Cerita Dongeng

Cerita Dongeng – Cerita dongeng pendek untuk anak kisah bermakna sebelum tidur. Pada postingan kali ini ada berbagai cerita dongeng anak berupa cerita pendek fabel dan cerita rakyat lokal indonesia yang dimuat dalam bahasa yang ringan dan mudah dipahami. Keseruan cerita dongeng yang banyak berisi kisah-kisah fantasy ini bisa digunakan sebagai media edukasi yang menarik pada anak yang akan melatif imajinasi dan kecerdasannya dalam menelaah intisari dari sebuah cerita.

Cerita dongeng anak ini dapat kita menfaatkan sebagai bahan bacaan yang didengarkan sebelum tidur dimana berbagai pesan moral yang terkandung dalam cerita tersebut dapat diingat dengan baik dan sekaligus akan mendidik anak agar menjadi karakter yang lebih baik ketika ia besar nanti.

Kumpulan Cerita Dongeng Anak Terbaik

Cerita Dongeng – Asal Muasal Kantung Tupai

Suatu malam, Induk tupai sedang bermain dengan anak-anaknya. Tiba-tiba, datang kelelawar besar dan menculik anak-anak tupai. Kelelawar membawa anak-anak tupai ke sarang mereka di gua.

Induk tupai menangis sedih. Saat itu, serigala yang kebetulan lewat mendengar tangisan Induk tupai.

cerita dongeng Asal Muasal Kantung Tupai
cerita dongeng

“Ada apa, Ibu Tupai?” tanya serigala.

“Kelelawar telah menculik anakku,” kata induk tupai.

“Aku akan menyelamatkan anakmu,” kata serigala yang merasa kasihan kepada induk tupai.

Induk tupai menunjukkan gua sarang kelelawar. Serigala pun masuk ke gua itu. Tidak lama, ia keluar lagi sambil berlari. Tubuhnya penuh bekas gigitan kelelawar. “Maafkan aku, Ibu Tupai. Aku tidak mampu menyelamatkan anak-anakmu,” kata serigala.

Menangis lah Induk tupai lagi karena sedih.

Saat itu, kelinci mendengar tangisan induk tupai. Akhirnya, ia menghampiri induk tupai.

“Aku akan menyelamatkan anakmu,” kata kelinci setelah mendengar cerita induk tupai.

Kelinci pun masuk ke sarang kelelawar. Tapi, seperti serigala, kelinci pun lari keluar dengan tubuh terluka bekas gigitan kelelawar. “Maafkan aku, Ibu Tupai. Aku tidak bisa menyelamatkan anak-anakmu,” kata kelinci kesakitan.

Induk tupai semakin mengkhawatirkan nasib anak-anaknya. Serigala dan kelinci yang gesit pun tidak bisa menghindari gigitan kelelawar dan menyelamatkan anak-anaknya.

Lalu, kura-kura datang menghampirinya. “Aku akan membebaskan anak-anakmu,” kata kura-kura.

Kura-kura pun segera masuk ke dalam gua. Ribuan kelelawar menyerang kura-kura dari atas. Tapi, gigi mereka tidak bisa melukai tempurung kura-kura yang keras. Perlahan tapi pasti, kura-kura akhirnya bisa menyelamatkan anak-anak tupai.

Kemudian, kura-kura keluar dari gua dan membawa anak-anak tupai pada induknya. Lalu, kura-kura merobek perut Induk tupai dan menyimpan anak-anak tupai itu di dalam perut Induk tupai.

“Simpanlah bayimu di kantong ini agar tidak diculik kelelawar,” kata kura-kura. Sejak saat itu, tupai Amerika mempunyai kantong di perutnya.

Pesan moral dari Dongeng Amerika Serikat : Asal Usul Kantung Tupai adalah tolong-menolonglah di antara sesama. Orang yang paling kuat belum tentu mau menolong orang lain. Hanya orang yang berhati mulialah yang mau menolong orang lain.

Cerita Dongeng – Cinderella dan Sepatu Kaca

Dahulu kala, tinggallah seorang gadis cantik bersama 2 orang kakak dan Ibu tirinya. Sejak ayah kandungnya meninggal, ia diperlakukan seperti seorang pembantu. Dipaksa untuk menuruti segala permintaan ibu dan kedua kakak tirinya. Meskipun begitu, Cinderella tetaplah seorang gadis yang baik hati, ia tetap menyayangi kedua kakak dan ibu tirinya.

Suatu hari istana akan mengadakan pesta dansa. Undangan pun disebar hingga ke pelosok desa. Pesta dansa ini bertujuan untuk mencari gadis yang akan menjadi permaisuri pangeran. Mendengar kabar gembira itu, kedua kakak tiri Cinderella sangat bahagia. “ibu, tolong pilihkan aku gaun yang paling cantik untuk menghadiri pesta dansa di istana malam nanti” ujar kakak sulung. “aku juga bu, belikan aku gaun yang baru. Aku tak ingin pangeran kecewa saat berdansa denganku” timpal kakak kedua. Mendengar puterinya berceloteh ria, ibu menjawab “tentu saja, ibu akan memilihkan baju yang bagus untuk pesta nanti malam”. Cinderella yang sedang menyapu terlihat sangat bahagia, dalam hatinya ia juga ingin pergi ke pesta dansa di istana, ia pun berkata kepada Ibu tirinya “Ibu, tolong ijinkan Aku untuk pergi ke pesta dansa, aku tidak butuh gaun baru. Cukup ijinkan aku saja bu”. Ibu dan kedua kakak tirinya sangat kesal dan memarahi Cinderella. Sang ibu berkata “tidak bisa, kau di rumah saja”. Mendengar itu, Cinderella pun terdiam. Harapannya untuk bertemu pangeran gagal. Meskipun begitu ia tetap ikhlas menjalani perlakuan ibunya.

Cerita Dongeng Cinderella dan Sepatu Kaca
cerita dongeng

Hingga tibalah waktu pesta dansa. Ibu dan kedua kakak tirinya sudah bersiap pergi ke istana. Mereka memakai gaun terbaik dengan sepatu dan dandanan yang cantik. Sedangkan Cinderella hanya bisa menatap kepergian mereka dari balik jendela. Ketika Cinderella sedang bersedih, tiba-tiba terdengar suara wanita cantik “tenanglah Cinderella, kau akan mengikuti pesta dansa malam ini. jangan khawatir, aku yang akan membantumu”. Cinderella terkejut “kau siapa?”. Wanita cantik itu menjawab pelan “aku peri kahyangan, kemarilah”. Dengan senyum yang menawan, peri itu memutar-mutar tongkatnya di depan Cinderella. Seketika Cinderella berubah seperti seorang putri kerajaan. Ia memakai gaun yang bagus, mahkota emas, wajah yang cantik jelita, serta sepasang sepatu kaca. Cinderella pun nampak bahagia “terimakasih peri.

Tapi bagaimana caranya agar aku bisa pergi ke istana itu? Aku tidak punya uang untuk menyewa kereta” ujar Cinderella. Dalam sekejap, peri cantik itu menghadirkan pengawal dan kereta kuda untuk Cinderella. “kau bisa menaiki kereta kuda ini. ingat, pengaruh sihir ini akan hilang saat tengah malam”. Mendengar itu, Cinderella pun mengangguk dan segera menuju ke istana.

Sesampainya di istana, semua terpana melihat kecantikan Cinderella. Bahkan ibu dan kedua kakak tirinya tidak berhasil mengenalinya. Pangeran pun jatuh cinta, ia mengajak Cinderella berdansa. Cinderella sangat bahagia. Tiba-tiba lonceng tengah malam melengking “aku harus pergi pangeran” ujar Cinderella. “tunggu putri, siapa namamu?” jawab pangeran yang berlari mengejar Cinderella. Tanpa disengaja, sepatu kaca Cinderella terlepas sebelah di teras istana. Sepatu kaca itu akhirnya di ambil oleh pangeran. Dalam hati ia berjanji akan mencari sang putri pemilik sepatu kaca itu.

Keesokan harinya, pangeran bersama pengawal pergi hingga ke pelosok negeri, namun tak ada gadis yang cocok dengan sepatu kaca itu. Hingga tibalah pangeran di rumah Cinderella. Kedua kakak tirinya sangat girang mendengar kedatangan pangeran “berikan padaku, aku akan mencoba sepatu kaca itu” sahut dua kakak tiri Cinderella bersamaan. Namun, ternyata sepatu kaca itu tidak cocok dengan mereka. Tiba-tiba Cinderella berkata “biar aku mencobanya pangeran”. Pangeran menjawab “silahkan nona”. Melihat hal itu ibu tiri berkata “Cinderella, memalukan sekali kau”. Singkat cerita, Cinderella mencoba sepatu kaca itu dan cocok di kakinya. Pengeranpun merasa gembira dan berkata “kaulah putri yang selama ini aku cari”.

Cinderella pun akhirnya dibawa oleh pangeran ke istana dan mereka hidup bahagia.

Cerita Dongeng – Kisah La Kuttu-kuttu

La Kuttu-kuttu Paddaga adalah nama seorang pemuda yang gagah dan tampan. Ia juga ahli bermain sepak raga. Setiap hari ia bermain sepak raga bersama teman-temannya. Suatu hari, ia diajak teman-temannya bermain sepak raga melawan para pemuda desa tetangga. Kebetulan lapangan yang digunakan di dekat rumah seorang gadis penenun.

Setelah bermain, La Kuttu-kuttu Paddaga merasa haus. Ia pun menuju rumah gadis penenun untuk meminta air minum.

“Maaf, ambil sendiri saja di dapur. Sebab benang alat tenun ini baru saja dipasang,” jawab sang Gadis.

Setelah mendapat izin, La Kuttu-kuttu Paddaga ke dapur. Waktu kembali, ia bertanya, “Sarung siapa yang engkau tenun?”

“Sarung kita,” jawab si Gadis.

“Oh, begitu. Ya sudah, terima kasih sudah memberi saya minum,” kata La Kuttukuttu Paddaga berpamitan.

Cerita Dongeng Kisah La Kuttu-kuttu
cerita dongeng

Sambil berlalu, ia selalu mengingat kata-kata terakhir sang Gadis yang menyatakan “Sarung kita”. Dari hal itulah timbul niatnya untuk menikahi sang Gadis. Namun, ia tidak mempunyai uang untuk melamar. Ia pun bekerja untuk mencari uang.

Suatu hari, orang tua si Gadis menikahkan si Gadis dengan seorang pemuda kaya. Walaupun tidak suka, tapi si Gadis tidak bisa menolak keinginan orang tuanya.

Singkat cerita, perkawinan antara si Pemuda kaya dengan si Gadis dilaksanakan. Namun sebenarnya, si Pemuda kaya juga tidak suka dengan si Gadis. Hingga suatu malam, si Pemuda pengutarakan isi hatinya kepada si Gadis. Karena si Gadis juga tidak suka, maka mereka memilih untuk bercerai, setelah menghubungi orang tua masing-masing.

Beberapa waktu kemudian, La Kuttu-kuttu Paddaga mendengar kabar jika si Gadis telah bercerai. Ia berkunjung ke rumah si Gadis. Ia menyatakan keinginannya untuk menikahi si Gadis. Oleh si Gadis, ia diberi waktu 3 bulan untuk mempersiapkan segalanya.

La Kuttu-kuttu Paddaga segera bekerja keras untuk mencari uang. dalam 3 bulan, akhirnya ia bisa meraih sejumlah uang untuk biaya pernikahannya. Setelahnya, ia menghadap ke orang tua si Gadis untuk melamar. Lamarannya diterima. Ia sangat gembira, begitu juga si Gadis. Singkat cerita, mereka berdua menikah dan hidup dengan bahagia.

