Cerita Fabel

Cerita Fabel – Berikut ini adalah cerita fabel yang merupakan cerita hewan yang diperankan bertingkah laku seperti manusia. Cerita fabel biasanya banyak dipakai sebagai pendidikan moral untuk anak, dimana berbagai ajaran dan pesan kehidupan terkandung dalam tiap ceritanya yang tentunya akan mudah disalurkan melalui cerita yang digemari oleh anak.

Nah, silahkan disimak beberapa cerita fabel yang disajikan berikut ini, semoga bisa menjadi sumber bacaan yang berguna untuk kita semua.

Kumpulan Cerita Fabel Terbaru

Cerita Fabel – Bau Mulut Sang Raja Hutan

cerita fabel anak yang seru

Di sebuah hutan, Singa adalah penguasa hutan. semua binatang sangat menghormatinya. Ia adalah Raja yang sangat bijak dan perkasa. Sehingga, tidak ada binatang yang berani kepadanya. Suatu hari, sang Raja hutan mendapatkan sebuah kiriman daging dari hutan sebelah. daging tersebut sangat lezat dan Raja pun melahapnya. Namun, setelah selesai makan. Ia merasa mulutnya sangat bau dan ternyata daging tersebut dicampuri dengan petai.

Sang Raja pun terdiam di dalam rumah dan tidak pergi kemana pun karena merasa sangat malu. Namun, tidak lama kemudian. Ia pun mendapatkan sebuah ide dan ingin menguji seluruh rakyatnya tentang bagaimana ia memimpin selama ini. Akhirnya, ia pun memanggil tiga binatang dari hutan yaitu, Katak, Kuda, dan Kancil.

‘’ Hai Katak, apakah kau tahu mengapa. Aku panggil kesini?’’ Tanya sang Raja.

Katak pun hanya menggelengkan kepalanya.

‘’ Mendekatlah. Ada hal yang ingin aku tanyakan.’’ Ujar sang Raja.

‘’ Apakah mulutku bau? Bisik Raja kepada Katak.

Bau yang keluar dari mulut Raja tidak dapat Katak sembunyikan dan dengan jujur namun takut.

‘’ Benar sekali Tuanku.’’ Ujar Katak ketakutan.

Mendengar hal tersebut membuat sang Raja sangat marah dan menganggap Katak tidak sopan. Raja pun memanggil Kuda dan menanyakan hal yang sama. Namun, Kuda karena ketakutan menjawab tidak bau dan murkalah sang Raja. Raja sangat marah karena Kuda sudah berbohong. Kuda pun dimarahi oleh sang Raja.

Akhirnya, tibalah giliran Kancil dan memberikan pertanyaan yang sama. Kancil memang mencium bau yang tidak sedap dari mulut sang Raja. Namun, ia sangat bimbang jika menjawab ia dan tidak karena jawabnya pasti akan disalahkan. Tidak beberapa lama kemudian, ia mendapatkan sebuah ide.

‘’ Maaf Raja, kebetulan hari ini saya sedang pilek sehingga tidak dapat mencium bau apapun.’’ Jawab Kancil berbohong.
Sementara, sang Raja hutan hanya tertawa mendengar jawaban Kancil dan tidak jadi memarahinya.

‘’ Kancil, kamu memang sangat cerdik. Jawaban mu itu sudah lolos dari kemarahanku. Sebagai hadiahnya aku akan memberikan sayuran dari kebunku. Ambillah sepuasnya.’’ Ujar sang Raja Singa.

Kancil pun senang mendengar jawaban sang Raja dan pulang dengan membawa sayuran yang sangat banyak. Ia pun tidak lupa membagikan sayuran tersebut kepada dua temannya Katak dan Kuda.


Cerita Fabel – Tupai Yang Sombong

kumpulan cerita fabel paling menarik

Di hutan, Tupai adalah binatang yang sangat terkenal karena kesombongannya. Ia selalu memamerkan ketangkasannya pada saat meloncat. Setiap ia bertemu dengan binatang lainnya, ia selalu mengejek mereka.

‘’ Hei kalian, aku sungguh sangat kasih melihat kalian berjalan-jalan dalam cuaca seperti ini.’’ Ujar Tupai tertawa.

Pada suatu hari, Kura-kura dan Kancil sedang asik bermain menangkap bola. Karena Kancil sangat bersemangat, bola yang ia lemparkan tersangkut hingga dedaunan pohon tepat di samping mereka. Namun, mereka berdua kebingungan bagaimana mengambil bola tersebut.

‘’ Hahaa, kasihan sekali kalian !’’ ujar Tupai

Tiba-tiba Tupai keluar dari balik pohon dan meloncat dengan sangat gembira diantara satu pohon ke pohon yang lainnya. Ia pun mengambil bola yang tersangkut pada dedaunan tersebut.

‘’ Tupai, cepat lemparkan bola kami.’’ Seru Kura-kura.

‘’ Hahaa, tidak! Makannya, kalian jangan menjadi binatang yang hanya bias berjalan dan belajarlah untuk nak ke atas pohon dan melompat ke sana kemari sepetiku!’’ ujar Tupai dengan sombong.

Kancil dan Kura-kura hanya menatap Tupai yang sedang meloncat kesana kemari. Tupai melemparkan bola tersebut ke arah pohon yang berada di depannya. Sehingga, bola tersebut memantul kembali ke arahnya. Selain itu, Tupai pun dapat menangkapnya kembali. Berulang-ulang kali ia melakukan hal yang sama beberapa kali pada bola tersebut.

‘’ Sudahlah Kura-kura, sebaiknya kita berdua pulang saja. Biarkan dia bermain dan bersenang- senang sendirian dengan bola tersebut.’’ ujar Kancil.

Akhirnya, Kura-kura pun setuju dengan ajakkan Kancil.

‘’ Baiklah Tupai, sepertnya kau menyukai bola kami. Sekarang kau boleh memilikinya. Kami akan pulang, kami sudah lelah bermain sepanjang hari.’’ Seru Kancil.
Sementara Tupai terkejut mendengar teriakkan Kancil dan kehilangan konsentrasinya hilang. Sehingga ia tergelincir batang pohon sampai terjatuh, sangat disayangkan ia terjatuh ke dalam kubangan lumpus sisa hujan semalam.

‘’ Byyyyur!’’

Akhirnya, Tupai terjatuh kedalam kubangan dan bola yang di pegangnya di ambil oleh Kura-kura dan Kancil. Sementara, Kura-kura dan Kancil tidak bias menahan dirinya untuk tertawa melihat tubuh Tupai di penuhi dengan lumpur

‘’ Hahaa, kasihan sekali kau Tupai. kami tertawa karena melihat tingkahmu. Kau terlalu menyombongkan diri karena memiliki kemampuan meloncat tapi sekarang, kau jath juga.’’ Ujar Kancil menertawakan.

‘’ Itulah Cil akibatnya untuk orang yang selalu menyombongkan dirinya. Tupai pasti akan malu karena sudah mengalami kejadian ini.’’ Tambah Kura-kura.

Mendengar ejekkan dari Kancil dan Kura-kura, Tupai merasa sangat kesal. Namun, apa yang mereka katakan memang benar. Ia pun berjanji tidak akan bertingkah sombong lagi.

Akhirnya, Tupai kembali pulang kerumah dengan menahan rasa malunya. Ia tidak lagi menyombongkan dirinya. Bahkan, ia malu untuk keluar dari rumahnya. Ia menyadari bahwa, kesombongannya tersebut sudah merugikan dirinya sendiri dan membuat ia tidak di senangi binatang-binatang lainnya.


Cerita Fabel – Kancil Pencuri

cerita fabel unik tentang hewan

Pagi yang sangat cerah. Matahari bersinar dengan indah. Pak Tani bersiap-siap pergi ke ladang dengan sangat gembira dengan memanggul pacul.

‘’Aku akan pergi ke ladang untuk memeriksa kebun timunku, mungkin saja besok sudah bisa dipanen.’’

Sesampainya di kebun timun Pak Tani sangat terkejut. Buah timun di kebunnya banyak yang rusak.

‘’Aduh siapa yang berani merusak buah timunku ini. Mengapa harus dirusak? Aku bukan petani yang pelit, jika ada orang yang mau timunku ambil saja. Tapi tidak untuk dirusak’’

Dengan hati muram Pak Tani pulang ke rumah. Ia menduga-duga hewan apakah yang suka makan mentimun.

‘’Pasti hewan yang merusak dan mencuri kebun mentimun ku adalah si Kancil’’. Gumam Pak Tani.

Pak Tani mencari akal untuk menjebak si Kancil. Pak Tani akhirnya berhasil mencari akal untuk menjebak si Kancil dengan membuat orang-orangan yang di beri pelekat sangat kuat. Menjelang sore orang-orangan itu sudah selesai dibuat dan di bawa ketengah kebun timun untuk di pasang.

‘’ Aku tahu kancil hewan yang sangat cerdik, dia bisa melakukan apa saja untuk mencuri timunku’’.

Ternyata dugaan Pak Petani benar, malam harinya Kancil datang untuk mengambil mentimun. Kancil tertawa melihat orang-orangan yang di buat Pak Tani.

‘’Haha.. hanya orang-orangan, siapa takut?’’

Kancil hanya melewati orang-orangan itu. Ia memakan timun yang muda-muda. Ternyata tak banyak yang di makan si Kancil. Hanya 3 buah timun ia sudah merasa kenyang. Ia juga tidak merusak timun yang lainnya.

Setelah makan timun. Kancil menghampiri orang-orangan yang dibuat Pak Tani, dan sifat jail si Kancil. Ia pukul orang-orangan itu dengan kaki depannya.

‘’Aduh… kenapa melekat seperti ini? Kaki ku tidak dapat di gerakkan!’’ Kancil sangat kaget.!

‘’Hei orang-orangan jelek. Lepaskan kakiku. Kalau tidak, akan kupukul lagi kau!’’

Kancil memukul orang-orangan itu dengan kaki yang satu lagi.

