanya menempelkan kedua telapak tanganku di depan dada untuk membalasnya.
aku menahan tangisku. Memang mataku terlihat sembab di hadapannya, namun setidaknya dia tidak bisa melihat bekas tangis yang kubuat di balik masker ini.
“Alhamdulillah baik!” sahutku.
“kakak masih ingat aku kan?” tanyanya. Aku mengangguk memberikan jawaban padanya. Benar-benar jelas, dia berdiri di hadapanku sekarang. Laki-laki yang sedang berdiri di hadapanku ini adalah dia yang kulamunkan tadi.

Hening, setelah obrolan singkat itu kami sama-sama diam di tempat masing masing. Dia yang sedang duduk di sebelahku dengan jarak dekat dan menatap lurus ke arah gorengan yang sudah dihidangkan. Dia tidak memilih namun tetap saja membuatku tak nyaman dengan diam menatap gorengan itu. Aku ingin bicara namun terlalu canggung akibat lama tidak bertemu. Apa yang harus kulakukan sekarang.

“Aku..” kami sama-sama angkat bicara. “Kamu duluan,” kataku kemudian.
“Kak, aku mau ngomong, tapi…” kalimatnya terhenti, “bisakah di tempat lain saja?” tawarnya.
“asal tempat itu tidak terlalu sepi.” Kataku dengan tenang. Kini aku bisa mengontrol jantungku yang dari tadi terus berdebar.
Dia mengangguk, namun setelah itu diam. Sungguh aku tak mengerti maksud dari perbuatannya ini. Sebenarnya apa yang ingi dia katakan? Dan mengapa diam saja? Ah, dia tetap seperti dulu, sangat susah menebak kemauanya.

“ini!” dia memberikanku secarik kertas yang bertuliskan sebuah alamat. Tunggu! Untuk apa dan sejak kapan dia menulis ini?
“kakak datang ya, itu perayaan kecil-kecilan ulang tahunku. Aku ingin memberitahu sesuatu di hari itu. Aku harap kakak mau datang.” Katanya lalu beranjak pergi dari tempatnya. Aku hanya memandang kosong kertas itu, berpikir keras maksud dirinya memintaku datang.

“Tumben Han mau jalan siang-siang, biasanya mager tuh di rumah.” Ejek Faris, adik pertamaku yang super duper dingin tapi perhatian.
“Ya mau aja, cepet yo antar aku,” paksaku. Faris mengangguk lalu mengambil hoodle dan kunci sepeda motornya yang tergantung di belakang pintu.

“Kalo pulang calling ya” katanya setelah sampai di tujuan yang aku pinta. Aku pun mengangguk memberi jawaban.

Kali ini aku berada di sebuah kafe sederhana yang ditunjukkan oleh Taufik di kertas itu. Entah kenapa aku memenuhi undangannya walaupun tak tau tujuannya apa. Namun saat ini aku hanya berfikir positif ‘dia kangen’ atau ‘karena aku kakaknya’. Mungkin terlalu pe-de mengatakannya, namun itulah yang ada di benakku mengingat hubungan zona-persaudaraan yang absurd ini.

“kakak duduk dulu” pintanya saat melihat diriku. Saat ini aku menatap dirinya yang mengenakan jas dengan kaos putih polos di dalamnya. Terlalu banyak perubahan dari penampilannya sekarang. Ya, tentu saja. Dia ini kan sudah SMA, bukan anak SMP lagi, jelas saja berubah. Aku terlalu mikir yang aneh-aneh sekarang.

“Halo teman-teman dan semuanya yang sudah memenuhi undangan, Gue sangat berterima kasih atas kedatangannya di hari spesial ini. Sebelum menikmati party ini saya ingin menyayikan lagu khusus untuk seseorang yang ada di sana” dia menunjuk ke arah tempat aku duduk, namun tidak hanya aku saja yang duduk di rule ini, ada seorang gadis lagi yang menurutku sangat cantik dengan dress casual yang dia kenakan.
Setelah mengatakannya, gadis itu tersenyum sambil menikmati lagu yang sedang dinyanyikannya. Mungkinkah lagu itu untuk gadis itu? Atau karena mereka memiliki hubungan spesial?

Dibandingkan menikmati lagu ini, aku lebih penasaran lagi dengan gadis di hadapunku melihat dari tatapannya terhadap Taufik, dia seperti memiliki hubungan dan menurutku dia dan gadis itu sangatlah cocok.

“Taufik!” teriak gadis itu memanggil Taufik. Taufik turun dari panggung, dia melambaikan tangan dan tersenyum di hadapan gadis itu. Aku benar-benar tidak suka melihat ini sekarang. Entahlah, aku juga merasa aneh dengan diriku sendiri.

Taufik menoleh ke arahku, aku mencoba bersikap biasa dan berpura-pura sibuk dengan handphone di tanganku, kubuka pesan dan menulis “jemput aku di kafe yang tadi” dan menekan tobol kirim. Aku benar-benar ingin pulang secepatnya.