Cerita Dongeng – Enam Serdadu

Pada suatu masa ada seorang pria yang hebat, dia telah membaktikan diri pada negara dalam perang, dan mempunyai keberanian yang luar biasa, tetapi pada akhirnya dia dipecat tanpa alasan apapun dan hanya memiliki 3 keping uang logam sebagai hartanya.
“Saya tidak akan diam saja melihat hal ini,” katanya; “tunggu hingga saya menemukan orang yang tepat untuk membantu saya, dan raja harus memberikan semua harta dari negaranya sebelum masalah saya dengan dia selesai.”

Kemudian, dengan penuh kemarahan, dia masuk ke dalam hutan, dan melihat satu orang berdiri disana mencabuti enam buah pohon seolah-olah pohon itu adalah tangkai-tangkai jagung. Dan dia berkata kepada orang itu,
“Maukah kamu menjadi orangku, dan ikut dengan saya?”
“Baiklah,” jawab orang itu; “Saya harus membawa pulang sedikit kayu-kayu ini terlebih kerumah ayah dan ibuku.” Dan mengambil satu persatu pohon tersebut, dan menggabungkannya dengan 5 pohon yang lain dan memanggulnya di pundak, dia lalu berangkat pergi; segera setelah dia datang kembali, dia lalu ikut bersama dengan pimpinannya, yang berkata,
“Berdua kita bisa menghadapi seluruh dunia.”

  Cerita Motivasi
Cerita Dongeng Enam Serdadu
cerita dongeng

Dan tidak lama mereka berjalan, mereka bertemu dengan satu orang pemburu yang berlutut pada satu kaki dan dengan hati-hati membidikkan senapannya.
“Pemburu,” kata si pemimpin, “apa yang kamu bidik?”
“Dua mil dari sini,” jawabnya, “ada seekor lalat yang hinggap pada pohon Oak, Saya bermaksud untuk menembak mata kiri dari lalat tersebut.”
“Oh, ikutlah dengan saya,” kata si Pemimpin, “Bertiga kita bisa menghadapi seluruh dunia”

Pemburu tersebut sangat ingin ikut dengannya, jadi mereka semua berangkat bersama hingga mereka menemukan tujuh kincir angin, yang baling-baling layarnya berputar dengan kencang, walaupun disana tidak ada angin yang bertiup dari arah manapun, dan tak ada daun-daun yang bergerak.
“Wah,” kata si Pemimpin, “Saya tidak bisa berpikir apa yang menggerakkan kincir angin, berputar tanpa angin;” dan ketika mereka berjalan sekitar dua mil ke depan, mereka bertemu dengan seseorang yang duduk diatas sebuah pohon, sedang menutup satu lubang hidungnya dan meniupkan napasnya melalui lubang hidung yang satu.
“Sekarang,” kata si Pemimpin, “Apa yang kamu lakukan diatas sana?”
“Dua mil dari sini,” jawab orang itu, “disana ada tujuh kincir angin; saya meniupnya hingga mereka dapat berputar.”
“Oh, ikutlah dengan saya,” bujuk si Pemimpin, “Berempat kita bisa menghadapi seluruh dunia.”

Jadi si Peniup turun dan berangkat bersama mereka, dan setelah beberapa saat, mereka bertemu dengan seseorang yang berdiri diatas satu kaki, dan kaki yang satunya yang dilepas, tergeletak tidak jauh darinya.
“Kamu terlihat mempunyai cara yang unik saat beristirahat,” kata si Pemimpin kepada orang itu.
“Saya adalah seorang pelari,” jawabnya, “dan untuk menjaga agar saya tidak bergerak terlalu cepat Saya telah melepas sebuah kaki saya, Jika saya menggunakan kedua kaki saya, Saya akan jauh lebih cepat dari pada burung yang terbang.”
“Oh, ikutlah dengan saya,” kata si Pemimpin, “Berlima kita bisa menghadapi seluruh dunia.”

Jadi mereka akhirnya berangkat bersama, dan tidak lama setelahnya, mereka bertemu dengan seseorang yang memakai satu topi kecil, dan dia memakainya hanya tepat diatas satu telinganya saja.
“Bersikaplah yang benar! bersikaplah yang benar!” kata si Pemimpin; “dengan topi seperti itu, kamu kelihatan seperti orang bodoh.”
“Saya tidak berani memakai topi ini dengan lurus,” jawabnya lagi, “Jika saya memakainya dengan lurus, akan terjadi badai salju dan semua burung yang terbang akan membeku dan jatuh mati dari langit ke tanah.”
Oh, ikutlah dengan saya,” kata si Pemimpin; “Berenam kita bisa menghadapi seluruh dunia.”

Jadi orang yang keenam ikut berangkat bersama hingga mereka mencapai kota dimana raja yang menyebabkan penderitaannya akan memulai pertandingan dimana siapapun yang jadi pemenang akan dinikahkan dengan putrinya, tetapi siapapun yang kalah akan dibunuh sebagai hukumannya. Lalu si Pemimpin maju kedepan dan berkata bahwa satu dari orangnya akan mewakili dirinya dalam pertandingan tersebut.
“Kalau begitu,” kata raja, “hidupnya harus dipertaruhkan, dan jika dia gagal, dia dan kamu harus dihukum mati.”

Ketika si Pemimpin telah setuju, dia memanggil si Pelari, dan memasangkan kakinya yang kedua pada si Pelari.
“Sekarang, lihat baik-baik,” katanya, “dan berjuanglah agar kita menang.”

Telah disepakati bahwa siapapun yang paling pertama bisa membawa pulang air dari anak sungai yang jauh dan telah ditentukan itu akan dianggap sebagai pemenang. Sekarang putri raja dan si Pelari masing-masing mengambil kendi air, dan mereka mulai berlari pada saat yang sama; tetapi dalam sekejap, ketika putri raja tersebut berlari agak jauh, si Pelari sudah hilang dari pandangan karena dia berlari secepat angin. Dalam sekejap dia telah mencapai anak sungai, mengisi kendinya dengan air dan berlari pulang kembali. Ditengah perjalanan pulang, dia mulai merasa kelelahan, dan berhenti, menaruh kendinya dilantai dan berbaring di tanah untuk tidur. Agar dapat terbangun secepatnya dan tidak tertidur pulas, dia mengambil sebuah tulang tengkorak kuda yang tergeletak didekatnya dan menggunakannya sebagai bantal. Sementara itu, putri raja, yang sebenarnya juga pelari yang baik dan cukup baik untuk mengalahkan orang biasa, telah mencapai anak sungai juga, mengisi kendinya dengan air, dan mempercepat larinya pulang kembali, saat itu dia melihat si Pelari yang telah tertidur di tengah jalan.
“Hari ini adalah milik saya,” dia berkata dengan gembira, dan dia mengosongkan dan membuang air dari kendi si Pelari dan berlari pulang. Sekarang hampir semuanya telah hilang tetapi si Pemburu yang juga berdiri di atas dinding kastil, dengan matanya yang tajam dapat melihat semua yang terjadi.
“Kita tidak boleh kalah dari putri raja,” katanya, dan dia mengisi senapannya, mulai membidik dengan teliti dan menembak tengkorak kuda yang dijadikan bantal dibawah kepala si Pelari tanpa melukai si Pelari. Si Pelari terbangun dan meloncat berdiri, dan melihat banya kendinya telah kosong dan putri raja sudah jauh berlari pulang ke tempat pertandingan dimulai. Tanpa kehilangan keberaniannya, dia berlari kembali ke anak sungai, mengisi kendinya kembali dengan air, dan untuk itu, dia berhasil lari pulang kembali 10 menit sebelum putri raja tiba.
“Lihat,” katanya; “ini adalah pertama kalinya saya benar-benar menggunakan kaki saya untuk berlari”
Raja menjadi jengkel, dan putrinya lebih jengkel lagi, karena dia telah dikalahkan oleh serdadu biasa yang telah dipecat; adn mereka berdua sepakat untuk menyingkirkan serdadu beserta pengikutnya bersama-sama.
“Saya punya rencana,” jawab sang Raja; “jangan takut tetapi kita harus mendiamkan mereka selama-lamanya.” Kemudian mereka menemui serdadu dan pengikutnya, mengundang mereka untuk makan dan minum; dan sang Raja memimpin mereka menuju ke sebuah ruangan, yang lantainya terbuat dari besi, pintunya juga terbuat dari besi, dan di jendelanya terdapat rangka-rangka besi; dalam ruangan itu ada sebuah meja yang penuh dengan makanan.
“Sekarang, masuklah kedalam dan buatlah dirimu senyaman mungkin,” kata sang Raja.

Ketika serdadu dan pengikutnya semua masuk, dia mengunci pintu tersebut dari luar. Dia kemudian memanggil tukang masak, dan menyuruhnya untuk membuat api yang sangat besar dibawah ruangan tersebut hingga lantai besi menjadi sangat panas. Dan tukang masak tersebut melakukan apa yang diperintahkan oleh Raja, dan keenam orang didalamnya mulai merasakan ruangan menjadi panas, tapi berpikir bahwa itu karena makanan yang mereka makan, seiring dengan suhu ruangan yang bertambah panas, mreka menyadari bahwa pintu dan jendela telah dikunci rapat, mereka menyadari rencana jahat sang raja untuk membunuh mereka.
“Bagaimanapun juga, dia tidak akan pernah berhasil,” kata laki-laki dengan topi kecil; “Saya akan membawa badai salju yang akan membuat api merasa malu pada dirinya sendiri dan merangkak pergi.”

Dia lalu memasang topinya lurus diatas kepala, dan secepat itu badai salju datang dan membuat semua udara panas menjadi hilang dan makanan menjadi beku diatas meja. Setelah satu atau dua jam berlalu, Raya menyangka bahwa mereka telah terbunuh karena panas, dan menyuruh untuk membuka kembali pintu ruangan tersebut, dan masuk kedalam untuk melihat keadaan mereka. Ketika pintu terbuka lebar, mereka berenam ternyata selamat dan terlihat mereka telah siap untuk keluar untuk menghangatkan diri karena ruangan tersebut terlalu dingin dan menyebabkan makanan di meja menjadi beku. Dengan penuh kemarahan, raja mendatangi tukang masak, mencaci dan menanyakan mengapa tukang masak itu tidak melaksanakan apa yang diperintahkan.
“Ruangan tersebut cukup panas; kamu mungkin bisa melihatnya sendiri,” kata tukang masak. Sang Raja melihat kebawah ruangan besi tersebut dan melihat api yang berkobar-kobar di bawahnya, dan mulai berpikir bahwa keenam orang itu tidak dapat disingkirkan dengan cara itu. Dia mulai memikirkan rencana baru, jadi dia memanggil serdadu yang menjadi pemimpin tersebut dan berkata kepadanya,
“Jika kamu tidak ingin menikahi putri saya dan memilih harta berupa emas, kamu boleh mengambilnya sebanyak yang kamu mau.”
“Baiklah, tuanku Raja,” jawab si Pemimpin; “biarkan saya mengambil emas sebanyak yang dapat dibawa oleh pengikutku, dan saya tidak akan menikahi putrimu.” Raja setuju bahwa si Pemimpin akan datang dalam dua minggu untuk mengambil emas yang dijanjikan. Si Pemimpin memanggil semua penjahit yang ada di kerajaan tersebut dan menyuruh mereka untuk membuat karung yang sangat besar dalam dua minggu. Dan ketika karung itu telah siap, orang kuat (yang dijumpai mencabut dan mengikat pohon) memanggul karung tersebut di pundaknya dan menghadap sang Raja.
“Siapa orang yang membawa buntalan sebesar rumah di pundaknya ini?” teriak sang Raja, ketakutan karena memikirkan banyaknya emas yang bisa dibawa pergi. Dan satu ton emas yang biasanya diseret oleh 16 orang kuat, hanya di panggulnya di pundak dengan satu tangan.
“Mengapa tidak kamu bawa lebih banyak lagi? emas ini hanya menutupi dasar dari kantung ini!” Jadi raja menyuruh untuk mengisinya perlahan-lahan dengan seluruh kekayaannya, dan walaupun begitu, kantung tersebut belum terisi setengah penuh.
“Bawa lebih banyak lagi!” teriak si Kuat; “harta-harta ini belum berarti apa-apa!” Kemudian akhirnya 7000 kereta yang dimuati dengan emas yang dikumpulkan dari seluruh kerajaan berakhir masuk dalam karungnya.
“Kelihatannya belum terlalu penuh,” katanya, “tetapi saya akan membawa apa yang bisa saya bawa.” walaupun dalam karung tersebut masih tersedia ruangan yang kosong.
“Saya harus mengakhirinya sekarang,” katanya; “Jika tidak penuh, sepertinya lebih mudah untuk mengikatnya.” Dan orang kuat itu lalu menaikkan karung tersebut dipunggungnya dan berangkat pergi bersama dengan teman-temannya.