‘’Plak!’’ kini kedua kakinya menempel erat pada baju orang-orangan itu.

Pelekat yang di pasang Pak Petani di baju orang-orangan itu sangat kuat. Kancil tak bisa melepaskan diri. Sekuat tenaga ia berusaha tetapi tidak berhasil. Semalaman Kancil menangis.

Pagi harinya Pak Tani datang.

‘’Ku tangkap kau Kancil. Dasar biang kerok. Kau boleh mengambil makan timunku Cil. Tapi tidak untuk merusak buah yang lain.’’

‘’Ampun Pak Tani. Bukan aku yang merusak timunmu, aku hanya makan 2-3 buah timun. Dan perutku sudah merasa sangat kenyang.

  Cerita Motivasi

Pak Tani tidak percaya dengan perkataan si Kancil. Leher si Kancil di ikat dan di seret Pak Tani ke rumahnya.

Sesampainya di rumah Pak Tani, Kancil langsung diletakkan di dalam kurungan ayam.

‘’Kancil . Batu ini sangat kuat. Kau tak dapat meloloskan diri dari sini. Aku akan pergi sebentar ke pasar untuk membeli bumbu sate.’’

‘’Ampunilah aku Pak Tani, jangan sate aku. Dagingku pahit dan tidak enak.” Si Kancil merengek meminta ampun.

Pada saat Pak Tani pergi ke pasar untuk membeli bumbu sate, ada seekor anjing yang merupakan peliharaan Pak Tani datang menghampiri kurungan si Kancil. Anjing hitam itu bernama Ireng.

‘’Kenapa kau di kurung?’’ Tanya si Ireng.

‘’Apa kau tak tau Reng?’’ Kancil membalas pertanyaan Si Ireng Anjing milik Pak Tani.

‘’Katakan ada apa sebenernya Cil?’’

‘’Begini Reng, aku ini akan di jadikan menantu oleh Pak Tani. Mangkannya Pak Tani pergi ke pasar untuk membeli makanan yang lezat-lezat untukku calon menantunya.’’

‘’Hah..? Kamu itu tidak pantas Cil, badan mu kecil. Lebih baik aku saja yang menjadi menantu Pak Tani. Aku sudah bertahun-tahun menjadi peliharaannya’’

‘’Tapi Pak Tani sudah memilih aku Reng. Sudah sana pergilah kau Ireng!’’

Si Ireng tiba-tiba menggerang marah, ‘’Cil, kalau kau tidak mau aku gantikan sekarang juga batu yang ada di atas kurangan itu akan aku dorong dan lehermu akan ku gigit sampai putus.’’

‘’Wah.. Jangan gitu dong !’’

‘’Mau apa tidak?’’

‘’Baik-baik aku turuti keinginanmu.’’

Si Ireng mendorong batu hingga terjatuh, kurungan itu terbuka dan Kancil keluar dari kurungannya. Sedangkan Ireng menggantikkan Kancil masuk ke dalam kurungan.

‘’Selamat Ireng, sebentar lagi kau akan menjadi menantu Pak Tani.’’ Kata Kancil sambil berlari kencang.

Sesaat kemudian Pak Tani datang. Ia sangat kaget melihat Kancil yang berada di kurungan berubah menjadi Ireng anjing peliharannya.

‘’Hormat saya calon mertua.’’ Kata anjing dengan gembira.

‘Calon Mertua katamu? Hey kamu kemanakan si Kancil.’’ Pak Tani bertanya dengan nada gusar.

‘’Sudah pergi ke hutan Pak Tani !’’

‘’Kau sungguh-sungguh mau menjadi menantuku?’’

‘’Benar sekali tuan.’’ jawab Si Ireng dengan gembira.

‘’Sekarang keluarlah dari kurungan itu, lau duduklah yang manis dan pejamkan mata. Aku akan segera memanggil putriku didalam rumah.’’

Ireng segera menuruti permintaan dari Pak Tani. Dia sangat gembira karena akhirnya dia bisa menjadi keluarga dari Pak Tani.

‘’Ini hadiah untukmu !’’ teriak Pak Tani memukul kepala dan punggung si Anjing.

‘’Tungguuuuuu…! Bleg ! bleg !. ampuuuunnn..!’’

Si Ireng menjerit dan melarikkan diri. Dia baru sadar bahwa telah terjebak dalam tipu muslihat si Kancil. Ia sangat marah karena ditipu si Kancil. ‘’ Awas kau Kancil jika nanti ketemu akan ku gigit kau!’’ Ireng yang sangat marah karena di tipu si Kancil. Seluruh badannya masih terasa sakit setelah di pukul Pak Tani. Anjing berlari sangat kencang mengejar si Kancil.

Kancil sudah mencoba berlari sekencang yang dia bisa. Namun kecepatan si Kancil memang belum bisa dibandingkan dengan Ireng yang merupakan anjing pemburu, maka dalam beberapa saat Si Ireng sudah bisa berada di belakang.

‘’Wah gawat. Ireng sudah berada dibelakangku,’’ kata Kancil dalam hati. ’’Aku harus segera bersembunyi.’’

Pesan Moral dari Fabel cerita rakyat Kisah si Kancil Mencuri Mentimun adalah Janganlah kita melakukan kejahatan seperti mencuri karena sepandai-pandainya kita menyembunyikan kejahatan pasti suatu saat akan ketahuan juga. Sebelum bertindak berpikirlah yang matang, jangan sampai menyesal dikemudian hari seperti si Ireng anjing milik Pak Tani.


Cerita Fabel – Si Badak, Si Cacing Dan Si Kodok

cerita fabel terbaru dan terbaik

Sudah berbulan-bulan lamanya musim kemarau panjang datang. sementara itu hujan belum menampakan tanda-tanda akan turun. Siapapun pasti akan tersiksa. terutama warga rawa. Lompatan Kodi Kodok jadi tak selincah biasanya. Cica si Cacing juga setengah mati menggali tanah. semua lesu, dan yang nampak paoing tersiksa adalah Bidi si Badak! karena kulitnya yang tebal harus direndam didalam air agar suhu tubuhnya tidak kepanasan.

Meskipun begitu, mereka tidak ada yang mengeluh. Karena semua sama-sama memahami, yang lain pasti sama tersiksanya. Sebagai pimpinan di rawa, Bidi Badak mengkhawatirkan nasib teman-temannya. Makanya, Bidi Badak mulai gelisah mencari kolam baru.

Tanpa sepengetahuan warga rawa lain, ia mennyusuri piinggiran hutan yang jauh dari rawa.

“Hai, kalian tahu dimana Bidi? Hari ini jadwalku makan kutu sekaligus membersihkan kulitnya.

”Tanya gelatik kepada Cica Cacing dan Kodi Kodok yang kebetulan tinggal tidak jauh dari kolam Bidi.

“Kwookkk! Aku tidak tahu,” Jawab Kodi Kodok.“Dari subuh Bidi sudah tidak ada di kolam”

“Hah? Dari subuh? Kira kira kemana ya?”

“Entahlah, tapi kalo di perhatikan, Belakangan ini di nampak gelisah.”

Jawab Cica Cacing. “Mungkin karen air rawa mulai menyusut. Sampai setengah lututnya Bidi pun tidak!”

“Wah jangan-jangan dia mencari rawa baru dan meninggalkan kita!”

“Ishhh.. Bidi itu pemimpin yang bertanggung jawab, tahu! Dia tidak mungkin meninggalkan kita begitu saja.”

“Bidiiiii!!!! Kamu dimana sih?” Semua warga rawa mulai sibuk mencarinya.

Menjelang malam Bidi baru nampak lagi di kolamnya. Langsung saja seluruh teman-temanya menanyakan.

“Maaf sudah membuat kalian semua kawatir, tadi aku mencari rawa yang lebih banyak airnya,” jawab Bidi.

“Kwookkk..kamu ga akan meninggalkan kamin ketempat barukan, Bidi?”Tnya Kodo Kodok kawatir.

“Tidak Kok, justru aku akan mencari rawa yang banyak airnya untuk kita semua.Tapi rasanya,tidak ada rawa yang lebih nyaman dari tempat kita.

“Cippp..Cippp..betul itu! Duh, kami kira kamu akan meninggalkan kami…”

“Ya ampun, aku tuh justru mengkhawatirkan kalian! Sudah lama rasanya aku tidak mmelihat Kodi melompat dan berenang riang, Cica Cacing juga tampak kepayahan menggali tanah.Ya kan ?”

“Ah, kau baik sekali sudah memikirkan kami.Tapi, kami juga yakin kulitmu juga butuh air, kan?‟ tanya temanya yang lain.

Bidi hanya tersenyum lebar, memperlihatkan gigi-gigi gendutnya.

“Kemarau kali ini memang parah banget, kawan-kawan..”Tiba-tiba Gala Gajah muncul dari balik semak-semak. “Harusnya pertengahan bulan ini hujan sudah turun”

“Eh, bagai mana kalo kita tambah saja air rawa ini?” Usul Bidi spon-tan. “Tadi sewaktu jalan-jalan, aku sempat melewati air sungai di kaki bukit. Di sana, air masih mengalir meskipun tidak sederas biasanya.”

“Boleh juga idemu! Tapi, bagaimana cara membawa airnya, ya?” Caca Cacing membayangkan jaraknya. “Eh, Gala … belalaimukan panjang tuh. Bisa menyimpanair.

“Waduh, tapi kalau hanya Gala yang bawa air, kapan penuhnya?” ujar Kodi Kodok.

“Ya nggak dong! Kita kan mesti gotong royong!” kata Cica Cacing lagi.

“Tapi, badanku kecil, mana bisa bawa air banyak-banyak?” tanya Kodi lagi.

“Kita kerumah pak Beyu saja! Berang-berang yang tukang kayu itu!.

Dia kan suka menyimpan perkakas bekas! Siapa tahu dia punya panci, ember, atau apapun yang bisa menyimpan air.” pekik Joli Gelatik tiba-tiba.Teman-temanya pun setuju.

