Biografi Jendral Sudirman, Jendral Besar Bapak Tentara Indonesia

Biografi Jendral Sudirman – Siapa yang tidak kenal dengan tokoh pahlawan yang satu ini. Ya, beliau adalah Panglima Jendral Sudirman yang memiliki andil sangat besar melawan penjajah untuk mendapatkan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Saya rasa semua orang pasti sudah tahu dan sangat familiar dengan nama Jendral Sudirman karena memang Jendral Sudirman merupakan salah satu tokoh pahwalan yang sangat terkenal. Bahkan namanya pun juga masih sering kita dengar saat Beliau sudah tiada sampai saat ini.

Untuk Anda yang belajar sejarah baik waktu sekolah atau waktu kuliah pasti nama Jendral Sudirman akan terus terngiang. Namun, walaupun begitu hanya sedikit orang yang tahu bagaimana sebenarnya perjalanan hidup Jendral Sudirman menurut sejarah. Mulai dari sejak Beliau masih kecil bahkan hingga dewasa dan wafat.

Nah, untuk tahu jawabannya bagaimana sebenarnya perjalanan hidup Jendral Sudirman. Langsung saja mari kita bahas artikel tentang biografi Jendral Sudirman secara lengkap dan jelas di artikel kali ini. Saya akan membahas tentang perjalanan hidup si Panglima Jendral Indonesia mulai dari kecil, dewasa dan perjuangannya dalam kemerdekaan Indonesia sampai dengan Beliau wafat.

Jadi, pastikan Anda tidak melewatkannya. Langsung saja mari kita simak ulasannya berikut ini.

Biodata Jendral Sudirman

Oke, sebelum membahas tentang Biografi Jendral Sudirman terlebih dahulu saya akan menjelaskan tentang Biodata Jendral Sudirman secara lengkap. Berikut biodata lengkap Jendral Sudirman yang bisa Anda ingat.

  • Nama Lengkap : Raden Soedirman
  • Nama Panggilan : Jendral Besar Sudirman
  • Tempat Tanggal Lahir : Purbalingga Jawa Tengah
  • Tanggal Lahir : 24 Januari 1916
  • Tanggal Kematian : Magelang, 29 Januari 1950
  • Nama Orang Tua : Karsid Kartawiraji dan Siyem
  • Saudara Kandung : Muhammad Samingan
  • Nama Istri : Alfiah
  • Nama Anak : Memiliki 7 anak kandung yang terdiri dari: Didid Sutjiati, Didi Pudjiati, Taufik Effendi, Titi Wahyuti Satyaningrum, Didi Praptiastuti, Muhammad Teguh Bambang Tjahjadi, dan Ahmad Tidarwono.

Jadi, sebenarnya Jendral Sudirman adalah tokoh pahlawan Nasional yang dikenal oleh masyarakat Indonesia karena perannya pada masa penjajahan hingga kemerdekaan sebagai Jendral TNI Pertama di Indonesia. Tak hanya itu, Jendral Sudirman ternyata juga dikenal sebagai perwira tinggi pada masa Revolusi Nasional Indonesia.

Setelah Anda mengetahui secara lebih lengkap tentang biodata singkat Jendral Sudirman, mulai dari tanggal lahir sampai nama lengkap anak-anak Beliau. Apakah Anda tidak penasaran tentang bagaiman perjalanan hidup Jendral Sudirman mulai dari kecil hingga wafat? Nah, jika Anda penasaran untuk mengetahui perjalanan hidup Beliau yang menarik dan inspiratif. Langsung saja yuk mari kita simak biografi Jendral Sudirman secara lengkap berikut ini.

Biografi Singkat Jendral Sudirman

biografi jendral sudirman hingga wafat

Dari biodata Jendral Sudirman yang sudah saya jelaskan sebelumnya, sudah jelas bahwa Jendral Sudirman merupakan salah seorang tokoh Pahlawan Nasional. Nah, untuk mengetahui lebih jelasnya tentang perjalanan jendral Sudirman langsung saja mari kita simak biografi lengkap Jendral Sudirman dari mulai kecil hingga sekarang.