Ketika sang Raja melihat semua kekayaan dari kerajaanya dibawa oleh hanya satu orang, dia merasa sangat marah, dan dia memerintahkan pasukannya untuk mengejar keenam orang itu dan merampas kembali karung itu dari si Kuat.

Dua pasukan kuda segera dapat mengejar mereka, memerintahkan keenam orang itu untuk menyerah dan menjadi tawanan, dan mengembalikan kembali karung harta itu atau dibunuh.
“Menjadi tawanan, katamu?” kata orang yang bisa meniup, “mungkin kalian perlu menari-nari di udara bersama-sama,” dan menutup satu lubang hidungnya, dan meniupkan napas melalui lubang yang satunya, pasukan tersebut beterbangan melewati atas gunung. Tetapi komandan yang memiliki sembilan luka dan merupakan orang yang pemberani, memohon agar mereka tidak dipermalukan. Si Peniup kemudian menurunkannya perlahan-lahan dan memerintahkan agar mereka melaporkan ke sang Raja bahwa pasukan apapun yang dikirim kan untuk mengejar mereka, akan mengalami nasib yang sama dengan pasukan ini. Dan ketika sang Raja mendapat pesan tersebut, berkata,
“Biarkanlah mereka; mereka mempunyai hak atas harta itu.” Jadi keenam orang itu membawa pulang harta mereka, membagi-bagikannya dan hidup senang sampai akhir hayat mereka.
Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng enam serdadu ini adalah
Janganlah merebut hak yang dimiliki oleh orang lain.

  Cerita Lucu

Cerita Dongeng – Dua Ekor Kambing

Dua ekor kambing berjalan dengan gagahnya dari arah yang berlawanan di sebuah pegunungan yang curam, saat itu secara kebetulan mereka secara bersamaan masing-masing tiba di tepi jurang yang dibawahnya mengalir air sungai yang sangat deras. Sebuah pohon yang jatuh, telah dijadikan jembatan untuk menyebrangi jurang tersebut. Pohon yang dijadikan jembatan tersebut sangatlah kecil sehingga tidak dapat dilalui secara bersamaan oleh dua ekor tupai dengan selamat, apalagi oleh dua ekor kambing. Jembatan yang sangat kecil itu akan membuat orang yang paling berani pun akan menjadi ketakutan. Tetapi kedua kambing tersebut tidak merasa ketakutan. Rasa sombong dan harga diri mereka tidak membiarkan mereka untuk mengalah dan memberikan jalan terlebih dahulu kepada kambing lainnya.

Cerita Dongeng Dua Ekor Kambing
cerita dongeng

Saat salah satu kambing menapakkan kakinya ke jembatan itu, kambing yang lainnya pun tidak mau mengalah dan juga menapakkan kakinya ke jembatan tersebut. Akhirnya keduanya bertemu di tengah-tengah jembatan. Keduanya masih tidak mau mengalah dan malahan saling mendorong dengan tanduk mereka sehingga kedua kambing tersebut akhirnya jatuh ke dalam jurang dan tersapu oleh aliran air yang sangat deras di bawahnya.

Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng dua ekor kambing ini adalah

Lebih baik mengalah daripada mengalami nasib sial karena keras kepala.

Cerita Dongeng – Pangeran Kodok

Pada jaman dahulu kala, ketika saat itu dengan mengharapkan sesuatu, hal itu dapat terwujud, ada seorang Raja yang mempunyai putri-putri yang sangat cantik jelita, dan putrinya yang termuda begitu cantiknya sehingga matahari sendiri yang melihat kecantikan putri termuda itu menjadi ragu-ragu untuk bersinar. Di dekat istana tersebut terletak hutan kayu yang gelap dan rimbun, dan di hutan tersebut, di bawah sebuah pohon tua yang mempunyai daun-daun berbentuk hati, terletak sebuah sumur; dan ketika cuaca panas, putri Raja yang termuda sering ke hutan tersebut untuk duduk di tepi sumur yang dingin, dan jika waktu terasa panjang dan membosankan, dia akan mengeluarkan bola yang terbuat dari emas, melemparkannya ke atas dan menangkapnya kembali, hal ini menjadi hiburan putri raja untuk melewatkan waktu.

Suatu ketika, bola emas itu dimainkan dan dilempar-lemparkan keatas, bola emas itu tergelincir dari tangan putri Raja dan terjatuh di tanah dekat sumur lalu terguling masuk ke dalam sumur tersebut. Mata putri raja hanya bisa memandangi bola tersebut meluncur kedalam sumur yang dalam, begitu dalamnya hingga dasar sumur tidak kelihatan lagi. Putri raja tersebut mulai menangis, dan terus menangis seolah-olah tidak ada yang bisa menghiburnya lagi. Di tengah-tengah tangisannya dia mendengarkan satu suara yang berkata kepadanya,
“Apa yang membuat kamu begitu sedih, sang Putri? air matamu dapat melelehkan hati yang terbuat dari batu.”

Dan ketika putri raja tersebut melihat darimana sumber suara tersebut berasal, tidak ada seseorangpun yang kelihatan, hanya seekor kodok yang menjulurkan kepala besarnya yang jelek keluar dari air.
“Oh, kamukah yang berbicara?” kata sang putri; “Saya menangis karena bola emas saya tergelincir dan jatuh kedalam sumur.”
“Jangan kuatir, jangan menangis,” jawab sang kodok, “Saya bisa menolong kamu; tetapi apa yang bisa kamu berikan kepada saya apabila saya dapat mengambil bola emas tersebut?”
“Apapun yang kamu inginkan,” katanya; “pakaian, mutiara dan perhiasan manapun yang kamu mau, ataupun mahkota emas yang saya pakai ini.”
“Pakaian, mutiara, perhiasan dan mahkota emas mu bukanlah untuk saya,” jawab sang kodok; “Bila saja kamu menyukaiku, dan menganggap saya sebagai teman bermain, dan membiarkan saya duduk di mejamu, dan makan dari piringmu, dan minum dari gelasmu, dan tidur di ranjangmu, – jika kamu berjanji akan melakukan semua ini, saya akan menyelam ke bawah sumur dan mengambilkan bola emas tersebut untuk kamu.”
“Ya tentu,” jawab sang putri raja; “Saya berjanji akan melakukan semua yang kamu minta jika kamu mau mengambilkan bola emas ku.”

Cerita Dongeng Pangeran Kodok
cerita dongeng

Tetapi putri raja tersebut berpikir, “Omong kosong apa yang dikatakan oleh kodok ini! seolah-olah sang kodok ini bisa melakukan apa yang dimintanya selain berkoak-koak dengan kodok lain, bagaimana dia bisa menjadi pendamping seseorang.”

Tetapi kodok tersebut, begitu mendengar sang putri mengucapkan janjinya, menarik kepalanya masuk kembali ke dalam air dan mulai menyelam turun, setelah beberapa saat dia kembali kepermukaan dengan bola emas pada mulutnya dan melemparkannya ke atas rumput.

Putri raja menjadi sangat senang melihat mainannya kembali, dan dia mengambilnya dengan cepat dan lari menjauh.
“Berhenti, berhenti!” teriak sang kodok; “bawalah aku pergi juga, saya tidak dapat lari secepat kamu!”

Tetapi hal itu tidak berguna karena sang putri itu tidak mau mendengarkannya dan mempercepat larinya pulang ke rumah, dan dengan cepat melupakan kejadian dengan sang kodok, yang masuk kembali ke dalam sumur.

Hari berikutnya, ketika putri Raja sedang duduk di meja makan dan makan bersama Raja dan menteri-menterinya di piring emasnya, terdengar suara sesuatu yang meloncat-loncat di tangga, dan kemudian terdengar suara ketukan di pintu dan sebuah suara yang berkata “Putri raja yang termuda, biarkanlah saya masuk!”

Putri Raja yang termuda itu kemudian berjalan ke pintu dan membuka pintu tersebut, ketika dia melihat seekor kodok yang duduk di luar, dia menutup pintu tersebut kembali dengan cepat dan tergesa-gesa duduk kembali di kursinya dengan perasaan gelisah. Raja yang menyadari perubahan tersebut berkata,
“Anakku, apa yang kamu takutkan? apakah ada raksasa berdiri di luar pintu dan siap untuk membawa kamu pergi?”
“Oh.. tidak,” jawabnya; “tidak ada raksasa, hanya kodok jelek.”
“Dan apa yang kodok itu minta?” tanya sang Raja.
“Oh papa,” jawabnya, “ketika saya sedang duduk di sumur kemarin dan bermain dengan bola emas, bola tersebut tergelincir jatuh ke dalam sumur, dan ketika saya menangis karena kehilangan bola emas itu, seekor kodok datang dan berjanji untuk mengambilkan bola tersebut dengan syarat bahwa saya akan membiarkannya menemaniku, tetapi saya berpikir bahwa dia tidak mungkin meninggalkan air dan mendatangiku; sekarang dia berada di luar pintu, dan ingin datang kepadaku.”

Dan kemudian mereka semua mendengar kembali ketukan kedua di pintu dan berkata,
“Putri Raja yang termuda, bukalah pintu untuk saya!, Apa yang pernah kamu janjikan kepadaku? Putri Raja yang termuda, bukalah pintu untukku!”
“Apa yang pernah kamu janjikan harus kamu penuhi,” kata sang Raja; “sekarang biarkanlah dia masuk.”

Ketika dia membuka pintu, kodok tersebut melompat masuk, mengikutinya terus hingga putri tersebut duduk kembali di kursinya. Kemudian dia berhenti dan memohon, “Angkatlah saya supaya saya bisa duduk denganmu.”

Tetapi putri Raja tidak memperdulikan kodok tersebut sampai sang Raja memerintahkannya kembali. Ketika sang kodok sudah duduk di kursi, dia meminta agar dia dinaikkan di atas meja, dan disana dia berkata lagi,
“Sekarang bisakah kamu menarik piring makanmu lebih dekat, agar kita bisa makan bersama.”

Dan putri Raja tersebut melakukan apa yang diminta oleh sang kodok, tetapi semua dapat melihat bahwa putri tersebut hanya terpaksa melakukannya.
“Saya merasa cukup sekarang,” kata sang kodok pada akhirnya, “dan saya merasa sangat lelah, kamu harus membawa saya ke kamarmu, saya akan tidur di ranjangmu.”

Kemudian putri Raja tersebut mulai menangis membayangkan kodok yang dingin tersebut tidur di tempat tidurnya yang bersih. Sekarang sang Raja dengan marah berkata kepada putrinya,
“Kamu adalah putri Raja dan apa yang kamu janjikan harus kamu penuhi.”

