Biografi Sultan Hasanuddin

Biografi Sultan Hasanuddin – Kalau mendengar julukan ‘Ayam Jantan dari Timur’, tokoh pahlawan siapa yang ada di pikiran Anda? Ya, dialah Sultan Hasanuddin. Tokoh yang dengan berani menentang Belanda dan kebijakannya yang diterapkan di tanah kelahirannya. Tokoh pahlawan yang bahkan membuat Belanda dibuat kelimpungan oleh keberaniannya. Dalam biografi Sultan Hasanuddin, akan banyak hal yang bisa dipelajari dan diteladani, tentang keberanian dan rasa cinta tanah air.

Biografi Sultan Hasanuddin

Sultan Hasanuddin tidak hanya berperang melawan penjajah Belanda dengan kekuatan namun juga kecerdasan. Dialah salah satu tokoh dari timur yang kala itu menentang kebijakan monopoli perdagangan oleh VOC. Di bawah kepemimpinan Sultan Hasanuddin berhasil menyatukan beberapa kerajaan kecil di Gowa untuk memerangi penjajahan Belanda sekaligus menggagalkan upaya Belanda menguasai Kerajaan Islam Gowa.

Karena keberanian dan kecerdasannya itulah, bahkan julukan Ayam Jantan dari Timur adalah julukan yang diberikan oleh pihak Belanda. Sebagai salah satu bentuk upaya menghargai jasa-jasa beliau, sudah sepantasnya kita sebagai generasi muda Indonesia meneladani sifat baik dan semangat cinta tanah airnya. Salah satu upayanya adalah dengan mempelajari tentang biografi Sultan Hasanuddin.

  • Nama : Sultan Hasanuddin
  • Nama Asli : I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe
  • Lahir : Makassar, 12 Januari 1631
  • Orang Tua: Sultan Malikussaid & I Sabbe To’mo Lakuntu
  • Wafat : Makassar 12 Juni 1670
  • Gelar : Pahlawan Nasional
  • Julukan : Ayam Jantan Dari Timur
  • Silsilah Keluarga Sultan Hasanuddin

Hal pertama yang harus diketahui dari biografi Sultan Hasanuddin adalah silsilah keluarganya. Lahir dari ayah Sultan Malikussaid yang merupakan raja Gowa ke-15 dan I Sabbe To’mo Lakuntu, Sultan Hasanuddin memang lahir dari keluarga kerajaan. Selain ayahnya yang waktu itu menjabat sebagai raja dan kakeknya yang juga merupakan raja generasi sebelumnya Kerajaan Gowa, ibu Sultan Hasanuddin juga termasuk dalam keluarga bangsawan.

Ibu Sultan Hasanuddin yang bernama I Sabbe To’mo Lakuntu adalah putri dari bangsawan Laikang. Sebelum mendapat gelar Sultan Hasanuddin, nama kecilnya adalah I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe. Sultan Hasanuddin juga memiliki adik perempuan bernama I Patimang Daeng Nisaking Karaeng Bonto Je’ne.

Sebelum ayah Sultan Hasanuddin, Sultan Malikussaid berkuasa menjadi raja Kerajaan Gowa, raja sebelumnya yang merupakan raja ke-14 adalah kakeknya. Kakek Sultan Hasanuddin bernama Sultan Alauddin meninggal ketika Sultan Hasanuddin berusia 8 tahun. Kakeknya meninggal setelah memimpin Kerajaan Gowa selama kurang lebih 46 tahun.

  • Sultan Hasanuddin di Masa Kecil
  Biografi Ki Hajar Dewantara

Sultan Hasanuddin bahkan sudah dikenal memiliki jiwa kepemimpinan sejak kecil. Ia dikenal sebagai sosok yang cerdas dan pandai berdagang. Karena kemampuannya itulah Sultan Hasanuddin jadi mempunyai jaringan dagang yang luas di seluruh Makassar bahkan hingga orang asing.