Dari rumah Pak Beyu, mereka di bekali beberapa panci bekas yang sudah di tambal, dan ember yang cukup besar untuk menampung air. Wah, Pak Beyu memeng pintar memperbaiki peralatan.

Rombongan warga rawa pun berbondong-bondong menuju kesungai di kaki bukit. Joli dan beberapa temanya menciduki air ke ember dengan dedaunan. perlahan tapi pasti, ember dan panci mulai penuh air. Gala menyedot air sebanyak mungki, kemmudian dia memikul panci yang di penuhi dengan air. Ember di punggung Bidi perlahan mulai penuh. Beberapa kali mereka bersama-sama bolak-balik mengangkut air antara sungai dan rawa hingga air cukup untuk beberapa waktu kedepan.

Setelah seharian penuh mengisi rawa, Bidi dan teman-temanya beristirahat dan menikmati hasil kerja sama mereka. Kodi melampat dan berenang sangat riang. Cica mulai menggali tanah dengan lebih mudah. Bidi berendam dengan santai sementara Joli bisa berkicau dengan riang karena bisa memakan kutu dikulit Bidi denagan tenang.

Semuanya bersuka cita, masalah air rawa bisa di tangani bersama dan kemarau bisa di lalui warga rawa dengan ceria.


Cerita Fabel – Gong Ajaib

cerita fabel untuk anak tk dan sd

Di tengah hutan, terdapat sebuah pohon rindang. Daunnya subur, cabang-cabang dan rantingnya sangat banyak. Di pohon itu banyak sekali tawon hutan yang bergerombol membuat rumah. Di hari ke hari semakin bertambah jumlah tawon-tawon tersebut, ketika tawon-tawon itu bergerombol di sarangnya, kelihatan seperti sebuah benda hitam yang sedang bergantung di ranting pohon.

Ketika matahari sangat menyengat. Si Kancil berlari-lari kecil menuju pohon rindang itu. Ia ingin berteduh sambil melepaskan lelah. Saat melihat ke atas, tiba-tiba matanya yang tajam melihat ada benda yang tergantung diranting pohon tepat di atas kepalanya. Cukup lama dia diam sambil mengawasi benda hitam tersebut, hingga akhirnya ketika ada beberpa tawon yang berterbangan dan hinggap pada benda itu, ia baru mengetahui bahwa benda yang bergantung itu tidak lain adalah tawon yang sedang bergerombolam.

  Cerita Lucu

Yakin benda itu adalah sarang tawon yang cukup besar dalam hatinya ingin sekali menikmati madu yang ada di dalamnya. ‘’Tapi bagaimana cara mendapatkan madunya? Cukup lama si Kancil berpikir untuk menemukan cara yang di anggapnya paling tepat untuk mengambil madu. Pada saat yang sama tiba-tiba datang Harimau. Air liur Harimau keluar dari sela-sela giginya yang tajam begitu melihat si Kancil yang kecil dan mulus.

‘’Hem, pastilah dagingmu sangat lezat untuk makan siangku Kancil.’’gumam Harimau. Kancil gemetar ketakutan, namun hewan cerdik itu menyembunyikan rasa takutnya.

‘’Oh, kamu Harimau!’’ sahut si Kancil. ‘’Sepertinya kamu kelaparan siang ini.’’

‘’Benar Cil ! Dan relakah dirimu untuk kumakan.’’

‘’Berarti kau akan membunuhku?’’

‘’Itu sudah jelas!’’

‘’Tapi tunggu dulu…kau harus dengar kata-kataku.’’

‘’Apalagi Cil? Aku ini sudah sangat lapar. Dari pagi belum makan sama sekali.”

‘’Aku disini sedang menjalankan tugas!’’ kata si Kancil setelah diam beberapa detik mencari alasan untuk menyelamatkan diri.’’

‘’Tugas apa itu Cil?’’ Tanya Harmau penasaran.

‘’ Ini aku disuruh oleh Nabi Sulaiman untuk menjaga gongnya.’’

‘’Apa? Kamu disuruh menjaga menjaga gongnya Nabi Sulaiman? Dimana gong itu?

‘’Itu..!’’ jawab si Kancil sambil menunjuk benda yang bergantung di ranting pohon. ‘’Gongnya itu milik Nabi Sulaiman. Sedangkan beliau sedang pergi!’’

‘’Apakah kamu sudah pernah mendengarkan bunyi gong itu Cil?’’ Tanya Harimau.

‘’Oh… tentu kawan!’’ jawab Kanci. “Bunyinya sangat merdu sekali.’’

‘’Coba kamu pukul Cil! Aku ingin mendengarnya, ‘’pinta Harimau.

‘’Oh jangan..jangan…! Sekali-sekali jangan di pukul, nanti aku mendapatkan marah dari baginda Nabi Sulaiman. Aku tidak mau di hukum karena melanggar perintah..’’

‘’Cuma sekali saja Cil. Masa kamu tidak mau! desak Harimau

‘’Tidak.. aku tidak mau!’’ jawab si kancil menolak.

‘’Kalau begitu aku sendiri yang akan memukulnya.’’ Pinta Harimau

‘’Kamu juga tidak boleh tanpa ijin Nabi Sulaiman.’’

‘’Kamu jangan macam-macam Cil! Kalo kamu tidak membiarkan aku memukul gong itu. Maka sekarang juga kau aku terkam.’’

‘’Jangan dong.’’

‘’Jadi biarkan aku memukulnya.’’

‘’Wah gawat!’’

‘’Gawat gimana? Apa maksudnya?’’

Kancil berkata lirih,’’ Sebenarnya gong ini bukan hanya bersuara merdu. Tapi siapa yang memukulnya dan mendengar suaranya akan ditakuti semua binatang lain. Artinya dia akan menjadi raja di hutan ini.’’

Mendengar keterangan itu Harimau makin penasaran. Ia mendengus dan siap menerkam si kancill. Kacil ketakutan. Harimau tidak main-main. ‘’Baiklah kalau kamu tetap memaksa kawan! Tapi tunggu dulu! Karena aku tidak mau kena hukuman Nabi Sulaiman, maka aku harus pergi dulu. Baru setelah aku pergi jauh kamu boleh memukul gong itu.’’

‘’Aku setuju Cil!’’ jawab Harimau. ‘’Kalau begitu cepatlah kamu tinggalkan tempat ini.’’

‘’Selamat tinggal kawan! Semoga kamu bisa menikmati suara merdunya suara gong itu,’’ kata si Kancil.

Setelah mengira si Kancil pergi cukup jauh. Harimau pun kemudian mengambil ranting kayu kering yang bergeletak di tanah, tidak jauh dari tempatnya berdiri. Ia segera mendekati benda hitam itu tanpa mengamat-amati terlebih dahulu dan langsung mengayunkan ranting tersebut. ‘’Bukk..Buk…! Dua kali Harimau memukulnya dengan keras. Saat itulah gong yang dipukulnya bukan gong, tetapi rumah tawon. Tawon yang bergerombol itu langsung mendengung marah.

Harimau terkejut bukan main. Ia baru menyadari yang dipukulnya itu bukan gong, tetapi rumah tawon. Tawon-tawon itu dengan ganas menyerbu Harimau.

“ Kancil keparat kau sudah menipuku!’’ teriak Harimau kesakitan karena disengat puluhan Tawon.

Harimau langsung lari meninggalkan tempat itu. Ia tidak ingin disengat lebih banyak lagi 0leh tawon-tawon hutan yang sangat ganas tersebut.

Si Kancil yang bersembunyi di balik semak-semak hanya tertawa kecil melihat apa yang telah dialami Harimau. Dia sangat senang karena keinginannya untuk mendapatkan madu tawon, sebentar lagi akan terwujudkan. Sebab setelah rumah tawon tersebut di pukul oleh Harimau, banyak sekali madunya yang berceceran di tanah. Sesaat setelah tawon-tawon itu tenang kembali, mulailah si Kancil mendekati tempat itu dan memakan madunya yang sangat lezat.

Sedang asyik-asyiknya menyantap madu. Tanpa di sadari oleh si Kancil, ada seekor tawon yang hinggap di hidungnya dan menyengatnya.’’ Aduh…!’’ teriak si Kancil sambil melompat-lompat kesakitan.

Si Kancil merasakan kesakitan yang luar biasa. Sambil menahan sakit. Ia pun bergegas pergi meninggalkan tempat itu.

Pesan Moral dari Cerita Fabel Nusantara : Gong Ajaib adalah dalam setiap kesulitan pasti ada jalan keluar. Hendaknya kita terus berusaha dan berpikir jernih walaupun kondisi sangat tidak mendukung


Cerita Fabel – Lomba Terbang Burung

cerita fabel hewan dan tumbuhan terbaik

Pada suatu hari. Burung-burung berkumpul dan memutuskan mereka harus mempunyai raja. Singa adalah raja hewan yang berjalan di tanah, tetapi burung ingin mempunyai raja sendiri.

Kemudian burung pergi menemui singa dan memintanya untuk memanggil semua burung untuk mengadakan sebuah pertemuan.

Wakil semua burung berkumpul, dan memutuskan siapa yang akan menjadi raja. Singa menanyakan para burung bagaimana cara burung memilih siapa yang akan menjadi raja. Para burung berpikir dan berpikir, tetapi mereka tidak menemukkan cara yang tepat. Sebenarnya, Elang ingin mengusulkan, bahwa raja burung harus memiliki kemampuan terbang tinggi. Elang sadar bahwa dialah burung yang dapat terbang tinggi. Tetapi, ia tidak mau jika burung lain berpikir, bahwa dia sendiri yang ingin menjadi raja. Burung Beo berkata ‘’ Seharusnya yang menjadi raja adalah dirinya, karena, meskipun tubuhnya kecil tetapi ia sangat cerdik.’’

Burung Bulbul berkata “ Saya mengusulkan sebuah perlombaan bernyanyi, tetapi sayalah burung yang dapat bernyanyi dengan baik. Jika bernyanyi menjadi persyaratan, sayalah yang akan menjadi raja. Kita memerlukan sebuah cara yang adil untuk mengadakan perlombaan ini. Karena tuhan menganugrahkan kita sayap, maka saya mengusulkan, bahwa burung yang terbang paling tinggilah yang yang patut menjadi raja.’’