Sekarang putri Raja mengangkat kodok tersebut dengan tangannya, membawanya ke kamarnya di lantai atas dan menaruhnya di sudut kamar, dan ketika sang putri mulai berbaring untuk tidur, kodok tersebut datang dan berkata, “Saya sekarang lelah dan ingin tidur seperti kamu, angkatlah saya keatas ranjangmu, atau saya akan melaporkannya kepada ayahmu.”

Putri raja tersebut menjadi sangat marah, mengangkat kodok tersebut keatas dan melemparkannya ke dinding sambil menangis,
“Diamlah kamu kodok jelek!”

Tetapi ketika kodok tersebut jatuh ke lantai, dia berubah dari kodok menjadi seseorang pangeran yang sangat tampan. Saat itu juga pangeran tersebut menceritakan semua kejadian yang dialami, bagaimana seorang penyihir telah membuat kutukan kepada pangeran tersebut, dan tidak ada yang bisa melepaskan kutukan tersebut kecuali sang putri yang telah di takdirkan untuk bersama-sama memerintah di kerajaannya.

Dengan persetujuan Raja, mereka berdua dinikahkan dan saat itu datanglah sebuah kereta kencana yang ditarik oleh delapan ekor kuda dan diiringi oleh Henry pelayan setia sang Pangeran untuk membawa sang Putri dan sang Pangeran ke kerajaannya sendiri. Ketika kereta tersebut mulai berjalan membawa keduanya, sang Pangeran mendengarkan suara seperti ada yang patah di belakang kereta. Saat itu sang Pangeran langsung berkata kepada Henry pelayan setia, “Henry, roda kereta mungkin patah!”, tetapi Henry menjawab, “Roda kereta tidak patah, hanya ikatan rantai yang mengikat hatiku yang patah, akhirnya saya bisa terbebas dari ikatan ini”.

Ternyata Henry pelayan setia telah mengikat hatinya dengan rantai saat sang Pangeran dikutuk menjadi kodok agar dapat ikut merasakan penderitaan yang dialami oleh sang Pangeran, dan sekarang rantai tersebut telah terputus karena hatinya sangat berbahagia melihat sang Pangeran terbebas dari kutukan.

Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng pangeran kodok ini adalah

Kesetiaan itu sangat mahal harganya dan suatu janji harus dipenuhi, karena itu janganlah kita sembarang membuat janji.

Cerita Dongeng – Pasir Dan Batu

Dua orang sahabat sedang berjalan di padang pasir. Selama dalam perjalanan mereka berdebat tentang sesuatu. Salah seorang dari kedua sahabat itu menampar temannya, dan yang ditampar itu merasa sakit tetapi dia tak berkata apa apa, hanya menulis diatas tanah :
“HARI INI TEMAN BAIKKU MENAMPARKU”

Mereka tetap berjalan sampai mereka menemukan sebuah oasis (sumber air), mereka sepakat untuk mandi, teman yang telah ditampar tergelincir dan hampir saja tenggelam di oasis tersebut, tetapi temannya datang dan menolongnya, dan setelah diselamatkan oleh temannya dari bahaya, dia menulis di Batu
“HARI INI TEMAN BAIKKU MENYELAMATKAN NYAWAKU”

Cerita Dongeng Pasir Dan Batu
cerita dongeng

Teman yang telah menampar dan yang telah menyelamatkan nyawa teman baiknya itu bertanya kepadanya, “Setelah saya menyakitimu, kamu menulisnya di tanah dan sekarang, kamu menulisnya diatas batu, mengapa?

Temannya pun menjawab : “Ketika seseorang menyakiti kita, kita harus menulisnya diatas tanah, agar angin dapat menerbangkannya dan dapat menghapusnya sehingga dapat termaafkan. Tetapi ketika seseorang melakukan sesuatu yang baik kepada kita, kita harus mengukirnya diatas batu dimana tak ada angin yang dapat menghapusnya”

  Cerita Rakyat

Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng pasir dan batu ini adalah

Teman yang baik akan melupakan dan memaafkan sakit yang diterimanya dan teman yang baik akan mengingat selalu kebaikan temannya.

Cerita Dongeng – Kisah Nyonya Cap

Kota Harmonali dilanda gerimis berhari-hari. Dimana-mana, orang terserang flu. Di ujung jalan, seorang anak SD bersin. Penjual lemper di dekat lampu merah sedang batuk-batuk. Seorang pengamen membalikkan badan menghadap pohon besar dan menyusut ingus dengan tisu. Tempat praktik dokter dipenuhi pasien yang terkena flu. Apotek dibanjiri pembeli obat flu.

Nyonya Cap adalah salah satu pasien yang mengantre di apotek untuk membeli obat flu. Sebelumnya ia ke dokter. Dokter menyuruhnya minum yang banyak, istirahat yang cukup, makan yang banyak, minum obat, dan terakhir jangan banyak bicara. Anjuran terakhir ini dirasa berat karena Nyonya Cap termasuk orang yang gemar bicara.

Pada penarik becak, ia bicara kalau punya emas satu lemari. Ketika membeli donat, ia bilang pada penjualnya kalau biasa makan donat terenak. Saat membeli baju, ia berkata pada pelayan toko kalau sering membeli pakaian mahal. Pada siapa saja, Nyonya Cap bicara. Kecuali pada benda mati, tentu saja.

Cerita Dongeng Kisah Nyonya Cap
cerita dongeng

Setelah mendapatkan obat, Nyonya Cap mampir ke supermarket. Ia ingin membeli melon. Seorang pelayan berdiri di samping tumpukan melon.

“Aku mau beli melon paling murah. Soalnya kemarin aku habis beli melon paling mahal. Berhari-hari aku makan melon mahal, sampai bosan. Rasanya sih enak. Manis seperti disuntik cairan gula. Dagingnya selembut puding busa. Aku sangat menikmatinya. Sekarang, aku ingin menikmati melon biasa. Tenggorokanku sakit, lidahku terasa pahit, percuma beli melon paling mahal. Aku juga tak suka kalau terlalu besar karena…”

UHUK! UHUK! UHUK! Nyonya Cap batuk-batuk sampai bahunya terguncang-guncang hebat. Nona pelayan yang berseragam putih hitam hanya bisa mengerjap-ngerjap memandangnya. Dalam hati ia membatin, kebanyakan bicara sih. Nyonya Cap melupakan melonnya. Sambil terbungkuk-bungkuk dan batuk, ia menuju ke rak air mineral. Ada seorang ibu memilih-milih minuman. Mulailah Nyonya Cap berkomentar.

“Astaga! kenapa bingung? bukankah semua kemasan ii berisi air putih? anda mencari yang paling murah? kasihan sekali! Kemarin aku habis minum air paling mahal. Rasanya seperti embun gunung di pagi hari. Sejuuuuuuk! Benar-benar nikmat dan aku…..”

UHUK! UHUK! UHUK! Lagi-lagi Nyonya Cap batuk. Wajahnya sampai merah padam. Ibu yang memilih minuman hanya melongo. Buat apa minum air paling mahal kalau jadi batuk, kata si ibu dalam hati.

Nyonya Cap berjalan dengan kepala pening, terbungkuk-bungkuk dan batuk-batuk lebih parah dari sebelumnya. Ia melupakan air mineral dan kepingin membeli tisu. Namun, karena berjalan membungkuk sambil batuk disertai kepala pusing, Nyonya Cap tak memperhatikan arah langkahnya.

Tanpa sengaja, Nyonya Cap menabrak perempuan berambut cokelat yang sedang makan es krim. Es krim duriannya terlempar. Seorang nenek berambut serba putih lewat situ dan terpeleset. Ikan gurame belanjaannya terlontar mengenai wajah pelayan yang sedang mengepel. Sang pelayan kaget. Alat pelnya menyeruduk ember berisi cairan pembersih lantai. Isi ember pun tumpah. Dua orang yang jalan-jalan di sana terpeleset, menabrak rak sabun, rak panci, dan rak piring. Barang-barang di dalam rak kocar-kacir di lantai, bahkan beberapa piring pecah.

Pak Satpam supermarket kaget melihat banyak barang bertebaran di lantai.
“Tolong jelaskan, kenapa bisa begini?” tuntut pak satpam yang badannya mirip algojo.
“Aku terpeleset gara-gara licin,” lapor pria yang menabrak rak piring.
“Ada air tumpah, lalu kami jatuh,” imbuh pria berkumis yang menabrak rak panci dan sabun.
“Maaf aku tak sengaja menumpahkan ember karena kaget dengan ikan terbang yang mengenai wajahku,” timpal nona pelayan yang mengepel.
“Ikanku! Aku terpeleset es krim hingga gurame di keranjangku melayang,” keluh sang nenek berambut serba putih.
“Maaf, es krimku jatuh. Tiba-tiba ada orang bungkuk batuk-batuk menabrakku. Dia,” sahut perempuan cokelat sambil menunjuk Nyonya Cap yang masih batuk-batuk sampai berjongkok.

Pak satpam mengajak Nyonya Cap ke ruangan pak kepala supermarket. Nyonya Cap diminta mengganti kerusakan piring yang pecah dan membantu membersihkan supermarket.
“Aku…. UHUK! UHUK! Tidak mau! UHUK! UHUK,” teriak Nyonya Cap.
“Kalau tidak mau, terpaksa anda harus tinggal disini sampai besok,” tegas pak kepala supermarket.

Nyonya Cap tak punya pilihan lain. Akhirnya ia bersedia membayar dan membantu para pelayan membereskan kekacauan sambil batuk-batuk dan bersungut-sungut. Nasihat dokter terngiang di telinganya, jangan banyak bicara.

Sekian cerita dari dongeng kisah Nyonya Cap, semoga memberikan nilai moral yang baik dan senang dalam membaca dongeng.

Cerita Dongeng – Cinderella Putri Yang Cantik

Di sebuah kerajaan, tinggalah seorang anak perempuan yang cantik dan baik hati. Ia tinggal bersama ibu dan kedua kakak tirinya, karena orangtuanya sudah meninggal dunia. Di rumah tersebut ia selalu disuruh mengerjakan seluruh perkerjaan rumah. Ia selalu dibentak dan hanya diberi makan satu kali sehari oleh ibu tirinya. Kakak-kakaknya yang jahat memanggilnya “Cinderella”. Cinderella artinya gadis yang kotor dan penuh dengan debu. “Nama yang cocok buatmu!” kata mereka.

Setelah beberapa lama, pada suatu hari datang pengawal kerajaan yang menyebarkan surat undangan pesta dari Istana.

“Asyik… kita akan pergi dan berdandan secantik-cantiknya. Kalau aku jadi putri raja, ibu pasti akan gembira”, kata mereka.

Hari yang dinanti tiba, kedua kakak tiri Cinderella mulai berdandan dengan gembira. Cinderella sangat sedih sebab ia tidak diperbolehkan ikut oleh kedua kakaknya ke pesta di Istana. “Baju pun kau tak punya, apa mau pergi ke pesta dengan baju sepert itu?”, kata kakak Cinderella.

Setelah semua berangkat ke pesta, Cinderella kembali ke kamarnya. Ia menangis sekeras-kerasnya karena hatinya sangat kesal.

“Aku tidak bisa pergi ke istana dengan baju kotor seperti ini, tapi aku ingin pergi”

Tidak berapa lama terdengar sebuah suara. “Cinderella, berhentilah menangis.”

cerita dongeng cinderella yang cantik
cerita dongeng

Ketika Cinderella berbalik, ia melihat seorang peri. Peri tersenyum dengan ramah. “Cinderella bawalah empat ekor tikus dan dua ekor kadal.” Setelah semuanya dikumpulkan Cinderella, peri membawa tikus dan kadal tersebut ke kebun labu di halaman belakang.

“Sim salabim!” sambil menebar sihirnya, terjadilah suatu keajaiban. Tikus-tikus berubah menjadi empat ekor kuda, serta kadal-kadal berubah menjadi dua orang sais. Yang terakhir, Cinderella berubah menjadi Putri yang cantik, dengan memakai gaun yang sangat indah.