  • Sultan Hasanuddin Mempelajari Ilmu Diplomasi dan Strategi Perang

Selain cerdas dan pandai berdagang, Sultan Hasanuddin juga mendapatkan pendidikan agama yang baik sejak kecil. Pendidikan keagamaan Sultan Hasanuddin didapatkan di Masjid Bontoala. Melihat kecerdasan yang dimiliki oleh Hasanuddin muda, ia kemudian kerap diajak untuk menghadiri pertemuan-pertemuan penting. Tujuannya agar Hasanuddin bisa menyerap ilmu strategi perang dan diplomasi.

  • Sultan Hasanuddin Muda Menjadi Delegasi Kerajaan Gowa

Karena kecerdasan dan kemampuan diplomasinya, Sultan Hasanuddin juga beberapa kali dikirimkan menjadi delegasi guna menyampaikan pesan ke berbagai kerajaan. Saat sudah berusia 21 tahun, Sultan Hasanuddin mendapatkan amanat jabatan dalam bidang pertahanan Gowa.

Sultan Hasanuddin tidak hanya mendapatkan bimbingan tentang pemerintahan dari ayahnya saja, namun juga dari Mangkubumi Kerajaan Gowa bernama Karaeng Patinggaloang. Sementara Sultan Hasanuddin sendiri kelak juga menjadi guru dari Arung Palaka, yang di masa depan justru membuat kongsi dengan Belanda guna menjatuhkan Kerajaan Gowa.

  • Sultan Hasanuddin Diangkat Menjadi Raja Kerajaan Gowa

Kepercayaan Sultan Malikussaid kepada Sultan Hasanuddin dibuktikan dengan amanat yang diberikannya kepada Sultan Hasanuddin untuk meneruskannya menjadi Raja Gowa. Saat mempelajari biografi Sultan Hasanuddin, ada dua versi berbeda yang menjelaskan tentang kapan atau di usia ke berapa Sultan Hasanuddin diangkat menjadi raja.

Pertama menyebutkan jika Sultan Hasanuddin diangkat menjadi raja di usia 24 tahun, tepatnya di tahun 1655. Sementara versi lain menyebut Ia diangkat menjadi raja ketika berusia 22 tahun. Terlepas dari perbedaan usia, jabatan raja yang diemban oleh Sultan Hasanuddin kemudian menjadi penentu masa depan Kerajaan Gowa.

  • Masa Kepemimpinan Sultan Hasanuddin dan Perjuangannya Melawan Belanda

Kisah dan sejarah perjuangan Sultan Hasanuddin dalam melawan Belanda inilah yang selalu menjadi pembahasan utama dalam biografi Sultan Hasanuddin. Belanda melalui VOC yang kala itu sedang berupaya menguasai jalur perdagangan rempah-rempah di Sulawesi merasa bahwa Kerajaan Gowa dan Sultan Hasanuddin adalah halangan bagi mereka. Hal tersebut disebabkan karena keleluasaan orang-orang dari Makassar membeli rempah-rempah di Maluku.

Masa Kepemimpinan Sultan Hasanuddin

Setelah tongkat kepemimpinan Kerajaan Gowa beralih ke Sultan Hasanuddin, kerajaan ini mengalami masa puncak kejayaan. Saat di bawah kepemimpinan Sultan Hasanuddin ini jugalah saat ketika Belanda melalui kongsi dagangnya, VOC datang ke Gowa dan berupaya menguasai jalur perdagangan rempah-rempah.

  Biografi Soekarno

Saat itu, Kerajaan Gowa memang salah satu kerajaan besar di kawasan Timur Nusantara yang menguasai jalur perdagangan rempah-rempah. Kedatangan Belanda di Gowa tak pernah disambut baik, bahkan sejak di bawah kepemimpinan Sultan Alauddin pun, Kerajaan Gowa tidak pernah mau menerima monopoli perdagangan rempah-rempah oleh Belanda melalui VOC.