  Biografi Soekarno, Sang Proklamator dan Founding Father Indonesia

Perjalanan Hidup Jendral Sudirman di Masa Kecil

Jendral Sudirman adalah salah satu tokoh pahlawan yang bahkan tetap diingat sampai sekarang. Jendral Sudirman terlahir dari pasangan rakyat biasa di Purbalingga, Indonesia yang saat itu merupakan negara Hindia Belanda dengan seorang ayah bernama Karsid Kartawiraji dan seorang ibu yang bernama Siyem. Yang mana pada saat itu kedua orang tuanya tinggal dirumah saudari Ibu Soedirman yang bernama Tarsem.

Nah, Tarsem ini memiliki suami seorang Camat yang bernama Raden Cokrosunaryo yang menjadi Bapak angkat Jendral Sudirman nantinya. Ya, Soedirman kecil diangkat anak oleh Tarsem dan Reden Cokrosunaryo karena Ibu dan Bapaknya yakni Siyem dan Karsid merasa bahwa kehidupan saudaranya lebih baik dibandingkan mereka.

Pada saat Pada tahun 1916 setelah keluarganya pindah ke Cilacap Jendral Sudirman diadopsi oleh pamannya yang seorang priyayi Raden Cokrosunaryo dan saudara Ibunya Tarsem. Nah, hal inilah yang menjadi alasan mengapa nama Jendral Sudirman diberi embel-embel Raden. Karena memang gelar Raden tersebut diberikan oleh pamannya yang seorang Priyayi kepada Soedirman kecil. Raden merupakan gelar kebangsawanan suku Jawa.

Dari kecil hinga Soedirman tumbuh dewasa sampai berumur 18 tahun. Beliau tidak tahu bahwa Raden Cokrosunaryo bukanlah ayah kandungnya. Ya, selama waktu tersebut Soedirman menganggap bahwa Tarsem dan Raden Cokrosunaryo adalah kedua orang tuanya.

Raden Cokrosunaryo pensiun sebagai seoarang camat di akhir tahun 1916. Pada saat itulah Soedirman dan keluarga angkatnya Raden Cokrosunaryo dan Tarsem pindak ke Manggisan Cilacap. Di tempat inilah Soedirman kecil tumbuh besar.

Nah, di Cilacap sendiri orang tua kandung Soedirman yakni Karsid dan Siyem ternyata juga memiliki seorang putra lain nyang bernama Muhammad Samingan. Karsid atau bapak kandung Soedirman meninggal dunia pada saat Soedirman berumuer 6 tahun. Pada saat itu juga Siyem juga menitipkan putra keduanya kepada saudara iparnya. Lalu, Siyem pulang kembali ke kampong halamannya yang berada di Parakan Onje.

Bersama dengan pamannya Raden Cokrosunaryo, Soedirman dibesarkan dengan cerita-cerita kepahlawanan. Tak hanya itu, Beliau juga diajarkan tentang etika dan juga tata krama seorang Priyayi. Selain itu, Beliau juga diajarkan tentang pentingnya etos kerja dan kesederhanaan dari seorang rakyat jelata.

Untuk masalah pendidikan keagamaan Soedirman kecil dan adiknya mempelajari islam dibawah bimbingan Kyai Haji Qahar. Semakin hari, Soedirman semakin menjadi seseorang yang taat agama dan selalu sholat tepat waktu. Bahkan sejak kecil, Beliau juga sudah dipercaya untuk mengumandangkan Adzan dan juga Iqomah.

Waktu cepat berlalu, saat umur Soedirman berusia 7 tahun, Beliau mendaftarkan dirinya di sekolah pribumi yang bernama Hollandsch Inlandsche School). Ya, walaupun memang dari kecil Soedirman hidup selalu berkecukupan, namun satu hal yang harus kalian tahu bahwa sebenarnya keluarga Soedirman bukan keluarga yang kaya.

Ya, walaupun dulunya pamannya adalah seorang camat namun Beliau tidak mengumpulkan banyak kekayaan. Bahkan pada saat pensiun dan memutuskan pindah ke Cilacap, pamannya ini bekerja sebagai penyalur mesih jahit saat itu.