Karena gembiranya, Cinderella mulai menari berputar-putar dengan sepatu kacanya seperti kupu-kupu. Peri berkata,”Cinderella, pengaruh sihir ini akan lenyap setelah lonceng pukul dua belas malam berhenti. Karena itu, pulanglah sebelum lewat tengah malam.

“Ya Nek. Terimakasih,” jawab Cinderella.

Kereta kuda emas segera berangkat membawa Cinderella menuju istana. Setelah tiba di istana, ia langsung masuk ke aula istana. Begitu masuk, pandangan semua yang hadir tertuju pada Cinderella. Mereka sangat kagum dengan kecantikan Cinderella. “Cantiknya putrid itu! Putri dari negara mana ya ?” Tanya mereka.

Akhirnya sang Pangeran datang menghampiri Cinderella. “Putri yang cantik, maukah Anda menari dengan saya ?” katanya.

“Ya…,” kata Cinderella sambil mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Mereka menari berdua dalam irama yang pelan. Ibu dan kedua kakak Cinderella yang berada di situ tidak menyangka kalau putri yang cantik itu adalah Cinderella.

“Orang seperti andalah yang saya idamkan selama ini,” kata sang Pangeran.

Karena bahagianya, Cinderella lupa akan waktu. Jam mulai berdentang 12 kali.

“Maaf Pangeran saya harus segera pulang..,”. Cinderela menarik tangannya dari genggaman pangeran dan segera berlari ke luar Istana.

Di tengah jalan, sepatunya terlepas sebelah, tapi Cinderella tidak memperdulikannya, ia terus berlari. Pangeran mengejar Cinderella, tetapi ia kehilangan jejak Cinderella. Di tengah anak tangga, ada sebuah sepatu kaca kepunyaan Cinderella. Pangeran mengambil sepatu itu.

“Aku akan mencarimu,” katanya bertekad dalam hati.

Meskipun Cinderella kembali menjadi gadis yang penuh debu, ia amat bahagia karena bisa pergi ke pesta. Esok harinya, para pengawal yang dikirim Pangeran datang ke rumah-rumah yang ada anak gadisnya di seluruh pelosok negeri untuk mencocokkan sepatu kaca dengan kaki mereka, tetapi tidak ada yang cocok. Sampai akhirnya para pengawal tiba di rumah Cinderella.

“Kami mencari gadis yang kakinya cocok dengan sepatu kaca ini,” kata para pengawal.

Kedua kakak Cinderella mencoba sepatu tersebut, tapi kaki mereka terlalu besar. Mereka tetap memaksa kakinya dimasukkan ke sepatu kaca sampai lecet. Pada saat itu, pengawal melihat Cinderella.

“Hai kamu, cobalah sepatu ini,” katanya. Ibu tiri Cinderella menjadi marah,” tidak akan cocok dengan anak ini!”.

Kemudian Cinderella menjulurkan kakinya. Ternyata sepatu tersebut sangat cocok.

“Ah! Andalah Putri itu,” seru pengawal gembira. “Cinderella, selamat..,” Cinderella menoleh ke belakang, peri sudah berdiri di belakangnya. “Mulai sekarang hiduplah berbahagia dengan Pangeran. Sim salabim!.,” katanya.

Begitu peri membaca mantranya, Cinderella berubah menjadi seorang Putri yang memakai gaun pengantin.

“Pengaruh sihir ini tidak akan hilang walau jam berdentang dua belas kali”, kata sang peri. Cinderella diantar oleh tikus-tikus dan burung yang selama ini menjadi temannya. Sesampainya di Istana, Pangeran menyambutnya sambil tersenyum bahagia. Akhirnya Cinderella menikah dengan Pangeran dan hidup berbahagia.

Cerita Dongeng – Anjing Dan Tiram

Ada seekor anjing yang sangat senang makan telur. Anjing itu sering masuk ke kandang ayam dan dengan rakusnya menelan telur ayam bulat-bulat.

Suatu hari, sang Anjing berjalan-jalan di pinggiran pantai. Anjing tersebut melihat seekor tiram, dan dalam sekejap sang Anjing menelan bulat-bulat tiram yang disangkanya telur.

Cerita Dongeng Anjing Dan Tiram
cerita dongeng

Tidak berapa lama kemudian, seperti yang kita duga, sang Anjing merasakan sakit yang hebat di perutnya.

“Saya akhirnya mengerti bahwa tidak semua benda yang berbentuk bulat, adalah telur,” katanya sambil mengerang kesakitan.

Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng anjing dan tiram ini adalah

Bertindak terlalu tergesa-gesa akan mengakibatkan sesuatu yang buruk.

Cerita Dongeng – Angsa Dan Telur Emas

Pada zaman dahulu kala, ada seorang petani yang memiliki seekor angsa yang sangatlah cantik, dimana setiap hari ketika petani tersebut mendatangi kandang angsa, sang Angsa telah menelurkan sebuah telur emas yang berkilauan.

Petani tersebut mengambil dan membawa telur-telur emas tersebut ke pasar dan menjualnya sehingga dalam waktu yang singkat petani tersebut mulai menjadi kaya. Tetapi tidak lama kemudian keserakahan dan ketidak-sabaran petani itu terhadap sang Angsa muncul karena sang Angsa hanya memberikan sebuah telur setiap hari. Sang Petani merasa dia tidak akan cepat menjadi kaya dengan cara begitu.

Suatu hari, setelah menghitung uangnya, sebuah gagasan muncul di kepala petani, gagasan bahwa dia akan mendapatkan semua telur emas sang Angsa sekaligus dengan cara memotong sang Angsa. Tetapi ketika gagasan tersebut dilaksanakan, tidak ada sebuah telur yang dapat dia temukan, dan angsanya yang sangat berharga terlanjur mati dipotong.

  Cerita Fabel
Cerita Dongeng Angsa Dan Telur Emas
cerita dongeng

Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng angsa dan telur emas ini adalah

Barang siapa yang telah memiliki sesuatu dengan berlimpah, tetapi serakah dan menginginkan yang lebih lagi, akan kehilangan semua yang dimilikinya. Maka bersyukurlah dengan segala sesuatu yang kita miliki.

Cerita Dongeng – Aladin Dan Lampu Ajaib

Dahulu kala, di kota Persia, seorang Ibu tinggal dengan anak laki-lakinya yang bernama Aladin. Suatu hari datanglah seorang laki-laki mendekati Aladin yang sedang bermain. Kemudian laki-laki itu mengakui Aladin sebagai keponakannya. Laki-laki itu mengajak Aladin pergi ke luar kota dengan seizin ibu Aladin untuk membantunya. Jalan yang ditempuh sangat jauh, Aladin mengeluh kecapaian kepada pamannya tetapi ia dibentak dan disuruh untuk mencari kayu bakar, jika tidak mau Aladin akan dibunuhnya. Aladin akhirnya sadar bahwa laki-laki itu bukan pamannya melainkan seorang penyihir. Laki-laki penyihir itu kemudian menyalakan api dengan kayu bakar dan mulai mengucapkan mantera. “Kraak…” tiba-tiba tanah menjadi berlubang seperti gua.

Cerita Dongeng Aladin Dan Lampu Ajaib
cerita dongeng

Dalam lubang gua itu terdapat tangga sampai ke dasarnya. “Ayo turun! Ambilkan aku lampu antik di dasar gua itu”, seru si penyihir. “Tidak, aku takut turun ke sana”, jawab Aladin. Penyihir itu kemudian mengeluarkan sebuah cincin dan memberikannya kepada Aladin. “Ini adalah cincin ajaib, cincin ini akan melindungimu”, kata si penyihir. Akhirnya Aladin menuruni tangga itu dengan perasaan takut. Setelah sampai di dasar ia menemukan pohon-pohon berbuah permata. Setelah buah permata dan lampu yang ada di situ dibawanya, ia segera menaiki tangga kembali. Tetapi, pintu lubang sudah tertutup sebagian. “Cepat berikan lampunya !”, seru penyihir. “Tidak ! Lampu ini akan kuberikan setelah aku keluar”, jawab Aladin. Setelah berdebat, si penyihir menjadi tidak sabar dan akhirnya “Brak!” pintu lubang ditutup oleh si penyihir lalu meninggalkan Aladin terkurung di dalam lubang bawah tanah. Aladin menjadi sedih, dan duduk termenung. “Aku lapar, Aku ingin bertemu ibu, Tuhan, tolonglah aku !”, ucap Aladin.

Aladin merapatkan kedua tangannya dan mengusap jari-jarinya. Tiba-tiba, sekelilingnya menjadi merah dan asap membumbung. Bersamaan dengan itu muncul seorang raksasa. Aladin sangat ketakutan. “Maafkan saya, karena telah mengagetkan Tuan”, saya adalah peri cincin kata raksasa itu. “Oh, kalau begitu bawalah aku pulang kerumah.” “Baik Tuan, naiklah kepunggungku, kita akan segera pergi dari sini”, ujar peri cincin. Dalam waktu singkat, Aladin sudah sampai di depan rumahnya. “Kalau tuan memerlukan saya panggillah dengan menggosok cincin Tuan.”

Aladin menceritakan semua hal yang di alaminya kepada ibunya. “Mengapa penyihir itu menginginkan lampu kotor ini?”, kata Ibu sambil menggosok untuk membersihkan lampu itu. “Suuuut !” Tiba-tiba asap membumbung dan muncul seorang raksasa peri lampu. “Sebutkanlah perintah Nyonya”, kata si peri lampu. Aladin yang sudah pernah mengalami hal seperti ini berkata, ”kami lapar, tolong siapkan makanan untuk kami”. Dalam waktu singkat peri Lampu membawa makanan yang lezat-lezat kemudian menyuguhkannya. “Jika ada yang diinginkan lagi, panggil saja saya dengan menggosok lampu itu”, kata si peri lampu.

Demikian hari, bulan, tahunpun berganti, Aladin hidup bahagia dengan ibunya. Aladin sekarang sudah menjadi seorang pemuda. Suatu hari lewat seorang Putri Raja di depan rumahnya. Ia sangat terpesona dan merasa jatuh cinta kepada Putri Cantik itu. Aladin lalu menceritakan keinginannya kepada ibunya untuk memperistri putri raja. “Tenang Aladin, Ibu akan mengusahakannya”. Ibu pergi ke istana raja dengan membawa permata-permata kepunyaan Aladin. “Baginda, ini adalah hadiah untuk Baginda dari anak laki-lakiku.” Raja amat senang. “Wah…, anakmu pasti seorang pangeran yang tampan, besok aku akan datang ke Istana kalian dengan membawa serta putriku”.

Setelah tiba di rumah Ibu segera menggosok lampu dan meminta peri lampu untuk membawakan sebuah istana. Aladin dan ibunya menunggu di atas bukit. Tak lama kemudian peri lampu datang dengan Istana megah di punggungnya. “Tuan, ini Istananya”. Esok hari sang Raja dan putrinya datang berkunjung ke Istana Aladin yang sangat megah. “Maukah engkau menjadikan anakku sebagai istrimu?”, tanya sang Raja. Aladin sangat gembira mendengarnya. Lalu mereka berdua melaksanakan pesta pernikahan.

Di tempat nan jauh disana, si penyihir ternyata melihat semua kejadian itu melalui bola kristalnya. Ia lalu pergi ke tempat Aladin dan pura-pura menjadi seorang penjual lampu di depan Istana Aladin. Ia berteriak-teriak, “tukarkan lampu lama anda dengan lampu baru !”. Sang permaisuri yang melihat lampu ajaib Aladin yang usang segera keluar dan menukarkannya dengan lampu baru. Segera si penyihir menggosok lampu itu dan memerintahkan peri lampu memboyong istana beserta isinya dan istri Aladin ke rumahnya.