Mendengar usul ini, si Elang merasa sangat senang. Ia tau bahwa dirinyalah yang dapat terbang paling tinggi. Ia berkata ‘’ Ya, saya juga berpikir cara itu yang paling baik.’’

Burung Beo pun berkata, ‘’ Ya, saya pikir cara ini sangat baik. Siapapun yang terbang paling tinggi dia harus siap menjadi Raja.’’

Kemudian, dengan gerak cepat dan diam-diam, burung Beo terbang ke punggung burung Elang, tetapi Elang tidak menyadarinya. Burung Beo sangat ringan, sehingga burung Elang tidak tahu. Bahwa burung Beo tersebut berada di punggungnya. Burung Elang terbang tinggi dan tinggi sampai ke langit.

Ketika semua burung mandarat, mereka berkata ‘’ Karena burung Elang terbang paling tinggi. Maka burung Elanglah yang menjadi Raja kita.’’ Kemudian mereka melihat burung Beo berada di atas punggung burung Elang. Mereka pun berkata ‘’ Tidak, ternyata burung Beo terbang paling tinggi. Burung Beo, merupakan burung yang paling cerdik dan akhirnya mereka menobatkan burung Beo menjadi Raja burung.’’

Pesan Moral dari Cerita Fabel Terbaru Lomba Terbang Burung adalah bahwa kecerdikan dapat mengalahkan kekuatan. Jangan menganggap sepele orang lain yang kita anggap lemah, bisa jadi orang itu mempunyai kelebihan yang tidak kita miliki


Cerita Fabel – Kambing, Beruang dan Harimau

cerita fabel yang unik dan menarik

Alkisah hiduplah seekor induk kambing pada zaman dahulu kala. Si Induk Kambing mempunyai seekor anak. Keduanya menjadi hewan peliharaan Raja Sudrajat.

Pada suatu hari raja Sudrajat berniat menikahkan putranya dengan putri dari negeri seberang. Karena terjadi musim kemarau yang berkepanjangan, Raja Sudrajat lantas mengundang sanak saudara dan para kerabat untuk mewujudkan keinginannya tersebut. Pada saat pertemuan dengan sanak saudara serta para kerabat, Raja Sudrajat mengutarakan niatnya akan menyembelih dua kambing peliharaanya untuk pesta pernikahan anaknya.

Anak kambing yang tengah berada dihalaman istana raja mendengar rencana sang raja untuk menyembelih dirinya dan induknya. Si anak kambing lantas membangunkan induknya yang tengah tidur. Katanya, “ ibu, aku mendengar rencana raja Sudrajat akan menyembelih kita pada pesta pernikahan putra sribaginda. Aku sangat takut bu. Apa yang harus kita lakukan.”

Induk kambing lalu mengajak anaknya melarikan diri.” Ayo kita pergi dari sini sekarang juga.”

Induk kambing dan anaknya pergi keluar istana dengan mengendap-endap. Kegelapan malam membantu pelarian mereka hingga sampai ke tepi hutan. Walaupun sesungguhnya mereka takut memasuki hutan, namun mereka tetap membulatkan tekadnya untuk bisa bersembunyi dari para pengawal istana.” Lebih baik kita bersembunyi di hutan daripada kita disembelih.” Kata induk kambing.

Induk kambing dan anaknya terus berjalan memasuki lebatnya hutan belantara. Keduanya berjalan tidak tentu arah karena yang paling penting untuk mereka adalah dapat menghindar sejauh mungkin dari kejaran Raja Sudrajat dan para pembantunya. Mereka terus berjalan hingga fajarpun muncul. Karena lelah mereka beristirahat terlebih dahulu.

“Ibu aku sangat lapar,” Ujar si Anak kambing.

Mereka mendapati ditempat mereka berisitirahat banyak sekali ditumbuhi rumput segar. Keduanya kemudian menyantap rumput itu dengan sangat lahap. Pada saat itulah mereka mendengar suara auman yang menggelegar.

Tubuh si induk kambing dan anaknya seketika gemetar. Mereka tahu itu adalah suara harimau si raja hutan. Mereka sangat ketakutan. Mereka merasa sia-sialah pelarian mereka ke hutan, karena mereka tahu harimau sangat suka sekali memangsa kawanan mereka.

  Cerita Dongeng

Induk kambing dan anaknya segera bersembunyi dibalik pohon besar. Namun malang harimau si raja hutan tahu tempat persembunyian mereka. “Hei kambing sedang apa kalian.” Teriak si harimau.

Begitu takutnya induk kambing, hingga dia menjawab terbata-bata.” Kami sedang makan bawang.”

Pada saat yang sama tidak jauh dari tempat persembunyian si kambing lewatlah seekor beruang besar. Si beruang mendengar ucapan induk kambing, dan karena ucapan induk kambing terbata-bata, si beruang menyangka jika si induk kambing sedang memakan beruang. Si beruang yang selama hidupnya belum pernah melihat kambing, menjadi ketakutan. Dia segera memanjat pohon untuk menghindar menjadi mangsa si kambing.

Si harimau terheran-heran melihat si beruang memanjat pohon dengan tergesa-gesa,” Apa yang sedang kau lakukan wahai beruang sahabatku?”

“Ada kambing yang sedang memangsa beruang.” Jawab si beruang masih dengan ketakutan.

Harimau tertawa terpingkal-pingkal mendengar ucapan si beruang.” Apa katamu? Ada kambing yang sedang memangsa beruang?”

“Ya.” Jawab si beruang

“Engkau salah mendengar wahai beruang. Kambing tidak makan beruang, tetapi dia sedang memakan bawang.”

Si beruang tidak begitu saja percaya dengan ucapan si harimau. Dia bahkan menyangka si harimau hendak menjerumuskannya sehingga dia bisa dimangsa oleh kambing. Dia berpikir harimau sedang berbohong padanya.

“Aku tidak berbohong turunlah.” Jawab si harimau.” Kambing tidak makan beruang, tetapi dia sedang memakan bawang.” Ucap si harimau mencoba kembali meyakinkan si beruang.

Si beruang tetap saja ketakutan.” Harimau, aku mau turun asalkan engkau bersedia mengawalku. Bahkan aku bersedia berkenalan dengan si kambing jika engkau bersedia mengawalku.”

“ Pengawalan macam apa yang engkau kehendaki wahai beruang?” tanya si harimau.

“Aku ingin ekor kita diikat satu sama lain. Dengan cara itu maka engkau telah menunjukan niat baikmu tidak menjerumuskanku untuk dimangsa kambing. Dan yang penting engkau tidak pergi meninggalkanku.”

Si harimau akhirnya setuju. Si beruang pun turun dan segera mengikatkan ekornya pada ekor harimau.

Semua percakapan harimau dan beruang didengar oleh induk dan anak kambing. Sebenarnya mereka sudah dari tadi ketakutan karena saat ini tengah berhadapan dua pemangsa yang ganas yaitu harimau dan beruang. Namun karena mereka menyadari jika beruang takut bertemu mereka, otak cerdik induk kambingpun muncul.

“Hai beruang bodoh, apakah kamu berpikir dengan bersama harimau kamu akan selamat. Justru aku akan segera mengoyak-oyak tubuh kalian berdua.” Teriak ibu kambing.

Teriakan Induk kambing sangat mengagetkan beruang. Saking takutnya dia segera berlari tunggang langgang menyeret harimau yang masih terikat padanya. Berkat kecerdikan nya, induk dan anak kambing selamat dari harimau dan beruang.

Pesan moral dari Dongeng Cerita Fabel Kambing, Beruang dan Harimau. Kecerdasan dan keberanian akan dapat mengalahkan kekuatan atau keperkasaan. Akal akan dapat mengalahkan otot. Oleh karena itu kita hendaklah tetap mengedepankan kecerdasan dan kecerdikan ketika dihadapkan situasi dan keadaan bagaimanapun juga. Termasuk kondisi yang berbahaya sekalipun


Cerita Fabel – Tupai Dan Burung Nuri

cerita fabel dan cerita legenda dongeng rakyat

Sore dengan sinar mentari terbenam memberikan cahaya yang menguning tanda malam menjelang datang, saat itu adalah akhir dari musim hujan menjelang musim kemarau. Keluarga tupai terlihat sibuk lalu lalang memindahkan makanan berupa biji-bijian yang telah dikumpulkan oleh mereka selama musim hujan kedalam sarang yang telah mereka buat, saat itu pula datanglah seekor burung nuri dengan tampilan yang sangat cantik, berwarna merah serta melantunkan lagu-lagu yang merdu, namun burung nuri itu terlihat sangat kelelahan dan merasa sangat lapar.

Keluarga tupai itu terheran-heran dengan keadaan burung nuri tersebut, namun mereka mengacuhkannya karena mereka masih sibuk mengurusi makanan yang dibawa ke sarangnya. Burung nuri itu melihat dengan seksama apa yang dilakukan oleh keluarga tupai itu. Lalu burung nuri itu mulai mendekati salah satu dari mereka, dan dia bertanya “Apa yang sedang kalian lakukan wahai?” salah satu tupai itu menjawab “Apa kau tidak melihat, kami sedang sibuk mengumpulkan makanan untuk menghadapi musim kemarau yang sebentar lagi akan tiba!” Burung nuri itu kaget saat ini dia sama sekali tidak memiliki apa-apa untuk menghadapi musim kemarau nanti, sedangkan musim kemarau adalah musim sulitnya mendapatkan makanan.

Bahkan saat ini dia merasa sangat lapar, burung nuri itu meminta kepada keluarga tupai untuk membagi makanan dengannya. Permintaan burung nuri itu membuat keluarga tupai itu gusar.