  Biografi Soekarno, Sang Proklamator dan Founding Father Indonesia

Saat di tahun kelima bersekolah, Soedirman diminta untuk berhenti sekolah karena ejekan yang diterimanya di sekolah milik pemerintah. Namun, permintaan ini sempat ia tolak. Namun, selanjutnya Soedirman di pindahkan ke sekolah menengah milik Taman Siswa di tahun ketujuh. Sedangkan di tahun kedelapan, Soedirman pindah sekolah lagi ke Sekolah Menengah Wirotomo dengan alasan sekolah Taman Siswa ditutup oleh Orodonansi Sekolah Liar karena ternyata sekolah tersebut tidak terdaftar.

Nah, disekolah Menengah Wirotomo inilah Soedirman mulai belajar lagi dengan tenang. Kebanyakan guru di sekolah menengah Wirotomo ini adalah seorang nasionalis Indonesia. Di sekolah ini Soedirman mulai mendengar dan mempelajari tentang pandangan terhadap penjajah Belanda. Soedirman adalah murid yang tekun. Bahkan salah satu gurunya yang bernama Suwarjo Tirtosupono menyatakan bahwa Soedirman sudah mempelajari tingkat dua pada saat yang lainnya mempelajari pelajaran tingkat satu.

Dari sini kecerdasan dan kepintara Soedirman kecil mulai terlihat. Walaupun, Soedirman ternyata juga memiliki kelemahan dan kekurangan pada mata pelajara Kaligrafi Jawa. Namun, Beliau sangat pintar dalam pelajaran pengetahuan umum seperti ilmu alam, matematika, Bahasa Belanda ataupun Bahasa Indonesia.

Tak hanya itu, saja Soedirman juga menjadi seseorang yang semakin taat agama dibawah bimbingan guru agamanya yakni Raden Muhammad Kholil padasaat itu. Tak hany itu, Soedirman juga selain rajin beribadah, Beliau juga selalu berpartisipasi dalam organisasi kelompok musik, tim sepak Bola dan lainnya.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa bersaama dengan pamannya, Soedirman tumbuh menjadi seorang siswa yang rajin. Bahkan tak hanya itu, Beliau juga sangat aktif mengikuti berbagai macam kegiatan ekstrakurikuler.Salah satunya adalah mengikuti program kepanduan yang dijalankan oleh organisasi Islam Muhammadiyah pada saat itu.

Keahliannya dalam memimpin dan berorganisasi ini terlihat ketika Soedirman berada di tingkat sekolah menengah. Tak hanya itu saja, sosok Soedirman pada saat itu juga sangat dihormati karena memang masyarakat tahu bahwa Soedirman adalah seseorang yang taat agama.

Selang beberapa tahun, tepatnya pada tahun 1934 pamannya Raden Cokrosunaryo meninggal dunia. Hal ini juga yang menyebabkan keluarga Soedirman jatuh miskin. Namun, walaupun demikian Beliau tetap diijinkan untuk melanjutkan sekolah menengahnya tanpa harus membayar sampai lulus di akhir tahun 1934.

Perjalanan karir Soedirman selanjutnya, berawal saat Beliau berusia 19 tahun. Ya, di usianya yang ke 19 tahun Soedirman menjadi seorang guru. Tugas pertamanya sebagai seorang guru adalah membantu mendirikan organisasi kepanduan putra milik Muhammadiyah. Yang mana pada saat itu Soedirman menjadi pemimpin Hizboel Wathan cabang Cilacap setelah lulus sekolah menengah di Wirotomo.

Tugas lainnya Soedirman pada saat itu adalah Beliau ditugaskan untuk menentukan dan merenacanakan kegiatan kelompoknya sebagai ketua atau pimpinan. Beliau berpendapat bahwa perlunya pendidikan agama dan juga bersikeras agar kontingen yang ada di Cilacap harus menghadiri konferensi Muhammadiyah di seluruh wilayah Jawa. Tak hanya itu, Beliah juga mengajarkan kepada anggota muda Hizboel Wathan tentang sejarah islam dan juga pentingnya moralitas. Sedangkan untuk anggota yang lebih tua. Beliau mengajarkan tentang disiplin militer.

