Biografi Eka Tjipta Widjaja, Konglomerat dan Pengusaha Terkenal Indonesia

Biografi Eka Tjipta Widjaja. Eka Tjipta Widjaja merupakan sosok konglomerat terbesar pada masa orde baru dan juga seorang pendiri Sinar Mas Group. Sebagai raja kopra pada masa kejayaannya Eka Tjipta Widjaja sendiri  total memiliki kekayaan sebesar 195.7 triliun Rupiah berdasarkan hasil riset yang dilakukan globe Asia pada tahun 2018. Beliau sendiri telah wafat di Jakarta, 26 Januari 2019 dengan meninggalkan bisnis yang besar dan bercabang hingga ke berbagai sektor melalui grup Sinar Mas yang beliau dirikan. Untuk mengetahui Biografi lengkapnya anda bisa menyimak beberapa hal penting yang menjadikan sosok Eka Tjipta Widjaja menjadi konglomerat besar sebagai berikut.

Profil Eka Tjipta Widjaja

  • Nama: Eka Tjipta Widjaja
  • Lahir: 27 Februari 1921, Quanzhou, Republik Rakyat Tiongkok
  • Meninggal: 26 Januari 2019, Menteng, Jakarta Pusat, Jakarta
  • Anak: Franky Oesman Widjaja, Oei Hong Leong, Muktar Widjaja, LAINNYA
  • Cucu: Fuganto Widjaja, Theresa Oei, Alice Oei, Patricia Oei, Elizabeth Oei
  • Pasangan: Trini Dewi Lasuki (m. ?–2017), Mellie Pirieh Widjaja (m. ?–2009)
  • Dikenal Sebagai: Pengusaha, Enterpreuner, dan Bankir.

Awal Motivasi Sang Konglomerat

Eka Tjipta Widjaja sendiri memiliki nama masa kecilnya yakni Oei Ek Tjhong, beliau lahir di China pada tanggal 3 Oktober 1923. Keadaan miskin yang didera oleh keluarganya membuat tekadnya untuk bisa mengubah taraf hidupnya semakin kuat, hal tersebutlah yang mendorong Eka Tjipta Widjaja untuk meninggalkan Quanzhou, China  menuju ke Indonesia pada saat berumur 9 tahun. Pada tahun 1932 Eka Tjipta Widjaja tiba di Makassar dan sudah ditunggu oleh ayahnya yang sudah memiliki toko kecil dan berjuang bersama ayahnya untuk mengembangkan toko tersebut maju.

Eka Tjipta Widjaja hanya Lulus SD

Kepindahan Eka Tjipta Widjaja ke Indonesia tepatnya di kota Makassar, beliau hanya mampu sekolah mengenyam pendidikan sampai lulus sekolah dasar saja. Hal ini dikarenakan Eka Tjipta Widjaja hidup dalam keadaan yang sangat memprihatinkan, bahkan dirinya merelakan memutuskan pendidikannya guna bisa membantu orang tuanya bisa melunasi hutang.

Masalah ekonomi yang dialaminya pada waktu kecil, membuat Eka Tjipta Widjaja harus berjualan keliling di kota Makassar menawarkan berbagai barang yang ada di toko ayah nya. Usaha tersebut berangsur- angsur memperlihatkan sebuah perkembangan dimana ia menjual permen, biskuit, serta aneka barang dagangan telah menujukan hasil yang lebih baik.

Perjuangan Pada Masa Muda

Pada saat Eka Tjipta Widjaja baru berusia 15 tahun, dirinya mencoba peruntungan dengan mencari pemasok kembang gula dan biskuit dengan mengendarai sepedanya. Tentu saja perjuangannya tidak mulus karena dirinya harus melewati hutan dan juga medan yang sangat sulit. Keuletan yang dilakukannya membuat dirinya mampu mendapatkan keuntungan 20 rupiah, jumlah tersebut terhitung sudah besar karena harga beras perkilo pada masa itu berkisar 3 sampai 4 sen saja per kilogram.
Usaha yang sudah terlihat berkembang tersebut membuat dirinya mampu membeli becak, namun sayang seiring dengan perkembangannya tersebut ada sebuah masalah besar datang ketika Jepang menduduki Indonesia. Hal tersebut membuat usaha yang mulai dirintisnya hancur dan membuat dirinya menganggur karena tak ada barang yang bisa dijual.

Dalam sebuah keputusasaan, Eka tidak lantas meratapi nasibnya dalam kesulitan hidup di jamannya. Hingga pada suatu ketika dirinya berkeliling di Paotere, dirinya melihat ada potensi besar untuk dijadikan sebuah ladang bisnis karena banyak tentara Jepang yang berada di tempat tersebut sedang melakukan tugas harian. Eka Tjipta Widjaja lantas merencanakan sebuah ide untuk menjual makanan dan minuman kepada tentara Jepang dan mendirikan tenda di sana.

Hal yang telah direncanakan tersebut ternyata berbuah hasil ketika Eka mencoba untuk menawari makanan pada tentara Jepang dan bersantai di tenda miliknya. Hal ini berpengaruh positif karena eka mampu membawa semua bahan makanan dari tempat tentara Jepang yang di buang diperbolehkan untuk dibawanya ke rumah. Melihat barang tersebut masih layak tentunya dirinya berinisiatif untuk menjualnya, apalagi dengan kondisi perang pastinya bahan makanan melambung tinggi.