“Bolehkah kau membagi makan denganku?” pinta burung nuri, “Apa?!”, Tanya tupai kepada burung nuri, dengan nada marah, “Kenapa kamu meminta kami untuk berbagi makanan dengan kamu, lalu selama musim hujan ini apa yang kau lakukan?” Tanya tupai kepada burung nuri.

“Ah, selama ini aku sama sekali tidak berpikir untuk mengumpulkan makanan seperti kalian,” jawab burung nuri, “Aku sibuk sekali dengan berlatih bernyanyi, dan ternyata musim hujan akan segera berganti dengan musim kemarau.” keluh burung nuri.

Para tupai merasa sangat marah dengan apa yang dilakukan oleh burung nuri itu, salah satu tupai melompat mendekati burung nuri itu, lalu berkata. “Apa, berlatih bernyanyi katamu? Kau tidak sadar dengan apa yang kau lakukan, kau membuang waktumu itu dengan hal yang sia-sia. Mengapa tak kau sempatkan sedikit waktumu untuk mengumpulkan makanan seperti kami? Baiklah sekarang kau selesai dengan latihan bernyanyimu itu, sekarang saatnya kau berlatih menari!”.

Kemudian tupai itu meninggalkan burung nuri tersebut, tupai itu segera melanjutkan tugasnya membawa makanan ke sarang mereka. Burung nuri itu hanya terdiam meratapi kesalahannya, dia menyesal telah membuang waktunya dengan sia-sia sehingga mengakibatkan hal yang tidak baik padanya. Lalu di saat itu pula burung nuri dengan tergesa-gesa mencari makanan untuk dia kumpulkan, namun dia terlambat karena hari sudah menjelang malam. Dan walaupun burung nuri itu mengumpulkan makanan, makanan itu tidak cukup untuk menghadapi musim kemarau.

Pesan Moral dari Dongeng Fabel : Tupai dan Burung Nuri adalah Gunakanlah waktumu sebaik mungkin untuk hal yang berguna. Jangan karena ingin dipuji kamu melakukan hal yang tidak bermanfaat


Cerita Fabel – Persahabatan Singa Dan Tikus

cerita fabel yang diadopsi menjadi film animasi
cerita fabel yang menginspirasi

Di sebuah hutan yang lebat hiduplah seekor singa perkasa yang semua makhluk lain sangat takut kepadanya. Raja hutan tersebut dikenal sangat mengerikan, tidak mengenal rasa takut dan dia merasa harus dihormati oleh semua makhluk yang ada di hutan. Dia menghabiskan sebagian waktunya dengan berburu dan sebagian lagi untuk tidur. Tidak ada makhluk hidup yang ada di hutan berani mendekati sarangnya terutama saat singa sang raja hutan sedang tidur. Binatang perkasa itu sangatlah marah jika tidurnya terganggu dengan cara apapun.

Tapi suatu hari tikus kecil sangat penasaran ingin melihat bagaimana sarang Singa si Raja hutan. Dengan niat yang bulat dia berangkat ke gua dimana singa biasa beristirahat. Namun ketika dia sampai, dia tidak melihat adanya sang raja hutan.

“Dia pergi ke suatu tempat. Apakah dia akan segera kembali?” Timbul pertanyaan dalam hati si tikus kecil. Untuk mengobati rasa penasarannya si tikus kecil masuk menyelinap kedalam gua. Gua itu sangatlah gelap, ditanah dia melihat jejak kaki sang raja hutan, dan jejak kaki besar itu membuatnya sangat ketakutan.

“Sepertinya aku harus segera kembali.” Pikiri si tikus.

Namun malang, saat itu terdengar suara langkah kaki singa memasuki gua.

“Oh tidak dia akan segera masuk. Apa yang harus aku lakukan.” Si tikus gemetar.

Ternyata singa si raja hutan hanya pergi untuk minum di sungai, dan dia datang kembali untuk beristirahat.

Si tikus bersembunyi di dalam gelap gua dan melihat bayangan besar singa jatuh dilantai. . Singa duduk dekat pintu masuk gua dan beristirahat kepalanya di kaki yang besar. Segera ia tertidur pulas. Seluruh gua tampak bergetar dengan mendengkur keras raja hutan.

Si tikus berusaha merayap keluar secara diam-diam yang dia bisa. Segera ia berada di dekat pintu masuk. Tapi saat dia mencoba untuk menyeberangi singa, ekor kecilnya menyerempet kaki kiri dari Sang raja hutan, dan penguasa hutan terbangun dengan kaget. Terlihat kemarahannya saat dia melihat tikus kecil di sarangnya.

Walaupun takut si tikus tidak kehilangan akal, dia segera berlari. Namun malang singa segera dapat menangkapnya. Sang raja hutan membuka rahang untuk menelan tubuh si tikus kecil.

Si tikus kecil seketika berteriak.” Maaf, ya Raja, saya tidak bermaksud membangunkan anda, saya hanya mencoba untuk meninggalkan gua ini dimana selama ini saya sangat penasaran ingin melihatnya. Mohon biarkan saya pergi kali ini, dan saya tidak akan pernah lupa kebaikan Anda. Jika takdir memberi saya kesempatan, saya akan membantu Anda dengan cara yang saya bisa pada salah satu nanti. ”

  Cerita Rakyat

Singa merasa geli mendengar ucapan si tikus. Bagaimana tikus kecil membantunya? Tapi dia membiarkan tikus kecil itu pergi dan tertawa terbahak-bahak. Si tikus berlari untuk menyelamatkan hidupnya, dia sangat berterima kasih kepada sang raja hutan yang tidak jadi memakannya.
fabel singa dan tikus

Beberapa hari sejak kejadian itu, seperti biasa singa sang raja hutan pergi berkeliling. Pada suatu saat , tiba-tiba dia terjebak dalam jerat pemburu. Dia berjuang mati-matian untuk membebaskan diri. Namun semua usahanya tidak menunjukan hasil, dia hanya menemukan dirinya bahkan lebih terjerat kuat dalam jaring tali pemburu. Dia meraung dalam kemarahan dan ketidakberdayaan. Seluruh hutan mulai gemetar karena suara mengerikan dan setiap binatang mendengar teriakan sang raja hutan. Si tikus pun mendengarnya.

“Penguasa hutan dalam kesulitan.” pikir mouse. “Ini adalah kesempatan saya untuk bisa membantu dia sekarang”.

Berpikir demikian, si tikus berlari secepat yang dia bisa menuju tempat di mana suara itu berasal. Segera ia menemukan singa terperangkap dalam jerat pemburu.

“Jangan bergerak, Yang Mulia, saya akan memotong tali Anda dan Anda akan segera bebas” cicit si tikus. Tanpa membuang waktu, dia mulai menggigit tali dengan gigi kecilnya yang tajam. Segera singa itu terbebas.

“Saya tidak percaya menyangka bahwa bahkan Anda bisa membantu saya. Selama ini saya salah.” kata singa rendah hati. Dan akhirnya dua makhluk itu menjadi sahabat terbaik mulai hari itu.

Pesan Moral dari Fabel Kisah Persahabatan Singa dan Tikus adalah Jangan pernah menyepelekan orang lain, karena bisa jadi dia memiliki kemampuan yang tidak kita ketahui serta Kebaikan akan selalu dibalas dengan kebaikan.


Cerita Fabel – Kerajaan Tikus dan Kucing

cerita fabel yang asik dan patut disimak
cerita fabel hewan

Dahulu di Pakistan terdapat sebuah rawa bernama Dawran. Rawa itu ratusan kilometer panjangnya. Di tengah rawa tersebut terdapat sebuah kota bernama Aydazinum. Kota itu memiliki banyak hal menarik. Penduduknya sangat sejahtera hingga bisa mendapatkan apapun yang mereka inginkan.

Di dalam kota itu ada seekor tikus bernama Mezra yang dinobatkan sebagai Raja Tikus di wilayah tersebut. Kekuasaan Mezra bahkan meluas hingga ke desa-desa dipinggir kota. Untuk membantunya dalam memimpin para tikus, dia dibantu oleh tiga orang penasehat yang cerdas dan pemberani.

Suatu hari para penasehat berkumpul dengan sang raja tikus untuk membicarakan berbagai masalah yang terjadi di sekitar kerajaan mereka. Di tengah perbincangan, Mezra Raja Tikus berkata,” Apakah mungkin membebaskan diri kita dari teror kucaing? Kita sudah sangat lama di tindas oleh para kucing itu.”

“Meski kita hidup nyaman dan memiliki banyak kesenangan dalam hidup, ketakutan kita terhadap kucing telah melenyapkan semua kenikmatan tersebut. Saya harap kalian bisa memberi saran bagaimana mengatasi masalah ini. Apa yang kalian pikir harus kita lakukan?”

“Saran saya.” Ujar penasehat pertama.” Adalah mengumpulkan sebanyak mungkin lonceng kecil dan mengalungkan bel itu ke leher setiap kucing sehingga kita dapat mendengar mereka datang dan memiliki waktu untuk bersembunyi di lubang-lubang kita.”

Raja menoleh ke penasehat kedua dan berkata.” Bagaimana menurut kamu tentang sarannya itu.”

“Saya pikir itu sarang yang kurang baik.” Ujar penasehat kedua.” Siapa yang berani memasang lonceng di leher kucing meskipun kepada seekor anak kucing?”

“Menurut saya, kita harus mengungsi untuk sementara waktu ke desa. Ketika kota kosong, kucing akan mencari di kota lain yang banyak tikusnya. Sehingga ketika kucing sudah tidak ada di kota kita, kita dapat kembali dengan aman.” Lanjut penasehat kedua.

Mezra, sepertinya masih kurang puas dengan ide dari penasihat kedua. Dia lalu menoleh ke penasehat ketiga yang dikenal paling cerdas dan bijaksana.” Menurutmu bagaimana dengan saran tersebut.”