  Biografi Soekarno, Sang Proklamator dan Founding Father Indonesia

Perjalanan Hidup dan Karir Jendral Sudirman Dewasa

Nah, setelah lulus dari sekolah Menengah Wirotomo, Soedirman melanjutkan pendidikannya selama 1 tahun di sekolah guru yang pada saat itu bernama Kweekschool. Yang mana sekolah ini sebenarnya dikelola oleh Muhammadiyah di Surakarta. Namun, ternyata takdir berkata lain di tengah jalan Soedirman berhenti sekolah karena kekurangan biaya.

Pada saat itulah Soedirman memutuskan untuk kembali ke Cilacap tepatnya pada tahun 1936 dengan misi Beliau ingin mengajar di sekolah dasar Muhammadiyah yang ada di Cilacap. Sebelumnya memang Beliau sudah memiliki kemampuan mengajar dan menjadi seorang guru karena memang sudah dilatih oleh guru-gurunya saat berada di sekolah menengah Wirotomo.

Di tahun yang sama yakni tahun 1936, Soedirman memutuskan untuk menikahi seorang waniita yang bernama Alfiah. Alfiah sendiri adalah anak seorang pengusaha batik kaya yang bernama Raden Sastroatmojo. Setelah menjalankan prosesi pernikahan, Soedirman kemudian tinggal di rumah mertuanya yang ada di Cilacap agar selanjutnya Beliau bisa menabung untuk memiliki rumah sendiri.

Soedirman dan Alifah dikaruniai 3 orang putra yang bernama Ahmad Tidarwono, Muhammad Teguh Bambang Tjahjadi dan juga Taufik Effendi. Tak hanya itu, keduanya juga dikaruniai 4 orang putri yang cantik yakni Didi Praptiastuti, Didi Sutjiati, Didi Pudjiati, dan juga Titi Wahjuti Satyaningrum.

Sebagai seorang guru, Soedirman mengajarkan kepada murid-muridnya tentang moral yang Beliau ambil dari kehidupan para Rasul dan juga kisah wayang tradisional. Bahkan seorang muridnya mengatakan bahwa Soedirman adalah seorang guru yang sabar dan adil. Tak heran jika Soedirman menjadi guru favorit dan terpopuler di kalangan muridnya.

Walaupun sebagai seorang guru, Soedirman digaji dengan jumlah yang sangat kecil namun Soedirman tetap mengajar dengan sangat giat. Hal inilah yang membuat Soedirman diangkat sebagai kepala sekolah walaupun Beliau tidak memiliki Ijazah guru. Semenjak menjadi Kepala Sekolah, kehidupan Soedirman semakin membaik karena gajinya naik 4 kali lipat yang pada saat itu awalnya digaji 3 gulden naik menjadi 12 setengah gulden.

Perjalanan karirnya sebagai Kepala Sekolah tidak membuat Soedirman lupa akan tugas-tugasnya. Sebagai seorang kepala sekolah Soediriman mengerjakan berbagai macam tugas administrasi dan juga mencari solusi atas masalah yang tengah terjadi sekolahnya. Bahkan seorang rekan kerjanya menceritakan bahwa Soedirman adalah seorang pemimpin yang memiliki sifat moderat dan juga demokratis. Soedirman juga aktif di berbagai macam kegiatan penggalangan dana pada saat itu. Baik penggalangan dana untuk pembangunan sekolah ataupun yang lainnya.

Tak hanya menjalankan peran sebagai seorang guru saja. Ditengah masyarakat Soedirman juga memiliki peran andil yang besar. Soedirman seringkali melakukan ceramah dan berdakwah di masjid setempat. Tak heran jika selain menjadi seorang guru, Soedirman juga terpilih sebagia Ketua Kelompok Pemuda Muhammadiyah Kecamatan Banyumas pada saat itu. Tepatnya di akhir tahun 1937.

Sejak saa itu, Soedirman menghabiskan banyak waktunya untuk melakukan perjalanan dakwah dengan menekankan pada kesadaran diri. Tak hanya Soedirman saja, Alfiah sebagia istrinya juga ikut aktif dalam kegiatan kelompok putri Muhammadiyah Nasyiatul Aisyiyah.