  • Penaklukan Kerajaan-Kerajaan Kecil di Sekitar Gowa

Agar jalur perdagangan rempah-rempah bisa dikuasai VOC, tidak ada cara lain yang bisa dilakukan oleh Belanda selain menghancurkan Kerajaan Gowa yang dianggap menjadi penghalang. Di sisi lain, setelah berada di bawah kepemimpinan Sultan Hasanuddin, Kerajaan Gowa justru berada di puncak kejayaan. Terbukti salah satunya adalah dengan dikuasainya beberapa kerajaan kecil di sekitar Gowa.

Kerajaan-kerajaan kecil tersebut kemudian diminta untuk menggabungkan kekuatan guna melawan Belanda dan VOC. Peperangan antara Kerajaan Gowa dibawah kepemimpinan Sultan Hasanuddin dengan Belanda pun tak dapat dihindari. Peperangan ini dimulai sejak tahun 1660.

Tahun 1666 Belanda berupaya menundukkan kerajaan-kerajaan kecil tersebut di bawah pimpinan Laksamana Cornelis Speelman. Meskipun berhasil menundukkan kerajaan-kerajaan kecil tersebut, Belanda masih belum mampu menundukkan Kerajaan Gowa. Ini karena Kerajaan Gowa terkenal memiliki pertahanan yang kuat melalui benteng Somba Opu serta armada lautnya yang tangguh.

  • Penandatanganan Perjanjian Bungaya

Dalam catatan sejarah dan biografi Sultan Hasanuddin, tercatat bagaimana perjuangannya melawan Belanda bahkan saat dalam keadaan terdesak. Ketika pertempuran dengan Belanda terus berlangsung, di tahun 1667 Kerajaan Gowa terdesak karena pertempuran yang terjadi dimana-mana dimulai dari penyerangan di Makassar oleh Belanda. Dalam keadaan terdesak tersebut, Sultan Hasanuddin pun terpaksa menandatangani Perjanjian Bungaya.

  • Pecahnya Pertempuran di Gowa Hingga Wafatnya Sultan Hasanuddin

Isi dari Perjanjian Bungaya yang dianggap merugikan pihak Gowa membuat masyarakat Gowa kembali melakukan perlawanan. Pertempuran antara Kerajaan Gowa dengan Belanda pun kembali pecah di tahun 1669. Sayangnya kali ini pertahanan Kerajaan Gowa tidak berhasil dengan dikuasainya Benteng Somba Opu. Kerajaan Gowa terus mendapat desakan hingga kemudian di tahun 1670, tepatnya di tanggal 12 Juni, Sultan Hasanuddin pun meninggal dunia.

Sultan Hasanuddin dan Arung Palaka

Peperangan yang terjadi antara Kerajaan Gowa dan Belanda tidak terlepas dari peran Arung Palaka yang kala itu berkongsi dan membantu Belanda menyerang Kerajaan Gowa. Siapa itu Arung Palaka dan apa perannya dalam terjadinya pertempuran yang terjadi di Gowa?

  • Siapa Itu Arung Palaka
  Biografi Mohammad Hatta

Dalam sejarah Kerajaan Gowa dan perlawanannya terhadap Belanda, nama Arung Palaka juga menjadi salah satu tokoh yang memiliki peran besar membantu Belanda dalam menaklukkan Kerajaan Gowa. Lalu siapa sebenarnya Arung Palaka itu?

Arung Palaka adalah salah satu pangeran keturunan dari Raja Bone. Sejarah mencatat bahwa Kerajaan Bone dan Kerajaan Gowa sudah bermusuhan sejak lama. Peperangan antara Kerajaan Bone dan Gowa sudah berlangsung sejak lama. Namun kekuatan Kerajaan Bone yang tidak sebanding dengan Kerajaan Gowa membuat Kerajaan Bone harus mengalami kekalahan.

Akibat dari kekalahan tersebut, banyak dari pasukan Kerajaan Bone menjadi tawanan Kerajaan Gowa. Diantara tawanan perang tersebut bahkan ada yang dipaksa bekerja membangun benteng pertahanan. Peperangan yang terjadi antara Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone ini sudah disaksikan oleh Arung Palaka bahkan sejak ia berusia 11 tahun. Arung Palaka yang menyaksikan kekejaman tersebut pun bertekad kuat mengalahkan Sultan Hasanuddin dan membebaskan Kerajaan Bone dari Kerajaan Gowa.