Pasang surut Bisnis Yang Terjadi

Saat mampu mendulang keuntungan yang sangat besar, dengan menjual bahan pangan. Eka kembali melihat potensi lain dari segi penjualan bahan bangunan, hal ini disebabkan pada masa itu bahan bangunan sangat melambung tinggi. Bahkan Eka sempat ditawari bahan bangunan nya untuk di borong oleh kontraktor untuk pembuatan kuburan orang kaya, namun beliau menolaknya dan malah melihat potensi jadi kontraktor. Hingga pada akhirnya mampu membayar tukang dan mendapat kontrak pembuatan kuburan orang kaya.

Eka juga tidak lantas berhenti sampai di sana, dirinya mulai mencari potensi lain yakni dengan berdagang kopra kemudian menuju ke Selayar di Selatan Sulawesi selatan untuk mendapatkan kopra murah dan meraih keuntungan yang sangat besar dari sana.

Akan tetapi saat keadaan hidup dari Eka yang sangat baik tersebut, harus mengalami sebuah masalah besar ketika harga bahan makanan mulai jatuh dan dirinya rugi besar. Bahkan dirinya menjual segala yang ada untuk menutupi utang dagangnya. Namun Eka Tjipta Widjaja tidak diam begitu saja dirinya terus mencari potensi bisnis lain untuk bisa dikembangkan.

Menjadi Pengusaha Kelapa Sawit

Pada saat tahun 1980, Eka Tjipta Widjaja mencoba peruntungan baru dengan menjadi seorang entrepreneur. Di awal usahanya di bidang kelapa sawit dirinya membeli 10 ribu hektar perkebunan kelapa sawit yang berada di Riau. Bahkan dirinya sangat ambisius dengan membeli mesin dan juga sebuah pabrik mampu memproduksi sebanyak 60 ribu ton kelapa sawit. Hal ini membuat usahanya mampu berkembang dengan sangat cepat dan di tahun 1981 dirinya juga mampu membeli pabrik teh seluas 1000 hektar bahkan juga dengan pabriknya yang mampu menampung 20 ribu ton.

Merintis Bisnis Perbankan

Kesuksesan di bidang kelapa sawit dan teh tak lantas Eka Tjipta Widjaja puas, bahkan dirinya mencoba potensi baru dalam bisnis perbankan, bahkan dirinya mampu membeli salah satu bank yakni Bank Internasional Indonesia. Dengan tangan dinginnya mengelola bank tersebut, bank tersebut memiliki banyak cabang dan mampu berkembang dengan pesat sampai memiliki 40 cabang dengan aset mencapai 9,2 triliun rupiah.

eka tjipta widjaja

Merambah Bisnis Kertas Hingga Properti

Tidak puas dengan bisnis perbankan, Eka Tjipta Widjaja mulai melirik potensi lain yang ada pada di bidang properti dan juga bisnis kertas. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan membeli PT Indah Kiat yang mampu menghasilkan kertas sampai dengan 650 ribu dan 700 ribu pulp per tahun. Bukti dari kepiawaian Eka Tjipta Widjaja dalam mengembangkan bisnisnya adalah dengan membangun dan Green View apartemen dan juga ITC Mangga Dua bahkan dirinya juga yang membangun Ambassador yang berada di Kuningan.

Kelompok Usaha Sinar Mas

Banyaknya perusahaan yang dibangun dan di kelola Eka Tjipta Widjaja, tentunya membuat dirinya memiliki banyak sekali pilar bisnis di segala bidang dan sektor diantaranya seperti dengan  di bidang infrastruktur, agrobisnis, makanan, telekomunikasi, jasa keuangan, kertas, serta properti. Sebagian besar sektor usaha ini bergabung dalam bendera Sinar Mas Group.

Keluarga Eka Tjipta Widjaja

Kesuksesan dari Eka Tjipta Widjaja menjadi seorang konglomerat yang sangat sukses, tentunya ditopang oleh sosok keluarga yang selalu mendampingi dan juga mendukung dalam segala upaya yang telah dilakukannya. Eka Tjipta Widjaja sendiri memiliki istri bernama Melfie Pirieh Widjaja dan juga mempunyai 7 orang anak diantaranya seperti dengan Nanny Widjaja, Jimmy Widjaja, Lanny Widjaja, Inneke Widjaja, Chenny Widjaja, Meilay Widjaja, dan Fenny Widjaja.

Kematian

Eka Tjipta tutup usia pada Sabtu, 26 Januari 2019 pukul 19:43 WIB pada usia 97 tahun di kediamannya di Menteng, Jakarta Pusat. Jenazahnya disemayamkan di Rumah Duka RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta.[19] Menurut Managing Director Sinar Mas, Gandi Sulistiyanto, Eka Tjipta tidak mengidap penyakit serius sebelum meninggal dunia. Bahkan, ia masih menjalani aktivitas seperti biasa pada Kamis, 24 Januari 2019. Namun, kondisinya menurun pada hari Jumat. Pada tanggal 2 Februari 2019, Eka Tjipta dikebumikan di makam keluarga yang berada di kawasan Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

***

Demikianlah biografi eka tjipta widjaja yang disusun secara singkat dan padat. Semoga biografi ini bisa menjadi informasi yang menarik dan bermanfaat untuk kita semua. Terimakasih!