Ketika Aladin pulang dari berkeliling, ia sangat terkejut. Lalu memanggil peri cincin dan bertanya kepadanya apa yang telah terjadi. “Kalau begitu tolong kembalikan lagi semuanya kepadaku”, seru Aladin. “Maaf Tuan, tenaga saya tidaklah sebesar peri lampu,” ujar peri cincin. “Baik kalau begitu aku yang akan mengambilnya. Tolong Antarkan aku kesana”, seru Aladin. Sesampainya di Istana, Aladin menyelinap masuk mencari kamar tempat sang Putri dikurung. “Penyihir itu sedang tidur karena kebanyakan minum bir”, ujar sang Putri. “Baik, jangan kuatir aku akan mengambil kembali lampu ajaib itu, kita nanti akan menang”, jawab Aladin.

Aladin mengendap mendekati penyihir yang sedang tidur. Ternyata lampu ajaib menyembul dari kantungnya. Aladin kemudian mengambilnya dan segera menggosoknya. “Singkirkan penjahat ini”, seru Aladin kepada peri lampu. Penyihir terbangun, lalu menyerang Aladin. Tetapi peri lampu langsung membanting penyihir itu hingga tewas. “Terima kasih peri lampu, bawalah kami dan Istana ini kembali ke Persia”. Sesampainya di Persia Aladin hidup bahagia. Ia mempergunakan sihir dari peri lampu untuk membantu orang-orang miskin dan kesusahan.

Cerita Dongeng – Si Kancil Dan Siput

Suatu hari angin berhembus semilir-semilir membuat penghuni hutan mengantuk. Begitu juga dengan si kancil. Untuk mengusir rasa kantuknya si kancil berjalan-jalan di hutan sambil membusungkan dadanya.

Sambil berjalan si kancil berkata, “Siapa yang tak kenal kancil. Si pintar, si cerdik dan si pemberani. Setiap masalah pasti selesai olehku.”

Ketika sampai di sungai, si kancil segera minum untuk menghilangkan rasa hausnya. Air yang begitu jernih membuat si kancil dapat berkaca. Si kancil berkata-kata sendirian.

Cerita Dongeng si Kancil Dan Siput
cerita dongeng

“Buaya, gajah, harimau semuanya binatang bodoh, jika berhadapan denganku mereka dapat aku perdaya.”

dongeng si kancil dan siput
Si kancil tidak tahu kalau ia daritadi sedang diperhatikan oleh seekor siput yang sedang duduk di bongkahan batu yang besar.

Si siput berkata, “Hei kancil, kau asyik sekali berbicara sendirian. Ada apa? Kamu sedang bergembira?”

Kancil mencari-cari sumber suara itu. Akhirnya si kancil menemukan letak si siput.

“Rupanya sudah lama kau memperhatikanku ya? Siput yang kecil dan imut-imut. Eh bukan! Kamu memang kecil tapi tidak imut-imut, melainkan jelek bagai kotoran ayam,” ujar si kancil.

Siput terkejut mendengar ucapan si kancil yang telah menghina dan membuatnya jengkel.

Lalu siput pun berkata, “hai kancil! kamu memang cerdik dan pemberani karena itu aku menantangmu lomba adu cepat.”

Akhirnya mereka setuju perlombaan dilakukan minggu depan. Setelah si kancil pergi, siput segera memanggil dan mengumpulkan teman-temannya.

Si siput meminta tolong teman-temannya agar waktu perlombaan nanti semuanya harus berada di jalur lomba.

“Jangan lupa, kalian bersembunyi di balik bongkahan batu, dan salah satu harus segera muncul jika si kancil memanggil, dengan begitu kita selalu berada di depan si kancil,” kata siput.

Hari yang dinanti tiba. Si kancil datang dengan sombongnya, merasa ia pasti akan sangat mudah memenangkan perlombaan ini. Siput mempersilahkan kancil untuk berlari duluan dan memanggilnya untuk memastikan sudah sampai mana ia sampai.

Perlombaan dimulai. Kancil berjalan santai, sedang siput segera menyelam ke dalam air.

Setelah beberapa langkah, si kancil memanggil siput. Tiba-tiba siput muncul di depan kancil sambil berseru, “hai kancil! aku sudah sampai sini.”

Si kancil terheran-heran, segera ia mempercepat langkahnya. Kemudian ia memanggil si siput lagi. Ternyata siput juga sudah berada di depannya.

Akhirnya si kancil berlari tetapi ia panggil si siput, ia selalu muncul di depan kancil. Keringatnya bercucuran, kakinya terasa lemas dan nafasnya tersengal-sengal.

Ketika hampir finish, ia memanggil siput, tetapi tidak ada jawaban. Si kancil berpikir siput sudah tertinggal jauh dan ia akan menjadi pemenang perlombaan.

Si kancil berhenti berlari, ia berjalan santai sambil beristirahat. Dengan senyum sinis kancil berkata,” kancil memang tiada duanya.”

Si kancil dikagetkan ketika ia mendengar suara siput yang sudah duduk di atas batu besar.

“Oh kasihan sekali kau kancil. Kelihatannya sangat lelah, capai ya berlari?” ejek siput.

Tidak mungkin! Bagaimana kamu bisa lebih dulu sampai, padahal aku berlari sangat kencang,” seru si kancil.

“Sudahlah akui saja kekalahanmu,” ujar siput.

Si kancil masih heran dan tak percaya kalau ia dikalahkan oleh binatang yang lebih kecil darinya. Si kancil menundukkan kepala dan mengakui kekalahannya.

“Sudahlah tidak usah sedih, aku tidak minta hadiah kok. Aku hanya ingin kamu ingat satu hal, janganlah sombong dengan kepandaian dan kecerdikanmu. Semua binatang mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing, jadi jangan suka menghina dan menyepelekan mereka,” ujar siput.

Siput segera menyelam ke dalam sungai. Tinggalah si kancil dengan rasa menyesal dan malu.

Cerita Dongeng – Beruang Dan Lebah

Dongeng beruang dan lebah – Seekor beruang menjelajahi hutan untuk mencari buah-buahan, menemukan pohon tumbang di mana pada pohon tersebut terdapat sarang tempat lebah menyimpan madu. Beruang itu mulai mengendus-endus dengan hati-hati di sekitar pohon tumbang tersebut untuk mencari tahu apakah lebah-lebah sedang berada dalam sarang tersebut. Tepat pada saat itu, sekumpulan kecil lebah terbang pulang dengan membawa banyak madu. Lebah-lebah yang pulang tersebut, tahu akan maksud sang Beruang dan mulai terbang mendekati sang Beruang, menyengatnya dengan tajam lalu lari bersembunyi ke dalam lubang batang pohon.

Cerita Dongeng Beruang Dan Lebah
cerita dongeng

Beruang tersebut menjadi sangat marah dan seketika itu juga, loncat ke atas batang yang tumbang tersebut dan dengan cakarnya menghancurkan sarang lebah. Tetapi hal ini malah membuat seluruh kawanan lebah yg berada dalam sarang, keluar dan menyerang sang Beruang. Beruang yang sial itu akhirnya lari terbirit-birit dan hanya dapat menyelamatkan dirinya dengan cara menyelam ke dalam air sungai.

Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng beruang dan lebah ini adalah

Lebih bijaksana untuk berdiam diri menahan diri daripada menambah masalah karena melampiaskan emosi.

  Cerita Fabel

—-

Cerita Dongeng – Putri Salju Dan 7 Kurcaci

Pada zaman dahulu, ada seorang Ratu yang melahirkan seorang putri cantik dengan pipi merah, kulit putih dan rambutnya hitam lebat. Bayi itu diberi nama Putri Salju.

Namun sungguh malang nasib Putri Salju, ibunya tidak dapat menemani lebih lama di dunia ini. Sang Ratu meninggal dunia dan ayahnya menikah lagi. Ratu baru ini cantik, namanya Ratu Elvira, tetapi sifatnya penuh iri dan dengki. Hanya mementingkan dirinya sendiri.

Ratu Elvira mempunyai sebuah benda ajaib yang paling disayanginya yaitu sebuah cermin ajaib. Setiap hari ia bertanya kepada cerminnya,

“Cermin kaca benggala, siapa wanita yang tercantik di dunia?”
“Ooo, Ratu, engkaulah wanita paling cantik di dunia!” jawab cermin ajaib itu.

Tetapi, Putri Salju semakin hari semakin besar dan setiap hari menjadi semakin cantik. Pada suatu hari, sang Ratu lagi-lagi bertanya kepada cermin ajaibnya,

“Cermin kaca benggala, siapa wanita yang tercantik di dunia?”

Kali ini cermin ajaib memberi jawaban lain, “Ooo, Ratu, Putri Salju lah wanita yang paling cantik di dunia!”. Seketika itu juga wajah sang Ratu menjadi cemberut, pucat dan marah.
Sejak peristiwa itu, Ratu sangat membenci Putri Salju, sedangkan Putri Salju semakin hari semakin cantik. Dengan rasa marah, sang Ratu memanggil seorang pemburu,

“Bawalah Putri Salju ke hutan,” perintahnya.
“Bunuh dia dan bawa jantungnya kepadaku.”

Pemburu itu membawa Putri Salju ke hutan, tetapi ia tidak sampai hati untuk membunuhnya.

Cerita Dongeng putri salju dan 7 kurcaci
cerita dongeng

“Larilah dan jangan kembali.” bisik si pemburu itu kepada Putri Salju.
“Oh, terima kasih Pak Tua, aku tidak akan melupakan budi baikmu ini.” ujar Putri Salju.

Putri Salju tak tahu jalan dan ia sangat takut.

“Oh, kemana aku harus pergi?” tangisnya.

Ia terus berjalan seorang diri. Hutan yang lebat membuatnya merasa takut. Akhirnya, ia melihat sebuah pondok di tempat terbuka. Ia menghampiri pondok itu dan mengintip ke dalam. Ruangannya kecil dan aneh! Ada tujuh kursi kecil dan tujuh piring kecil. Di sepanjang dinding ada tujuh ranjang kecil. Tidak ada orang. Karena diluar dingin sekali maka Putri Salju masuk ke pondok itu, lalu berbaring di salah satu ranjang. Karena kecapekan akhirnya ia tertidur.
Putri Salju segera tidur pulas. Ia tidak tahu bahwa pondok itu milik tujuh kurcaci yang bekerja di tambang sepanjang hari. Ketujuh kurcaci itu adalah
Doc , kurcaci yang paling tua dan bijaksana diantara temannya. Dia adalah pemimpin dari kurcaci ini. Ciri yang paling mudah terlihat adalah kacamata dan janggutnya yang tebal dan panjang
Dopey, walau diberi nama panggilan dopey oleh kurcaci lainnya namun tidak berarti dia bodoh. Kurcaci ini memiliki sifat lugu dan kekanakan. Dia tidak pernah berbicara.
Sleepy, kurcaci yang suka tidur. Namun walau demikian, dia seorang kurcaci pekerja yang rajin.
Grumpy, kurcaci pemarah. Dia selalu menggerutu. Namun demikian, hatinya baik.
Sneezy, kurcaci yang memiliki kebiasaan bersin dalam situasi tertentu.
Happy, kurcaci yang selalu gembira.
Bashful, kurcaci pemalu. Ketika malu, dia selalu memilin jenggotnya sambil tersenyum malu. Walau pemalu, tapi Bashful adalah kurcaci pemberani.
Pada saat mereka pulang dan menyalakan tujuh lilin,

“Astaga ! Ada orang di sini !” seru salah satu kurcaci.

Ia terkejut ketika melihat Putri Salju tidur di ranjang.
Karena seruan itu akhirnya Putri Salju terbangun dari tidurnya dan ketujuh kurcaci itu segera datang mengerumuninya.