  • Awal Mula Kerja Sama Arung Palaka dan Belanda

Pada peperangan yang terjadi di tahun 1660, Arung Palaka berhasil membebaskan sebagian besar tawanan perang Kerajaan Gowa. Sayangnya, Ia tetap gagal menaklukkan Kerajaan Gowa. Bahkan dalam peperangan tersebut, Panglima Bone bernama Tobala tewas. Sementara Arung Palaka berhasil melarikan diri.

Dalam pelariannya, Arung Palaka sempat ditawari kerjasama dengan Belanda. Dia sebenarnya dalam kondisi dilematis. Di satu sisi Arung Palaka juga tidak menyukai Belanda karena keserakahannya, namun di sisi lain Ia juga berambisi menjatuhkan Kerajaan Gowa.

Pada upaya pelariannya tersebut akhirnya membawa Arung Palaka sampai ke Batavia. Di sanalah Ia kemudian menyetujui ajakan kerjasama dari Belanda. Mulai dari peperangan di tahun 1666, Belanda sudah mendapat bantuan dari Arung Palaka. Kala itu, Arung Palaka membawa 400 orang pasukan. Sementara dari Belanda membawa setidaknya seribu pengikut dengan 21 kapal perang mulai berangkat ke Sulawesi.

  • Perang Makassar

Salah satu peristiwa besar yang tercatat dalam biografi Sultan Hasanuddin adalah pecahnya perang Makassar. Perang besar inilah, yang saat itu terjadi antara Belanda melawan Kerajaan Gowa, yang menjadi peperangan dimana Arung Palaka berpartisipasi membantu Belanda. Dalam peperangan ini jugalah ketika Kerajaan Gowa mulai terdesak sehingga Sultan Hasanuddin harus menandatangani Perjanjian Bungaya yang justru merugikan Kerajaan Gowa.

  • Strategi Perang yang Diterapkan Kerajaan Gowa

Dalam perang yang berlangsung panjang di Makassar, Kesultanan Gowa sudah menyiapkan strategi perang yang akan digunakan sewaktu-waktu jika keadaan seperti ini datang. Akhirnya strategi perang itu pun diterapkan. Dalam strategi pertahanan yang diterapkan oleh Kerajaan Gowa dalam melawan Belanda, semuanya melibatkan Karaeng Popo atau orang kepercayaan Sultan Hasanuddin.

  Biografi Jendral Sudirman

Sultan Hasanuddin akan bertahan di istana dengan ditemani oleh Karaeng Tollo. Sementara itu, saudara laki-lakinya, Daeng Talolo yang bertugas untuk bersiap di benteng utama serta memimpin sejumlah 3.000 orang prajurit. Pasukan-pasukan lain juga ditempatkan di beberapa tempat penting. Ada pasukan yang ditempatkan di tepi Sungai Kalak Ongkong sebanyak 1.500 prajurit. Sementara itu, di Bantaeng juga bersiap setidaknya 6.000 orang prajurit.

Dalam strategi pertahanan yang diterapkan ini, Sultan Hasanuddin hanya mengerahkan pemuda untuk berperang dan mengangkat senjata. Para pemuda ini sudah disiapkan ketika sewaktu-waktu Belanda benar-benar menyerang Kerajaan Gowa. Sementara itu, untuk anak-anak dan wanita dibawa ke pedalaman untuk mengungsi agar tetap aman dari serangan yang mungkin saja terjadi di area pemukiman sebelum menuju ke istana tempat Sultan Hasanuddin tinggal.

Sultan Hasanuddin Turun Tahta dan Meninggal

biografi sultan hasanuddin
biografi sultan hasanuddin | wikipedia.org

Meskipun perjuangan Sultan Hasanuddin melawan Belanda harus terhenti, namun hingga kekalahan tersebut dan akhirnya meninggal pun Sultan Hasanuddin tak pernah mau bekerja sama dengan pihak Belanda. Sultan Hasanuddin pun akhirnya resmi turun tahta di tahun 1669. Sikap inilah yang selalu tertulis dalam setiap biografi Sultan Hasanuddin, dimana Ia tak pernah mau bekerja sama dengan Belanda.