“Kak, eh…” katanya menoleh lagi ke arah gadis itu, “Ada apa Shila?” tanyanya kepada gadis tadi yang bernama Shila. Shila memeluk Taufik yang berdiri di hadapan meja tempat aku duduk.
“Ya Allah, tolong halangi mereka berbuat dosa.”
‘Han, aku udah nyampe di depan kafe’ pesan dari Faris membuatku berbinar. Akhirnya aku bebas dari pandangan ini. Aku segera bangkit dari tempatku dan menghiraukan mereka berdua.

Aku bisa mendengar kehebohan di dalam kafe itu. Sungguh, aku tidak suka dengan acara yang seperti ii. Ulang tahun harusnya dijadikan intropeksi diri dan merubah pribadi lebih baik lagi, bukan seperti ini. Pesta, lagu, dan apa-apaan pelukan tadi?

Aku salah melupakannya, seharusnya aku tetap membiarkan perasaanku dan mengubahnya lebih baik lagi, bukan yang seperti ini. Ternyata cinta yang kuharapkan tidak tepat apa yang kupikirkan. Rindu yang menggebu tidak sampai kepada cinta yang tepat pula. Sekarang apa aku harus berfikir positif melihat itu. Atau perasaanku saja yang berlebihan melihat itu? Lagi-lagi aku hanya berfikir aneh.

“Kakak! Kak Hani!” Aku bisa mendengar ada suara di belakangku, aku ingin menoleh, tetapi aku tak tau harus menanggapi perasaanku sekarang ini seperti apa. Benar-benar aneh.
“Kak, tolong dengarkan aku, yang tadi..,” katanya terhenti, aku pun menoleh ingin mendengarkan perkataannya. “bukan seperti yang kak Hani pikirkan.”
“yang seperti apa?” tanyaku pura-pura tak tauu.
Taufik memegangi tanganku, aku segera melepaskan tanganku yang dipegangnya tadi. “bukan muhrim!” bentakku.
“sejak awal..” dia kembali berbicara, “aku menyukai kakak.”
Dheg! Dia bercanda kah?

“mungkin ini aneh, sejak awal pertemuan itu aku memang menyukai kakak. Saat aku menyapa kakak, aku sangat gugup karena itu saat awal pertanyaan itu…” kali ini dia terlihat gugup. “aku ingin menyatakannya, tapi aku tak mau kakak menganggap aku masih anak-anak, masih tak pantas berkata itu, jadi selama kenal kakak aku hanya menyimpan perasaanku dan menyatakanya di saat yang tepat, aku sudah tak sabar lagi, selalu merindukan kakak, bahkan sampai terbawa mimpi, Jadi … maukah kakak jadi pacarku?”

Prok… prok… prok… semua yang ada di dalam kafe berhamburan ke luar dan memperhatikan kami berdua berharap apa yang mereka pikirkan terjadi. “Jadiaan… jadiaan!” semua orang bersorak karena profokasi dari sattu orang. Shila gadis yang memeluk Taufik tadi.
“aku gak peduli walaupun umur kita beda jauh, aku hanya ingin bersama kakak” lanjutnya lagi.
Aku melirik ke belakangku dan melihat Faris menunggu, kali ini Faris menatapku sinis seolah berkata “cepat dong, ini panas tau!”
Dasar Faris! benar-benar tidak mendukung suasana ini sekarang. Yah, aku harus apa lagi sekarang?

Tersenyum itu yang kutunjukkan di depan Taufik. “kamu masih labil,” aku menaikkan bibirku. Aku mengeluarkan stick note dan menuliskan alamat rumahku dengan pulpen yang sudah kusiapkan tadi.
“terima kasih sudah menyamaikan perasaanmu pada kakak, tapi…,” aku memberikan stick note itu kepada Taufik. “kakak akan menunggu seperti kamu menyampaikan ini di waktu yang tepat, di hadapan orangtua kakak,”
Setelah menyampaikannya, aku merasa lega. Aku membalikkan badanku dan menghampiri Faris yang lagi-lagi menatapku sinis. Ah tak apa, yang penting hari ini akan menjadi good moment untukku.

Tentang gadis yang memeluk Taufik tadi, Shila, aku tak peduli siapa dia, Tapi Shila juga mendukung Taufik. Aku hanya berfikir positif, mungkin mereka hanya bersahabat. Untuk Taufik, jika dia serius, aku akan menunggunya. Menunggu seperti perasaanku sebelumnya, rindu dalam diam, dan akan tetap mencintaimu dalam rinduku.

***

Demikianlah kumpulan cerpen cinta romantis singkat yang bisa dibagikan kali ini. Semoga bisa menjadi bacaan menarik menghibur dan inspiratif untuk kita semua.