“Cantik sekali gadis ini ! “ kata mereka.

Lalu Putri Salju bercerita tentang ibunya, Ratu yang jahat. Setelah bercerita, gadis itu menjadi sedih sehingga ia mulai menangis….

“Cup, cup, cuuuup……!” kata si kurcaci yang baik itu.
“Tinggallah bersama kami. Disini engkau aman dari wanita jahat itu.”

Putri Salju dengan senang hati menerima tawaran itu.
Di istana, lagi-lagi Ratu berdiri di depan cermin ajaibnya. Ia tidak tahu kalau si pemburu itu sebenarnya tidak menjalankan perintahnya. Jantung yang diperlihatkannya itu adalah jantung binatang buruan, bukan jantung Putri Salju.
Sambil mengusap tangan dengan penuh rasa puas, Ratu tersenyum dan berkata,

“Cermin kaca benggala, siapa wanita yang tercantik di dunia?”
Tak terduga cermin ajaib itu menjawab, “Ooo, Ratu, Putri Salju lah wanita yang tercantik di dunia!”
“Hah, Apa? Bukannya Putri Salju sudah mati dibunuh oleh pemburu itu?” sang Ratu balik bertanya pada cermin ajaib.
“Belum Ratu, Putri Salju belum mati. Si pemburu tidak jadi membunuh Putri Salju. Jantung yang dibawa oleh si pemburu adalah jantung binatang buruan.”
“Lalu dimana Putri Salju sekarang berada?” sahut sang Ratu.
“Di tengah rimba, tempat kediaman tujuh kurcaci, disanalah Putri Salju berada.”

Dengan rasa marah, sang Ratu menyusun rencana jahat untuk mencelakakan Putri Salju.
Keesokan harinya, ketujuh kurcaci berangkat ke tambang tempat mereka bekerja. Putri Salju merapikan pondok itu sambil bersenandung. Ia menyapu dan mengepel lantai, juga membersihkan perabotan rumah tangga.
Tak lama kemudian, seorang nenek-nenek mengetuk pintu. Dialah sang Ratu yang menyamar sebagai wanita tua penjual keliling.

“Lihatlah barang-barang bagus ini, nak.” katanya sambil tertawa-tawa kecil.

Putri Salju begitu terpesona dengan barang-barang yang di bawa oleh si wanita tua itu.

“Cobalah yang ini. Pita ini sangat cocok kamu pakai dan serasi dengan baju yang kamu pakai.”

Karena terpesona, Putri Salju membiarkan wanita tua itu mengikatkan pita merah jambu di lehernya untuk dicobakan. Tiba-tiba wanita tua itu mengetatkan ikatannya ! Putri Salju tercekik dan jatuh ke tanah. Para kurcaci menemukan Putri Salju tergeletak hampir mati. Mereka melepaskan pitanya dan gadis itu bisa bernafas lagi. Esok paginya ia sudah sehat kembali.

“Penjaja itu si Ratu jahat,” kata kurcaci.

Dan sebelum para kurcaci berangkat kerja, mereka berpesan agar jangan membukakan pintu bagi orang yang tak dikenal. Sementara itu, lagi-lagi cermin ajaib memberi tahu Ratu bahwa Putri Salju belum mati. Ratu pun marah dan ia menyamar lagi, sekarang ia menyamar sebagai nenek ramah penjual sisir.
Lagi-lagi, Putri Salju hampir mati sebab sisir itu beracun. Kali ini para kurcaci menjadi geram.

“Siapapun tidak boleh masuk rumah,” kata mereka tegas.

Ketika Ratu mengetahui dari cermin ajaib bahwa ia gagal lagi, kemarahannya memuncak. Ia bertekad untuk membunuh Putri Salju.
Keesokan harinya, Ratu menyamar lagi dan kali ini ia membawa sekeranjang buah apel yang beracun. Ia mengetuk pintu pondok kurcaci.

“Pintunya tidak usah dibuka, anak manis,” katanya licik.
“Tetapi cobalah apel yang matang ini. Rasanya sangat segar dan nikmat sekali !”

Putri Salju tidak curiga pada apel merah ranum itu dan menggigitnya sepotong besar. Hanya beberapa saat setelah ia menggigit apel itu tubuhnya kejang lalu jatuh tersungkur ke lantai.
Ketika para kurcaci pulang sore hari, mereka menemukan Putri Salju tergolek di lantai. Segala usaha untuk menyelamatkannya sia-sia saja. Ia tergeletak diam dan dingin.

“Kita telah kehilangan gadis paling cantik di dunia,” ratap mereka sedih.

Sementara itu, jauh di istana, Ratu berdiri penuh keangkuhan di depan cerminnya.

“Cermin kaca benggala, siapakah wanita yang tercantik di dunia?”
“Ratu Elvira, wanita tercantik di dunia,” jawab cermin ajaib.

Para kurcaci tidak dapat berpisah dengan Putri Salju. Pipinya masih merah, kulitnya seputih salju, dan rambutnya sehitam kayu eboni. Oleh karena itu, para kurcaci membuat sebuah peti dari kaca dan dengan penuh kehati-hatian mereka membaringkan Putri Salju di dalamnya.
Gadis yang terbaring itu tampak seolah-olah sedang tidur saja. Siang malam para kurcaci berjaga di samping peti. Pada suatu petang, lewatlah seorang Pangeran muda. Begitu melihat Putri Salju, ia jatuh cinta.

“Aku mohon pada kalian, ijinkan aku membawanya pulang ke istanaku. Supaya ia dapat berbaring dengan layak di istana.”

Para kurcaci akhirnya semua setuju.
Dalam perjalanan, menuruni gunung. Pada saat suatu ketika salah seorang pelayan pengusung peti tersandung, tiba-tiba dari mulut Putri Salju keluar secuil apel yang selama ini tersangkut di kerongkongannya.
Putri Salju membuka matanya dan memandang Pangeran. Sang Pangeran tentu saja gembira bukan kepalang. Dengan mata yang berbinar-binar ia berkata,

“Aku cinta padamu, maukah kau menjadi istriku?”

Putri Salju mengangguk bahagia.
Mereka melambai-lambaikan ketika melihat gadis cantik itu berangkat dengan Pangeran. Putri Salju akhirnya menikah dengan Pangeran. Mereka hidup berbahagia hingga hari tua. Sementara itu Ratu Elvira yang jahat akhirnya mati oleh niat jahatnya sendiri, ketika hendak pergi membunuh Putri Salju. Ratu Elvira terjatuh ke jurang yang dalam bersama dengan kereta kudanya.

Cerita Dongeng – Babi Hutan Dan Rubah

Dongeng babi hutan dan rubah – Seekor babi hutan sedang sibuk mengasah taringnya pada sebuah batang pohon. Bertepatan dengan saat itu, secara kebetulan lewatlah seekor rubah. Rubah yang suka mengolok-olok teman-teman dan tetangganya, langsung mengoloknya dengan berpura-pura melihat kesana-kemari, seolah-olah takut pada musuh yang tidak terlihat. Tetapi sang Babi Hutan tidak memperdulikan tingkah sang Rubah dan tetap melanjutkan pekerjaannya.

“Mengapa engkau melakukan hal tersebut?” kata sang Rubah dengan senyum mengejek. “Saya tidak melihat ada musuh dan bahaya di sini.”

Cerita Dongeng Babi Hutan Dan Rubah
cerita dongeng

“Kamu benar, memang sekarang tidak ada musuh dan bahaya yang mengancam” jawab sang Babi Hutan, “tetapi ketika musuh benar-benar datang, saya tidak akan sempat mengasah taring saya lagi seperti sekarang. Saat musuh dan bahaya datang ke sini nantinya, setidak-tidaknya saya telah memiliki senjata untuk menghadapinya.”

Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng babi hutan dan rubah ini adalah

Selalulah siap siaga dan waspada.

Cerita Dongeng – Gunung

Dongeng cerita gunung – Seorang anak dan ayahnya sedang berjalan diatas gunung. Tiba tiba, anaknya terjatuh, Dia terluka dan berteriak :
“AAAhhhhhhhhhhhhhh!!!!!!!.” Tetapi Ia sangat kaget mendengar ada suara pantulan dari gunung sebelah.”AAhhhhhhhhhhhhhhh!!!!!!!.”

Dengan penuh rasa penasaran, diapun kembali berteriak : “Siapa kamu?” Diapun menerima kembali jawaban yang sama : Siapa kamu?” dan kemudian dia berteriak ke gunung itu: “Saya mengagumimu!” dan suara itupun kembali : “Saya mengagumimu!.”

Dengan muka marah pada jawaban itu, dia berteriak : “Penakut” Dia masih menerima jawaban yang sama, “Penakut!.”

Dia menatap ayahnya dan bertanya : “Apa yang sedang terjadi?” Ayahnya sembari tersenyum dan berkata : “Sayang, perhatikan.” Kembali ayah akan berteriak : “Kamu Juara.” Diapun menerima jawaban yang sama : “Kamu Juara.”

Anak ini kembali kaget dan tidak mengerti mengapa itu bisa terjadi, kemudian Ayahnya menjelaskan bahwa itulah yang disebut dengan ECHO (Gema suara), tetapi itulah sesungguhnya hidup.

Segalanya akan kembali kepada kita, apa yang kita katakan, apa yang kita lakukan. Hidup kita secara sederhana adalah gambaran dari kelakuan yang kita perbuat.

Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng cerita gunung ini adalah

  Cerita Lucu

Segalanya akan kembali kepada kita, apa yang kita katakan, apa yang kita lakukan. Hidup kita secara sederhana adalah gambaran dari kelakuan yang kita katakan dan perbuat.

Cerita Dongeng – Misteri Dasi

Ayah Carlo pembuat dasi yang hebat. Berbagai corak dan motif dasi telah dibuatnya. Polos, bergaris, polkadot, batik, dan lainnya. Banyak pula dasi yang dilukisnya sendiri. Carlo anak yang rajin dan cerdas. Selain membantu ayahnya melayani pembeli di toko, Carlo pun belajar melukis dasi. Sore ini, toko sedang sepi saat seorang laki-laki berwajah ramah muncul. Carlo terkejut. Orang itu adalah Doktor Agam, seorang peneliti lingkungan yang terkenal di kota Carlo. Hasil penelitiannya sangat bermanfaat bagi masyarakat.

“Ada yang bisa saya bantu,pak?” Carlo gugup.
“Tolong carikan dasi yang cocok buatku, nak…” kata Doktor Agam lembut. “Aku ada acara besok malam.”
“Nama saya Carlo. Apa warna baju yang akan anda pakai besok?” tanya Carlo bersemangat.
“ehmmmm…putih polos.”

Aha! Carlo tersenyum. Tidak sulit! Semua warna dan motif dasi akan cocok dengan baju warna putih. Carlo teringat pada dasi buatanya. Alangkah bangganya jika dasi buatannya dipakai oleh orang sehebat Doktor Agam. Dasi itu berwarna biru. Di dasi itu, Carlo melukis gelombang laut, rumput laut, dan dua ekor ikan yang sedang berenang.

Cerita Dongeng Misteri Dasi
cerita dongeng

“Kehidupan di laut harus selalu dijaga. Itulah makna lukisan dasi buatan saya ini, pak,” jelas Carlo sambil menunjukkan dasi buatannya.
“Oh, luar biasa! Aku akan membelinya.”
Carlo senang sekali. Ia segera membungkus dasi itu, lalu menyerahkannya kepada Doktor Agam.

“Carlo, kau anak yang mengagumkan. Datanglah besok malam ke rumahku,” undang Doktor Agam.
Wow! Carlo terperangah. Kejutan yang hebat.
Esoknya, Carlo datang ke undangan Doktor Agam bersama ayahnya. Betapa bangganya Carlo melihat dasi buatannya dipakai oleh peneliti yang ramah itu.