Selepas Sultan Hasanuddin turun tahta, kepemimpinannya atas Kerajaan Gowa kemudian dilanjutkan oleh putranya, I Mappasomba Daeng Nguraga. Saat memerintah Kerajaan Gowa, Ia mendapatkan gelar Sultan Amir Hamzah. Selepas Sultan Hasanuddin turun tahta, perlawanan terhadap Belanda masih terus dilakukan meskipun tetap tak membuahkan hasil. Kerajaan Gowa pun tidak pernah lagi mencapai masa puncak kejayaan seperti ketika dipimpin oleh Sultan Hasanuddin.

Akibat kekalahan yang dialami oleh Kerajaan Gowa, para panglima dan pejuang yang sebelumnya berjuang bersama Sultan Hasanuddin memilih untuk pergi ke tanah Jawa. Beberapa diantaranya adalah Kraeng Galesong yang pindah ke Jawa bersama pasukannya lalu kemudian membantu Trunojoyo di Jawa Timur.

Selain itu, sebagian besar pasukan itu kemudian juga bergabung bersama seorang ulama bernama Syekh Yusuf, yang kemudian juga bergabung bersama pasukan Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten. Hijrahnya pasukan dan panglima Sultan Hasanuddin ke Jawa ini bukan tanpa sebab. Tujuannya adalah melanjutkan perjuangan dalam mengusir dan melawan penjajah Belanda.

  Biografi RA Kartini

Sultan Hasanuddin wafat pada tahun 1670 dalam usia 39 tahun. Usia yang sebenarnya masih terlalu muda, namun memang harus mengakhiri perjuangannya dalam melawan dan mengusir penjajah dari tanah Gowa. Sultan Hasanuddin dimakamkan di kompleks pemakaman untuk raja-raja Gowa yang terletak di Kabupaten Gowa.

Sultan Hasanuddin dimakamkan di tempat yang sama dengan pendahulunya, yaitu kakek dan ayahnya. Saat dimakamkan, dalam nisan yang digunakan tertulis nama Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe Muhammad Bakir yang mana merupakan nama kecil dari Sultan Hasanuddin.

Sebagai bentuk penghargaan atas jasa dan perjuangannya dalam melawan penjajah, Sultan Hasanuddin pun mendapatkan gelar Pahlawan Nasional. Selain itu, masih sebagai bentuk penghargaan, nama Sultan Hasanuddin diabadikan menjadi nama bandara, universitas dan nama jalan di berbagai daerah di Indonesia.

  • Isi Perjanjian Bungaya

Satu peristiwa penting yang tercatat dalam sejarah dan biografi Sultan Hasanuddin adalah ketika Sultan Hasanuddin menandatangani Perjanjian Bungaya. Penandatanganan perjanjian ini terpaksa dilakukan karena saat itu Kerajaan Gowa dan pasukannya sedang dalam kondisi terdesak. Namun, perjanjian tersebut pun tidak berlangsung lama. Ini karena Sultan Hasanuddin menganggap perjanjian tersebut justru merugikan untuk Kerajaaan Gowa.

Perjanjian ini sebenarnya berisi banyak poin. Namun dari poin-poin yang disebutkan dalam perjanjian tersebut, ada beberapa poin yang dianggap merugikan bagi Kerajaan Gowa. Berikut adalah beberapa poin isi dari Perjanjian Bungaya yang dianggap merugikan.

Makassar, dalam hal ini raja dan para bangsawannya harus membayar utang dan ganti rugi akibat perang kepada Belanda. Pembayaran utang ini diberi tenggat paling lama adalah musim selanjutnya.

Pengusiran bangsa asing lain dari Makassar, kecuali Belanda. Pada masa itu, memang ada banyak bangsa asing yang berada di Makassar untuk tujuan niaga. Diantaranya adalah orang India dan orang-orang muslim India, orang Jawa hingga Melayu. Mereka berdagang kain atau barang-barang lainnya dari Tiongkok. Perjanjian tersebut melarang orang-orang atau bangsa lain selain Belanda untuk melakukan perdagangan di Makassar. Jika melanggar maka hukumannya adalah penyitaan barang oleh Belanda.