Penasehat ketiga menggeleng.” Saya tidak setuju. Jika kita meninggalkan kota dan tingal di desa, bagaimana bisa kita pastikan kucing-kucing itu akan menghilang, yang saya tahu sebagian besar kucing di kota ini menjadi peliharaan para pemiliknya. Andaipun mereka pergi ke kota lain, tidak ada jaminan bahwa mereka tidak akan kembali. Yang lebih penting adalah tentang keselamatan para tikus. Kehidupan di desa jauh lebih berat dibandingkan dengan di kota. Disana bukan hanya hidup para kucing liar tetapi banyak binatang liar lain yang juga memangsa bangsa kita, beberapa diantaranya ular dan burung elang.”

“Saya setuju dengan pendapatmu itu.” Ucap sang Raja.” Lalu apa menurutmu jalan keluar yang terbaik untuk masalah ini.”

“Saya berpendapat satu rencana yang paling masuk akal dan dapat kita lakukan. Raja harus memanggil seluruh tikus di kota dan memerintahkan mereka membangun lorong di dalam rumah-rumah orang kaya yang menghubungkan ke semua ruang dalam rumah.”

“Lalu kita masuk ke terowongan itu, tapi kita tidak akan menyentuh makanan manusia. Tugas kita hanya merusak pakaian, tempat tidur dan karpet mereka. Ketika melihat kerusakan itu, orang kaya akan berpikir, ‘Wah satu kucing sepertinya tidak cukup untuk mangatasi banyak tikus disini.’ Dan dia pasti akan menambah satu lagi kucing peliharaan.” Ujar penasehat ketiga.

“Begitu kucing ditambah, kitapun menambah jumlah kerusakan. Dia pasti akan menambah satu kucing lagi, lalu kitapun menambah kerusakan hingga tiga kali lipatnya. Manusia yang cerdas tentu akan berpikir, ‘hei kerusakan hanya sedikit ketika aku memiliki satu kucing. Kini ketika aku memiliki banyak kucing kerusakan dirumahku semakin bertambah parah.”

“Jika orang tersebut mengurangi jumlah kucingnya kitapun akan mengurangi jumlah kerusakan di rumah tersebut. Orang tersebut pasti berpikir, ‘aneh sekali’. Dia lalu akan menyingkirkan satu kucing lain. Kita mengikuti dengan mengurangi tingkat kerusakan. Dan akhirnya tentu saja dia akan menyingkirkan satu lagi kucing yang tersisa.”

“Saat itu merupakan waktu kita untuk mengherntikan merusak barang-barang orang kaya itu. Tentu para orang kaya akan berpikir. ‘Wah ternyata bukan tikus yang merusak rumahku, malainkan kucing.” Mereka tentu akan bercerita kepada orang lainnya. Karena mereka orang kaya tentu saja pengaruh mereka akan sangat besar untuk masyarakat di kota ini. Dan nantinya kucing akan diburu dan justru akan dimusnahkan.”

Raja Mezra pun mengikuti saran penasehat ketiga. Butuh waktu tidak terlalu lama hingga tidak ada satupun kucing berada di kota tersebut. Bila mereka melihat lubang di pakaian mereka, orang-orang tetap yakin bahwa itu adalah ulah kucing.

Kini, jika itu terjadi, mereka pasti berkata.” Seekor kucing pasti telah menyelinap ke rumah tadi malam. Seekor kucing pasti mengendap-endap di kota tadi malam.” Dengan cara itu, para tikus benar-benar berhasil membebaskan diri dari rasa takut terhadap kucing.

Pesan yang bisa diambil dari Cerita Fabel Kisah Kerajaan Tikus dan Kucing adalah untuk mencapai sesuatu kadang kita harus melakukan hal yang tidak biasa.


Cerita Fabel – Kura-kura Melawan Kelinci

cerita fabel untuk anak dan orang dewasa
cerita fabel terbaru

Pada suatu hari ada seekor kelinci yang sangat sombong. Ia menyombongkan diri sebagai kelinci yang paling baik sedunia. Si kelinci selalu membanggakan betapa cepat larinya. Ia mempunyai kaki belakang yang sangat kuat untuk berlari seperti angin. Ia selalu memperlihatkan keahliannya berlari cepat kepada teman-temannya.

Pada suatu hari si kelinci membual di depan teman-temannya dan menunjukkan betapa cepat larinya. Ketika ia berlari, ia melompat di atas sebuah cangkang di jalanan. Perlahan-lahan sebuah kepala dan empat kaki keluar dari cangkang tersebut dan mulai bergerak di jalanan. Barulah si kelinci sadar, bahwa cangkang itu adalah kura-kura yang tampak merangkak perlahan-lahan dijalanan.

’’Betapa lambatnya kamu,’’kata kelinci kepada kura-kura. ‘’kamu sangat lambat. Saya tidak mengerti mengapa kamu tidak terganggu dengan gerakkan lambatmu.’’ Si kelinci tertawa mendengar leluconnya sendiri mengenai kura-kura.

Kura-kura menatap dingin pada kelinci dan berkata, ‘’Setiap hewan bergerak dengan langkahnya sendiri. Saya mungkin bergerak lambat, tetapi saya dapat pergi kemana saja yang saya mau. Pada kenyataannya, saya dapat mencapai tujuan lebih cepat dari pada kamu dan lebih kencang dari pada kamu.’’

Si kelinci berpikir, bahwa kata-kata si kura-kura sangat lucu. Ia tertawa mendengar, bahwa kura-kura berlari lebih kencang darinya. ‘’Tidak mungkin,’’ kata si kelinci. ‘’Bagaimana mungkin kamu lebih cepat dari saya? Saya dapat berlari secepat angin. Sementara kamu merangkak sangat lambat, sehingga sulit dikatakan, bahwa kamu bergerak lebih cepat dari saya. Saya mau lihat.’’

Si kelinci kemudian menantang si kura-kura untuk lomba lari, sehingga mereka akan lihat siapa yang lebih cepat. Lomba lari akan di adakan keesokkan harinya. Setiap hewan ingin melihat perlombaan lari antara si kelinci yang cepat dan si kura-kura yang lambat.

Serigala yang menghitung mundur saat mulai perlombaan. ‘’Lima, empat, tiga, dua, satu, lari…’’ Dengan satu loncatan, si kelinci dengan cepat hilang dari pandangan mata. Si kura-kura melangkahkan kakinya perlahan-lahan, selangkah demi selangkah, sementara tatapan matanya terus bertuju pada jalan didepannya. Si kelinci berlari sepanjang jalan. Setiap kali melihat kerumunan penonton di pinggir jalan, ia membalikkan tubuhya dan melambaikan tangannya. Ia ingin mereka tau siapa yang paling cepat larinya. Jauh, jau dibelakangnya si kura-kura terus melangkah, selangkah demi selangkah, dengan lambatnya dan matanya yang terus menatap jalan di depannya. Tidak lama kemudian si kelinci tiba pada suatu tanda di jalan. Tanda itu menunjukkan, bahwa ia sudah berlari setengah jarak antara garis start dan finish. Ia pun tidak lagi melihat kura-kura.

  Cerita Dongeng

Si kelinci berpikir, ‘’ Saya sudah jauh di depan dan si kura-kura sangat lambat, sehingga ia masih sangat jauh dibelakang. Perlu waktu lama bagi kura-kura untuk sampai di sini. Saya kira saya dapat berbaring dulu di sini dan beristirahat sebentar dibawah sinar matahari yang sangat hangat. Masih banyak waktu untuk memenangkan pertandingan ini saat saya bangun nanti.’’

Sementara itu, si kura-kura terus merangkak perlahan-lahan tanpa berhenti. Ia terus bergerak. Waktu terus berlalu, si kelinci masih tertidur dengan lelapnya. Dengan perlahan-lahan dan mantap, si kura-kura meneruskan langkahnya tanpa beristirahat. Ia bergerakperlahan-lahan sepanjang jalan. Akhirnya si kura-kura melewati si kelinci yang masih tertidur di tepi jalan. Si kelinci tertidur lelap, sehingga ia tidak mendengar saat si kura-kura melewatinya. Ketika kelinci terbangun dari tidur lelapnya, ia melihat kea rah belakang untuk mengetahui keberadaan si kura-kura. Namun ia tidak melihat kura-kura. Namun, ia tidak melihat kura-kura. Ia berkata , ‘’ Ternyata si kura-kura lebih lambat dari yang saya kira. Mungkin baru tengah malam ia tiba di garis finish.’’

Si kelinci merenggangkan kakinya dan kembalu ke jalan untuk melanjutkan perlombaan lari. Si kelinci berlari dan menaiki bukit. Kemudian ia melihat pemandangan yang menakjubkan. Di garis finish tampak si kura-kura. Penonton bersuka ria, karena si kura-kura memutuskan pita garis finish. Si kura-kura di umumkan sebagai pemenang. Si kelinci menghela nafas panjang dan si kura-kura tersenyum. “ Bagaimana…kapan… di mana?’’ gumam si kelinci.

Si kura-kura berkata, ‘’ Saya menyusul kamu ketika kamu sedang tertidur. Saya mungkin saja lambat, tetapi mata saya menatap tujuan. Dengan pelan dan mantap, saya memenangkan perlombaan lari ini.’’

Pesan Moral dari Dongeng Sebelum Tidur : Fabel Kura-kura dan Kelinci adalah jangan pernah menganggap remeh orang lain. Setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Kesombongan suatu saat pasti akan dikalahkan oleh kerendahan hati.


Cerita Fabel – Bebek Buruk Rupa

cerita fabel tentang bebek yang buruk rupa
cerita fabel yang menginspirasi

Hari yang indah di pedesaan. Padang rumput yang hijau dan rumput yang tinggi-tinggi. Di tepi rumput terlihat hutan yang ditumbuhi pohon-pohon tinggi.

Ditengah hutan terdapat danau dengan air yang terlihat hijau-kebiruan. Ditempat yang sunyi-senyap diantara pepohonan, terlihat induk bebek yang sedang mengerami beberapa telur disarangnya. Induk bebek sudah merasa lelah dan berhharap telur-telurnya segera menetas.