“Selamat datang,”sambut Doktor Agam. “Ssst, apa dasi ini benar-benar cocok untukku?”
“Tentu, pak,” bisik Carlo.
Rumah Doktor Agam ramai. Ternyata, malam ini ada acara penganugerahan penghargaan untuk Doktor Agam. Terlihat beberapa polisi yang berjaga. Menurut ayah Carlo, Doktor Agam akhir-akhir ini sering mendapat ancaman penculikan.

Ayah Carlo asyik mengobrol dengan tamu lain. Sementara itu, Carlo berkeliling di rumah Doktor Agam yang luas. Tak sengaja, Carlo bertemu dengan empat penari topeng yang akan memberi hiburan. Sayang, mereka sangat tidak ramah.

Acara dimulai. Para tamu berkumpul di ruang tengah yang luas. Doktor Agam tersenyum pada semua tamu. Penganugerahan penghargaan untuk Doktor Agam diserahkan oleh wakil dari pemerintah kota. Para tamu bertepuk tangan.
Lalu, para penari topeng muncul. Mereka menari dengan gagap gempita. Tiba-tiba lampu padam. Ruangan gelap gulita. Suasana kacau balau. Carlo ketakutan. Ia memegang erat ayahnya.

Untunglah lampu segera menyala. Acara kembali berlanjut. Tetapi, Carlo melihat sikap Doktor Agam yang tampak berbeda. Ia tak banyak senyum dan sering menunduk.

Setelah acara usai, para tamu berpamitan kepada Doktor Agam.
“Terima kasih telah mengundang kamu!” pamit Carlo. Doktor Agam tampak tak peduli.

“Silakan mengunjungi toko kami lagi. Kami akan membuatkan dasi terbaik untuk anda,” kata Carlo. Doktor Agam tampak jengkel.
“Dasi? siapa peduli? Cepat pergi, anak kecil!” bisiknya menghardik.
Tentu saja Carlo terkejut. “Uh, aneh sekali Doktor Agam!”
Carlo beranjak pergi. Tak sengaja, matanya menatap dasi Doktor Agam. Mata Carlo terbelalak. Mulutnya menganga.
“Yuk pulang! Doktor Agam pasti kecapekan,” ajak ayah Carlo.
“Di… dia b-bbbbukan Doktor Agam!” seru Carlo.

Ayah Carlo terkejut. Carlo menunjuk dasi yang dipakai oleh Doktor Agam.
Para tamu gempar. Polisi segera beraksi. Ternyata, saat lampu padam, Doktor Agam diculik. Ia digantikan oleh Doktor Agam palsu yang memakai topeng wajah mirip Doktor Agam. Para penari topeng itu ternyata anggota kawanan penculik. Mereka berkomplot dengan asisten Doktor Agam. Polisi berhasil menangkap mereka semua.

“Bagaimana kau tahu dia bukan Doktor Agam?
Dia meniru semua penampilan Doktor Agam, tanya seorang polisi pada Carlo, saat keadaan sudah tenang.

“Ada yang berbeda,” kata Carlo. ” Dasi Doktor Agam bergambar gelombang laut, raumput laut dan dua ikan uang berenang. Tetapi, gambar ikan pada dasi Doktor Agam asli menghadap ke kanan, sedangkan yang palsu menghadap ke kiri. Aku tahu, sebab akulah pelukisnya!”

Semua orang berdecak kagum. Mereka memuji ketelitian Carlo. Polisi kini tahu, asisten Doktor Agam yang membuat tiruan dasi bergambar ikan itu. Namun, tiruannya tidak sempurna. Ketika pulang, wajah Carlo berseri-seri. Ia senang, Doktor Agam berhasil dibebaskan dari penculikan.

—-

Cerita Dongeng – Putri Duyung dan Lumba Lumba

Disebuah kerajaan di dasar laut. Tinggallah seorang Raja Duyung, Permaisuri Duyung dan seorang Putri Duyung kecil yang ramah, wajahnya pun cantik dan memiliki rambut yang berkilau seperti pelangi. Suatu hari, Putri Duyung kecil dan seekor Lumba-lumba pergi bermain dan sampailah mereka dipermukaan laut. Mereka sangat senang karena melihat anak-anak manusia sedang asik bermain voli.

‘’ Lihatlah Lumba-lumba, mereka semua dapat bermain dan berlari kesana-kemari dan terlihat bahagia.’’ ujar Putri Duyung.

‘’ Benar sekali Putri. Tapi, kita juga sama seperti mereka. Kita dapat berenang kesana kemari.’’ Sahut Lumba-lumba.

‘’ Iya, tapi anak manusia juga bisa berenang seperti kita. Namun, mereka bisa berenang dan berlari. Dunia mereka lebih luas dari kita.’’ Ujar Putri Duyung kecil cemberut.
Advertisements

Mendengar keluhan dari Putri Duyung, Lumba-lumba hanya tersenyum. Tiba-tiba, tanpa disadari oleh Putri Duyung dan Lumba-lumba. Seorang anak yang melihat mereka berteriak dan menghampiri mereka berdua. Akhirnya, Putri Duyung dan Lumba-lumba berkenalan dengan anak manusia tersebut. Putri Duyung senang karena dapat berteman dengan manusia. Bahkan, Lumba-lumba mengajak anak-anak manusia untuk naik ke atas punggungnya. Siang itu, mereka bermain dengan gembira.

‘’ Putri, besok kami akan bermain voly pantai. Jika kamu mau, kamu boleh ikut bersama kami.’’ Ujar salah satu anak manusia.

‘’ Baiklah, aku ikut. Besok aku akan kembali keatas permukaan untuk bermain dengan kalian. Tapi, sekarang aku harus pulang.’’

‘’ Iya, sampai bertemu besok.’’ Kata anak-anak manusia dan melambaikan tangan.

Setelah ia kembali kedasar laut. Putri Duyung tidak sabar menunggu hari esok. Ia pun memandang sahabatnya Lumba-lumba. Namun, yang dipandang menggelengkan kepala seperti tahu arti pandangan Putri Duyung tersebut.

Cerita Dongeng Putri Duyung dan Lumba Lumba
cerita dongeng

‘’ Ayolah Lumba-lumba, aku berjanji hanya sekali saja. Aku ingin tahu bagaimana rasanya berlarian diatas pasir seperti manusia.’’ Bujuk Putri Duyung.
Advertisements

‘’ Tidak Putri, jimat itu milik ayahmu! Aku tidak mau kau mencurinya. Jika ayahmu tahu, ia pasti akan sangat marah.’’ Sahut Lumba-lumba.

Raja Duyung memiliki sebuah jimat untuk merubah ekornya menjadi sepasang kaki. Sang Raja menggunakan jimat tersebut, jika harus berkunjung kedaratan. Selain itu, Raja pun selalu mengajak para pengawalnya. Jimat tersebut pun dapat membantu para Ikan untuk dapat bernafas di daratan. Keesokan harinya, Putri Duyung dan Lumba-lumba mengintip ruang kerja sang Raja.
Dongeng Cerita Rakyat Putri Duyung dan Lumba-lumba

Dongeng Cerita Rakyat Putri Duyung dan Lumba-lumba

‘’ Ayo cepat Lumba-lumba, ayah menyimpan jimat itu tepat di bawah kursi kerajaan.’’ Ujar Putri Duyung. Dengan secepat kilat. Putri Duyung mengambil sesuatu dibawah bantal kursi kerajaan.

‘’ Waaaaw, ini sangat indah.’’ ujar Putri Duyung senang. Jimat tersebut berupa kalung mutiara yang sangat indah.

Putri Duyung langsung menarik Lumba-lumba kepermukaan laut dan segera memakai kalungnya. Ia pun langsung mengucapkan mantranya. Setelah selesai membaca mantranya. Tiba-tiba, asap tebal menghalangi mereka berdua. Pada saat asap itu hilang, tampaklah sepasang kaki manusia pada tubuh Putri Duyung dan Lumba-lumba.

‘’ Hore, kita berdua sekarang mempunyai sepasang kaki manusia. Ayo kita langsung temui anak-anak manusia itu.’’ Ujar Putri Duyung berlari menuju anak-anak manusia yang sudah menunggu.

Putrid Duyung, Lumba-lumba dan teman-teman manusia asik bermain voly pantai. Mereka berdua cukup berbakat untuk bermain voly. Ditengah permainan. Tiba-tiba, langit hitam dan angin bertiup dengan sangat kencang. Ombak pun naik keatas pantai. Anak-anak langsung menyudahi permainan. Mereka sangat takut terseret ombak.
Advertisements

‘’ Serpertinya ada yang aneh Lumba-lumba.’’ Ujar Putri Duyung.

Dari kejauhan, Putri Duyung melihat bebrapa perahu Nelayan yang oleng oleh ombak. Lebih parahnya lain. Perahu-perahu tersebut terguling. Ikan-ikan pun ikut ketakutan dan bersembuyi di balik bebatuan. Hujan turun dengan sangat deras. Pada saat tu juga Putri Duyung dan Lumba-lumba mendengar sang Raja berteriak mencari jimatnya.

‘’ Siapa yang sudah mencuri jimatku?’’ ujar sang Raja.

Mendengar teriakkan sang Raja. Mereka berdua pun langsung mengucapkan mantranya agar kembali kewujud sempurna. Namun, semuanya terlambat. Sang Raja sudah berada dihadapan mereka dengan wajah yang sangat marah.

‘’ Rupanya kalian yang sudah mencuri jimatku! Lihatlah, apa yang sudah kalian lakukan? Angin bertiup sangat kencang dan sekarang, jimatku marah. Karena digunakan untuk hal yang tidak penting!” ujar Kata Raja Duyung marah.

Raja Duyung pun langsung mengambil kalung mutiara dari tangan Putri Duyung.

‘’ Anakku, jimat ini boleh digunakan dalam keadaan darurat. Yang mengharuskan ayah ke daratan. Jimat ini diberikan oleh sang Dewa Angin dan Langit untuk membantu ayah melaksanakan tugas. Jika ayah menggunakan jimat ini untuk hal yang tidak penting. Mereka akan marah dan menghukum kita semua. Namun, untung saja kau sudah melepasnya.’’ Ujar Raja duyung menjelaskan.

‘’ Tapi, apakah ada hal yang penting? Sehingga kalian berdua mencuri jimat ini?’’ Tanya Raja Duyung.

Akhirnya, Putri Duyung pun menceritakan pertemuannya dengan anak-anak manusia serta keinginannya untuk menjadi manusia. Putri Duyung pun meminta maaf dan menyesali perbuatannya. Ia benar-benar tidak menyangka perbuatannya mendatangkan bencana bagi penghuni daratan.

‘’ Anakku, kita adalah Duyung dengan segala kelebihan dan kekurangan kita. Sedangkan, mereka manusia dengan kelebihan dan kekurangannya. Kau harus menerima keadaan yang sudah kau miliki dengan hati yang penuh gembira.’’ Ujar Raja.

Putri Duyung dan Lumba-lumba mengangguk tanda mengerti. Akhirnya, mereka bertiga pergi ke permukaan. Langit dan lautan sudah kembali tenang.

‘’ Ayah, maafkan kami.’’ Bisik Putri Duyung.

Sang Raja hanya tersenyum dan mengajaknya kembali ke rumah. Akhirnya, Putri Duyung pun menerima keadaannya bahwa ia adalah seorang Duyung.

Pesan moral dari Dongeng Cerita Rakyat Putri Duyung dan Lumba-lumba adalah bersyukurlah dengan apa yang kita miliki. Iri dengan orang lain hanya akan membuat diri kita menjadi orang yang tidak lapang dan tidak bahagia.


Demikianlah cerita dongeng pendek yang bisa dibagikan kali ini. Jangan lupa datang kembali untuk melihat cerita dongeng terbaik lainnya di blog ini.