  • Belanda harus bebas dari pajak dan bea, baik itu pajak untuk ekspor maupun impor.

Pemerintah Gowa diharuskan membayar ganti rugi sebesar 250.000 rijksdaalders. Pembayaran ganti rugi ini harus dilakukan selama lima musim berturut-turut. Pembayaran diberikan dalam bentuk emas, meriam, perak, barang ataupun permata.

Itu tadi hanya sebagian kecil poin-poin yang dianggap sangat merugikan bagi Kerajaan Gowa. Karena dianggap sangat merugikan, Sultan Hasanuddin pun tanpa ragu melanggar perjanjian tersebut dan kembali melakukan perlawanan hingga kemudian pecah pertempuran ke sekian di Kerajaan Gowa melawan Belanda.

  Biografi Ki Hajar Dewantara

Teladan yang Dapat Dipelajari dari Sultan Hasanuddin

Membaca dan mempelajari biografi Sultan Hasanuddin atau pahlawan siapapun, tentu bukan hanya untuk menambah pengetahuan sejarah kebangsaan saja. Lebih dari itu, kita sebagai generasi muda juga harus bisa mengambil teladan dari sikap dan perjuangan yang dilakukan oleh para pahlawan untuk Bangsa Indonesia ini. Begitu juga dengan Sultan Hasanuddin. Berikut adalah pembelajaran dan teladan yang bisa diambil dari Sultan Hasanuddin setelah membaca biografinya.

  • Jiwa Kepemimpinan

Sifat dari Sultan Hasanuddin yang harus menjadi teladan bagi generasi muda Indonesia adalah sikap dan jiwa kepemimpinannya. Jiwa kepemimpinan yang dimiliki oleh Sultan Hasanuddin ini memang sudah nampak sejak kecil. Karena itulah ayahnya juga tak pernah ragu memberikan tanggung jawab dan amanat untuk meneruskan kepemimpinan sebagai raja Kerajaan Gowa.

  • Sikap Pemberani

Sultan Hasanuddin adalah sosok pahlawan yang terkenal karena keberaniannya dalam menghadapi penjajah Belanda. Hal tersebut juga diakui sendiri oleh Belanda sehingga memberikannya julukan De Haantjes van Het Osten yang memiliki arti Ayam Jantan Dari Timur. Dalam kehidupan modern, sikap pemberani ini diperlukan dalam hal mengemukakan ide, pendapat, pandangan dan solusi yang sifatnya positif. Hal tersebut diperlukan untuk membangun Bangsa Indonesia agar menjadi lebih baik.

  • Taat Agama

Sikap berikut yang juga harus diteladani oleh generasi muda Indonesia adalah sikap taat beragama. Sultan Hasanuddin yang mulai memeluk Islam saat ajaran Islam mulai masuk ke Nusantara tergolong pribadi yang taat. Hal tersebut dibuktikan dengan rajinnya Sultan Hasanuddin mengikuti pembelajaran keagamaan Islam di Masjid Bontoala. Dari pendidikan dan pengajaran Islam yang diterimanya inilah yang menempa Sultan Hasanuddin menjadi pemuda yang gagah berani namun tetap rendah hati.

Nah, itulah tadi biografi Sultan Hasanuddin lengkap yang harus dipelajari oleh generasi muda Indonesia. Membaca dan mempelajari biografi pahlawan-pahlawan Indonesia akan semakin meningkatkan wawasan sejarah dan kebangsaan kita. Selain itu, dari membaca biografi para pahlawan ini juga bisa memberikan informasi bagaimana sulitnya mencapai dan merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.

Dengan begitu diharapkan agar generasi muda Indonesia saat ini juga bisa berjuang dengan belajar dan berkarya seperti biografi sultan hasanuddin ini untuk mempertahankan kemerdekaan tersebut.