Setelah berminggu-minggu mengeram, satu persatu telur mulai menetas “’Ciiit, ciit,” kata bayi bebek ketiaka ia mengeluarkan kepalanya dari dalam telur. Bayi bebek mencari jalan keluar dan mulai mencicit-cicit. Bayi bebek melihat-lihat alam di sekeliling sarang dan berkata,’’Betapa besarnya dunia!’’

Induk bebek sangat senang melihat anak-anaknya yang baru menetas. Ia mulai bangkit dari sarangnya dan menunjukkan betapa indahnya dunia. Namun, baru saja dia bangun dari sarangnya, ia melihat ada sebuah telur yang sangat besar di dalam sarangnya yang belum menetas. Ia mulai merasa takut, ‘’ Berapa lama lagi telur vesar ini akan menetas?’’ Induk bebek tidak meninggalkan sarangnya dan kembali mengerami telurnya agar tetap hangat, sehingga cepat menetas.

Akhirnya setelah beberapa minggu, telur besar itu mulai pecah. “Ciit,ciit,’’ kata bayi bebek terakhir. Ia mendorong dan berusaha keluar dari cangkang telurnya.

“Induk bebek melihat bayi bebeknya dan berkata,’’ Betapa besar dan jelaknya bayiku ini. Dia tidak seperti saudara-saudaranya.’’

Keesokkan harinya induk bebek membawa anak-anaknya ke danau. Ia menceburkan diri ke danau, kedalam air yang dingin dan jernih. Setelah itu ia memanggil anak-anaknya untuk bergabung dengannya, “Kwek, Kwek.’’ Satu persatu anak-anaknya menceburkan diri ke danau, menyelam, dan kembali mengambang di permukaan air. Kaki-kaki mereka mengayuh dan berenang menegelilingi danau di belakang induk mereka. Anak bebek yang besar dan jelek mengikuti barisan paling belakang. Induk bebek dan anak-anaknya berenang menuju daerah bebek, tempat beberapa keluarga bebek tinggal. Ketika melewatinya, mereka berkata,’’ Betapa harmonisnya keluargamu dan anak-anakmu sangat indah. Kecuali anakmu yang bertubuh besar itu sangat jelek.” Bebek-bebek itu mulai berkwek-kwek dengan sangat keras,” Betapa jeleknya bebek besar itu! Kami tidak bisa tinggal bersamanya.’’ Bebek-bebek yang lebih besar mulai terbang dan mematuk leher dan kepala anak bebek itu.

‘’Tinggalkan dia. Dia tidak menyakiti siapapun,’’ kata induk bebek. Namun tidak seekorpun yang mau mendengarkan dan mereka terus mematuki bebek besar dan jelek itu. Mereka terus menyebut dan mengatakan betapa jeleknya ia.

Setiap hari keadaannya menjadi lebih buruk bagi si bebek buruk rupa. Ia diburu oleh bebek jantan, dipatuki oleh bebek betina. Akhirnya, ia tidak kuat menghadapi perlakuan bebek tersebut. Ia tidak tahan mendengar ejekkan sebagai si bebek buruk rupa. Ia pergi dan bersembungyi di balik tanaman di tepi kolam. Di daerah rawa, ia bertemu dengan beberapa dari bebek liar. Mereka berkaa, ‘’ Mahluk apakan kamu? Kamu benar-benar besar dan jelek.’’

Setelah beberapa hari ia memutuskan untuk pindah ketempat lain. Saat itu musim dingin dan air danau menjadi sangat dingin. Bebek rupa berenang di danau dan memutuskkan kepalanya ke dalam air yang dingin. Langit tiba-tiba menjadi gelap dan angin dingin bertiup. Ia menjadi sangat lelah sehingga tidak dapat berenang lagi. Musim dingin hujan ini merupakan musim yang paling buruk bagi si bebek, karena ia harus berusaha bertahan hidup didaerah rawa-rawa.

Suatu hari matahari mulai memancarkan sinarnya dan udarapun menjadi lebih hangat dari pada kemarin burung-burung mulai bernyanyi. Rumput-rumput mulai menghijau. Sibebrk buruk rupa merasakkan kehangatan sinar matahari dan dan ia mendengar burung-burung bernyany. Ia memaksakan dirinya masuk ke dalam air danau yang hangat.

Sekawanan burung berbulu indah di atas rawa-rawa. Burung-burung tersebut sangat mempesona dengan leher yang panjang dan sayap yang lebar dan kuat. Dengan lemah gemulai mereka terbang dan mengelilingi danau dan dengan anggunnya mereka mendarat di danau. Si bebek buruk rupa melihat burung-burung yang indah itu dan mengagumi leher mereka yang panjang dan bulu putihnya yang seperti salju. Si bebek ingin berenang menghampiri mereka. Tetapi ia merasa takut. ‘’Saya sangat jelek. Tentu mereka tidak mau saya dekat mereka. Mereka akan mematuki saya dan menyebutkan saya jelek’’ Namun, entah bagaimana, ia ingin mendekati mereka. Sehingga ia berenang ke arah mereka.

Ketika sedang bereang, si bebek melihat ke air di bawahnya dan ia melihat banyangan dirinya. Ia melihat bayangan dirinya di air yang jernih. Ia bukan lagi si bebek buruk rupa. Ia menjadi angsa putih yang indah. Angsa yang indah yang besar berenang mengelilignya. Mereka membelai-belai lehernya. Mereka sangat senang melihatnya. Beberapa anak di taman melihat ke angsa. Mereka berteriak,’’ Ada angsa baru.’’ Mereka melemparkan remehan roti kearahnya dan berkata.” Angsa baru ini sangat indah, ia pun kuat dan tampan.’’

Si angsa menggerakkan sayapnya dan menjulurkan lehernya yang ramping dan berkata,” Saya tidak pernah bermimpi memdapatkan kebahagiaan ini ketika saya menjadi bebek buruk rupa.’’

Pesan moral dari Cerita Fabel Terbaru Kisah Bebek Buruk Rupa adalah Jangan pernah menghina dan menganggap rendah orang lain, karena setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Bisa jadi apa yang kita anggap jelek justru sangat baik untuk kita.


Cerita Fabel – Seruling Serigala

cerita fabel yang paling menginspirasi
cerita fabel legenda daerah

Suatu ketika, ada seekor kambing kecil yang tanduknya mulai tumbuh dan membuat dia berpikir bahwa saat itu dia sudah dewasa dan bisa menjaga dirinya sendiri. Suatu sore ketika gerombolan kambing mulai pulang ke peternakan kembali dan ibunya sudah memanggilnya, anak kambing tersebut tidak memperhatikan dan memperdulikan panggilan ibunya.

Dia tetap tinggal di lapangan rumput tersebut dan mengunyah rumput-rumput yang halus disekelilingnya. Beberapa saat kemudian ketika dia mengangkat kepalanya, dia melihat gerombolan kambing termasuk ibunya sudah tidak ada lagi.

Sekarang dia tinggal sendirian. Matahari sudah terbenam. Bayangan panjang mulai menutupi tanah. Angin dingin mulai datang bertiup dan membuat suara yang menakutkan. Anak kambing tersebut mulai gemetar karena takut dia akan bertemu dengan serigala.

Kemudian dia mulai lari sekencang-kencangnya melewati lapangan rumput untuk pulang ke peternakan, sambil mengembik-embik memanggil ibunya. Tetapi di tengah jalan, dekat pohon perdu, apa yang ditakutkan benar-benar terjadi, seekor serigala telah berdiri di sana memandangnya dengan wajah lapar.

Kambing kecil itu tahu bahwa kecil harapan untuk dia bisa lolos dari sergapan serigala tersebut.

“Tolonglah, tuan Serigala,” katanya dengan gemetar, “Saya tahu kamu akan memakan saya.Tetapi pertama kali, nyanyikanlah saya sebuah lagu dengan suling mu, karena saya ingin menari dan bergembira selama saya bisa.”

  Cerita Lucu

Serigala tersebut menyukai gagasan dari kambing kecil tadi,bermain musik sebelum makan, jadi serigala itu mengeluarkan serulingnya dan mulai memainkan lagu gembira dan kambing kecil itu meloncat-loncat menari bergembira.

Sementara gerombolan kambing tadi bergerak pulang ke peternakan, di keheningan sore yang mulai beranjak gelap, suara seruling dari serigala sayup-sayup terdengar.

Anjing-anjing gembala yang menjaga gerombolan kambing tersebut lansung menajamkan telinganya dan mengenali lagu yang dimainkan oleh serigala, dan dengan cepat anjing-anjing gembala tersebut lari ke arah serigala tersebut dan menyelamatkan kambing kecil yang sedang menari-nari. Serigala yang hendak memakan kambing kecil tadi akhirnya lari dikejar-kejar oleh anjing gembala, dan berpikir betapa bodohnya dia, memainkan lagu dengan seruling untuk si kambing kecil pada saat dia seharusnya sudah menerkamnya langsung.


Cerita Fabel – Gajah Yang baik Hati

cerita fabel dongeng cerita rakyat untuk anak
cerita fabel untuk anak

Kancil yang sedang berpetualang sedang terperangkap dalam lobang di tanah. Tindakkan Kancil masuk kedalam itu merupakan tindakan yang sangat ceroboh. Ia tidak berpikir bagaimana caranya ia naik ke atas bila sudah berada di dalam kolam tersebut. Beberapa kali Kancil mencoba untuk memanjat tetapi ia tidak bisa sampai ke atas.

‘’Tolong.’’ Toloooonggggg..!’’

Si Kancil tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya berteriak meminta tolong. Teriakan si Kancil ternyata terdengar oleh sang Gajah yang kebetulan sedang berjalan melewati tempat itu. ‘’Hai, siapa yang ada di kolam itu?’’

“Aku… tolong aku..! jawab si Kancil.

“Siapa kau?’’ Tanya Gajah.

‘’Aku.. si Kancil sahabatmu.’’

‘’Kenapa kamu bisa di dalam kolam ini? Dan berteriak meminta tolong.’’

Kancil terdiam sesaat mencari akal agar Gajah mau menolongnya.

‘’Tolong aku mengangkat ikan ini.’’