Peran Jendral Sudirman pada Masa Pendudukan Jepang

Peran Jendral Sudirman pada masa pendudukan Jepang ini berawal saat terjadinya perang Dunia II yang mana pada saat itu pecah di negara Eropa. Saat itu, pendudukan Jepang diperkirakan sudah mulai bergerak mendekati daratan China dan juga sudah berupaya untuk melakukan invansi Hindia. Bangsa Indonesia yang pada saat itu dikuasai oleh pemerintah kolonial Belanda mulai merencanakan taktik dan strategi untuk melawah pemerintah Jepang.

  Biografi Soekarno, Sang Proklamator dan Founding Father Indonesia

Pemerintah kolonial Belanda yang sebelumnya membatasi pelatihan militer bagi para rakyat pribumi mulai mengajarkan rakyat tentang cara menghadapi serangan udara untuk melawan penjajah Jepang. Tak hanya itu, bahkan pemerintah kolonial Belanda juga membentuk suatu tim Persiapan Serangan Udara.

Peran Soedirman untuk melawan penjajah berawal dari sana. Soedirman sebagai seseorang yang disegani oleh masyarakat pada saat itu diminta untuk memimpin tim dari Cilacap. Tak hanya mengajarkan masyarakat setempat untuk menghadapi serangan udara saja. Soedirman juga mendirikan pos pemantau di seluruh daerah.

Soedirman dan pemerintah kolonial Belanda juag menangani masalah pesawat udar yang menjatugkan marterial untuk memanipulasi pengeboman pada saat itu untuk mempertinggi tingkat respon. Pendudukan Jepang mulai menduduki Hindia tepatnya pada tahun 1942. Bukan tanpa perlawanan sebelumnya.

Ya, sebelum Jepang menduduki Hindia pada tahun 1942 perlawanan kepada penjajah Jepang sudah dilakukan oleh tentara Belanda. Namun, ternyata Gubernur Jendral pasukan militer Belanda menyerah. Mulai saat peristiwa itulah, kehidupan mulai berubah drastis dalam pemerintah nusantara dan semakin memperburuk masyarakat pribumi.

Ya, banyak masyarakat pribumi yang mengalami pelanggaran HAM di tangan Jepang. Bahkan di Cilacap, sekolah tempat Soedirman mengajar juga sudah ditutup karena dijadikan sebagai pos militer. Hal ini memang sudah menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk menutup sekolah swasta. Namun, perjuangan Soedirman untuk sekolahnya tidak sampai disitu saja.

Setelah Soedirman berhasil meyakinkan penjajah Jepang untuk membuka kembali sekolah. Ia dan guru di sekolahnya terpaksa menggunakan perlengkapan dasar untuk mengajar. Peran Soedirman mulai terlihat kembali pada masa ini. Ya, Beliau juga berperan sebagi ketua Koperasi Bangsa Indonesia yang membuatnya semakin dihormati oleh masyarakat Cilacap.

Soedirman menjabat sebagai perwakilan dewan karesidenan Jepang atau Syu Sangikal selama satu tahun. Di awal tahun 1944, Soedirman diminta untuk bergabung bersama dengan tentara PETA atau Pembela Tanah Air yang didirikan oleh Jepang pada bulan Oktober 1943. Hal ini dilakukan oleh pemerintah Jepang untuk menghalau adanya invasi Sekutu dan juga berfokus pada perekrutan pemuda yang masih belum terkontaminasi oleh pemerintah Jepang.

Sejak saat itu, Soedirman bergabung dengan PETA dan mengikuti latihan kemiliteran berasma dengan perwira dan tentara Jepang di Bogor. Para taruna di persenjatai dengan senjata yang disita dari Belanda. Peran Soedirman pada saat itu adalah diangkat sebagai komandan atau daidanco. Setelah empat bulan berlatih, Soedirman kemudian ditempatkan di bataliyon Kroya Banyumas Jawa Tengah yang mana tempatnya memang tidak jauh dari Cilacap.