“Yang benar kau mendapat ikan?’’

‘’Bener..benar ! aku mendapatkan ikan yang sangat besar.’’

‘’Tapi bagaimana caranya aku turun kebawah.’’

‘’Sebaiknya kamu langsung turun saja kebawah. Sebab jika tidak cepat-cepat ikan ini bisa lepas.!’’

Gajah berpikir sejenak. Bisa saja ia turun ke bawah dengan mudah tetapi bagaimana jika naiknya nanti.

‘’Cil. Mana ikan yang kau dapatkan ?’’

‘’Ada di sepasang kakiku.’’ Kata Kancil.

‘’Kalau aku menolongmu. Lalu bagaimana caranya aku naik dari kolam ini.?’’

Kini Kancil terdiam. Ia tidak menyangka gajah dapat berpikir sejauh itu. Tidak seperti dirinya, karena kehausan langsung terjun kedalam kolam. Tanpa berpikir akibatbya.

‘’Kau mau memanfaatkanku ya Cil?’’ kau akan menipuku untuk kepentingan dan keselamatanmu sendiri?’’ Tanya Gajah.

Kancil hanya terdiam.

‘’Sekali-kali kamu harus diberi pelajaran.’’ kata Gajah sambil meninggalkan tempat itu.

‘’Waduh.. Pak Gajah. Aku mohon tolonggggg….!’’

Gajah tidak mendengarkan teriakan Kancil. Kancil mulai putus asa. Semakin lama berada di tempat itu Kancil mulai merasa kedinginan.

‘’Toolongg.. tolongggg.’’

Hingga menjelang sore tidak ada seekor binatang yang mendengar teriakannya.

‘’Aduh gawat! Aku benar-benar akan mati kaku di tempat ini.’’ Kancil mulai membayangkan akhir hidupnya ditempat ini.

Lalu Kancil berteriak dengan keras.’’ Wahai langit dan bumi! Dan seluruh binatang yang berasa di hutan. Aku bersumpah tidak akan menipu untuk kepentinganku dan keselamatanku sendiri, kecuali……!

Ketika Kancil mengucapkan kata kecuali, Kancil sengaja mengecilkan suaranya sehingga hampir tidak terdengar lagi. Tak di sangka ternyata Gajah tiba-tiba muncul di tepi kolam. Ternyata Gajah tidak benar-benar meninggalkan Kancil sendirian dan sengaja menyembunyikan dirinya. Ia penasaran mendengar ucapan kancil yang terakhir.

“Kecuali apa?’’ tanya Gajah penasaran.

Kancil terkejut mendengar suara Gajah.

‘’Pak Gajah? Kau kembali lagi?’’

‘’Jawab pertanyaanku Cil. Kecuali apa?’’

‘’Hmm. Kecuali terpaksa untuk menyelamatkan diri. Karena aku hewan kecil yang serimg terancam oleh Harimau, Singa, Srigala, dan binatang lainnya yang jahat.’’

‘’Oh begitu..?’’ sahut Pak Gajah. ‘’Sekarang apakah kamu sudah sadar? Dan akan berjanji tidak akan menipu, jahil, iseng dan perbuatan yang merugikan binatang lain?’’

‘’Benar Pak Gajah.’’

‘’Betul?’’

Betul Pak Gajah, saya benar-benar berjanji.’’

‘’Baiklah sekarang aku akan menolonhmu Cil.’’ Kata Gajah.

Gajah menjulurkan belalainya yang sangat panjang untuk menangkap Kancil dan mengangkatnya ke atas. Begitu sampai di atas Kancil berkata.

‘’Terima kasih Pak Gajah! Saya tidak akan pernah melupakan kebaikanmu ini.’’

Sejak itu Kancil menjadi binatang yang sangat baik. Ia tidak lagi berbuat iseng seperti yang pernah ia lakukan pada beruang dan binatang-binatang yang lainya.

Pesan Moral dari Dongeng Anak PAUD Gajah Yang Baik Hati adalah janganlah perbuatan baik orang lain kita balas dengan kejahatan


Cerita Fabel – Kisah Kera Dan Ayam

cerita fabel yang paling populer diseantero jagad raya

“Kukuruyuuukkkkkk….” suara ayam memecah keheningan pagi. Kera menguap lebar, “Hoammhmmm… saatnya untuk mencari makan,” katanya dalam hati. Ia keluar dari rumah untuk mencari makan.

“Selamat pagi Kera, jangan lupa pesananku,” sapa Ayam.

“Jangan khawatir, jagung muda, kan? Tenang saja, nanti pasti akan kubawakan,” jawab kera.

Kera dan Ayam sudah lama bersahabat. Mereka saling membantu. Ayam membangunkan Kera setiap pagi, sedangkan kera memberikan makanan kesukaan sahabatnya itu, yaitu jagung muda. Tapi suatu hari, persahabatan itu hancur berantakan karena Kera berniat buruk pada Ayam. Ceritanya seperti ini.

Suatu hari, Kera dan Ayam berencana untuk berjalan-jalan ke hutan. Mereka mendapat informasi kalau di hutan itu terdapat banyak pohon buah-buahan yang lezat. Mereka memulai perjalanan sejak pagi, tapi tak sebatang pohon buah pun yang mereka temui. Yang ada hanyalah pohon-pohon yang tinggi dan berdaun lebat.

“Mungkin kita harus berjalan Iebih jauh lagi,” kata Kera.

Ayam hanya mengangguk setuju. Semakin lama suasana hutan semakin gelap, sinar Matahari tak mampu menembus rimbunnya pepohonan.

Ayam mulai ketakutan, “Kera, kita tersesat? Bagaimana kalau kita pulang saja, katanya.

Kera juga kebingungan, “Mana jalan keluarnya. Mungkin ke arah sana,,, sahut si Kera.

Mereka sibuk mencari jalan keluar, tapi semakin lama mereka berjalan semakin jauh mereka masuk kedalam hutan.

Mereka sudah sangat lelah clan lapar. Ayam berusaha mematuk-matuk cacing dari dalam tanah.

“Hmm, dia enak saja bisa makan cacing. Perutku lapar sekali, apa yang bisa kumakan ya?” pikir Kera sambil memandang berkeliling . Saat melamun terbersit niat jahat dalam hati si Kera. “Mengapa repot-repot? Bukankah ayam yang gemuk adalah santapan yang lezat?”

Kera lupa, Ayam adalah sahabatnya sendiri. Kera tega berniat jahat pada si Ayam. Tiba-tiba kera menerkam Ayam saat ia asyik mematuk-matuk tanah.

“Aduh… kau ini kenapa?” teriak Ayam meronta-ronta.

Kera mendekapnya sambil mencabuti bulu-bulunya.

Ayam langsung sadar, “Kera, kau mau memakanku ya?” teriaknya. Dengan sekuat tenaga, Ayam mencoba m lepaskan diri. Kemudian ia lari sekencang-kencangnya keluar dari hutan.

Untunglah Ayam berhasil menemukan jalan keluar dari hutan itu. Ia berlari hingga tiba di rumah Kepiting, sahabatnya yang lain. Ia menggedor-gedor pintu rumah Kepiting. Napasnya masih terengah-engah ketika Kepiting membuka pintu.

“Ada apa Ayam? Kenapa kau lari seperti di kejar setan? Dan mengapa bulu-bulumu rontok?” tanya kepiting beruntun.

“Ke… Ke… Kera… ia hendak mencelakaiku. Tadi kami sedang berjaian- jalan ke hutan, lalu kami tersesat. Tiba-tiba saja ia menerkam dan mencabuti bulu-buluku. Ia ingin memakanku! Keterlaluan sekali, bukankah aku ini sahabatnya?” cerita Ayam pada Kepiting.

Kepiting benar-benar geram mendengar cerita Ayam, ia tak rela sahabatnya diperlakukan seperti itu. “Kita tak bisa begitu saja membiarkan kejahatannya. Jika kali ini kau berhasil lolos, belum tentu kau bisa lolos lagi di lain waktu. Kita harus mencari cara untuk mencegahnya,” kata Kepiting.

Beberapa hari kemudian, Ayam pergi menemui Kera. Kera menyambut Ayam seperti biasa, seolah-olah peristiwa yang lalu tidak pernah terjadi.

“Hai Ayam, sudah lama kita tidak berjalan-jalan ya?” katanya riang.

“Justru itu, aku kemari untuk mengajakmu berjalan-jalan ke pulau seberang. Aku dengar, pulau itu memiliki buah-buahan yang lezat. Rencananya Kepiting juga akan kuajak,” jawab ayam.

“Wah, sepertinya menarik. Ayo kita segera berangkat,” sahut Kera bersemangat.

Mereka bertiga naik ke perahu tanah liat yang sudah dipersiapkan oleh Kepiting dan Ayam. Perahu berlayar meninggalkan daratan. Kera sudah membayangkan nikmatnya buah-buahan di pulau itu. Sementara Kera melamun, Ayam dan Kepiting berbalas pantun.

Ayam berkokok, “Aku lubangi kok…,” dan Kepiting menjawab, “Tunggu sampai dalam sekali.”

Setelah Kepiting menjawab, Ayam mematuk-matuk dasar perahu. Mereka berdua melakukannya terus menerus, perlahan-lahan perahu itu bocor. Air mulai masuk, tak berapa lama perahu itu pun tenggelam. Si Kepiting meloncat dan langsung menyelam ke dasar laut, sedangkan Ayam terbang kembali ke daratan.

Tinggalah si Kera sendirian, ia berteriak-teriak minta tolong, namun tak ada yang mau menolongnya. Akhirnya Kera tenggelam karena ia tak bisa berenang.

Pesan moral untukmu adalah Sayangi sahabatmu. Jangan menghancurkan persahabatan hanya karena sifat mementingkan diri sendiri.

***

Demikianlah kumpulan cerita fabel untuk anak yang bisa dibagikan kali ini. Semoga cerita fabel ini bisa menjadi sumber bacaan menarik untuk anak anda. Terimakasih!