Jabatan Soedirman sebagai komandan PETA berlalu tanpa ada banyak peristiwa penting sampai dengan tanggal 21 april 1945. Peristiwa penting terjadi setelah itu, yakni terjadinya pemberontkan tentara PETA dibawah pimpinan Kusaeri pada penjajah Jepang. Soedirman diperintah untuk mengehentikan pemberontakan tersebut. Soedirman menyetujui dengan syarat tidak ada pemberontak PETA yang dibunuh. Syarat ini disetujui oleh penjajah Jepang.

  Biografi Soekarno, Sang Proklamator dan Founding Father Indonesia

Soedirman kemudian mencari keberadaan pemberontak PETA dan Beliau menemukannya. Saat itu, Soedirman memberitahukan melalui pengeras suara agar menyerahkan diri dan merka tidak akan dibunuh. Kusaeri menyerah pada tanggal 25 april.

Dengan adanya peristiwa ini, hal ini meningkatkan dukungan kepada Soedirman di kalangan tentara Jepang. Namun, walaupun begitu masih ada beberapa perwira tinggi jepang yang menyatakan prihatin atas dukungan Soedirman bagi kemerdaan Indonesia. Hal inilah yang membuat Soedirman dan anak buahnya kemudian dikirim ke kamp di Bogor dengan alasan untuk berlatih. Padahal disana ternyata mereka di paksa untuk melakukan kerja kasar untuk mencegah pemberontakan berkelanjutan.

Peran Jendral Sudirman Sebagai Panglima Besar

jendral sudirman dab biografinya

Peran jendral Sudirman sebagai seorang panglima besar dimulai setelah berita pengeboman kota Hiroshima dan Nagasaki yang diikuti oleh proklamasi kemerdekaan Indonesia. Pada saat itu, Soedirman memimpin pelarian dari pusat penahanan di Bogor walaupun sebenarnya tahanan ingin menyerang tentara Jepang, namun Soedirman tidak membenarkan hal tersebut.

Setelah pelarian berhasil dilakukan dan menyuruh para tahanan untuk kembali ke rumahnya masing-masing. Soedirman memilih untuk pergi ke Jakarta menemui Soekarno. Presiden Soekarno memerintahkan Soedirman untuk memimpin perlawanan terhadap pasukan Jepang di kota Jakarta pada saat itu. Namun, Soedirman menolak dan menawarkan diri untuk memimpin pasukan di Kroya. Tepat pada tanggal 19 Agustus 1945, pasukan sekutu ingin merebut kembali kepulauan Indonesia untuk Belanda yakni tentara inggris yang pertama kali tiba pada tanggal 8 september 1945.

Peran Soedirman pada saat itu adalah Soedirman dan rekannya sesama tentara PETA mendirikan cabang BKR di Banyumas. Kemudian, Soedirman bertemu dengan komandan wilayah Jepang untuk memaksanya menyerahkan diri dan juga memberikan senjata milik mereka. Setelah itu, unit inilah yang kemudian di digunakan sebagai unit BKR Soedirman dengan senjata terbaik di Indonesia.

Sementara itu, singkat cerita sebagai presiden Indonesia Soekarno membentuk TKR yang mana peran Soedirman pada saat itu adalah menjadi seorang panglima besar Jendral DivisiV Banyumas. Lanjut, karir Jendral Sudirman meningkat lebih tinggi lagi karena terpilih sebagai panglima angkatan perang RI atau panglima TNI yang paling muda.

Sebagai seorang Panglima Besar Jendral Sudirman menjalankan tanggung jawabnya dengan sangat baik. Bahkan dapat dikatakan bahwa Jendral Sudirman merupakan pahlaawn pembela kemerdekaan yang lebih mengutamakan kepentingan negaranya dibandingkan dengan kepentingan pribadinya. Atas perannya ini, hal yang paling berkesan dari Biografi Jendral Sudirman adalah perannya sebagai Panglima Besar dan juga Jendral Pertama dan termuda yang dimiliki oleh Republik Indonesia.

Peran Jendral Sudirman di Masa Perang Gerilya

Seperti yang kita ketahui, setelah pendudukan Jepang berhasil menyerah. Sukutu Belanda kembali ingin menguasai dan menjajah Indonesia. Nah, pada masa agresi militer Belanda ke II pada saat itu Jendral Sudirman memang sedang sakit bahkan keadaannya sangat lemat akibat penyakit paru-parunya yang tidak berfungsi hingga 50%.

  Biografi Soekarno, Sang Proklamator dan Founding Father Indonesia

Saat Indonesia tengah genting pada saat itu, sebagai Presiden Soekarno menyuruh Jendral Sudriman untuk tetap berada di dalam kota dan melakukan perawatan demi kesembuhannya. Namun, sebagai panglima besar Jendral Sudirman tidak menghiraukan perintah Presiden Soekarno karena merasa memiliki tanggung jawab yang besar untuk memimpin pasukan perang.

Pada masa perang Gerilya tersebut, sebagai Panglima Besar Jendral Sudirman berpindah-pindah dari satu hutan ke hutan lainnya, dari gunung satu ke gunung lainnya selama kurang lebih 7 bulan dalam keadaan lemah dan sakit.

Semakin hari persediaan obat sang Jendral semakin sedikit. Namun, Jendral Sudirman tetap memberikan semangat dan motivasi kepada pasukannya untuk berjuang. Ya, Beliau tidak pernah merasakan penyakitnya. Namun, keadaan fisik Jendral Sudirman terus menurun membuat Jendral Sudirman terpaksa harus pulang dari medan Perang. Karena kondisi kesehatannya yang semakin parah tersebut. Jendral Sudirman tidak bisa lagi memimpin langsung pasukan. Namun, pemikirian dari seorang Jendral Sudirman tetap dibutuhkan untuk memimpin pasukan.

Akhir Perjalanan Hidup Jendral Sudirman Hingga Wafat

perjalanan dan biografi jendral sudirman

Semakin hari, penyakit TBC yang diderita oleh sang Jendral semakin parah. Jendral Sudirman menderita penyakit TBC, namun walaupun begitu penyakitnya tidak mengalahkan semangat Jendral Sudirman. Ya, Beliau masih tetap melakukan control secara teratur. Yang mana pada saat itu juga, pengakuan atas kedaulatan Indonesia sedang dipertaruhkan pada masa negosiasi dengan Belanda.

Ya, pada saat itu memang Belanda telah mengakui kedaulatan Bang Indonesia tepatnya pada tanggal 27 Desember 1949 dalam bentuk Republik Indonesia Serikat atau RIS. Semenjak saat itu, jendral Sudirman sah diangkat sebagai Panglima besar TNI pertama dan termuda Indonesia. Walaupun memang, Jendral Sudirman sudah jarang tampil ke khalayak karena sedang menjalani perawatan ddi Sanatorium Pakem lalu, dipindahkan ke Magelang untuk menjalani perawatan lanjutkan pada bulan Desember 1949.

Namun, takdir berkata lain setelah perjuangan Jendral Sudirman untuk kemerdekaan Indonesia dan perjuangan melawan penyakit yang dideritanya. Tercatat pada tanggal 29 Januari 1950 Jendral Sudirman menutup usianya. Ya, pada Biografi Jendral Sudirman dicatat bahwa sang Jendral Wafat di Magelang setelah berjuang melawan penyakitnya.

Pemakaman sang Jendral dilakukan di Taman Makam Pahlawan Semaki Yogyakarta diiringi dengan konvoi empat tank dan juga 80 kendaraan bermotor. Sejak saat itu, Jendral Sudirman dinobatkan sebagai salah satu tokoh Pahlawan Pembela Kemerdekaan.

Selama hidupnya Jendral Sudirman sudah banyak memiliki manfaat bagi orang lain dan sekitarnya. Tak hanya itu, Beliau juga memiliki peran besar dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Jadi, sudah pasti Biografi Jendral Sudirman ini dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi untuk anak muda di Indonesia untuk memajukan Negara Indonesia.

Saat ini nama Jendral Sudirman sebagai tokoh Pahlawan Nasional sering kali kita dengar sebagai nama jalan, museum, sekolah dan lainnya. Ya, hal ini dilakukan untuk mengenang jasa Jendral Sudirman selama hidupnya untuk bangsa Indonesia.

***

Sekian informasi tentang biografi Jendral Sudirman yang bisa Anda jadikan referensi dan inspirasi. Semoga bermanfaat, terimakasih.